Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    PENCEGAHAN KOMPLIKASI TUBERCULOSIS AKIBAT PEMBERIAN TNF-α ANTAGONIS

    Get PDF
    AbstrakTNF-α antagonis telah digunakan secara luas dan menunjukan respon yang baik pada terapi penyakit-penyakit autoimun seperti Rheumatoid Artritis, psoriasis dan Inflammatory Bowel Diseases. Namun, beberapa penelitian melaporkan adanya komplikasi tuberculosis yang terjadi akibat penggunaan obat ini dalam jangka lama. Untuk meminimalisir komplikasi tersebut, skrining adanya TB dengan TST, IGRA dan pemeriksaan radiologi wajib dilakukan sebelum pemberian terapi dengan TNF-α antagonis. Pemeriksaan berkala adanya TB juga harus dilakukan selama pemberian terapi. Selain itu, pemilihan obat yang tepat dengan komplikasi minimal juga harus dilakukan untuk menekan aktivasi TB tersebut.Kata Kunci: TNF-α, TNF-α antagonis, penyakit autoimun, tuberculosis.AbstractTNF-α antagonist has been widely used and showed well responses in autoimmune diseases therapy such as Rheumatoid Arthritis, psoriasis and Inflammatory Bowel Diseases. However, many studies showed that the long time used of those biological agents activate tuberculosis infection. To minimize the complication, first, TB screening by TST, IGRA and radiology examination must be performed to exclude latent TB before starting the therapy using TNF-α antagonist. Second, regular TB check must also be done during TNF-α antagonist treatment. At last, choosing right agents for better treatment with less complication must be considered.Keywords: TNF-α, TNF-α antagonist, autoimmune diseases, tuberculosis

    HAMBATAN DALAM MENDAPATKAN PENGALAMAN BELAJAR KLINIS PADA KEPANITERAAN KLINIK DI UNIT GAWAT DARURAT (UGD) BAGI MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

    Get PDF
    AbstrakPenatalaksanaan gawat darurat merupakan kompetensi yang vital dan harus dimiliki oleh setiap dokter. Selain itu, sejak tahun ajaran 2007/2008 pada tahapan klinik, FK-UNAND melakukan penataan lebih baik pada sistim kepaniteraan. Oleh karea itu perlu dilihat apakah peroses pendidikan di UGD juga telah memberikan pengalaman belajar klinis yang optimal? Serta apa hambatan dalam mendapatkan pengalaman klinis tersebut?.Desain penelitian ini adalah cross sectional study dan dilaksanakan pada bulan September 2007 - Maret 2008. Instrument pengumpulan data adalah kuisioner terstruktur dan sebagian besar menggunakan sistim skala. Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh mahasiswa yang sedang menjalankan rotasi kepaniteraan klinik di Instalasi Gawat darurat (IGD) yang diambil pada dua siklus. Data-data kuantitatif dianalisa secara deskriptif. Untuk melihat bagaimana perbedaan gender dalam mendapatkan pengalaman belajar klinis dianalisa secara statistik (t-test).Kesempatan belajar memperoleh pengalaman klinis oleh mahasiswa mencapai skala 3 lebih (sedang) dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan (p>0,05). Secara sepesifik, kesempatan melakukan tindakan penatalaksanaan jalan nafas (airway management) merupakan kesempatan yang paling jarang didapatkan (skala 2,11). Kesempatan melakukan penatalaksanaan dan menjahit luka serta melakukan injeksi cukup sering, dengan skala 4,05 dan 4,25. Hambatan utama dalam memperoleh pengalaman klinis adalah karena jumlah pasein yang kurang (39,7%) kurangnya bimbingan (32,9%) dan sikap penerimaan atau penolakan dari staf perawat (16,4%).Kesempatan mendapatkan pengalaman dan pencapaian kompetensi klinis mahasiswa di UGD belumlah optimal. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hambatan seperti jumlah pasien dan bimbingan yang kurang serta sikap penerimaan dan kerjasama staf perawat.Kata Kunci: Pengalaman belajar klinis dan pendidikan kedokteran.ARTIKEL PENELITIAN9AbstractClinical competency in management of emergency cases is one of the very important competencies of medical graduate. Therefore, this important to recognize, does the clinical clerkship in Emergency Department (ED) provide adequate learning for medical students?.A cross sectional study was conducted between September 2007 and March 2008 in Faculty of Medicine of Andalas University. The data was gathered by structured questionnaire which majority of the questions are scale system. Respondents of the study are the students who are doing clinical attachment in ED when the study being conducted (two groups of rotation with total 110 students). Majority of the quantitative data has been analysed descriptively. To investigate difference clinical learning experiences and competencies between male and female students has been used statistical analysis of t-test.In average, the students obtain clinical learning experiences in medium level (above scale 3), in which there is no difference between male and female (p>0.05). Specifically, experience in conducting airway management is the lowest scale (2.11). Most of the students (66.4%) encounter barriers to gain clinical experience. They feel that the main barriers in obtaining clinical learning experiences are limited number of the patients (39.7%), inadequate supervision (32.9%) and nursing staff attitude (16.4%).The students do not get optimal clinical learning experience and competencies in ED. These are influenced by limited number of patients, inadequate supervision and attitude of nursing staffs.Keywords:Clinical learning experiences and and medical education

    SITUASI CAMPAK PADA BALITA (12 -59 Bulan) DI PROPINSI SUMATERA BARAT, DKI JAYA, JAWA BARAT DAN BANTEN) PADA TAHUN 2007 (Analisa Lanjut RISKESDAS 2007)

    Get PDF
    AbstrakPenyakit campak di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan karena diperkirakan 76% orang yang rentan dalam rumah tangga. Insiden kasus pada tahun 2006 golongan umur 12-59 bulan mempati urutan paling pertama yaitu 34,94%. Tujuan dari penelitian untuk melihat gambaran kejadian campak pada empat propinsi ini.Desain penelitian analisa lanjut RISKESDAS 2007 secara cross-sectional di empat propinsi (Sumatera Barat, DKI Jaya, Jawa Barat dan Banten). Populasi dalam RISKESDAS 2007 adalah seluruh rumah tangga yang terpilih menurut blok Sensus dalam Susenas 2007 yaitu two stage sampling dari tiap kabupaten/kota. Kemudian dari kabupaten/kota diambil secara porposional terhadap jumlah rumah tangga (probability proporsional tosize). Setiap blok Sensus diambil 16 rumah tangga secara acak sederhana (simple random sample). Unit sampel seluruh anggota rumah tangga yang terpilih mempunyai balita (berusia 12-59 bulan) dari proses tersebut diatas dapat digunakan sebagai unit analisis. Penelitian melalui wawancara menggunakan kuesioner. Variabel terikat adalah balita yang menderita campak berdasarkan diagnosa petugas dan berdasarkan informasi gejala dari keluarga dan sebagai variabel bebas adalah jumlah balita, cakupan imunisasi dan cakupan vitamin A.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus berdasarkan diagnosa oleh petugas kesehatan adalah 4,3% di antaranya propinsi DKI Jaya paling banyak (6,9%), sedangkan berdasarkan informasi keluarga dari gejala sebanyak 1,1% di antaranya propinsi Banten paling tinggi (1,8%). Setelah penggabungan jumlah kasus campak menjadi 4,9% diantara propinsi DKI Jaya paling besar (7,5%) dan yang paling rendah propinsi Sumatera Barat (4,1%). Cakupan imunisasi campak sebanyak 65,2% di ataranya propinsi DKI Jaya paling tinggi (71,0%) dan propinsi Banten paling rendah (52,9%).Demikian juga cakupan vitamin A dua kali dalam satu tahun sama (65,2%) di antaranya propinsi Sumatera Barat paling tinggi (79,9%). Odds Ratio (OR) imunisasi 1,6 bermakna (p= 0,001) dan OR pemberian vitamin A adalah 8,3 dan tidak bermakna (p > 0,05). Untuk menurunkan resiko penyakit campak (menurut telaah) maka perlu diberikan vitamin A untuk meningkatkan kekebalan atau antibodi dalam darah, hal ini terlihat di propinsi Sumatera Barat dengan populasi cukup besar serta jumlah kasus paling rendahARTIKEL PENELITIAN19(4,1%), walaupun cakupan imunisasi rendah (61,0%) sedangkan cakupan vitamin A tinggi (79,9%). Informasi ini bisa sebagai masukan program pemberatasan campak dan perlu ditingkatkan kualitas kerja bidan atau petugas kesehatan atau perlu diamati apakah adanya virulensi vaksin meningkat atau perlu dilakukan iminisasi ulang.Kata kunci : balita, campak, imunisasi, vitamin AAbstractMeasles in Indonesia is still become a health problem because it is estimated that 76% of people were vunerable of infection in the household. That case ncident of children aged 12-59 moths to be the first sequence which is 34.94% The aim of the research is to see the picture of measles incidence in four provinces.The design of this Riskesdas 2007 reseach is cross-sectional study, and was held in four provinces (West Sumatera, DKI Jaya, West Java and Banten). Population in 2007 was Riskesdas all households selected according to the survey, the Census block 2007 is a two stage sampling from each district/city. Then from all the districts were taken by porposional to total households (probability proportional to size). Each block of the Census taken 16 households was randomly (simple random samples). Unit samples all household members who elected to have children (12-59 months old) from the above process can be used as the unit of analysis. Research through interviews using a questionnaire. Dependent variables were the infants who suffer from measles diagnosis based on symptoms of the officers and based on information from family and as an independent variable is the number of children under five, immunization coverage and coverage of vitamin A.The results showed that the number of cases based on diagnosis by health workers was 4.3% among the provinces of DKI Jaya’s most lots (6.9%), while based on information from the family as much as 1.1% of symptoms among the highest of Banten province (1.8%). After the merger the number of measles cases to 4.9% among the largest province of DKI Jaya (7.5%) and lowest of West Sumatera province (4.1%). Measles immunization coverage as much as 65.2% in DKI Jaya province among the highest (71.0%) and the lowest Banten province (52.9%). Similarly, coverage of vitamine A twice in the same year (65.2%), provinces including West Sumatera the highest (79.9%). Odds ratio (OR) 1.6 immunization was significant (p=0.001) and the OR of vitamin A is 8,3 and not significantly (p>0.05). Followed the risk for measles (under review) it needs to be given vitamin A to increase immunity or antibodies in the blood, it can be seen in the provinces of West Sumatera with a population large enough and the lowest number cases (4.1%)., although low immunization caverage (61.0%) while the high coverage of vitamin A (79.9%). This information can serve as input control programs measles and should be improved quality of midwives or health workers or need to be observed wether the increased virulence of caccines or immunizations repeated as done.Keywords: children, mesales, immunization, vitamin

    PERAN PEMBINAAN ORGANISASI DOKTER GIGI (PDGI) TERHADAP PELAKSANAAN KODE ETIK DOKTER GIGI (KODEKGI) DI KOTA PADANG

    Get PDF
    AbstrakDokter dan dokter gigi sebagai pelaku regulasi mempunyai kewajiban membina anggotanya agar regulasi yang dibuat pemerintah dapat dilaksanakan dengan maksimal.Untuk mengetahui peran organisasi PDGI terhadap pelaksanaan kode etik dokter gigi (KODEKGI), sehingga dapat melihat sejauh mana peran organisasi tersebut dalam membina anggotana dalam pelaksanaan kode etik dokter gigi.Studi kasus yang bersifat deskriptif. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah peranan organisasi PDGI dan variabel bebasnya adalah pelaksanaan etika profesi dengan faktor yang ada didalamnya meliputi pembinaan, pengawasan, komitmen, dan fokus regulasi.Dilaksanakan di wilayah kota Padang dengan 24 dokter gigi di kota Padang sebagai obyek penelitian, dikumpulkan dengan cara interview mendalam (deepth interview).hampir 90% menjawab benar dengan hasil kuisioner yang di dapat dengan pertanyaan mengenai rekam medik dan pandangan dokter gigi terhadap pasien, dan hanya 33% yang menjawab benar dengan pertanyaan setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya namum hal ini adalah hak pasien untuk menentukan sendiri dalam kepuasannya.(1). Kode etik terhadap dokter dan dokter gigi dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan regulasi yang ada.(2). Organisasi PDGI mempunyai kewenangan sebagai regulator untuk membina dan mengawasi anggotanya dalam pelaksanaan kode etik dan UUPK (3). Hasilnya akan dapat dipakai oleh Pemerintah Daerah wilayah kota Padang sebagai acuan dalam melaksanakan dan menegakkan kebijakan regulasi dalam peranan pembinaan organisasi profesi dokter gigi terhadap pelaksanaan kode etik dokter gigi (KODEKGI) khususnya di kota Padang dimasa mendatang.Kata Kunci : PDGI, Kode Etik Dokter Gigi (KODEKGI), Pembinaan Organisasi Profesi.ARTIKEL PENELITIAN137AbstractPhysicians and dentists as regulator are obliged to develop their members in order that regulation arranged by government can be maximally put into practice.Obyektive†to understand role of PDGI organization towards the implementation of dentists’ rules (KODEKGI), thus there will be known until what level this organization able to develop and control physicians and dentists for implementing their rules.case study with descriptive pattern. Dependent variable in this study is role of PDGI organization and the independent one is implementation of professional ethics with factors included within, such as development, control, commitment, and regulation focus. This study was held in Padang city, involving 24 dentists in Padang city as the object who later act as respondents; data was collected trough depth interview.The implementation of rules towards physicians and dentists can works well accorded to regulations prevailed and PDGI organization has full authority as regulator to develop and control its members in implementing rules and UUPK which still less optimally implemented, thus PDGI management can raise commitment and improve support in order that regulation can be effective.Through this study, it is hoped that next future the result can be adopted by local government of Padang as reference in implementing and enacting regulation policy related to development of dentistry professional organization towards implementation of dentists’ rules (KODEKGI) especially in Padang.Key words : PDGI, Dentists Rules (KODEKGI), Development of Professional Organization

    GAMBARAN INFEKSI PROTOZOA INTESTINAL PADA ANAK BINAAN RUMAH SINGGAH AMANAH KOTA PADANG

    Get PDF
    AbstrakInfeksi protozoa intestinal masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis dan negara berkembang. Yang termasuk ke dalam protozoa intestinal patogen di antaranya adalah G. lamblia dan E. histolitika.Telah dilakukan penelitian terhadap anak binaan Rumah Singgah “Amanahâ€, Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Pemeriksaan tinja dilakukan terhadap 66 anak dengan metode langsung menggunakan eosin dan lugol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran infeksi protozoa intestinal pada anak binaan rumah singgah Amanah.Telah dilakukan penelitian di Rumah Singgah “Amanahâ€, Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, terhadap anak biaHasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang terinfeksi protozoa intestinal sebesar 40,91%. Berdasarkan jenis spesies, distribusi frekuensi terbanyak yang menginfeksi anak adalah G. lamblia yaitu 37,88%, sedangkan infeksi oleh E. histolitika adalah 3,03%. Frekuensi infeksi G. Lamblia lebih tinggi pada umur < 10 tahun yaitu 27,27%, tetapi pada infeksi E. histolitika terlihat tidak ada perbedaan. Distribusi infeksi berdasarkan jenis kelamin hampir sama pada G. lamblia maupun E. histolitika. Berdasarkan pekerjaan, lebih separuh anak binaan yang terinfeksi protozoa intestinal bekerja sebagai penjaja makanan.Kata kunci: Protozoa intestinal, G. lamblia, E. histolitikaAbstractPrevalence of intestinal protozoan infection in Rumah Singgah Amanah, Kota Padang. Intestinal protozoan infection is still a public health problem in tropical countries and developing countries. The intestinal protozoan pathogen of which is G. lamblia and E.histolitika.This research is descriptif study and it was conducted in Rumah Singgah Amanah, Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Stool examination has been carried out to 66 children by direct fecal examination method using eosin and Lugol. The purpose of this research is to know the description of intestinal protozoan in fection in Rumah Singgah Amanah.Prevalence of intestinal protozoa infection was 40,91%, the highest frequent infection was G. lamblia which was 37.88%, E. histolitika was 3.03%. FrequencyARTIKEL PENELITIAN61of G. lamblia infection was higher in age <10 years is 27.27%. There was no different in age in E.histolytica infection. There was no different in sex in both infection. Half of children with intestinal protozoa infection were food seller.Key words : Intestinal Protozoa, G. lamblia, E. histolitik

    EFEKTIFITAS TOXIN BOTULLINUM UNTUK MANAJEMEN BLEFAROSPASME ESSENSIAL DAN SPASME HEMIFASIAL

    Get PDF
    AbstrakUntuk mengukur efektifikas toxin Botullinum pada kasus-kasus okuloplastik (blefarospasme essensial dan spasme hemifasial.Laporan kasus 16 pasien yang terdiri dari 14 kasus spasme hemifasial dan 2 kasus blefarospasme essensial. Digunakan 6 vial toxin Botullinum. Vial pertama digunakan untuk pasien spasme hemifasial dan 1 pasien blefasrospasme di minggu berikutnya. vial kedua dan ketiga masing-masing digunakan untuk 2 pasien spasme hemifasial. Vial keempat digunakan untuk pasien blefarospasme yang menggunakan vial pertama (setelah 6 bulan), dan 1 pasien spasme hemifasial yang menggunakan vial kedua ( setelah 4 bulan) dan 1 pasien spasme hemifasial baru. Setelah 1 minggu, toxin Botullinum vial keempat digunakan untuk 6 pasien spasme hemifasial dan 1 pasien blefarospasme essensial yang menggunakan vial pertama 8 hari berikutnya (setelah 7 bulan).Terdapat 16 pasien pada studi ini ; 14 spasme hemifasial dan 2 blefarospasme essensial. Pada 5 pasien dilakukan injeksi ulangan dengan jangka waktu yang berbeda. Tidak ditemukan efek samping pada pasien-pasien ini.Toxin Botulinum efektif untuk manajemen spasme hemifasial dan blefarospasme essensial tetapi efeknya temporer. Pada studi ini, jangka waktu injeksi ulangan bervariasi sekitar 4 – 7 bulan pada 5 pasien.Kata Kunci : Toxin Botulinum toxin, spasme hemifasial, blefarospasmeAbstractTo asses Botulinum Toxin efficacy in oculoplastic cases (blepharospasm and hemifacial spasm).A case report on 16 patients consisted of 14 hemifacial spasms and 2 essential blepharospasm. Six vials of botulinum toxin were used. First vial was used for two patients of hemifacial spasm and one blepharospasm patient one week later. Second and third vials were used each for two patients of hemifacial spasms. Fourth vial was used for one blepharospasm patient from first vial user (after six month), one hemifacial spasm from second vial user (after four months) and one new hemifacial spasm. After one week, Botulinum toxin from fourth vial was used for one new patient of hemifacial spasm. Fifth and sixth vial was used for sixLAPORAN KASUS203hemifacial spasms and eight days later for one blepharospasm from first vial user (after seven months).There were 16 patients in this serial study; 14 hemifacial spasms and 2 blepharospasms. Five patients had reinjections with different duration. There is no side effect in those patients.Botulinum toxin is effective in treatment of hemifacial spasm and blepharospasm, but the effects are temporary. In this study, reinjections durations about four to seven months in five patients.Key word : Botulinum toxin, hemifacial spasm, blepharospas

    PENGARUH SEPTOPLASTI TERHADAP SUMBATAN HIDUNG

    Get PDF
    AbstrakGejala sumbatan hidung meskipun bukan suatu gejala penyakit yang berat, tetapi dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Salah satu penyebabnya adalah deviasi septum nasi. Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi gejala sumbatan hidung, diantaranya adalah Nasal Inspiratory Peak Flowmeter (NIPF). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh septoplasti terhadap sumbatan hidung pada deviasi septum dengan pemeriksaan NIPF. Metode penelitian ini adalah eksperimental studi dengan teknik pre dan post-test design untuk mengetahui gambaran hasil NIPF pada penderita deviasi septum nasi dengan sumbatan hidung. Pengukuran NIPF dilakukan sebelum operasi, minggu ke-2, ke-4 dan ke-6 setelah operasi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 11 pasien (93%) dari 12 pasien secara subyektif mengalami perbaikan sumbatan hidung. Terdapat perubahan sumbatan hidung yang bermakna pada minggu ke-4 (p=0,01), dan ke-6 (p=0,01). Kesimpulan penelitian ini adalah septoplasti dapat memperbaiki sumbatan hidung pada deviasi septum nasi.AbstractEven though nasal congestion is not a severe symptom, it can reduce quality of life and patient’s activities. One of the causes of nasal congestion is septal deviation. Diagnostic test that could be used to evaluate nasal congestion is Nasal Inspiratory Peak Flowmeter (NIPF). The objective of this study was to measure the effect of septoplasty to nasal congestion caused by septal deviation with NIPF examination. This research was experimental study by pre and post-test design to evaluate NIPF of patients with nasal congestion due to septal deviation. NIPF was measured before operation surgery, second week, fourth week and sixth week after surgery. The result showed that there were 11 patients (93%) of 12 patients with decreased of nasal congestion subjectively. There were significant decrease of nasal congestion at fourth week (p=0.01) and sixth week (p=0.01). The conclusion of this study is septoplasty can reduce nasal congestion on septal deviation

    HUBUNGAN DOKTER-PASIEN MELALUI MEDIA SOSIAL DITINJAU DARI PRINSIP DASAR BIOETIKA

    Get PDF
    AbstrakPerkembangan teknologi yang ditandai munculnya berbagai alat canggih, kemudahandan kecepatan akses informasi serta komunikasi terjadi di segala aspek kehidupan masyarakattermasuk aspek kedokteran. Munculnya web 2.0 memudahkan penyebarluasan informasi olehadmin maupun pengguna. Salah satunya adalah munculnya media sosial yang dapat diaksesoleh siapa saja, termasuk dokter dan pasien. Fleksibilias dan keterbukaan penggunaan mediasosial menyebabkan pergeseran makna 'kontrak terapeutik' antara dokter dan pasien.Kebebasan interaksi antara dokter pasien mulai dari masalah personal hingga konsultasimasalah kesehatan dapat dilakukan melalui media sosial seperti facebook atau twitter denganmudah dan cepat. Seorang dokter seharusnya berpijak pada kaidah dasar bioetika sebagaiprinsip dasar hubungan dokter-pasien. Hubungan melalui media sosial sebaiknyadipertimbangkan lebih lanjut berdasarkan konsep beneficience, otonomy, nonmaleficience, danjustice. Hubungan dokter-pasien melalui media sosial memberikan efek yang menguntungkanbagi dokter dan pasien, dengan syarat terdapat aturan terlentu yang harus disepakati bersama.Kata kunci: hubungan dokter-pasien, media sosial, prinsip dasar bioetikaAbstractTechnology improvemenf resuifs variety of sophisticated tool, ease of communication inall aspects of iife including meriical aspecfs. The advent of Web 2.0 facilitate dissemination ofinformation by the admin and user. One of them is social media that can be acces-ced by anyane,inctuding doctors and patients. Flexibility oi social media change the meaning of 'therapeuticcontract' between doctors and patients. Free interactions between physicians and patients aboutpersonal to heatth problems can be done through social media like facebook or twitter easily andquickly A doctor should stand on the basic principles of bioethics as a l.rasic principle of thedoctor - patient relationship. Relationship through social media should be considered further bythe concept of beneficience, otonomy, nonmaleficience, and iustice. Doctor-patient relationshipthrough social ntedia provide a beneficial effect for doctars and patients with the ceftain rules.Keywords. doctor - patient relattonship, social media, basic principles of bioethic

    Preface and ToC - Vol 37, No 2 (2014)

    No full text

    COMPARISON OF FOUR METHODS TO DETECT ADVERSE EVENTS IN HOSPITAL

    Get PDF
    AbstrakDeteksi terjadinya kejadian yang tidak diharapkan (KTD) telah menjadi salah satu tantangan dalam keselamatan pasien oleh karena itu metode untuk mendeteksi terjadinya KTD sangatlah penting untuk meningkatkan keselamatan pasien. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membandingkan kelebihan dan kekurangan dari beberapa metode untuk mendeteksi terjadinya KTD di rumah sakit, meliputi review rekam medis, pelaporan insiden secara mandiri, teknologi informasi, dan pelaporan oleh pasien. Studi ini merupakan kajian literatur untuk membandingkan dan menganalisa metode terbaik untuk mendeteksi KTD yang dapat diimplementasikan oleh rumah sakit. Semua dari empat metode telah terbukti mampu untuk mendeteksi terjadinya KTD di rumah sakit, tetapi masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan yang perlu diatasi. Tidak ada satu metode terbaik yang akan memberikan hasil terbaik untuk mendeteksi KTD di rumah sakit. Sehingga untuk mendeteksi lebih banyak KTD yang seharusnya dapat dicegah, atau KTD yang telah terjadi, rumah sakit seharusnya mengkombinasikan lebih dari satu metode untuk mendeteksi, karena masing-masing metode mempunyai sensitivitas berbeda-beda.AbstractDetecting adverse events has become one of the challenges in patient safety thus methods to detect adverse events become critical for improving patient safety. The purpose of this paper is to compare the strengths and weaknesses of several methods of identifying adverse events in hospital, including medical records reviews, self-reported incidents, information technology, and patient self-reports. This study is a literature review to compared and analyzed to determine the best method implemented by the hospital. All of four methods have been proved in their ability in detecting adverse events in hospitals, but each method had strengths and limitations to be overcome. There is no ‘best’ single method that will give the best results for adverse events detection in hospital. Thus to detect more preventable adverse events, or adverse events that have already occurred, hospitals should combine more than one method of detection, since each method has a different sensitivity

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇