Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
PROFITABILITAS YANG HILANG DAN TERSEMBUNYI DALAM USAHATANI PERBENIHAN PADI DI SUMATERA UTARA, INDONESIA
Lost Profitability in Rice Seeding Farming in North Sumatera. This study aims to: (1) Identify the existence of harvest losses phenomenon in the activities of paddy seedling farming of seed growers in seed independent village, (2) Calculate the total of losses profitability due to the existence of harvest losses both in terms of the amount and economic value, and (3) Test the correlation between this harvest losses variables to its productivity values. The observation locations were selected purposively while respondents were chosen with judgemental method. To answer the three objectives, MS Excel and SPSS software were used. The results showed that harvest losses were occurred in all areas of observation. Pre processing harvest losses had a negative but non significant effect on productivity while post processing harvest losses had a negative and significant effect on productivity at the significancy level of 5%. Simalungun was the highest contributor with total loss 312,318,000 IDR per planting season per year. Losses were not only received by farmers but also to the local governments. Keywords: rice, profitability, losses, seedling, North Sumatera ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: (1). Mengidentifikasi keberadaan fenomena kehilangan hasil dalam kegiatan pascapanen usahatani perbenihan padi di Desa Mandiri Benih. (2). Menghitung total kerugian yang ditimbulkan akibat keberadaan fenomena kehilangan hasil tersebut baik dari segi jumlah maupun nilai ekonominya, serta (3). Menguji korelasi diantara egative tersebut dengan nilai produktivitasnya. Pemilihan lokasi pengamatan dilakukan secara sengaja sedangkan responden dipilih dengan menggunakan teknik sampling pertimbangan. Untuk menjawab ketiga tujuan tersebut, digunakan bantuan software MS. Excel dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan hasil (pra pengolahan) memberikan pengaruh negative yang tidak signifikan terhadap produktivitas sedangkan kehilangan hasil (pasca pengolahan) memberi pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas pada taraf nyata 5%. Simalungun merupakan kabupaten penyumbang kerugian tertinggi dengan nilai total kerugian sebesar Rp 312.318.000 per musim tanam per tahun. Kerugian tidak hanya diterima oleh petani tetapi juga pemerintah daerah.Kata kunci: padi, profitabilitas, hilang, tersembunyi, perbenihan, Sumatera Utar
DETERMINASI PELUANG ADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA TERNAK AYAM KUB DI PAPUA BARAT
Pengkajian budidaya ayam KUB di Papua Barat telah dilakukan di KP Sorong, tahun 2017 yang hasilnya terbukti adaptif dengan kondisi setempat. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui peluang adopsi teknologi budidaya ternak ayam KUB tersebut di tingkat petani. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dan observasi lapangan di perkampungan sekitar KP Sorong, yang melibatkan petani yang sudah mencoba mengikuti pemeliharaan ayam KUB yang bersumber dari KP Sorong. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik petani dan data tahapan budidaya yang dilakukan petani dalam membudidayakan ayam KUB serta respon petani terhadap ayam KUB. Bahasan diperkaya dengan data sekunder dan hasil tinjauan yang diperoleh melalui studi pustaka dan penelusuran online. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitati dan kuantitatif yang dipertajam dengan pendekatan SWOT. Hasil analisis memberikan gambaran bahwa pengembangan teknologi budidaya ayam KUB terbukti adaptif di Papua Barat, khususnya di perkampungan sekitar KP Sorong. Faktor-faktor yang diduga menjadi determinasi peluang adopsi teknologi budidaya ayam KUB di Papua Barat, antara lain terkait dengan adanya keharusan untuk memelihara ayam KUB secara intensif, dengan penyediaan pakan yang teratur. Persyaratan itu menuntut perlunya perubahan kebiasaan petani dari biasanya memelihara ayam apa adanya tanpa risiko menjadi kegiatan yang mengandung risiko. Untuk menangkap peluang pengembangan ayam KUB di Papua Barat diperlukan pendampingan teknologi yang intensif melibatkan peneliti dan penyuluh yang kompeten dalam penerapan teknologi budidaya ayam KUB.Kata Kunci: Ayam KUB, adopsi, peluang, determinasi, SWOT
KERAGAAN VARIETAS PADI SAWAH IRIGASI DAN PENINGKATAN PENDAPATAN MELALUI PENDAMPINGAN PENGENDALIAN TANAMAN TERPADU (PTT) DI PROVINSI BALI
Performance of Irrigated Rice Varieties and Incresing t of Income Through ICM Assistance in Bali Province. Rice commodity assistance program is a strategic approach to increase rice productivity through Integrated Crop Management (ICM) to support sustainable agriculture. The study aimed to determine the agronomic performance of several high yielding varieties (HYVs) of rice and to increase farmers' income through mentoring programs ICM. The research was conducted using HYVs display locations in 9 districts/city in 2014 Bali Province. The study involved 45 respondents before and after ICM by taking 5 people from each regency/city using stratified random sampling method. The data of the collected agronomic components were analyzed using the diversity scheme (ANOVA). Costs and farm income were analyzed using analysis of income and financial feasibility. Agronomic performance of several high yielding varieties (HYVs) of rice on ICM mentoring program were different according to varieties and types of land agro-ecosystem. The analysis showed an increase in productivity with the implementation of ICM average of 1.30 tonnes/ha RHD increased by 24.82%. Rice farm income per hectare after ICM of 17.209.704,00 IDR and before ICM 12.644.656,00 IDR or increased 36.10%. The results of financial analysis indicated that the farming system was feasible to be developed with R/C after ICM of 2.94 and before ICM 2.53 or difference by 0.41. Rice farming is expected to implement ICM in order to support sustainable agriculture.Keywords: rice, ICM, high yielding varieties, incomeABSTRAK Program pendampingan komoditas padi merupakan pendekatan yang strategis dalam peningkatan produktivitas padi sawah melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian bertujuan mengetahui keragaan agronomis beberapa varietas unggul baru (VUB) padi sawah dan peningkatan pendapatan petani melalui program pendampingan PTT. Penelitian dilaksanakan pada lokasi display VUB di 9 kabupaten/kota Provinsi Balitahun 2014. Penelitian melibatkan 45 orang responden sebelum dan sesudah PTT dengan mengambil 5 orang masing-masing kabupaten/kota menggunakan metode stratified random sampling. Data komponen agronomis yang dikumpulkan dianalisis menggunakan sidik keragaman (ANOVA). Biaya dan pendapatan usahatanidianalisis menggunakan analisis pendapatan dan kelayakan finansial. Keragaan agronomis beberapa VUB padi sawah pada program pendampingan PTT berbeda menurut varietas dan tipe agroekosistem lahan. Hasil analisis menunjukkan peningkatan produktivitas dengan penerapan PTT rata-rata sebesar 1,30 ton/ha GKG atau meningkat 24,82%. Pendapatan usahatani padi sawah per hektar sesudah PTT sebesar Rp17.209.704 dan sebelum PTT sebesar Rp12.644.656 atau meningkat 36,10%. Hasil analisis finansial menunjukkan layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C sesudah PTT sebesar 2,94 dan sebelum PTT 2,53 atau selisih 0,41. Usahatani padi diharapkan menerapkan PTT mendukung pertanian berkelanjutan. Kata kunci: padi, PTT, varietas unggul baru, pendapata
DAYA HASIL PADI LAHAN KERING VARIETAS INPAGO 9, INPAGO 11, DAN UNSOED DI PROVINSI ACEH
ABSTRACT Yield Performance of Inpago 9, Inpago 11, and Unsoed Varieties Dryland Rice in Aceh Province. The availability of large areas in dry land is not a limited factor in efforts to develop rice in Aceh. One of alternative in the development of rice cultivation in dry land can be done by using drought resistance varieties. The purpose of this study was to assess the best adaptive varieties to drought which can increase rice yield, thus it can be recommended to farmers to be developed in dryland. The study was conducted in dry land in Krueng Meriam Village, Tangse Sub district, Pidie District with an area of ± 2 ha from March to December 2018. The experimental farm design used was factorial Randomized Block Design (RBD) with three replications. The first factor was variety (V) consisting of 3 levels, namely V1 = Inpago 9, V2 = Inpago 11, V3 = Unsoed, while the second factor was the dose of fertilizers (P) which consisted of 2 factors namely P1 = Specific Location (Urea 200 kg/ha, NPK = 200 kg/ha) and P2 = Recommendation (Urea 250 kg, NPK 300 kg/ha). Data were analyzed using Microsoft Ecxel. Observation parameters included growth and yield components. The results showed that Inpago 9, Inpago 11 and Unsoed varieties displayed a high agronomic character and the number of tillers differed from one another, but the yield was not significantly different which was 4 tons/ha. All three varieties are adaptive to dry land in Aceh.Keywords: dryland rice, yield, Inpago 9, Inpago 11, Unsoed ABSTRAK Ketersediaan lahan kering yang luas tidaklah menjadi faktor pembatas dalam upaya pengembangan padi di Aceh. Salah satu alternatif dalam pengembangan budidaya padi pada lahan kering adalah dengan memanfaatkan varietas-varietas tahan terhadap kekeringan. Tujuan dari penelitian adalah mengkaji varietas unggul adaptif kekeringan sehingga dapat meningkatkan hasil padi. Dengan demikian dapat dianjurkan kepada petani untuk dikembangkan di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di lahan kering di Desa Krueng Meriam Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie dengan luas ± 2 ha yang dilakukan pada bulan Maret hingga Desember 2018. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu varietas (V) terdiri dari 3 taraf yaitu V1 = Inpago 9, V2 = Inpago 11, dan V3 = Unsoed, sedangkan faktor kedua yaitu dosis pemupukan (P) yang terdiri dari 2 faktor yaitu P1 = Spesifik Lokasi (Urea 200 kg/ha, NPK = 200 kg/ha) dan P2 = Rekomendasi (Urea 250 kg, NPK 300 kg/ha). Data dianalisis menggunakan microsoft ecxel. Parameter pengamatan meliputi pertumbuhan dan komponen hasil. Hasil penelitian menunjukkan varietas Inpago 9, Inpago, 11, dan UNSOED menampilkan karakter agronomis tinggi dan jumlah anakan yang berbeda satu dengan yang lainnya, namun memiliki daya hasil yang tidak berbeda nyata yang mencapai 4 ton/ha. Ketiga varietas tersebut adaptif pada lahan kering di Aceh.Kata kunci: padi gogo, hasil, Inpago 9, Inpago 11, Unsoe
ANALISIS KORELASI SIKAP PETANI DENGAN ADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI DI SULAWESI SELATAN
Correlation Analysis of Farmers Attitudes on Adoption of Chilli Cultivation Technologies in South Sulawesi. The change in the adoption of technology by farmers from traditional systems to modern systems is one form of changing attitudes and behavior of farmers. The speed and level of utilization of agricultural technology innovation is considered to decrease due to the attitude of farmers who still reject these technological innovations. The existing agricultural extension is tended to given since the technology product is introduced regardless the geographical and economic conditions of farmers. The purpose of this study was to determine the correlation between farmers' attitudes and the adoption of chili cultivation technology in South Sulawesi. This study was conducted from May to July 2017. The study site was in Maros district, Tanralili sub-district, consisting of 3 villages, namely Todopulia, Borong and Lekopancing. The assessment was carried out through observation and interviews using a questionnaire to 85 respondent farmers. The data collected were primary data consisting of demographic information such as age, education level, gender, land area, farming experience; data on farmer attitudes regarding cognitive, affective and conative aspects; adoption of farmers related to chili cultivation technology. Secondary data were taken from related agencies and previous research reports from journals and websites. The data were analyzed descriptively and quantitatively using the Chi Square test of independence. The results showed there was no significant correlation between attitudes from cognitive and affective aspects with the level of adoption of chili cultivation technologies by farmers. However, attitudes from the conative aspect had a significant correlation with the adoption of chili cultivation technology. The correlation between farmer attitudes and the decision to adopt a technology was strongly influenced by internal factors (knowledge and experience) and external factors (land suitability, ease of farming, availability of facilities and infrastructure and support from farmer groups).Keywords: correlation, attitudes, adoption, technology, chilliABSTRAKPerubahan adopsi teknologi oleh petani dari sistem tradisional ke sistem modern merupakan salah satu bentuk perubahan sikap dan perilaku petani. Kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi teknologi pertanian dinilai menurun karena sikap petani yang masih menolak inovasi teknologi tersebut. Penyuluhan teknologi pertanian saat ini cenderung sudah ditentukan, karena produk teknologinya diintroduksikan tanpa melihat kondisi geografis dan ekonomi petani. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui korelasi sikap petani dengan adopsi teknologi cabai di Sulawesi Selatan. Pengkajian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli tahun 2017. Lokasi pengkajian di Kabupaten Maros, Kecamatan Tanralili, terdiri dari 3 desa yaitu Todopulia, Borong, dan Lekopancing. Pengkajian dilakukan melalui observasi dan wawancara menggunakan kuesioner terhadap 85 orang petani responden. Data yang dikumpulkan adalah data primer terdiri dari informasi demografis seperti usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, luas lahan, pengalaman bertani; data sikap petani menyangkut aspek kognitif, afektif dan konatif; dan adopsi petani terkait teknologi budidaya cabai. Data sekunder diambil dari instansi terkait dan laporan penelitian sebelumnya dari jurnal dan website. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif menggunakan uji independency Chi Square. Hasil yang diperoleh adalah tidak terdapat korelasi signifikan antara sikap dari aspek kognitif dan afektif dengan tingkat adopsi teknoogi budidaya cabai oleh petani. Akan tetapi, sikap dari aspek konatif mempunyai korelasi signifikan terhadap adopsi teknologi budidaya cabai. Korelasi sikap petani dengan keputusan mengadopsi suatu teknologi sangat dipengaruhi faktor intenal (pengetahuan dan pengalaman) dan faktor eksternal (kesesuaian lahan, kemudahan berusahatani, ketersediaan sarana dan prasarana, dan dukungan kelompok tani).Kata kunci: korelasi, sikap, adopsi, teknologi, cabai
PENENTUAN DOSIS PUPUK LAHAN SAWAH BERDASARKAN STATUS HARA FOSFOR DAN KALIUM DI LAHAN SAWAH KABUPATEN PANDEGLANG
ABSTRACTGrowth and yield of rice are significantly determined by soil nutrient availability. Phosphorus and potassium are two soil nutrients that are required in considerable amounts. The aims of this research was to investigate nutrient status of P and K in lowlandrice, which in turn could be used to set up fertilizer recommendation in Pandeglang Regency, Banten.The research was conducted in January to December 2016, consisted of three steps, namely research preparation, field survey, laboratory and data analysis. The result indicated that P and K status was found varying from low to high. 44,296 ha of rice field indicated high P status, which was found in 33 subdisctricts, 5,362 ha have medium P status, spread out at 21 subdistricts and rice fields with low P status spread in 8 subdistricts covering an area of 5,110 ha. Nutrient status of paddy fields with high-K status of 36,710 ha scattered in 30 subdistricts, while the rice field with medium K status spread in 21 sub-bistrict covered of 7,616 ha and status of low-K spread across 9 subdistricts covered of area of 1,333 ha. Based on the 3 status level of P and K, it is recommended 9 packages of P and K fertilizers. Keywords: nutrient status, phosphorus, potassium, lowland rice, Pandeglang ABSTRAK Pertumbuhan dan produksi padi sangat ditentukan oleh ketersediaan hara dalam tanah. Hara P dan K merupakan dua unsur hara yang banyak dibutuhan tanaman padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status hara P dan K lahan sawah, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menentukan dosis pupuk rekomendasi di Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pelaksanaan kegiatan dimulai bulan Januari hingga Desember 2016. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahap persiapan, survei lapang dan analisa laboratorium serta analisa data. Hasil menunjukkan bahwa kelas status hara P dan K lahan sawah bervariasi dari rendah sampai tinggi. Sawah dengan status hara P tinggi seluas 44.296 ha tersebar di 33 kecamatan, sawah berstatus hara P sedang seluas 5.362 ha tersebar di 21 kecamatan dan sawah berstatus P rendah menyebar di 8 kecamatan seluas 5.110 ha. Sawah dengan status hara K tinggi seluas 36.710 ha tersebar di 30 kecamatan, sedangkan sawah berstatus hara K sedang menyebar di 21 kecamatan seluas 7.616 ha dan sawah berstatus K rendah menyebar di 9 kecamatan seluas 1.333 ha. Berdasarkan variasi antara 3 status hara P tanah (rendah, sedang, dan tinggi) dan 3 status hara K tanah (rendah, sedang, dan tinggi), dihasilkan 9 paket rekomendasi pemupukan P dan K.Kata kunci: status hara, fosfor, kalium, sawah, Pandeglan
PERAN KELEMBAGAAN LOKAL KEUJREUN BLANG DALAM PENGEMBANGAN USAHATANI PADI SAWAH DI KABUPATEN ACEH BESAR
ABSTRACT The Role of Local Institution Keujreun Blang in Wetland Rice Farming at Aceh Besar District. The role of local institutions in wetland rice farming is needed to mobilize the farmers community in overcoming various problems, especially pest attacks that potentially provide vulnerability for farmers community. The objectives of this research were to: (1) to identify role of Keujreun Blang in paddy farmers community and (2) to assess local institutional role of farmers to adaptation on pest attack. Primary data were obtained by the survey (questionnaire) assisted with qualitative data obtained by observations and in-depth interviews key informants (key informants). Purposive sampling was obtained that counted 80 farmer respondents and 20 key informants. This research used quantitative descriptive and qualitative data. The result of the research showed that Keujreun Blang was effective in setting up the planting schedule and resolving irrigation system conflict therefore preserving the rice fields tend to decrease, in local wisdom conserve, its role in Khanduri Blang was still important yet it should be assisted tends by headman (Geuchik: i^e Achenese terminology) as well as his role in controlling pest attacks, but in demolition of rats and concurrently planting. Keywords: rice farming, institutional, Keujreun Blang, pest attack ABSTRAK Peran kelembagaan lokal dalam usahatani padi sawah sangat diperlukan untuk menggerakkan komunitas petani dalam mengatasi berbagai permasalahan, terutama serangan hama yang berpotensi memberikan kerentanan bagi komunitas petani. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran kelembagaan Keujreun blang dalam usahatani padi sawah dan melihat peran kelembagaan lokal dalam mengorganisir komunitas petani untuk dapat beradaptasi terhadap serangan hama. Data primer diperoleh dari hasil survei (kuesioner) dibantu data kualitatif yang diperoleh dari observasi, dan wawancara mendalam informan kunci (key informan). Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling sebanyak 80 responden petani dan 20 informan kunci. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif diperdalam dengan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Keujreun Blang tergolong efektif dalam pengaturan jadwal turun sawah, menyelesaikan sengketa di tingkat petani dan sistem pengairan, sedangkan dalam melestarikan adat (kearifan lokal) sawah cenderung berkurang. Perannya dalam melaksanakan Khanduri Blang masih tinggi, namun harus dibantu oleh kepala desa (Geuchik). Peran Keujreun Blang dalam mengorganisir komunitas petani dalam mengendalikan serangan hama cenderung berkurang, kecuali dalam melakukan geproyokan hama tikus dan melakukan tanam serentak.Kata kunci: usahatani padi, kelembagaan, Keujreun Blang, serangan ham
FORMULASI PEMBENAH TANAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL PADI DI LAHAN SAWAH KABUPATEN SIJUNJUNG SUMATERA BARAT
ABSTRACT Ameliorants formulation to increase rice yield in wetlands in Sijunjung District West Sumatera. The average yield of lowland rice in West Sumatra is still low due to low land fertility in the area of rice production centers. Low soil quality is characterized by low nutrient content, low organic matter, and high soil acidity. Improvement of soil quality can be done by managing soil enhancer such as providing organic materials, liming, zeolite applications, and balanced fertilization concepts. The study was conducted from June to October 2015 in Sei Langsek Village, Sijunjung District, West Sumatera. The experiments were arranged in a Two-Factor Randomized Block Design with 4 replications. As the first factor are three formulations of soil ameliorants, namely: 1) F1 (25% cow manure, 50% harzburgite, 25% zeolite, 0% dolomite); 2) F2 (50% cow manure, 25% harzburgite, 15% zeolite, 10% dolomite); 3) F3 (75% cow manure, 15% harzburgite, 5% zeolite, 5% dolomite); F4 (100% cow manure). As the second factor is the dosage of soil ameliorant, namely: 2.5; 5.0; 7.5; and 10 t/ha. Without soil ameliorant was used as a control, so the combination of treatment amounted to 17 treatments. The results showed that the highest yield (6,160 kg GKG/ha) was obtained at F3 treatment with a dose of 5 t/ha followed by F2 treatment with a dose of 2.5 t/ha (5,740 kg GKG/ha). Based on the regression analysis, a more efficient soil ameliorant formulation for low productivity paddy fields in Sijunjung district was F2 with a maximum dose of 4,391 kg/ha.Keywords: low land fertility, soil enhancer, productivity, West Sumatera ABSTRAK Hasil padi sawah di Sumatera Barat rata-rata masih rendah karena sebagian besar daerah sentra produksi padi sawah tingkat kesuburan lahannya tergolong rendah. Kualitas tanah yang rendah dicirikan oleh permasalahan kandungan hara, bahan organik, dan kemasaman tanah yang tinggi. Perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan dengan pengelolaan bahan pembenah tanah seperti pemberian bahan organik, pengapuran, aplikasi zeolit, dan konsep pemupukan berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh beberapa formulasi dan takaran bahan pembenah tanah terhadap hasil padi sawah di Kabupaten Sijunjung. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni – Oktober 2015 di Desa Sei Langsek Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Dua Faktor dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama adalah tiga formulasi bahan pembenah tanah, yaitu: 1) F1 (25% pupuk kandang sapi, 50% harzburgit, 25% zeolit, 0% dolomit); 2) F2 (50% pupuk kandang sapi, 25% harzburgit, 15% zeolit, 10% dolomit); 3) F3 (75% pupuk kandang sapi, 15% harzburgit, 5% zeolit, 5% dolomit); F4 (100% pupuk kandang sapi). Faktor kedua adalah takaran bahan pembenah tanah, yaitu: 2,5; 5,0; 7,5; dan 10 t/ha. Tanpa bahan pembenah tanah dijadikan sebagai kontrol, sehingga kombinasi perlakuan berjumlah 17 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tertinggi (6.160 kg GKG/ha) didapat pada perlakuan F3 dengan takaran 5 t/ha dikuti oleh perlakuan F2 dengan takaran 2,5 t/ha (5.740 kg GKG/ha). Berdasarkan uji korelasi, formulasi pembenah tanah yang lebih efisien untuk lahan sawah berproduktivitas rendah di Kabupaten Sijunjung adalah F2 dengan takaran maksimum pemberian 4.391 kg/ha.Kata kunci: kesuburan rendah, pembenah tanah, produktivitas, Sumatera Bara
PERAN PERTANIAN PERKOTAAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA TANI DI DKI JAKARTA
ABSTRACT The Role of Urban Farming on Household Income in DKI Jakarta. Cultivating agriculture is still attractive for some people in DKI Jakarta although it is constrained by limited land and resources. Economic factor that contributes to household income is the factor influencing society to keep cultivate agriculture in urban area. The purpose of this study was to analyze the income of urban agriculture in Jakarta, to analyze the total household income and to analyze the role of urban agriculture on total household income. The study was conducted in five districts of DKI Jakarta with a total of 60 respondents. Farm and non-farm income were analyzed using income analysis. Household income was analyzed using household income analysis. The role of urban agriculture was analyzed using income contribution analysis. The result of analysis showed that the average of urban agricultural income based on total costs per year in 2017 was 24,431,176 IDR. The average household income based on total costs was 38,948,226 IDR. The contribution of urban agriculture to total household income was 62.7% on income based on total costs, thus urban agriculture have a role as the main source of household income in DKI Jakarta. Keywords: vegetable, contribution, urban agriculture, household ABSTRAK Usaha pertanian masih menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, meskipun terkendala dengan lahan dan sumberdaya yang terbatas. Faktor ekonomi yang berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga adalah faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk tetap melakukan usaha pertanian di perkotaan. Tujuan penelitian untuk menganalisis pendapatan usaha pertanian perkotaan di DKI Jakarta, menganalisis total pendapatan rumah tangga yang diperoleh, dan menganalisis peran usaha pertanian di perkotaan terhadap total pendapatan rumah tangga. Penelitian dilakukan di lima wilayah kota administratif DKI Jakarta dengan total 60 responden pada tahun 2017. Pendapatan rumah tangga dianalisis menggunakan analisis pendapatan rumah tangga sedangkan untuk menganalisis peran pertanian perkotaan dilakukan analisis kontribusi pendapatan dari pertanian terhadap total pendapatan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan rata-rata pendapatan usaha pertanian perkotaan di DKI Jakarta sebesar Rp.24.431.176/tahun, sedangkan rata-rata pendapatan rumah tangganya sebesar Rp.38.948.226/tahun. Kontribusi yang diberikan dari usaha pertanian perkotaan terhadap total pendapatan rumah tangga sebesar 62,7%, dengan demikian pertanian perkotaan berperan sebagai sumber utama pendapatan rumah tangga tani di DKI Jakarta. Kata kunci: sayuran kontribusi, pertanian perkotaan, rumah tangg