Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Not a member yet
259 research outputs found
Sort by
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Keracunan Pestisida Pada Petani Sayur Di Kelurahan Bakung Jaya Kota Jambi: Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Keracunan Pestisida Pada Petani Sayur Di Kelurahan Bakung Jaya Kota Jambi
Dunia pertanian membutuhkan berbagai dukungan dalam bentuk fisik untuk dapat meningkatkan produksi panen yang dihasilkan misalnya berbagai macam perpupukan, peralatan yang menunjang, dan termasuk pestisida yang marak digunakan dalam bertani. Jika penggunaan pestisida tidak sesuai aturan dosis, dapat menimbulkan keracunan hingga kematian. Kelurahan Bakung Jaya merupakan daerah penghasil sayur- sayuran di kota Jambi dengan jumlah petani sayur sebanyak 50 orang, para petani sayur ini setiap harinya sering terpapar dengan pestida yang digunakan sebagai pembasmi hama maupun pupuk yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas sayuran yang ditanamnya. Berdasarkan study awal terhadap beberapa petani meyatakan bahwa ada beberapa keluhan kesehatan yang dirasakan oleh petani seperti cemas, pusing, sakit kepala, tremor, mual serta sempoyongan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan keracunan pestisida pada petani sayur di Kelurahan Bakung Jaya Kota Jambi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan Crossectional dengan jumlah responden sebanyak 40 orang. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa Ada hubungan antara pengetahuan petani terhadap keracunan pestisida dengan nilai p-value 0,006. Ada hubungan antara perilaku petani terhadap keracunan pestisida dengan nilai p-value 0,038. Ada hubungan antara Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh petani terhadap keracunan pestisida dengan nilai p-value 0,067. Hasil analisis multivariat diperoleh Variabel yang paling signifikan adalah APD (p-value=0,044) dengan arti Petani yang tidak menggunakan APD berisiko 5 kali terpapar pestisida jika dibandingkan dengan petani yang menggunakan APD. Diharapkan kepada puskesmas Talang bakung untuk segera membentuk POS UKK di wilayah tersebut guna meningkatkan pengetahuan petani serta meminimalisir petani dari paparan pestisida
Description of Premarital Sex Knowledge and Behavior in Adolescents in Mosso Village
This study aims to describe the knowledge and behavior of premarital sex in teenagers in Mosso Village. This type of research is qualitative with a descriptive approach. The technique in determining informants uses purposive sampling, with criteria that are teenagers who are already dating or are talking at the age of 11-25 years. There were 6 informants on this research. The data collection techniques used are observation and interviews. Data analysis techniques utilized three stages, first stage was data condensation, second stage was data models, and the last was conclusions.
The results of this study showed that; teenagers’ knowledge about what premarital sex behavior is lacking. The limited information received by adolescents for taboo reasons is one factor in the lack of information related to the behavior and impact of premarital sex behavior. Information about premarital sex is only heard in church and some information is obtained during school time. What influences the occurrence of premarital sex is; There is a sense of attraction to the opposite sex, the existence of its own lust in adolescents, peer influence and as a means or reason for the adolescent love relationship to be approved by parents and family.
Keywords : Knowledge; Behavior; Premarital; Teenager; Moss
Pengaruh Pola Makan Seimbang Pada Ibu Hamil Terhadap Pemberian Modifikasi Obat Herbal Dalam Pencegahan Stunting Di Kabupaten Jeneponto
Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang disebabkan oleh ketidaksesuaian antara asupan gizi dan kebutuhan gizi. Indonesia termasuk dalam urutan tertinggi kasus stunting dengan prevalensi 37,2 % dibandingkan negara-negara tetangga lainnya. Di Kabupaten Jeneponto, pada tahun 2021, prevalensi stunting mencapai 33,6%, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 24,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola makan seimbang pada ibu hamil terhadap pemberian obat herbal dalam pencegahan stunting di Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi-eksperimental dengan rancangan penelitian pre-test and post-test with control group. Sampel penelitian terdiri dari 100 ibu hamil yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi Ibu hamil yang diberikan edukasi tentang pola makan seimbang dan obat herbal fenugreek yaitu bubuk rempah kelor serta kelompok control yaitu Ibu hamil yang tidak diberikan edukasi dan bubuk rempah kelor. Hasil Mann Whitney nilai pre test antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi didapatkan nilai p = 0.081, dimana p > 0.05 yang berarti nilai pre test antara kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Pada nilai post test antara kedua kelompok setelah diuji analisis didapatkan nilai p = 0.000 dimana p < 0.05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai post test antara kedua kelompok. Hal ini sama dengan hasil uji man whitney pada nilai selisih mean sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok diperoleh nilai p=0,000, dimana p>0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perubahan pengetahuan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok intervens
PENGARUH OBESITAS TERHADAP KELELAHAN KERJA PADA PEGAWAI LAKI-LAKI DI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA TAHUN 2023
Kelelahan kerja adalah berkurang atau hilangnya kesiagaan atau kecepatan bereaksi dan kemampuan untuk menampilkan keselamatan dan kesehatan yang sering terjadi pada profesi yang bersifat human service dan pada jenis kelamin laki-laki. Salah satu faktor yang berperan terhadap terjadinya kelelahan kerja adalah status gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh obesitas terhadap kelelahan kerja pada pegawai laki-laki di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional dengan sampel berjumlah 51 pegawai laki-laki di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara obesitas dengan kelelahan kerja (p = 0,888), tetapi terdapat faktor lain yang berpengaruh terhadap kelelahan kerja yaitu masa kerja (p = 0,006 ; OR = 10,964) dan beban kerja mental (p = 0,035 ; OR = 6,572). Pegawai kantoran lebih memperhatikan kondisi mental terhadap beban kerja yang dimiliki serta dapat menyesuaikan diri dimana tempat bekerja sebaik mungkin agar tidak terjadinya kelelahan kerja.
Kata kunci: beban kerja mental, kelelahan kerja, masa kerja, obesitas, pegawa
Hubungan Akses Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala
ABSTRACT
WHO states that stunting is a major public health problem before the age of five if the prevalence is 20% or more. The earlier increase was due to several factors, including cleanliness or environmental health. According to the 2018 Central Sulawesi Riskesdas report, there was an increase in malnutrition in toddlers by 13.8%. The highest rate was found in Donggala district at 23.5%. This study aims to determine the relationship between UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya with the emergence of disease development. This type of research is cross sectional quantitative research.Pengumpulan sampel menggunakan cluster sample. The population of this study consisted of 432 children with stunting. The number of samples consisted of 100 respondents. The data obtained was evaluated statistically using the chi-square test. The results showed that there was an increase in factors and there was no relationship where the results found that respondents had clean water (p = 0.066), used a latrine (p = 1,000), had a bed (p = 0.722), and SPAL (p = 0.708). Suggestions from UPTD Puskesmas Syekh Ahmad Pue Lasadindi Toaya health service providers are encouraged to continue to monitor children\u27s growth regularly and educate families about the importance of cleanliness.
Keywords : Toddlers, Stunting, Environmental Sanitation
DETERMINAN FAKTOR PERKAWINAN ANAK (STUDI KASUS KECAMATAN LIMBOTO KABUPATEN GORONTALO)
Child marriage refers to the intimate union of a man and women under 19 years of age as a legal family. Gorontalo province is ranked the 15th with child marriage cases, particulary in a women with a percentage 0f 13,20%. The figure is eight times higher than the national standar, which is 10,82% (statistics Indonesia, 2020). Problem statement in this research is how the description of determinant of child marriage in Limboto Subdistrict, Gorontalo District. This research aims at gaining a description of the determinant of child marriage in Limboto Subdistrict, Gorontalo District. This type of research is a descriptive survey with a population of 219 married women aged <19 years and a sample of 142 people using purposive sampling and univariate data analysis. The results show that out of 142 respondents, 95 respondents (66.9%) have a sufficient level of knowledge about child marriage, 86 respondents (60.6%) have positive support for child marriage, 130 respondents (91.5%) have low economic status of their parents. , 84 respondents (59.2%) received an authoritarian parenting style from their parents, 77 respondents (54.2%) had peers who played a significant role in their marriage, most of the father\u27s work was a farmer, 50 respondents (35.2%) ) and the mother\u27s most common type of work was a housewife, 101 respondents (71.1).. It is hoped that parents will be the most comfortable place for children to complain about whatever problems they face, whether at school or in their circle of friends, and that teenagers will be more active in seeking information regarding the impact of child marriage on reproductive health and can sort out their relationships so that they remain in the circle of good social relations.
Keywords: Child; Determinants; Women; Marriage
 
ANALISIS FAKTOR KONTRIBUTOR KEPATUHAN PASIEN NAPZA DALAM MENJALANI PROSES REHABILITASI DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI PAPUA
Permasalahaan narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) masih menjadi permasalahan global dan di Indonesia. Narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainya (NAPZA) merupakan golongan senyawa yang lazimnya menyebabkan kecanduan bagi para pemakainya. Masalah NAPZA terus berkembangan, berdasarkan data BNN (2024), provinsi Papua berada di urutan ke 26 dari 35 provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus 76. Data dari BNN juga menunjukkan bahwa proporsi pengguna narkotika golongan 1 di Papua meningkat sebesar 2,6% jika dilihat pada tahun 2021 sebesar 4,6% ke tahun 2022 sebesar 7,2% (BNN, 2022). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keyakinan pasien dan dukungan petugas kesehatan dalam proses rehabilitasi rawat jalan di Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan content analysis. Informan diambil dengan teknik purposive samping berjumlah 6 orang. Penelitian ini menemukan bahwa faktor kontributor pasien dalam mengikuti proses rehabilitasi adalah pertama yaitu kepercayaan pasien rehabilitasi dibentuk oleh kejujuran dan kompetensi. Faktor kontributor yang kedua yaitu dukungan petugas diantaranya dukungan informasi, dukungan emosional dan dukungan instrumental. Penyalahgunaan narkoba memiliki dampak negative bagi pengguna baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Upaya pemerintah untuk mengatasi masalah penyalahgunaan NAPZA yaitu salahsatunya melalui rehabilitasi. Dari hasil penelitian yang dilakukan tentang faktor kontributor kepatuhan pasien rehabilitasi NAPZA, didapatkan bahwa dukungan petugas seperti dukungan informasi, dukungan emosional dan dukungan instrumental paling banyak ditemukan dalam proses rehabilitasi. Demikian juga dengan kepercayaan pasien yang dibentuk oleh kompetensi petugas dan kejujuran. Berdasarkan hasil tersebut maka dukungan petugas yang perlu ditingkatkan yaitu dukungan penilaian kepada pasien
Kata Kunci: Kepatuhan, Rehabilitasi, Napza, Badan Narkotika Nasional Provinsi Papu
Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Terhadap Kondisi Psikologis Ibu yang Mengalami Kehamilan Usia Dini
Kehamilan usia dini terjadi pada perempuan usia remaja. Fenomena ini masing sering terjadi terutama pada masyarakat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Remaja yang mengalami kehamilan usia dini memerlukan penyesuaian peran dalam menjadi seorang ibu yang perlu dipersiapkan baik secara fisik, maupun mental. Dalam cakupannya ketahanan mental menjadi salah satu poin dalam ruang lingkup kesehatan reproduksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi terhadap kondisi psikologis ibu yang sedang mengalami kehamilan usia dini di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan metode cross-sectional. Pemilihan sample menggunakan metode consecutive sampling dengan jumlah 30 sample yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dan SRQ-20. Didapatkan hasil bahwa 53% responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan 63% responden memiliki indikasi gangguan psikologis. Uji korelasi dengan koefisien kontingensi didapatkan nilai signifikasi p=0,990 (p>0,005) dengan nilai korelasi r=0,026 yang dapat disimpulkan bahwa tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi terhadap kondisi psikologis ibu yang sedang mengalami kehamilan usia dini di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat
Pengetahuan, Sikap dan Niat Mahasiswa D-III Kebidanan Yaleka Maro Sebagai Edukator Kesehatan Stunting
Stunting adalah masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh keadaan gizi ibu hamil yang berdampak pada kehidupan anak di kemudian hari sangat penting diketahui oleh calon tenaga kesehatan. Akademi Kebidanan Yaleka Maro, sebagai satu-satunya institusi kebidanan di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berperan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang risiko stunting bagi anak. Jenis penelitian adalah kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan niat mahasiswa D-III Kebidanan Akbid Yaleka Maro sebaagai edujkator Kesehatan stunting. Populasi adalah semua mahasiswa program studi D-III Kebidanan sebanyak 120 mahasiswa. Teknik sampling menggunakan simple random sampling dengan total 70 responden dan data dianalisis menggunakan SPSS dengan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan 58,6% mahasiwa memiliki pengetahuan yang cukup terkait stunting, sebanyak 54,3% memiliki sikap positif, dan 98,6% berniat untuk menjadi edukator kesehatan stunting. Hasil ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi kampus untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa terkait stunting agar dapat berpartisipasi dalam upaya penurunan angka stunting di papua Selatan
CAPAIAN KINERJA PETUGAS DAN KADER TERHADAP TREATMENT COVERAGE (TC) PADA PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS: KAJIAN DESKRIPTIF EPIDEMIOLOGI DI KOTA PALU
Petugas dan Kader TBC merupakan ujung tombak dalam keberhasilan mencapai program treatment coverage. Namun, di Kota Palu program penanggulangan ini masih terbilang rendah dari target nasional ≥90%. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Palu tahun 2021 pasien yang ditemukan dan diobati sebanyak 46%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran capaian kinerja petugas dan kader terhadap Treatment Coverage (TC) pada program penanggulangan tuberkulosis di Kota Palu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif observasional deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 60 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan kuesioner yang akan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel pengetahuan, motivasi, pelatihan dan ketersediaan dana yang dimiliki petugas TBC sudah baik secara keseluruhan (100%), namun petugas yang memiliki tugas rangkap sebanyak 27 orang (84,4%). Pada kader TBC menunjukkan bahwa berdasarkan variabel pengetahuan, pelatihan dan ketersediaan dana sudah baik 100%, namun kader yang memiliki motivasi kurang dalam melakukan tugasnya sebanyak 15 orang (53,6%) dan secara keseluruhan memiliki tugas rangkap (100%). Capaian kinerja petugas dan kader terhadap treatment coverage pada program penanggulangan tuberkulosis di kota palu dari segi pengetahuan, pelatihan dan ketersediaan dana sudah baik. Namun masih ada kader yang memiliki motivasi kurang dalammelaksanakan tugas serta tugas rangkap yang diberikan kepada petugas dan kader yang dapat mempengaruhi ketercapaian treatment coverag