Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
    648 research outputs found

    Progressive evolution of thyroid adenoma to thyroid carcinoma

    Get PDF
    Nodules (adenomas), enlarged thyroid (goiter) and inflammation of the thyroid (thyroiditis) are the most important risk factors for thyroid cancer. Adenomas have the largest increase in risk. Objectives: to discuss two cases of adenomas goiter that became aggressive during follow-ups. Cases: Two patients, with an average age of 64 years, referred to Nuclear Medicine dr. M. Djamil Hospital in Padang for bone scintigraphy examination. Both patients had thyroid surgery and histopathology results were adenomas. However, after the removal surgery, the patients did not have proper follow-ups. Both patients developed pelvic pain. Bone scintigraphy showed an increase of radiopharmaceutical uptake at pelvic bones and computerized tomography (CT Scan) result showed destruction at the pelvic bone areas. Conclusions: These cases highlight the necessity for adenoma thyroid patients with a risk factor for thyroid cancer to have a complete follow-up program and sufficient length period

    Korelasi resistive index ginjal dengan proteinuria pada pasien diabetes melitus tipe 2

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi resistive index ginjal dengan proteinuria pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini dilakukan di Bagian Radiologi RS Pendidikan Universitas Hasanuddin Makassar pada Maret s/d Juni 2019. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan kajian potong lintang. Pertama dilakukan penilaian proteinuria, perhitungan eGFR, dan melakukan ultrasonografi Doppler sehingga mendapatkan nilai resistive index. Analisis data statistik melalui uji korelasi Spearman. Sampel penelitian ini sebanyak 82 sampel dengan 41 sampel disertai proteinuria dan dengan 41 sampel tanpa disertai proteinuria. Hasil: Penelitian menunjukkan korelasi kuat antara resistive index ginjal dengan proteinuria (r=0,449 dan r=0,551) dan memiliki hubungan yang signifikan (p<0,0001). Untuk korelasi resistive index ginjal dengan eGFR terdapat korelasi yang kuat (r=0,604 dan r=0,666) serta hubungan yang signifikan (p<0,0001). Dan terdapat korelasi yang cukup antara proteinuria dengan eGFR serta memiliki hubungan yang signifikan (r=0,449; p<0,0001). Simpulan: Semakin tinggi kadar proteinuria, maka semakin tinggi nilai resistive index ginjal pada pasien diabetes melitus tipe 2. Terdapat hubungan yang cukup kuat antara resistive index ginjal kanan dan kiri dengan eGFR pada pasien diabetes melitus tipe 2. Dimana semakin tinggi nilai resistive index ginjal, maka semakin rendah nilai eGFR (semakin tinggi stadium PGK)

    Hubungan kadar feritin dan asupan energi dengan tingkat kebugaran mahasiswi DIII Gizi STIKes Perintis

    Get PDF
    Kebugaran jasmani merupakan salah satu indikator kesehatan yang penting. Kebugaran dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain feritin di dalam tubuh dan asupan energi. Feritin yang rendah menyebabkan anemia, dan dapat menurunkan tingkat kebugaran  fisik. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar feritin dan asupan energi dengan tingkat kebugaran pada mahasiswi Prodi DIII Gizi STIKes Perintis Padang. Metode: Desain penelitian cross-sectional, observasi pada seluruh mahasiswi Program Studi DIII Gizi STIKes Perintis Padang. Sampel sejumlah 66 orang. Kadar feritin diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat dengan metode ECLIA, asupan energi dengan Food Frequency Questionaire (FFQ), dan tingkat kebugaran dengan metode Harvard Step Test. Analisis statistik yang digunakan adalah T-independen untuk mengetahui hubungan kadar feritin dan asupan energi dengan tingkat kebugaran mahasiswi. Hasil: Didapatkan rerata kadar feritin mahasiswi adalah 86,6±106,8 ng/mL; rerata asupan energi mahasiswi adalah 1688,4±484,8 kkal/hari; dan sebagian besar mahasiswi tidak bugar. Analisis statistik menunjukkan ada perbedaan yang signifikan rerata kadar feritin dalam darah dan asupan energi antara responden yang bugar dengan yang tidak bugar (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar feritin dan asupan energi dengan tingkat kebugaran

    Potensi kopi sebagai zat gizi fungsional untuk kesehatan kardiovaskuler

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui efek konsumsi kopi sebagai zat gizi fungsional bagi kesehatan kardiovaskuler dengan memperhatikan kandungan zat aktif, jumlah konsumsi kopi dan cara pengolahan yang dianjurkan. Metode: Dilakukan penelusuran artikel yang relevan pada basis data PubMed dan Google Scholar selama 10 tahun terakhir. Hasil: Kopi memiliki banyak kandungan zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan dalam biji kopi dapat mencegah kejadian penyakit kardiovaskuler melalui beberapa mekanisme, seperti meningkatkan vasodilatasi, mencegah kerusakan endotel, dan mempengaruhi nitrit oksida pada dinding pembuluh darah. Efek positif ini didapatkan dengan cara pengolahan dan  dosis yang sesuai. Pengolahan dengan teknik filter dan dosis konsumsi dalam jumlah sedang dapat memberikan efek yang baik terhadap kesehatan kardiovaskuler. Beberapa keadaan harus diperhatikan dalam mengonsumsi kopi; pada wanita hamil dan lansia konsumsi kopi harus dibatasi atau dihentikan. Simpulan: Kopi merupakan zat gizi fungsional yang memberikan efek positif terhadap kesehatan kardiovaskuler

    Stenosis aorta dengan penyulit hiperkalemia

    Get PDF
    Stenosis Aorta (SA) merupakan salah satu kelainan katup jantung yang sering ditemui, dan juga merupakan indikasi untuk dilakukannya operasi penggantian katup. Kalium adalah ion ekstraselular berperan penting dalam pengaturan elektrofisiologis fungsi miokard. Hiperkalemia dapat dikaitkan dengan kelainan elektrokardiografi yang sering terjadi. Secara umum, hiperkalemia menghasilkan penurunan kecepatan rangsangan dan konduksi secara bertahap pada sel pacu jantung dan jaringan di seluruh jantung. Tujuan: Memaparkan mengenai stenosis aorta baik secara diagnostik maupun penatalaksanaan. Kasus: Wanita 79 tahun dengan keluhan utama pusing setelah aktivitas. Nyeri dada tidak menjalar saat aktivitas dan berkurang saat istirahat sejak satu minggu sebelumnya. Riwayat nyeri dada sejak 1 tahun terakhir saat aktivitas dan tidak muncul saat istirahat. Sesak nafas muncul 7 hari rawatan, tidak menciut, tidak dipengaruhi makanan atau cuaca, terutama saat nyeri dada. Pasien didiagnosis stenosis aorta berat dengan hiperkalemia. Simpulan: Berdasarkan manajemen stenosis aorta, pasien direncanakan angiografi. Jika ada penyumbatan koroner disarankan Coronary Artery Bypass Grafting sekaligus penggantian katup aorta

    Aktivitas anti jamur ekstrak etanol daun kesum (Polygonum minus Huds.) terhadap jamur Trichophyton mentagrophytes

    Get PDF
    Dermatofitosis merupakan penyakit kulit yang diakibatkan oleh kolonisasi jamur dermatofita yang menyerang jaringan keratin epidermis bagian superfisial seperti kulit, kuku, dan rambut. Salah satu spesies terbanyak penyebab dermatofitosis yaitu Trichophyton mentagrophytes. Tanaman Kesum (Polygonum minus Huds.) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai anti jamur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti jamur ekstrak etanol daun Kesum terhadap jamur Trichophyton mentagrophytes, dan mengetahui diameter zona hambat oleh ekstrak etanol daun Kesum terhadap Trichopyton mentagrophytes. Metode: Aktivitas anti jamur diuji dengan metode difusi cakram. Analisis metabolit sekunder ekstrak etanol daun Kesum menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Kontrol positif yang digunakan adalah Itrakonazol 8µg, dan kontrol negatif adalah DMSO 10%. Hasil: Ekstrak etanol daun Kesum memiliki aktivitas anti jamur pada konsentrasi 40% dan 80% dengan rata-rata diameter zona hambat 10,125 mm dengan kategori sedang dan 20,625 mm dengan kategori sangat kuat. Hasil skrining fitokimia didapatkan terpenoid, flavonoid, alkaloid, saponin dan fenol. Simpulan: Ekstrak etanol daun Kesum berpotensi sebagai obat anti dermatofita terhadap Trichophyton mentagrophytes

    Prognostic factors influencing prolonged ventilation after open mitral valve surgery

    Get PDF
    Objective: To determine prognostic factors influencing prolonged ventilation after surgery in our hospital. Method: Seventy-five patients fulfilled inclusion criteria were included in this retrospective cross-sectional study. Prognostic factors analyzed were age, chronic pulmonary disease, heart failure (NYHA class function), left ventricular (LV) dysfunction (based on ejection fraction), recent myocardial infarction, pulmonary hypertension (PH), duration of cardiopulmonary bypass (CPB), ischemic time and aorta clamp time, which were analyzed in relation to prolonged ventilation after open mitral valve surgery. Results: Subjects were 75 patients aged between 19 and 62 years old (mean 39.76, SD 11.44) whom underwent open mitral valve repair or replacement surgery. Twenty-three patients (30.67%) had prolonged ventilation (≥24 hours) after surgery. Bivariate analysis showed there were no significant correlation between age, heart failure, PH and LV dysfunction. There are different with statistically significance between groups (p<0.05). Conclusions: In this study, almost one-third of patients had prolonged ventilation after surgery. Factors influencing this morbidity were the duration of ischemic time, aorta clamp time and CPB. Age, heart failure, LV dysfunction and PH were not statistically related to the prolonged ventilation event

    Retropharyngeal abscess, submandibular abscess, and regio colli abscess with bronchopneumonia in a 2.5-month-old boy

    Get PDF
    Deep neck space infections (DNSIs) in pediatric require more intimate management because of their rapidly progressive nature. Delay in diagnosis and treatment may lead to life-threatening complications. Objective: To report DNSIs as one of emergency case in children. Early diagnosis and immediate management can decrease morbidity and mortality rate in children. Case: A case of a 2.5-month-old boy with chief complain breathlessness due to deep neck space infections and bronchopneumonia. Patient was getting better after surgical drainage. Conclusions: It most commonly occurs in children younger than four years of age having medical history of streptococcal pharyngitis, rarely as a complication of recent trauma, odontogenic infection or extension of vertebral osteomyelitis. Management often consists of antimicrobial therapy and surgical drainage. With the cooperation of ENT specialist and pediatrician/pediatric infectious disease specialist. Management in PICU is mandatory due to high risk of complications

    Peran mikrobiota usus dalam perkembangan obesitas

    Get PDF
    Sampai sekarang etiologi  obesitas masih belum jelas dan masih diperdebatkan. Baru-baru ini mikrobiota usus dianggap sebagai salah satu faktor yang berperan terhadap kejadian obesitas. Tujuan: Untuk membahas tentang peran mikrobiota usus terhadap kejadian obesitas. Metode: Artikel ini disusun berdasarkan review beberapa literature yang berhubungan dengan peran mikrobiota usus baik pada hewan coba maupun pada manusia dengan berbagai metode penelitian. Hasil: Pada penelusuran literature didapatkan  peran mikrobiota usus terhadap kejadian obesitas dapat melalui beberapa mekanisme yaitu melalui jalur metabolik, inflamasi dan hormonal. Jalur metabolik dengan peningkatan produksi Short-Chain Fatty Acid (SCFA), perubahan metabolisme asam empedu dan FXR/TGR5 signaling, jalur inflamasi dengan peningkatan lipopolisakarida (LPS) dan endocannabinoid (eCB) system yang mengatur metabolisme dan rasa lapar melalui microbiota-gut-brain axis serta jalur hormonal yaitu penekanan fiaf, peningkatan Peptide YY (PYY), dan ekspresi dari G protein coupled receptors (GPCRs). Simpulan: Beberapa penelitian menunjukkan mekanisme utama peran mikrobiota terhadap perkembangan obesitas dapat melalui jalur metabolik, inflamasi, maupun hormonal

    Efek minyak ikan toman (Channa micropeltes) terhadap kadar profil lipid mencit jantan (Mus musculus) model dislipidemia

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui efek minyak ikan toman (Channa micropeltes) terhadap profil lipid pada mencit jantan (Mus musculus). Metode: Penelitian ini adalah eksperimental laboratorium menggunakan rancangan randomized pre- dan post-test dengan menggunakan hewan coba yaitu 35 ekor mencit jantan (Mus musculus) yang telah diinduksi model hiperkolesterol menggunakan pakan tinggi lemak, kemudian dikelompokkan menjadi 7 kelompok untuk perlakuan, yaitu: kontrol negatif, kontrol positif dengan Simvastatin, kontrol positif dengan Gemfibrozil, minyak ikan dosis I (0,05g/30gBB), minyak ikan dosis II (0,1g/30gBB), minyak ikan dosis III (0,2g/30gBB), dan minyak ikan dosis IV (0,4g/30gBB). Pemeriksaan profil lipid dilakukan dengan mengambil sampel darah mencit dan diperiksa dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil: Minyak ikan toman dapat menurunkan kadar kolesterol total, Low-Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida pada mencit dengan Dosis II, dosis III, dan dosis IV sedangkan untuk kadar High-Density Lipoprotein (HDL) dapat turun pada dosis iv. Simpulan: Minyak Ikan toman dapat menurunkan kadar profil lipid pada mencit jantan model dislipidemia

    581

    full texts

    648

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇