Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
Differences in Levels of 25-hydroxyvitamin D, Human Chorionic Gonadotropin (hCG), and Progesterone in Normal Pregnancy and First Trimester Abortion
Early pregnancy failure was defined as the failure of an intrauterine pregnancy less than 12 weeks old.This research is a comparative analytic study with a cross  sectional   approach. the sampling technique was consecutively taken. The normality of data was tested with the Saphiro Wilk test and data analysis with the Independent T test.Vitamin D levels were significantly higher in normal pregnancies than in the abortion group, in line with vitamin D levels as well as hCG levels and progesterone levels were significantly higher in normal pregnancies than in the abortion group. This explains the theory that vitamin D in trophoblast plays a role in regulating the production of hCG and progesterone.The conclusion in this study was that the average level of 25-hydroxyvitamin D, Human Chorionic Gonadotropin(hCG), and Progesterone were significantly different between normal pregnancies and pregnancies that had abortions in the first trimester
Analisis dan Prediksi Uji Biokimia Fungsi Liver pada Pemberian Ekstrak Kunyit Putih (Curcuma zedoaria) Setelah dan Sebelum Paparan Parasetamol Dosis Tinggi
Kegagalan fungsi liver yang akut banyak disebabkan oleh penyalahgunaan parasetamol atau Acetaminophren. Parasetamol dosis tinggi menyebabkan nekrosis liver dan kegagalan fungsi liver. Pada liver, parasetamol diubah menjadi N-acetyl-para-benzo-quinine imine (NAPQI), yang meningkatkan stress oksidatif dan disfungsi mitokondria. Disfungsi liver ditandai dengan peningkatan enzim SGOT dan SGPT serta rasio keduanya. Penggunaan rimpang Curcuma zedoaria dipercaya dapat memberikan proteksi terhadap liver. Kandungan antioksidan fenolik di dalamnya memiliki kemampuan menangkal radikal hidroksil, sehingga diharapkan dapat memulihkan stres oksidatif, melindungi terhadap paparan parasetamol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak rimpang Curcuma zedoaria setelah dan sebelum pemberian parasetamol dosis yang tinggi, melalui kadar enzim SGOT dan SGPT, serta rasio keduanya. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus jantan dewasa (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu KN; KP yang diberikan parasetamol dosis tinggi 1,35 g/ Kg BB; kelompok perlakuan yang diberi ekstrak Curcuma zedoaria dosis 105mg/ 200 g BB pada 2 jam sesudah (P1) dan sebelum pemberian parasetamol (P2). Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan ANOVA dengan nilai p sebesar 0,019 dan 0,027. Penurunan kadar SGOT dan SGPT terendah pada kelompok P2 yaitu 156,06 IU dan 151,90 IU. Rasio SGOT/SGPT tertinggi pada KP sebesar 2,21 IU/L
Gambaran Hasil Coomb’s Test pada Pasien Keganasan Hematologi di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Tujuan: Mengetahui gambaran coomb’s test pasien keganasan hematologi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian deskriptif dilakukan terhadap pasien keganasan hematologi yang diperiksakan coomb’s test periode Juli 2019 hingga Juni 2021. Data ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 43 subjek penelitian terdiri dari laki-laki 24 pasien (55,8%) dan perempuan 19 pasien (44,2%) dengan rerata umur 44 (15,9) tahun. Rerata hemoglobin dan retikulosit adalah 7,4 (1,9) g/dL dan 5,6 (4,0)%. Coomb’s test positif pada 24 pasien (55,8%). Direct coomb’s test (DCT), indirect coomb’s test (ICT) serta keduanya positif pada 19, satu dan empat pasien. Diagnosis keganasan hematologi terbanyak adalah leukemia granulositik kronik (LGK), yaitu 28 pasien (65,1%) dengan coomb’s test positif pada 20 pasien (46,5%). Coomb’s test positif pada lima dari 14 pasien (35,7%) yang sudah mendapatkan kemoterapi dan pada tiga dari 10 pasien (30%) dengan riwayat transfusi berulang. Pembahasan: Coomb’s test pada pasien keganasan hematologi tidak rutin dilakukan. Indikasi pemeriksaan adalah kecurigaan hemolisis diantaranya retikulositosis tanpa perdarahan. Sebanyak 55,8% subjek memiliki coomb’s test positif menujukkan hemolisis terjadi pada pasien keganasan hematologi. Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan variasi jenis keganasan hematologi yang sama. Simpulan: Coomb’s test positif dapat ditemukan pada pasien keganasan hematologi
Penatalaksanaan Benda Asing Kacang Pilus di Bronkus yang Mengalami Keterlambatan Diagnosis
Pendahuluan: Aspirasi benda asing adalah kejadian yang sering terjadi terutama pada anak-anak. Benda asing kacang-kacangan (eksogen organik) merupakan jenis benda asing trakeobronkial tersering pada anak. Kejadian ini dapat membahayakan nyawa sehingga diperlukan tindakan ekstraksi dengan segera. Keterlambatan diagnosis dapat terjadi dikarenakan kelalaian orang tua, gejala awal yang tidak khas dan kesalahan diagnosis awal yang dapat mengakibatkan kemungkinan komplikasi seperti inflamasi dan jaringan granulasi yang membuat gejala menjadi lebih berat. Bronkoskopi kaku merupakan standar emas diagnosis dan penatalaksanaan pada aspirasi benda asing organik. Laporan Kasus : Dilaporkan satu kasus benda asing di bronkus kanan pada seorang anak perempuan usia 1 tahun yang mengalami komplikasi inflamasi, jaringan granulasi dan pneumonia aspirasi. Pasien dilakukan tindakan bronkoskopi kaku pada minggu ke tiga setelah tersedak benda asing. Kesimpulan : Benda asing kacang pilus adalah benda asing organik yang dapat menyebabkan inflamasi, terbentuknya jaringan granulasi pada mukosa bronkus dan pneumonia yang akan timbul jika tidak segera ditatalaksana.Kata kunci: Aspirasi, kacang pilus, keterlambatan diagnosis, bronkoskopi kaku
The Changes in Color of Pineapple Stem Extract (Ananas comosus (L.) Merr) with Carbamide Peroxide as a Dental Bleach toward Dental Surface Violence in Vitro
Objective: The purpose of this research was to determine the effectiveness comparison of pineapple stem extract (Ananas comosus (L.) Merr) and carbamide peroxide home bleaching for tooth whitening agent. Methods: The method of this research was in vitro experimental laboratory. The sample was 28 post-extracted premolar teeth divided into 4 groups (50%, 75%, and 100% concentration of pineapple stem extract) and control soaked in carbamide peroxide 10%. The measurement of color changes was observed with shade guide Vitapan Classical. This study used Kruskal Wallis test for data analysis (p<0.05). Results: This research showed that the mean of tooth color difference respectively for 50%, 75%, 100% concentration of pineapple stem extract and carbamide peroxide 10% were 8.14, 10.14, 12,00 and 9.14. The highest mean was pineapple stem extract 100% and the lowest mean was pineapple stem extract 50%. Conclusion: The conclusion of this study was pineapple stem extract 100% was more effective than 50%, 75% concentration of pineapple stem extract and carbamide peroxide 10%.  Keywords: Pineapple stem extract, Carbamide peroxide, Tooth whitenin
Diabetes Melitus Tipe 2 dan Empiema Tuberkulosis
Pendahuluan: Diabetes melitus menjadi salah satu faktor risiko terjadinya empiema. Pasien diabetes melitus memiliki risiko 1.65 kali lebih tinggi terkena empiema. Empiema didefinisikan sebagai kumpulan pus atau nanah pada rongga pleura. Angka kejadian empiema tuberkulosis mencapai 38.7% dari kejadian empiema bukan karena tuberkulosis sebanyak 61.3%. Insiden empiema pleura pada pasien diabetes terjadi lebih banyak dibandingkan pasien nondiabetes.Laporan Kasus: Telah dirawat pasien perempuan usia 36 tahun dengan empiema TB dan diabetes melitus tipe 2. Pasien dilakukan evakuasi pus melalui pemasangan chest tube, pemeriksaan enzim adenosine deaminase (ADA), BTA dan kultur pus. Terapi diabetes tipe 2 pada pasien diberikan injeksi insulin.Kesimpulan: Manajemen empiema tuberkulosis dengan komorbid diabetes melitus secara komprehensif yaitu drainase pus, pemberian obat anti tuberkulosis yang efektif dan tatalaksana terhadap infeksi sekunder dan komorbid
Efek Aktivasi Jalur Apoptosis Sel T pada Derajat Keparahan Pasien dengan COVID-19
Pendahuluan: Sel T merupakan salah satu jenis sel imunitas yang memiliki peran vital pada perlawanan tubuh terhadap penyakit infeksi yang salah satunya adalah COVID-19. Sehingga terjadinya apoptosis sel T diduga merupakan salah satu indikator yang disinyalir sangat penting dalam perjalanan progresitivitas penyakit COVID-19 menjadi lebih berat. Tujuan: Mengetahui efek apoptosis sel T pada derajat keparahan pasien dengan COVID-19. Metode: Jurnal dipilih dari database online yang sudah dipulikasi pada sciencedirect, proquest, pubmed, springer, dan google scholar dengan kriteria inklusi jurnal akses terbuka, berbahasa inggris, dan indikator apoptosis sel T yang valid. Artikel yang direview akan dianalisis menggunakan diagram alur PRISMA. Hasil: Dari tujuh jurnal yang sudah dilakukan sistematik review menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingginya nilai indikator apoptosis sel T dengan tingginya derajat keparahan pasien dengan COVID-19. Simpulan: Apoptosis sel T terbukti sangat mempengaruhi derajat keparahan pasien dengan penyakit COVID-19 sehingga jalur yang mengintervensi aktivasi apoptosis sel T dapat menjadi pilihan untuk mencegah progresitivitas penyakit COVID-19 menjadi lebih buruk.Â
Bioaktivitas Antikanker dari Quercetin Bertarget Src dalam Terapi Kanker Paru Bukan Sel Kecil
Kanker paru adalah salah satu jenis kanker yang paling umum dengan penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia. Kanker paru bukan sel kecil (NSCLC) adalah jenis kanker yang menyumbang sekitar 85% dari semua kejadian kanker paru-paru. Ini juga memiliki prognosis dan pilihan pengobatan yang buruk. Src adalah salah satu target paling efektif yang terkait dengan pengembangannya. Penelitian ini merupakan studi tinjauan pustaka dengan menggunakan data dari penelitian asli berdasarkan studi in vitro dan in vivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Que menghambat induksi proliferasi dan metastasis sel NSCLC dengan menekan ekspresi Src yang kemudian menghambat jalur pensinyalan Fn14/NF-κB. Quercetin juga mengganggu pensinyalan faktor nuklir kappa B (NF-κB) yang mengatur ekspresi beberapa gen yang terlibat dalam karsinogenesis, peradangan, dan sitoprotektif. Dengan membungkam Src, metastasis kanker paru-paru akan berkurang. Ketika Src dihambat, sel-sel yang dilepaskan mengalami anoikis sehingga terjadi kematian sel dengan kecepatan mekanisme penghambatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa quercetin berperan sebagai antikanker melalui penghambatan proliferasi tumor, metastasis, dan angiogenesis melalui jalur pensinyalannya pada sel kanker paru. Diharapkan ada penelitian berkelanjutan untuk meningkatkan status kesehatan global, khususnya pada pasien NSCLC
Suplementasi VCO mempengaruhi kadar sitokrom-P450-aromatase dan 17β-hidroksisteroid-dehidrogenase-1 Rattus novergicus model obesitas
Obesitas adalah salah satu faktor risiko infertilitas. Tingginya berbagai sitokin pro-inflamasi meningkatkan sitokrom-P450-aromatase dan 17βHSD1 pada obesitas. VCO kaya akan Medium-Chain-Fatty-Acid dan fitokimia sebagai anti-inflamasi. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh VCO terhadap penurunan berat badan, penurunan kadar sitokrom-P450-aromatase dan 17βHSD1 tikus putih betina obesitas.Metode: post test only control group, terhadap 30 ekor tikus yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: kelompok kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), dan perlakuan (P). Kelompok K+ dan P diinduksi diet tinggi lemak selama 10 minggu, selanjutnya kelompok P diberi VCO pada minggu ke-7 s/d minggu ke-10. Hari pertama minggu ke-11 seluruh tikus dieksekusi, jaringan adiposa inguinal diambil, dihomogenatkan dan dilakukan pemeriksaan kadar sitokrom-P450-aromatase dan 17βHSD1 menggunakan ELISA. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro Wilks (p>0,05). Uji hipotesis menggunakan uji one way Annova dan post hoc Bonferroni.Hasil: Rerata berat badan tikus pada kelompok K-:209,80±5,712, K+:242,60±11,787, P:233.20±3.225. Rerata kadar sitokrom-P450-aromatase pada kelompok K-:8,742±0,869, K+:11,964±1,699, P:10,282±1,319. Rerata kadar 17βHSD1 pada kelompok K-:8,972±0,917, K+:11,476±0,509, P:9,736±0,444. Hasil analisis One Way Annova menunjukkan VCO dapat menurunkan berat badan (p=0,001), menurunkan kadar sitokrom-P450-aromatase (p=0,001) dan kadar 17βHSD1 (p=0,001) secara bermakna.Kesimpulan: Pemberian VCO dapat menurunkan berat badan, menurunkan kadar sitokrom-P450-aromatase dan 17βHSD1 tikus putih betina obesitas.Kata kunci: berat badan, 17-hydroxysteroid-dehidrogenase-1, Sitokrom-P450-aromatase, obesita
Hubungan Infeksi HIV Pada Ibu hamil dengan Persalinan Prematur di RSD Dr. Soebandi Jember
Human Immunodeficiency Virus (HIV) infectionin pregnant women was increasing in Indonesia. HIV infection will lead complication risk to the mother and their babies. Objective: This study aims to determine the association of HIV infection in pregnant women and preterm birthat RSD Dr. Soebandi Jember.Method:An analytics descriptive with retrospective approach study was conducted. The subjects were medical records of HIV-positive pregnant women group and HIV-negative pregnant women group at RSD Dr. Soebandi Jember from August 2014 to July 2017. Result:Each of groups had 52 samples. In the HIV-positive pregnant women group, there were 19 preterm and 33 aterm birth, on the other hand, in the HIV-negative pregnant women group, there were 15 preterm and 37 aterm birth. The Chi Square test analysis was obtained p value = 0.403 (OR = 1.42). Conclusion: There was no significant correlation between HIV infection in pregnant women and preterm birth