Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
EKSTROSPEKSI MAHASISWA PROGRAM STUDI PROFESI DOKTERATAS PROFESIONALISME DOKTER DI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN
AbstrakEkstrospeksi merupakan salah metode penting dalam pendidikan profesionalisme bagimahasiswa kedokteran, namun masih jarang dilakukan. Dalam mengajarkan ekstrospeksi seringmuncul kekhawatiran bahwa mahasiswa ninya memiliki persepsi negatif terhadap orang lain,khususnya terhadap dokter yang berperan iebagai pendidik dan role model di rumah sakitpendidikin. Namun demikian, peilu disadari bahwa tanpa disadari mahasiswa selalu melakukanekstrospeksi atas praktik kedokteran yang dilaksanakan oleh dokter di rumah sakit' Jika praktikkedokteran yang Oilifrat tidak sesuai dengan konsep profesionalisme yang telah diajarkan secarateori, maka maliasiswa akan menghaOafii feUingungan. Pendidik turut bertanggung jawab untukmengantisipasi hal tersebut, Oan lit<a kebingungan telah muncul, sepatutnya ada media yangdisialkan untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi prosesekstiospeksi yang dilakukan mahasiswa ying tengah melakukan kepaniteraan di FakultasKedokteran Universitas padjadjaran atas profesionalisme dokter di rumah sakit pendidikan. Hasilmenunjukkan bahwa ekstroipet<si mahasiswa menempati spektrum yang sangat lebar, dari sikapyang sangat negatif hingga sangat positif. Dampak perilaku negatif dokter lebih beragamOiUanOing perilaku positif.Ferilaku negatif yang sama dapat berakibat berbeda pada mahasiswayang ber-beda. Hampir sernua mahasiswa-meminta fakultas kedokteran/rumah sakit pendidikanigai memOeri tanggapan, sistem follow up rutin, atau membuka jalur rahasia untuk membanturriereka mengatas-i- hasil extrospeksi yang negatif. Sebagai simpuian, ekstrospeksi sangatpenting dalah pendidikan prot'esionalisrne kedckteran, meskipun Cemikian metode inimembituhkan upaya khusus untuk mengatasi tantangan kompetensi dosen dan Jumlahmahasisu,,a yang banyak.Kata kunci:-AriEkstrospeksi, Rumah Sakit Pendidikan, Role Model, ProfesionalismeAbstractExtrospection is an important method in professional education for medical students,atthough it is rarety used. There is concern that teaching through extrospection would lead tonegati-ve perception to other, pafticularly toward supervising doctors as role models in teachingho-spitat. Howe,ver, it is important to understand that naturalty sfudenfs would extrospect towardsmedicat practice performed by supervising doctors. Medicat practice which does not consistentwith the'concept of medicat piofessionalism the sfudenf's learned in undergraduate phase, wouldlead students to confusion. Faculties have responsibility to anticipate this possibiiity The aim ofthis study is to explore the extrospection process of students during their clerkship term in theFacutty of ivledicine, rJniversitas Padjadjaran. Result demonsirates that student's extrospectioniies within a wide range, from positive to negative end. The inpact of perceived supervisor'snegative behaviour has a wider range then po,sitive behaviour. The same perceived supervisor'sne-gailve behaviour coutd impact different sfudenfs differentty. Almast all students request forreipcnse, routine foltow up system, or conficiential route from medical school/teaching hospital,fo assisf them when encounter negative result from extrospection. As a conclusion, extrospectionis impoftant in teaching medicat professionalism, atthough it requires specra/ effott to facechallenges such as the faculty's competence and high number of stutlents.Keywords: Extrospection, teaching hospital, role model, professionalis
EKSFRESI GEN SUPEROXIDE DISMUTASE 1 SERTA I{UBUNGANNYA DENGAN FUNGSI TIMUS PENDERITA SINDROMA DOWN
lnfeksi merupakan masalah kesehatan pada penderita sindroma Down (SD), sehingga tinggiangka kesakitan dan kematian. Peningkatan ekspresi SOD1 1,5 kali pada penderita SDyang berefek terhadap peningkatan peroksidasi (Hr0r), sehingga diperkirakan sebagai faktorpenyebab apoptosis timus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi gen SOD1 danhubungannya dengan sel timus pada penderita SD. Penelitian ini nnengunakan desain crosssectionalcomparative sfudydengan jumlah sampelsebanyak 50 orang (25 orang penderita SDdan 25 orang kontrol). Darah vena diambil sebanyak 5 cc setiap sampel untuk isolasi RNAdanDNA, ekspresi gen SODl dengan teknik Real Time PCR, sedangkan fungsi timus dilihat dariprensentas TREC. Analisis statistik untuk ekspresi gen dan hubungan antar variabel denganmengunakan uji t. Penelitian ini ditemukan log copy nurnber SOD 1 pada kelompok penderita$D adalah 11,10T t0,44lng cDNA, sedangkan pada kontrol 10,501 t 0,48/ng cDNA,secarastatistik terdapat perbedaan bermakna (P=0,000). Presentase TREC adalah 44,7 + 7,4o/opada kelompok penderita SD dan 57,9t5,4% pada kelompok kontrol. secara st-atistik terdapatperbedaan bermakna p<0,05. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatanekspresi gen SOD 1 pada penderita SD dibandingkan kontrol dan rendahnya prensentasiTREC pada penderita SD dibandingkan kontrol, hal ini mungkin disebabkan terjadi penurunanfungsi timus akibat peningkatan ekspresi gen SOD1.Kata Kunci: sindrom Down, ekspresi gen SOD 1, prensentasi TRE
The potency of secondary metabolites from traditional medicine plants as anti cancer agent
The seconday metabolites from traditional medicine plants have played an important role incancer treatment. Exploration of natural active compounds from medicinal plants for cancertreatment has attracted substantial attention worldwide. Several secondary metabolites thatwere isolated fom the plants, such as vincristne, vinblastine, campthothecins, have been usedhave been used clinically for over 40 years. Numerous techniques have been developedto obtain compounds for drug discovery including isolation from plants, synthetic chemistry,screening bioassays. As part of efforts to discover phytochemicals as anticancer agent, ourgroup were isolated several compunds mainly from Annonaceae and Melliaceae family thatshowed active againts human leukemia HL-60 cells
PERANAN PATOLOGI DALAM DIAGNOSTIK TUMOR PAYUDARA
PERANAN PATOLOGI DALAM DIAGNOSTIKTUMOR PAYUDAR
PENGUJIAN EFEKTIVITAS CAPSICUM SEBAGAI SUMBER CAPSAICIN KO-ANESTESI PADA ANESTESI LOKAL
AbstrakAnestesi lokal bekerja dengan memblok sel saraf sensorik rasa sakit (nosiseptor) dan sel saraf lain, sehingga diperlukan Capsaicin pada cabai sebagai ko-anestesi agar obat anestesi lokal bekerja spesifik pada nosiseptor. Beragam varietas cabai menuntut adanya penelitian untuk mengetahui jenis cabai yang tepat sebagai sumber Capsaicin ko-anestesi, hubungan dengan peningkaan kadar Capsaicin, dan pengaruh terhadap waktu kerja obat anestesi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre and post test design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biota Sumatera Universitas Andalas dan di Laboratorium Hewan Fakultas Kedokteran Unand selama 3 bulan. Sampel penelitian ini adalah tikus (Rattus novergicus) jantan dari galur Sprague Dawley dengan berat 250-350 gram, sebanyak 24 ekor dibagi 8 kelompok. Tiap kelompok mendapatkan perlakuan berupa pemberian Capsaicin dari jenis cabai dengan kadar yang berbeda. Hasil penelitian terdapat perbedaan waktu munculnya efek sensorik (p 0,020) dan motorik (p 0,001) antar kelompok perlakuan. Kelompok C.frutescens 5% tercepat dalam menghentikan bloking saraf motorik (3,33 menit), sedangkan kelompok C.frutescens 10% terbaik dalam mempengaruhi lama bloking saraf sensorik (53,67 menit). Dimana peningkatan kadar berbanding lurus dengan hasil anestesi dan jenis cabai dengan kadar yang berbeda juga mempengaruhi lama waktu kerja obat anestesi.Abstract Local anesthesia works by blocking pain sensory nerve cells (nociceptors) and other nerve cells, it's need capsaicin in chili as co-anesthesia so that local anesthesia specific work on nociceptors only. The diversity of chili, demand more research to determine the most appropriate type of chili as a source of capsaicin co-anesthesia. This is a pre and post test design experimental research. Which each groups is given of Capsaicin from different chili types and concentration. There are difference time in emergence of sensory effects (p 0.020) and motor effects (p 0.001) between groups. Group of C.frutescens 5% is the fastest group in stopping of the motor nerve blocking (3.33 minutes), while group of C.frutescens 10% is best group in influencing long-blocking sensory nerves (53.67 minutes). Thus the increased concentration is linear correlation to the results of anesthesia and the types of chili with different concentration affect the work time of anesthesia
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ASCARIASIS PADA MURID SEKOLAH DASAR
AbstrakKejadian Ascariasis masih tinggi di Kota Padang, terutama pada anak usia sekolah dasar. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian Ascariasis ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Ascariasis pada murid Sekolah Dasar. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode cross sectional study yang dilakukan pada 122 murid SDN 25 dan 28 Purus, Kota Padang pada bulan Desember 2013. Faktor-faktor yang diteliti antara lain higienitas perorangan, tingkat pengetahuan ibu, sanitasi lingkungan, tempat tinggal, dan tingkat penghasilan orang tua. Hubungan antar variabel dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa murid yang positif Ascariasis sebesar 34,4%. Kejadian Ascariasis ditemukan pada murid yang higienitas perorangan kurang baik sebesar 52%, tingkat pengetahuan ibu yang rendah sebesar 34,9%, sanitasi lingkungan yang kurang baik sebesar 29,3%, dan tingkat penghasilan orang tua yang rendah sebesar 37%. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara higienitas perorangan (p=0.06), pengetahuan ibu (p=1), sanitasi lingkungan (p=0,35), dan tingkat penghasilan orang tua (p=0,59) dengan kejadian Ascariasis. Kesimpulan: Kejadian Ascariasis pada pada murid SDN 25 dan 28 Purus, Kota Padang tahun 2013 tidak berkaitan dengan higienitas perorangan, pengetahuan ibu, sanitasi lingkungan, dan tingkat penghasilan orang tua.AbstractThe prevalence of Ascariasis is still high in Padang, especially at primary school age children. There are many factors contribute to the high incidence of this Ascariasis. The purpose of this study was to know the factors that associated with the incidence of Ascariasis in primary school. This study uses an analytical design method of cross -sectional study on 122 students in 25 and 28 primary school Purus, Padang in December 2013. The factors studied include personal hygiene, level of maternal knowledge, sanitary living environment, and the level of parental income. The relationship between all variables was analyzed by Chi-Square test. The results showed that students were positive Ascariasis was 34.4%. Ascariasis incidence in poor individual hygiene students was 52%, a low level of maternal knowledge was 34,9%, poor environmental sanitation was 29,3%, and a low level of parental income was 37%. Statistical analysis showed there was not significant relationship between the individual hygiene (p=0.06), the level of maternal knowledge (p=1), environmental sanitation (p=0,35), and the parental income (p=0,59) with Ascariasis. Conclusion: Ascariasis incidence in 25 and 28 primary school Purus, Padang in 2013 was not associated with individual hygiene, the level of maternal knowledge, environmental sanitation, and the parental income
Ekspresi Tumor Necrosis Factor-Alfa (TNF-α) dan Interleukin-10 (IL- 10) pada Infeksi Malaria Falciparum
AbstrakMalaria masih menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara tropis karena angka kesakitan dan kematiannya yang tinggi. Infeksi Plasmodium falciparum ini dapat menimbulkan gejala yang berat sampai kematian. Perbedaan perjalanan penyakit pada masing-masing individu salah satunya dipengaruhi oleh sistim imun. Di antara zat yang ikut berpengaruh pada imunitas malaria adalah TNF-α dan IL-10, yang dihasilkan oleh sistim pertahanan tubuh terhadap parasit ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi TNF-α dan IL-10 pada infeksi malaria falciparum, menggunakan rancangan explanatory secara cross sectional, dan melibatkan 25 penderita malaria falciparum dengan umur berkisar 14 – 60 tahun. Kadar TNF-α dan IL-10 dianalisis dengan metoda enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dan hasil analisis dinyatakan bermakna bila didapatkan p < 0,05. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan kadar TNF-α dengan rerata 283,10 ± 267,72 pg/ml dan peningkatan kadar IL-10 dengan rerata 196,99 ± 131,94 pg/ml pada penderita malaria falciparum, yang dalam keadaan normal tidak terdeteksi. TNF-α berkorelasi positif dengan IL-10 (r = 0,491; p > 0,05), tapi berkorelasi negatif dengan kadar hemoglobin (r =-0,189; p > 0,05). IL-10 berkorelasi positif dengan kadar hemoglobin (r= 0,134; p > 0,05). Terhadap parasitemia, TNF-α berkorelasi positif (r=0,036; p > 0.05), namun IL-10 berkorelasi negatif (r = -0,043 dan p>0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa infeksi malaria falciparum berpengaruh terhadap peningkatan kadar sitokin TNF-α dan IL-10.Kata kunci : TNF α – IL 10 – malaria falciparumAbstractMalaria is still a universal health problem, especially in tropical countries because of its high morbidity and mortality rates. Infection by Plasmodium falciparum could result in severe symptoms or even death. Differences in pathogenesis among affected individuals are affected by many factors, and the immune system is one of them. Among substances involved in the malarial immunity is TNF-α and IL-10, produced by the body's defense system as the reaction to the parasite. The objective of this study is to find expression of TNF-α and IL-10 on falciparum malaria infection, using an explanatory cross-sectional design, involving 25 people with falciparum malaria with age ranging from 14 to 60 years. The presence of TNF-α and IL-10 wereARTIKEL PENELITIAN17analyzed using enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), and significant values considered at p < 0.05. The results show that there are increased rate of TNF-α with average 283.10 ± 267.72 pg/ml, and increased rate of IL-10 with average 196.99 ± 131.94 pg/ml among people with falciparum malaria, while in normal circumstances they are not detected. There is a positive correlation of TNF-α with IL-10 (r=0.491; p>0.05), but negative correlation with the rate of hemoglobin (r=-0189; p>0.05). IL-10 correlated positively with the rate of hemoglobin (r=0.134; p>0.05). TNF-α is positively correlated with parasitemia (r =0.036; p>0.05), but IL-10 is negatively correlated (r =-0043 and p>0.05). The results from this study conclude that falciparum malaria infection increases of TNF-α and IL-10 cytokine.Keywords: TNF α – IL 10 – falciparum malari
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF ZAT PEWARNA PADA KERIPIK BALADO YANG BEREDAR DI BUKITTINGGI
AbstrakGizi dan kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia merupakan masalah kesehatan utama, sehingga sangat penting untuk diperhatikan. Penyalahgunaan bahan makanan tambahan dapat memberikan dampak terhadap gizi dan kesehatan manusia. Salah satunya adalah pencemaran bahan kimia dari produk makanan, misalnya penggunaan pewarna sintetis yang tidak sesuai aturan pemerintah. Penelitian zat pewarna pada keripik balado yang beredar di Bukittinggi yang bersifat deskriptif dilaksanakan di Balai Laboratorium Kesehatan Padang dari bulan Maret-Juli 2008. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui zat pewarna yang digunakan, jenis zat pewarna sintetis dan kadar zat pewarna sintetis yang digunakan pada kripik balado. Analisis kualitatif dan penentuan jenis zat pewarna dilakukan melalui metode kromatografi kertas, sedangkan analisis kuantitatif zat pewarna dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 sampel kripik balado yang dianalisis terdapat lebih dari separoh sampel (75%) menggunakan zat pewarna sintetis. Kadar zat yang digunakan ternyata 53,3% melebihi ketentuan yang ditetapkan Departemen Kesehatan (DepKes). Jenis zat pewarna sintetis yang digunakan adalah Ponceau 4R dan Erythrosin, yang diizinkan oleh DepKes, dan 73,3% di antaranya adalah Erythrosine. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa zat pewarna sintetis masih digunakan dan kurang dari separoh sampel menggunakannya tanpa melebihi kadar yang ditetapkan DepKes, untuk memerahkan kripik balado yang beredar di Bukittinggi.Kata kunci: Analisis kualitatif, analisis kuantitatif, zat pewarna sintetisAbstractNutrition and health problem in developing countries such as Indonesia is a major health problem, therefore it’s very important to supervise. Abuse of food can result in additional impact on health and nutrition. One of them, the chemical addition of synthetic coloring substances on food products that does not follow government’s regulation. Descriptive research on the coloring substances of chilly chip (‘keripik balado’) sold in Bukittinggi, West Sumatera was conducted in Health Laboratory Facility in Padang from March until July 2008. The purpose of this research is to identify the substances used, the type and its concentrations in chilly chips. Qualitative analysis and determining the type of substances were performed using paper chromatography, while quantitative analysis was conducted with dye spectrophotometer. The result showed that from the sample of 20 types of chilly chips, more than half (75%) were using synthetic substances. Of the substances used, 53.3%ARTIKEL PENELITIAN76exceeded the maximum allowed concentrations specified by Health Department. Types of substances used were Poceau 4R and Erythrosin, and 73.3% of those were Erythrosin. It is concluded that synthetic substances are still in use, and less than half does not exceed the specified health department requirements, to redden chilly chips sold in Bukittinggi.Keywords: Qualitative Analysis, Quantitative Analysis, Coloring Substances Syntheti
EVALUASI SOAL UJIAN TULIS BLOK 5 TAHUN AJARAN 2007/2008
AbstrakEvaluasi ujian mahasiswa sebagai bagian dari program evaluasi adalah sangat penting dalam program pendidikan. Diketahui secara luas bahwa ujian mahasiswa harus kongruen dengan proses pelajaran termasuk bahan ujian. Kualitas ujian dapat mempengaruhi merk dari mahasiswa karena itu evaluasi bahan ujian merupakan bagian penting dari evaluasi ujian mahasiswa.Suatu penelitian telah dilakukan tentang evaluasi soal ujian tulis Blok 5 yang dilakukan dalam 2 hari. Evaluasi soal dilakukan dengan menggunakan program akademik ACAS (Andalas Comprehensive Assessment System), terhadap 2 grup, mahasiswa reguler dan mahasiswa reguler mandiri. Di mana hasil ujiannya tidak baik karena hasil yang di dapat 69,32% dari mahasiswa reguler mandiri dan 19,27% dari mahasiswa reguler tidak lulus.Berdasarkan indeks kesukaran pada kedua grup, ujian pada hari pertama memberikan hasil 4% dari soal ujian sangat sukar dan 17% sukar, sedangkan ujian pada hari kedua memberikan hasil 53% soal ujian sangat sukar dan 43% sukar.Berdasarkan indeks kejelekan pada kedua grup, ujian pada hari pertama memberikan hasil 3% soal ujian sangat jelek dan harus di buang, 29% jelek, sedangkan ujian pada hari kedua memberikan hasil 6% soal ujian sangat jelek dan harus di buang, 29% jelek.Dapat dikatakan bahwa soal ujian tulis pada hari kedua lebih sukar dibandingkan dengan soal hari pertama.kata kunci : Evaluasi soal ujian tulis blok 5- tahun ajaran 07/08AbstractEvaluation of student assessment as part of program evaluation is very important in education program. It is widely known, that student assessment must be congruent with learning process including item of assessment. Qualitry of the item may effect students’ mark. There fore evaluation of the item is important part of student assessment evaluation.A research has been recently performed on evaluation of written test item of Block 5 and written test itself was undertaken in two days. Evaluation of item was conducted by using Program of Academic Andalas Comprehensive Assessment System (ACAS), which was run on two group of students reguler and independent reguler. Since the result of the assessment were not satisfied becauseARTIKEL PENELITIAN152results found 69,32% of the independent regular students and 19,27% of the regular student does not pass.Based on difficulty index in both group, result showed that on the first day exam 4% of item are very difficult, 17% are difficult and on the second day exam 53% of item are very difficult, 43% are difficult.Based on discrimination index in both group, result showed that on the first day exam 3% of item are worst and must be discarded, 29% are bad and on the second day exam 6% of item are worst and must be discarded, 29% are bad.It can be concluded that items of assessment on the second day exam more difficult than the first day.keywords : evaluation of written test item block 5 academic year 07/0
INHIBISI AKTIVITAS PROLIFERASI SEL DAN PERUBAHAN HISTOPATOLOGIS MUKOSA WISTAR DENGAN PEMBERIAN PERASAN SELEDRI
AbstrakTelah dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian perasan seledri pada tikus wistar yang diinduksi karsinogenesis kolon.Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa seledri dapat mencegah karsinogenesis kolon pada tikus wistar yang diinduksi dengan 1,2 dimethylhydrazine (DMH) dengan dan tanpa diet tinggi lemak dan tinggi protein.Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain randomized post test control group. Subyek penelitian adalah 25 ekor tikus wistar jantan berusia 12 minggu yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I mendapat injeksi 1,2 DMH subkutan; kelompok II mendapat injeksi 1,2 DMH dan seledri per oral ; kelompok III mendapat injeksi 1,2 DMH subkutan dan diet tinggi lemak dan protein sedangkan kelompok IV selain mendapat injeksi 1,2 DMH subkutan dan diet tinggi lemak dan protein, juga diberi seledri per oral. Perlakuan untuk kelompok I –IV diberikan selama 12 minggu. Sedangkan kelompok V mendapat 1,2 DMH dan seledri selama 16 minggu.Setelah masa perlakuan berakhir, semua tikus dimatikan dan usus besar diambil. Untuk menilai perubahan histopatologik salah satu potongan diproses dan diwarnai dengan HE. Potongan yang lain diwarnai dengan teknik argirofilik dari Ploton untuk analisis aktivitas proliferasi sel. Perubahan histopatologis dinilai secara mikroskopik sesuai kriteria WHO sedangkan aktivitas proliferasi sel dinilai dari jumlah titik AgNOR.Perubahan histopatologik menunjukkan bahwa tikus yang diinduksi dengan 1,2 DMH atau disertai diet tinggi lemak dan protein mengalami perubahan morfologik dan displasia yang lebih berat dibanding tikus yang diinduksi dan diberi seledri.Analisis statistik memakai uji Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna aktivitas proliferasi sel antara kelompok yang diberi 1,2 DMH dan seledri dengan kelompok yang hanya diberi 1,2 DMH. Pemberian seledri mampu menghambat perubahan histopatologis dan aktivitas proliferasi argrophylic nucledar regions (AgNOR) sel epitel mukosa pada tikus yang diinduksi karsinogenesis kolon dengan 1,2 DMH atau disertai diet tinggi lemak dan protein.Kata Kunci : Karsinogenesis kolon, Seledri, 1,2 DMH, Diet tinggi lemak dan proteinPerubahan histopatologis, hitung AgNORAbstractHas been done research on the effect of celery juice to wistar rats that induced for colon carcinogenesis. Specifically, the aim of this research is to prove celeryARTIKEL PENELITIAN181could prevent the colon carcinogenesis of wistar rats which induced while 1.2 DMH in condition with or without high fat high protein dietary.This study was an experimental study with randomized post test control group. Design totally 25 male wistar rats, aged 12 weeks which randomly divided into five groups, each group consist of 5 rats. Each group were treated by s.c injection of 20 mg/kgBW 1.2 DMH which had been injected once a week. Groups II, IV and V had orally been given a juice celery everyday. Whereas, groups III and IV were fed with the high fat high protein diet,ad libitum. Such above treatment mentioned was treated to all of groups I to IV for 12 weeks, but group V treated for 16 weeks.After the limit of this treatment was finished, all rats were terminated, and large intestines were resected. For the purpose of the histopathological evaluation one of cut sections processed by histological procedures regularlyand stained with H&E. The other of sections was stained by using the argyrophilic techniques as described by Ploton to analyses the activity of cell proliferation. Histopathological pattern in form of epithelial changes had been evaluated by using WHO’s criterias. AgNOR dots were calculated in the nucleus of 100 epithelial cells by using high power fields with emersion oil.The results of histopathological changes indicated the rats induced by 1.2 DMH only or with high fat high protein diet demonstrated a higher degren on morphological changes and dysplasia when it was compared with the group of rats given by celery beside carcinogenic agents. By having analyzed to group I against group II by using Mann-Whittney U-test, it significant differences for cell proliferative activity. This study concluded that celery was effective to prevent histopathological changes and decrease the activity of cell proliferation (AgNOR) in 1.2 DMH induced colon tumors.Keywords: Colon carcinogenesis, celery, 1.2 DMH, high fat high protein diet, histopathological changes, AgNOR coun