Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
Omega-3 for Inflammatory Bowel Disease: Is it worthy?- A Literature Review
Tujuan: Memberikan pemahaman mengenai potensi terapeutik asam lemak omega-3 dalam penanganan Inflammatory Bowel Disease (IBD). Metode: Artikel ini disusun berdasarkan metode tinjauan literatur. Sumber data diperoleh dari artikel-artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional berbahasa Inggris. Proses pencarian literatur dilakukan melalui mesin pencari Google Scholar dan PubMed. Hasil: Inflammatory Bowel Disease (IBD), yang mencakup kondisi seperti Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn's Disease (CD), merupakan kelompok gangguan inflamasi kronis yang mempengaruhi saluran pencernaan. Dalam beberapa tahun terakhir, asam lemak omega-3 telah menjadi titik perhatian dalam diskusi IBD, terutama karena sifat anti-inflamasinya. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa diet kaya omega-3 dapat meningkatkan kemungkinan remisi klinis pada pasien IBD. Sebagai contoh, pasien UC yang mengonsumsi salmon Alaskan dalam jumlah tinggi menunjukkan penurunan marker inflamasi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan: Bukti saat ini menunjukkan bahwa makanan alami yang kaya omega-3, seperti salmon, memiliki potensi manfaat dalam penanganan Inflammatory Bowel Disease
Pengaruh pemberian ekstrak centella asiatica terhadap kadar gula darah sewaktu tikus (rattus novergicus) model cedera otak traumatik
Hyperglycemic is common in traumatic brain injury (TBI). Centella asiatica (CA) has antioxidant and antihyperglycemic effects. Objective: To determine the effect of CA on GDS in rat with TBI models. Methods: true experimental design with post test only controlled group design. The study used 35 experimental animals randomly divided into 5 groups. P1 was healthy rat, P2 was sick rat, P3, P4, and P5 were the model group TBI and given CA with dose of 150, 300, and 600 mg/kgbb/day. Administration of CA which was given orally and measurement of GDS levels was done after 7 days of treatment. The statistical test used the One Way ANOVA test, the Post Hoc LSD test. Results: Mean GDS at P1 = 94.78 ± 42.47; P2 = 90.97 ± 06.44; P3 = 110.21 ± 3.70; P4 = 122.35 ± 4.91; and P5 = 128.57 ± 3.90. The One Way ANOVA test results show the fact that there is a statistically significant population (p = 0.000). The results of the LSD Post Hoc Test showed that there was a difference between P1 and P3, P4 and P5; P2 with P3, P4 and P5; P3 to P5. Conclusion: the effect of CA on GDS levels in rat with TBI model
Perbedaan Kadar Imunoglobulin A Sekretori Air Susu Ibu antara Kelompok Konsumsi dan Tidak Konsumsi Dadih Selama Hamil
Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan kadar sIgA ASI antara kelompok konsumsi dan tidak konsumsi dadih selama hamil. Metode: Penelitian ini menggunakan desain yang digunakan adalah posttest only control group. Penelitian dilakukan pada bulan September 2019-Juli 2022 di Kota Padang Panjang dengan total 30 sampel ASI dari ibu yang menyusui berdasarkan kelompok ibu saat hamil yang mengkonsumsi puding dadih dan puding kontrol. Kadar sIgA pada ASI diperiksa menggunakan metode ELISA. Analisis data menggunakan uji t-test independent. Hasil: Diperoleh rerata usia pada kelompok konsumsi dadih adalah 27.47±4.25 tahun dan 32.33±6.27 tahun pada kelompok tidak konsumsi dadih. Rerata kadar sIgA pada kelompok ibu yang mengkonsumsi puding dadih selama kehamilan yaitu 14.21±8.36 ng/mL, sedangkan pada kelompok tidak konsumsi dadih rerata 8.34±4.82 ng/ml. Berdasarkan hasil analisa t-test independent didapatkan nilai p=0.047. Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar sIgA ASI pada kelompok konsumsi dadih yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tidak konsumsi dadih selama hamil. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar sIgA ASI yang tidak diteliti dalam penelitian ini, sehingga diperlukannya penelitian lebih lanjut. Kata kunci: Dadih; Imunoglobulin A sekretori; Air Susu Ib
Ekspresi Gen Interleukin-6 pada Tikus Model Alzheimer yang Diberi Sel Punca
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi gen IL-6 pada tikus model Alzheimer yang diinduksi AlCl3 setelah diberi sel punca. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional control study yang menggunakan 18 sampel RNA hewan coba yang dibagi menjadi tiga kelompok (K, AlCl3Â, AlCl3+MSC-WJ). Hasil: Rata-rata rasio ekspresi gen IL-6 yang didapatkan pada kelompok K, AlCl3, AlCl3+MSC-WJ berturut-turut adalah 1,6; 1,8; dan 1,1. Didapatkan ada perbedaan yang bermakna setiap kelompok hewan coba dengan nilai p = 0,010 (p < 0,05). Kesimpulan: Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya penurunan ekspresi gen IL-6 pada tikus model Alzheimer yang diberi sel punca (MSC-WJ)
Efek Protektif Madu Hutan (Apis dorsata) Kalimantan Barat terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Galur Wistar yang diberi Pajanan Aspirin
Tujuan: untuk mengetahui efek protektif madu hutan (Apis dorsata) terhadap kerusakan ginjal tikus galur Wistar yang diberi pajanan aspirin. Metode: Penelitian ini menggunakan sampel bahan biologi tersimpan berupa blok-blok parafin ginjal tikus galur Wistar yang dibagi ke dalam 4 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kelompok kontrol negatif yang diberi aspirin 400 mg/kgBB, kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2 yang diberikan madu hutan secara oral dengan dosis masing-masing 1,55 ml/kgBB dan 3,1 ml/kgBB kemudian aspirin masing-masing 400 mg/kgBB pada satu jam berikutnya. Perlakuan diberikan selama 7 hari. Hasil: Madu Hutan dengan dosis 3,1 ml/kgBB memiliki perbedaan kerusakan glomerulus yang bermakna terhadap kelompok control negatif dan tidak memiliki perbedaan tubulus proksimal normal yang bermakna terhadap kelompok kontrol normal. Kesimpulan: Madu hutan (Apis dorsata) memiliki efek protektif terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus galur Wistar yang diberi pajanan aspirin
Korelasi Fibrinogen dan INR dengan Kejadian Pendarahan Varises Esofagus pada Pasien Sirosis Hepatis di RSUP H. Adam Malik , Medan
Tujuan: untuk menentukan korelasi Fibrinogen dan INR dengan kejadian perdarahan varises esofagus pada pasien sirosis hepatis di RSUP H. Adam Malik, Medan. Metode: Penelitian cross-sectional dengan teknik consecutive sampling. Populasi penelitian adalah pasien dengan sirosis hepatis yang dirawat di Ruangan Rawat Inap Departemen Ilmu Penyakit Dalam Subdivisi Gastroenterohepatologi RSUP H. Adam Malik, Medan. Â Hasil: Karakteristik demografi subjek penelitian didominasi dengan jenis kelamin laki-laki pada dua kelompok studi. Dijumpai adanya perbedaan yang signifikan antara nilai INR pada kelompok studi perdarahan saluran cerna dan tanpa perdarahan saluran cerna (p=0,040) di mana pada subjek perdarahan saluran cerna lebih tinggi nilai INR daripada subjek tanpa perdarahan saluran cerna. Ditemukan korelasi yang signifikan antara fibrinogen dan INR (p<0,001) dan nilai korelasi yang diperoleh adalah -0,816. Simpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai Fibrinogen pada subjek dengan atau tanpa perdarahan varises esofagus. Terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai INR pada subjek dengan atau tanpa perdarahan varises esofagus yang menunjukkan sampel dengan perdarahan varises esofagus memiliki nilai INR lebih tinggi. Tidak ada korelasi dengan signifikan kuat antara nilai Fibrinogen dan INR.Â
Pengaruh pemberian Iodine-131 terhadap viabilitas cell line Triple Negative Breast Cancer (TNBC)
AbstractObjective: To determine the effect of Iodine-131 administration on the viability of triple negative breast cancer cell lines and the IC50 value of Iodine-131. Methods: This study was a true experimental study using the MTT assay method to measure cell line viability after being given Iodine-131 at a dose of 7.8; 15.6; 31.3; 62.5; 125; 250; and 500 µCi for 24 hours. The research sample was the MDA-MB231 cell line which represents the Triple Negative Breast Cancer (TNBC) subtype of breast cancer. The IC50 value of Iodine-131 cell line MDA-MB231 was calculated using the GraphPad Prism-9 software. The results were analyzed using the Kruskal-Wallis and Post-Hoc Kruskal-Wallis tests, if p <0.05 was considered to significantly affect cell viability. Results: Iodine-131 affected cell viability in the MDA-MB231 cell line with a p<0.05. The IC50 value of Iodine-131 on the MDA-MB231 cell line was 255.7 µCi. Conclusion: Administration of Iodine-131 at a dose of 500 µCi for 24 hours significantly reduced the viability of the MDA-MB231 cell line. Iodine-131 dose of 255.7 µCi can inhibit 50% viability of the MDA-MB231 cell line.Keywords: Iodine-131; cell viability; cell line MDA-MB231; TNBC; IC5
Korelasi Rasio Trigliserida/High Density Lipoprotein dengan HOMA-IR pada Penyandang Obesitas
Tujuan: Mengetahui korelasi rasio trigliserida (TG)/high density lipoprotein (HDL) dengan homeostasis model assessment of insulin resistance (HOMA-IR) pada penyandang obesitas.Metode: Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan terhadap 65 penyandang obesitas (indeks massa tubuh (IMT) ≥ 25,0 kg/m2)  dewasa non-diabetes di RSUP Dr. M. Djamil Padang sejak Januari hingga September 2022. Pemeriksaan TG menggunakan metode glycerol phosphate oxidase, HDL dengan kolorimetri enzimatik homogen, glukosa dengan heksokinase, dan insulin dengan chemiluminescent microparticle immunoassay. Nilai HOMA-IR dihitung menggunakan kadar glukosa darah puasa (mg/dL) x insulin puasa (µU/mL)/405. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson, bermakna jika p<0,05.Hasil: Subjek penelitian sebagian besar perempuan (60,0%). Median umur 28 tahun dan rerata IMT 31,9 kg/m2. Median kadar TG 117 mg/dL, HDL 42 mg/dL, glukosa darah puasa 83 mg/dL, insulin puasa 10,6 µU/mL, rasio TG/HDL 2,9, dan HOMA-IR 2,3. Uji korelasi menunjukkan rasio TG/HDL berkorelasi dengan HOMA-IR (r=0,290; p=0,019).Simpulan: Terdapat korelasi positif lemah antara rasio TG/HDL dengan HOMA-IR pada penyandang obesitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan merekrut subjek berdasarkan persentase lemak tubuh, derajat dan lama obesitas, aktifitas fisik, dan jenis kelamin
Perbedaan Rerata Kadar Ferritin dan Kadar Malondialdehid pada Darah Tali Pusat Neonatus Normal dan Intrauterine Growth Restriction
Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan kadar ferritin dan malondialdehid pada darah tali pusat neonatus normal dan neonatus Intrauterine growth restriction (IUGR). Metode : analitik observasional dengan desain cross sectional comparative. Penelitian dilakukan di RSUP M.Djamil, RS Unand dan RS Hermina di kota Padang dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Sampel berjumlah 60 neonatus terdiri dari 2 kelompok, yaitu neonatus normal dan neonatus Intrauterine growth restriction (IUGR) dengan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan serum ferritin diperiksa menggunakan metode ELISA dan kadar malondialdehid diperiksa dengan metode TBARS. Analisis data menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov (p >0,05). Uji hipotesis menggunakan t-test independen dan mann-whitney. Hasil : rerata serum ferritin pada kelompok neonatus IUGR adalah 110 ± 68,12 ng/ml dan pada neonatus normal 150 ± 75,72 ng/ml. Kadar malondialdehid pada kelompok neonatus IUGR adalah 2,91 nmol/mL, dan pada neonatus normal 2,25 nmol/mL. Uji statistik didapatkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar ferritin dan malondialdehid pada darah tali pusat neonatus normal dengan neonatus IUGR dengan nilai p = 0,012 dan p = 0,0001. Kesimpulan : terdapat perbedaan bermakna kadar ferritin dan malondialdehid pada neonatus normal dan neonatus Intrauterine growth restriction (IUGR
Korelasi feritin serum dengan rasio PaO2/FiO2 pada pasien COVID-19 derajat kritis
AbstrakLatar Belakang: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan menyebabkan badai sitokin yang menstimulasi hepatosit, sel Kuppfer, dan makrofag untuk mensekresi feritin. Badai sitokin akan menyebabkan kerusakan sel paru yang menimbulkan acute respiratory distress syndrome (ARDS). Rasio PaO2/FiO2 digunakan untuk menentukan berat ARDS.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi feritin dengan rasio PaO2/FiO2 pada pasien COVID-19 terkonfirmasi dengan derajat kritis. Metode: Penelitian analitik potong lintang. Pemeriksaan feritin dilakukan dengan metode ELFA dan rasio PaO2/FiO2 dihitung otomatis dengan blood gas analyzer. Data dianalisis dengan metode statistik uji korelasi Pearson, dinyatakan bermakna jika didapatkan nilai p <0,05. Hasil: Sampel terdiri dari 85 orang yaitu 46 laki-laki dan 39 perempuan. Rerata usia subjek 55,8(13,7) tahun. Rerata kadar feritin 895,06(516,048) ng/ml. Median dari rasio PaO2/FiO2=91,50 mmHg, rentang 42-296 mmHg. Hasil uji korelasi Pearson didapatkan korelasi kadar feritin dan log rasio PaO2/FiO2 pada pasien COVID-19 derajat kritis r=-0,076, p=0,487. Pembahasan: Rerata kadar feritin meningkat pada penelitian ini. Korelasi kadar feritin dengan rasio PaO2/FiO2 pada pasien COVID-19 derajat kritis menunjukan hasil tidak bermakna dengan korelasi sangat lemah. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara kadar ferritin dan rasio PaO2/FiO2 pada pasien COVID-19 derajat kritis.Kata kunci: COVID-19, ferritin, rasio PaO2/FiO