Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    ASUPAN GULA HARIAN DARI BAHAN-BAHAN PELENGKAP MASAKAN

    Get PDF
    Asupan gula penting untuk dibatasi dalam diet sehari-hari. Hal ini dapat menjadi upaya preventif maupun terapi penyakit diabetes mellitus. Asupan gula tambahan maksimal yang dianjurkan per hari 24 gram. Gula yang berada dalam bahan-bahan pelengkap masakan seperti kecap manis, saos sambal, dan saos tiram selama ini tidak diperhitungkan sebagai asupan gula yang harus dibatasi. Peneliti berpendapat bahan-bahan pelengkap masakan tersebut berpengaruh terhadap asupan gula harian. Kuesioner dibagikan kepada 65 subjek penelitian secara random di RW 13 Perum Bumi Dirgantara. Data konsumsi bahan pelengkap masakan harian diperoleh dari hasil kuesioner tersebut. Peneliti juga mengambil 5 sampel dari masing-masing jenis bahan pelengkap masakan secara random. Kadar gula masing-masing sampel diukur dengan metode asam sulfat - UV spektrofotometri 315 nm. Diperoleh hasil gula yang terdapat pada bahan pelengkap masakan per sendok teh adalah sebagai berikut saos tomat (0,58 gram), saos sambal (0,74 gram), saos tiram (0,85 gram), kecap manis (0,88 gram). Konsumsi gula dari bahan pelengkap masakan rata-rata per hari sebesar 0,1354 gram. Jumlah gula dari bahan pelengkap masakan tidak berperan besar dalam peningkatan asupan gula harian. Bagaimanapun konsumsi bahan makanan pelengkap masakan secara berlebihan tidak direkomendasikan

    ANALISIS EKSPRESI TRANSPORTER ZINK (ZNT-1) SEBAGAI FAKTOR PROGNOSIS ADENOKARSINOMA PROSTAT

    Get PDF
    Penurunan kadar Zink (Zn) berkorelasi dengan peningkatan skor Gleason adenokarsinoma prostat, dan rendahnya Caspase-3 (eksekutor apoptosis). Ekspresi ZIP-1 (importer Zn) turun pada adenokarsinoma prostat. Korelasi ZnT-1 (eksporter Zn), ZIP-1 dan Caspase-3 diduga berpotensi menjadi faktor prognosis adenokarsinoma prostat. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi ekspresi ZnT-1, ZIP-1, Caspase-3 dan skor Gleason adenokarsinoma prostat. Studi retrospektif analitik potong lintang dilakukan pada 14 kasus adenokarsinoma prostat skor Gleason ≤7 dan 16 kasus dengan skor Gleason >7. Ekspresi ZnT-1 dinilai dengan metode imunohistokimia. Analisis tambahan dilakukan untuk melihat korelasi ZnT-1, ZIP-1 dan Caspase-3. Hasil penelitian didapatkan ZnT-1 pada skor Gleason >7 lebih rendah daripada skor Gleason ≤7. ZnT-1 berkorelasi dengan skor Gleason. ZnT-1 berkorelasi dengan ZIP-1 pada skor Gleason >7. ZIP-1 berkorelasi dengan Caspase-3 pada skor Gleason ≤7. ZIP-1 berkorelasi kuat dengan Caspase-3 pada skor Gleason 8. Penelitian ini menyimpulkan rendahnya ekspresi ZnT-1 dan ZIP-1 berpotensi menjadi faktor prognosis adenokarsinoma prostat

    PERBANDINGAN PROGNOSIS SUBTIPE MOLEKULER KANKER PAYUDARA ANTARA PASIEN KANKER PAYUDARA WANITA USIA MUDA DAN TUA DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

    Get PDF
    AbstrakPenelitian sebelumnya menunjukkan bahwa subtipe molekuler kanker payudara memiliki perbedaan distribusi dan efek prognostik antara usia muda dan tua, sedangkan data lokal maupun nasional tidak ada penulis temukan. Metode : Penelitian komparatif dengan metode cross sectional. Dilakukan bulan Januari – April 2015, sampel 96 penderita kanker payudara wanita usia ≤ 40 tahun dan > 40 tahun yang tercatat di rekam medis dan registrasi kanker payudara dari tahun 2012 – 2014. Hasil : Kejadian kanker payudara wanita usia muda di RSUP dr. M. Djamil Padang selama 3 tahun (2012-2014) yaitu 27,1% dan usia tua 72,9%. Analisa bivariat tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berbagai karakteristik tumor dengan kejadian residif dan meninggal pada usia muda. Sedangkan pada usia tua, terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran tumor dan metastasis terhadap kejadian residif dan meninggal. Kesimpulan : Ada perbedaan karakteristik dan gambaran subtipe molekuler kanker payudara antara usia muda dan tua, usia muda tumor cenderung berukuran besar, kelenjar getah bening positif, adanya invasi limfovaskuler, grade tumor tinggi, indeks proliferasi Ki67 tinggi serta reseptor hormon negatif. Terdapat kecenderungan perbedaan prognosis kanker payudara wanita antara usia muda dan tua berdasarkan subtipe molekuler namun tidak bermakna secara statistik.AbstractPrevious study showed that molecular subtypes of breast cancer have different distribution and prognostic effect between the young and adult, whereas it cannot found in the local and national data. Method : Comparative research with cross sectional design. Held in January-April 2015, Ninety six samples of breast cancer women with age ≤ 40 years old and > 40 years old that has been recorded in medical records and breast cancer registration from year 2012-2014. Result : Breast cancer that happened to young women at General Hospital dr. M. Djamil Padang for 3 years (2012-2014) are 27,1% and the adult are 72,9%. In bivariat analysis, there are not relationship between characteristics of tumor with recurrent and death while in the adult women breast cancer, tumor size and metastases have relation with recurrent and death that are significant statistically. Conclusion : There are different characteristics and description of breast cancer molecular subtype between young and adult women, young ages are tend to have big tumor, lymph node positive, lymphovascular invasion, high grade tumor, proliferation index Ki67 high and negative hormone receptor. There are differences tendency of prognosis women breast cancer between the young and adult based on molecular subtype but statistically, the relationship is not significant

    PERAN C-FOS SEBAGAI AGEN PROLIFERASI DAN PRO-APOPTOSIS SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN PENGOBATAN KANKER

    Get PDF
    Analisis profil molekuler telah memberikan pengertian lebih dalam berkenaan dengan kompleksitas penyakit kanker di tingkat molekuler serta membuka potensi pengunaannya untuk mempelajari jalur onkogenik, hubungan jalur keganasan  dengan sensitivitas terhadap terapi yang memberikan potensi yang besar sebagai petunjuk pengunaan terapi target. C-Fos merupakan proto-onkogen, berikatan dengan Jun membentuk komplek faktor transkripsi  activating protein 1 (AP-1). Sebagai anggota dari AP-1, c-Fos memainkan peran merespon transduksi sinyal proliferasi dan diferensiasi sel yang menyebabkan pertumbuhan sel yang invasif. Sebaliknya laporan penelitian lainnya membuktikan bahwa c-Fos juga memiliki peran sebagai tumor supresor dengan keterlibatannya pada proses apoptosis. Mekanisme molekuler yang jelas tentang keterlibatan c-Fos baik sebagai tumor modulator proliferasi sel maupun supresor  pertumbuhan tumor masih belum jelas. Penelitian lebih lanjut keterlibatan c-Fos di tingkat molekuler sangat penting untuk membuka jalan bagi target baru terapi kanker maupun sebagai marker prognostik penyakit kanker

    Preface and ToC - Vol 39, No 2 (2016)

    No full text

    PERBEDAAN PERUBAHAN FUNGSI HEMOSTASIS SAAT STABILISASI PREEKLAMSIA BERAT/EKLAMSIA 24 JAM POSTPARTUM

    Get PDF
    Penelitian bertujuan menganalisis perbedaan perubahan temuan fungsi hemostasis saat stabilisasi antara preeklamsia berat/eklamsia yang mengalami dan yang tidak mengalami perbaikan 24 jam postpartum. Pada subyek penelitian yaitu wanita preeklamsia berat/eklamsia yang mengalami dan tidak mengalami perbaikan 24 jam postpartum dan memenuhi kriteria inklusi (16 pasien per kelompok) dilakukan pemeriksaan laboratorium fungsi hemostasis di Labor Patologi Klinik RSUP M. Djamil Padang. Perbedaan perubahan temuan fungsi hemostatik pada kedua grup dianalisa dengan menggunakan t-test. Dari penelitian didapatkan perbedaan temuan fungsi hemostasis pada saat stabilisasi antara preeklamsia berat/eklamsia yang mengalami dan yang tidak mengalami perbaikan 24 jam postpartum adalah trombosit 40.000 + 39.653/ml banding -5.250 + 58.915/ml (p=0,016), PT -0,144 + 1,083 detik banding 0,038 + 1,549 detik (p=0,074), APTT -0,275 + 3,938 detik banding 1,55 + 4,99 detik (p=0,260), dan D-dimer 0,319 + 1,34 ug/L banding 0,7125 + 2,018 ug/L (p=0,521). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang bermakna secara statistik kadar trombosit kelompok yang mengalami perbaikan dibandingkan kelompok yang tidak mengalami perbaikan. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar PT, APTT, dan D-Dimer antara kelompok yang mengalami perbaikan dan kelompok yang tidak mengalami perbaikan

    HUBUNGAN INFEKSI CACING USUS DAN ATOPI PADA ANAK SEKOLAH DASAR

    No full text
    AbstrakPeningkatan kasus alergi di wilayah yang berhasil menurunkan infeksi keca-cingan dibandingkan dengan yang infeksi kecacingannya masih tinggi membuat hubungan respon imun terhadap infeksi cacing usus dan alergi sangat penting untuk dipelajari. Hal ini di dukung oleh laporan mengenai rendahnya prevalensi atopi pada penderita infeksi cacing usus akibat kemampuan cacing memodulasi respon IgE poliklonal yang dapat menekan atopi/alergi. Adanya laporan kontroversial dengan hasil yang sebaliknya menjadikan hubungan cacing dan alergi semakin menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan infeksi cacing usus dengan manifestasi atopi pada anak Sekolah Dasar di desa Anaranda dan Nangapanda, kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara timur (NTT). Atopi dilihat dari tes uji kulit (skin prick test) yang positif terhadap aero-allergen (tungau debu rumah dan kecoa) dan food-allergen (kacang). ELISA digunakan untuk menentukan kadar IgE total. Di Anaranda lebih banyak ditemukan atopi (80,0%) dan infeksi cacing usus (75,6%) dibandingkan dengan Nangapanda yang prevalensi atopi 61,8% dan cacing usus 65,5%.Tidak ditemukan pengaruh infeksi cacing usus terhadap atopi (p=0,469). Kadar IgE total secara signifikan lebih tinggi pada yang atopi (p=0,031), sedangkan pada yang terinfeksi cacing usus tidak berbeda bermakna (p=0,607). Dari penelitian ini dapat disimpulkan infeksi cacing usus tidak mempengaruhi manifestasi atopi pada anak-anak Sekolah Dasar di daerah endemis cacing usus.Kata kunci: infeksi cacing usus, atopi, IgE total, anak Sekolah DasarAbstractThe reports of increasing allergy in areas of decreased helminth infestation compared with the endemic areas make the study of the correlation between helminth infestations and allergy very important. It is also supported by researchers showing that low atopy prevalence in helminth infested humans is caused by helminth ability in modulating IgE polyclonal response which could suppress atopy/allergy. On the contrary, some researchers also show different results and make this correlation interesting for further study. This study aimed to determine relationship between helminth infestation and atopy in school children in Anaranda and Nangapanda villages at Ende district, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Helminth infestation status was determined by microscopic examination, while skin prick test was performed to study the prevalence of atopy for aeroallergen (mite and cockroach) and food allergenARTIKEL PENELITIAN59(peanut). ELISA was used to determine the titer of total IgE. Atopy is more prevalent in Anaranda (80.0%) where helminth infestation was also higher (75.6%), while in Nangapanda atopy is 61.8% and helminth prevalence is 65.5%. We found no impact on intestinal helminth infection to atopy (p=0.469). Total IgE titer is significantly higher in atopic children (p=0.031) while not significantly different in intestinal helminth infested children (p=0.607). We conclude that intestinal helminth infestation does not affect atopy manifestation in elementary school children in endemic area.Keywords: Intestinal helminth infection, atopy, Total IgE, elementary school childre

    Daftar Isi

    Get PDF

    PAYUNG HUKUM PELAKSAAN ABORTUS PROVOKATUS PADA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN

    Get PDF
    AbstrakPada survei yang dilakukan WHO dibeberapa kota besar di Asia pada tahun 1996 di Indonesia ditemukan bahwa pada wanita yang berumur diatas 16 tahun dikota Jakarta dan Surabaya pada 1400 sampel didapatkan 2,7% pernah mengalami perkosaan. Beberapa korban hamil, dan ingin mengakhiri kehamilan. Hukum di Indonesia (KUHP), menjelaskan bahwa semua usaha dalam rangka menghentikan kehamilan adalah suatu tindak pidana dan tidak dipersoalkan apakah indikasi dari pengguguran kandungan tersebut. Setelah adanya UU Kesehatan RI No 23 tahun 1992, barulah abortus provokatus atas indikasi medis mendapatkan payung hukum. Disini dijelaskan bahwa jika abortus dalam rangka menyelamatkan nyawa ibu atau anak diperbolehkan (indikasi medis). Legitimasi abortus provokatus atas indikasi medis saat ini dianggap tidak mencukupi lagi, sehingga diperlukan pula legalisasi indikasi non medis, seperti pada korban pemerkosaan dan child abuse. Dengan keluarnya UU Kesehatan No.36 tahun 2009, maka sudah melegalkan tindakan aborsi pada kehamilan akibat perkosaan.Kata kunci: perkosaan, kehamilan, abortus provokatus, payung hukum, KUHP, UU Kesehatan.AbstractIn the survey conducted by WHO in several major cities in Asia in 1996 in Indonesia found that in women aged over 16 years in the city of Jakarta and Surabaya in 1400 samples were obtained 2.7% had experienced rape. Some victims become pregnant due to rape action and there is a desire to terminate the pregnancy. The law in Indonesia is regulated in the Penal Code (KUHP), explain determined that all efforts in order to stop the pregnancy is a crime and not questioned whether the indications of such abortions. After the Health Law (Undang-Undang Kesehatan RI) No. 23 of 1992, then provoked abortion on medical indication obtain legal protection. Here was explained that if the abortion in order to save the life of the mother or child is allowed (a medical indication). The legitimacy of provoked abortion on medical indication currently considered no longer sufficient, so that will be required to legalize non-medical indications, such as the victims of rape and child abuse. With the release of the Health Law No.36 of 2009, it had legalized abortion in pregnancies due to rape. Key words : rape, pregnancy, abortus, legal protection, article of the Penal Code, the Law on Health

    GAMBARAN AUDIOGRAM NADA MURNI PENDERITA KARSINOMA KEPALA DAN LEHER YANG MENDAPAT SATU SIKLUS KEMOTERAPI CISPLATIN

    Get PDF
    Sebagian besar keganasan kepala dan leher terdiagnosis sudah dalam stadium lanjut dan sering sudah inoperable. Kemoradiasi merupakan pengobatan pada keadaan seperti ini. Kemoterapi neoadjuvan (induksi) dengan cisplatin pada karsinoma kepala leher telah terbukti dapat mempreservasi organ dan menurunkan angka metastasis jauh, namun di sisi lain cisplatin menyebabkan berbagai efek samping berupa toksik terhadap berbagai organ, salah satunya ototoksikPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran audiogram nada murni penderita karsinoma kepala dan leher yang mendapat kemoterapi cisplatin.Penelitian ini merupakan uji potong lintang untuk mengetahui gambaran audiogram nada murni terhadap 25 orang penderita karsinoma kepala dan leher yang mendapat kemoterapi cisplatin 100 mg/m2 di bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) rumah sakit (RS) Dr. M. Djamil Padang, mulai bulan April sampai bulan Desember 2009.Dari 50 audiogram yang diperiksa didapatkan nilai rerata perubahan nilai ambang dengar hantaran tulang pada masing-masing frekuensi yaitu 3,4±5,84 dB pada frekuensi 250 Hz, 2,0±3,91dB (500 Hz), 2,6±4,87 dB (1000 Hz), 3,4±5,10 dB (2000 Hz), 4,9±9,23 dB (4000 Hz), 4,7±5,84 dB (6000 Hz) dan 6,5±9,85 dB pada 8000 Hz.Setelah pemberian satu siklus kemoterapi cisplatin 100 mg/m2 sebagian besar sampel tidak mengalami perubahan ambang dengar pada frekuensi 250, 500, 1000, 2000, 4000 dan 6000 Hz, sedangkan pada frekuensi 8000 Hz, sebagian besar mengalami kenaikan nilai ambang dengar. Namun demikian nilai rerata hantaran tulang sebelum dengan setelah kemoterapi terdapat perbedaan yang bermakna pada semua frekuensi.Â

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇