Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
RESPON IMUN SELULER DAN HUMORAL MENCIT YANG DIIMUNISASI KANDIDAT VAKSIN DNA DENGUE BERBASIS GEN preM-E SEROTIPE 4 STRAIN INDONESIA
AbstrakInfeksi virus dengue (DENV) terkadang tanpa gejala atau dapat menunjukkan gejala klinis yang luas, berkisar dari sindrom flu ringan (dengue fever/DF), dengue haemorrhagic fever (DHF), hingga syok hipovolemik (dengue shock syndrome/DSS). Hipotesis yang berkaitan dengan tingkat keparahan infeksi DENV meliputi mekanisme antibody-dependent enhancement (ADE) dan keterlibatan sitokin. Hingga kini, belum ada obat antiviral yang efektif untuk mengeradikasi dan mencegah infeksi DENV, sehingga pencegahan berupa vaksin perlu dikembangkan. Kandidat vaksin DNA berbasis gen preM-E serotipe 4 strain Indonesia yang dikembangkan pada penelitian terdahulu disuntikkan ke mencit ddY, kemudian diuji tantang dengan DENV. Pada hari ke-4 dan ke-21 pascauji tantang, keberadaan sitokin IL-2 dalam serum dideteksi dengan metode ELISA. Serum hari ke-21 digunakan dalam uji ADE menggunakan sel K562. Sel limpa diambil pada hari ke-21 pascauji tantang, kemudian keberadaan IL-2 dan antibodi in vitro dideteksi dengan metode ELISA. Tingkat IL-2 tertinggi terdapat pada serum hari ke-4 pada kelompok mencit yang tidak diimunisasi namun diuji tantang, yaitu sebesar 69,83 pg/ml. Konsentrasi IL-2 terendah ditunjukkan oleh kelompok mencit yang diimunisasi namun tidak diuji tantang, yaitu 0 pg/ml. Pengukuran IL-2 pada serum dan supernatan sel limpa hari ke-21 tidak mendapatkan konsentrasi IL-2. Titer antibodi tertinggi terdapat pada kelompok sel limpa mencit yang diimunisasi, diuji tantang, dan diinduksi in vitro dengan DENV. Hasil uji ADE menunjukkan tingkat pengenceran serum berpengaruh terhadap jumlah sel yang terinfeksi oleh DENV, namun tidak ditemukan kondisi netralisasi dan enhancing. Berdasarkan metode yang digunakan, kandidat vaksin DNA tersebut dapat memicu respon imun seluler dan humoral.AbstractDengue virus (DENV) infection can be asymptomatic or cause wide range of clinical symptoms, from mild febrille ilness (dengue fever/DF), dengue haemorrhagic fever (DHF), to hipovolemic shock (dengue shock syndrome/DSS). Hypotheses related to the severity of DENV infection mechanisms including antibody-dependent enhancement (ADE) and cytokines involvement. Until now, there are no effective antiviral drugs can eradicate and prevent DENV infection, therefore the development of vaccines is the alternative. DNA vaccine candidate preM-E serotype 4 strain of Indonesia which was developed in previous studies injected into ddY mice, then challenge with DENV. At day 4 and 21 post-challenge, serum was taken to detect the presence of cytokines IL-2 using ELISA method. Day 21 serum used in the antibody-dependent enhancement (ADE) assay using K562 cell line. Splenocytes were taken at day 21 post-challenge to measure the presence of IL-2 and in vitro antibody using ELISA method. Measurement of IL-2 on day 4 serum produced the highest levels of IL-2 (69.83 pg/ml) in the group of non-immunized, challenged mice, whereas the lowest concentration (0 pg/ml) shown by the group of immunized, non-challenged mice. Measurement of IL-2 in serum and splenocytes day 21 did not get the concentration of IL-2. The highest result of in vitro antibody measurements shown by the group of splenocytes from immunized, challenged mice then in vitro induced with DENV. ADE assay results showed that level of serum dilution has effect on the number of dengue-infected cells, but netralization and enhancing condition were not found in this assay. Based on this methods, the DNA vaccine candidate can trigger cellular and humoral immune responses
PERANAN SEL CLARA PADA INFEKSI PARU KRONIS
AbstrakPenyakit paru kronik seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan asma merupakan masalah kesehatan global yang menyebabkan peningkatan komorbiditas dan biaya pengobatan. Hal ini telah membuat para peneliti mencoba mencari berbagai hal yang dapat digunakan untuk dapat mencegah, mendeteksi dan mengintervensi penyakit paru kronik agar didapatkan terapi yang efektif dan spesifik untuk penyakit tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menjabarkan karakteristik sel Clara (sel yang terdapat pada dinding bronchioles paru) dan peranannya pada infeksi paru kronis di tingkat molekuler. Beberapa penelitian membuktikan adanya penurunan fungsi sel Clara akibat remodeling epitel pada infeksi paru kronik. Peranan sel Clara diketahui dapat meregulasi proses inflamasi melalui regulasi prilaku makrofag (anti-inflamasi) dan mengembalikan sel epitel respirasi yang rusak ke arah normal (progenitor stem sel). Dengan adanya fungsi yang luas ini diharapkan sel Clara dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan terapi terbaru dalam pengobatan penyakit infeksi paru kronik.AbstractChronic obstructive pulmonary disease (COPD) and asthma are global health problems which increase comorbidities and therapy costs. This has led researchers to find out strategies that can be used to prevent, detect and intervene the chronic lung diseases in order to develop specific and effective therapies for the diseases. This article aimed at describing the characteristic of Clara cells (a type of cell in lung bronchioles wall) and its role in chronic lung infection. Previous research studies provided some evidences of an imparment of Clara cell functions due to epithelial remodeling as seen in chronic lung infection. It is obvious that Clara cells are able to regulate inflammatory process via regulation of macrophage behavior (anti-inflammatory effect) and are able to restore damaged respiratory epithelial cells into the normal ones (stem cells progenitor). Based on these functions, it is expected that Clara cells can be used as a basis for developing the latest therapies in the treatment of chronic lung infection
STRUKTUR PROTEOMIK VIRUS DENGUE DAN MANFAATNYA SEBAGAI TARGET ANTIVIRUS
AbstrakVirus dengue (DENV) telah menyebabkan sekitar 50 juta kasus infeksi demam berdarah setiap tahunnya, akan tetapi hingga saat ini belum terdapat vaksin maupun antivirus yang mampu mencegah atau mengobati penyakit tersebut. Selama pengembangan vaksin dan antivirus, diperoleh berbagai informasi tentang struktur protein DENV yang dapat dimanfaatkan sebagai target obat. Makalah membahas tentang struktur proteomik pada DENV, yaitu glikoprotein pada envelope, NS3 protease, NS3 helikase, NS5 metiltransferase, dan NS5 RNA-dependent RNA polimerase.AbstractDengue virus (DENV) has caused over 50 millions infection every year. However, to date neither vaccine nor medicine could be used to prevent or cure the illness. During researches in finding the vaccine or antiviral for DENV, information on DENV protein structure has been obtained which is potentially used as drug target. This paper disscuss DENV proteomic structure that consist of envelope glicoprotein, NS3 protease, NS3 helicase, NS5 methyl-transferase, and NS5 RNA-dependent RNA polymerase
PERAN LATIHAN DISUPERVISI PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER EKSREMITAS BAWAH
AbstrakPenyakit arteri perifer (peripheral arterial disease, PAD) merupakan kumpulan kelainan yang menghambat aliran darah ke ekstremitas, pada umumnya terjadi akibat aterosklerosis dan bermanifestasi sebagai klaudikasio. Disamping terapi medikamentosa dan endovaskuler yang optimal, manajemen non farmakologi PAD terbukti efektif mengurangi gejala, meningkatkan kemampuan berjalan dan kualitas hidup. Telah dilaporkan laki-laki usia 58 tahun penderita klaudikasio intermitten karena oklusi arteri iliaka komunis sinistra. Pasien masih merasakan gejala setelah terapi medikamentosa dan angioplasty tranluminal percutaneous. Setelah dilakukan program latihan disupervisi, gejala, kemampuan berjalan, dan indeks brachial ankle meningkat signifikan. Program latihan disupervisi pada pasien PAD dinilai penting sebagai terapi primer untuk meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup untuk manajemen jangka panjang.AbstractPeripheral arterial disease (PAD) is a disorder that obstruct the arterial blood supply to extremities, most commonly caused by atherosclerosis and manifests as claudicatio. Aside from optimal medical therapy and endovascular therapy, non pharmacological managements of PAD are proven effectively improving symptoms, increasing walking distance, and overall quality of life. The case report describe a 58 years old male with known claudicatio intermitten due to occlusion of left communis iliac artery. After medical therapy and percutaneous transluminal angioplasty, the patient still symptomatic. After supervised exercise training was prescribed to the patient, the symptom, walking distance, and ankle brachial index was improved significantly. Rehabilitation in PAD with supervised exercise training plays significant role as primary therapy in patients with PAD to improve functional capacity and quality of life in long term management
SIGNET RING CELL CARCINOMA PADA PAYUDARA
AbstrakKanker payudara merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada wanita. Kanker payudara jenis signet ring cell carcinoma (SRCC) sangat jarang ditemukan. Kasus SRCC paling banyak ditemukan pada saluran cerna (GIT). Dilaporkan kasus, wanita 46 tahun, terdapat benjolan di payudara. Pemeriksaan ultrasonografi payudara menunjukkan area hypoechoik. Mamografi menunjukkan payudara heterogen padat, distorsi arsitektur atau mikrokalsifikasi. Aspirasi jarum halus sitologi dari jaringan payudara menunjukkan bahwa tumor adalah ganas. Pada pemeriksaan endoskopi gastrointestinal normal. Pemeriksaan Patologi menunjukkan sel-sel neoplastik bentuk bulat, tersebar atau distribusi disertai musin intrasitoplasmik besar menekan inti menuju salah satu kutub sel. Secara klinis, usg, maupun endoskopi tidak ditemukan massa tumor pada GIT. Pada pemeriksaan imunohistokimia SRCC payudara GCDFP15+, ER+, CK7+, MUC1+, CK20-, MUC2- dan SRCC GIT CK20+, MUC2+, GCDFP15-, ER-, CK7-, MUC1-, Simpulan, SRCC payudara adalah tumor ganas yang sangat langka dan harus dibedakan dari metastasis GIT.AbstractBreast cancer is the most common malignancy in women. Breast cancer types signet ring cell carcinoma (SRCC) is very rare. SRCC case most commonly found in the saluran cerna (GIT). Reported cases, female 46 years, there is a lump in the breast. Breast ultrasound examination showed hypoechoic area. Mammography showed heterogeneous dense breasts, architectural distortion or microcalcifications. Fine-needle aspiration cytology (FNAC) of the breast tissue showed that the tumor was malignant. In normal gastrointestinal endoscopy. Pathologic examination menunjukkan neoplastic cells rounded shape, spread or distribution with large intracytoplasmik mucin core pressing toward one pole of the cell. Clinically, ultrasound, and endoscopy was not found in the GIT tumor mass. On immunohistochemical examination breast SRCC on ER+, CK7+, MUC1+, MUC2-, CK20-; GIT SRCC CK20+, MUC2+, ER-, CK7-, MUC1-. Conclusion, breast SRCC is a malignant tumor that is very rare and should be differentiated from metastatic GIT
KORELASI KADAR LAJU ENDAP DARAH DENGAN NILAI ASPECTS PADA PASIEN STROKE ISKEMIK
AbstrakStroke adalah penyebab utama ke-3 kematian di Amerika Serikat. Stroke iskemik adalah kondisi kompleks dengan etiologi dan manifestasi klinis bervariasi. CT Scan kepala adalah pencitraan darurat stroke membedakan dengan perdarahan intrakranial. Beberapa peneliti mengemukakan adanya korelasi independent dan hubungan pemeriksaan rutin biomarkers pada pasien stroke iskemik akut termasuk di dalamnya parameter inflamasi yang berperan pada patofisiologi iskemia otak. Tujuan penelitian ini mengetahui korelasi kadar LED dengan penilaian ASPECTS pada pasien stroke iskemik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik belah lintang dari catatan rekam medik. Selama periode Desember 2012 - Oktober 2014. Didapatkan 16 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Dengan beberapa karakteristik subyek penelitian meliputi usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, kadar LED 1 dan 2, awitan stroke iskemik akut. Uji statistik Rank Spearman’s,dan uji bivariat maupun multivariat. Didapatkan hasil tidak ada korelasi antara nilai ASPECTS dengan kadar LED dan faktor yang mempengaruhi nilai ASPECTS.AbstractStroke is the third major cause of death in United States. Ischemic stroke results from complex conditions with various etiologies and clinical manifestations. Brain CT Scan is a stroke emergency imaging to differentiate intracranial hemorrhage. Several studies claimed there were independent correlation and relationship of biomarker in routine examination of acute ischemic stroke patients including inflammation parameters that contribute to the pathophysiology of brain ischemic. The purpose in this study was to identify correlation between ESR level and ASPECTS in ischemic stroke patients. The method of study was analytical observational cross sectional taken from medical record. It was performed in 16 patients that fulfill the inclusion and exclusion criteria during December 2012- October 2014. Several characteristics of subject that affecting ASPECTS included age, gender, hypertention, diabetes mellitus, dyslipidemia, ESR level 1 and 2, and onset of acute ischemic stroke were assessed. Analytical test was performed by Rank spearman’s test and multivariate test. There was no correlation between ASPECTS with ESR level and factors that affect ASPECTS
SNPs ANALYSIS AS A TOOL IN MOLECULAR GENETICS DIAGNOSTICS
AbstrakSingle Nucleotide Polymorphism (SNP) merupakan variasi genetik yang ditemukan pada lebih dari 1% populasi. Haplotipe, yang merupakan sekelompok SNP atau alel dalam satu kromosom, dapat di turunkan ke generasi selanjutnya dan dapat digunakan untuk menelusuri gen penyebab penyakit (marker genetik). Artikel ini bertujuan menjelaskan aplikasi analisis SNP dalam diagnosis beberapa sindrom yang disebabkan gangguan genetik. Berdasarkan laporan studi terdahulu, sindrom yang disebabkan oleh UPD (uniparental disomy) maupun penyakit autosomal resesif yang muncul sebagai akibat perkawinan sedarah dapat dideteksi dengan SNP array melalui analisis block of homozygosity dalam kromosom. Kelebihan lain SNP array adalah kemampuannya dalam mendeteksi mosaicism level rendah yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan sitogenetik konvensional. Bahkan saat ini, SNP array sedang diujicobakan dalam IVF untuk mendapatkan bayi yang sehat. Hal ini dapat dilakukan dengan mendeteksi ada atau tidaknya gen tunggal penyebab penyakit pada embrio hasil bayi tabung sebelum embrio ditanamkan ke uterus. Analisis SNP dengan SNP array mempunyai banyak kelebihan dibanding metode pemeriksaan SNP lainnya dan diharapkan dapat digunakan secara luas dalam bidang diagnostik molekuler genetik di masa mendatang.AbstractSingle Nucleotide Polymorphism (SNP) is a genetic variant with a frequency of >1% of a large population. Haplotypes, a combination of a set of SNPs/alleles that appear as “associated blocks†on one chromosome, tend to be inherited together to the next offspring and can be used as genetic markers to trace particular diseases. This article aimed at explaining of SNP analysis application in diagnosis of genetic-disorder related syndrome. Previous studies showed that syndromes caused by UPD or autosomal recessive disorder as a result of consanguineous marriage can be identified by SNP array through analysing block of homozygosity region in a chromosome. Another advantage of SNP arrays is its ability in detecting low level mosaicism which was unidentified by conventional cytogenetic examination. Nowadays, SNP arrays are included in IVF process to obtain a healthy baby. It can be done by detecting the absence or the presence of disease-causing single gene in an embryo before it implanted to the womb. SNP analysis with SNP array has many advantages over other SNP analysis methods and is therefore expected can be widely used in the future in the field of molecular diagnostic
PROFIL GANGGUAN ELEKTROLIT DAN KESEIMBANGAN ASAM BASA PADA PASIEN DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI BERAT DI RUANG RAWAT INAP BAGIAN ANAK RS DR. M. DJAMIL PADANG
AbstrakDiare akut merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak ditemukan pada bayi dan anak. Asidosis metabolik dan gangguan elektrolit adalah komplikasi yang serius dan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi pada tatalaksana yang tidak tepat. Untuk mengetahui gangguan elektrolit dan asam basa pada pasien diare akut dehidrasi berat, lama rawatan, lamanya diare serta hubungannya dengan komplikasi diare akut dehidrasi berat perlu diteliti. Penelitian ini merupakan studi retrospektif, dilakukan pada pasien rawat inap dengan diare akut dehidrasi berat yang dirawat di bangsal Ilmu Kesehatan Anak RS DR. M. Djamil Padang dari tanggal 1 Januari s/d 31 Desember 2007. Pencatatan dilakukan pada umur, jenis kelamin, lama diare, lama dirawat, dan adanya gejala encephalopati. Juga dicatat hasil pemeriksaan elektrolit dan analisis gas darah. Didapatkan 29 pasien diare akut dengan dehidrasi berat yang memenuhi kriteria penelitian. Umur rata-rata 11,14±7,06 bulan, perempuan 24,1% dan laki-laki 75,9%. Komplikasi diare akut dehidrasi berat adalah asidosis metabolik 75,9%, enchepalopati 13,8%, hiponatremi 44,8%, hipernatremi 10,3%, hipokalemi 62%, hiperkalemi 10,3%. Rata-rata dari perawatan rumah sakit adalah 4,69±1,87 hari, lama menderita diare 8,62±2,98 hari. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita diare dengan kejadian asidosis metabolik (p=0,045) dan hiponatremi (p=0,035). Tidak ada hubungan bermakna antara lama perawatan dengan asidosis metabolik, enchepalopati, hiponatremi, hipernatremi, hipokalemi dan hiperkalemi. Kejadian asidosis metabolik dan hiponatremi berhubungan bermakna dengan lamanya pasien menderita diare akut dehidrasi berat.Kata kunci: Diare, dehidrasi berat, elektrolit, keseimbangan asam basa, lama diareAbstractAcute diarrhea remains one of the most prevalent health problems facing infants and young children. Metabolic acidosis and electrolyte imbalance are serious complications associated with high mortality rate among inappropriately managed patients. To find out the prevalence of electrolyte and acid base imbalance in severely dehydrated diarrhea patients, hospitalisation time, the duration of diarrhea related to complications need to be studied. A restrospective study was done at PediatricARTIKEL PENELITIAN71Department, DR. M. Djamil Hospital Padang from January to December 2007. Age, sex, duration of diarrhea, length of hospitalisation and encephalopathy were recorded. Sodium and potassium level, and gas blood analysis were analysed. Twenty nine hospitalized patients with severely dehydrated diarrhea were enrolled in this study. Mean age were 11.14±7.06 months, female 24.1% and male 75.9%. The complications were metabolic acidosis in 75.9%, encephalopathy 13.8%, hyponatremia 44.8%, hypernatremia 10.3%, hypokalemia 62%, hyperkalemia 10.3%. Mean length of hospitalisation was 4.69±1.87 days, duration of diarrhea was 8.62±2.981 days. The duration of diarrhea related significantly with metabolic acidosis (p=0.045) and hyponatremia (p=0.035). No significant correlation was found between length of hospitalisation with metabolic acidosis, encephalopathy, hyponatremia, hyper-natremia, hypokalemia, or hyperkalemia. Metabolic acidosis and hyponatremia were associated significantly with duration of severely dehydrated diarrhea.Keywords : Diarrhea, severe dehidration, electrolyte, acid babase imbalance, duration of diarrhea