Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
PENCEGAHAN PENYAKIT DEGENERATIF DAN PENGATURAN MAKANAN DALAM KAJIAN KEDOKTERAN DAN AL-QURAN
AbstrakProses kemunduran fungsi tubuh atau degeratif merupakan proses alamiah tubuh manusia yang harus diperhatikan setiap orang [QS Al-Hajj (22):5, Yaasin (36):68]. Dalam proses tersebut seseorang akan dapat terkena berbagai penyakit kronik seperti penyakit kardiovaskuler, obesitas dan diabetes melitus. Meskipun demikian, dengan gaya hidup yang baik dan pengaturan makanan, resiko penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah. Salah satu resiko dalam terjadinya penyakit kardiovaskuler adalah hipekoleterolemia dan dislipidemia. Dua kondisi ini dapat disebabkan asupan makanan yang mengandung lemak dan kolesterol yang berlebihan. Serta, ketidakseimbangan asupan karbohidrat, lemak, dan serat juga menjadi resiko terjadinya obesitas dan diabetes melitus. Semua kajian ilmu kedokteran ini merupakan bukti bahwa peranan pengaturan makanan sangat penting, sebagaimana yang diterangkan dlama Al-Quran [Al-Baqarah (2):168-172, Al-Isra` (17):26-27 and Al-A’raf (7):31].Kata Kunci: Penyakit degeratif, pengaturan makanan, dan Al-Quran.AbstractDegenerative is a natural process in human life that every body should aware [QS Al-Hajj (22):5, Yaasin (36):68]. During the process, someone can get chronic degenerative diseases such as cardiovascular, obesity and diabetes mellitus. However, by having good life style and diet regulation, the risk of the diseases can be prevented. In medical perspective, one of the risks of the cardiovascular diseases is hypercholesterolemia and dislipidemia. These two conditions can be caused by excessive intake of lipid and cholesterol. Meanwhile, imbalance intake of carbohydrate, lipid and food fibre also becomes risk of obesity and diabetes mellitus. All of these medical analysis become evidences of the rule of diet regulation which has been written in the Quran [Al-Baqarah (2):168-172, Al-Isra` (17):26-27 and Al-A’raf (7):31].Key Words: Degenerative Diseases, diet regulation, and The Qur`an
PENGARUH KEPEMIMPINAN SENIOR, TATA KELOLA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL TERHADAP KINERJA KEPALA RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT KARYA BHAKTI KOTA BOGOR TAHUN 2008
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kepemimpinan Senior, Tata Kelola dan Tanggung Jawab Sosial Terhadap Kinerja Kepala Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Karya Bhakti (RSKB) Bogor Tahun 2008. Kerangka teori dari penelitian ini diambil dari Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE) bagi institusi kesehatan dalam Hertz (2008). Kriteria MBCfPE yang diambil adalah kepemimpinan (leadership) yang dijabarkan menjadi variabel Kepemimpinan Senior, Tata Kelola Dan Tanggung Jawab Sosial. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif. Data yang dikumpulkan adalah data primer dengan menggunakan kuesioner dan diolah dengan menggunakan metode analisis jalur (Path Analysis). Responden penelitian ini adalah semua perawat ruang rawat inap Dahlia Anyelir RSKB tahun 2008. Hasil penelitian ditemukan bahwa Kepemimpinan Senior, Tata Kelola dan Tanggung Jawab Sosial mempengaruhi Kinerja Kepala Ruang sebesar 57.59% sedangkan sisanya 42.41% dipengaruhi oleh variabel yang tidak diteliti. Variabel yang paling besar mempengaruhi kinerja kepala ruang adalah kepemimpinan senior (30.44%) disusul oleh variabel tata kelola (22.96%) dan Tanggung Jawab Sosial (4.18%). Tanggung Jawab Sosial mempunyai koefisen jalur yang tidak bermakna dan sangat kecil, namun tetap dipertahankan dalam model akhir karena secara substantif, penting dalam menentukan kinerja kepala ruang. Berdasarkan penelitian ini disarankan untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan kepemimpinan senior, tata kelola dan tanggung jawab sosial guna meningkatkan kinerja kepala ruang dengan cara (1) melakukan pembinaan dalam hal kepemimpinan mencakup kemampuan (ability), keterampilan (skill) dan perilaku (behaviour). (2) Menciptakan kebijakan guna terciptanya kondisi peningkatan kemampuan kepemimpinan senior, tata kelola dan tanggung jawab sosial, termasuk memberikan kesempatan untuk menambah pengetahuan (3) Dalam pemilihan kepala ruang disarankan untuk memperhatikan kapasitas kepemimpinanARTIKEL PENELITIAN148(kemampuan, keterampilan dan tingkah laku), tata kelola dan tanggung jawab sosial dari calon kepala ruang.Kata Kunci : Kepemimpinan Senior, Tata Kelola, Tanggung Jawab Sosial, Kinerja, PerawatAbstractThis study has an objective to know the influence of senior leadership, governance, social responsibility to performance of roomcare head nurses in Karya Bhakti hospital Kota Bogor (RSKB) 2008. Theoretically, this concept is taken from Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE), in Health Care (Hertz, 2008). The choosen criteria MBCfPE is Leadership. Leadership criteria consist of senior leadership, governance and social responsibility variables. The study design is a survey design with quantitative approaches. The method being used in this study is path-analysis-method. The data are primer taken by the questionaires. Respondance are taken among nurses at Dahlia Anyelir roomcare RSKB Bogor 2008. The result shows that senior leadership, governance and social responsibility influenced performance of roomcare head nurses is 57.59% while the rest 42.41% is influenced by other factors which is not included in this study. The biggest variable which influenced work performance roomcare head nurses is senior leadership (30.44%), followed by governance (22.96%) and social responsibility (4.18%). Social responsibility variable is not significant to work performance roomcare head nurses, but it being defended because of substantive importance to influence work performance of roomcare headnurse. According to the result of this study, it is recommended to give more attention to improve senior leadership, governance and social responsibility to improve work performance of roomcare head nurses, such as: (1) To maintance ability, skill and behaviour of roomcare headnurses (2) To create regulation to support improvement senior leadership capacity, governance and social responsibility with opportunity to improve knowledge (3) To give suggestion for election roomcare head nurses must have leadership capacity (ability, skill and behaviour), governance and social responsibility from the candidate.Key word : senior leadership, governance, social responsibility, work performance, nurs
IDENTIFIKASI BLASTOCYSTIS HOMINIS SECARA MIKROSKOPIS DAN PCR PADA SAMPEL FESES DI LABORATORIUM RSUP. Dr. M. DJAMIL PADANG
AbstrakPenelitian ini untuk mengetahui keberadaan Blastocystis pada feses secara mikroskopisdan dengan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR). Sampel penelitian didapat dariRumah Sakit. Dr. M. Djamil Padang selama satu bulan pengumpulan. Semua sampel yangterkumpul diperiksa untuk mendeteksi Blastocystis dengan pemeriksaan mikroskopis langsungdan PCR. Sampel tinja yang terkumpul 61 dan didapatkan 13 (21,3%) positif mengandungBlastocystis dengan pemeriksaan mikroskopis langsung dan sebanyak 20 (32,8%) positifdengan pemeriksaan PCR. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan PCR dapat mendeteksiBlastocystis lebih sensitif dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis langsung.AbstractThis study determined the presence of Blastocystis in faeces microscopically and by usingPolymerase Chain Reaction (PCR). Samples were collected from hospital Dr. M. DjamilPadang for a month. All samples were examined for detecting Blastocystis by direct microscopicexamination and PCR. The total number of fecal samples collected was 61. It is foundthat 13 (21.3%) of the samples were tested positive for Blastocystis by direct microscopicexamination and 20 (32.8%) were positive by PCR. This study demonstrated that PCR candetect Blastocystis more sensitive than the direct microscopic examination
HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN KEPATUHAN KEMOTERAPI PADA PENDERITA KEGANASAN YANG MENGALAMI ANSIETAS DAN DEPRESI
AbstrakPenderita keganasan mendapat kemoterapi banyak menunjukkan gejala psikologisseperti ansietas dan depresi yang sangat berpengaruh terhadap kepatuhan penderita dalammenjalani kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan mekanisme kopingdengan kepatuhan melakukan kemoterapi pada penderita keganasan yang mengalamiansietas dan depresi. Penelitian dilakukan selama 3 bulan pada penderita keganasan yangmenjalani kemoterapi di RSUP M.Djamil dengan metode cross sectional. Jumlah pasienadalah 59 pasien, 38 diantaranya mengalami ansietas dan/atau depresi. Mekanisme kopingdinilai dengan Brief Cope. Kepatuhan dinilai dengan wawancara dan kuesioner. Ansietasdan depresi dinilai dengan HAD Scale. Data di analisa dengan SPSS menggunakan uji Chi-Square dan korelasi koefisien kontingensi dengan tingkat kebermaknaan p<0,05. Kesimpulandari penelitian ini adalah prevalensi depresi lebih tinggi dari pada ansietas pada penderitakeganasan yang menjalani kemoterapi, dan ada hubungan kuat yang bermakna secarastatistik antara mekanisme koping dengan kepatuhan melakukan kemoterapi pada penderitakeganasan yang mengalami ansietas dan depresi.AbstractPatients with malignancies who received chemotherapy show psychological symptomssuch as anxiety and depression that correlated with their adherence to chemotherapy. Thisstudy aims to see the relationship between coping mechanisms with chemotherapy adherencein patients with malignancies who experience anxiety and depression. The study was conductedfor 3 months in patients with malignancies undergoing chemotherapy at Dr M.Djamil usingcross sectional design. The number of patients was 59, 38 of them experienced anxiety and/ordepression. Coping mechanism was assessed using the Brief Cope. Compliance was assessedby interview and questionnaire. Anxiety and depression were assessed by the HAD Scale. Datawas analyzed with SPSS using Chi-Square and coefficient contingency correlation, significancelevel of p <0.05. The final conclusion of this study is that the prevalence of depression washigher than the prevalence of anxiety in patients with malignancies who undergo chemotherapy,and there was a strong relationship between coping mechanism and chemotherapy adherencein patients with malignancies who experienced anxiety and depression
PENGEMBANGAN ANTIVIRUS HUMAN PAPILLOMA VIRUS BERBASIS MOLEKUL KECIL
AbstrakSekalipun telah ada program skrining deteksi dini infeksi HPV maupun kanker servis sertaadanya dua vaksin yang telah berlisensi, sekarang ini belum ada obat antivirus yang efektif.Prospek pengembangan molekul kecil inhibitor sebagai antivirus HPV sangat menjanjikan.Modulasi interaksi diantara protein-protein virus atau protein virus dengan protein hospesmenjadi strategi dalam upaya pengembangan molekul inhibitor sebagai antiviral HPV. Halini didukung oleh kemajuan pengetahuan mengenai fungsi protein HPV yang terlibat dalamsiklus hidupnya diantaranya yaitu protein E1, E2, E6 dan E7. Beberapa kandidat antivirustelah ditemukan dan masih dalam penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan senyawa turunandengan aktivitas yang lebih tinggi diantaranya asam bifenil sulfonasetat (inhibitor ATPase E1).Indandione dan repaglinide (inhibitor interaksi E1-E2) dan senyawa-senyawa lainnya.AbstractEventhough there has been screening programs for HPV infection and cervical canceras well as the two vaccines that have been licensed, currently there is no effective cure forHPV. The prospects of the development of small molecule inhibitors as HPV antiviral is verypromising. Development strategy was based on the modulation of interactions between viralproteins or viral proteins with host proteins. This is supported by the advances in knowledgeabout HPV’s protein functions involved in their life cycle such as E1, E2, E6 and E7 proteins.Some antiviral molecule candidates have been found and need further studies to obtainderivatives with higher activity including acid biphenyl sulfonasetat (inhibitor ATPase E1),Indandione & repaglinide (inhibitor interaction E1-E2), etc
ADENOKARSINOMA PROSTAT: PENILAIAN PROGNOSTIK DAN DERAJAT HISTOPATOLOGI
AbstrakKanker prostat merupakan kanker kedua terbanyak pada pria di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor prognostik adenokarsinoma prostat seperti derajat histopatologi berdasarkan the 2005 ISUP modified Gleason system, invasi perineural dan kadar PSA serum sebelum operasi. Ini adalah suatu penelitian deskriptif kasus adenokarsinoma prostat yang didiagnosis di laboratorium patologi anatomi periode 2010-2012. Data usia dan kadar PSA diperoleh dari rekam medik. Review sediaan histopatologi dilakukan untuk konfirmasi skor Gleason, lalu dikelompokan berdasarkan derajat histopatologi. Kasus adenokarsinoma prostat yang memenuhi kriteria inklusi adalah 163. Hasil penelitian menunjukkan kasus adenokarsinoma prostat terbanyak pada kelompok usia 61-70 tahun sebanyak 38,65%, derajat histopatologi poorly differentiated yaitu 46,63%, invasi perineural 22,7% dan 83,33% kadar PSA serum >20 ng/ml. Pada kelompok usia 51-60 tahun adenokarsinoma prostat terbanyak ditemukan dengan derajat histopatologi well differentiated; sedangkan kelompok usia 61-70 tahun, 71-80 tahun dan 81-90 tahun terbanyak poorly differentiated. Invasi perineural positif terbanyak pada derajat histopatologi poorly differentiated. Semua derajat histopatologi adenokarsinoma prostat menunjukkan kadar PSA serum terbanyak >20 ng/ml. Penelitian ini menunjukkan kecenderungan peningkatan usia, invasi perineural dan kasus dengan kadar PSA serum >20 ng/ml bersamaan dengan peningkatan derajat histopatologi adenokarsinoma prostat.AbstractProstate cancer is the second most common cancer in men around the world. The objective of this study was to determine prognostic factors of prostate adenocarcinoma such as histopathological grading based on the 2005 ISUP modified Gleason system, perineural invasion, and PSA serum. This was a descriptive study of prostate adenocarcinoma diagnosed in Pathology Department from 2010 to 2012. The age and PSA serum level were taken from the medical records. The histological slides were reviewed to confirm Gleason score, and then classified into the histopathological grading. The number of prostate adenocarcinoma cases included in this study was 163. The result shows that the majority of cases were found at 61–70 years old (38.65%), histopathological grading was mostly poorly differentiated (46.63%), positive perineural invasion 22.7% and 83.33% PSA serum above 20 ng/ml. Prostate adenocarcinomas found at age 51-60 years old were mostly well differentiated. On the other hand, cases found at age above 60 years old were mostly poorly differentiated. Perineural invasion was mostly found on poorly differentiated cases. All of histopathological grading showed PSA serum above 20 ng/ml. This study suggested that higher age, perineural invasion and PSA serum level above 20 ng/ml were congruent with the histopathological grading
ADENOMA HIPOFISIS
AbstrakAdenoma hipofisis diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yaitu klinis dan endokrin, patologi, serta radiologi. Klasifikasi endokrin membedakan tumor sebagai fungsional dan nonfungsional, berdasarkan aktivitas sekretorinya in-vivo. Klasifikasi patologi berusaha untuk membatasi kelompok tumor heterogenus secara klinis dan patologis dengan kategori yaitu asidofilik, basofilik, dan kromofobik. Klasifikasi radiologi mengelompokkan tumor hipofisis berdasarkan ukuran dan karakteristik pertumbuhan, yang dapat ditemukan dari studi imaging. WHO membuat klasifikasi yang mencoba untuk mengintegrasikan semua klasifikasi yang ada dan menyediakan sinopsis praktis untuk aspek klinis dan patologis dari adenoma. Diagnosa adenoma hipofisis dibuat berdasarkan: gejala klinis dari gangguan hormon, adanya riwayat penyakit dahulu yang jelas, pemeriksaan fisik yang menunjang, pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan disfungsi dari hormon yang terganggu, adanya pemeriksaan penunjang yang akurat seperti CTScan, MRI-Scan. Jenis, besar dan fungsi dari tumor sangat menentukan dalam mempertimbangkan penatalaksanaan dari adenoma hipofisis. Pengobatan diindikasikan pada semua pasien dengan gejala, terutama dengan hipogonadisme. Pilihan terapi termasuk kontrol dengan obat-obatan, reseksi bedah, dan terapi radiasi.AbstractPituitary adenomas are classified according to several criteria; clinical endocrine, pathology, and radiology. Endocrine classification distinguishes tumors as functional and nonfunctional, based on in-vivo secretory activity. Pathology classification seeks to restrict clinically heterogeneous group of tumors and pathological categories namely acidophilic, basophilic, and kromofobik. Radiological classification classifies pituitary tumors by size and growth characteristics, which can be found on imaging studies. WHO made a classification that attempts to integrate all existing classifications and provide practical synopsis for the clinical and pathological aspects of adenoma. Diagnosis of pituitary adenoma is made based on: clinical symptoms of hormonal disorders, clear past medical history, clear physical examination, laboratory tests show hormonal dysfunction or disturbance, and accurate investigations such as CT scan and MRI scan. Types, large and function of the tumor is crucial in considering the management of pituitary adenomas. Treatment is indicated in all patients with symptoms, especially with hypogonadism. Therapeutic options include control with drugs, surgical resection and radiation therapy
RESIKO PENULARAN INFEKSI DI RUANG AUTOPSI DAN PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL
AbstrakPeningkatan resiko penularan infeksi di ruang autopsi semakin meningkat. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah kasus korban meninggal yang terinfeksi penyakit terutama di negara berkembang. Beberapa studi menyatakan terjadinya peningkatan prevalensi HIV, hepatitis B, C, D dan G, tuberkulosis, penyakit Prion, Hantavirus, campak, infeksi bakteri atau HTCV pada pekerja di ruang autopsi. Penerapan kewaspadaan universal, termasuk standar OSHA, pemilihan disinfektan dan pengolahan limbah medis sangat penting diperhatikan untuk mencegah resiko terjadinya penularan infeksi. Tujuan penulisan tinjauan pustaka ini adalah mengetahui risiko penularan infeksi pada pekerja di ruang autopsi dan penerapan kewaspadaan universal. Penulisan ini berdasarkan studi kepustakaan yang terkait dengan dua topik ini. Penerapan kewaspadaan universal sangat diperlukan dalam pencegahan penularan penyakit infeksi pada pekerja di ruang autopsi yaitu meliputi penggunaan alat pelindung diri yang tepat, perilaku, tindakan mencegah infeksi, disinfeksi dan penanganan sampah medis yang sesuai aturan.AbstractThe risk of infection transmissions in autopsy room is increasing. This happens because the increase of the number of cases died affected by infectious disease, especially in developing countries. Several studies found an increase on the prevalence of HIV , Hepatitis B , C , D and G, Tuberculosis , Prion Disease , Hantavirus , Measles , Bacterial Infection or HTCV on workers in autopsy room .The application of universal precaution , including OSHA standards , the selection of disinfectant, medical waste management is very important to prevent the risk of the infection transmission. The aim of this review was to explain the risks of infection transmissions on workers in autopsy room and the application of universal precaution. Literatures on these two topics were evaluated. Application of universal precautions are very necessary in the prevention of transmission of infectious disease in workers in the autopsy room which includes the use of appropriate personal protective equipment, behaviors, actions to prevent infection, disinfection and treatment of medical waste according to the rules
KELAMBU CELUP PERMETRIN
AbstrakPenyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasinya, seperti penanggulangan vektor, pengobatan penderita dan perbaikan lingkungan. Di samping itu penting bagi masyarakat untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk. Salah satu caranya adalah dengan penggunaan kelambu yang dikombinasi dengan insektisida seperti permetrin, yang dikenal dengan istilah kelambu celup permetrin. Permetrin merupakan insektisida golongan piretroid sintetik, bersifat fotostabil dan neuropoison terhadap serangga, tidak toksik bagi organisme lain hanya menimbulkan iritasi ringan pada kulit. Ia larut di dalam air, bersifat racun perut atau racun kontak dengan daya residu lebih kurang 6 bulan. Bentuk kelambu bisa empat persegi panjang dengan ukuran yang bervariasi. Bahan yang digunakan bisa bermacam-macam, dengan bahan poliester dan nilon memiliki daya bunuh terhadap nyamuk anophelini lebih tinggi dibandingkan dengan katun. Penggunaan kelambu celup ini cukup efektif di daerah malaria bertransmisi rendah dan sedang, sedangkan di daerah bertransmisi tinggi penggunaannya harus dikombinasi dengan pengobatan.Kata kunci : kelambu celup - permetrin - piretroid sintetikAbstractMalaria is still a public health problem in Indonesia. Many efforts have been done to overcome it, such as vector control, patient treatment and environment im-provement. It is important for people to protect themselves from mosquito bite. One of these efforts is the use of bed net impregnated with insecticide such as permethrin, which is known as perme-thrin-impregnated bed net. Permethrin is a synthetic pyre-throid insecticide, photostable and neuropoisonous to insect, but only induce slight irri-tation at the skin of other organism. It is water soluble, has stomach poison or contact poison effect with residual power around six months. Bed net might take a form of four square with variable size. The material may vary, but polyester and nylon have better killing power against anopheline mosquitoes than cotton. The use of this impregnated net in low and middle malaria transmission area is so effective, while in high transmis-sion area it must be combined with the proper treatment.Keywords: mosquito net impregnated - permethrin - synthetic pyrethroidTINJAUAN PUSTAK