Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    PERAN PEMBEDAHAN PADA TUMOR JINAK PAYUDARA

    Get PDF
    PERAN PEMBEDAHAN PADA TUMOR JINAK PAYUDAR

    UPDATE BREAST CANCER MANAGEMENT DIAGNOSTIC AND TREATMENT

    Get PDF
    UPDATE BREAST CANCER MANAGEMENTDIAGNOSTIC AND TREATMEN

    KADAR APOLIPOPROTEIN B 100 SERUM PADA PENDERITA NEFROPATI DIABETIKUM

    Get PDF
    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Apolipoprotein B 100 serum pada penderita nefropati diabetikum. Metode penelitian ini dengan desain cross sectional yang bersifat deskriptif analitik. Populasi adalah semua pasien yang menderita diabetes mellitus tipe 2 yang dirawat di bagian penyakit dalam atau kontrol ke poliklinik khusus metabolik endokrin RSU Dr. M. Djamil Padang. Sampel penelitian adalah pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan proteinuria positif yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang diambil secara konsekutif. Sampel penelitian diambil dari darah vena dalam keadaaan puasa selama 12 jam. Pemeriksaan apolipoprotein B 100 serum dilakukan di laboratorium klinik swasta, dengan menggunakan metode imunoturbidimetri. Albumin creatinin ratio merupakan perbandingan kadar albumin urin terhadap kreatinin urin dengan metode pemeriksaan imunoturbidimetri. Pada penelitian ini didapatkan rerata kadar Apolipoprotein B 100 serum yaitu 86,10 mg/dl (nilai normal 66-101 mg/dl) dengan standar deviasi 27,997. Simpulan: Tidak terdapat peningkatan kadar apolipoprotein B 100 serum pada penderita nefropati diabetikum.AbstractThis study aims to examine Apolipoprotein B 100 serum level in diabetic nephropathy patient. Study design was cross sectional with analytic descriptive. Population is all type 2 diabetes mellitus inpatient and outpatient in internal medicine M Djamil hospital. Sample is all type 2 diabetes mellitus consecutive patient with positive proteinuria and fullfilled inclusion and exclusion criteria. Vein blood was taken after 12 hours-fasting. Apolipoprotein B 100 serum check at non-governmental laboratory by immunoturbidimetry methode. Albumin creatinin ratio check by immunoturbidimetry methode. Result: Apolipoprotein B 100 serum level is 86.10 mg/dl (normal value 66-101 mg/dl) with standar deviation 27.997. Conclusion: There is no significant enhancement of apolipoprotein B 100 serum level in diabetic nephropathy patient

    KEJADIAN DEMAM NEUTROPENIA PADA PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENDAPAT KEMOTERAPI

    Get PDF
    AbstrakKemoterapi memiliki peranan penting dalam penatalaksanaan kanker payudara. Obat ini bekerjamembunuh sel-sel kanker, namun dapat juga menghancurkan sel-sel sehat termasuk sel darahsehingga dapat menyebabkan neutropenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadiandemam neutropenia pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Jenis penelitianini adalah obsevasional dengan desain cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 98 orangpenderita kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. M Djamil Padang.Pemeriksaan yang dilakukan adalah differential count dan suhu tubuh oral, kemudian dilakukananalisis statistik dengan uji non parametrik. Kejadian demam neutropenia ditemukan pada 10pasien (10,2%), dimana didapatkan hubungan yang bermakna antara regimen kemoterapidengan kejadian demam neutropenia (p=0,028), dan tidak terdapat hubungan yang bermaknaantara kejadian demam neutropenia dengan umur pasien (p=0,683) serta setting kemoterapi(p=0,631). Hubungan antara kejadian demam neutropenia dengan siklus kemoterapi tidak dapatdianalisis secara statistik. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa regimen kemoterapi non FACmeningkatkan resiko kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara yangdikemoterapi.AbstractChemotherapy has an important role in breast cancer management. Chemotherapy works bykilling cancer cells in the body. However, healthy cells including blood cells are also destroyedleading to a condition called neutropenia. This study aimed to determine the incidence ofneutropenia febrile in patients with breast cancer who received chemotherapy in thechemotherapy unit of Dr. M. Djamil Padang Hospital. This study was a cross-sectional study of98 samples. Leucosite differential count and oral body temperature were examined and wereanalyzed with non parametric test. Neutropenia febriles were found on 10 out of 98 patients(10.2%). There was a significant association found between chemotherapy regimen and theincidence of neutropenia febrile (p=0.028), however, there were no significant associationbetween the incidence of neutropenia febrile with patient’s age (p=0.683) and the setting ofchemotherapy (p=0.631). While the correlation between the incidence of neutropenia febrile andchemotherapy cycle can not be statistically analyzed. It is concluded that chemotherapy causesincidence of neutropenia febrile at 10.2% patient. Non FAC chemotherapy regimens increasesthe risk of neutropenia febrile in patients with breast cancer patient receiving chemotherapy

    HUBUNGAN EKSPRESI Ki-67 DENGAN KARAKTERISTIK HISTOPATOLOGIK PADA KANKER PAYUDARA TRIPEL NEGATIF

    Get PDF
    Kanker payudara triple negative mempunyai prognosis paling buruk. Ki-67, derajat diferensiasi dan invasi limfovaskular (LVI) adalah parameter prognostik patomolekuler, dimana Ki-67 juga dipakai sebagai prediktor respon terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat diferensiasi dan LVI dengan ekspresi Ki-67 pada kanker payudara tripel negatif. Sembilan belas kasus kanker payudara tripel negatif dikumpulkan dan direview ulang derajat diferensiasi dan LVI. Hasil pemeriksaan Ki-67 dikelompokkan dimana ≤10 % sampai 29 % ekspresi rendah-sedang; dan >30% ekspresi tinggi. Hubungan antara ekspresi Ki-67 dengan derajat diferensiasi dan invasi limfovaskular dianalisis menggunakan Chi Square. Dari 19 kasus kanker payudara tripel negatif, 52,6 % kasus mempunyai derajat diferensiasi tinggi dan sisanya derajat diferensiasi rendah. Invasi limfovaskular ditemukan positif pada 68,4% kasus. Ekspresi Ki-67 yang tinggi hanya ditemukan pada 1 kasus. Uji statistik antara ekspresi Ki-67 dengan derajat diferensiasi maupun dengan invasi limfovaskular tidak ditemukan hubungan yang bermakna. Tidak ditemukan korelasi antara ekspresi Ki-67 dengan derajat diferensiasi dan invasi limfovaskular pada kanker payudara tripel negatif

    FAKTOR-FAKTOR PENENTU PENYEBARAN HIV(+)/AIDS DI INDONESIA Tahun 2008

    Get PDF
    AbstrakIndonesia merupakan negara yang paling cepat terjadinya penularan HIV di kawasan Asia Tenggara. Diperkirakan pada tahun 2010 penderita HIV(+)/AIDS akan meningkat menjadi 400.000 orang dengan perkiraan kematian 100.000 orang. Penyebaran utama terjadi di kalangan penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik dan pekerja seks komersil. Di samping itu, penyebaran HIV dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu seperti faktor sosial ekonomi/kemiskinan, jenis kelamin, perilaku dan gaya hidup, sosial budaya, biologi dan pelayanan kesehatan.Kata Kunci ;HIV/AIDS, faktor penentu, IndonesiaAbstractThe epidemic of HIV/AIDS is spreading at a significantly higher rate in Indonesia compared to other South-East Asia. Highly cases of HIV/AIDS in Indonesia indicated that by the year 2010 the number of AIDS cases will have increased to 400.000, with 100.000 deaths. The majority of HIV/AIDS patients are found among high-risk populations, especially among the Intravenous Drug Users (IDUs) and sex workers. In these two groups the infection is spreading very rapidly. Some determinants of health of HIV/AIDS become vulnerable in Indonesia such social-economic/poverty, gender, lifestyle and behavior, socio-culture, biological and health care.Keywords; HIV/AIDS, determinants, IndonesiaTINJAUAN PUSTAK

    PENGARUH PEMULIHAN AKTIF DAN PEMULIHAN PASIF TERHADAP LAMANYA PERUBAHAN KADAR LAKTAT DARAH PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

    Get PDF
    AbstrakBerdasarkan aktivitas, pemulihan setelah latihan dibedakan menjadi pemulihan aktif dan pemulihan pasif. Pemulihan aktif adalah apabila setelah olahraga, dilanjutkan dengan latihan pada kuantitas dan kualitas yang lebih ringan hingga kadar metabolit kembali ke batas normal, sementara pemulihan pasif dilakukan dengan cara menghentikan seluruh aktivitas segera setelah latihan. Pemulihan ini akan memberikan pengaruh terhadap asam laktat darah yang terbentuk sebagai hasil metabolisme anaerob. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemulihan aktif dan pemulihan pasif terhadap waktu penurunan kadar asam laktat darah pada orang coba.Penelitian eksperimental dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas selama 8 bulan, dari Pebruari hingga September 2007. Penelitian ini dilakukan pada 20 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum Universitas Andalas Padang berusia 19-25 tahun. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan pemulihan aktif (kelompok 1) dan kelompok dengan pemulihan pasif (kelompok 2). Setelah mencapai ambang laktat pada beban submaksimal, kelompok 1 tetap mengayuh ergocycle dengan beban nol, sementara kelompok 2 menghentikan seluruh aktivitas fisik segera setelah latihan. Sampel darah diambil dari ujung jari. Kadar laktat darah diukur sebelum latihan, segera setelah latihan, dan 3 kali selama tahap pemulihan tiap 2 menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata penurunan kadar laktat darah pada kedua kelompok, baik pada menit kedua, menit keempat maupun menit keenam tahap pemulihan. Hasil penelitian juga didapatkan perbedaan rata-rata kecepatan penurunan kadar laktat darah orang coba pada kedua kelompok, namun perbedaan ini tidak bermakna(P>0,05).Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan lamanya perubahan kadar laktat darah setelah latihan antara pemulihan aktif dan pemulihan pasif, namun perbedaan ini tidak bermakna. Adanya variasi biologi pada orang coba dan waktu pemulihan yang terlalu singkat menjadi faktor penting terhadap hasil yang didapat. Disarankan untuk menambah waktu pemulihan dan meningkatkan homogenisitas sampel guna mengurangi variasi biologi yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.Kata kunci : Asam Laktat, Pemulihan Aktif, Pemulihan PasifAbstractARTIKEL PENELITIAN191Based on the activities, recovery after exercise is divided into active recovery and passive recovery. Active recovery is done by continuing an easier activity after exercise until metabolite comes down to the normal level, whereas passive recovery is done by discontinuing any physical activity soon after exercise. Thus, the recovery affects the lactic acid produced due to anaerob metabolism.The objective of this study was to know the effect of active and passive recovery to the lactic acid derivation after exercise in man.This experimental study was conducted in Laboratory of Physiology Medical Faculty of Andalas University, for eight months, from February up to September 2007. The research was done to 20 students of Medical Faculty of University of Andalas, at the age of 19-25 years old as samples. Samples were divided into two groups, which were 10 samples of active recovery (group1) and 10 samples of passive recovery (group2). Samples in group 1 continued working on ergocycle with no weight after reaching lactate threshold phase, while group2 discontinued any physical activity soon after reaching lactate threshold phase. Blood samples were taken from the finger prick. The lactic acid level was measured before doing exercise, during exercise of sub maximal weight, and every two minutes during recovery phase for three times.The result showed that there was a difference between the average of lactic acid derivation in both groups at the first two minutes, four minutes and six minutes, although the differences were not statically significant (P>0.05). The result also showed that there was no significant difference in the acceleration average of lactic acid derivation in both groups (P>0.05).It is concluded that there is a difference of blood lactic acid derivation between the active and passive recovery after exercise in man, yet the difference was not significant. Biological variation and the short period of recovery are important factors that can affect the result. It is suggested to lengthen the period of recovery and reduce the biological variation of samples in order to have more significant result.Keywords : lactat acid, Active recovery, Pasive recover

    POLA RESISTENSI KUMAN PENYEBAB DIARE TERHADAP ANTIBIOTIKA

    Get PDF
    AbstrakResistensi kuman terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh intensitas pemaparan antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada penyakit diare cenderung akan meningkatkan resistensi kuman yang semula sensitif. Perkembangan resistensi kuman terhadap antibiotika perlu dipantau agar dalam pengobatan penyakit diare dengan antibiotika dapat dilakukan pemilihan obat yang tepat.Untuk mengetahui pola resistensi kuman terhadap antibiotika pada pasien diare yang dirawat di bangsal IKA RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari-Desember 2008.Data penelitian diperoleh dari catatan medik pasien diare yang dirawat di bangsal IKA dan dilakukan kultur dan sensitivitas dari sampel feses. Dilakukan uji resistensi terhadap kuman yang terdeteksi dengan antibiotika Ampisilin (Amp), Tetrasiklin (TE), Sulfametoxazole-Trimetoprim (STX), sebagai antibiotik ang paling banyak digunakan pada pasien diare.Dari hasil uji kultur dan sensitivitas pada 173 sampel feses didapatkan 3 jenis kuman yang terbanyak yaitu E.Coli sebanyak 92 (51.4%), Klebsiela sp 30 (16.8%), dan kuman Enterobacter sp 28 (15.6%). Resistensi kuman E.Coli terhadap antibotika AMP sebesar 53.3%, terhadap TE 67.4% dan terhadap STX 87%. Resistensi kuman Klebsiela sp terhadap antibiotika AMP sebesar 46%, terhadap TE 40% dan terhadap STX 73.3%. Dan resistensi kuman Enterobacter sp terhadap antibotika AMP sebesar 64.3%, terhadap TE 75% dan terhadap STX 82,1%.Kuman penyebab diare menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap Sulfametoxazole-Trimetoprim (STX).Kata kunci. resistensi, antibiotika, diareAbstractMicroorganisme resistance against antibiotic is highly influenced by intensity of antibiotics exposure. Irrational use of antibiotics in diarrhea tends to increase resistance of previously sensitive microorganism. Monitoring in antibiotics development resistance is required to achieve appropriate diarrhea therapy.ARTIKEL PENELITIAN42To assess microorganism resistance pattern against antibiotics in diarrhea patients hospitalized at Dr. M. Djamil General Hospital pediatric ward from January – December 2008.Study data obtained from culture of feces of diarrhea patients hospitalized in pediatric ward. Resistance test were performed using antibiotics Ampicillin (Amp), tetracycline (TE), sulphamethoxazole-trimethoprim (SXT), as the 3 most common antibiotic used for diarrhea.There were 173 feces samples performed culture and sensitivity test. Three microorganism species found frequently were E. coli (92; 51.4%), Klebsiella sp. (30; 16.8%), Enterobacter sp. (28; 15.6%). E. coli resistance to AMP were 53.3%, TE 67.4%, and SXT 87%. Resistance of Klebsiella sp. to AMP 46.7%, TE 40%, and SXT 73.3%. Enterobacter sp. resistance were 64.3%, 75%, and 82.1%, respectively.Sulphamethoxazole-trimethoprim was the highest resistance antibiotics against microorganism in acute diarrhea patients.Keywords : resistance, antibiotics, diarrhe

    ATRESIA BILIER

    Get PDF
    AbstrakAtresia bilier merupakan penyakit yang jarang terjadi dan penyababnya belum diketahui secara pasti. Karakteristik dari penyakit ini adalah terjadinya inflamasi progresif pada duktus bilier sehingga terjadi obstruksi ekstrahepatal yang akhirnya dapat menyebabkan fibrosis dan sirosis hepar. Atresia bilier ada 2 tipe yaitu: 1.) Syndromic atau fetal, disertai beberapa kelainan kongenital (10-20%). 2.) non syndromic, tanpa disertai kelainan kongenital yang lain (80-90%). Atresia bilier akan berakibat fatal tanpa penanganan yang cepat. Kelainan ini dapat ditangani dengan metode operasi Kasai prosedure yang dapat mengalirkan kembali aliran empedu hampir 80% jika dilakukan secepatnya, gold periode >60 hari. Diagnosis dini sangat penting untuk keberhasilan operasi Kasai. Pada penulisan ini akan dilaporkan sebuah kasus atresia bilier tipe fetal, seorang anak laki-laki berusia 58 hari, dengan keluhan tampak kuning sejak usia 3 minggu disertai dengan buang air besar berwarna pucat, buang air kecil berwarna seperti teh pekat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, laboratorium, USG dan biopsi hepar yang sangat mendukung diagnosis atresia bilier. Operasi Kasai tidak efektif karena disertai dengan komplikasi kholangitis yang akhirnya menyebabkan sirosis hepatis pada 5 bulan kehidupan.Kata kunci : Atresia bilier, Kasai procedure, kholangitis, sirosis hapatisAbstractBiliary atresia is a disease of unknown etiology, characterized by progressive fibro inflammatory of the bile duct and liver that result obstruction of extrahepatic bile duct, leading to the fIbrosis and liver cirrhosis. It has two form of biliary atresia : 1.) syndromic of fetal biliary atresia (10-20%) with various congenital anomalies, 2.) non syndromic biliary atresia (80-90%) with isolated anomaly. In this case we report on an infant with the second form of biliary atresia, with diagnosis and operation was not based on liver biopsy, but on clinical features, laboratorium finding and USG, that were a highly suggestive of fetal form of biliary atresia. A boy 58 days infant with fetal biliary atresia. He developed jaundice in 3 weeks of life, pale stool, dark urine, and liver was palpable. Kasai operation was not effective because he had cholangitis complicated and developed liver cirrhosis at five month of age. Fetal EHBA (Extra Hepatic Biliary Atresia) with worse outcome after Kasai procedure becauseLAPORAN KASUS189of cholangitis complicated. Early diagnosis EHBA is very important for succesfull of Kasai procedure.Key words: biliary atresia, kasai, Cholangitis, liver cirrhosi

    UJI RELIABILITAS DIAGNOSIS MIKROSKOPIS MALARIA TENAGA LABORATORIUM PUSKESMAS DI DAERAH ENDEMIK KOTA SAWAHLUNTO SUMATERA BARAT

    Get PDF
    AbstrakPemeriksaan mikroskopis masih merupakan diagnosis pilihan untuk malaria karena mudahdan murah, tetapi kesalahan diagnosis mikroskopik sangat sering terjadi karena kurangketerampilan dan pengalaman pemeriksa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai reliabilitas hasilpemeriksaan mikroskopis malaria yang dilakukan oleh tenaga laboratorium pada tiga puskesmasdi daerah Sawahlunto; Sei Durian (SDR), Silungkang (SLK) dan Talawi (TLW). Desainpenelitian adalah cross sectional study. Populasi adalah mikroskopis yang terdapat pada ketigapuskesmas tersebut. Reliabilitas dinilai dengan nilai Kappa yang ditetapkan dengan ujikesepakatan hasil pemeriksaan dari 3 mikroskopis puskesmas dan satu mikroskopis standar.Nilai Kappa yang diterima adalah 0,61-1. Reliabilitas diagnosis malaria vivax mikroskopis SDRdan SLK tidak bisa dinilai karena jumlah malaria vivax sedikit, sedangkan reliabilitas diagnosismikroskopis TLW bernilai kurang (Kappa=0,253). Reliabilitas diagnosis falciparum mikroskopisPuskesmas SDR, SLK, TLW berturut-turut adalah jelek, jelek dan kurang (Kappa 0,022;0,006 dan 0,200). Sedangkan reliabilitas diagnosis mikroskopis malaria positif dan negatifSDR, SLK dan TLW adalah berturut-turut jelek, jelek dan sedang (Kappa 0,024; 0,008 dan0,442). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kompetensi ketiga mikroskopis tersebutmasih diragukan.AbstractMicroscopic test is still the best option for malaria diagnostic because of simple andless expensive. However, fault in diagnosis frequently happen because of lack of skills andexperience. This study determined reliability of microscopic tests conducted by microscopistsin three public health centres in Sawahlunto; SDR, SLK, and TLW. This was a cross sectionalstudy. The reliability is determined by Kappa value which is stated by agreement test of 3microscopists of the three public health centres and 1 standardized microscopist. The Kappavalue was 0,61-1. The reliability of malaria vivax microscopic tests of SDR and SLK couldnot be determined because of small number of cases, and the reliability of TLW was fair. Thereliability of malaria falciparum microscopic tests of SDR, SLK and TLW were poor, poor andfair (Kappa value 0,022; 0,006 and 0,200). The reliability based on positivity and negativity ofparasite existence were poor, poor and moderate (Kappa value 0,024; 0,008 and 0,442). Thisstudy concluded that the competencies of microscopists in these three area were questionable

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇