Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
Hubungan Posisi Belajar dan Lama Duduk dengan Disabilitas Akibat Nyeri Punggung Bawah pada Mahasiswa FK USU Tahun 2020
Latar Belakang : Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan masalah kesehatan dunia yang sangat umum, yang menyebabkan pembatasan aktivitas dan juga ketidakhadiran kerja. Nyeri punggung bawah memang tidak menyebabkan kematian, namun menyebabkan individu yang mengalaminya menjadi tidak produktif sehingga akan menyebabkan beban ekonomi yang sangat besar baik bagi individu, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Tujuan : Untuk mengtahui apakah ada huungan antara posisi belajar dan lama duduk dengan disabilitas akibat nyeri punggung bawah pada mhasiswa FK Universitas Sumatera Utara pada tahun 2020. Metode : Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional yang akan dilakukan dengan menggunakan data primer dari kuesioner menggunakan teknik simple random sampling pada mahasiswa FK Universitas Sumatera Utara. Hasil : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara posisi belajar dengan disabilitas akibat nyeri punggung bawah (p=0,465) (p≤0,05) dan tidak terdapat juga hubungan yang signifikan antara lama duduk dengan disabilitas akibat nyeri punggung bawah (p=0,159) (p≤0,05). Kesimpulan : Posisi belajar dan lama duduk tidak memiliki hubungan dengan disabilitas akibat nyeri punggung bawah
Efek Postur, Lama Duduk, dan Ukuran Laptop Terhadap Nyeri Leher Selama Pembelajaran Daring
Pandemi COVID 19 yang terjadi di seluruh dunia mengakibatkan terhambatnya sistem belajar mengajar sehingga diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal tersebut mengakibatkan mahasiswa kedokteran melakukan kegiatan pembelajaran daring menggunakan peralatan elektronik yaitu laptop. Penggunaan laptop dapat mengakibatkan adanya faktor risiko nyeri leher diantaranya postur duduk, lama duduk, dan ukuran laptop. Mahasiswa kedokteran preklinik memiliki prevalensi yang tinggi untuk nyeri muskuloskeletal dalam penggunaan laptop, yang paling banyak di antaranya nyeri leher. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek faktor risiko dalam penggunaan laptop terhadap nyeri leher pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini dilakukan secara potong lintang pada 56 responden mahasiswa kedokteran di DKI Jakarta. Pada hasil penelitian ditemukan semua responden mengalami nyeri muskuloskeletal, paling banyak mengalami nyeri leher bawah. Responden paling banyak memiliki postur duduk risiko rendah (skor 3-4), lama duduk menggunakan laptop selama lebih dari atau sama dengan 8 jam dalam sehari, dan memakai laptop dengan layar berukuran lebih dari atau sama dengan 14 inchi. Berdasarkan hasil analisis data fisher ditemukan adanya efek jenis kelamin terhadap nyeri leher bawah dengan nilai p 0,044 (p<0,05) dan tidak ditemukan adanya efek IMT, postur duduk, lama duduk, dan ukuran laptop terhadap nyeri leher. Kesimpulannya terdapat efek jenis kelamin terhadap nyeri leher bawah
Profil Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) Betina Galur Sprague Dawley yang Terpajan 7,12 Dimetilbenz(α)Antracene dan Diberi Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.)
AbstractObjective : The purpose of this study is to describe the histopathological profile of the liver in Sprague Dawley white rats exposed to DMBA and given ethanol extract of bawang dayak bulbs (EEUBD). Methods : The method used in this research is descriptive by comparing the profile of 5 groups of white female rats  Sprague Dawley strain. Each group comprised of five rats. Group I (DMBA control group) received DMBA at a dosage of 20 mg/kgBW, while Normal group was given corn oil and DMSO 5% only. The other three groups received DMBA + EEUBD at dosages of 180 mg/kgBW, 360 mg/kgBW, and 720 mg/kgBW. At the end of the study, rat livers were collected and stained with hematoxylin and eosin (H&E) Results : The results obtained by the Kruskal-Wallis test showed a p value of 0.512 for the difference in the mean results of each treatment group. Conclusion : There was no significant difference between the three treatment doses on the histopathological liver profile of white rats induced by DMBA . Keywords: Eleutherine bulbosa; Histopathology; Liver; DMBA; White ra
Nilai Transcranial Doppler/TCD pada populasi sehat usia 20-60 tahun di RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang
 Terlampi
Artritis Septik
Artritis septik (dikenal juga dengan artritis piogenik atau artritis supurativa) merupakan kondisi emergensi akibat infeksi oleh bakteri pada sendi sehingga mengakibatkan terbentuknya pus pada rongga sendi bersangkutan. Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan insiden terjadinya artritis septik. Diagnosis dan tatalaksana dini penting dilakukan dalam kondisi ini untuk mencegah kerusakan sendi. Kami melaporkan sebuah kasus artritis septik pada laki-laki dewasa dengan DM tipe II, dislipidemia, dan tromboemboli vena. Seorang laki-laki 37 tahun dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil dengan keluhan lutut kanan nyeri, bengkak, kemerahan, dan kaku dengan riwayat DM tipe II tidak terkontrol. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan tanda inflamasi pada lutut kanan disertai keterbatasan ROM. Punksi  dan analisis cairan sendi dilakukan untuk memastikan diagnosis yang diderita pasien tersebut. Dilakukan penatalaksanaan dengan memberikan, steroid, gabapentin, ditambahkan ketorolak serta antibiotik spektrum luas. Penyakit sekunder yang menyertainya juga ditatalaksana sebagaimana mestinya.Â
Hubungan Kadar Glial Fibrillary Acidic Protein Serum dengan Severitas dan Luaran Cedera KepalaTraumatik
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar GFAP dengan severitas dan luaran 6 bulan pascacedera kepala. Metode : Ini adalah studi potong lintang, dimana kadar GFAP dinilai dengan metode ELisa, saat kunjungan pasien di IGD. Pada saat bersamaan dinilai Glascow Coma Scale (GCS) untuk severitas dan luaran dinilai dengan Glasgow Outcome Scale (GOS) 6 bulan pascacedera. Analisa bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan GFAP dengan severitas dan outcome. Hasil : Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki (72,7%) dengan median usia 36 tahun (18-60). Kadar GFAP serum lebih tinggi pada kelompok cedera kepala berat (CKB) dibandingkan kelompok cedera kepala sedang (CKS) dan cedera kepala ringan (CKS). Ditemukan hubungan bermakna antara kadar GFAP dengan severitas CKT (p=0,017). Tidak ada perbedaan kadar GFAP fase akut dengan baik buruknya luaran 6 bulan pascacedera (p=158). Kesimpulan : Ada hubungan kadar GFAP pada fase akut dengan severitas cedera kepala traumatik dan tidak ada hubungan kadar GFAP dengan luaran (GOS) 6 bulan pascacedera.Â
Kadar Amoniak Darah Pasien Sirosis Hati dengan Ensefalopati Hepatik Minimal
Ensefalopati Hepatik (EH) merupakan sindrom neuropsikiatri yang dapat terjadi pada penyakit hati akut dan kronik berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar amoniak pasien sirosis hati dengan ensefalopati hepatick minimal pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 43 pasien yang diteliti, didapatkan 3(6,98%) pasien dengan kadar amoniak darah berada dalam nilai normal, sedangkan 40(93,02%) pasien mengalami peningkatan. Nilai amoniak paling tinggi didapatkan 67 µg/dL.  Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada pasien sirosis dengan EHM terjadi peningkatan kadar ammonia darah
Gambaran Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Kemih Pada Urin Penderita Diabetes Melitus Tipe 2
Tujuan: Mengetahui jenis bakteri penyebab ISK pada urin pasien DM tipe 2 di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Kota Pontianak. Metodologi: Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian sebanyak 23 pasien. Identifikasi bakteri menggunakan metode makroskopik, mikroskopik, dan uji biokimia. Hasil: Jenis bakteri yang ditemukan pada pasien DM Tipe 2 dengan ISK adalah yaitu Escherichia coli (45%), Pseudomonas aeruginosa (34%), Enterobacter aerogenes (10%), Shigella sp. (7%), dan Klebsiella sp. (3%). Penderita DM Tipe 2 dengan ISK paling banyak berusia 60-69 tahun, berjenis kelamin perempuan, lama menderita DM antara >5-20 tahun, dan memiliki gejala ISK. Kesimpulan: Hasil pemeriksaan jenis bakteri penyebab ISK pada penderita DM tipe 2 adalah Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Shigella sp dan Klebsiella s
The Relationship of Genetic Diversity of Human Immunodeficiency Virus-1 with Acquired Drug Resistance Mutation in HIV Patients on First-Lines Antiretroviral Therapy
Aim: This study aims to determine the relationship of HIV-1 genetic diversity with acquired drug resistance mutation in HIV-1 patients who receive first-line antiretroviral drugs at RSUP Dr. M. Djamil Padang. Methods: The study was conducted on 20 people with HIV who were diagnosed based on HIV-1 antibody screening tests using simple / rapid methods at the Central Laboratory of RSUP Dr. _ _ M. Djamil Padang and had received first-line ARV therapy for at least 6 months . Furthermore, proviral HIV-1 DNA extraction was carried out and amplification using a PCR (nested PCR technique) with a specific primer against reverse transcriptase at the Biomolecular Laboratory of the Microbiology Section of the Faculty of Medicine, Andalas University .  Result: The results showed that HIV-1 genetic diversity and changes in ARV regimens with the discovery of drug resistance mutations obtained for first-line ARVs were expected to be the basis for the management of HIV/AIDS patients. Conclusion: The conclusion of this study is that HIV-1 genetic diversity found is a form of recombinant CRF-AE and CRF- BC and subtypes A and B , a acquired drug resistance found is M184L and T215N (types of mutations that are resistant to NRTI- class ARVs)Â
Gene Polymorphisms Vitamin D Receptor Against Dengue Infection In Children
BACKGROUND: Dengue infection is a vector-born disease associated with endemic areas in the tropics and subtropics. Genetic factors that play a role such as mutations and polymorphisms that influence a person's susceptibility to dengue fever. AIM: This study aims to determine gene polymorphisms of vitamin D against dengue infection in children. MATERIAL AND METHODS: This study was an observational study with a cross-sectional design, where the dependent and independent variables were examined at the same time in pediatric patients who were hospitalized with clinical symptoms of dengue infection at Raden Mattaher Hospital Jambi and Baiturrahim Jambi Hospital who met the inclusion criteria with positive anti-dengue IgM. and or positive anti-dengue IgG in children aged less than two years to eighteen years. RESULT: The results showed that the relationship between patients who have polymorphisms in one of the vitamin D receptor genes will experience heavier dengue infection than those who do not have polymorphisms in the vitamin D receptor gene and this difference is statistically significan (p= 0.005). CONCLUSION: This study concluded that there was a relationship between vitamin D receptor gene polymorphisms and the degree of dengue virus infection. Keywords: Dengue infection in children, Vitamin D receptor gene polymorphisms, vitamin D leve