KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Not a member yet
177 research outputs found
Sort by
Sikap Penonton Remaja Surabaya Mengenai Peringatan Bahaya Merokok 2014 Pada Iklan di Medium Televisi
Penelitian ini berfokus pada bagaimana sikap dari penonton remaja Surabaya terhadap iklan
peringatan bahaya merokok tahun 2014 di televisi yang tidak hanya berupa tulisan, namun juga
berupa gambar dari akibat merokok. Teori utama yang terdapat pada penelitian ini ialah teori
SOR (Stimulus-Organism-Response) dimana stimulus dalam penelitian ini ialah iklan peringatan
bahaya merokok 2014, organism adalah remaja Surabaya yang menonton iklan peringatan
bahaya merokok di televisi, dan response adalah sikap dari penonton remaja Surabaya
mengenai peringatan bahaya merokok 2014 di media televisi. Sikap memiliki tiga indikator,
yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Peneliti menggunakan metode survei untuk penelitian secara
kritis dengan mendapatkan keterangan yang tepat dari penonton remaja Surabaya terhadap
iklan peringatan bahaya merokok 2014 di televisi. Informasi yang dikumpulkan dalam penelitian
ini dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada penonton remaja Surabaya yang
dikategorikan sebagai perokok, tidak merokok, dan berhenti merokok. Hasil dari penelitian
menunjukan bahwa sikap penonton remaja Surabaya memiliki kecenderungan yang positif atau
tinggi terhadap iklan peringatan bahaya merokok 2014, dimana sikap kognitif memiliki
kecenderungan yang positif atau tinggi, afektif memiliki kecenderungan yang positif atau tinggi,
dan konatif memiliki kecenderungan yang positif atau tinggi
Wajah Tayangan Prime Time Televisi Indonesia : Dimana Kepentingan Publik Di Tempatkan?
Prime time merupakan waktu dimana penonton paling banyak menonton televisi. Di Indonesia, jam tayang prime time adalah pada pukul 18.00 – 23.00. Perkembangan televisi di Indonesia yang begitu pesat membawa industri ini kepada level dimana dunia pertelevisian mulai mempertimbangkan bidang – bidang lain yang potensial seperti rating dan belanja iklan. Prime time terlebih lagi, waktu – waktu prime time yang dipatok dengan harga iklan lebih tinggi menuntut industri televisi benar – benar berfokus pada rating demi mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari pemasukan iklan. Fungsi – fungsi televisi yang adalah sebagai media komunikasi,
sarana pendidikan, sarana hiburan dan informasi, serta sebagai sarana tayangan komersial rupanya tidak berjalan seimbang. Tayangan pada jam prime time didominasi 21% oleh sinetron, 14% berita, 11% talk show, 9% tayangan animasi, drama sejarah India, dan comedy show, dan sisanya adalah tayangan reality show, talent show, variety show, tayangan religi, dan kuis. Pemilihan tayangan pada jam prime time menunjukkan bahwa tayangan – tayangan tersebut tidak merefleksikan kepentingan publik
Strategi Kreatif Dalam Mendukung Kewirausahaan (Studi Kasus Pemilihan Strategi Kreatif Dalam Memproduksi Iklan Produk Minuman Sebagai Bentuk Mendukung Kegiatan Wirausaha)
Fred Wilson, seorang investor ventura, mendefinisikan kewirausahaan sebagai seni mengubah sebuah ide menjadi suatu kegiatan bisnis (the art of turning an idea into a business) karena pada dasarnya seorang wirausaha harus dapat mengidentifikasi peluang dan menemukan
ide yang dapat dilakukan. Dalam pembangunan perekonomian Indonesia saat ini wirausaha merupakan andalan dalam mengatasai permasalahan yang ada, karena wirausaha memiliki karakteristik mandiri, tahan banting, fleksibel, efisien, tidak bergantung pada utang bank, dan berbasis sumber dayalokal.Sekalipun wirausaha menjadi tumpuan kegiatan perekonomian Indonesia, yang menjadi kata kunci adalah pertumbuhan; sehingga wirausaha memerlukan seorang yang berusaha dengan keberanian sehingga kegiatan usahanya mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan kewirausahaan tidak terlepas dari kegiatan komunikasi pemasaran, karena merupakan sebuah pendekatan yang menempatkan pelanggan, klien, patner, dan masyarakat pada proses pembuatan keputusan. Bagian yang menarik dari komunikasi pemasaran adalah periklanan sebagai bentuk komunikasi kompleks yang menggunakan strategi untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan konsumen. Untuk menciptakan iklan yang menarik dibutuhkan strategi kreatif, antara lain: What if dan free association. Kedua strategi kreatif ini terbukti ampuh untuk menciptakan iklan dalam mendukung kegiatan promosi sebuah kegiatan kewirausahaa
Kepuasan Anggota Instanusantara Surabaya Pada Penggunaan Media Sosial Instagram
Kepuasan dalam penelitian ini erat kaitannya dengan teori uses and gratifications yang berasumsi bahwa audien aktif dalam menggunakan media. Penggunaan media ini berangkat dari motif audiens sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Teori uses and gratifications membahas
bagaimana hubungan antara motif penggunaan media dengan tingkat kepuasan yang didapat oleh audien. Penelitian ini meneliti kepuasan anggota Instanusantara Surbaya dalam menggunakan Instagram. Instanusantara merupakan komunitas fotografi yang tersebar di berbagai wilayah seperti Ambon, Bali, Bandung, Banjar, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gorontalo, Jakarta, Kepri, Kuningan, Makasar, Manado, Malang, Medan, Palu, Palangkaraya, Semarang dan Surabaya.
Komunitas Instanusantara Surabaya yang dijadikan subyek dalam penelitian ini tergolong sebagai audien yang cukup aktif mengabadikan keindahan Indonesia dalam media sosial Instagram. Populasi penelitian ini adalah seluruh anggota Instanusantara Surbaya yang dibentuk pada
tahun 2012. Penelitian ini menggunakan empat indikator dengan kategori untuk mencari kesenjangan antara GS (Gratification Sought) dan GO (Gratification Obtained) dilihat dari Hubungan Sosial, Identitas Pribadi, Informasi dan Hiburan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat kepuasan anggota Instanusantara Surbaya dalam menggunakan media sosial Instagram termasuk dalam tingkat kepuasan yang rendah.
Meskipun tidak puas, tetapi anggota Instanusantara tetap menggunakan media sosial Instagram karena Instagram merupakan media wajib yang harus digunakan oleh anggota Instanusantara untuk dapat mempertahankan status keanggotaan mereka di komunitas Insatanusantara
Sikap Orang Tua & Remaja Surabaya Mengenai Pencitraan Keluarga Dalam Tayangan Iklan Oreo Versi “Pilih Hp Atau Oreo” Di Televisi
Penelitian ini membahas sikap orang tua dan remaja Surabaya mengenai pencitraan keluarga dalam tayangan iklan. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode survey kepada orang tua dan remaja di Surabay
Motif Pelajar Sman 1 Wungu Madiun Dalam Penggunaan Media Sosial
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif Pelajar SMAN 1 Wungu Madiun dalam Penggunaan Media Sosial. Sehingga, diharapkan hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai referensi penelitian motif dengan teori uses and gratification terutama pada media yang berbasis internet. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, metode survey dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 siswa SMAN 1 Wungu Madiun. Hasil Penelitian ini adalah motif tertinggi dalam penggunaan media sosial oleh siswa SMAN 1 Wungu, di Madiun, adalah motif informasi.
Motif terendah dalam penggunaan media sosial oleh siswa SMAN 1 Wungu, di Madiun, adalah motif hiburan
lklim Komunikasi Organisasi dan Kepuasan Komunikasi Organisasi
Persaingan di dunia pendidikan, khususnya pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sangatlah ketat. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) merupakan salah satu PTS di Surabaya yang pada kurun waktu
lima tahun terakhir telah mendirikan empat fakultas baru. Memifiki Fakultas baru merupakan tantangan tersendiri bagi seluruh civitas akademika UKWMS, terutama karyawan yang berkerja di fakultas yang belum lama berdiri.
Disini tenaga kependidikan bagian administrasi tidak merekrut karyawan baru. Sebelumnya karyawan sudah nyaman dan mudah beradaptasi, namun kini harus dipindahkan ke unit kerja lain sehingga memiliki porsi pekerjaan
dan tuntutan yang berbeda. Terdapat lima kategori besar dasar iklim komunikasi organisasi, yakni anggota organisasi, pekerjaan dalam organisasi, praktik-praktik pengelolaan, struktur organisasi, dan pedoman organisasi (Pace & Faules, 2010: 149-150). Apabila iklim komunikasi organisasi di empat fakultas baru ini mampu memberikan kepercayaan, keputusan partisipasif, kejujuran hingga keterbukaan, maka akan sangat berpengaruh juga pada kepuasan komunikasi. Kepuasan dalam perolehan informasi, kualitas media yang digunakan hingga komunikasi yang berlangsung antara atasan dan bawahan atau sebaliknya. Dari hasif penelitian, didapat 'lklim Komunikasi Organisasi' di UKWMS masuk dalam tingkat iklim komunikasi organisasi bertolak belakang sedangkan 'Kepuasan
Komunikasi Organisasi' di UKWMS masuk dalam kategori tingkat kepuasan komunikasi organisasi menengah
Opini Publik Terhadap Penggunaan Social Media (Face book E1 00) Sebagai Media Konvergensi Radio Suara Surabaya
Abad ke-21 merupakan awal pesatnya perkembangan teknologi informasi terutama internet. Dalam kurun waktu yang relatif singkat internet mampu merubah segala aspek ekonomi, politik, sosial serta budaya. Hal inilah
yang kemudian turut merubah cara masyarakat mengonsumsi informasi. Di era yang serba digital dewasa ini, masyarakat menuntut informasi yang cepat, praktis, serta dapat diakses dengan mudah. Perubahan perilaku
konsumsi masyarakat ini perlahan membuat media konvensional melakukan digitalisasi. Media konvensional diantaranya televisi, koran serta radio mulai memanfaatkan internet untuk memenuhi kebutuhan ini. Pemanfaatan internet oleh media-media konvensional inilah yang disebut dengan konvergensi media. Salah satu contoh konvergensi dari media konvensional ialah Facebook E100 milik Radio Suara Surabaya. E100 dipilih karena paling ban yak mend a pat perhatian dengan jumlah netter sebanyak 139.003 orang melebihi twitter@SSFM1 00. Berdasarkan
fenomena tersebut, peneliti ingin mengetahui opini publikterhadap penggunaan social media (facebook e 1 00) sebagai konvergensi radio Suara Surabaya. Objek dalam penelitian ini 139.003 orang netter facebook E1 00 yang kemudian dipilih 100 orang menggunakan teknik random sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif
dengan metode survey menggunakan kuesioner. Dari pengukuran terhadap tiga indikator, yakni kepercayaan, nilai, dan pengharapan, didapat has if yang menunjukkan opini positif sebesar 98 persen semen tara 2 persen lainnya netral
Studi Deskriptif Komparatif Mengenai Pemberitaan Kesejahteraan Keluarga di Jawa Pos, Surya, dan Radar Surabaya
Secara umum, kesejahteraan keluarga bukanlah isu yang cukup rnenarik untuk dibahas dalam pemberitaan media. Padahal, kesejahteraan keluaga merupakan salah satu bidang yang sangat penting untuk ditangani dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk rnelihat bagaimana media koran memberitakan isu tentang keluarga.
Untuk mendapatkan hasil yang sifatnya kuantitatif-objektif, maka penelitian ini menggunakan metode analisis isi Hasil penelitian menunjukkan profil berita mengenai kesejahteraan keluarga jika dilihat dari kornposisi narasumber lebih banyak rnenampilkan surnber berita tidak resmi. Dari total 39 berita tentang keluarga di tiga media, Surya paling banyak mengutip narasurnber resmi sementara Radar Surabaya lebih banyak rnenampilkan narasumber resmi. Berita tentang keluarga dituliskan dalarn jenis berita straight news dengan terna dorninan sosial budaya
Studi Deskriptif Kualitatif mengenai Pemanfaatan Kode Klasifikasi Usia pada Tayangan Televisi dalam Keluarga
Komunikator massa (media) menjadi kunci utama sumber arus informasi dalam sebuah masyarakat massa. Sifat dan karakterisitik masyrakat massa sendiri yang heterogen, anonim dan cenderung tidak terorganisir
dapat menjadi obyek sa saran isi media yang mungkin saja tidak tepat. Regulator media dan pemerintah kemudian berupaya mengontrol isi media, salah satunya dengan kewajiban penggunaan kode klasifikasi usia pada program siaran televisi. Perundang-undangan serta komisi regulator yang mengawasinya pun telah dibentuk oleh pemerintah.
Persoalannya adalah mengenai efektivitas dan pemanfaatan kode klasifikasi usia oleh khalayak sendiri. Apakah khalayak sudah mengenal, mengerti dan memanfaatkan kode klasifikasi usia dalam memilih tayangan yang tepat?
Asumsinya terdapat tiga pihak utama yang punya andil dalam persoalan ini, yaitu regulator media (Komisi Penyiaran Indonesia), awak medial komunikator massa (stasiun Televisi) dan anggota keluarga sebagai masyarakat massa (khalayak}.
Dari ana/isis hasil FGD dan depth interview, diperoleh tiga kesimpulan: (1) fungsi dan tujuan kode klasifikasi usia belum tersosiafisasi dengan baik di level keluarga dan masyarakat, (2) kurangnya kontrol dari regulator media terhadap stasiun televisi dalam hal pencantuman kode klasifikasi usia pada program acara (3) keefektivitasan ukuran, warna serta model dari bentuk kode klasifikasi usia itu sendiri yang dinilai belum maksimal dalam upaya memberi kesadaran akan pentingnya kode tersebut bagi pemirsany