Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    Eksplorasi bakteri gram negatif endofit tanaman kunyit (Curcuma longa L.) yang memiliki kemampuan Quorum Quenching

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter bakteri Gram negatif endofit tanaman kunyit yang memiliki kemampuan Quorum Quenching (QQ). Metode: Bakteri Gram negatif endofit tanaman kunyit diisolasi, dimurnikan, dan disubkultur pada media NA dengan metode cawan gores. Uji QQ dilakukan dengan metode disc diffusion untuk mengukur pembentukan zona hambat pada bakteri uji Chromobacterium violaceum. Bakteri yang memiliki kemampuan QQ dikarakterisasi berdasarkan morfologi koloni, morfologi sel dan aktivitas biokimia. Hasil: Sebanyak 21 isolat bakteri endofit berhasil diisolasi dan dimurnikan dari tanaman kunyit dan 14 isolat diantaranya merupakan bakteri Gram negatif. Semua isolat bakteri Gram negatif endofit memiliki kemampuan QQ yang berkisar antara 6,5-13,5 mm. Satu isolat yang memiliki kemampuan QQ paling besar adalah isolat 6 dengan hasil identifikasi termasuk ke dalam genus Pseudomonas. Simpulan:Bakteri Gram negatif endofit tanaman kunyit yang memiliki kemampuan QQ paling potensial adalah genus Pseudomonas.Â

    Karsinoma sel skuamosa penis

    Get PDF
    Karsinoma sel skuamosa penis merupakan keganasan yang jarang yang mewakili 0,4-0,6% dari semua keganasan pada pria di Amerika Serikat dan Eropa. Di Indonesia, di RS Sardjito pada tahun 2006-2013 didapatkan insiden sejumlah 35 kasus dengan usia rata-rata 56±14,4 tahun. Karsinoma penis sering muncul dengan tampilan klinis adanya lesi yang terlihat dan teraba pada penis, bisa disertai nyeri, adanya sekret, perdarahan, atau bau busuk apabila pengobatan ditunda. Tujuan: Melaporkan kasus karsinoma sel skuamosa penis. Kasus: Dilaporkan kasus laki-laki 58 tahun dengan benjolan dan tukak yang semakin membesar di penis dengan hasil biopsi jaringan Squamous Cell Carcinoma Penis, Keratinized, Well to Moderately Differentiated. Pada pasien dilakukan total penectomy dan perineostomy. Tiga bulan kemudian pasien kembali datang dengan benjolan di lipat paha kanan hingga skrotum kanan yang semakin membesar. CT scan abdomen dengan kontras menunjukkan massa di inguinal kanan meluas sampai ke skrotum kanan dan kiri. Pasien didiagnosis dengan Squamous Cell Carcinoma Penis Stadium IV (T3N3M0) post total penectomy dan perineostomy. Metastasis kelenjar getah bening inguinal pada pasien ini ditatalaksana dengan kemoterapi regimen Cisplatin-5FU. Simpulan: Telah dilakukan dua siklus kemoterapi dengan interval 3 minggu dan hasil menunjukkan adanya respon di mana ukuran benjolan mulai mengecil

    Uptake and effect of radioiodine exposure on SKBR-3 cell lines

    Get PDF
    Radioiodine has been known as an adjuvant therapy for thyroid cancer. Beside for thyroid cell, radioiodine is reported to be taken up by breast cell. It may be proposed as an alternative for breast cancer therapy. Objective: The study aim was to analyze an uptake of radioiodine and cell proliferation rate of breast cancer cell after the exposure of radioiodine. Methods: This study used SKBR-3 cell line as representative of Human Epidermal Growth Factor Receptor (HER2+) subtype. The cells were planted in DMEM medium added 10% fetal bovine serum (FBS), panstrep 1% and amphotericin B. The cells were grown until 80% confluent and then stripped. Subsequently the cells were sub-cultured on plates 12 and 6 wells respectively for measured uptake of radioiodine and cell proliferation rate after the exposure. Radioiodine uptake was calculated by sum efflux of 125 Iodine (125I) and the amount of uptake after the addition of 95% ethanol. Cell proliferation rate was measured by calculated by using clonogenic assay after iodine-131 (131I) exposure. Results: The average of iodine uptake was 194±50 cpm/106 cell. The average cell proliferation after radioiodine exposure was 54%±5%; Conclusions: Radioiodine is taken by SKBR-3 cells and it reduced cell proliferation rate. This finding shows an opportunity for radioiodine as an alternative therapy for breast cancer. Another studies are needed to understand of cell death the mechanism

    Preface and ToC - Vol 42, No 2 (2019)

    No full text

    Hubungan asupan vitamin D dengan kadar 25(OH)D serum pada ibu hamil trimester III etnis minangkabau

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan vitamin D dengan kadar 25(OH)D serum pada ibu hamil trimester III etnis Minangkabau. Metode: Penelitian dengan desain cross-sectional di wilayah kerja Puskesmas Andalas Padang terhadap 88 orang subjek ibu hamil trimester III etnis Minangkabau. Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan food recall 24 jam selama dua hari dan pemeriksaan kadar 25(OH)D serum dengan metode ELISA. Hasil: Hampir separuh subjek penelitian (n=40; 45,5%) termasuk dalam kategori defisiensi vitamin D (<20 ng/mL). Rerata kadar 25(OH)D serum 23,0±21,0 ng/mL (mean±SD), asupan vitamin D 5,6±4,6 µg/1000 kkal/hari. Uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan antara asupan vitamin D dengan kadar 25(OH)D serum pada ibu hamil trimester III (r=0,161; p=0,134). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara asupan vitamin D dengan kadar 25(OH)D serum pada ibu hamil trimester III etnis Minangkabau

    Anomaly of left coronary artery

    Get PDF
    Anomalies of the coronary artery are uncommon, with a reported incidence of 0.3% to 1.3% in the coronary angiography studies routinely performed for suspected atherosclerotic coronary disease. There were 0.92% incidence of anomalous origination of the right coronary artery from the left sinus and the 0.15% incidence of anomalous origination of the left coronary artery from the right sinus. Most coronary artery anomalies are diagnosed by invasive angiography performed to investigate suspected atherosclerotic coronary disease. There are two important managements for patient with anomaly coronary artery. First, these coronary anomalies should result in exclusion from participation in intense competitive sports to reduce the risk of a cardiac event or sudden death. Second, and more importantly, treatment for wrong sinus coronary artery anomalies are revascularization can be either surgical or percutaneous. Surgical intervention should be considered for high-risk varieties of anomalous coronary arteries, as this is the only treatment that has been demonstrated to improve coronary blood flow and carries a low morbidity and mortality

    Outcome trabekulektomi terhadap kontrol tekanan intraokular

    Get PDF
    Tujuan: Membandingkan outcome pada tindakan trabekulektomi, trabekulektomi dengan MMC dan trabekulektomi dengan ekstraksi katarak. Metode:  Penelitian retrospektif dari rekam medis pasien poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang. Hasil: Terdapat 64 kasus dari 46 pasien pada penelitian ini, dengan rasio laki-laki dan perempuan yaitu 1:1. Usia pasien berkisar antara 19 tahun hingga 90 tahun. Dari keseluruhan pasien didapatkan diagnosa POAG pada 67,2% kasus, PACG pada 18,8% kasus, glaukoma juvenile pada 6,2% kasus, dan glaukoma sekunder pada 7,8% kasus. Prosedur yang paling banyak dilakukan adalah trabekulektomi (28 mata) diikuti oleh trabekulektomi dikombinasikan dengan ekstraksi katarak (21 mata) dan trabekulektomi dengan MMC (15 mata). Trabekulektomi atau trabekulektomi dengan MMC menghasilkan efek pengendalian TIO yang lebih baik, yaitu 16,35±7,30 mmHg dan 13,23±6,46 mmHg, dibandingkan dengan trabekulektomi yang dikombinasikan dengan ekstraksi katarak (17,70±5,66 mmHg). Namun demikian, 42,85% kasus setelah trabekulektomi dan 50% kasus setelah trabekulektomi dikombinasikan dengan ekstraksi katarak masih memerlukan setidaknya satu obat untuk mencapai rentang TIO normal dibandingkan dengan hanya 7,14% kasus setelah trabekulektomi dengan MMC. Simpulan: Trabekulektomi dengan MMC lebih unggul daripada trabekulektomi atau trabekulektomi dikombinasikan dengan ekstraksi katarak dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO) dan bermanfaat bagi kontrol TIO dalam jangka panjang

    Preface and ToC - Vol 41, No 3 (2018)

    No full text

    Hubungan pemeriksaan LED dan CRP pada penegakkan diagnosis Spondilitis Tb di RSUP dr. M. Djamil Padang tahun 2014-2016

    Get PDF
    Spondilitis Tuberkulosis (Tb) merupakan manifestasi Tb tulang yang paling berbahaya dan paling sering ditemukan. Perubahan nilai hematologi berupa pengukuran nilai Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) digunakan dalam penegakkan diagnosa, penilaian prognosis dan efektivitas pengobatan Spondilitis Tb. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dan akurasi diagnostik LED dan CRP pada pasien spondilitis Tb. Metode: Penelitian ini menggunakan desain retrospective cohort study pada 53 penderita diduga Spondilitis Tb yang belum pernah mendapatkan terapi OAT, tetapi telah menjalani operasi dan pemeriksaan histopatologi pada periode Januari 2014 hingga Desember 2016, di RSUP dr. M. Djamil Padang dan diolah dengan analisis Fisher’s Exact Test. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian Spondilitis Tb dan nilai LED dengan p-value 0,280 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan yang  bermakna antara kejadian Spondilitis Tb dengan nilai kualitatif CRP dengan p-value 0,886 (p>0,05). Simpulan: Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan LED dan CRP tidak spesifik untuk diagnosis Spondilitis Tb, kecuali CRP memiliki sensitivitas yang tinggi

    Terapi bedah pada vitiligo

    Get PDF
    Vitiligo merupakan suatu gangguan pigmentasi kulit didapat, ditandai dengan adanya makula hipopigmentasi berwarna putih susu berbatas tegas disebabkan oleh hilangnya fungsi melanosit secara kronik dan progresif dari epidermis. Vitiligo merupakan penyakit multifaktorial, gangguan poligenik, dengan patogenesis yang masih belum jelas. Tujuan pengobatan  adalah  terhentinya progresifitas penyakit dan peningkatan repigmentasi. Terdapat tiga pola mekanisme repigmentasi pada vitiligo antara lain berawal dari unit folikel rambut (perifolikular), meluas dari tepi (marginal), dan  difusa. Terdapat beberapa modalitas terapi diantaranya topikal, oral, fototerapi, tindakan bedah maupun alternatif. Tujuan: Untuk mengetahui terapi bedah pada vitiligo. Metode: Review yang dilakukan pada beberapa literatur atau jurnal yang membahas tentang vitiligo dan terapi bedah pada vitiligo. Hasil: Tindakan bedah dapat dibagi menjadi dua teknik dasar yaitu cangkok jaringan yang meliputi split thickness skin grafting, mini punch grafting, cangkok folikel rambut normal dan cangkok selular dengan atau tanpa pembiakkan melanosit. Simpulan: Prinsip dasar tindakan bedah pada vitiligo adalah usaha pembedahan untuk memperoleh  repigmentasi lesi vitiligo yang dapat diterima secara kosmetik dengan transplantasi melanosit autolog dari kulit normal ke lesi vitiligo

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇