Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    Preface and ToC - Vol 38, No 2 (2015)

    No full text

    KORELASI ANTARA NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX DENGAN DERAJAT KAKI DIABETES KLASIFIKASI WAGNER DI RSUP DR M.DJAMIL PADANG

    Get PDF
    AbstrakDiabetes Mellitus merupakan penyakit yang merupakan epidemi global dan menyumbang angka kematian tertinggi di dunia. Salah satu komplikasi diabetes adalah penyakit arteri perifer (PAP), suatu kondisi yang ditandai oleh penyumbatan dalam arteri ekstremitas inferior. Tingkat keparahan PAP dapat diperiksa dengan modalitas pemeriksaan non-invasif seperti pemeriksaan ABI (ante brachial index). Derajat keparahan kaki diabetes dapat di kategorikan berdasarkan klasifikasi Wagner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara nilai ABI dengan derajat keparahan kaki diabetik klasifikasi Wagner pasien di RS M Djamil Padang. Dengan metode survei analitik desain cross sectional, pada pasien dengan kaki diabetik dilakukan pemeriksaan ABI dan pemeriksaan derajat kaki diabetik klasifikasi Wagner. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan uji non-parametrik dengan tingkat kepercayaan 95%. Signifikansi dari hasil tes ditentukan oleh nilai p <0,05. Dari total 48 sampel diperoleh bahwa nilai ABI adalah obstruksi ringan pada 23 orang (47,92%), dan sebagian besar pasien kaki diabetes klasifikasi Wagner adalah derajat 1 sebanyak 17 (35,42%). Uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara nilai ABI dengan derajat kaki diabetik klasifikasi Wagner (p = 0,000). Dapat disimpulkan, terdapat hubungan yang signifikan antara nilai ABI dengan derajat kaki diabetik klasifikasi Wagner di RSUP Dr M. Djamil Padang.ABSTRACTDiabetes Mellitus is a global epidemic disease and accounts for the highest mortality rate in the world. One of its complications is Peripheral Arterial Disease (PAP) which characterized by blockages in the arteries of inferior extremity. The severity of PAP can be detected and determined by a non-invasive method namely ABI (ante brachial index). The degree of severity of diabetic foot can be classified into several categories based on Wagner classifications. This study aimed to determine the correlation between the values of ABI with the degree of Wagner classification-diabetic foot of patients in M Djamil Padang hospital. Analytical survey with cross sectional design has been done. The variables needed were measured and analysed with a non-parametric test with a 95% confidence level to determine the relationships between variables. Of 48 samples, 23 people (47.92%) were having mild obstruction of ABI values, and about one-third of the samples (35,42%) were having first degree of diabetic foot based on Wagner classification. Statistical analysis showed a significant correlation between ABI values and the degree of diabetic foot based on Wagner classification (p=0.000). To be concluded, there was a significant correlation between ABI values and the degree of Wagner classification-diabetic foot in M.Djamil Padang hospital

    EFEK IMUNOMODULASI SENYAWA FLAVANOID KENCUR (Kaempferia galanga Linn) TERHADAP KEMAMPUAN MIKROBISIDAL SEL NETROFIL SECARA IN VITRO

    Get PDF
    AbstrakTujuan penelitian adalah untuk melihat kemampuan fagositosis netrofil terhadap mikroba (Staphylococcus aureus) dengan menggunakan metode microbisidal assay. Objek penelitian adalah sel netrofil yang berasal dari 10 orang dewasa sehat yang dipisahkan dari sel darah lainnya dengan menggunakan ficol. Netrofil di bagi atas dua kelompok yaitu kontrol dan perlakukan. Kelompok kontrol diberi bahan pelarut yang dipakai untuk senyawa flavanoid. Kelompok perlakuan diberi senyawa flavanoid, dibagi lagi menjadi sub kelompok berdasarkan konsentrasi 1,10 dan 100 μg/ml. Kemampuan mikrobisidal dan fagositosis netrofil setelah diberi flavanoid kencur dihitung dari hasil inkubasi netrofil. Kemampuan penghancuran netrofil terhadap mikroba meningkat setelah mendapat perlakuan dengan konsentrasi secara berturut-turut 1 - 100 μg/ml dengan jumlah total mikroba yang terbunuh 3,98 x 104; 3,61 x 104 dan 3,53 x 104 dibandingkan dengan kontrol yaitu 3,14 x 104. Kemampuan fagositosis netrofil meningkat setelah mendapat perlakuan pada konsentrasi sampai 1, 10 dan 100 μg/ml berturut-turut yaitu 9,81 x 104; 9,61 x 104 dan 8,91 x 104 dibandingkan dengan kontrol yaitu 8.89 x 104. Secara statistik peningkatan mikrobisidal (konsentrasi 1 - 100 μg/ml) dan fagositosis netrofil (konsentrasi 1 dan 10 μg/ml) terhadap mikroba bermakna pada p= 0,05. Penelitian ini belum mendapatkan konsentrasi maksimal peningkatan efek mikrobisidal dan fagositosis netrofil secara in vitro setelah diberi senyawa flavanoid kencur.Kata kunci : mikrobisidal - stimulator - supresor - netrofilAbstractThe study aims to investigate the phagocytic ability of neutrophil as a microbicide against Staphylococcus aureus by using a microbicidal assay method. Object of the study is neutrophil derived from 10 healthy adults, separated from the whole blood using ficol. Neutrophil was separated into control and treatment groups. Control group was treated with material used to dissolve flavanoid, and treatment group dissolved in flavanoid kencur at concentrations 1, 10, and 100 μg/ml. Microbicidal and phagocytotic activities of neutrophil after treatment were calculated from neutrophil incubation. Neutrophil ability after treatment with concentrations 1, 10, 100 μg/ml toARTIKEL PENELITIAN30destroy microbes increased consecutively with the total number of killed microbes at 3.98 x 104; 3.61 x 104 and 3.53 x 104. Control group ability was calculated at 3.14 x 104. Phagocytic activity of neutrophil increase consecutively at 9.81 x 104; 9.61 x 104 and 8.91 x 104, while the result of control was 8.89 x 104. Statistically, there are significant increases (P < 0,05) of microbicidal and phagocytotic activities of neutrophil by increasing flavanoid concentrationsce. The study has not established a maximum concentration of flavanoid kencur in increasing the microbicidal and phagocytic of neutrophil in vitro after treatment.Keywords: microbiosidal - stimulator - suppressor - neutrophi

    HUBUNGAN PENYAKIT GONDOK DENGAN PRESTASI BELAJAR DAN TINGGI BADAN ANAK MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) KORONG GADANG KECAMATAN KURANJI KOTA PADANG

    Get PDF
    AbstrakYodium adalah komponen esensial dalam asupan makanan manusia, yang merupakan bagian dari hormon tiroid yaitu tiroksin (T4) and triyodotironin (T3). Hormon tersebut dibutuhkan untuk menjaga metabolisme basal, metabolisme sel, dan kesatuan jaringan tubuh. Hormon tiroid diperlukan dalam pekembangan sistem saraf janin dan bayi. Kekurangan asupan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok, yaitu pembesaran kelenjar tiroid. Gondok endemik merupakan hasil dari peningkatan kerja kelenjar tiroid oleh Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dalam memaksimalkan penggunaan yodium yang tersedia, hal ini merupakan penyesuaian terhadap keku-rangan yodium. Gangguan paling parah yang dapat disebabkan oleh kekurangan yodium adalah retardasi mental yang menetap dan hambatan pertumbuhan. Selama kurun wktu 5 tahun, prevalensi penyakit gondok di Kota Padang meningkat dari 8,5% menjadi 21,5%.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi penyakit gondok dan hubungannya dengan prestasi belajar dan tinggi badan anak Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kecamatan Kuranji Kota Padang.Telah dilakukan penelitian pada 169 murid kelas II, III, IV, V, dan VI di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kecamatan Kuranji Kota Padang. Data tentang prestasi belajar didapatkan dari hasil ujian semester. Tinggi badan ditentukan berdasarkan tinggi badan per umur.Selama penelitian ini didapatkan 84 anak (49,7%) menderita penyakit gondok. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara penyakit gondok dan prestasi belajar (p>0,05). Penelitian ini juga menemukan tidak terdapat hubungan antara penyakit gondok dan pertumbuhan fisik (p>0,05).Kata kunci : Penyakit Gondok, Prestasi Belajar, Tinggi Badan AnakAbstractIodine is an essential component of human diet, which part of thyroid hormones, thyroxine (T4) and triiodothyronine (T3). These hormones are involved in the maintenance of metabolic rate, cellular metabolism and integrity of connective tissue. Thyroid hormones are necessary for the development of nervous system in the fetus and infant. Lack of dietary iodine is cause of goitre, an enlargement of the thyroidARTIKEL PENELITIAN161gland. Endemic goiter results from increased thyroid stimulation by thyroid stimulating hormone (TSH) to maximize the utilization of available iodine and thus respresents maladaption to iodine deficiency. However, the most damaging disorders induced by iodine deficiency are irreversible mental retardation and growth restriction. Within 5 years, prevalence of goitre in Padang City increased from 8.5% to 21.5%.The aim of this study was to investigate the prevalence of goiter and its relation with academic performance and stature of Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) students in Korong Gadang Kuranji District, Padang City.A cross sectional study has been done in 169 students of the second, third, fourth, fifth, and sixth degree of Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kuranji District, Padang City. Data of academic performance was taken from the result of study in a semester. Stature was determined based on height for age.During the research, there were 84 children (49.7%) who suffered from goitre. The correlation between goitre and academic performance are unsignificant (p>0.05). This study was also found that there was no correlation between goitre and physical growth (p>0.05).Keywords: Goitre, Academic Performance, Child Statur

    IDENTIFIKASI DAN PENENTUAN KADAR BORAKS PADA MIE BASAH YANG BEREDAR DIBEBERAPA PASAR DI KOTA PADANG

    Get PDF
    AbstrakDewasa ini penggunaan bahan tambah makanan yang terlarang masih sering ditemukan, bahkan semakin meningkat terutama pada pengusaha pangan yang umumnya dihasilkan oleh industri kecil atau rumah tangga. Hal ini harus diwaspadai bersama baik oleh produsen maupun konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menetapkan kadar boraks pada mie basah yang beredar di beberapa pasar di kota Padang yang dilakukan dilaboratorium Kesehatan Padang dari bulan Maret sampai bulan September 2006. Desain penelitian adalah deskriptif, sampel diambil dari produsen mie yang berbeda secara total sampling, ditemukan sebanyak 10 produsen yang dianalisis dengan metode titrsasi alkalimetri. Hasil penelitian menunjukkan 50% dari mie basah yang dianalisis dijumpai mengandung boraks, dengan kadar masing-masing 384,805 ppm, 394,79 ppm, 478,55 ppm, 484,87 ppm, dan 557,14 ppm. Rata-rata kadar boraks yang ditemukan adalah 460,031  71,249 ppm. Dapat disimpulkan masih ada produsen yang menggunakan boraks pada mie basah yang beredar di pasar kota Padang.Kata kunci : boraks, mie basah, alkalimetriAbstractThe currently the use of the forbidden foods are often found, in particularly in food company which is generally produced by small industri or households was increasing. This should be alert with both the producens and custamers.This reseach is animed to identify and defined the borax level in wet noodles spread in some market in Padang city which performed in the health of laboratory in Padang from March until September 2006. The study design is descriptive. Sample taken from the different noodles producers by totally sampling, was found 10 producers analyzed by titration alkalimetric method. The result suggest 50% of wet noodles analyzed, was found 384.805 ppm; 394.79 ppm; 478.55 ppm; 484.87 ppm; and 557.14 ppm respectively. The average of borax level found are 460.031 ± 71.249 ppm. Could be concluded that remain the producers using borax at wet noodles at some market in Padang.Keywords: borax,wet noodles, alkalimetryARTIKEL PENELITIA

    PERBANDINGAN EKSPRESI TUMOR NECROSIS FACTOR-α (TNF-α), INTERLEUKIN-1 (IL-1), DAN INTERLEUKIN-10 (IL-10) PADA LESI DAN NON-LESI PSORIASIS VULGARIS di RS. Dr. M. DJAMIL, PADANG

    Get PDF
    AbstrakPatogenesis psoriasis dipengaruhi oleh sitokoin proinflamatori TNF-α, IL-1, dan sitokin anti-inflamatori IL-10. Dengan tehnik imunohistokimia dapat dideteksi TNF-α, IL-1, dan IL-10 pada jaringan kulit.Membandingkan jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 pada lesi dan non-lesi kulit dengan pemeriksaan imunohistokimia, dan hubungan jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 dengan derajad keparahan penyakit (skor PASI).Merupakan penelitian observasional dengan disain nested case control pada pasien psoriasis yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin, tahun 2003-2006. Untuk menghitung derajad keparahan penyakit dipakai skor PASI. Didapat 21 pasien (umur 21-68 tahun) yang ikut penelitian ini. Dilakukan biopsi dengan pewarnaan HE dan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal. Perbandingan jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 dihitung dengan student’s t-test. Skor PASI dihitung dengan regression equation simplex, dan hubungan skor PASI dengan TNF-α, IL-1 dan IL-10 menggunakan Pearson’s correlation coefficient (r).Sebanyak 21 pasien (14 laki-laki, 7 perempuan), umur rata-rata 44,67±13,309. Lama menderita sakit antara 1-20 tahun (rata-rata 4,9±4,939). Nilai skor PASI antara 8,0 – 32,7(rata-rata 19,362±7,241). TNF-α, IL-1, dan IL-10 terwarnai kuat di dermis lesi psoriasis : TNF-α (20-35, mean 27.95±4.056) dibandingkan non-lesi kulit (0-1, mean 0.10±0.301), p< 0.0001; IL-1 (19-31, mean 23.67±3.411); and IL-10 (4-13, mean 8.52±2.562).Tidak terdapat ekspresi IL-1 and IL-10 pada non-lesi kulit. Tidak terdapat hubungan antara skor PASI dengan ekspresi TNF-α (r=0,365, p>0,05), IL-1(r=0.267, p>0.05), and IL-10 (r=0.054,p>0.05).Jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 meningkat secara signifikan pada lesi dibandingkan non-lesi kulit. Tidak terdapat hubungan antara skor PASI dengan ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 pada lesi kulit psoriatik.Kata kunci : Psoriasis vulgaris, TNF-α, IL-1, IL-10, PASIARTIKEL PENELITIAN30AbstractThe inflammatory cytokines (TNF-α, IL-1) and anti-inflammatory cytokine (IL-10) have been implicated in patogenesis of psoriasis. Immunohistochemistry has been used to detect TNF-α, IL-1, and IL-10 in skin.To compare the amount of TNF-α, IL-1, and IL-10 expressions in lesion and non- lesion psoriatic skin by immunohistochemistry examination, and the correlation of amounts of TNF-α, IL-1, and IL-10 expressions to disease severity degree (PASI score).A nested case control study was done among psoriatic pasients who attended to our policlinic during 2003-2006.The PASI score was used to measure of disease severity degree. There were 21 patients (ages 21- 68 yo). We did biopsy and stained using HE and histochemistry examination using monoclonal antibody. The expression amount of TNF-α, IL-1, and IL-10 were compared by student’s t-test. PASI scores were expressed using regression equation simplex, and the correlation between of PASI scores to TNF-α, IL-1, dan IL-10 were using Pearson’s correlation coefficient (r).Twenty one patients (14 men, 7 women), mean age 44.67±13.309. The duration of the disease were 1-20 tahun, mean 4.9±4.939. PASI score range 8.0 – 32.7 (mean 19.362±7.241). There were strong staining in dermis of skin lesions; TNF-α (20-35, mean 27.95±4.056) compared non-lesion skins (0-1, mean 0.10±0.301), p< 0.0001; IL-1 (19-31, mean 23.67±3.411); and IL-10 (4-13, mean 8.52±2.562).There were no expressions of IL-1 and IL-10 in non-lesion. No correlation between PASI scores and expressions of TNF-α (r=0,365, p>0,05), IL-1 (r=0.267, p>0.05), and IL-10 (r=0.054,p>0.05).The amount of TNF-α, IL-1, dan IL-10 expressions were increased significantly in the lesions compared non-lesion skin and there were no correlation between PASI scores to the expressions of the TNF-α, IL-1, and IL-10 in psoriatic skin.Keywords : Psoriasis vulgaris, TNF-α, IL-1, IL-10, PAS

    PENGARUH EKSTRAK MENGKUDU TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID DARAH DAN AKTIVITAS KATALASE TIKUS DM YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    Get PDF
    AbstrakPenelitian yang menyimpulkan bahwa stres oksidatif meningkat pada penyakit diabetes mellitus telah cukup banyak. Stres oksidatif tersebut dapat diartikan sebagai suatu ketidakseimbangan antara prooksidan (radikal bebas) dengan antioksidan, karena antioksidan tidak mampu meredam peningkatan prooksidan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh asupan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia linn) yang berfungsi sebagai antioksidan terhadap kadar malondialdehid (penanda prooksidan) dan enzim katalase (penanda antioksidan) pada tikus diabetes karena induksi aloksan.Penelitian eksperimental ini dilakukan pada 12 ekor tikus putih dengan berat badan 200-250 gram yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (hanya diberi makan dan minum), kelompok kontrol positif (makan dan minum,serta diinduksi aloksan), kelompok perlakuan (makan dan minum, diinduksi aloksan, dan diberi ekstrak mengkudu (500 mg/kg BB/hari) selama 12 hari. Data yang diperoleh dianalisa secara statistik dengan uji Anova dengan derajat kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok (p<0,05), dimana rerata kadar MDA darah kelompok kontrol negatif (4,2610,427 nmol/ml), kelompok kontrol positif (5,6050,391 nmol/ml), kelompok perlakuan (4,2610,427 nmol/ml) dan rerata aktivitas katalase kelompok kontrol negatif (6,5800,277 unit/mg), kelompok kontrol positif (4,9540,485 unit/mg), kelompok perlakuan (6,3140,651 unit/mg).Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak mengkudu dapat menu-runkan kadar MDA darah dan meningkatkan aktivitas enzim katalase tikus DM yang diinduksi aloksan.Kata kunci: ekstrak mengkudu – kadar MDA – aktivitas katalase – aloksan – tikus diabetesAbstractThere were so many study concluded that oxidative stress increased in diabetes mellitus. Oxidative stress can be defined as an imbalance between prooxidants and antioxidants, because antioxidants could not quench overARTIKEL PENELITIAN55production of prooxidants. This study investigated the effect of mengkudu extract (Morinda citrifolia linn) as antioxidant on malondialdehyde (MDA) level (prooxidant marker) and catalase (antioxidant marker) in alloxan induced diabetic rats.This experimental study had been carried out to 12 rats with 200-250 gram weight which divided into three group of four rats each, i.e. negative control, positive control (alloxan induced), and the group was treated by alloxan induced which followed by mengkudu extract oral (500mg/weight/day) for 12 days. The result was analyzed by using one way Anova with confidence interval 95%.There were significantly different in groups (p<0,05). The MDA level in negative control group is 4,2610,427 nmol/ml, positive control group is 5,6050,391 nmol/ml, and the group was treated by alloxan induced which followed by mengkudu extract oral is 4,2610,427 nmol/ml. Catalase activity in negative control group is 6,5800,277 unit/mg, positive control group is 4,9540,485 unit/mg, and the last group is 6,3140,651 unit/mg.The conclusion is mengkudu extract has capability to quench MDA level and increasing catalase activity in alloxan induced diabetic rats.Keywords : mengkudu extract – MDA level – catalase activity – aloksan – diabetic rat

    EFEK PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP JUMLAH ERYTROSIT DAN AKTIVITAS ENZIM KATALASE TIKUS AKIBAT PAPARAN SINAR ULTRAVIOLET

    Get PDF
    AbstrakSinar ultra violet (UV) selain mempunyai dampak positif terhadap kesehatan, UV juga dapat membahayakan kesehatan. Dampak negatif UV ini dirasakan oleh orang-orang yang terpapar sinar UV dalam jangka waktu lama, seperti nelayan dan petani. Radiasi UV tingkat sedang menyebabkan kulit kemerahan (eritema), sedangkan tingkat tinggi dapat menyebabkan perdarahan pada kulit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin E terhadap jumlah erytrosit dan aktifitas enzim katalase tikus akibat paparan sinar ultra violet. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan tikus sebagai hewan coba, yang dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari bulan September – Desember 2008. Populasi adalah 20 ekor tikus galur Wistar, umur ± 2 bulan dan berat badan 200-250 gram. Sampel diambil secara acak (simple random sampling) dari populasi dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu : Kelompok kontrol (Kelompok yang diradiasi UV 6 jam/hari selama 3 minggu tanpa pemberian vitamin E) dan kelompok perlakuan (Kelompok yang diradiasi UV 6 jam/hari selama 3 minggu dengan pemberian vitamin E dosis 0.45 IU/kg BB/1 kali/hari). Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok kontrol terjadi penurunan jumlah erytrosit dan aktifitas enzim katalase akibat paparan sinar UV. Jumlah Penurunan ini akan lebih sedikit setelah pemberian vitamin E.Efek pemberian vitamin E dapat menghambat penurunan jumlah erytrosit dan aktivitas enzim katalase tikus yang terpapar sinar ultraviolet.Kata Kunci : VitaminE, Erytrosit, KatalaseAbstract Ultraviolet (UV) in addition to having a positive impact on health, UV can also endanger your health. UV negative impact is felt by the people who are exposed to UV light for long periods, such as fishermen and farmers. UV radiation levels are causing skin redness (erythema), whereas high levels can cause bleeding in the skin. This study aims to determine the effect. These are experimental studies using rats as an animal, which conducted the Biochemistry Laboratory of the Faculty ofARTIKEL PENELITIAN128Medicine University of Newcastle from September - December 2008. Population is 20 strains of Wistar rats, age ± 2 months and weight 200-250 grams. Samples taken at random (simple random sampling) of the population and divided into two groups: control group (group UV irradiated 6 hours/day for 3 weeks without vitamin E) and the treatment group (group UV irradiated 6 hours/day for 3 weeks with doses of vitamin E 0:45 IU/kg BB/1 kali/day). The results showed in the control group declines erytrosit and catalase enzyme activity due to exposure to UV. decline was much less after vitamin E. Conclusion: The effect vitamin E can inhibit the decrease in the number erytrosit and catalase enzyme activities of rats exposed to ultraviolet light.of vitamin E on the number of erytrosit and catalase enzyme activities of rats by exposure to ultraviolet light.Key words : Vitamin E, Erytrosit, Katalas

    GAMBARAN ANTI HBc POSITIF PADA DONOR DARAH DENGAN HbsAG NEGATIF

    Get PDF
    AbstrakPemeriksaan HBsAg saja untuk skrining hepatitis B (HBV) belum dapat menjamin donor darah bebas dari HBV sehingga darah donor belum memenuhi persyaratan untuk ditransfusikan. Darah donor yang akan ditranfusikan hendaklah memenuhi syarat diantaranya donor tidak pernah menderita HBV. Skrining darah donor terhadap HBV pada PMI hanya dengan uji HBsAg saja dimana HBsAg akan negatif pada stadium HBV tertentu, pada hal donor menderita atau dalam masa penyembuhan HBV. Anti-HBc dapat memberi informasi tentang perjalanan HBV bila digabungkan dengan marker HBV lain dan anti-HBc bertahan lebih lama dalam darah dibandingkan dengan marker lain. Donor darah HBsAg negatif dengan anti-HBc positif dari beberapa penelitian terdahulu masih ada yang mengandung HBV-DNA dan dapat menularkan HBV.Telah dilakukan penelitian terhadap donor darah dengan melakukan uji anti-HBc secara deskriptif terhadap donor darah dengan HBsAg negatif (n=100) pada UTD PMI Cabang Padang secara cross sectional study. Sampel diambil secara proportional random sampling. Darah sampel adalah darah HBsAg negatif dengan VDRL, HVC, HIV  negatif , semuanya diperiksa dengan dengan ELISATujuan penelitian untuk melihat gambaran anti-HBc positif pada donor darah dengan HBsAg negatif dan melihat hubungan antara indeks HBsAg dengan indeks anti-HBc. Pemeriksaan anti-HBc dilakukan dengan ELISA, alat dan reagen keluaran yang sama.Hasil penelitian menunjukkan frekuensi anti-HBc positif pada donor darah dengan HBsAg negatif sebanyak 27%, terutama pada laki-laki berumur antara 20-29 tahun (44,4%). Terdapat korelasi positif antara indeks HBsAg negatif dengan indeks anti-HBc (r = 0,02). Anti-HBc positif banyak ditemukan pada indeks HBsAg negatif 0,21-0,60 (76%).Kesimpulan, darah donor dengan HBsAg negatif yang selama ini dianggap aman untuk transfusi terbukti masih mungkin menularkan HBV dengan ditemukannya anti-HBc yang positif. Karena itu perlu pemeriksaan lanjutan DNA HBV pada donor darah dengan HbsAg negatif dan antiHbc positif untuk memastikan darah donor tersebut tidak boleh ditransfusikan.Kata kunci: Skrining, HBV, HBsAg, Anti-HBc, donor darah  Abstract            HBsAg examination alone to screen for hepatitis B (HBV) has not been able to guarantee freedom from HBV blood donor so that blood donors have not fulfilled the requirements to be transfused. Blood donors will be transfused donors should qualify them have never suffered from HBV. Screening of blood donors against HBV in the PMI only with HBsAg alone where the HBsAg test is negative at certain stages of HBV, in terms of donors suffering or recovering in HBV. Anti-HBc can provide information on HBV trip when combined with other HBV markers and anti-HBc last longer in the blood compared with other markers. HBsAg negative blood donors with anti-HBc positive than some previous research is still exist that contain HBV-DNA and can transmit HBV.Has done research on blood donors with anti-HBc test descriptively against HBsAg negative blood donors (n = 100) on the UTD PMI Branch of Padang in cross sectional study. Samples taken by proportional random sampling. Blood samples were HBsAg negative blood VDRL, HCV, HIV negative, all examined by the ELISA. The aim is to see the picture of positive anti-HBc in blood donors with HBsAg negative and look at the relationship between the index of HBsAg with anti-HBc index. Examination of anti-HBc by ELISA, equipment and reagents the same output. The results showed the frequency of positive anti-HBc in HBsAg negative blood donors by 27%, especially in men aged between 20-29 years (44.4%). There is a positive correlation between the index of negative HBsAg with anti-HBc index (r = 0.02). Anti-HBc positive are found in HBsAg negative index of 0.21 to 0.60 (76%). In conclusion, blood donors with negative HBsAg have been considered safe for transfusion is still likely to transmit HBV proven by the discovery of anti-HBc positive. Because it needs a further examination of HBV DNA in blood donors with HBsAg negative and positive antiHbc to ensure donor blood should not be transfused.Key words: screening, HBV, HBsAg, Anti-HBc, blood donor

    Preface and ToC - Vol 34, No 1 (2010)

    No full text

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇