UMA - Open Access Journals (Universitas Medan Area)
Not a member yet
5228 research outputs found
Sort by
Evaluasi Risiko Produksi Kopi Arabika dengan Pendekatan Just and Pope di Kabupaten Bener Meriah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi kopi arabika, tingkat risiko produksi, serta strategi manajemen risiko yang diterapkan oleh petani di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Permasalahan utama yang diangkat adalah tingginya ketidakpastian produksi akibat faktor iklim, hama, dan teknik budidaya yang belum optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran melalui analisis deskriptif dan regresi linier berganda, dengan data diperoleh dari observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap 37 petani kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor produksi seperti jumlah pohon, curahan kerja, penggunaan pupuk dan pestisida, serta pemangkasan berpengaruh signifikan terhadap hasil panen kopi arabika. Tingkat risiko produksi tergolong rendah karena petani telah menerapkan praktik pengelolaan dan mitigasi risiko secara efektif melalui koperasi dan kerja sama komunitas. Strategi yang direkomendasikan meliputi penerapan budidaya adaptif terhadap iklim, penggunaan pupuk organik, serta peningkatan kapasitas petani melalui penyuluhan dan dukungan pemerintah. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap penguatan sistem manajemen risiko dan pengembangan kebijakan pertanian berkelanjutan di sektor kopi arabika
Factors Causing the Failure of Indonesia-Singapore Cooperation in Handling Transboundary Haze Pollution
Transboundary haze pollution has become an urgent environmental issue in Southeast Asia. As a regional organization in Southeast Asia, ASEAN issued the ASEAN Agreements on Transboundary Haze Pollution (AATHP) international agreement to handle this Issue together. AATHP will act as a regime that makes collaborating easier to handle this Issue. Indonesia and Singapore are two countries that have a high interest in establishing cooperation because of their position as the two most affected countries. However, even with AATHP making cooperation mandatory, Indonesia is still reluctant and uncooperative in collaborating with Singapore. This research will explain why Indonesia took this stance using Oran R. Young's Theory of the Effectiveness of International Environmental Regimes. This research uses qualitative research methods with secondary data sources originating from reports from both countries, books, journal articles, and online media reports. This research found that Indonesia's uncooperative nature was due to differences in approaches between the two countries in dealing with this Issue. On the one hand, Singapore wants to push for a shift amongst ASEAN countries from slash-and-burn practices to a zero-burning policy as an environmentally friendly approach to opening oil palm plantations. However, factors still force Indonesia to allow slash-and-burn practices to continue in its territory. This research also found that the dispute between Indonesia and Singapore on this Issue has caused tensions that extend to the bilateral relations between the two countries, especially regarding whether or not there has been an encroachment of sovereignty based on the actions taken in dealing with transboundary haze pollution. This research recommends that Indonesia and Singapore explore cooperation in technology transfer with minimal potential for sovereignty encroachment and explore compliance mechanism options based on the principle of non-intervention at the ASEAN level
EVALUASI IMPLEMENTASI PROSES PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG (PBG) PADA BANGUNAN GEDUNG DI KOTA BANDUNG
Setiap tahunnya, Kota Bandung mengalami perkembangan pesat dalam sektor infrastruktur, termasuk pembangunan gedung. Sebelum pembangunan dimulai, setiap gedung harus mendapatkan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), yang mensyaratkan pemenuhan persyaratan administratif dan teknis sesuai dengan fungsi bangunan. Proses PBG meliputi verifikasi dokumen teknis, penilaian oleh tim teknis, persetujuan, dan penerbitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Standar Operasional Prosedur (SOP) pengurusan PBG di Kota Bandung, mengidentifikasi faktor hambatan dalam memperoleh PBG, serta mengevaluasi implementasi syarat teknis PBG yang dinilai oleh Tim Penilai Ahli (TPA) di Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan analisis data menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor-faktor hambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pengajuan PBG dilakukan melalui website SIMBG, yang mencakup tahap prapermohonan, permohonan, hingga penerbitan. Faktor hambatan yang paling tinggi terjadi pada tahap pembuatan Keterangan Rencana Kota (KRK) dalam aspek administrasi, sementara untuk aspek teknis, hambatan terbesar ditemukan pada tahap proses Data Teknis Gedung Eksisting terkait Data tenaga ahli bangunan Gedung hijau. Pemohon PBG harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis, termasuk standar teknis untuk arsitektur, struktur, dan utilitas. Pemahaman yang baik terhadap SOP sangat penting untuk menghindari kendala teknis. Persyaratan yang disiapkan oleh pemohon harus tepat dan sesuai dengan aturan yang berlaku untuk memperoleh PBG.Setiap tahunnya, Kota Bandung mengalami perkembangan infrastruktur, termasuk pembangunan gedung. Sebelum didirikan, setiap gedung harus memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Persetujuan ini mensyaratkan pemenuhan persyaratan administratif dan teknis sesuai fungsi bangunan. Proses PBG mencakup verifikasi dokumen teknis, penilaian tim teknis, persetujuan, dan penerbitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis SOP pengurusan PBG di Kota Bandung, menganalisis faktor hambatan dalam memperoleh PBG di Kota Bandung, dan mengevaluasi implementasi syarat teknis PBG yang dinilai oleh TPA di Kota Bandung. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif. Metode ini digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan pengumpulan data melalui instrumen penelitian dan analisis data yang bersifat kuantitatif/statistic menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor-faktor hambatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa prosedur pengajuan PBG dilakukan melalui website SIMBG, dimulai dari tahap prapermohonan, permohonan, hingga penerbitan sedangkan faktor hambatan dalam proses PBG yang memiliki nilai tertinggi pada tahap pembuatan Keterangan Rencana Kota (KRK) pada aspek administrasi untuk aspek teknis yang memiliki nilai tertinggi yaitu pada tahap proses Data Teknis Gedung Eksisting berupa Data tenaga ahli bangunan Gedung hijau. Pemohon harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis, termasuk standar teknis arsitektur, struktur, dan utilitas. Pemohon juga harus memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) agar tidak terjadi kendala teknis. Persyaratan administratif dan teknis yang disiapkan harus tepat dan sesuai aturan yang berlaku untuk memperoleh PBG.Kata Kunci: Persetujuan Bangunan Gedung (PBG); Principal Component Analysis (PCA); Faktor Hambatan, Standar Operasional Prosedur (SOP
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI METODE BERCERITA SEBAGAI UPAYA MEMBENTUK AKHLAK MULIA PADA ANAK TPQ MASJID AL-IKHLAS MUNYUNG, KWARASAN, GROGOL, SUKOHARJO
Pendidikan adalah proses paling bertanggung jawab dalam melahirkan manusia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban yang gemilang. Permasalahan dalam kajian ini adalah apakah pendidikan karakter dengan pemberian cerita mampu membentuk akhlak mulia pada anak-anak TPQ Masjid Al-Ikhlas? Dari rumusan masalah tersebut, tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui bahwa bercerita menjadi metode yang relevan dalam menyampaikan penanaman akhlak mulia pada anak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pemerolehan data bertumpu pada trianggulasi data yaitu wawancara, pengamatan dan analisis dokumen, dengan teknik analisis data terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang didapatkan yaitu metode cerita yang interaktif, menyenangkan dan dilakukan secara kontinu mampu menjadi metode yang relevan untuk menyampaikan pesan tentang akhlak mulia sehingga dapat merangsang pemikiran dan emosional anak, serta menginspirasi mereka menerapkan pesan cerita dalam kehidupan tanpa ada paksaan
Konsep Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam
The concept of Islamic Education Personality Development Course focuses on shaping students' character, morality, and spirituality in alignment with Islamic teachings. It aims to instill core values such as integrity, discipline, empathy, and responsibility, serving as a foundation for students to become well-rounded individuals capable of contributing positively to society. Objectives and Scope The course seeks to: enhance students' understanding of Islamic teachings and their application in daily life, develop moral character and spiritual maturity in accordance with Islamic values, foster critical thinking and problem solving skills based on Islamic perspectives. The scope includes an exploration of foundational Islamic beliefs (aqidah), worship practices (ibadah), ethical guidelines (akhlaq), and their relevance in contemporary societal contexts. Teaching Methods and Evaluation, Interactive teaching methods, including lectures, group discussions, case studies, and reflective activities, are employed to encourage active participation and deeper understanding. Evaluation methods include written exams, individual and group assignments, practical assessments, and reflective journals to measure both theoretical understanding and practical application. Learning Materials Key topics include: Foundations of Islamic faith and worship practices, Ethical behavior and moral decision-making in Islam, The role of Islamic teachings in personal and social development, Contemporary challenges and the application of Islamic values. Relevance to Personality Development, The course is directly relevant to students’ personality development as it integrates spiritual and ethical dimensions into their educational journey. It equips students with the tools to navigate moral dilemmas, build meaningful relationships, and contribute to the community in ways that reflect Islamic principles. This holistic approach supports the cultivation of integrity, resilience, and leadership, preparing students to thrive in both personal and professional contexts. In conclusion, the course serves as a pivotal framework for fostering a balanced and principled personality among students, aligning academic pursuits with the values of Islamic teachings.
Kata Kunci: Konsep, Kepribadian, agam
SENSITIVITY OF BIOFILM-PRODUCING BACTERIA FROM NASOGASTRIC TUBES TO ANTIBIOTICS CEFTRIAXONE & CEFOBACTAM
Nasogastric Tube (NGT) is a common practice in medical care, especially for the administration of nutrients or drugs directly into the digestive tract. The surface of the NGT is in direct contact with the respiratory tract and digestive tract providing ideal conditions for bacteria to form biofilms. Biofilms have the ability to provide a high level of resistance to antimicrobial action and body defenses. Biofilms provide a microenvironment that protects bacteria from direct exposure to antimicrobial agents, such as antibiotics. This study aims to determine the sensitivity of biofilm-producing bacteria from NGT to antibiotics. This study used an experimental method conducted in the Pharmaceutical Microbiology Laboratory using purposive sampling techniques, biofilm detection using the Congo Red Agar and tube methods, Ceftriaxone and Cefobactam antibiotic sensitivity tests using the disc diffusion method. The results obtained that the positive Nasogastric Tube device can produce biofilm bacteria and can affect bacteria to become more resistant to antibiotics for long-term use of the Nasogastric Tube device. It can be seen that the measurement of the inhibition zone shows that the Ceftriaxone antibiotic has an average inhibition zone of 2.32 mm and Cefobactam 7.42 mm
THE IMPROVEMENT OF CPO QUALITY USING PHYSICAL PURIFICATION MATERIAL OF SHELL POWDER FOR RED COOKING OIL PRODUCTION
The production of CPO (Crude Palm Oil) generated and utilized by the industry must consider market demand, prioritizing the quality of the final CPO product that complies with the SNI 01-2901-2021 standard. It includes free fatty acid (FFA) content, water, and impurities, with maximum limits of 5%, 0.25%, and 0.25%, respectively. Another parameter affecting CPO quality is the Deterioration of Bleachability Index (DOBI) value. This study investigates the potential use of calcium oxide (CaO) derived from seashells to improve CPO quality in the production of Red Cooking Oil (M3). The study design employed a Completely Randomized Design (CRD) with a non-factorial method. The treatment factor in this study was seashell powder heated at 600°C with varying concentrations: 0%, 1%, 2%, 3%, and 4%, as well as 1% Bleaching Earth commonly used at neutral pH (6-7 ). The treatments applied included K0 (no treatment), K1 (1% Bleaching Earth), K2 (1% Seashell Powder), K3 (2% Seashell Powder), K4 (3% Seashell Powder), and K5 (4% Seashell Powder) . The results showed that seashell powder significantly reduced free fatty acid content in K5 by 13.51%, decreased water content in K4 and K5 by 47.05%, and increased the DOBI value by 47.05%
ANALISA KINERJA WAKTU PELAKSANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI (SMKN) 1 PULO AMPEL SERANG
The construction project of infrastructure building at State Vocational High School (SMKN) 1 Puloampel, Serang Regency, aims to provide better facilities to support the improvement of education quality. Although the project was well-planned, time and cost deviations occurred, affecting the project’s progress. This study aims to analyze the time and cost deviations using the Earned Value Analysis (EVA) method. The data used includes weekly data from week 1 to week 22, with a total project duration of 22 weeks. The results show that the project experienced delays in several weeks, specifically in weeks 1, 10, 11, 15, 16, 19, and 20, resulting in a total delay of 27 days. These time deviations led to a cost overrun of IDR 20,052,074.54. The causes of delay were mainly due to late site preparation, water and equipment needs, and delayed material deliveries. As a solution, it is recommended to add more labor, speed up material delivery, and revise the schedule to avoid further delays and cost overruns.Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Puloampel, yang berlokasi di Kabupaten Serang, telah beroperasi sejak 2008 dengan tujuan menyediakan pendidikan yang berwawasan global. Dengan jumlah siswa sebanyak 901 orang, didukung oleh 50 guru dan 59 tenaga kependidikan, sekolah ini mengalami peningkatan jumlah siswa yang signifikan, sehingga memerlukan fasilitas pendukung untuk proses pembelajaran yang lebih baik. Proyek pembangunan ini sudah direncanakan kurang lebih tiga tahun sebelum pembangunan, gedung ini terdiri dari satu gedung memiliki dua lantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyimpangan waktu dan biaya menggunakan metode Earned Value serta solusi agar tidak terlalu mengalami penyimangan waktu dan biaya. Penelitian ini menggunakan data periode mingguan ke-1 hingga mingguan ke-22 dengan total durasi pekerjaan 22 minggu. Dari hasil penelitian periode minggu ke-1, ke-10, ke-11, ke-15, ke-16, ke-18, ke-19 dan minggu ke-20 atau 27 hari nilai Schedule Varians ditemukan negatif. Sementara nilai Schedule Performance Indeks 0,95 menunjukkan <1, kemudian diketahui nilai Estimate To Schedule 0 pada periode minggu ke-22 dengan durasi pelaksanaan 22 minggu, hal ini menunjukkan waktu proyek sesuai rencana. Berdasarkan hasil analisis biaya pada proyek ini mengalami pembengkakan biaya sebesar Rp 20.052.074,54 dikarenakan adanya penyimpangan waktu. Alternatif untuk menghindari penyimpangan waktu dan biaya salah satunya menambahkan tenaga kerja, sehingga bobot realisasi pekerjaan pada minggu berikutnya dapat melebihi bobot rencana.
Kata Kunci: Waktu; Biaya; Nilai Hasil
Evaluation Of Building Vulnerability With Microtremor Data (Case Study Of FTI UII Lecture Building): Indonesia
Beragamnya fungsi penggunaan bangunan saat ini memerlukan perancangan yang dapat meminimalisir potensi kerusakan, terutama yang disebabkan oleh bencana alam. Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang menjadi ancaman utama terhadap kerusakan bangunan. Sebagai contoh, peristiwa gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2023 menimbulkan kerusakan pada berbagai fasilitas bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan bangunan dengan menggunakan data mikrotremor untuk memperoleh nilai frekuensi natural bangunan (fb), indeks resonansi bangunan (R), dan indeks kerentanan bangunan (Kb). Penelitian dilakukan pada gedung perkuliahan FTI UII dengan menggunakan alat Lunitek Digital Seismic Sensor untuk merekam getaran mikrotremor. Metode Floor Spectral Ratio (FSR) diterapkan untuk menganalisis mikrotremor pada bangunan, sementara metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) digunakan untuk menganalisis mikrotremor pada tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan bangunan berdasarkan nilai frekuensi natural bangunan teridentifikasi aman, sedangkan nilai indeks resonansi bangunan menunjukkan tingkat kerentanannya yang tinggi. Selain itu, nilai indeks kerentanan bangunan juga menunjukkan kondisi yang aman. Selisih terbesar antara perbandingan frekuensi data mikrotremor dan SAP2000 ditemukan pada blok C sebesar 0,401 Hz dan pada blok D sebesar 0,616 Hz.Beragamnya fungsi penggunaan bangunan saat ini, diperlukanlah perancangan yang dapat meminimalisir bangunan dari potensi kerusakan, terlebih dari potensi bencana alam. Bencana gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang menjadi ancaman terjadinya kerusakan pada bangunan. Salah satu contohnya adalah peristiwa gempa bumi yang terasa di daerah Yogyakarta pada tahun 2023 yang menimbulkan kerusakan berbagai fasilitas bangunan yang ada. Dilakukanlah penelitian untuk mengidentifikasi seberapa besar tingkat kerentanan bangunan berdasarkan data mikrotremor untuk mendapatkan nilai frekuensi natural bangunan (fb), nilai indeks resonansi bangunan (R) dan nilai indeks kerentanan bangunan (Kb). Penelitian dilakukan pada gedung perkuliahan FTI UII. Alat lunitek digital seismic sensor merupakan alat yang digunakan dalam penelitian ini untuk merekam getaran mikrotremor. Metode Floor Spectral Ratio (FSR) digunakan dalam pengolahan mikrotremor pada gedung dan metode Horizantal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) digunakan dalam pengolahan mikrotremor pada tanah. Didapatkanlah hasil dari penelitian ini yaitu kerentanan bangunan berdasarkan nilai frekuensi bangunan aman, berdasarkan nilai indeks resonansi bangunan tinggi dan berdasarkan nilai indeks kerentanan bangunan aman. Dan selisih terbesar perbandingan frekuesi antara data mikrotremor dan SAP2000 terdapat pada blok C sebesar 0,401 Hz dan blok D sebesar 0,616 Hz
The Effectiveness of Sustainable City Development in the Creation of SDG's 11th Point through Slum Alleviation in Palembang City
The phenomenon of slum areas in several cities is a social dynamic due to high urbanization, limited land, and high land prices. Objectives This study analyzes the effectiveness of sustainable city development in creating SDG's point 11 through eradicating slums from the international regime of the United Nations to apply to national regulations and locus in the city of Palembang. The method used in this study is qualitative, descriptive, and exploratory by analyzing the influence and relationship between variables with empirical testing into a design to explore sustainable urban Development through alleviating slums in Palembang City. Furthermore, the data collection techniques used are literature studies and in-depth interviews with several parties directly related to the study. In this study, using the concept of international regime effectiveness, Arild Underdal has three phases in its implementation. First, output refers to the rules, programs, and organizations set by the PPB regarding the written concept of the SDGs and implemented by Indonesian member countries. Second, the Outcome: Palembang is a city that adjusts and implements these rules to achieve slum alleviation through SDG sustainable city development, point 11; Third, Impact, the level of success in overcoming the problems that are the basis for the formation of the UN regime regarding Development, where Indonesia has ratified it into a national law to cities in several provinces, including the creation of sustainable city development through sustainable areas and slum-free areas in Palembang City through the synergy of the Ministry of Public Works and Public Works and the Ministry of Environment