Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    HUBUNGAN GLASGOW COMA SCALE DENGAN GLASGOW OUTCOME SCALE BERDASARKAN LAMA WAKTU TUNGGU OPERASI PADA PASIEN PERDARAHAN EPIDURAL

    Get PDF
    Cedera kepala merupakan penyebab kematian terbanyak dari keseluruhan angka kematian yang diakibatkan trauma. Epidural Hematoma (EDH) merupakan jenis yang paling banyak menjadi perhatian para klinisi dan peneliti karena frekwensi kejadiannya yang tinggi. Operasi EDH dianjurkan dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan. Operasi yang dilakukan sebelum waktu 4 jam, memberikan hasil perbaikan yang bermakna. Glasgow Coma Scale (GCS) dan waktu prehospital merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi prognosa penderita EDH. Penilaian outcome suatu tindakan operasi dapat dinilai dengan Glassgow outcome scale (GOS). Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan GSC dengan GOS berdasarkan lama waktu tunggu operasi pada pasien EDH di Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr.M.Djamil Padang. Pada sampel dilakukan penilaian GCS dan GOS. Dari 10 sampel penelitian didapatkan penderita dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (60%), usia tertinggi 35-45 tahun (60%), GCS awal 9-12 (70 %), lama waktu tunggu terbanyak > 4 jam (80 %), skor GOS terbanyak adalah 4 (80%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara GCS saat awal masuk dengan nilai GOS (p>0,05), tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara lama waktu tunggu setelah cedera kepala sampai dilakukan operasi dengan GOS (p<0,05)

    Preface and ToC - Vol 39, No 1 (2016)

    No full text

    HUBUNGAN ANTARA STATUS RESEPTOR ESTROGEN, RESEPTOR PROGESTERON DAN HUMAN EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR 2 DENGAN DERAJAT KEGANASAN KARSINOMA PAYUDARA INVASIF

    Get PDF
    Karsinoma payudara invasif (KPI) merupakan keganasan yang berasal dari epitel saluran kelenjar susu dan menginvasi jaringan sekitarnya. Pemeriksaan patologi anatomi biasanya menyertakan derajat keganasan (DKg) dan dilanjutkan dengan pemeriksaan imunohistokimia estrogen receptor (ER), progesterone receptor (PR) dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) untuk menentukan terapi dan memperkirakan prognosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status ER, PR, HER–2 dengan DKg pada KPI. Subjek penelitian yang digunakan adalah pasien KPI yang telah diperiksa DKg, status ER, PR dan HER–2 pada tahun 2014–2015 di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Hasil penelitian menunjukkan DKg low grade sebanyak 13 pasien (24,1%), high grade sebanyak 41 pasien (75,9%), status ER‒ sebanyak 32 pasien (50,3%), ER+ sebanyak 22 pasien (40,7%), PR‒ sebanyak 32 pasien (59,3%), PR+ sebanyak 22 (40,7%) dan HER2‒ sebanyak 33 pasien (61,1%), HER2+ sebanyak 21 pasien (38,9%). Hasil uji Chi‒Square antara ER dengan DKg nilai p=0,001, antara PR dengan DKg nilai p=0,002, antara HER2 dengan DKg nilai p=0,53. Simpulan, terdapat hubungan antara estrogen receptor dan progesterone receptor dengan derajat keganasan pada karsinoma duktal invasif

    PREVALENSI ISOLAT MRSA PENGHASIL PANTON-VALENTINE LEUKOCIDIN PADA PASIEN ICU RUMAH SAKIT TERSIER

    Get PDF
    Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi MRSA penghasil Panton-Valentine leukocidin (PVL) dan pola kepekaannya. Sampel penelitian adalah isolat MRSA dari 315 pasien Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM) selama tahun 2011 dan 2014, dengan melakukan identifikasi, uji kepekaan dan uji molekuler terhadap isolat tersebut. Penelitian ini menunjukkan sebanyak 59% dari koloni MRSA yang ditemukan masih sensitif terhadap antibiotik golongan selain β-laktam, sehingga masih dapat diduga sebagai community-associated MRSA (CA-MRSA). CA-MRSA sepertinya mulai ditransmisikan di fasilitas kesehatan. Uji molekuler terhadap isolat MRSA memberikan hasil 8,3% isolat MRSA menghasilkan PVL. Berdasarkan tipe pola kepekaannya isolat MRSA penghasil PVL tersebut masih dapat digolongkan sebagai CA-MRSA. MRSA penghasil PVL ditemukan di RSUPNCM sebagai kolonisasi. Surveilan perlu dilakukan untuk memahami interaksi antara MRSA di komunitas dan rumah sakit, terutama untuk mengurangi transmisi di fasilitas kesehatan

    AMNION LIOFILISASI EFEKTIF MENYEMBUHKAN REAKSI KULIT AKIBAT RADIOTERAPI PADA PASIEN KANKER

    Get PDF
    Reaksi kulit jaringan sekitar sering terjadi akibat efek samping radioterapi pada tumor. Membran amnion dapat dipakai sebagai pengobatan lokal karena kemampuannya mempercepat penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas amnion liofilisasi dengan salep gentamisin terhadap penyembuhan reaksi kulit akibat radioterapi. Jenis penelitian ini adalah experimental, pada 16 pasien kanker yang mengalami reaksi kulit akibat radioterapi di unit Radioterapi RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pasien dikelompokan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok diberi terapi amnion liofilisasi dan kelompok yang diberi salep gentamisin. Alat ukur yang digunakan adalah tabel skala RISRAS yang dikembangkan oleh Noble-Adams. Pengukuran dilakukan tiga kali yaitu sebelum perlakuan, setelah 1 minggu dan setelah 2 minggu perlakuan. Analisis statistik menggunakan T-Test dengan nilai p ˂ 0,05.  Hasil penelitian ini didapatkan perbedaan yang bermakna penurunan Skala RISRAS pada kelompok yang diberi amnion dibandingkan dengan yang diberi salep gentamisin pada penilaian setelah 1 minggu perlakuan (p=0,007). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa amnion liofilisasi memberikan penyembuhan luka yang lebih cepat dibandingkan salep gentamisin

    Preface and ToC - Vol 38, No 3 (2015)

    No full text

    HUBUNGAN NILAI ANKLE BRACHIAL INDEKS DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA

    Get PDF
    Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, serta aterosklerosis. Aterosklerosis pada tahap awal yang dikenal dengan atherosclerosis asimptomatis sering ditandai dengan adanya Peripheral Arterial Disease (PAD). Ankle Brachial Index (ABI) adalah ratio tekanan sistolik ankle dan brachial yang dapat digunakan untuk menilai severitas oklusi arteri perifer yang merupakan gambaran penyumbatan arteri secara umum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara nilai ABI dengan fungsi kognitif. Penelitian dilakukan pada 75 pasien lanjut usia yang berobat ke poliklinik saraf RS DR M Djamil Padang dengan metode consecutive sampling. Pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan Indonesia Montreal Cognitive Assessment (InaMoCA). Data dianalisa dengan uji χ2 dengan nilai p<0,05. Hasil penelitian didapatkan gangguan sebanyak 48 orang (64%). Nilai ABI yang rendah sejumlah 31 orang (41,3%), normal 44 orang (58,7%). Tidak didapatkan hubungan langsung antara nilai ABI dengan fungsi kognitif (p>0,05). Namun setelah sampel dispesifikasikan berdasarkan jenis kelamin, hubungan antara ABI dengan fungsi kognitif pada wanita bermakna secara statistik (p<0,05). Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan antara nilai ABI dengan fungsi kognitif pada lanjut usia, namun terdapat hubungan antara nilai ABI dengan fungsi kognitif pada lanjut usia berjenis kelamin wanita

    PERANAN DURASI QRS DAN SKOR QRS SELVESTER DALAM KEBERHASILAN REPERFUSI MIOKARD

    Get PDF
    AbstrakPerubahan gambaran elektrokardiogram (EKG) terjadi pada fase akut IMA EST baik berupa perubahan repolarisasi ataupun perubahan depolarisasi. Skor QRS Selvester dan pemanjangan kompleks QRS merupakan parameter yang digunakan untuk memperkirakan luas infark dan penilaian iskemia. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui mekanisme perubahan durasi QRS dan skor QRS Selvester setelah reperfusi yang optimal. Penulisan artikel ini berdasarkan studi kepustakaan yang terkait dengan peranan durasi QRS dan skor QRS Selvester serta keberhasilan reperfusi miokard. Iskemia mengakibatkan perubahan gambaran listrik sel miokard normal, sehingga terjadi perubahan gambaran EKG yaitu meliputi perubahan gelombang T, elevasi segmen ST dan distorsi dengan pemanjangan kompleks QRS. Penilaian luas infark dapat dilakukan dengan menilai skor QRS Selvester. Iskemia juga mengakibatkan pemanjangan kompleks QRS melalui pemanjangan konduksi purkinye dan blok peri-infark. Reperfusi optimal dapat mengakibatkan regresi gelombang Q dan penurunan durasi kompleks QRS. Perubahan skor QRS selama reperfusi masih kontroversial. Perubahan pada durasi QRS dan skor QRS Selvester sebelum dan setelah reperfusi menandakan bahwa parameter ini merupakan parameter dinamis yang akan berubah ketika terjadinya reperfusi yang optimal pada tingkat seluler.AbstractChanges in Electro Cardiogram (ECG) occur in acute phase of STEMI either as repolarization or depolarization change. Selvester QRS score and lengthening of QRS complex duration are parameters that is used to predict infarct size and to analyze ischemia. The purpose of this literature review is to understand the mechanism of change in QRS duration and Selvester QRS score after optimal reperfusion. Ischemia causes changes in the electrical feature of normal myocardial cells including changes in the T wave, ST segment elevation and distortion with prolongation QRS complex. Assessment of infarct size can be done by assessing Selvester QRS score. Ischemia also resulted in prolongation of the QRS complex with elongation of Purkinje conduction and peri-infarction block. Optimal reperfusion may lead to regression of the Q wave and a decrease in the duration of the QRS complex. QRS score changes during reperfusion remains controversial. Changes in QRS duration and Selvester QRS score before and after reperfusion indicates that these parameters are dynamic parameters that will change when the optimal reperfusion occurs at the cellular level

    TERAPI ANTIVIRAL PADA SIROSIS HATI DEKOMPENSATA TERKAIT INFEKSI VIRUS HEPATITIS B

    Get PDF
    Hepatitis B masih merupakan masalah kesehatan global. Diperkirakan sekitar 2 miliar penduduk dunia pernah terpapar virus hepatitis B (VHB) dan lebih dari 350 juta diantaranya menjadi kronik. Sirosis hati, gagal hati, dan karsinoma hati dapat terjadi pada 15-40% penderita dengan infeksi virus hepatitis B kronik. Pada saat ini sekitar 1 juta kematian per tahun akibat penyakit hati berhubungan dengan VHB. Terapi antiviral pada sirosis hati dekompensata terkait VHB merupakan suatu tantangan dalam pengobatan. Tujuan terapi pada pasien sirosis hati dekompensata terkait VHB diantaranya penekanan replikasi virus, serokonversi HBeAg, pembalikan dekompensasi hati, dan pengurangan risiko kanker hati. Terapi antiviral diindikasikan pada semua pasien sirosis hati dekompensata jika DNA VHB terdeteksi, terlepas dari kadar ALT atau status HBeAg. Terapi antiviral pilihan adalah nucleosida/tida analog, seperti lamivudine, telbivudine, adefovir dipifoxil, tenofovir, entecavir. Lama pengobatan biasanya seumur hidup, dan penghentian terapi dipertimbangkan apabila terdapat risiko reaktivasi virus, perburukan dekompensasi hati, dan regresi histologis

    PROFIL KASUS AUTOPSI PADA ANAK DI PROVINSI RIAU PERIODE TAHUN 2010-2014

    Get PDF
    AbstrakAutopsi pada anak memiliki peranan penting guna mengetahui penyebab kematian tidak wajar pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kasus autopsi pada anak di Provinsi Riau periode tahun 2010-2014. Data diperoleh dari Visum et Repertum jenazah milik Biddokkes Polda Riau yang dianggap dapat mewakilkan gambaran se-Provinsi Riau. Hasil penelitian didapatkan angka autopsi pada anak di Provinsi Riau periode tahun 2010-2014 berjumlah 15 kasus. Karakteristik korban anak didominasi anak laki-laki (66,7%) berumur 0-5 tahun (46,7%). Didapatkan 5 kasus kekerasan tumpul, 3 kasus kekerasan tajam dan 7 kasus tidak dapat digolongkan jenis kekerasannya. Jenis luka akibat kekerasan tajam didominasi oleh luka sayat (66,7%) dengan lokasi luka tersering di leher (100%) sedangkan jenis luka akibat kekerasan tumpul didominasi oleh luka memar (60%) dengan lokasi luka tersering di kepala (80%). Seluruh kasus merupakan kematian tidak wajar dengan kasus terbanyak adalah dugaan pembunuhan (60%). Polsek Kabupaten Kampar merupakan asal polsek tersering (40%).AbstractAutopsy is an important procedure to detecting cause of death in child unnatural death cases. This study aims to describe the profile of child autopsy in Riau Province, Indonesia 2010-2014. Data was obtained from medicolegal autopsy reports that belongs to Riau Regional Police on Medicine and Health. Data is assumed could covered Riau Province child autopsy insidences. There were 15 child medicolegal autopsies recorded between 2010 and 2014 with boy (66,7%) aged 0 to 5 years old (46,7%) were dominant victims. Of the 15 child medicolegal autopsies, 5 cases were blunt force violence, 3 cases were sharp force violence, and 7 were uncategorized. Incised wound (66,7%) was lead type of wounds on sharp force violence which localized on neck (100%). Contusions (60%) was lead type of wounds on blunt force violence which often localized on head (80%). Our study highlights that homicide was the predominant manner of death (60%) and found that Kampar Regency was frequently requested for medicolegal autopsies reports

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇