Majalah Kedokteran Andalas
Not a member yet
648 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Dadih Pada Ibu Hamil Terhadap Berat Badan dan Panjang Badan Bayi Baru Lahir dan Usia 6 Bulan di Padang Panjang
Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian dadih pada ibu hamil terhadap berat badan dan panjang badan bayi baru lahir dan usia 6 bulan. Metode: group post test only control design, dengan jumlah sampel 58 bayi yang lahir dari ibu hamil kelompok intervensi diberikan dadih dari awal trimester II hingga melahirkan dan kelompok kontrol diberikan puding. Kemudian diukur berat badan dan panjang badan bayi lahir serta dipantau perkembangannya hingga usia 6 bulan. Analisis data menggunakan uji t-test independent. Hasil: Selisih berat badan bayi baru lahir yang diberikan intervensi dan kontrol adalah 313,80 gram dengan p value = 0,003. Selisih berat badan bayi setelah usia 6 bulan antara kelompok intervensi dan kontrol adalah 531,79 gram dengan p value = 0,022. Selisih panjang badan bayi baru lahir kelompok intervensi dan kontrol adalah 0,50 cm dengan p value = 0,002. Selisih panjang badan bayi setelah usia 6 bulan antara kelompok intervensi dan kontrol adalah 2,23 cm dengan p value = 0,013. Kesimpulan: terdapat peningkatan berat badan dan panjang badan bayi baru lahir dan usia 6 bulan dari ibu hamil yang konsumsi dadih dari awal trimester II sampai persalinan dibandingkan bayi yang lahir dari ibu hamil yang konsumsi puding
Tatalaksana Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) Posterior dengan Paresis Kanal Unilateral
Pendahuluan: Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) posterior dan paresis kanal unilateral merupakan dua kasus yang berbeda. BPPV menyebabkan gangguan keseimbangan perifer yang sering ditandai oleh sensasi pusing berputar dan bersifat sementara, sedangkan paresis kanal akan menyebabkan gangguan stabilitas postural. Keterlibatan kanal posterior pada BPPV paling sering dijumpai. Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan keseimbangan sederhana dan Dix-Hallpike dan ENG untuk peresis kanal. Manuver Epley merupakan tatalakasan dari BPPV posterior dan rehabilitasi vestibular tatalaksana paresis kanal. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 36 tahun dengan diagnosis BPPV kanal posterior kanan dagan paresis kanal kiri. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis pusing berputar dipengaruhi oleh perubahan posisi, pada Dix-Hallpike dengan nistagmus torsional ke atas-kanan dan hasil Electronistagmografi (ENG) dengan unilateral weakness (UW) 50% kiri. Pasien diterapi dengan canalith repositioning procedure dengan manuver Epley dan terapi adaptasi dikombinasi substitusi. Kesimpulan: BPPV kanal posterior dan paresis kanal kiri ditandai dengan gejala pusing berputar dipengaruhi posisi, ditemukan nistagmus torsional ke atas-kanan pada Dix-Hallpike dan UW 50% kiri. Penatalaksanaan BPPV posterior dengan manuver Epley dan paresis kanal kiri ditatalaksana dengan latihan adaptasi dan substitusiKata kunci: Benign Paroxysmal Positional Vertigo, manuver Dix-Hallpike, manuver Epley, paresis kanal unilateral, rehabilitasi vestibularÂ
Perbedaan konsumsi junk food melalui pemesanan daring dan aktivitas fisik pada status gizi mahasiswa kedokteran
Objective: To determine the differences between the frequency of consumption of junk food through online food ordering and physical activity with nutritional status in students of the Faculty of Medicine, Tanjungpura University. Methods: Cross-sectional analytic study and total sampling technique involved 99 students of the Faculty of Medicine, Tanjungpura University. The research measuring tools used the Junk Food Untan Questionnaire Online Ordering (JUQOO) to measure the frequency of junk food consumption through online food ordering made by researchers, the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) to measure the level of physical activity, and the Self Report Recall Anthropometry sheet to measure the level of body mass index calculation. The Data were analyzed by univariate and bivariate using Kruskal-wallis test. Results: Based on the Kruskal-Wallis test between nutritional status and the frequency of consumption of junk food through online food ordering (p=0,674) and the level of physical activity (p=0,242). Conclusion: There are no significant differences between the frequency of consumption of junk food through online food ordering and physical activity with nutritional status in students of the Faculty of Medicine of Tanjungpura University
Pengaruh Paparan Cahaya Biru terhadap Penuaan Kulit dan Upaya Pencegahannya
Penuaan merupakan sebuah proses yang akan dialami individu seiring bertambahnya usia. Penyebab penuaan yang mungkin masih belum disadari adalah penuaan yang disebabkan paparan cahaya biru. Hal ini menjadi sebuah isu yang menarik berkaitan dengan meningkatnya penggunaan perangkat elektronik di berbagai kalangan usia. Cahaya biru memiliki efek merugikan pada homeostasis kulit, yaitu meningkatkan produksi ROS, mediator inflamasi, dan menyebabkan kerusakan DNA, sehingga tubuh mengupayakan efek antiproliferatif seperti menginduksi aktivasi melanogenesis, mengurangi produksi kolagen, mengubah aktivitas metalloproteinase, yang menyebabkan photoaging dan hiperpigmentasi. Meningkatnya kesadaran akan efek cahaya biru pada tubuh menyebabkan munculnya berbagai produk yang menyatakan dapat memberikan perlindungan terhadap cahaya biru. Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan fotoproteksi, menggunakan tabir surya yang mengandung zinc oxide dan titanium dioxide. Berbagai bahan kosmetik, antioksidan dan vitamin juga diduga dapat memberikan efek proteksi terhadap cahaya biru. Upaya pencegahan terhadap cahaya biru sampai saat ini masih terus berkembang dan membutuhkan penelitian lebih lanjut
Kejadian Breakthrough Infection Pasca Vaksinasi Dosis 2 Sinovac pada Tenaga Kesehatan RSUD Arifin Achmad
Tujuan: untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik responden breakthrough infection pasca vaksinasi dosis 2 Sinovac. Metode: penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional, pengambilan data dilakukan menggunakan metode consecutive sampling dengan besar sampel adalah 120 orang. Hasil: menunjukkan bahwa sebanyak 11 orang (9,2%) tenaga kesehatan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau terkonfirmasi mengalami breakthrough infection. Mayoritas subjek penelitian yang mengalami breakthrough infection adalah laki-laki (63,6%), pada kelompok usia 40-49 tahun (36,4%), berprofesi sebagai dokter (40%), kelompok obesitas (81,8%), tanpa penyakit komorbid (54,5%), mempunyai riwayat kontak erat (63,6%), dan belum pernah terinfeksi COVID-19 sebelum vaksinasi (90,9%). Sebagian besar kasus merupakan kasus asimtomatis/tanpa gejala sebanyak 6 orang (54,5%), dan terdapat 5 orang (45,5%) yang memiliki gejala yaitu pada 3 orang (27,3%) dengan gejala sedang, dan pada 2 orang (18,2%) dengan gejala ringan. Kesimpulan: kejadian breakthrough infection pasca vaksinasi Sinovac dosis dua pada tenaga kesehatan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau tidak ditemukan adanya kasus dengan gejala berat.Â
The Potential of Bacillus spp. In Green Biosynthesis of Zinc Oxide Nanoparticles
Nanopartikel yang dihasilkan melalui metode Green biosintesis berpotensi untuk diterapkan pada dunis medis dan farmasi. Penelitian ini menggunakan senyawa metabolit yang dihasilkan isolat Bacillus spp untuk mereduksi zink sulfat menjadi nanopartikel zink oksida. Berdasarkan hasil pengukuran spetrofotometri UV-Vis panjang gelombang optimum koloid nanopartikel yang dihasilkan dari proses Green biosintesis isolate BES 6A dengan penambahan zink sulfat sebanyak 0,2 g/ml yaitu pada 366 nm. Adapun gugus fungsi Zn-O berdasarkan pengukuran FTIR terbaca pada panjang puncak gelombang 438 dan 530 cm-1. Bentuk kristal yang dihasilkan yaitu heksagonal dengan puncak 2Ɵ yang terdeteksi yaitu 31,82°; 34,33°; 36,49°; 47,56°; 57,16°; 63,20°; 66,76°; dan 68,99° yang menandakan kehadiran nanopartikel zink oksida berdasarkan referensi ICDD 00-001-1136. Ukuran nanopartikel yang dihasilkan yaitu 30 – 47 nm
Hubungan Gejala Klinis dengan Neutrofil-Limfosit Rasio (NLR) pada Anak dengan Covid-19 di Rumah Sakit H.Abdul Manap Kota Jambi
Latar belakang: Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) dipertimbangkan sebagai penanda inflamasi untuk menilai derajat klinis COVID-19 pada anak, namun data lokal masih terbatas.Objektif: Menilai hubungan antara gejala/derajat klinis dengan NLR pada anak dengan COVID-19.Metode: Studi analitik korelatif dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medis sekunder pasien pediatrik terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat di ruang isolasi RS H. Abdul Manap, Kota Jambi, Januari–Juli 2021. Variabel utama: derajat klinis dan NLR (cut-off 3,13). Analisis menggunakan uji korelasi serta estimasi kekuatan hubungan.Hasil: Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (55,1%), berderajat klinis ringan (87,7%), dan memiliki NLR <3,13 (98%). Terdapat korelasi lemah namun bermakna antara derajat klinis (ringan–sedang) dan NLR (r=0,386; p=0,006).Kesimpulan: Derajat klinis COVID-19 pada anak berkorelasi lemah tetapi signifikan dengan NLR, dengan sebagian besar kasus ringan menunjukkan NLR <3,13. NLR berpotensi sebagai penanda pendukung stratifikasi klinis; diperlukan penelitian prospektif dengan ukuran sampel memadai untuk memvalidasi temuan ini.
Exploring the Effects of Bone Marrow Mesenchymal Stem Cells on Amyloid Plaque Reduction in a Rat Model of Alzheimer's Disease
Objective: This study aimed to evaluate the therapeutic potential of Bone Marrow-derived Mesenchymal Stem Cells (BM-MSCs) in mitigating amyloid plaque formation in Alzheimer's disease induced by Aluminum Chloride (AlCl3) in rats. Methods: Rats were divided into three groups: negative control, positive control (AlCl3-induced), and treatment (AlCl3 + BM-MSCs). Cognitive function was assessed five days post-induction, and amyloid plaques were quantified using Congo Red staining in the cortex and hippocampus. Results: A significant reduction in amyloid plaque was observed in rats treated with BM-MSCs. The proportion of stained areas decreased from 1.88 to 1.73 in the cortex and from 1.61 to 1.47 in the hippocampus, compared to AlCl3-only controls. Conclusion: BM-MSCs demonstrated a moderate but statistically significant reduction in amyloid plaque in a rat model of Alzheimer's disease, indicating their therapeutic potential
Preliminary Screening of Phytochemical Compounds of Jeriangau (Acorus calamus) from West Sumatra
Indonesia's biodiversity is able to meet the needs of human life in various sectors, especially in the utilization of potential plants. Jeriangau (Acorus calamus) is a rhizome plant that is widely used as traditional medicine in various ethnicities, especially in West Sumatra. This is because jeriangau contains bioactive compounds that have the potential to treat various diseases. This research method is an experimental study to qualitatively confirm the bioactive components contained in the rhizome of Jeriangau. The test results of jeriangau simplicia samples showed positive results for the active group of secondary metabolites of flavonoids, tannins, and saponins which have potential as antioxidants. Flavonoids can reduce the risk of chronic disease, especially cardiovascular disease and cancer. Tannins have antioxidant properties and can protect the skin from damage caused by UV radiation. Saponins are known to act as antiviral, antimicrobial, and anti-inflammatory. Therefore, Acorus calamus extract can be used as an antibacterial, antiviral, antiseptic, antifungal, and acts as an antioxidant. Further research is needed on studies of inflammatory activity, either in vitro, in vivo, or in human treatment.Keywords:Â jeriangau; phytochemicals; West Sumatra; antioxidant
Kejadian Perdarahan pada Pasien yang menjalani Intervensi Koroner Perkutan di RS. M Djamil: Studi Retrospektif antara Kelompok HBR dan non-HBR
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian perdarahan pada pasien yang menjalani PCI antara kelompok high bleeding risk (HBR) dan kelompok non-HBR di RS M Djamil. Metode: Studi potong lintang retrospektif yang diamati pada pasien yang menjalani stenting koroner dari Oktober 2019-Oktober 2020. Pasien dibagi menjadi kelompok HBR dan non HBR berdasarkan kriteria ARC-HBR. Insiden perdarahan dievaluasi dan dibandingkan antara dua kelompok dalam waktu 6 bulan setelah intervensi koroner perkutan (IKP). Perdarahan didefinisikan sebagai BARC 3 dan BARC 5. Hasil: Di antara 288 pasien, kelompok HBR adalah 59 (20,4%) pasien. Kejadian perdarahan lebih tinggi pada kelompok HBR (0 vs 10;