Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Not a member yet
259 research outputs found
Sort by
Analisis Rendahnya Keaktifan Kunjungan Ibu Balita Ke Posyandu Tompo Kecamatan Taopa Kabupaten Parigi Moutong
Posyandu merupakan wadah kegiatan pengembangan kualitas sumberdaya manusia sejak dini dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Kurangnya keaktifan kunjungan ibu dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga. Perilaku ibu Balita untuk datang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada di Posyandu merupakan upaya untuk mencegah atau mendeteksi sedini mungkin hambatan pada pertumbuhan Balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keaktifan kunjungan ibu Balita ke Posyandu di Wilayah kerja Puskesmas Taopa Kecamatan Taopa Kabupaten Parigi Moutong. Jenis penelitian ini adalah Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai Balita usia antara 24-60 bulan dan tercatat sebagai penduduk di wilayah kerja Puskesmas Taopa Kecamatan Taopa Kabupaten Parigi Moutong. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Simple random sampling dengan jumlah sampel 106 orang. Analisis Data menggunakan univariat dan bivariat dengan Uji Regresi Logistik Berganda. Hasil penelitian ada pengaruh antara sikap (ρ=0,001) dan dukungan keluarga (ρ=0,000) terhadap perilaku keaktifan kunjungan ibu Balita ke Posyandu sedangkan pengetahuan (ρ=0,848) tidak ada pengaruh terhadap perilaku keaktifan kunjungan ibu Balita ke Posyandu. Saran yang dapat diberikan kepada petugas kesehatan adalah sebaiknya mengajak ibu Balita untuk membawa balita ke Posyandu dan selalu mensosialisasikan serta memberi penyuluhan tentang pentingnya Posyandu khususnya manfaat maupun tujuan Posyandu
Literatur Review: Kebijakan dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat Dalam Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi
Implikasi hasil sensus penduduk 2020 terhadap kebijakan pembangunan kependudukan menunjukkan bahwa angka kematian ibu dan bayi di Inonesia masih cukup tinggi saat ini. Tahun 2015 tercatat 305 kematian per 100 ribu kelahiran dan tahun 2017 dengan 177 kematian per 100 ribu kelahiran. Untuk Tahun 2030 yakni kurang dari 70 per 100 ribu kelahiran. Indonesia menempati posisi ke tiga diantara 10 negara ASEAN. Literature review ini bertujuan untuk mendeskripsikan kebijakan dan strategi kemitraan bidan dan dukun serta mengajukan konsep pemberdayaan masyarakat dalam mendukung penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Metode yang digunakan dengan pencarian database melalui ProQuest, Scilit, Pubmed, Worldcat dan DOI. Sementara kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel antara lain midwife, traditional birth attendant, birth, social health, social and maternal health. Terdapat 12 artikel yang diperoleh dan 5 artikel yang dianalisis melalui analisis kesesuaian topik, tujuan, metode yang digunakan, ukuran sampel, dan hasil dari setiap artikel serta keterbatasan yang terjadi.Terdapat dua (2) artikel yang menyoroti tentang pemberdayaan masyarakat tanpa konsep yang konkrit. Disarankan konsep Sistem AGIL dapat dijadikan strategi pemberdayaan masyarakat untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia
Permasalahan gizi pada anak balita pasca gempa: Studi kasus di Palu, Sigi, dan Donggala
Palu, Sigi, and Donggala districts experienced a 7,7 magnitude earthquake on September 28 2018. This incident was declared a national disaster. The impact of the disaster is a decrease in the nutritional status of children under five. Nutritional problems in children under five after the earthquake can be caused by paralysis of health service, lack of availability of clean water, poor environmental sanitation, infectious diseases, and lack of consumption of nutritious food. This research is a descriptive study wich to identify nutritional problems in children under five after the earthquake in Palu, Sigi, and Donggala districts. The type of data used is secondary data, including height, weight, and age. The results showed that the nutritional status of under five children based on the weight for age index were underweight 32,1% and very underweight 16,6%. Nutritional status based on the weight for height index, were malnutrition 13,7% and poor nutrition 4,9%. The nutritional status based on the height for age index were stunting 55,7%. The conclusion that the stunting is a nutritional problem with the highest prevalence after the earthquake. The health of children under five is easily influenced by food security, the environment, and the economy. The high prevalence stunting post-earthquake can be caused by job losses, damage to agricultural land and plantations, disruption of the economic system and development in the area which has an impact on low access to food for families
Pengembangan Media Promosi Kesehatan Tentang Bahaya Penggunaan Earphone Mahasiswa Universitas Airlangga Di Surabaya
Penggunaan Earphone secara berlebihan beresiko terjadinya gangguan pendengaran. Pengguna terbanyak pada usia remaja hingga dewasa muda (mahasiswa). Berdasarkan hasil studi pendahuluan sebagian besar mahasiswa Universitas Airlangga belum mengetahui bahaya penggunaan Earphone dan belum adanya media promosi kesehatan mengenai Earphone. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa sebelum dan sesudah diberi media dan mengetahui keefektifan antara sosial media instagram dan youtube dalam penyebaran media promosi kesehatan yang telah dibuat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Sampel penelitian sebesar 100 orang dibagi menjadi dua kelompok menjadi 50 orang pengguna sosial media Instagram dan 50 orang pengguna sosial media youtube diambil menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data meliputi karakteristik responden, media, hingga tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap penggunaan Earphone menggunakan kuesioner online. Analisis data menggunakan paired t-test untuk melihat perbedaan pengetahuan, sikap, perilaku sebelum dan sesudah diberi media dan independent t-test untuk melihat perbedaan pengetahuan, sikap, dan perilaku kelompok instagram dan kelompok youtube. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan, sikap, dan perilaku antara kedua kelompok sebelum dan sesudah diberi media. Pada hasil uji keefektifan antara kedua kelompok menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pengetahuan, sikap, dan perilaku. Video animasi merupakan media yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa. Sosial media instagram dan youtube memiliki kekuatan yang sama. Saran dari peneliti adanya himbauan penggunaan Earphone bagi pihak kampus kepada mahasiswa
Hubungan Motivasi Dengan Keaktifan Kader Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Tabur Tahun 2020
Latar Belakang Dalam meningkatkan derajat kesehatan, pemerintah telah mencanangkan sasaran menurunkan kematian bayi menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup dan kematian anak balita menjadi 17 per 1.000. Untuk mencapai sasaran tersebut program pembangunan kesehatan diarahkan pada tercapainya peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan dapat mengatasi masalah kesehatan melalui kegiatan posyandu. Kinerja posyandu erat kaitannya dengan keaktifan kader dalam melaksanakan tugasnya, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini.Tujuan penelitian mengetahui apakah ada hubungan motivasi dengan keaktifan kader posyandu. Penelitian bersifat deskriftif analitik, rancangan cross sectional. Populasi 219 orang kader. Sampel dengan cluster random sampling 141 responden.Hasil penelitian ada hubungan motivasi dan keaktifan kader posyandu dengan nilai X2hitung = 56,175 > X2tabel = 3,841, P value = 0,000 < α = 0,05.Kesimpulan terdapat hubungan signifikan motivasi dengan keaktifan kader posyandu. Saran Puskesmas dan petugas hendaknya melakukan motivasi bagi kade
Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19 Warga Di Wilayah Percontohan Program Rt Siaga Kota Surabaya
COVID-19 telah ditetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD). Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya merupakan salah satu daerahi dengan angka kasus terbanyak dan telah dikategorikan sebagai zona merah. Total kasus konfirmasi positif COVID-19 di Jawa Timur sebanyak 3.642 Kasus. Namun di Kota Surabaya ada sebanyak 1.975 Kasus. Hal tersebut dari penerapan protokol kesehatan COVID-19 di masyarakat yang dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan tindakan dari masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan penerapan protokol kesehatan COVID-19 warga di wilayah program RT Siaga Surabaya. Penelitian ini menggunakan data primer dengan kuesioner yang berasal dari Program RT Siaga Kota Surabaya. Jumlah sampel responden dalam penelitian ini adalah 70 responden. Data dianalisis secara univariat dengan menyajikan distribusi frekuensi variabel. Karakteristik responden sebagian besar di usia 31-40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Sebanyak 69 responden (99%) memiliki pengetahuan penerapan protokol kesehatan dalam kategori baik. Sebanyak 70 responden (100%) memiliki pemahaman sikap penerapan protokol kesehatan kategori baik sedangkan yang memiliki tindakan penerapan protokol kesehatan dalam kategori baik sebanyak 68 responden (97%). Pengetahuan, sikap dan tindakan warga di wilayah program RT Siaga Kota Surabaya sebagian besar menunjukkan kategori baik terhadap penerapan protokol kesehatan COVID-19
Sistem Pengelolaan Sampah Di Tpst 3r Tembokrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi
Meningkatnya masalah persampahan di berbagai Kabupaten di Indonesia dapat menimbulkan dampak terhadap pencemaran lingkungan. Menurut kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton/hari atau 64 juta ton/tahun dengan komposisi jenis sampah organik sebesar 50%, plastik sebesar 15%, kertas sebesar 10% dan sisa sampah lainnya seperti logam, karet, kain, kaca dan lainnya. Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah yang terletak di Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah timbulan sampah sebanyak 39,67 ton/hari untuk wilayah kota dan untuk Kabupaten Banyuwangi sebanyak 560,35 ton/hari. Salah satu upaya dalam pengelolaan sampah yaitu dilakukan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) 3R. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengelolaan sampah di TPST 3R Tembokrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Penelitian dilakukan menggunakan metode pendekatan deskriptif. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dan data primer mengenai sistem pengelolaan sampah yang berlangsung di TPST 3R Tembokrejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di TPST 3R Tembokrejo telah dilakukan berdasarkan aspek pengelolaan sampah yang terdiri dari aspek kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek teknik operasional dan aspek peran serta masyarakat.
 
Kerentanan Kejadian Penyakit Berbasis Lingkungan Pada Masyarakat Terdampak Bencana Di Daerah Pesisir Kabupaten Donggala
ISPA dan diare yang merupakan penyakit berbasis lingkungan selalu masuk dalam 10 besar penyakit tertinggi di hampir seluruh puskesmas di Indonesia1. Hendrik L. Bloom mengemukakan lingkungan sebagai faktor utama determinan kesehatan masyarakat, kerentanan masyarakat terhadap penyakit ISPA dan diare berkaitan erat dengan sanitasi dasar dan kondisi fisik rumah. Berdasarkan studi pendahuluan diketahui kejadian penyakit berbasis lingkungan meningkat tajam di Kelurahan Boneoge pasca bencana. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan SIG yang bertujuan melihat sebaran kejadian penyakit berbasis lingkungan dikaitkan dengan ketersediaan fasilitas sanitasi dasar dan kondisi fisik rumah. Populasi penelitian adalah semua keluarga yang bermukim di Boneoge. Penarikan sampel secara cluster random sampling dimana perwakilan sampel diambil dari 3 RW dengan jumlah keseluruhan 90 KK. Penentuan titik koordinat rumah responden menggunakan GPS, analisa data spasial dengan aplikasi Arc view GIS 3.3. Pendataan ketersediaan fasilitas sanitasi dasar dan kondisi fisik rumah responden menggunakan kuesioner terstandar dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Dari hasil pengumpulan data diketahui faktor lingkungan fisik rumah berupa kepadatan hunian (57.8%) dan jenis dinding rumah (65.5%) responden masuk dalam kategori kerentanan tinggi terhadap kejadian ISPA sedangkan aspek luas ventilasi (65.5%) masih memenuhi syarat kesehatan, demikian juga aspek perilaku merokok dalam rumah tidak berpotensi menyebabkan kerentanan ISPA pada masyarakat setempat. Faktor akses terhadap sanitasi dasar menunjukkan kebutuhan air bersih masyarakat telah terpenuhi, sebaliknya rendahnya kepemilikan jamban (60% KK tidak memiliki jamban) merupakan kerentanan tinggi terhadap kejadian diare.  
Gambaran Faktor Perilaku Bermain Game Online Pada Remaja
Internet telah mengubah kecenderungan permainan di kalangan remaja. Saat ini, sebagian besar remaja mendapatkan hiburan melalui komputer dan smartphone misalnya bermain game online. WHO secara resmi menetapkan kecanduan game atau game disorder ke dalam versi terbaru ICD sebagai penyakit gangguan mental. Penelitian ini akan dilakukan pada remaja yang aktif bermain game online selama satu tahun terakhir di Surabaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan faktor perilaku bermain game online pada remaja berdasarkan teori Snehandu B. kar (1984). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 97 remaja usia 10 – 24 tahun yang aktif bermain game online selama setahun terakhir. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Non Probability Sampling dengan jenis Accidental Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 18-24 tahun (82,5%), memiliki uang saku < Rp 1.000.000 perbulan (70,1%), memiliki dukungan sosial rendah untuk bermain game online (57,7%), memiliki akses informasi rendah (56,7%), memiliki otonomi pribadi rendah (57,7%), memiliki situasi yang tidak mendukung untuk bermain game online (59,8%), dan memiliki niat bermain game online rendah (57,7%)
Gambaran Sanitasi Pasar Desa Impress Pujasera Di Banyuwangi Tahun 2018
Pasar tradisional merupakan salah satu tempat umum sehingga banyak orang beraktifitas setiap harinya dan berperan sangat penting dalam hal pemenuhan kebutuhan. Indonesia memiliki sekitar 13.450 pasar tradisional yang mampu menampung lebih dari 12 juta pedagang didalamnya. Namun hanya 10% pasar tradisional yang dikelola dengan baik secara profesional. Sisanya, pasar tradisional terkesan jorok, bau, becek dan berantakan. Kualitas sanitasi pasar menjadi hal yang penting dalam mewujudkan pasar sehat agar tidak menjadi sumber penularan penyakit dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi sarana dan prasarana serta gambaran sanitasi di Pasar Desa Impress Pujasera di Banyuwangi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengamatan langsung menggunakan lembar observasi berupa instrumen penilaian yang terdiri dari 6 variabel. Hasil penelitian menunjukkan Pasar Desa Impress Pujasera di Banyuwangi memiliki nilai masing-masing variabel yakni variabel lokasi sebesar 8; variabel bangunan sebesar 9,05; variabel sanitasi sebesar 26,3; variabel perilaku hidup bersih dan sehat sebesar 3,5; variabel keamanan 0; dan variabel fasilitas lain sebesar 0,75. Jika dilakukan penilaian secara keseluruhan dari semua variabel, Pasar Desa Impress Pujasera mendapatkan skor penilaian sebesar 47,6 dan dikategorikan pasar tidak sehat sesuai dengan Kepmenkes No. 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Penyelenggaraan Pasar Sehat