Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
KAJIAN WAKTU STRANGULASI TERHADAP PEMBUNGAAN JERUK PAMELO ‘CIKONENG’ (Citrus grandis (L.) Osbeck)
An Assessment Time of Strangulation on Flowering Induction of Pummelo ‘Cikoneng’ (Citrus grandis (L.) Osbeck). Field assessment was conducted at Farmer’s Field Bantarmara Village, Cisarua, Sumedang region, West Java from August 2007 to May 2008, to determine the effect of different strangulation times on flowering induction of Pummelo during flowering-off season. Three strangulation times (1,2 and 3 months after harvest, MAH) were arranged in randomized complete block design with 6 (six) replications. An assessment results showed that strangulation at 3 MAH effectively induced flowering appearance (83%) and increased numbers of generative shoots, flowering cluster, bud, blooming, fruit formation and fruit setting. On the other hand, all treated plants had higher C/N ration than control. Kajian lapang dilaksanakan di Tanah Petani (TP) Bantarmara, kecamatan Cisarua, kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan Agustus 2007 sampai Mei 2008, untuk melihat waktu strangulasi yang tepat untuk menginduksi bunga diluar musim. Tiga waktu strangulasi (1, 2 dan 3 bulan setelah panen, BSP) disusun menurut rancangan acak kelompok dan 6 (enam) ulangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa waktu strangulasi 3 BSP cukup efektif menginduksi jumlah muncul bunga (83%), tetapi mempengaruhi jumlah tunas generative, kluster bunga, kuncup bunga, bunga mekar, buah terbentuk dan fruit set masing-masing 32,67; 28,17; 220,00; 143.33; 61,17 dan 39,02%. Di samping itu, rasio C/N daun pada semua perlakuan lebih tinggi dari control
KERAGAAN BUAH DUKU DAN PEMASARANNYA DI SUMATERA SELATAN
This study aimed to know the performance, productivity and duku (Lansium domesticum Corr) marketingfrom South Sumatra to Jakarta. The study conducted from February to Juni 2003 at Tanjung Alai Village, Sirah PulauPadang Sub District, OKI District, Gunung Batu Village, Cempaka Sub District and Rasuan Village, OKU Districtand Ujan Mas Village, Ujan Mas Sub District, Muara Enim District. Each village consisted of 20 duku trees and 30fruits of each location for phisical performance analysis. Marketing survey was implemented to collect informationfrom farmer, local assembler at each location, agents at Kramat Jati Central Market and retailers at Jakarta. The resultshowed that the productivity was highest on duku trees from Rasuan Village (208,6 kg/tree) and the lowest fromTanjung Alai Village (97,25 kg/tree). Number of seed was least on duku fruits from Gunung Batu Village whereas themost from Ujan Mas Village. The local assembler profit in duku marketing from Muara Enim District was higher thanduku marketing from OKI and OKU District with magnitude of Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg and Rp 66,55/kg,respectively. The agents profit at Kramat Jati Central Market in duku marketing from Muara Enim was higher thanfrom OKU and OKI District with magnitude of Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg and Rp 919,33/kg, respectively. Theretailers profit in duku marketing from OKI District was higher than from OKU and Muara Enim District withmagnitude of Rp 825,55; Rp 775,55/kg and Rp 675,55/kg, respectivelyKey words: Lansium domesticum Corr, fruits performance, marketing,South SumateraPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan produktivitas serta pemasaran buah duku dariSumatera Selatan ke Jakarta. Dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2003. Observasi dilaksanakandi Desa Tanjung Alai Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten OKI; Desa Gunung Batu dan Rasuan, KabupatenOKU; dan Desa Ujan Mas, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muara Enim masing-masing sebanyak 20 pohonsampel, dan untuk analisis keragaan fisik buah duku masing-masing 30 buah. Survai pemasaran duku mulai daripetani, pemborong dari masing-masing kabupaten dan agen di Pasar Induk Kramat Jati serta pengecer di Jakarta. Hasilkajian menunjukkan bahwa produktivitas duku yang tertinggi diperoleh dari Desa Rasuan sebesar 208,6 kg/pohon danterendah sebesar 97,25 kg/pohon dari Desa Tanjung Alai. Jumlah biji yang paling sedikit adalah dari duku asal DesaGunung Batu sedangkan terbanyak dari Desa Ujan Mas. Keuntungan pemborong yang membawa buah duku ke PasarInduk Kramat Jati Jakarta dari Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding dari Kabupaten OKI dan KabupatenOKU, yang masing-masing sebesar Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg dan Rp 66,55/kg. Keuntungan agen di Pasar IndukKramat Jati yang memasarkan duku asal Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding duku asal Kabupaten OKUdan Kabupaten OKI, yang masing-masing sebesar Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg dan Rp 919,33/kg. Keuntungan yangdiperoleh pengecer di Jakarta yang memasarkan duku asal Kabupaten OKI lebih tinggi dibanding duku asalKabupaten OKU dan Muara Enim yang masing-masing sebesar Rp 825,55; Rp 775,55/kg dan Rp 675,55/kg.Kata kunci: duku, keragaan buah, pemasaran, Sumatera Selata
SISTEM USAHA TANI TERPADU DI LAHAN LEBAK KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN, KALIMANTAN SELATAN
Integrated Farming System on Fresh Water Swampy Land in Hulu Sungai Selatan Regency, South Kalimantan. The utilization of fresh water swampy land has not been optimal due to some land bio-physical and socio-economical constraints so that the production and income of the farmers are still low. In order to increase the farmers, an integrated farming system of specific location suitable with the bio-physical and socioeconomical conditions of farmers is needed. Research on Farming System in Fresh Swampy Land in Hulu Sungai Selatan Regency is aimed to obtain a model of integrated farming system which can be adopted by the farmers, give benefits and increase the farmer income continually. The farming system models consisted of three models (MI, M2, and M3) conducted by 25 cooperator farmers with the total area of ± 10 ha and seven cooperators were chosen to carry out duck husbandry (feed fermentation technology) at their yards. One hundred and seventy five (175) ducks were used in the research. For the standard of comparison/ non-cooperator, fifteen farmers were selected from around the research area (Hamayung Utara Village). The data were collected by using farm record keeping method (FRK) and survey. The collected data were analyzed by using ratio of revenue and cost (R/C) and MBCR approaches. The research results show that integrated farming models could be adopted by farmers, were beneficial and increased farmer incomes and were feasible to be developed with a pattern of rice + corn + chili in the rice field and duck husbandry in the yard with MBCR value of 9.69, a net income of Rp 6,307,097 per 0.334 ha, 37.7% higher than the net income of model farmers which was Rp.4,586,893. The net income of the introduced model in 2005 compared to that model farmers increased 144%, i.e. from Rp.1,.740,476 to Rp.4,246,946 per 0.97 ha. Key words: Farming system, fresh water swampy landPemanfaatan lahan lebak masih belum optimal karena berbagai kendala biofisik lahan dan sosial ekonomi sehingga produksi dan pendapatan petani rendah. Untuk meningkatkan pendapatan petani diperlukan model sistem usahatani terpadu yang spesifik lokasi sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi petani. Pengkajian Sistem Usahatani di Lahan Lebak Kabupaten Hulu Sungai Selatan bertujuan untuk mendapatkan model usahatani terpadu yang dapat diadopsi petani, menguntungkan dan meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan. Model sistem usahatani yang dikaji terdiri dari tiga model sistem usahatani (Ml, M2, dan M3) yang dilakukan oleh 25 orang petani kooperator dengan luas areal ± 10 ha dan dipilih 7 orang kooperator untuk melaksanakan usahatani itik (teknologi pakan fermentasi) di lahan pekarangan. Jumlah itik yang digunakan dalam pengkajian sebanyak 175 ekor. Sebagai pembanding/non kooperator dipilih 15 orang petani yang ada di sekitar wilayah pengkajian (Desa Hamayung Utara) secara acak. Data dikumpulkan melalui farm record keeping dan survei. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan imbangan biaya dan pendapatan (R/C) dan MBCR. Hasil pengkajian menunjukkan model usahatani terpadu dapat diadopsi petani, menguntungkan dan meningkatkan pendapatan serta layak untuk dikembangkan dengan pola usahatani padi + jagung + cabai di lahan sawah dan ternak itik di lahan pekarangan, dengan nilai MBCR = 0,69, pendapatan bersih sebesar Rp.6.307.097 per 0,334 ha, lebih tinggi sebesar 37,5% dibanding pendapatan bersih model petani sebesar Rp.4.586.893.Pendapatan bersih model introduksi tahun 2005 dibanding dengan pendapatan bersih model petani meningkat sebesar 144% yaitu dari Rp.1.740.476 menjadi Rp.4.246.946 per luas 0,397 ha.Kata kunci: Sistem usahatani terpadu, lahan lebak,Kalimantan Selata
KAJIAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL YANG BERPENGARUH TERHADAP ADOPSI INOVASI USAHA PERIKANAN LAUT DI DESA PANTAI SELATAN KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
The study, conducted on August to November 2002, was intended to identify social factors affectingadoption of fisheries business innovation in the three coastal villages in Bantul Regency. Respondents of the studywere 20 boat-owners and 50 workers. The study applied survey method. Data was analyzed using descriptive statisticsand path analysis. Internal factors (individual characteristics, motivation, organizational involvement, impersonalcommunication, mass media exposures, cosmopolitan level), external factors (government policy, social system, andsocial norms), and fishermen’s perception on innovation (comparative advantage, compatibility, complexity, trialing,and observation) positively affected adoption of fisheries business innovation. Adoption was carried through agents ofchange. The social impact found was new business opportunity employing productive labor force which in turn it willimprove fishermen’s income.Key words: social factors, adoption, innovation, marine fisheries, BantulPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial yang mempengaruhi adopsi inovasi usahaperikanan di desa pantai selatan Kabupaten Bantul, proses adopsi inovasi usaha perikanan serta dampak sosialnyaterhadap nelayan di desa kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustussampai dengan Nopember 2002 di tiga desa pantai selatan Kabupaten Bantul. Jumlah sampel sebanyak 70 respondenyang terdiri dari 20 responden nelayan pemilik dan 50 responden nelayan tekong/anak buah kapal. Penelitian inidilakukan dengan menggunakan survai. Untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan analisis statistik deskriptifdan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal (karakteristik individu,motivasi, keterlibatan dalam organisasi, komunikasi impersonal, terpaan media massa, tingkat kosmopolitan), faktoreksternal (kebijakan pemerintah, sistem sosial dan norma-norma sosial), dan persepsi nelayan terhadap sifat-sifatinovasi (keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas) berpengaruh positif terhadapadopsi inovasi usaha perikanan. Proses adopsi inovasi usaha perikanan pada masyarakat desa pantai selatanKabupaten Bantul mengikuti pola umum dalam proses adopsi inovasi yaitu melalui agen-agen perubahan (nelayanyang sudah terlebih dahulu mengadopsi usaha perikanan). Dampak sosial yang terjadi adalah terbukanya peluangusaha baru sehingga terserapnya tenaga kerja usia produktif yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatanpara petani/nelayan.Kata kunci : faktor-faktor sosial, adopsi inovasi, perikanan laut, Bantu
PENGARUH PENYULUHAN DAN DUKUNGAN SARANA PRASARANA TERHADAP KINERJA AGRIBISNIS PADI DI JAWA BARAT
The effect of service extension and supporting facilities on the performance of rice agribusiness in West Java Province. The service extension and farming support facilities in agricultural farming play an important role in agribusiness activities. This activity aimed to increase the productivity of integrated rice farming in West Java, reported by these two variables mentioned above have given good contribution to the performance of farmers' group in increasing their productivities. However, both variables have not yet performed optimally in terms of the agribusiness performance. To develop agribusiness in West Java there are three approaches to be chosen includes increasing extension activity, improving supported facilities or both. The aim of this assessment is to investigate the effect of extension service on facilities an infrastructure supported for agricultural farming to the performance of farmers' group in conducting their agribusiness. The assessment was conducted using a survey method in districts of Kuningan, Subang, and Karawang West Java Province from August — October 2006. The parameters that being watched are the performance of agribusiness, extension service activity and facilities support performance, the data were analyzed by path analysis. The results of this study showed:. (1) the activity of farmers guiding through extension service and providing production facilities could improve farmer's productivity, farming efficiency, and their income. (2) the extension service and facilities supports have positive effect on the agribusiness performance. (3) the extension service gave a higher contribution compared to facilities support, this means that farmers guiding plays a better role than the provision of facilities. Key words: agribusiness, exstention service, facilities Penyuluhan dan sarana prasarana usahatani memegang peranan penting dalam pelaksanaan agribisnis padi di Jawa Barat. Pada kegiatan Proyek Peningkatan Produktuvitas Padi Terpadu (P3T) di Jawa Barat dilaporkan kegiatan kedua aspek tersebut dapat meningkatkan produktivitas padi, tetapi belum meningkatkan kinerja kelompok tani dalam agribisnis padi. Untuk pelaksanaan agribisnis di Jawa Barat terdapat tiga pilihan yang perlu ditingkatkan apakah pembinaan petani melalui penyuluhan atau dukungan sarana prasarana kepada petani atau keduanya. Pengkajian ditujukan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan dan dukungan sarana dalam pelaksanaan agribisnis. Pengkajian dilaksanakan di kabupaten Kuningan, Subang dan Karawang, pada bulan Agustus sampai Oktober 2006 dengan menggunakan metoda survey. Parameter yang diuji adalah kinerja kelompok tani dalam pelaksanaan agribisnis, aktivitas penyuluhan dan kesesuaian sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah bagi petani, analisis data dilakukan dengan analisis jalur (Path Analysis). Hasil pengkajian menunjukkan; (1) Kegiatan penyuluhan dan dukungan sarana prasarana telah meningkatkan produktivitas padi. (2) Penyuluhan dan dukungan sarana prasarana secara bersama-sama berpenganth terhadap kinerja agribisnis. (3) Pengaruh penyuluhan memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding dengan dukungan sarana prasarana. Keadaan ini menunjukkan bahwa pembinaan kepada petani lebih berperan dibanding dengan dukungan pemerintah berupa sarana produksi. Kata kunci: agribisnis, penyuluhan, saran
STUDI PERTUMBUHAN BEBERAPA ISOLAT JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.) PADA BERBAGAI MEDIA BERLIGNIN
The Growth Study of Some Oyster Mushroom (Pleurotus spp.) Isolates on Some Ligneous Media. Research to study the growth of some pleurotus isolates on some ligneous media were conducted at Forest Pathology Laboratory, Faculty of Forestry and Biological Science Study Center, Bogor Agricultural University in September 2004 to March 2005. Substances which used were Pleurotus sp.l, Pleurotus sp.6, and Pleurotus sp.8 from Forest Pathology laboratory collection, PDA, MEA, MPA, some natural lignin source to be added to the commercial media. Optimum media for Pleurotus sp.1 is PDA, MEA + bamboo apus dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. Pleurotus sp.6 grow best at MPA, MEA + paddy straw dust, and Glenn and Gold modification + paddy straw dust. Optimum media for Pleurotus sp.8 is MPA, MBA + paddy straw dust added media, MEA + paddy hay dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. The difference of colony growth is caused by isolate and nutrition of each growth media. Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.8 known produce lyses zone at media which contain lignin source. Lyses zone caused by existence of extrasellular enzyme which secreted by mushroom hype to degrade lignin. All mycellium dry weight of Pleurotus spp. isolat that is given wobble is higher than don't given. Mycellium dry weight from high to low showed by Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.l. The difference of colony growth caused by isolat and nutrition of each growth media. Lysis zone at media with lignin source caused by extracellular enzyme activity to degradate lignin source as their nutrition. The difference of mycellium dry weight at both treatment is caused by the response to oxygen in the liquid media. Key words: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, bamboo dust, sengon wood dust, Glenn & Gold, modification. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan koloni beberapa isolat jamur tiram (Pleurotus spp.) yang dikulturkan pada berbagai media dengan sumber lignin alami, dilakukan dan bulan September 2004 sampai Maret 2005, bertempat di Laboratorium Penyakit Hutan, Fakultas Kehutanan, dan Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia, Pusat Studi Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Bahan yang digunakan adalah Pleurotus sp.1, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.8, MEA, MPA, PDA, dan beberapa macam sumber lignin alami yang ditambahkan pada tiga media komersial tersebut. Pleurotus sp.l tumbuh terbaik pada media PDA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk bambu apus. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk jerami padi, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Isolat Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 menghasilkan zona lisis berbentuk lingkaran coklat kekuningan pada media yang ditambah sumber lignin alami. Bobot kering miselia Pleurotus spp. pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi atau serbuk kayu sengon dengan diberi penggoyangan, lebih tinggi dibanding dengan Pleurotus spp. pada media yang sama tanpa diberi penggoyangan. Bobot kering miselia tertinggi sampai terendah berturut-turut ditunjukkan oleh Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.1 . Kata kunci: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, serbuk bambu, serbuk kayu sengon, modifikasi Glenn dan Gol
PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT SEBAGAI SUMBER BIOFARMAKA DI KALIMANTAN TENGAH
Central Kalimantan Province covers an area of 15.380.000 ha or about 7.93 % of Indonesian area and consists of coastal region open waters and open land area, owns a potential biodiversity such as herbal medicine. This massive land area consists of various types of land. The wide area combined with high variability of land may resulted in a variability of genetic diversity resources medicinal which were found in Central Kalimantan. Due to the increasing rate of forest exploitation such as illegal logging and land clearing or burning, those medicinal and ornamental crops are in an endangered phase of extinction. To conserve these medicinal plants or germplasms some critical steps such as exploration, collection and conservation should be taken. The purpose of this study is to explore, collect, conserve and document medicinal plants species and as well as to find out the potency of such plants in Central Kalimantan. The exploration and colection were conducted at five districts, i.e. Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Barito Utara and Murung Raya, from March 2005 until December 2005. The aim of this study was as follows : (1). The exploration process, (2). The ex-situ and in-situ conservation, (3). The characterization process, (4). The documentation process. The results of these activities was there were an ex situ collection of 5 accessions of medicinal plants that can be used as a source of biofarmaca. Key word : exploration, characterization, conservation and medicinal plants. Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 15.380.000 ha atau 7,93% dari luas Indonesia banyak menyimpan keanekaragaman hayati (biodiversity), antara lain tanaman obat. Tanaman obat banyak tersebar di daerah-daerah pedalaman dan kawasan hutan Kalimantan Tengah yang merupakan habitat alami tanaman tersebut. Adanya eksploitasi hutan dan industri perkayuan yang semakin meningkat, kebakaran hutan serta pembukaan hutan untuk perkebunan, tambang dan pemukiman transmigrasi, maka spesies-spesies tanaman obat khawatirkan akan punah. Sebagian kecil masyarakat setempat sudah mengusahakan tanaman obat sebagai obat tradisional yang diambil baik dari akar, daun maupun buah, tetapi belum terinventarisasi dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya upaya perlindungan dan inventarisasi tanaman obat sebagai pengetahuan tradisional dan kekayaan intelektual, yang pada waktunya nanti diperlukan sebagai referensi dalam pengembangan lebih lanjut. Kegiatan eksplorasi dilakukan di lima kabupaten yaitu Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Barito Utara dan Murung Raya, mulai bulan Maret sampai dengan Desember 2005. Tujuan kegiatan ini adalah Mendapatkan informasi tentang jenis dan karakteristik tanaman obat secara ex-situ, dokumentasi serta informasi pemanfaatannya oleh masyarakat lokal. Kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) Eksplorasi, (2) Karakterisasi, dan (3) Konservasi ex-situ, tiap kegiatan diikuti dengan dokumentasi data. Hasil kegiatan tersebut ditemukan 5 tanaman obat yang dapat digunakan sebagai sumber biofarmaka. Kata kunci: eksplorasi, konservasi, karakterisasi dan tanaman oba
UJI ALAT TANAM DAN PEMUPUK LAHAN KERING DI KECAMATAN CEMPAGA KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR KALIMANTAN TENGAH
Assessment of machinery and equipment for seed planting and 1st fertilizing was conducted in Pundu,Cempaga District, Kotawaringin Timur regency. Method of assessment used on farm research and area of each crop isone hectare consisting of two cooperating farmers. All of the three crops were planted in wet season (October). Boththe equipment and machinery were operated using four wheel tractor of more than >40 Horse Power (HP) modified byBalai Besar Alat dan Mesin Pertanian, Serpong. Aims of the assessment were to determine the performance ofagricultural machinery for seed planting of rice, maize, and soybean. Performance test of seed planting machinesconsisted of three replications. Results showed that use of planting and fertilizing machines is equal to 2 hours/hectarewith 2 operators. Human labour used in each crop is not equal and it depended on cropping spaces. Labour used forfarming practice of rice, maize, and soybean was 450 hours/ha, 150 hours/ha, and 300 hours/ha, respectively.Performance of equipment and machinery for rice cultivation was 4 ha or 2 ha/1 man day (MD) per day using 2operators. It was equal to 112,5 MD using human labour and it can save the cost of labour as many as Rp 536.938.Key words : planting machine, dry-land, rice, maize, soybeanPengkajian alat dan mesin penanam benih dan pemupukan pertama dilaksanakan di lahan kering desa Pundu,kecamatan Cempaga, kabupaten Kotawaringin Timur. Kegiatan ini dilakukan secara on farm research dengan luasmasing-masing 1ha dan melibatkan 2 petani kooperator untuk setiap komoditas. Ketiga komoditas ditanam padamusim hujan (Oktober). Alat tanam dan pemupuk yang telah dikaji adalah alat tanam benih dan pemupuk yang ditarikmenggunakan traktor roda empat >40 HP hasil modifikasi dari Balai Besar Alat dan Mesin Pertanian Serpong. Tujuandari kegiatan pengkajian ini adalah untuk mengetahui kinerja alat dan mesin pertanian sebagai alat tanam benih padi,kedelai, dan jagung, serta mengetahui prospek dari alat dan mesin penanam benih dan pemupuk tersebut. Metode yangdigunakan adalah metode uji kinerja atau fungsional alat tanam benih dan pemupuk dengan 3 ulangan. Untukmengetahui tingkat kelayakan penggunaan alat tanam dan pemupukan, digunakan analisis finansial usahatani(MBCR). Hasil pengujian menunjukkan bahwa dengan penggunaan alat mesin tanam kapasitas kerja lapang untuktanam dan pemupukan pertama pada masing-masing komoditiadalah sama yaitu dilakukan dalam 2 jam/ha dengan 2orang operator. Penggunaan tenaga manusia tidak sama pada masing-masing komoditas tergantung jarak tanam yangdigunakan, yaitu tanaman padi waktu yang digunakan untuk tanam dan pemupukan pertama adalah 450 jam/ha,jagung 150 jam/ha, dan kedelai 300 jam /ha. Kinerja alat untuk tanaman padi dalam 1 hari dengan 2 orang operatoradalah 4 ha atau 2 ha/1 HOK sama dengan 112,5 HOK dengan tenaga manusia dan dapat menghemat biaya tenagakerja Rp. 536.938. Respon petani dan pemerintah daerah cukup positif dalam kegiatan pengkajian ini. Diharapkandengan alat tanam dan pemupuk ini pemerintah dapat membantu petani dalam permasalahan tenaga kerja, perluasanareal tanam untuk peningkatan peroduksi dan meningkatkan pendapatan petani.Kata Kunci : alat tanam, lahan kering, padi, jagung, kedela
Penghematan Biaya Produksi Melalui Pembatasan Pakan pada Ayam Broiler
ABSTRACT Economic Efficiency of Broiler Farming by Feed Restriction. The study was aimed to evaluate and determine the effect of feed restriction with skip day feeding on broiler performances and IOFC (income over feed cost) value. The study was conducted at in poultry unit of The Assessment Institute for Agriculture Technology (AIAT) East Java at Karangploso, Malang. One hundred sixty unsexed day old broiler chick was reared in litter cage and fed by commercial feed. In the first two weeks of rearing period, the feed was given ad-lib, there after, they were devided into four groups, control (T0), feed restricted since on day 14 (A), feed restricted since on day 21 (B), and feed restricted since on day 28 (C) with four replications and 10 chicks per replication. The variables measured were body weight gain, feed consumption, feed conversion, carcass percentage, and income over feed costs (IOFC) value. The result showed that the body weight, total feed consumption, and carcass percentage were not affected by feed restriction. The day skip feeding on day 21 (treatment B) was the best result comparing to the other treatment, with better body gain, feed conversion, % carcass, and IOFC values : 2,057 g, 1.58, 69.57%, and Rp. 6,366/chick, respectively. The day skip feeding restriction could be done since on the third week (day-21) without affected to performance and health of the chicks. Key words: Feed restriction, feed cost, and broiler ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui pengaruh pembatasan pakan melalui pemuasaan selama 24 jam berselang sehari pada ayam mulai umur 14, 21 dan 28 hari terhadap performans dan nilai IOFC (income over feed cost). Penelitian ini dilaksanakan bulan Maret-April 2012, pada unit kandang unggas, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur di Karangploso Malang. Sebanyak 160 ekor Day old Chick (DOC) MB 202 tanpa membedakan jenis kelamin yang dipelihara pada petak kandang litter dengan pakan komersial standar. Pada 2 minggu, semua DOC diberi pakan secara ad libitum. Setelah itu ayam dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu : kontrol (T0), dipuasakan pakan mulai umur 14 hari (A), dipuasakan pakan mulai umur 21 hari (B), dan dipuasakan pakan mulai umur 28 hari (C). Setiap perlakuan mempunyai empat ulangan dan masing terdiri dari 10 ekor. Variabel yang diukur adalah bobot badan, konsumsi pakan harian, konversi pakan, persentase karkas dan pada akhir periode penelitian (35 hari). Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai keuntungan diatas biaya pakan (income over feed cost =IOFC). Data ditabulasi dan dianalisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan pakan pada broiler tidak berpengaruh terhadap performans, sehingga bobot badan, konsumsi pakan total, dan %karkas tidak berbeda antar perlakuan dan nilai IOFC yang lebih tinggi. Pembatasan pakan pada umur tiga minggu memberikan hasil pertambahan bobot badan, konversi pakan (FC, feed convertion), % karkas, dan nilai IOFC yang paling tinggi yaitu masing-masing sebesar 2.057 g, 1,58, 69,57%, dan Rp. 6.366/ekor. Pembatasan pakan sebaiknya dilakukan mulai umur 3 minggu (hari ke-21) tanpa mempengaruhi performan dan kesehatan ternak.Kata kunci: Pembatasan pakan, biaya pakan dan broile
ABSTRACTRole of Capital Increase Against Rice Farming Income in Blitar and Ngawi Regency, East Java. The assessment aims to analyze the role of additional capital to income derived from rice farming PUAP done in Blitar and Ngawi in 2010. Assessment involves 12 Gapoktan deliberately chosen based ranking of member Gapoktan and farmers as the unit of analysis. Primary data were collected by interviews with 32 respondents representing Gapoktan equipped with focus group discussions on each of the key figures who are competent. Primary data collected consisted of the use of capital farmers, farm land size, the amount of financial aid received, productivity and farm income. Results of data analysis using quantitative and qualitative descriptive approach shows the following matters namely farmers utilize additional capital for the purchase of PUAP components of fertilizers and pesticides that are considered important to increase farm productivity. Where the revenue increase is a reflection of increased farm productivity that occurs as the optimal use of technology. But the success of the use of BLM PUAP boost farmers' income, irrespective of the good control by Gapoktan. Key words: Rice, additional fund, rural business development agribusiness, farm income ABSTRAK Pengkajian yang bertujuan untuk menganalisis peran tambahan modal yang bersumber dari PUAP terhadap pendapatan usahatani padi dilakukan di Kabupaten Blitar dan Ngawi akir tahun 2010. Pengkajian melibatkan 12 Gapoktan yang dipilih secara sengaja berdasarkan pemeringkatan Gapoktan dan petani anggota Gapoktan sebagai unit analisis. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara terhadap 32 orang responden mewakili Gapoktan dilengkapi dengan diskusi kelompok terfokus terhadap tokoh kunci yang kompeten. Data primer yang dikumpulkan terdiri dari penggunaan modal petani, luas garapan usahatani, besarnya bantuan modal yang diterima, produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif menunjukkan sebagai berikut yakni petani memanfaatkan tambahan modal dari PUAP untuk pembelian komponen-komponen pupuk dan pestisida yang dianggap penting untuk peningkatan produktifitas usahatani. Dimana peningkatan pendapatan ini merupakan refleksi peningkatan produktifitas usahatani yang terjadi karena penggunaan teknologi yang optimal. Namun keberhasilan pemanfaatan BLM PUAP dalam mendorong peningkatan pendapatan petani, tidak tergantung dari pengendalian yang baik oleh pengurus Gapoktan. Kata kunci: Padi, tambahan modal, PUAP, pendapatan usahatan