Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Not a member yet
259 research outputs found
Sort by
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Vaccine hesitancy (Keragu-Raguan Vaksin) Pada Mahasiswa Di Era Pandemi Covid-19
Vaccine hesitancy dapat menghambat upaya pengendalian COVID-19. Menurut IPI dan CSIS, tingkat vaccine hesitancy cukup tinggi di kalangan generasi muda, sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk meningkatkan penerimaan dan mengurangi vaccine hesitancy. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat vaccine hesitancy mahasiswa. Kami menggunakan data dari hasil survei online terhadap mahasiswa di Makassar. Analisis deskriptif terhadap 384 mahasiswa didapatkan bahwa tingkat vaccine hesitancy cukup tinggi yaitu 54,55% mahasiswa masih akan menunda vaksinasi, bahkan ditemukan 10,13% mahasiswa menolak/tidak menginginkan vaksin sama sekali. Beberapa faktor yang berpengaruh secara signifikan diantaranya kebijakan pemerintah dalam pengambilan keputusan terkait vaksinasi, hambatan geografis, pengalaman vaksinasi masa lalu, kepercayaan dan sikap tentang kesehatan, pengetahuan dan wawasan, kepercayaan dan pengalaman pribadi terhadap sistem dan layanan kesehatan, serta risiko/manfaat (bukti epidemiologis dan ilmiah)
Hubungan Antara IMT dan Kebiasaan Merokok Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders Pada Petani Padi di Desa Doho, Kabupaten Madiun, Jawa Timur
Berdasarkan penelitian pada Jurnal Kesehatan, musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan masalah kesehatan kerja yang terjadi pada petani padi. Terdapat beberapa faktor penyebab keluhan muskuloskeletal yang diklasifikasikan menjadi faktor individu (usia, durasi kerja, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga dan indeks massa tubuh) dan faktor yang berkaitan dengan pekerjaan (postur kerja dan beban kerja). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kebiasaan merokok dengan keluhan musculoskeletal disorders pada petani padi di Desa Doho, Dolopo, Madiun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dari penelitian ini sebanyak 33 responden yang dipilih berdasarkan teknik total populasi. Variabel pada penelitian ini adalah IMT dan kebiasaan merokok yang didapatkan dari hasil kuesioner dan wawancara. Sementara Keluhan MSDs diukur dengan Nordic Body Map (NBM). Data pada penelitian ini dianalisis menggunakan uji Spearman dan uji Cramer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 63.63% perokok, 36.36% bukan perokok, 12.12% kurus ringan, 6% kurus berat, 57.57% normal, 15.15% gemuk ringan dan 9% gemuk berat. Diketahui semua responden mengalami keluhan MSDs, terdapat 60.6% responden atau sebanyak 20 orang dengan risiko sedang, 7 orang termasuk dalam risiko tinggi (21.2%) dan 6 orang lainnya termasuk ke dalam risiko sangat tinggi (18.2%). Diketahui berdasarkan hasil uji Spearman bahwa terdapat hubungan dengan kategori sedang antara kebiasaan merokok dengan keluhan MSDs (p = 0.030, koefisien korelasi = 0.345) dan hasil uji Cramer menunjukkan bahwa hubungan antara IMT dengan keluhan MSDs termasuk dalam kategori sangat lemah (p = 0.009, koefisien korelasi = 0.414)
Nyeri Punggung Bawah dan Hubungannya dengan Lama Duduk pada Mahasiswa di Masa Pandemi COVID-19
Mahasiswa sarjana menjadi lebih terbiasa duduk dalam waktu lama sebagai akibat dari transisi ke metode pembelajaran secara daring. Duduk untuk waktu yang lama dapat berkontribusi pada peningkatan prevalensi nyeri punggung bawah, yang merupakan masalah yang memengaruhi orang-orang dari segala usia. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara lama duduk dengan nyeri punggung bawah pada mahasiswa. Kuesioner digunakan untuk melakukan penelitian observasional analitik dengan teknik cross-sectional pada 204 sampel. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menerapkan metode systematic random sampling. Prevalensi nyeri punggung bawah didapatkan hasil sebesar 69,1%. Uji statistik Chi Square mengungkapkan bahwa lama duduk dan nyeri punggung tidak memiliki hubungan yang signifikan (p value = 0,981). Dapat disimpulkan bahwa selama pandemi COVID-19, prevalensi nyeri punggung bawah di kalangan mahasiswa tinggi dan diperlukan metode pencegahan dan strategi yang optimal
Pengaruh Akses Air Minum Terhadap Kejadian Diare Di Kabupaten Jombang: The Effect of Access to Drinking Water on the Incidence of Diarrhea in Jombang Regency
Kejadian diare masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Kabupaten Jombang. Angka kesakitan diare di Kabupaten Jombang pada tahun 2019 mencapai 270 per 100.000 penduduk. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh antara akses air minum yang memenuhi syarat terhadap kejadian diare di Kabupaten Jombang tahun 2019. Jenis penelitian ini adalah observasi pak analitik dengan desain cross sectional. Data yang digunakan bersumber dari profil kesehatan Kabupaten Jombang tahun 2019. Teknik analisis data menggunakan uji regresi linier dan uji kolmogorov-smirnov. Hasil penelitian prevalensi kejadian diare di Kabupaten Jombang tahun 2019 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan prevalensi tertinggi di Puskesmas Cukir. Penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh akses air minum yang memenuhi syarat (p=0,04) dengan kejadian diare di Kabupaten Jombang. Kesimpulan dari penelitian ini angka kejadian diare di Kabupaten Jombang pada tahun 2019 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dan terdapat pengaruh antara akses air minum yang memenuhi syarat dengan kejadian diare di Kabupaten Jombang.
 
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan, Pengawasan dan Peraturan APD Dengan Ketidakpatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri
Poerwodadie adalah salah satu pabrik gula (PG) kristal putih peninggalan Hindia Belanda. Pada proses produksinya PG. Poerwodadie memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi, maka perusahaan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD). Namun sebagian besar pekerja belum mematuhi pemakaian Alat Pelindung Diri di area kerja sehingga meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan penggunaan APD. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan, pengawasan dan peraturan APD dengan perilaku tidak aman, dimana pekerja tidak patuh dalam menggunakan APD. Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan Cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh pekerja pada stasiun pabrikasi PG. Poerwodadie yang berjumlah 80 orang. Analisa bivariat dan univariat. Hasil penelitian yaitu tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan ketidakpatuhan penggunaan APD dengan nilai Phi and Cramer’s V = 0,223. Tidak ada hubungan antara pengawasan APD dengan perilaku ketidakpatuhan penggunaan APD dengan nilai 0,169. Tidak ada hubungan antara pengetahuan pekerja dengan perilaku ketidakpatuhan penggunaan APD dengan nilai Phi and Cramer’s V = 0,013. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan responden, pengawasan APD dan peraturan APD dengan ketidakpatuhan APD
Sistem Informasi Geografis Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Kasus Tuberkulosis di Provinsi Jawa Timur Pada Tahun 2018
Tuberkulosis adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan jumlah kasus Tuberkulosis tertinggi di Indonesia selama tahun 2018. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan sebaran data kasus Tuberkulosis di tiap wilayah dan menganalisis faktor apa saja yang dapat memengaruhi jumlah kasus Tuberkulosis di Provinsi Jawa Timur tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018, yaitu sejumlah 38 kabupaten/kota. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total populasi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemetaan dan regresi linier berganda menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu GeoDa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi jumlah kasus Tuberkulosis adalah kepadatan penduduk dan jumlah puskesmas. Sedangkan variabel jumlah penduduk miskin dan cakupan rumah sehat tidak berpengaruh. Diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur khususnya Dinas Kesehatan Provinsi dapat menentukan strategi yang tepat untuk mencegah dan mengendalikan penyakit Tuberkulosis
Hubungan Kualitas Lingkungan Fisik Rumah Terhadap Risiko Penyakit TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Pegirian Surabaya
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang bisa menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan. Saat ini TB paru masih menjadi masalah kesehatan khususnya pada wilayah kerja Puskesmas Pegirian dengan jumlah 10 kasus. Tujuan dari penelitian ini menganalis hubungan antara kondisi kualitas lingkungan fisik rumah dengan risiko penyakit TB paru di wilayah Puskesmas Pegirian. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik yang bertujuan untuk memperoleh penjelasan tentang risiko suatu penyebab penyakit dengan menggunakan desain penelitian case control dan menggunakan analisis uji Chi-square. Adanya hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dengan kejadian penyakit TB paru variabel suhu ruangan dengan hasil p-value sebesar (0,024), variabel kelembaban dengan hasil p-value sebesar (0,045), variabel pencahayaan dengan hasil p-value sebesar (0,015), variabel ventilasi dengan hasil p-value sebesar (0,019). Tidak adanya Hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dengan kejadian penyakit TB paru variabel kepadatan hunian kamar dengan hasil p-value (0,442), variabel jenis dinding dengan hasil p-value (0,694), variabel jenis lantai dengan hasil p-value (0,682). Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan kualitas lingkungan fisik rumah terhadap risiko penyakit TB paru di wilayah Puskesmas Pegirian yaitu pada variabel suhu ruangan, kelembaban, pencahayaan, dan ventilasi
Korelasi Tingkat Stres Pada Ibu yang Bekerja dengan Tindakan Kekerasan pada Anak Selama Pandemi Covid-19 di Kabupaten Lumajang
Kekerasan pada anak selama pandemi Covid-19 cenderung mengalami peningkatan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Adapun penyebab dari fenomena ini adalah tingkat stres pada anggota keluarga semakin meningkat, terutama pada ibu yang bekerja karena adanya peran ganda, baik sebagai ibu maupun sebagai pekerja. Sehingga, peneliti tertarik untuk membahas korelasi antara tingkat stres pada ibu yang bekerja selama pandemi dengan kekerasan pada anak khususnya di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Peneltian ini termasuk dalam penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Adapun responden penelitian ini berjumlah 100 yang merupakan ibu yang bekerja, memiliki anak kurang dari 18 tahun, dan tinggal di Kabupaten Lumajang. Penelitian ini menggunakan analisis spearman rho. Karakteristik responden pada penelitian ini ada empat, yaitu usia, tingkat pendidikan, keikutsertaan kelas/seminar parenting, dan tempat kerja. Setelah dianalisis, didapatkan hasil bahwa tingkat stres ibu yang bekerja berkorelasi dengan kekerasan anak (p=0,018). Namun untuk kekuatan hubungan variabel ini tergolong lemah (r=0,237). Tentunya hal ini bisa jadi disebabkan karena berbagai faktor lain yang tidak diteliti, seperti kepribadian ibu, koping stres, besar keluarga, pendapatan ekonomi, dan lainnya. Meskipun demikian, ibu yang bekerja di Kabupaten Lumajang memiliki tingkat stres yang rendah sehingga jarang melakukan kekerasan pada anaknya
Evaluasi Kepatuhan Petugas Kesehatan dalam Implementasi Clinical Pathway di RS Islam Surabaya Ahmad Yani
Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dengan kewajiban memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. Mutu yang baik dari sebuah rumah sakit dapat dikendalikan melalui clinical pathway. Namun belum semua rumah sakit menerapkan clinical pathway secara dengan baik. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kepatuhan petugas kesehatan dalam penerapan clinical pathway selama pemberian pelayanan kepada pasien. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara kepada salah satu Panitia Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya. Penelitian ini dilaksanakan sejak Desember 2020 hingga Maret 2021. Teknik analisis pada penelitian ini menggunakan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) guna mengetahui potensi risiko yang dapat menghambat kelancaran alur proses pelayanan kasus Appendicitis Acute dalam pemanfaatan Clinical Pathways (CPWs) oleh tenaga kesehatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 9 modus kegagalan dalam implementasi CPW berdasarkan penentuan cut off point menggunakan prinsip pareto. Modus kegagalan tersebut terjadi karena CPW belum terintegrasi secara menyeluruh dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS). Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlu adanya integerasi yang komprehensif antara CPW dan SIM RS guna meningkatkan kepatuhan penerapan CPW dalam upaya peningkatan mutu rumah sakit
ANALISIS PERBANDINGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PUSKESMAS DENGAN CAKUPAN TERTINGGI (WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANGURARA) DENGAN CAKUPAN TERENDAH (WILAYAH KERJA PUSKESMAS BULILI) KOTA PALU
Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang memberikan ASI di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan wilayah kerja Puskesmas Sangurara Kota Palu
Metode : Metode Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 86 ibu yang memiliki bayi usia 7-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan 158 ibu yang memiliki bayi usia 7-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sangurara, dengan menggunakan rumus Slovin didapatkan sampel sebanyak 71 ibu di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan 113 ibu di wilayah kerja Puskesmas Sangurara
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pengetahuan ibu di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan wilayah kerja Puskesmas Sangurara (Sig = 0,937), terdapat perbedaan yang signifikan pada pendidikan ibu (Sig = 0,000), status pekerjaan ibu (Sig = 0,000).Kesimpulan : Terdapat perbedaan pendidikan, status pekerjaan dan tidak terdapat perbedaan pengetahuan ibu pada ibu yang memberikan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan wilayah kerja Puskesmas Sangurara, bahwa ternyata ibu dengan pendidikan tinggi dan rendah tidak selalau memberikan ASI pada bayinya