Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
METODE PENENTUAN RESISTENSI PLASMODIUM VIVAX TERHADAP KLOROKUIN
AbstrakKlorokuin merupakan obat pilihan pertama selama lebih kurang 50 tahun untuk pengobatan malaria vivax, karena kerjanya cepat, murah, dan aman diberikan pada bayi dan wanita hamil. Sejak 1989 muncul beberapa laporan resistensi P. vivax terhadap klorokuin, yang sebagian besar berasal dari Papua Nugini dan Indonesia, namun kesimpulan tentang resistensi belum dapat diperoleh karena cara/metode yang digunakan dalam penentuan resistensi belum seragam.Uji invivo pada prinsipnya menilai efikasi klorokuin dosis standar terhadap P. vivax yang di follow up selama 28 hari dengan menggunakan parasitemia dan gejala klinis sebagai parameternya. Dikatakan resisten, bila parasitemia menetap atau muncul kembali pada kurun waktu tersebut. Keputusan resistensi seharusnya disertai dengan pemeriksaan kadar klorokuin dalam darah untuk menghindari salah penafsiran. Kadar klorokuin dalam darah > 100 ng/ml dianggap dapat mengeliminasi P. vivax strain sensitif dari darah. Bila kadar klorokuin sewaktu terjadi rekurens melebihi kadar efektif minimum, dapat dikatakan parasit sudah resisten.Walaupun sudah banyak laporan tentang resistensi P. vivax terhadap klorokuin, namun klorokuin masih dijadikan pilihan pertama dalam pengobatan malaria vivax sampai benar-benar terbukti P. vivax resisten dengan klorokuin.Kata kunci : P. vivax, resistensi, klorokuin.AbstractChloroquine has been a drug of choice for vivax malaria for about 50 years, as it has a rapid onset of action, inexpensive, and safe for babies and pregnant women. There have been some reports regarding resistant P. vivax to chloroquine since 1989, which is mostly come from Papua New Guinea and Indonesia. However, it is not conclusive yet due to various different methods used.The invivo study, basically examined the efficacy of chloroquine standard dose on P. vivax monitored for 28 days using parasitemia and clinical sign as indicators. Resistance is diagnosed either by persistent parasitemia or recurrence occurred during monitoring period. Determination of resistance state should also be based on chloroquine level examination to avoid misinterpretation. The minimum level of chloroquine regarded as effective dose for P. vivax is 100 ng/ml. Serum chloroquine level of > 100 ng/ml is believed to be able to eliminate sensitive strain of P. vivax from blood.Although there have been many studies reporting the allegation of P. vivax resistanceto chloroquine, chloroquine still as a drug of choice in vivax malaria treatment untilTINJAUAN PUSTAKA117the P. vivax resistance to chloroquine established. If resistance has been established, chloroquine needs to be replaced by other alternative drugs, like a mefloquine, halofantrine, quinine or combination of chloroquine plus primaquine.Keywords: P. vivax, Resistance, Chloroquine
LAMA RAWATAN DAN MORTALITAS PASIEN INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RS DR. DJAMIL PADANG DITINJAU DARI BEBERAPA ASPEK
AbstrakIntensive Care Unit (ICU) merupakan bagian yang sangat penting dari suatu rumah sakit. ICU sangat berperan dalam penatalaksanaan pasien dengan penyakit kritis dan segala komplikasinya yang meliputi ICU medik dan ICU bedah. Penatalaksanaan pasien ICU ini tidak hanya memerlukan keahlian dan keterampilan medis yang tinggi tapi juga memerlukan sarana dan peralatan dengan teknologi lebih tinggi dan relatif mahal. Oleh karena itu sangat perlu dipertimbangkan efektifitas biaya yang digunakan pada perawatan ICU, lama rawatan dan juga resiko martalitas.Penelitian ini merupakan studi retrospektif di ICU dan Bagian Anestesiologi dan Reanimasi RS M Djamil Padang dengan menggunakan data catatan medis pasien. Data-data dikumpulkan selama dua tahun sejak ICU baru di RS M Djamil digunakan (Periode Mei 2002-April 2004). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimanakah mortalitas dan lama rawatan pasien di ICU. Juga untuk melihat bagaimana hubungan antara umur pasien dan kelompok diagnosis dengan lama rawatan dan mortalitas.Ditemukan angka mortalitas pasien di ICU 25,6% dan lama rawatan yang lebih dari 7 hari 14,8% dari total 454 pasien. Ditemukan pasien dengan usia >50 tahun cendrung memerlukan rawatan lebih lama (p<0,05). Juga ditemukan angka mortalitas cendrung lebih tinggi pada pasien usia <10 tahun dan >50 tahun (p<0,05). Pada kelompok diagnosis gangguan kesadaran dan gangguan kardiovaskular-sirkulasi terlihat memerlukan rawatan lebih lama. Terlihat juga pada kelompok diagnosis gangguan kesadaran dan gagal nafas mempunyai angka mortalitas yang lebih tinggi. Namun tidak dapat disimpulkan apakah ada kecendrungan yang bermakna secara statistik pada kelompok diagnosis tersebut.Pasien anak-anak dan usia lanjut lebih rentan untuk jatuh pada kondisi yang buruk dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Disamping itu, pasien dengan gangguan kardiovaskuler, penurunan kesadaran dan gagal nafas juga membutuhkan perhatian khusus.Kata Kunci: Pasien ICU, lama rawatan dan mortalitasAbstractThe Intensive Care Unit (ICU) is an important part of the hospital. The ICU is dedicated to manage patients with life-threatening illnesses, injuries, and complications. The services of ICU include medical and surgical intensive care area. The treatment for these conditions needs high tech, high skill, and expensive equipments. These have directly impacts on cost of the patients care. Therefore, it should be considered cost effective, length of hospital stay and risk of mortality.ARTIKEL PENELITIAN143A retrospective study was conducted in The Department of Anesthesiology and Intensive Care M Djamil Hospital. This study collected all of ICU patients in M. Djamil Hospital two year period since the new ICU in the hospital has been established (May 2002 – April 2004). The aim of the study is to look at mortality and length of hospital stay ICU patients. The study is also to determine correlation between age of patient, diagnosis related groups (DRG) and length of hospital stay and risk of mortality.In the study, there was found 14.8% patients which length of stay more than 7 days and 25.6% mortality rate from total 454 ICU patients. There was also tendency of old patients (more than 50 years) have more length of hospital stay (p<0.05). There was tendency of high mortality rate in age patients less than 10 years and more than 50 years (p<0.05). Length of hospital stay in DRG consciousness disorders and cardiovascular-circulations disorders were relatively higher than other diseases. The mortality rate in DRG consciousness disorders and respiratory failure were also relatively higher. However, it couldn’t conclude the tendency of some DRG to length of hospital stay and to mortality rate.Children and old patient are more vulnerable than other age groups if they are hospitalized in ICU. Also, the critical conditions with cardiovascular illnesses, consciousness disorders and respiratory failure need more special attention.Keywords: ICU patients, length of hospital stay and mortalit
FIBRILLARY ASTROCYTOMA
AbstrakSeorang anak berumur 6,5 tahun yang menderita Fibrilary astrositoma dibawa ke rumah sakit dengan keluhan utama kaki kanan lemah sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, diplopia, dan kejang. Diagnosis berdasarkan CT-scan dan biopsy. Terapi suportif dilakukan sebelum pembedahan. Pembedahan terdiri dari 2 tahap, pertama berguna untuk menurunkan tekanan intrakranial dengan VP-shunt dan kedua untuk pengangkatan tumor. Reseksi tidak dapat dilakukan sehubungan dengan lokasi tumor. Tatalaksana dilanjutkan dengan radioterapi sebanyak 20 kali dengan dosis total 5000 Gy. Pasien meninggal 1 minggu setelah diperbolehkan pulang, hal ini disebabkan oleh herniasi. Kesimpulan, Fibrillary astrocytoma mempunyai prognosis buruk, karena sifatnya yang cenderung ganas walaupun mendapatkan terapi yang adekuat. Kata kunci : Fibrillary astrocytoma, VP-shunt, radioterapi.Abstract A girl 6.5 years old with Fibrillary astrocytoma was taken to hospital with chief complain right leg weakness since 2 weeks before admission, headache, diplopia and seizure. Diagnosis based on CT-scan imaging and biopsy. Supportive therapy was given to maintain before and after surgery. The surgery contained 2 phase, the first is VP-shunt to decrease intracranial pressure and the second is tumor resection. Tumor resection did not completely because of tumor location. The patient died caused by herniation after 1 week, when the patient allowed go home. Conclusion. Fibrillary astrocytoma was poor prognosis, because it is likely to be malignant despite adequate treatment. Keywords : Fibrillary astrocytoma, Vp-shunt, radiotherapyLAPORAN KASU
AGAR PENULISAN RESEP TETAP UP TO DATE
AbstrakResep adalah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan tertentu dan menyerahkannya kepada pasien. Resep merupakan perwujudan akhir dari kompetensi, pengetahuan dan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuannya dalam bidang farmakologi dan terapi.Penulisan resep harus ditulis dengan jelas sehingga dapat dibaca oleh petugas di apotek. Resep yang ditulis dengan tidak jelas akan menimbulkan terjadinya kesalahan saat peracikan / penyiapan obat dan penggunaan obat yang diresepkan.Ilmu pengetahuan tentang obat selalu berubah, obat – obat baru selalu muncul di pasaran.Secara umum, seorang dokter harus mengikuti perkembangan dalam terapi obat. Bila muncul efek samping akibat obat yang seharusnya diketahui dan dapat dicegah oleh dokter, maka dokter akan berhadapan dengan hukum.Agar penulisan resep tetap up to date, seorang dokter harus mengumpulkan berbagai informasi yang tersedia. Sumber informasi yang dapat digunakan adalah : Buku acuan, Kompendium obat, Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Pedoman terapi, Buletin obat, Jurnal Kedokteran, Pusat informasi obat,Informasi melalui komputer, Sumber informasi dari industri farmasi, dan informasi lisan.Bandingkan kelebihan dan kekurangan berbagai sumber informasi. Tugas seorang dokter adalah melakukan cara terbaik untuk tetap up to date dengan mendaftar sumber informasi yang dapat dimanfaatkan. Carilah sedikitnya satu dari yang berikut ini : (1) jurnal kedokteran: (2) buletin obat; (3) buku acuan farmakologi atau acuan klinis; (4) komisi terapi maupun konsultan, atau lulusan pasca sarjana farmakologi. Dengan bekal pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan penilaian secara kritis setiap bentuk informasi, diharapkan dokter tetap up to date dalam menulis resepKata kunci : Resep – up to- date.Abstract Prescription is a written request from a doctor, dentist or veterinarian to the pharmacist to make a particular drug in dosage form and give it to the patient. Prescription is the final embodiment of competence, knowledge and expertise of physicians in applying his knowledge in the field of pharmacology and therapy. Writing prescriptions should be written clearly, so that it can be read by officials at the pharmacy. Not-clearly-written recipe will cause the error when compounding / preparation of drugs and the usage of prescription drugs.TINJAUAN PUSTAKA102The science of medicine is always changing, new drugs,always appeared in public. Generally, a physician must follow developments in drug therapy. When the side-effect from medication appear that should be known and can be prevented by a physician, the physician will deal with the law. To make prescribing up to date, a doctor should collect a variety of available information information source that can be used are: a reference book, Compendium of drugs, the National Essential Medicines List and guide therapy, medication Bulletin, Journal of Medicine, Center for drug information, information via computer, sources of information from the pharmaceutical industry, and verbal information. Compare to the advantages and disadvantages of various sources of information. Duty of a doctor is doing the best way to keep up to date by signing up resources that can be utilized. Find at least one of the following: (1) medical journal: (2) drug bulletin, (3) reference books or reference to clinical pharmacology, (4) commission and consultant therapy, or a magister pharmacology graduated. With their knowledge and ability to critically assess any form of information, it is expected physician keep up to date in writing prescriptions Key words: Prescribing – up to dat
DISTROFI MUSKULAR DUCHENNE
AbstrakAnak laki-laki umur 10 tahun 9 bulan dirawat di bangsal anak RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan sukar berdiri sejak 2 tahun yang lalu. Riwayat penyakit sekarang adalah pasien sering kram otot betis dan jika mau berdiri, berjongkok terlebih dahulu, kedua tangan bertumpu pada kedua lutut (manuver Gowers) sejak usia 3 tahun. Pasien sering jatuh ketika berjalan sejak usia 5 tahun dan dada mulai tampak membusung ke depan. Sejak usia 8 tahun harus di bantu untuk berdiri dan berjalan dengan posisi kaki berjinjit. Riwayat keluarga dengan kelainan otot tidak ada. Pemeriksaan fisik ditemukan lordosis, pseudohipertropi m.gastrocnemeus, kekuatan otot ekstremitas inferior berkurang dari normal. pemeriksaan kadar creatine kinase meningkat yaitu 1860 U/L (normal : 24- 170 U/L). elektromiogram menyokong untuk miopati dengan gambaran gelombang positif, fibrilasi, amplitudo rendah dan pontensial polifasik. Biopsi otot tidak dilakukan karena keluarga menolak. Pada pasien ini diberikan prednison 0,75 mg/kg BB/hari, suplemen kalsium dan vitamin D.Kata kunci : distrofi muskular duchenne, manuver Gowers, creatine kinaseAbstractA 10 years and 9 months old boy was hospitalized in Pediatric Department of Dr.M. Djamil Hospital Padang with chief complaint need help for standing since 2 years ago. The Symptons were he had recurrent cramps and needing to turn onto his front and rise to standing from the floor using a broad-based stance with the support of his hand on his thigh (Gowers maneuver) since seven years ago. He often fall when he walked and appearance lordotic posture since five years old. Since eight years old he needed for standing and walking with his toes. The patient was born with vaccum extraction, with body birth weight 2900 grams, full term. No family history of muscle disease. Physical examination founded lordosis, pseudohypertrophy of the calves, weakness of muscles of inferior extremities with sensory was normal. Level of creatine kinase was 1860U/L (normal: 24-170 U/L). Electromyography showed myopathic with characterized fibrillations, positive waves, low amplitudepolyphasic potentials. Muscle biopsy could not be done because his parents not agree. The therapy for this patient was prednisone 0,75 mg/kgbb/day, supplement orally calcium and vitamin D.Key words : Duchenne Muscular Dystrophy, Gowers maneuver, muscle diseaseLAPORAN KASU
HUBUNGAN DISTRES DAN KADAR KORTISOL DENGAN KEJADIAN OLIGO-AMENOREA PADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA SESUMATERA BARAT
AbstrakBeberapa penelitian membuktikan bahwa wanita lebih banyak mengalami depresi dari pada pria. Stresor sebagai penyebab distres bisa datang sendiri-sendiri atau bersamaan. Sebagai respon terhadap distres beberapa hormon dan neurotransmitter dikeluarkan untuk mempersiapkan tubuh menahan stresor. Hiperaktivasi HPA-aksis menyebabkan korteks adrenal mengsekresi kortisol secara berlebihan ke dalam darah, juga menyebabkan pelepasan β-endorphin yang berlebihan sehingga terjadi penekanan GnRH dan menghambat LH sehingga terjadi oligomenorea dan amenorea. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik,dengan subjek narapidana wanita di LP wanita se-Sumatera Barat pada bulan Juni 2007 s/d Desember 2007. Kriteria Inklusi : wanita usia 20-40 tahun, tidak sedang menderita penyakit sistemik, haid teratur sebelum masuk penjara, mempuyai BMI normal, bersedia ikut penelitian. Depresi ditegakkan berdasarkan PPDGJ III, sedangkan kortisol diperiksa melalui darah yang diambil melalui vena mediana cubiti pagi dan sore hari melalui pemeriksaan dengan sistem ECLIA. Hasil penelitian menunjukan kadar kortisol pagi hari pada subjek yang mengalami depresi memiliki perbedaan yang bermakna dibanding subjek yang tidak depresi, kadar kortisol sore hari tidak ada perbedaan bermakana antara subjek yang mengalami depresi dibanding tidak depresi. Tidak ada perbedaan kortisol pagi hari pada subjek yang menngalami gangguan haid dengan subjek yang haidnya normal,juga tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan haid yang terjadi dengan depresi yang dialami subjek pada penelitian ini (P=0,209).Kata Kunci : Depresi, Kortisol, Oligo-amenoreaAbstractSome studies showed that women more have depression than men.In order as the respon to stressor body will scret some hormones and some neurotransmitters. Hiperactivation of HPA-axis induce adrenal cortex to secretion more cortisol to blood stream and also more β endhorphin that will be pressure GnRH & inhibit LH and the end by oligomenorrhea and amenorrhea. The design of this study is analytic-descriptive studies with subjects prisoner women in WestARTIKEL PENELITIAN139Sumatera,age 20-40, no physical illnes, has normal menstruation before in the prison and BMI normal range.The result showed that cortisol level in the morning is significantly different between depression and non depression subjects. There are no different cortisol level in the afternoon between depression and non depression subjects, and also no different cortisol level women with disregulation menstruation and women with normal menstruation. There are no relationship between disregulation menstruation and depression.Key word : Depression,Cortisol, Oligomenorrhe
PREVALENCE OF ACINETOBACTER BAUMANNII ISOLATED FROM CLINICAL SPECIMENS IN ADAM MALIK HOSPITAL
AbstrakAcinetobacter baumannii merupakan spesies Acinetobacter spp. tersering diisolasi darimanusia, dan lebih sering dijumpai pada infeksi nosokomial dibandingkan dengan infeksi dikomunitas. Eksistensi bakteri ini di lingkungan terkait dengan keragaman reservoir, kemampuanmemperoleh gen pembawa sifat resisten antimikroba, dan sifat resisten terhadap pengeringan.Infeksi disebabkan strain A.baumannii yang resisten terhadap banyak antibiotik tidak mudahdikendalikan dan menjadi permasalahan di berbagai negara. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui prevalensi A.baumannii dari spesimen klinis di instalasi mikrobiologi klinik RSUPHaji Adam Malik serta pola kepekaannya terhadap berbagai antibiotik. Identifikasi dan ujikepekaan menggunakan mesin otomatis Vitek 2 dengan Advanced Expert System (AES).Penelitian ini menemukan 644/3693 (17,44%) isolat A.baumannii dari berbagai spesimen klinis.A.baumannii paling banyak diisolasi dari spesimen dahak. Penelitian ini menemukan 147/644(23%) bahwa isolat carbapenem-resistent A.baumannii (imipenem dan meropenem). Sebagianbesar isolat sensitif terhadap colistin, amikacin dan tigecycline. Prevalensi A.baumanni yangditemukan pada penelitian ini adalah rendah namun resistensinya tinggi terhadap antibiotikterutama golongan penicillin, cephalosporin dan fluoroquinolon.AbstractAcinetobacter baumannii is the most frequent species of Acinetobacter spp. isolated fromhumans and more common in nosocomial infection than it is in community acquired infection.A.baumannii existence in environment is associated with the diversity of its reservoirs, itscapacity to accumulate genes of antimicrobial resistence, and its resistence to desiccation.Infection of Multidrug resistent (MDR) strain of A.baumannii is not easy to manage and it hasbecome a problem in many countries. The aim of this retrospective study was to investigatethe prevalence of A.baumannii from routine clinical specimens sent to clinical microbiologylaboratory RSUP HAM Medan and its susceptibility pattern to various antibiotics. Identificationand susceptibility testing of A. baumannii was performed by Vitek 2 with Advanced ExpertSystem (AES). A total of 644/3693 (17.44%) A.baumannii isolates were identified from variousclinical specimens. From those isolates, there were 147 (23%) isolates of carbapenemresistentA.baumannii (imipenem and meropenem). A.baumannii mainly isolated from sputumspecimens, and most isolates were highly sensitive to colistin, amikacin and tigecycline.Low prevalence of A.baumannii was found in this study. However, the isolates showed highresistence level to antibiotics, particularly penicillin, cephalosporin and fluoroquinolones
DILEMA DALAM MANAJEMEN RETINOBLASTOMA
Abstrak:Retinoblastoma merupakan keganasan intraokular tersering pada anak-anak. Deteksi dini memegang peranan penting dalam manajemen retinoblastoma karena sangat mempengaruhi prognosa. Namun, hal ini sulit dilakukan di negara berkembang dengan tingkat sosioekonomi penduduk yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil retinoblastoma di RS Dr. M. Djamil Padang tahun 2003-2012, dan menunjukkan hubungan antara faktor sosioekonomi dengan manajemen retinoblastoma. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Terdapat 99 pasien retinoblastoma dalam periode tersebut, 56 orang (56,56%) laki-laki dan 43 orang (43,44%) perempuan.Rentang umur terbanyak yaitu 3-4 tahun (40,40%). Retinoblastoma unilateral terdapat pada 76 pasien (76,76 %). Protusio merupakan keluhan tersering sebanyak 65,66% (65 orang). Kombinasi eksenterasi dan kemoterapi merupakan tindakan yang umum dilakukan (32,32%). Alasan terbanyak datang terlambat untuk berobat disebabkan oleh karena tidak punya biaya (42,42%) dan tidak mengerti mengenai bahaya penyakitnya (35,35%). Kedua faktor tersebut menjadi dilemma, oleh karena di satu sisi kita berusaha mendeteksi dini penyakit retinoblastoma ini, sementara dari segi finansial dan faktor sosioekonomi keluarga penderita tidak mendukung.Abstract:Retinoblastoma is the most common intraocular malignancy in children. Early detection plays an important role in management of retinoblastoma because it significantly affects the prognosis. Unfortunately, early detection is difficult in developing country due tolow socioeconomic level. This study aims to describe the profile of retinoblastoma in Dr. M. Djamil Hospital Padang from 2003 to2012, and to show the relationship between socioeconomic factors and management of retinoblastoma. Data was obtained from patients’ medical records.There were 99 retinoblastoma patients in this period, 56 (56.56%) male and 43 (43.44%) female. The majority of patients aged 3-4 years (40.40%). Unilateral retinoblastoma presented in 76 patients (76.76%). Protusio is the most common ocular presentation(65.66 %). Combination of exenteration and chemotherapy was the most commonmanagement (32.32%). The most common reason causing delay to seek treatment wasfinancial problems (42.42%) followed by lack of informationabout the complication of disease (35.35%). These two factors were dilemma,because on one hand we were trying to find cases earlier, but patients’ financial and socioeconomic factors were not supporting
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PROFESIONAL DOKTER DI AWAL PEMERIKSAAN DAN KEPUASAN PELAYANAN DOKTER
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PROFESIONAL DOKTER DIÂ AWAL PEMERIKSAAN DAN KEPUASAN PELAYANANÂ DOKTE
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAru LIMFOMA ORtsITA
Limfoma orbita merujuk pada limfoma yang terjadi di konjungtiva, kelenjar lakrimal, palpebradan otot-otot ekstraokular. Limfoma primer non-Hodgkin (NHL) dari orbita dapat ditemukanpada hanya 1o/o dari semua limforna non-Hodgkin. Anaiisis mutasi somatik pada regiovariabel (V) dari immunoglobulin (ig) dan segmen gen rantai berat (H) telah menunjukkanperan dari stimulasi antigen kronik pada patogenesis limfoma /nucosa-associated lymphoidflssue (MALT). Patogen mikroba seperti Helicobacter pylaridan Chlamydia pneumonia dapaimendasari proses inflamasi dan pada akhirnya memicu akuisisi MALT juga memainkanperan penting dalam tranformasi maligna dan ekspansi klonal lanjutan limfoma. Penentuanstadium kanker sangat penting karena akan menentukan terapi apa yang akan diberikan dankemungkinan remisi dan prognosisnya. Berdasarkan sistem stadium Ann-Arbor, limfoma yangterbatas di orbita disebut sebagai stadium l, keterlibatan struktur sekitar (sinus paranasal,tonsil, dan hidung) menjadikannya stadium ll. Stadium lll adalah penyakit nodal abdominaldibawah diafragma dan stadium lV merujuk pada keterlibatan yang tersebar dari satu ataulebih lokasi ekstranodal (hepar, sum-sum tulang atau sistem saraf pusat). Mayoritas pasiendatang dengan keluhan massa konjungtiva berwarna pink (91%), diikuti hiperemis konjungtiva(32%), propiosis (27%), massa palpebra atau orbita (19"fi, penurunan visus dan ptosis (6%),dan diplopia(2%). Bilateralitas terjadi pada 10% hingga 15% kasus dimana 80 % terjadisecarasimultan sedangkan 20% merupakan kondisi yang berurutan. Penilaian lanjut untuk stagingyang akurat dan perencanaan terapitermasuk anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik,pemeriksaan laboratorium rutin, elektroforesis protein sei-um, LDH serum, Fr-mikroglobulin,rontgen thoraks, CT scan thoraks, abdornen, dan pelvis, dan biopsisum-sum tulang. Diagnosapositif harus berdasarkan pada perneriksaan histologik dari sampeltumor yang memadai yangdiperoleh dengan biopsiorbita. Beberapa kriteria mayor harus dipertimbangkan pada penilaianawal penyakit untuk menentukan ierapi optimal secara jelas, yaitu : (1) subtipe histopatolcgiklimfoma, menurut klasifikasiWHO; (2) perluasan penyakit, clidalam dan di luar regio periokuiar;(3) faktor prognostik yang berhubungan dengan penyakit dan pasien; dan (4) dampak limfomaorbita pada mata dan fungsi visual. Berbagai modalitas terapi konvensiona! dapat diterapkanuntuk iimfoma orbita, termasuk agen tunggal atau kombinasi regimen kemoterapi, radioterapi,dan antibodi anti-CD20 monoklonal atau imunoterapi interferon