Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI PENANGKARAN BENIH PADI POLA KEMITRAAN DI KABUPATEN SUBANG: PENDEKATAN STOCHASTIC FRONTIER ANALYSIS
Analysis of Technical Efficiency From Rice Seed Breeding Farming with Partnership in Subang Regency: Stochastic Frontier Analysis Approach. Rice seed breeding farms is an alternative for farmers in increasing their income. But sometimes the lack of capital and knowledge is an obstacle for breeder farmers, which has an impact on low productivity. The partnership between farmers and partner companies can be a solution for improving technical production efficiency so that productivity can increase. This study aims to determine the level of technical efficiency of rice seed production through a partnership schme in Subang regency, West Java and study the factors that influence the efficiency of rice seed production. Fifty respondents in Tolangohula Sub district, Subang District, Gorontalo Province were selected by accidental sampling method Samples taken in this research are 50 breeder farmers, consisting of farmers who are partners and who do not partner. Stochastic Frontier Analysis (SFA) was employed to estimate technical efficiency and to find the factors that affected the efficiency of rice seed breeding farming. Results of the analysis showed that the farming of all respondent farmers was technically efficient with an average efficiency index of 0.92. Technical efficiency of partner farmers is higher than non-partner farmers, average efficiency of partner farmers is 0.93 while the average efficiency of non-partner farmers is 0.90, but the partnership did not significantly affect the efficiency. Factors that influenced the technical efficiency were age and farming experience. Technical efficiency can be increased if farming is done by young farmers and with intensive training and mentoring, because its can improve farmers’ experience and farmers’ knowledge.ABSTRAKUsahatani penangkaran benih padi menjadi salah satu alternatif bagi petani dalam meningkatkan pendapatannya. Namun terkadang ketersediaan modal dan pengetahuan menjadi hambatan bagi petani penangkar yang berdampak pada rendahnya produktivitas. Pola kemitraan antara petani dan perusahaan mitra dapat menjadi solusi memperbaiki efisiensi teknis produksi agar produktivitas meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis produksi benih padi melalui pola kemitraan dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi produksi benih padi di Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat tersebut. Total sampel dalam penelitian sebanyak 50 petani penangkar, terdiri dari petani mitra dan petani non mitra. Analisis efisiensi dan faktor-faktor menggunakan pendekatan Stochastic Frontier Analysis (SFA). Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani untuk seluruh petani responden telah efisien dengan tingkat efisiensi rata-rata sebesar 0,92. Efisiensi petani dengan pola kemitraan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan petani non mitra (efisiensi petani mitra adalah 0,93 sedangkan petani non mitra adalah 0,90), namun kemitraan tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan efisiensi teknis. Pola kemitraan yang berjalan tidak sempurna dapat mempengaruhi efisiensi teknis. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap efisiensi teknis adalah usia petani dan pengalaman berusahatani. Efisiensi teknis dapat meningkat apabila usahatani dikerjakan oleh petani-petani usia produktif diikuti dengan pelatihan dan pendampingan yang intensif, karena pelatihan dan pendampingan mampu meningkatkan pengalaman dan wawasan petani
PENGARUH RESIDU PUPUK P PADA MT I TERHADAP STATUS P TANAH dan HASIL PADI SAWAH PADA MT II di KABUPATEN DHARMASRAYA SUMATERA BARAT
ABSTRACT Effectof Residual Fertilizer P on MTI to Land P StatusandResults Paddy Fieldon MT II in District Dharmasraya West Sumatera. Upland converted to paddy field, and intensively fertilized for 30 years causes the soil phosphorus (P) to be very high and the plant does not respond to the fertilization of P. P fertilizer residues given in the previous planting season needs to be studied its utilization for the next planting. This study aimed to examine the effect of P fertilizer residue on MT I with high P status to P status and paddy rice yield on MT II in Dharmasraya Regency. The research was conducted from August - December 2013 on newly established paddy field in Dharmasraya District with Typic Hapludults soil type. The results showed that the application of P fertilizer at MT I with high rate on the high P status was proven to be utilized by plant on MT II. However, to obtain high productivity of the plant is still needed additional P fertilizer. The residue of P fertilizer on MT I can still be utilized to increase yield on MT II by 8.46% from 4,444 kg dried milled grain/ha to 4,820 kg dried milled grain/ha. The increase of P fertilizer rate no longer has a significant effect on the increase of dried grain yield. paddy, fertilizer,phosphorus, residual effect. ABSTRAKLahan kering yang dikonversi menjadi sawah, dan diberi pupuk secara intensif selama 30 tahun menyebabkan kadar hara fosfor (P) tanah menjadi sangat tinggi dan tanaman tidak respon terhadap pemupukan P. Residu pupuk P yang diberikan pada musim tanam sebelumnya perlu dikaji pemanfaatannya untuk tanaman berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh residu pupuk P pada MT I pada lahan sawah berstatus P tinggi terhadap status P tanah dan hasil padi sawah pada MT II di Kabupaten Dharmasraya. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus - Desember 2013 pada sawah baru mapan di Kabupaten Dharmasraya dengan jenis tanah Typic Hapludults. Hasil pengkajian menunjukkan pemberian pupuk P pada MT I dengan dosis tinggi pada sawah dengan status P tinggi, terbukti masih bisa dimanfaatkan tanaman pada MT II. Namun demikian, untuk mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi masih diperlukan tambahan pupuk P. Residu pupuk P pada MT I masih dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil pada MT II sebesar 8,46% dari 4.444 kg GKG/ha menjadi 4.820 kg GKG/ha. Peningkatan takaran pupuk P selanjutnya tidak lagi berpengaruh nyata terhadap peningkatan hasil gabah kering giling. padi sawah, pemupukan, fosfor, pengaruh residu
RESPON PENGRAJIN TEMPE TERHADAP INTRODUKSI VARIETAS UNGGUL KEDELAI UNTUK PRODUKSI TEMPE
ABSTRACT Response of Tempe SMEs Into Soybean Improved Varieties Introduction for Tempe Production. Intensive socialization and introduction of improved soybean varieties has been conducted along with the extension of soybean cropping area so that improved soybean varieties will be available abundantly in market. Therefore, socialization to soybean small and medium enterprises (SMEs) involving tempe producers particularly who live outside of soybean production center should be done due to they used to use imported soybean for the tempe processing. Study aimed to depict the introduction of Iletri’s soybean improved varieties for tempe production and to observe the producers’ responses on substitution of imported soybean. Study was conducted on September 2015 involving 122 respondents consisted of 39 tempe producers, 67 tempe chip producers, and 16 other soybean product producers. Primary data was obtained through interview method with semi-opened questionaire involving data of SME’s general characteristics, tempe sensory test result, and response of respondents. Data was equipped with physicochemical analysis of raw tempe made from improved soybean varieties with imported one as a comparison. The result showed that tempe made from Argomulyo, Anjasmoro, and Burangrang varieties had higher protein content than tempe form imported soybean. Tempe from Grobogan variety had no significantly different of weight and volume with imported one. For sensory atributes, the producers gave a positive response with standard of like to very like for tempe made from Anjasmorro variety. Information on physicochemical and sensory atributes of tempe showing that the qualities of tempe from improved soybean varieties were similar even better than imported soybean one depicted to the producers there is an opportunity for substitution of imported soybean. It is expected that the awareness will improve into adoption with the support of stakeholders including related local offices. improved soybean varieties, imported soybean, substitution, tempe producers ABSTRAK Sosialisasi dan introduksi varietas unggul telah dilakukan secara intensif seiring dengan upaya perluasan areal tanam kedelai sehingga kedelai dari varietas unggul akan banyak tersedia di pasaran. Oleh karena itu, sosialisasi kepada industri pengolahan kedelai, terutama yang berdomisili di luar daerah sentra produksi kedelai termasuk Kota dan Kabupaten Malang perlu dilakukan karena selama ini mereka masih terbiasa menggunakan kedelai impor. Studi bertujuan memberikan gambaran mengenai hasil pembinaan berupa introduksi penggunaan varietas unggul kedelai Balitbangtan untuk produksi tempe dan melihat respon pengrajin. Studi dilaksanakan pada September 2015, melibatkan 122 orang responden, terdiri dari 39 pengrajin tempe, 67 pengrajin keripik tempe, dan 16 pengrajin olahan kedelai lain. Data primer didapatkan melalui metode wawancara dengan kuesioner semi-terbuka, meliputi data karakteristik umum usaha industri kecil menengah (IKM), uji sensoris tempe, dan respon pengrajin. Data dilengkapi dengan analisis fisik dan kimia tempe dari kedelai varietas unggul dan kedelai impor sebagai pembanding. Hasil menunjukkan tempe dari kedelai varietas Argomulyo, Anjasmoro, dan Burangrang memiliki kadar protein yang lebih tinggi dari tempe kedelai impor. Bobot dan volume tempe dari varietas Grobogan tidak berbeda nyata dengan tempe kedelai impor. Dari segi sensoris, pengrajin memberikan respon positif dengan tingkatan suka sampai sangat suka untuk tempe dari varietas Anjasmoro. Informasi mengenai mutu fisik, kimia, dan sensoris tempe yang menunjukkan bahwa mutu tempe yang dibuat dari kedelai varietas unggul tidak kalah bahkan melebihi mutu tempe dari kedelai impor memberikan gambaran pada pengrajin bahwa kedelai impor berpeluang disubstitusi oleh kedelai varietas unggul untuk produksi tempe. Kesadaran ini diharapkan dapat meningkat menjadi adopsi dengan dukungan berbagai pihak (stakeholders). kedelai varietas unggul, kedelai impor, substitusi, pengrajin temp
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI PETANI TERHADAP KEBIJAKAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI PROVINSI BALI
Alih fungsi lahan pertanian terutama lahan sawah beririgasi di Provinsi Bali menunjukkan dinamika perubahan penggunaan lahan pertanian yang cukup intensif seiring dengan berkembangnya perekonomian wilayah. Terbitnya Undang-Undang No.41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), diharapkan dapat menahan laju konversi lahan sawah khususnya sawah dengan irigasi teknis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli - September 2015 melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner terhadap 90 petani yang terdistribusi masing-masing 30 petani di Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Badung. Untuk menganalisis faktor-faktor yang diduga mempengaruhi persepsi/respon petani terhadap kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dilakukan melalui regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil analisis menunjukkan bahwa respon petani terhadap kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dipengaruhi oleh : budaya bertani, sikap terhadap perubahan, keyakinan kemampuan diri, tingkat keberanian berisiko, tingkat intelegensia, rasionalitas, kerjasama, peran dalam kelompok tani serta intensitas penyuluhan ataupun sosialisasi terkait perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Untuk meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan maka perlu mempertimbangkan perbedaan tingkat persepsi terhadap kebijakan tersebut dengan mengoptimakan peran anggota dalam kelompok tani maupun petani innovator disertai dengan sosialisasi intensif, partisipatif dan komitmen pemerintah dalam implementasinya
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP KACANG TANAH DI LAHAN TADAH HUJAN SUMATRA BARAT
ABSTRACTInfluence of fertilization on peanut in rainfed lands in West Sumatra. Generally, crop productivity in rainfed lowland of West Sumatra is relatively low due to limited available water especially during dry season and soil nutrient status. The main objectives of this assessment were to obtain adaptive varieties and suitable fertilizer packages for peanuts production in rainfed lowland and rainfed highland. The assessment was conducted in two rainfed field locations, i.e. in Lurah Ampalu village, Padang Pariaman District (55 m asl/lowland) and in Koto Gadang Guguk Village, Solok District (885 m asl/upland) from July to November 2015 using Split-Plot Design with three replications. As the main plot was three fertilizer package while as the subplot was five peanut varieties (Hypoma-2, Takar-1, Takar-2, Jerapah, dan Kelinci). The results showed that the five peanut varieties significantly affected crop yield on both rainfed fields, while the three fertilization packages significantly affected crop yield only on rainfed lowland field. The yields in rainfed lowland field were higher than in rainfed highland field. Potential peanut varieties suitable for rainfed lowlands are Takar-1 and Takar-2, whereas in rainfed highland are Hypoma-2 and Kelinci varieties. For both rainfed areas the highest peanut yield was obtained in the fertilizer package based on soil nutrient status, i.e. for lowland 50 kg, Urea 25 kg, TSP 45 kg, KCl 2 tons of manure and 200 kg of Dolomite, while for higland 50 kg Urea, 75 kg TS, 50 kg, KCl 1 ton of cage manure and 200 kg Dolomite.varieties, peanut, fertilizer, rainfed land ABSTRAK Secara umum produktivitas lahan sawah tadah hujan di musim kemarau rendah, karena kurangnya ketersediaan air dan status hara tanahnya rendah. Tujuan pengkajian adalah mendapatkan varietas adaptif dan paket pemupukan yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi kacang tanah di lahan sawah tadah hujan dataran rendah dan dataran tinggi. Pengkajian dilaksanakan di dua lokasi lahan sawah tadah hujan, yaitu Desa Lurah Ampalu, Kabupaten Padang Pariaman (55 m dpl/dataran rendah) dan Desa Koto Gadang Guguk, Kabupaten Solok (885 m dpl/dataran tinggi) mulai Juli sampai dengan November 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dan tiga ulangan. Petak utama adalah tiga paket pemupukan, dan sebagai anak petak adalah lima varietas unggul kacang tanah (Hypoma-2, Takar-1, Takar-2, Jerapah, dan Kelinci). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kelima varietas berpengaruh nyata terhadap hasil kacang tanah di kedua lahan sawah tadah hujan, sedangkan ketiga paket pemupukan hanya berpengaruh nyata terhadap hasil kacang tanah di lahan sawah tadah hujan dataran rendah saja. Hasil kacang tanah lebih tinggi di lahan sawah tadah hujan dataran rendah dibandingkan dengan hasil di lahan sawah tadah hujan dataran tinggi. Varietas yang potensial dikembangkan di lahan tadah hujan dataran rendah adalah Takar-1 dan Takar-2, sedangkan pada lahan tadah hujan dataran tinggi lebih sesuai dikembangkan varietas Hypoma-2 dan Kelinci. Untuk kedua lokasi paket pemupukan yang lebih memberikan hasil tinggi adalah paket pemupukan berdasarkan status hara tanah, yaitu untuk dataran rendah 50 kg Urea + 25 kg TSP + 45 kg KCl + 2 ton pupuk kandang dan 200 kg Dolomit, sedangkan untuk dataran tinggi 50 kg Urea + 75 kg TSP + 50 kg KCl + 1 ton pupuk kandang + 200 kg Dolomit.varietas, kacang tanah, pupuk, lahan sawah tadah huja
DAMPAK KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP EKONOMI RUMAH TANGGA PETANI PADI (STUDI KASUS KECAMATAN KERTAJATI KABUPATEN MAJALENGKA JAWA BARAT)
Konversi lahan pertanian yang terjadi di Kecamatan Kertajati merupakan implikasi dari proses pembangunan yang dihasilkan oleh kebijakan pemerintah. Konversi lahan pertanian tersebut dapat menimbulkan dampak negatif berupa kerugian sosial dan ekonomi bagi rumah tangga petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengestimasi dampak sosial ekonomi rumah tangga petani dan 2) menganalisis alternatif kebijakan untuk meminimalkan dampak negatif bagi petani. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara kepada responden. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis hilangnya kesempatan kerja petani, analisis hilangnya produksi padi, analisis pendapatan, Loss of Earnings (LoE) dan metode TOPSIS dengan sofware sanna. Hasilnya adalah nilai kerugian ekonomi berupa hilangnya kesempatan kerja pertanian (Rp 12.205.397/ha/tahun), nilai ekonomi produksi padi yang hilang (Rp 59.175.911/ha/tahun), berkurangnya pendapatan usahatani padi (Rp 37.999.535,-/ha/tahun), dan berkurangnya penghasilan total rumah tangga petani (Rp 3.999.223/tahun). Urutan alternatif untuk mengurangi dampak negatif alih fungsi lahan pertanian terhadap rumah tangga petani dengan mempertimbangkan kriteria ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan prioritas pertama adalah tukar guling tanah. Opprtunity job menjadi prioritas kedua dan pelatihan prioritas ketiga.konversi lahan pertanian, ekonomi rumah tangga, petani pad
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELUANG PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH KEDELAI DI SULAWESI TENGGARA
ABSTRACT Factors Influence The Opportunity of Soybean Seed Production Technology in Southeast Sulawesi. One of the problems to increase soybean productivity is lack of use of quality seeds at the farm level. Therefore, increasing the production of soybean is very important, which can be pursued through the growth of breeding seeds at the farm level. Activities are conducted in March - December 2014 using survey methods and Focus Group Discussion (FGD). This study aims to know (1) the factors influence the business development opportunity of soybean seed production (2) the perception of farmers on soybean seed production technology in Southeast Sulawesi. Factors affecting farmers to adopt seed production technology were analyzed by using logit regression model, while farmer perception was analyzed descriptively. The results showed that: (1) The development of soybean seed production business is influenced by three socio-economic factors namely age, education, and number of family dependents. (2) The opportunity for the development of soybean breeding business in Southeast Sulawesi is very wide open, which is viewed with positive perception of farmers to soybean breeding business. But for the development of soybean seedling business, need to pay attention to market availability factor.opportunities, seed production, soybean, southeast Sulawesi ABSTRAK Salah satu permasalahan dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah rendahnya penggunaan benih bermutu di tingkat petani. Oleh karena itu, peningkatan produksi kedelai melalui penggunaan benih bermutu merupakan suatu keharusan, yang dapat diupayakan melalui adopsi teknologi produksi benih di tingkat petani. Kegiatan dilaksanakan pada Maret - Desember 2014 menggunakan metode survei dan Focus Group Discussion (FGD). Kajian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peluang pengembangan usaha produksi benih kedelai dan (2) persepsi petani terhadap teknologi produksi benih kedelai di Sulawesi Tenggara. Faktor-faktor yang mempengaruhi petani untuk mengadopsi teknologi produksi benih dianalisis dengan menggunakan model regresi logit, sementara persepsi petani dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pengembangan usaha produksi benih kedelai dipengaruhi oleh tiga faktor sosial ekonomi yaitu umur, pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga. (2) Peluang pengembangan usaha penangkaran benih kedelai di Sulawesi Tenggara sangat terbuka luas, yang dilihat dengan positifnya persepsi petani terhadap usaha penangkaran benih kedelai. Namun untuk pengembangan usaha penangkaran benih kedelai, perlu memperhatikan faktor ketersediaan pasar. peluang, produksi benih, kedelai, sulawesi tenggar
ANALISIS PERSEPSI PETANI TERHADAP PENERAPAN TANAM JAJAR LEGOWO PADI SAWAH DI SULAWESI TENGGARA
ABSTRACT Farmers Perception Analysison The Implementation of JajarLegowo Planting System Technology on Rice in Southeast Sulawesi. Jajarlegowo is one of the planting system that introduced by Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) to increase rice production. The research was conducted to know perception of the farmer, benefit of farm and influencing factors of implementation jajarlegowo planting system technology on rice plant in South East Sulawesi Province. The research was used survey method for 90 farmers as respondents in Bombana, West Muna and Konawe Regency, South East Sulawesi Province since July to November 2015. The result of research showed that 62.32% of respondents agreed with jajarlegowo technology, 18.85% hesitate and 18.82% reject this technology. The economic analysis showed that jajarlegowo planting system using drum seeder gave higher benefit Rp16.185.000 per ha per season than other planting systems. Wide area had negative effect but farmer perception gave possitive effect for application of jajarlegowo planting system. Jajarlegowo planting system technology will become one of the most prospective strategy for increasing of rice production in South East Sulawesi, therefore should be conducted through field of demonstration system and also other massive dissemination models.Perception, benefit, jajarlegowo planting system Jajar legowo merupakan salah satu sistem tanam yang diperkenalkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian untuk mendorong peningkatan produksi padi. Penelitian di lakukan untuk mengetahui persepsi petani, keuntunganusahatani penerapan teknologi cara tanam jajar legowo dan faktor yang mempengaruhi penerapan teknologi sistem tanam jajar legowo pada tanaman padi di Sulawesi Tenggara. Penelitian menggunakan metode survey terhadap 90 orang responden di Kabupaten Bombana, Muna Barat dan Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Juli – November 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,32% petani setuju terhadap sistem tanam jajar legowo, 18,85% ragu-ragu dan 18,82% tidak setuju. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa sistem tanam jajar legowo dengan menggunakan tabela memberikan pendapatan tertinggi yaitu sebesar Rp 16.185.000,- per musim tanam per ha. Luas lahan berpengaruh negatif, sementara persepsi petani berpengaruh positif terhadap penerapan sistem tanam jajar legowo di tingkat petani. Sistem tanam legowo dapat menjadi salah satu strategi peningkatan produksi padi sawah di Sulawesi Tenggara, oleh karena itu diseminasi teknologi tersebut baik melalui demonstrasi lapangan maupun melalui media diseminasi lainnya perlu terus dilakukan secara massif.
RESPON KINERJA PRODUKSI DAN FISOLOGIS KAMBING PERANAKAN ETTAWA TERHADAP PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN DEDAK HALUS PADA AGROEKOSISTEM LAHAN KERING di KALIMANTAN SELATAN
ABSTRACTPerformance and Physiological Response Peranakan Ettawa Goat to Supplementary Feeding With Rice Bran on Dryland Agroecosystem in South Kalimantan. This research was to know the performance of Peranakan Ettawa goat and physiological responses tosupplementation feeding of rice bran in the area of dryland agroecosystem in South Kalimantan. This design of experiment was a 4 x 4 Latin Square using 4 Etawa goats of second lactation with average of body weight of 47.50 ± 3.32kg/doe. There were 4 levels of rice bran supplementation ie P1 (0%), P2 (30%), P3 (50%) and P4 (70%) of dry matter requirement. The main feed was a mixture of rambanan (Niponan (Clibadium surinamense L), Rawatan (Pachystilidium hirsutum (Blume), Laban (Vitex pinnata L), Kacangan (Centrosema pubescens B) dan Dadap alas (Mallotus paniculatus). Drinking water was provided ad libitum. Parameters observed were feed intake, milk production and physiological response (heart rate, respiration, rectal temperature and skin temperature). The data obtained were analyzed using the procedure of "General Liner Model" least square mean. The differences in mean values were then examined using the Duncan test. The results showed that supplementary feeding with rice bran had an effect on feed consumption, milk production and physiological repon of goats. The Peranakan Ettawa goat farms business has the potential to be developed in the drylands of South Kalimantan.peranakan etawah goats, productivity, physiological response, dryland.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui respon kinerja produksi dan fisiologis kambing Peranakan Etawah terhadap tingkat pemberian pakan tambahan (dedak halus) pada agroekosistem lahan kering di Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan Bujur Sangkar Latin 4x4 menggunakan 4 ekor kambing Peranakan Etawa laktasi ke dua dengan bobot badan rata-rata 47.50 ± 3.32 kg/ekor.Empat tingkatan perlakuan pemberian dedak halus sebagai pakan tambahan sebanyak0%(P1), 30% (P2), 50% (P3) dan 70% (P4) dari kebutuhan bahan kering (BK). Pakan utama berupa campuran hijauan pakan yang diberikan berdasarkan kebiasaan peternak berupa rambanan (Niponan (Clibadium surinamense L), Rawatan (Pachystilidium hirsutum (Blume), Laban (Vitex pinnata L), Kacangan (Centrosema pubescens B) dan Dadap alas (Mallotus paniculatus). Air minum disediakan secara ad libitum.Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, produksi susu dan respon fisiologis (denyut jantung, respirasi, suhu rektal dan suhu tubuh). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur “General Liner Model” least square mean. Perbedaan nilai rataan pada peubah yang diukur dari setiap perlakuan diujidengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pakan tambahan berpengaruh terhadap konsumsi pakan, produksi susu dan repon fisiologis kambing Peranakan Etawah. Usaha peternakan kambing Peranakan Ettawa berpotensi untuk dikembangkan di lahan kering Kalimantan Selatan.kambing peranakan ettawah, produktivitas, respon fisiologis, lahan kering