Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PENANGKARAN BENIH PADI PADA TIGA AGROEKOSISTEM DI SUMATERA SELATAN
ABSTRACTComparative Analysis of Paddy Seed Breeding Income on Three Agro-Ecosystems in South Sumatera. Farmer's access to the quality and quantity of seed depends on the types available and how they are available.With high production capability, the superior varieties of rice take a role in transforming the agricultural system from subsistence into commercial, which are needed in various agro-ecosystems. The aims of this research are to analyzing the factors that influence member's income from seed breeding business, to analyzing income received by members in irrigation, rainfed and swamp agro-ecosystems of South Sumatra and also the seed processing units. This activity was conducted in April-November 2016. Sampling methode using Disproportinate stratified random sampling, consists of 15 farmers of Usaha Bersama farmer group in Tulus Ayu Village, OKU Timur Regency representing irrigation agro-ecosystem, 16 farmers of Widhatama seed processing unit in Lubuk Seberuk Village, OKI Regency representing rainfed agro-ecosystem and 15 farmers of Maju Bersama Agribusiness Group in Sako Village, Banyuasin Regency representing swamp agro-ecosystem. Data analysis using multiple linear regression and independent-sample T test. The result show that income of breeder of paddy member significantly influenced by productivity of seeds candidate and irrigation dummy agroecosystem. The income of group members from rice seed breeding was elastic to the changes of the productivity of seed candidates, and inelastic to changes of production costs, wetland area managed, number of family members involved in rice farming and dummy agro-ecosystem. The highest rice seed breeding income is obtained by members in rainfed agro-ecosystem (Rp 18,949,280/ha), while the highest income of seed processing unit is obtained in swamps agro-ecosystem (Rp 10,997,560/ha). rice seed, income, agroecosystem.ABSTRAKAkses petani terhadap kualitas dan kuantitas benih tergantung pada jenis yang tersedia dan cara penyediaannya. Dengan kemampuan produksi yang tinggi, varietas unggul padi berperan dalam mengubah sistem pertanian dari subsisten menjadi komersil. Pengkajian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan anggota dari usaha penangkaran benih padi, menganalisis pendapatan yang diterima oleh anggota di agroekosistem irigasi, tadah hujan dan lebak Sumatera Selatan. Kegiatan dilakukan pada bulan April–November 2016.Penarikan contoh secara acak berlapis tak berimbang terdiri dari 15 petani di Kelompok Tani Usaha Bersama Desa Tulus Ayu Kabupaten OKU Timur mewakili Agroekosistem Irigasi, 16 petani pada Unit pengolah benih Widhatama Desa Lubuk Seberuk Kabupaten OKI mewakili Agroekosistem Tadah Hujan dan 15 petani di Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Maju Bersama di Desa Sako Kabupaten Banyuasin mewakili agroekosistem lebak. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan uji T (uji kesamaan dua rata-rata). Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan penangkaran padi anggota adalah produktivitas calon benih dan dummy agroekosistem irigasi. Pendapatan anggota kelompok dari penangkaran benih padi ternyata elastis terhadap perubahan produktivitas calon benih, dan tidak elastis terhadap perubahan biaya produksi, luas sawah dikelola, jumlah anggota keluarga terlibat usahatani padi dan dummy agroekosistem. Pendapatan penangkaran benih padi tertinggi diperoleh anggota di agroekosistem tadah hujan (Rp 18.949.280/ha), sedangkan pendapatan unit pengolah benih tertinggi diperoleh di agroekosistem lebak (Rp 10.997.560/ha).benih padi, pendapatan, agroekosistem.
KAPASITAS PETANI PADI SAWAH IRIGASI TEKNIS DALAM MENERAPKAN PRINSIP PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI SULAWESI TENGAH
Kapasitas petani mengelola padi sawah ramah lingkungan di sistem sawah irigasi teknis, menurut karakteristik personal dan peluang pengembangannya, meliputi: kemampuan secara teknis inovasi teknologi, kemampuan menyusun rencana usahatani, kemampuan mengevaluasi, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, dan kemampuan bermitra sinergis. Kemampuan ini, merupakan wujud kapasitas tinggi yang dimiliki petani. Penelitian bertujuan: menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan tingkat kapasitasnya mengelola sawah ramah lingkungan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 174 petani. Analisis data dilakukan uji deskriptif, uji beda Mann Whitney dan uji Rank Spearman, menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong berbeda baik karakteristik maupun kemampuan mengelola usahataninya. Terdapat perbedaan yang nyata pada pendidikan non formal dan luas lahan. Tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan padi sawah yang ramah lingkungan pada kategori rendah. Rendahnya kapasitas petani dipengaruhi oleh kemampuan perencanaan usahatani dan kemampuan bermitra sinergis. Hubungan keseluruhan kapasitas petani terhadap kemampuannya menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan sangat nyata dan mempengaruhi kapasitas petani adalah pendidikan non formal dan luas lahan. Penelitian ini membuktikan bahwa mereka yang memiliki akses terhadap penyuluhan dan pelatihan usahatani ramah lingkungan secara nyata dapat meningkatkan kapasitas petani, dan petani yang memiliki lahan luas merasakan keuntungan menggelola sawah yang ramah lingkungan dibanding dengan lahan sempit
VARIETAS MENENTUKAN PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS HASIL PADI PADA LAHAN RAWA SPESIFIK LOKASI DI KABUPATEN SELUMA.
Study of Paddy Productivity and Rice Quality from Several Paddy Varieties at Non-Tidal Wetland in Seluma District. This study aims to determine the physical quality of grain and rice of new superior varieties grown on shallow non-tidal. Field trials were conducted from March to December 2016 in Karang Anyar village Semidang Alas Maras subdistrict Seluma District, Bengkulu Province. This research used Group Randomized Block Design with 7 types of paddy-rice wetland varities(Inpara 1, 2, 3, 6, 7, 8, and Dendang) and Cigeulis variety as control, each with 3replications. Three parameters were measured including the plant growth, yield, productivity, physical grain quality, and rice chemical performance. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) by DMRT test at 5% significance level. The result of this study showed that Inpara 6 and Inpara 2 varieties improved yield average of other varieties under consideration, that is 6,03 and 5,83 tonnes, respectively. In general, the Inpara 2 variety was abe to improve physical grain and rice qualities, with rice milled and head contents of 65.55% and 69.35%, respectively. The Inpara 2 variety also had the lowest menir and broken rice contents of 1.66% and 29.11%, respectively. Furthermore, the high quality of grain content was 96.05% for the 10.33% physical grain quality, with only 5.68% of green grain and 24.29% of amylose. This results were in accordace with the SNI quality standard of grain and milled rice. ABSTRAK Pengkajian ini bertujuan untuk menentukan varietas unggul baru padi rawa yang memiliki produktivitas dan mutu fisik gabah dan beras yang tinggi pada pertanaman di lahan rawa lebak dangkal. Percobaan lapangan dilaksanakan di Desa Karang Anyar Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu dari bulan Maret sampai Desember 2016. Pengkajian ini menguji tujuh varietas padi rawa (Inpara 1; 2; 3; 6; 7; 8; Dendang) dan varietas Cigeulis sebagai pembanding. Perlakuan ditata dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan tanaman, komponen hasil, produktivitas, komponen mutu fisik gabah dan kimia beras, Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5 %. Mutu beras diketahui dengan uji laboratorium dan distandarisasi dengan SNI Nomor 01-6128-2008. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa varietas Inpara 6 dan Inpara 2 memberikan hasil lebih tinggi dari yang lainnya yaitu sebesar 6,03 ton/ha dan 5,83 ton/ha. Secara keseluruhan varietas Inpara 2 dapat meningkatkan kualitas mutu fisik gabah dan beras dengan rendemen beras giling dan beras kepala yang paling tinggi yaitu 65,55 % dan 69,35 %. Inpara 2 juga memiliki konsentrasi beras menir yang paling rendah yaitu 1,66 % dan beras patah 29,11 %. Untuk mutu fisik gabah kadar air 10,33 %, butir gabah baik 96,05 % dan butir mengapur/hijau hanya 5,68 % dengan kadar amilosa 24,29 %. Kualitas fisik beras yang dihasilkan sesuai dengan kriteria standar mutu SNI gabah dan beras giling.
PEMANFAATAN BIOCHAR KULIT BUAH KAKAO DAN SEKAM PADI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH DI ULTISOL LAMPUNG
Utilization of Biochar of Cocoa Shell and Rice Husk to Increase Rice Productivity in Ultisol Lampung. Biochar application as soil amendment is technology for soil and crop productivity improvement in acid soil. The main problem of acid soil including in paddy field is high concentration of Al3+ that inhibit crops growth causing low crop production. The objective of this study was to evaluate the effects of cocoa shell and rice husk biochar on paddyfield productivity and soil chemical properties. The study was conducted at Agricultural Research Station of Tamanbogo, East Lampung on June-September 2012 (planting season 1), January-April 2013 (planting season 2) and December 2013-March 2014 (planting season 3). The experimental design was split plot design, which the main plotswere two types of biochar (cacao shell and rice husk), the sub plots were biochar rates 0.5 t/ha (control), 5 t/ha and 15 t/ha with five replications. The parameters measured were paddy growth, yield and soil chemical properties (soil pH,C organic, N total, available P, K total, and Al3+ ). The result showed that biochar could affect weight of rice straw andrice yield at the second and third planting season, while biochar rates could affect crop growth and yield of rice at three planting. The effect of cacao shell and rice husk biochar application with the rate of 15 t/ha could up to three planting seasons without any biochar addition in following two consecutives year, whereas addition biochar 5 t/ha wasless effective. The cacao shell biochar was more effective in increasing crop growth and yield than rice husk biochar,as seen on dry grain rice yield, i.e. 3.58 t/ha (PS1) and 5.06 t/ha (PS III). During two planting seasons, both biochar at the rate of 15 t/ha were sufficient to improve soil chemical properties. Cacao shell biochar with the rate of 15 t/ha had better effect in improving soil chemical properties significantly in term of soil pH, available P, and total K content and decreasing aluminum content than rice husk biochar especially at second planting season. lowland, biochar, rice, Ultisol, LampungABSTRAKAplikasi biochar sebagai pembenah tanah merupakan salah satu teknologi untuk memperbaiki produktivitas tanah dan tanaman pada lahan masam. Permasalahan utama pada lahan masam adalah tingginya konsentrasi Fe3+ yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman sehingga menyebabkan rendahnya produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian biochar kulit buah kakao dan sekam padi serta takarannya terhadap peningkatan sifat kimia tanah dan produktivitas padi sawah di Ultisol Lampung. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah di Kebun Percobaan Taman Bogo, Lampung selama tiga musim tanam yaitu bulan Juni-September 2012 (musim tanam pertama), bulan Januari-April 2013 (musim tanam kedua) dan Desember 2013 - Maret 2014 (musim tanam ketiga). Percobaan disusun dalam rancangan kelompok petak terpisah, sebagai petak utama terdiri dari biochar kulit buah kakao dan biochar sekam padi, sedangkan sebagai anak petak adalah takaran biochar yaitu tanpa biochar (kontrol 0 t/ha), 5 t/ha dan 15 t/ha, dengan 5 kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan dan hasil padi, sifat kimia tanah (pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-total dan Al3+ ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis biochar hanya berpengaruh nyata terhadap berat jerami kering dan hasil gabah pada musim tanaman kedua dan ketiga, sedangkan takaran biochar berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil padi pada ke tiga musim tanam. Pengaruh pemberian biochar kulit buah kakao dan sekam padi 15 t/ha mampu bertahan sampai tiga musim tanam dilihat dari pertumbuhan dan hasil padi sawah, sedangkan pemberian biochar 5 t/ha bertahan satu musim saja. Efektivitas biochar kulit buah kakao dalam mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman lebih tinggi dibandingkan sekam padi terlihat dari hasil gabah kering panen sebesar 3,58 t/ha (MT II) dan 5,06 t/ha (MT III). Selama dua musim tanam pemberian biochar kulit buah kakao sebanyak 15 t/ha juga mampu meningkatkan pH tanah, P tersedia, dan kandungan K tetapi menurunkan kandungan aluminium melebihi biochar sekam padi terutama pada musim tanam kedua.produktivitas, padi sawah, biochar, Ultiso
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN SAWAH DAN LAHAN KERING
The Influencing Factors of Maize Farming in The Wetland and Dryland. Within 2010 –2013, harvested area of maize had been decreased 2.53%/year from the total area of 114,839 ha. Although corn productivity is still low that is about 3.55 ton/ha, during this period there was an increase productivity by 5.11%/year. This result shows the increasing of maize technology adoption yet it is not optimal. This study was conducted in Gowa District, SouthSulawesi Province in 2015, which aimed to determine the factors that affected the roduction of maize farming. This study used a survey method. Primary data were collected through interview of farmers’respondents using simple random sampling. The total respondents were 39 people consisting of 18 wetland farmers and dryland farmers. The results of data analysis showed that the use of urea fertilizer was very high and exceeds the recommendation whereas Phonska and ZA fertilizers were very less as well as pesticides and labor so it affected maize productivity. The yield was still low around 4.69 ton/ha in wetland and 4.40 ton/ha in dry land. Financially, corn farming has been efficient in using production inputs (NPSP>1) and labor (NPTK>1) with profit of 4.470.728 IDR/ha on wetland and 3,069,777 IDR/ha on dry land. The factors of maize production together had a significant effect (F hit > Ftabel 1%) both on wetland and dry land. But separately, only on dry land, land area and labor provided siginificant effect. Partially, dry land area had a significant and positive effect on corn production, whereas labor had a significant negative effect on corn production. Without seeing the type of land, the use of urea fertilizer and labor influenced significantly yet negative. Thus, the increase of maize production in Bontonompo sub-district, South Sulawesi Province can be achieved by the addition of planting area in dry land, reduction of labor and dose reduction of urea fertilizer.land area, fertilizer, pesticides, labor, maize productivityABSTRAKSelama periode 2010–2013, luas panen jagung menurun dengan laju 2,53%/tahun dari luasan 114.839 ha. Meskipun produktivitasnya masih rendah yaitu 3,55 t/ha, namun selama periode tersebut terjadi peningkatan produktivitas dengan laju 5,11%/tahun. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan adopsi teknologi jagung, namun belum optimal. Penelitian dilakukan di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2013 yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani jagung. Penelitian menggunakan metode survei. Data primer dikumpulkan dari wawancara dengan petani responden yang diambil secara acak sederhana (simple random sampling). Total responden sebanyak 39 orang terdiri dari 18 responden petani lahan sawah dan 21responden petani lahan kering. Analisis data menunjukkan bahwa penggunaan pupuk Urea sangat tinggi dan melebihi rekomendasi, sedangkan pupuk Phonska dan ZA sangat kurang, demikian pula pestisida dan tenaga kerja sehingga mempengaruhi produksi jagung. Produksi jagung masih rendah yakni 4,69 t/ha untuk lahan sawah dan 4,40 t/ha di lahan kering. Secara finansial kegiatan usahatani jagung telah efisien dalam menggunakan sarana produksi (NPSP>1) dan penggunaan tenaga kerja (NPTK>1) dengan keuntungan masing-masing Rp4.470.728/ha di lahan sawah dan 82 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 20, No.1, Maret 2017:81-90 Rp3.069.777/ha di lahan kering. Faktor-faktor produksi jagung secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata baikpada lahan sawah maupun lahan kering. Secara parsial, luas lahan kering berpengaruh nyata positif terhadap produksijagung, sedangkan tenaga kerja memberikan pengaruh sangat nyata negatif terhadap produksi jagung. Tanpa melihat tipe lahan, penggunaan pupuk Urea dan tenaga kerja berpengaruh sangat nyata negatif. Dengan demikian, peningkatan produksi jagung di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dapat dicapai dengan penambahan luas tanam di lahan kering, pengurangan tenaga kerja, dan pengurangan dosis pupuk Urea.luas lahan, pupuk, pestisida, tenaga kerja, produktivitas jagun
ANALISIS PRODUKSI DAN RANTAI PEMASARAN JAGUNG DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA
Permintaan jagung terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan untuk pangan, pakan, dan industri. Peluang ekspor juga semakin meningkat karena negara penghasil jagung utama mulai membatasi volume ekspornya. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis perkembangan luas pertanaman jagung 2) menganalisis karakteristik petani dan usahatani jagung, 3) mengestimasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung, 4) menganalisis rantai pemasaran, margin pemasaran dan pangsa harga petani. Pengumpulan data dilakukan pada September 2015 di Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan lewat survei terhadap 30 petani jagung, sedangkan data sekunder lewat data BPS, hasil penelitian, dan penelusuran data lainnya. Analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda, trend produksi, analisis finansial dengan menghitung B/C dan R/C, analisis saluran pemasaran, margin pemasaran, dan pangsa harga petani. Hasil analisis menunjukkan bahwa 1) Rata-rata produktivitas dalam lima tahun terakhir (2010-2014) adalah 3,69 t/ha meskipun varietas Bisi-2 yang terbanyak digunakan petani memiliki potensi hasil 6,9 t/ha, 2) Karakteristik umur petani, tingkat pendidikan, tanggungan dan pengalaman bertani dapat menjadi investasi yang baik 214 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 19, No.3, November 2016: 213-226 dalam mengembangkan usahatani, 3) Analisis finansial menunjukkan B/C 1,01 dan R/C 2,01, 4) Hasil uji koefisien,hasil uji t atau nilai probabilitas sig menunjukkan bahwa pupuk urea dan SP-36 memiliki nilai t-hitung masing-masing 2,513 dan 2,293 atau berpengaruh nyata terhadap produksi jagung pada α5%, sedangkan faktor lainnya tidak berpengaruh nyata terhadap produksi jagung, dan 5) Terdapat dua saluran pemasaran yang ada. Margin saluran pemasaran I dan saluran pemasaran II dengan produk akhir jagung pipilan kering adalah saluran pemasaran yang efisien, sedangkan pangsa harga petani terbesar pada saluran pemasaran dengan produk pipilan kering.ABSTRACTAnalyses of Maize Production and Market Chain in South Minahasa District North Sulawesi Province.Maize demand continues to rise in line with the increasing demand for food, feed and industrials. Export opportunities have also increased due to major producing countries of maize restricting their export volumes. This study aimed to 1) analyse the development of maize plantation area 2) analyse the farmers’characteristics and maize farming, 3) estimate the various factors affecting maize production and 4) analyse market chain, market margin and the farmer's share. The data were collected in September 2015 in South Minahasa district, South North province. Types of data collected were primary and secondary data. Primary data were obtained through a survey to 30 maize farmers while secondary data were gathered from Statistics Bureau, research results, and other data. Data were analysed using multiple linear regression, production trend, B/C and R/C for financial analysis, market channel analysis, market margin and the farmer's share. The results showed that 1) the average productivity of maize within the last five years (2010-2014) was 3.69 t/ha though Bisi-2 variety has a potential yield by 6.9 t/ha, 2) Characteristics of farmers such age, education level, dependents and farming experience can be a good investment to develop farming, 3) The financial analysis obtained B/C by 1.01 and R/C by 2.01, 4) Results of coefficients test, t-test or a probability value sig indicated that t count of urea and SP-36 were 2.513 and 2.293 respectively or they significantly affected maize production at α5% while other factors had no a significant effect on maize production and 5) There were 2 existing marketing channels. Channels I and II were the efficient market channels with a dried corn as a final product whereas the market channel with grain maize products was the largest farmer's share
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Feasibility Study of Hybrid Maize Farming in Muna District Southeast Sulawesi Province. Maize harvest area in 2015 in Muna District was 13,159 ha with the production by 32,007 tonnes and the productivity by 2.43 t/ha. This maize productivity is still considered low, due to the results of the study AIAT Southeast Sulawesi on 2014, wich able to obtain productivity by 5 tonnes of dry seed/ha. To increase the production of maize, advocacy anddissemination of technological innovations maize using hybrid varieties had been carried out. A research was applied to investigate the production of maize as well as the income of the farmers. Research was conducted using a structured interview with questionair to 30 maize hybrids farmers and 30 local maize farmers in the Wakobalu Agung Village,Kabangka Sub District, and Bente Village, Kabawo Sub District, Muna District in October to December 2015. The results showed that based on t test, the productivity of hybrid maize was significantly higher than the local variety, so the hybrid maize planting could increase of maize productivity. Hybrid farmers applied urea and NPK while the local maize growers did not use inorganic fertilizers. Organic fertilizer was applied both by hybrid maize and local maize group, yet dose of both groups respectively was varied. Hybrid maize farming with Bima 19 URI variety and local maize was feasible, each B/C 1.07 and 1.17. However the productivity and farmers’ income of the hybrid maize was higher than the local maize. The productivity of the hybrid maize by Bima 19 URI was 4,744 kg dry grain/ha and thefarmers’ income was IDR8,596,000. The productivity of the local maize was 1,404 kg dry grain/ha as well as farmers’ income was IRD4,666,000.Hybrid maize farming, productivity, farmers' incomeABSTRAKLuas panen jagung tahun 2015 di Kabupaten Muna yaitu 13.159 ha, dengan produksi 32.007 ton, produktivitas 2,43 t/ha. Produktivitas jagung yang dicapai selama ini dinilai masih rendah, mengingat hasil kajian BPTP Sulawesi Tenggara tahun 2014 sudah mampu diperoleh produktivitas 5 ton pipilan kering/ha. Untuk meningkatkan produksi jagung, maka telah dilakukan pendampingan dan penyebaran inovasi teknologi jagung menggunakan varietas hibrida. Berkenaan dengan hal tersebut maka dilakukan penelitian untuk mengetahui produksi dan pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan dengan metoda wawancara terstruktur menggunakan kuesioner terhadap 30 petani jagung hibrida dan 30 petani jagung lokal di Desa Wakobalu Agung, Kecamatan Kabangka dan Desa Bente, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna pada bulan Oktober – Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji t, diketahui bahwa produktivitas jagung hibrida yang ditanam petani berbeda nyata dengan produktivitas jagung lokal, sehingga penanaman jagung hibrida mampu mendorong peningkatan produktivitas jagung per hektar. Petani telah melakukan pemupukan urea dan NPK pada usahatani jagung hibridaBima 19 URI, hal ini tidak dilakukan oleh petani yang menanam jagung lokal. Namun demikian pupuk organik digunakan untuk usahatani jagung hibrida Bima 19 URI dan jagung lokal dengan dosis yang bervariasi. Usahatani jagung hibrida Bima 19 URI dan jagung lokal layak dan menguntungkan dengan masing nilai B/C 1,07 dan 1,17, 36 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 20, No.1, Maret 2017: 36-46 namun demikian produktivitas dan pendapatan usahatani jagung hibrida lebih tinggi daripada usahatani jagung lokal. Produktivitas jagung hibrida Bima 19 URI sebesar 4.744 kg pipilan kering/ha dengan nilai pendapatan Rp8.596.000, sedangkan produktivitas jagung lokal sebesar 1.404 kg pipilan kering/ha dengan nilai pendapatan Rp4.666.000.Usahatani jagung hibrida, produktivitas, pendapatan petan
STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KABUPATEN BANTUL DENGAN PENDEKATAN A’WOT
Konversi lahan pertanian di Kabupaten Bantul tinggi, produktivitas dan luas panen tanaman pangan cenderung mengalami penurunan, sehingga perlu diidentifikasi strategi pembangunannya yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pembangunan pertanian, dan (2) menyusun strategi pembangunan pertanian di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus tahun 2015. Faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dianalisis secara deskriptif. Penyusunan strategi pembangunan pertanian menggunakan pendekatan A’WOT. A’WOT merupakan penggabungan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan metode Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa faktor yang menjadi kekuatan utama dalam pembangunan pertanian adalah aksesibilitas dan infrastruktur yang baik, kelemahan utamanya adalah posisi tawar petani rendah, peluang utamanya adalah frekuensi penyuluhan yang tinggi, dan ancaman utamanya adalah harga input produksi meningkat. Prioritas utama strategi pembangunan pertanian di Kabupaten Bantul adalah dengan membudidayakan komoditas unggulan, yaitu padi sawah, jagung, kedelai, kacang tanah dan meningkatkan kapasitas dan frekuensi penyuluhan dengan melibatkan kelompok tani.ABSTRACTAgricultural Development Strategy with A’WOT Approach in Bantul District. Agricultural land conversion in Bantul District is high, while crops productivity and harvested area tend to decrease; therefore it is necessary to identify appropriate development strategies. The purposes of this study were (1) to identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of agricultural development and (2) to generate agricultural development strategy in Bantul District. The study was conducted in Bantul District from July to August 2015. Factors of strengths,weaknesses, opportunities and threats were analyzed descriptively. The strategy formulation for agricultural development used A'WOT approach. A'WOT is an incorporation between Analytical Hierarchy Process (AHP) and Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). The result revealed that in agricultural development the main factors of strengths were accessibility and good infrastructure whereas the main weakness was low bargaining positionof farmers. Meanwhile the main opportunity was a high frequency of farming extension whilst the main threat was the increasing of inputs price. The main priority of agricultural development strategy in Bantul was by cultivating leading commodities namely wetland paddy, corn, soybean, peanut, and increasing the capacity and frequency of extension by involving farmer groups
ANALISIS FUNGSI KEUNTUNGAN PADA USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH
ABSTRAK abstThe decline of harvested area and production of soybean in Grobogan District in period 2009 – 2013 were 10.48% and 5.12% per year, respectivelly. It was alleged related to the uncompetitive price of soybean at the farm level. This research aimed 1) to reveal the use and price of production input at the farm level and 2) to analyze the inputs price to the profit of soybean farming system. The research was conducted in Pulokulon District (Tuko and Sembungharjo Villages) and Gabus District (Gabus and Tlogo Tirto Villages) with survey method to 40 respondents from March to August 2014. The collected data were input and output of farming system, i.e land area, price of fertilizers, price of pesticides, wage of labor and price of soybean. The data was analyzed using profit function. The result showing the production inputs that significantly affected the profit were the prices of fertilizers (Urea and Phonska), other costs and plantation areas; therefore, to develop soybean plants and increase the farming profits, it requires price guarantee of fertilizers and soybean and the introduction of soybean farming system technologies. ABSTRAKPenurunan luas panen dan produksi kedelai di Kabupaten Grobogan pada rentang waktu 2009 –2013 adalah 10,48% per tahun dan 5,12% per tahun. Penurunan tersebut diduga terkait dengan harga kedelai di tingkat petani yang kurang kompetitif. Penelitian bertujuan 1) mengungkapkan penggunaan dan harga input produksi di tingkat petani dan 2) menganalisis harga input produksi terhadap keuntungan usahatani kedelai. Penelitian dilakukan di Kecamatan Pulokulon (Desa Tuko dan Sembungharjo) dan Kecamatan Gabus (Desa Gabus dan Tlogo Tirto) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pengkajian bersifat survei melibatkan 40 petani responden pada bulan Maret –Agustus 2014. Data yang dikumpulkan mencakup data input dan output usahatani, yaitu luas lahan, harga pupuk, pestisida, upah tenaga kerja, dan harga kedelai. Analisis data menggunakan fungsi keuntungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa harga input produksi yang berpengaruh nyata terhadap keuntungan kedelai adalah harga pupuk Urea, pupuk Phonska, biaya lainnya, dan luas tanam. Dengan demikian, untuk mengembangkan tanaman kedelai danmeningkatkan keuntungan usahatani diperlukan adanya jaminan harga pupuk dan kedelai serta introduksi teknologi usahatani kedelai.Kata kunci: fungsi keuntungan, kedelai, input, outpu
KAJIAN USAHATANI BAWANG MERAH DENGAN PAKET TEKNOLOGI GOOD AGRICULTURE PRACTICES
Shallot Farming With Good Agriculture Practices Technology Package. The productivity of shallot at the farmer level in Dolok Silau Sub district, North Sumatera Province is still low that is 4-5.25 ton/ha. The area of shallot cultivation in North Sumatra continues to decrease, because the selling price of tubers often harms the farmers. This study aimed to determine the increase shallot productivity using Good Agriculture Practices (GAP) technology package. This assessment was an adaptive research in a farming system perspective with On Farm Client Oriented Adaptive Research (OFCOAR) approach. The assessment was carried out in three farmer groups in Sarang Padang Village, Dolok Silau Sub-district, North Sumatera Province, 2016. The total area of shallot farming was 1500 m2 . The GAP technology package increased production costs per hectare, but the cost of shallot production per kg became cheaper, equal to (58%) of the farmer's technological costs. B/C of GAP package was 3.21 or this value was higher than the farmer technology package by 0.60. The addition of one unit of production cost to the GAP technology package could increase revenue by 7.29 times the revenues earned by the usual technology applied by farmers. The analysis of competitive advantage showed that the minimum selling price of shallot was 6,844.9 IDR/kg. Farmers still gain a competitive advantage from shallot farming activities at production rate of 17 ton/ha with the application of GAP technology.shallot, package technology, GAP, production cost, revenue ABSTRAKProduktivitas bawang merah di tingkat petani di Kecamatan Dolok Silau, Provinsi Sumatera Utara masih rendah yaitu 4-5,25 ton/ha. Luas pertanaman bawang merah di Sumatera Utara terus berkurang, karena harga jual umbi yang sering merugikan petani. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan produktivitas bawang merah menggunakan paket teknologi Good Agriculture Practices (GAP). Pengkajian ini merupakan penelitian adaptif dalam perspektif sistem usahatani dengan pendekatan On Farm Client Oriented Adaptive Research (OFCOAR). Pengkajian dilaksanakan pada tiga kelompok tani di Desa Sarang Padang, Kecamatan Dolok Silau, Sumatera Utara, 2016. Luasan pertanaman bawang merah masing-masing kelompok tani 1500 m2 . Paket teknologi GAP tersebut meningkatkan biayaproduksi per hektar, tetapi biaya produksi bawang merah per kg menjadi lebih murah sebesar (58%) dari biaya teknologi petani. B/C paket GAP sebesar 3,21 atau nilai ini lebih tinggi dibandingkan paket teknologi petani sebesar 0,60. Penambahan satu satuan biaya produksi pada paket teknologi GAP dapat meningkatkan pendapatan sebesar 7,29 kali dari pendapatan yang diperoleh dengan teknologi yang biasa diterapkan petani. Analisis keuntungan kompetitif menunjukkan bahwa harga jual minimal bawang merah sebesar Rp6.844,9/kg. Petani masih memperoleh keuntungan kompetitif dari kegiatan usahatani bawang merah pada tingkat produksi 17 ton/ha dengan penerapan teknologi GAP.bawang merah, paket teknologi, GAP, biaya produksi, keuntunga