Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI PROVINSI GORONTALO
ABSTRACTAnalysis of Factors Affecting Maize Production and Farm Income in Gorontalo Province. Maize is one of the commodities as the main source of carbohydrates and protein after rice , which is likely to be developed in Gorontalo. Problems in the development of maize farming in the province of Gorontalo is the degradation of crop area, production and productivity. This study aims to determine the factors affecting maize production and farm income and knowing in Gorontalo Province. This discussion based on primer data that collected by interview to 355 farmers whom elected to be respondents. Methods of analysis to examine the factors that influence the production using Cobb Douglas production function model and to use the income of farm income analysis. The results showed that farm income new maize varieties is relatively larger than the old varieties of maize farming in the value of R/C respectively 2.68 and 1.98 for new varieties and old varieties. Factors that influence the production of new varieties is land, seeds, urea fertilizer, pesticides and labor. While the effect on the old varieties are land, labor and fertilizer urea has an influence on the old varieties. In the varieties combined with dummy indicate that new varieties have a significant effect on maize. Results of this study have implications for the optimal utilization of dry land for corn planting new varieties using site-specific fertilizer. Support input seed varieties and fertilizers become crucial. Key words: Maize, variety, specific location ABSTRAK Jagung (Zea mays) merupakan salah satu komoditas sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras berpeluang dikembangkan di Gorontalo. Permasalahan pengembangan usahatani jagung di Provinsi Gorontalo dihadapkan pada penurunan luas areal panen, dan produktivitas, sehingga berdampak pada capaian produksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani jagung di Provinsi Gorontalo. Pembahasan didasarkan pada data primer yang dikumpulkan melalui wawancara terhadap 355 orang petani yang terpilih menjadi responden. Metode analisis untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi produksi menggunakan model fungsi produksi Cobb Douglas dan untuk pendapatan menggunakan analisis pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani jagung varietas unggul baru relatif lebih besar dibandingkan dengan usahatani jagung varietas unggul lama dengan nilai R/C masing-masing 2,68 dan 1,98 untuk varietas unggul baru dan varietas unggul lama. Faktor produksi yang berpengaruh terhadap varietas unggul baru adalah lahan, benih, pupuk Urea, pestisida dan tenaga kerja. Sedangkan yang berpengaruh terhadap varietas unggul lama adalah lahan, pupuk Urea dan tenaga kerja mempunyai pengaruh terhadap varietas unggul lama. Pada gabungan dengan dummy varietas menunjukkan bahwa varietas unggul baru berpengaruh signifikan terhadap produksi jagung. Hasil penelitian ini berimplikasi pada pemanfaatan lahan kering yang optimal untuk pertanaman jagung varietas unggul baru dengan menggunakan pupuk yang spesifik lokasi. Dukungan input benih varietas unggul dan pupuk menjadi krusial. Kata kunci: Jagung, varietas, spesifik lokas
Efek Jenis Kemasan terhadap Kualitas Gabah dan Beras Varietas Cigeulis
ABSTRACT An Assessment on Packaging Types Effect toward Unhulled Rice and Rice Quality of Cigeulis Variety. Rough rice and rice production all this time encounter problems due to deterioration inadequate storage. The objective of research was to asses packaging effect on rough rice and rice quality var. Cigeulis during storage period. The assesment was done from June 2006 to December 2007 in Batang ase, Maros, South Sulawesi. The research employed Randomized Blok Design factorial pattern with 10 farmers as replication. Each farmer has 10 hermetic bags and 10 prophylene bags and it stored until 12 months. Every 3 month, the rough rice was milled for quality analysis. The research results indicated that hermetic storage could be blocked of moisture content (10.76%), to high of head rice (84%), decreased broken rice (24.45%), rough rice damage (1.67%) and pest (2.4%). Rice cooked of hermetic was better than that of plastic bag packages in term of texture, taste, colour and flavor. In addition, rice viability was effected by packaging i.e. 99% in hermetic bag at 9 and 12 months and 11% in prophylene bag at 9 months and 0% in prophylene bag at 12 months). Key words: Hermetic, packing, quality, rice cv. Cigeulis, rough rice, rendement ABSTRAK Produksi gabah dan beras selama ini menghadapi masalah penurunan mutu akibat penyimpanan yang kurang memadai. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji efek jenis kemasan terhadap kualitas gabah dan beras varietas Cigeulis selama penyimpanan. Penelitian dilakukan di Batang Ase, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang dimulai pada bulan Juni 2006 hingga Desember 2007. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial dengan faktor pertama adalah kemasan (kemasan karung plastik dan kemasan hermetik) dan faktor kedua adalah lama simpan (0,3,6,9 dan 12 bulan). Percobaan dilakukan terhadap 10 petani sebagai ulangan yang masing-masing 10 karung gabah yang dikemas hermetik dan 10 karung gabah yang dikemas karung plastik. Tiap karung diisi 50 kg gabah yang disimpan di gudang milik masing-masing petani hingga 12 bulan. Tiap 3 bulan gabahnya digiling untuk mendapatkan beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kemasan hermetik dapat menghambat kenaikan kadar air gabah varietas Cigeulis selama dalam penyimpanan (10,76%), mempertahankan persentase beras kepala (84%), menekan butir patah (24,45%), kerusakan gabah (1,67%) dan tingkat hama rendah (2,4%) saat penyimpanan 12 bulan. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa nasi dari gabah kemasan hermetik tetap baik dan enak dari awal penyimpanan hingga 12 bulan penyimpanan baik kelekatan, rasa, warna, kepulenan dan aroma, sedangkan nasi dari gabah kemasan karung plastik mengalami perubahan yaitu nasi makin kurang melekat, warna putih kusam dan aroma berkurang. Daya tumbuh gabah memperlihatkan perbedaan yang nyata antara yang disimpan dengan kemasan hermetik (99% penyimpanan 9 dan 12 bulan) dan kemasan karung plastik (11% penyimpanan 9 bulan dan 0% pada penyimpanan 12 bulan). Kata kunci: Hermetik, kemasan, kualitas, beras Cigeulis, gabah, rendeme
KAJIAN CARA PERSIAPAN LAHAN DALAM USAHATANI JAGUNG DI LAHAN KERING INCEPTISOL
ABSTRACTLand Preparation Methods Assessment for Corn Farming System in the Inceptisol Dry Land Area. Scarcity of labor and the physical condition of the soil and the weather are series of problems in the cultivation of corn in Tanah Datar District which is one of the centers of corn production in West Sumatera. Therefore, it is necessary to find alternative ways of tillage which can save energy and cost and to conserve soil and water on dry land. The assessment has been carried out on dry land of Balimbing village, Tanah Datar District, West Sumatera from June to October 2012. The purpose of the assessment is to get the suitable method of land preparation, both technically and economically for two high yielding corn varieties in the dry lands. The assessment was carried on in a split plot design with four replications. Two varieties of corn (Bima-3 and N-35), the most prefered by farmers in the study locations serve as the main plots and three tillage methods (no-tillage/NT, minimum tillage/MT and perfect tillage/PT) as sub plots. Assessment results showed that tillage method affected the yield of corn varieties where without tillage method (TOT) gave higher yield for both varieties compared to other tillage methods. The average yield of the TOT method was 7.35 t/ha for Bima-3 variety and 7.13 t/ha for N-35 variety.Key words: Corn, dry land, land preparation, NT, MT, PT ABSTRAK Salah satu persoalan yang dihadapi usahatani jagung di lahan kering adalah permasalahan kondisi fisik tanah dan ketersediaan air yang kurang serta sulitnya tenaga kerja. Pengkajian ini bertujuan untuk mendapatkan cara persiapan lahan yang tepat baik secara teknis maupun ekonomis untuk varietas jagung yang adaptif untuk lahan kering inceptisol. Pengkajian dilakukan di lahan kering Desa Balimbing Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada bulan Juni sampai Oktober 2012. Pengkajian dilaksanakan menurut rancangan Petak Terpisah dengan empat ulangan. Dua varietas jagung (Bima-3 dan N-35) dijadikan sebagai petak utama dan tiga sistem persiapan lahan (tanpa olah tanah/TOT, olah tanah minimum/OTM dan olah tanah sempurna/OTS) sebagai anak petak. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa cara persiapan lahan berpengaruh terhadap hasil jagung varietas Bima-3 dan N-35. Cara persiapan lahan dengan tanpa olah tanah (TOT) memberikan hasil relatif lebih tinggi untuk kedua varietas dibanding dengan cara persiapan lahan lain, yaitu untuk varietas Bima-3 7,35 t/ha dan untuk N-35 7,13 t/ha. Oleh karena itu, kedepan pengembangan jagung di lahan kering Inceptisol dapat digunakan kombinasi varietas Bima-3 dengan cara persiapan lahan TOT. Kata kunci: Jagung, lahan kering, OTS, OTM, TO
Kajian Sifat Inovasi Komponen Teknologi untuk Menentukan Pola Diseminasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah
ABSTRACT Assessment on Properties of Innovation Technology Component to Determine Dissemination Pattern of Rice Integrated Crop Management (ICM). ICM Field School is one of the strategic programs of the Ministry of Agriculture aimed at accelerating increased production of major food commodities, included rice. This study aims to determine the variability of quantitative trait ICM technology innovation and determine the pattern of technology innovation dissemination of efficient and effective on site-specific conditions based on quantitative and qualitative variability. The data was collected through interviews with 180 farmers in West Java and Central Java. The analysis revealed that six ICM components technology is quite difficult to be adopted are: (1) application of organic matter, (2) legowo crop establishment, (3) fertilization based on crop needs and soil nutrient status, (4) IPM approach to pest control, (5) intermittent irrigation, and (6) weeding with the hedgehog / gasrok. Therefore, dissemination patterns for each category can not follow a linear pattern of the conventional approach, from source technologies - extension – farmer. An understanding of the processes leading to the adoption of new technologies by small-scale farmers has been important to the planning and implementation of successful dissemination and extension programs. Key words: ICM, nature of innovation, dissemination pattern, rice ABSTRAK Sekolah Lapang Pengeloaan Tanaman Terpadu merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian bertujuan mempercepat peningkatan produksi komoditas pangan utama, termasuk padi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sifat inovasi komponen teknologi PTT padi sawah dan menentukan pola diseminasi inovasi teknologi yang efisien dan efektif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 180 petani di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan enam komponen teknologi PTT tergolong sulit diadopsi oleh petani yaitu : (1) pemberian bahan organik, (2) sistem tanam legowo, (3) pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, (4) pengendalian OPT dengan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT), (5) irigasi berselang, dan (6) penyiangan dengan landak/gasrok. Oleh karena itu, pola diseminasi untuk setiap kategori tidak bisa mengikuti pola pendekatan konvensional secara linear yaitu dari sumber teknologi ke penyuluh, kemudian ke petani. Pemahaman tentang proses menuju adopsi teknologi baru oleh petani skala kecil di setiap lokasi menjadi penting untuk perencanaan dan pelaksanaan diseminasi dan program penyuluhan inovasi baru spesifik lokasi. Kata kunci: PTT, sifat inovasi, pola diseminasi, padi sawa
Analisis Kebutuhan Pangan Mendukung Percepatan Diversifikasi Pangan di Nusa Tenggara Timur dan Maluku
Assessment on Properties of Innovation Technology Component to Determine Dissemination Patter in East Nusa Tenggara and Maluku. To support the development of food diversification in Indonesia need an integrated effort from different stakeholder, include technology availability from Indonesia agency for Agriculture Research and Development (IAARD). The objective of this study was : (1) to identify the prerequisite in the effort of accelerate food diversification aplication, (2) to analyze the government policies, especially in local contect, that supported food diversification program, and (3) to formule the strategy in technology development, especially by the Institute for Agricultural TechnologyAssessment (BPTP), in the progress of accelerated food diversification aplication. The Study conducted in the province of East Nusa Tenggara and Maluku . Data collection was through Participatory Rural Appraisal ( PRA ) approach. The main result of the study showed, adequate alternative food was available , but the process and storage technologies have not been optimally supported. The development of alternate food is availaable and need supporting system in technology dissemination and social engineering. In the development process still lack of synergi between the traditional institutions with institutional that formulate by the government. Need a special study of the role of the church (in the case of NTT) and traditional institutions (in the case of Maluku) in the efforts of accelerate the aplication of food diversification and government role in institution development. In the local contect, there is no policy support in the form of Regulation that directly support the development of food diversification aplication. IAAT through their assessment result need to advocate the urgency of local government support in food diversification aplication through regulation. In the future needs a special study of the diversification requirements , namely : the availability and distribution of food , availability of technology , and social culture. AIAT also need to make specific recommendations to the local government in implementing the regulation and Ministry of agriculture regulation in relation with food diversification. Based on these study results, the role of IAAT in diversification development not only in the internalization of diversification of food consumption, but also in business and local food industry development.M Field School is one of the strategic programs of the Ministry of Key words: Agricultural innovation, diversification, status and acceleration ABSTRAK Upaya diversifikasi pangan perlu lebih serius dan terintegrasi melibatkan semua pihak terkait, termasuk peran Badan Litbang Pertanian yang terkait dengan penyiapan inovasi pertaniannya. Tujuan kajian ini adalah: (1) mengidentifikasi status prasyarat percepatan diversifikasi pangan; (2) menganalisis kebijakan pemerintah (daerah) mendukung program diversifikasi pangan; dan (3) merumuskan strategi pengembangan inovasi pertanian, terutama oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) ke depan dalam mendukung percepatan diversifikasi pangan. Lokasi kajian di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Maluku, melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). Hasil kajian antara lain menunjukkan bahwa pangan alternatif tersedia secara memadai, namun teknologi pengolahan dan penyimpanan belum mendukung secara optimal, murah, mudah dan cepat. Pengembangan pangan alternatif cukup potensial dan kondusif, namun dibutuhkan percepatan diseminasi dan rekayasa sosial. Belum ada sinergi antara kelembagaan bentukan masyarakat dengan kelembagaan bentukan pemerintah. Perlu kajian khusus terhadap peran gereja (kasus di NTT) dan lembaga adat (kasus di Maluku) dalam mendukung upaya percepatan diversifikasi dan kaitannya dengan berbagai lembaga bentukan dari atas. Sejauh ini, belum ditemukan adanya dukungan kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang pengembangan diversifikasi pangan di kedua wilayah yang diamati. BPTP di wilayah terkait diharapkan dapat melakukan advokasi, dengan dukungan hasil pengkajian tentang perlunya PERDA mendukung diversifikasi pangan. Perlu ada kajian khusus tentang prasyarat diversifikasi pangan, yaitu: ketersediaan dan distribusi pangan, ketersediaan teknologi; dan sosial budaya masyarakat. BPTP juga perlu membuat rekomendasi spesifik lokasi kepada PEMDA dalam menerapkan Perpres dan Permentan. Berdasarkan hasil kajian tersebut, maka fungsi dan peran Badan Litbang Pertanian di daerah (melalui BPTP), tidak saja dalam internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan, tetapi juga dalam pengembangan bisnis dan industri pangan lokal. Kata kunci: Inovasi pertanian, diversifikasi pangan, status dan percepata
Kajian Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi Padi Sawah Irigasi di Kabupaten Buru
ABSTRACTAssessment on Site-Specific Nutrient Management of Irrigated Rice in Buru Region. Recommended dose of package fertilize which is widely applied by administrative boundaries or district is less appropriate with principles of site-specific nutrient management (SSNM). Fertilizer recommendations should be based on soil fertility status (SFS) and plant responses to fertilization in a specific yield target. Analysis spatial data are available online with Geographic Information Systems (GIS) can be used in a rapid, inexpensive and relatively accurate to help map SFS and fertilizer recommendations. The purpose of this study was to determine the dose and N, P and K fertilizer recommendation maps for paddy on each SFS mapping unit in Waeapo Plains, Buru. Omission plot trials were conducted at 12 locations. Mapping fertilizer recommendations were made by spatial analysis using software Krigging Interpolator of ArcView GIS. The results showed that the target of sustainable rice yield ranged from 6.40 to 6.75 t paddy/ha. The need for fertilizer N, P and K on lowest SFS is 120.20 kg N/ha, 13.03 kg P/ha and 58.12 kg K/ha. While at low SFS is 136.53 kg N/ha, 13.46 kg P/ha and 58.97 kg K/ha. The areas were divided into five fertilizer recommendations based on SFS and target sustainable yield rice namely SR-I 14,830.02 ha area; SR-II covering 4,722.42 ha; R-I covering 3,763.67 ha, R-II covering 1,022.11 ha and R-III with an area 1510.60 ha. Analysis of satellite imagery with GIS can be used to map the SFS and site-specific fertilizer recommendations in a rapid, inexpensive and accurate. Key words: SSNM, rice, GIS, Waeapo plain, Buru ABSTRAK Rekomendasi satu paket dosis pemupukan yang diterapkan secara luas berdasarkan batas administrasi kecamatan atau kabupaten kurang sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL). Rekomendasi pemupukan seharusnya didasarkan pada status kesuburan tanah (SKT) dan respon tanaman terhadap pemupukan pada suatu target hasil tertentu. Data spasial yang tersedia secara online dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan secara cepat, murah dan relatif akurat untuk membantu memetakan SKT dan rekomendasi pemupukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan dosis dan memetakan rekomendasi pemupukan N, P dan K padi sawah pada setiap satuan peta SKT di Dataran Waeapo, Buru. Uji petak omisi dilakukan pada 12 lokasi. Pemetaan rekomendasi pemupukan dilakukan dengan analisis spasial menggunakan software Krigging Interpolator dari ArcView GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa target hasil lestari padi sawah berkisar antara 6,40 – 6,75 t GKG/ha. Kebutuhan pupuk N, P dan K pada SKT sangat rendah adalah 120,20 kg N/ha, 13,03 kg P/ha dan 58,12 kg K/ha. Sedangkan pada SKT rendah adalah 136,53 kg N/ha, 13,46 kg P/ha dan 58,97 kg K/ha. Wilayah rekomendasi pemupukan dibagi menjadi 5 berdasarkan SKT dan target hasil lestari padi sawah yaitu SR I seluas 14.830,02 ha; SR II seluas 4.722,42 ha; R-I seluas 3.763,67 ha, R-II seluas 1.022,11 ha dan R-III dengan luas 1.510,60 ha. Analisis citra satelit dengan SIG dapat digunakan untuk memetakan SKT dan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi secara cepat, murah dan akurat. Kata kunci: PHSL, padi sawah, SIG, dataran Waeapo, Bur
Analisis Ekonomi Sistem Tanam Padi Sawah di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara
ABSTRACTEconomic Analysis of Several Models Rice Planting in Konawe Regency Southeast Sulawesi. Indonesian Agency Agricultural Research and Development (IAARD) has introduced some technology to enhance rice productivity, such as direct planting system and legowo model in transplanting system. Research was conducted to know agro economic performance of several models rice planting at Bendewuta Village Wonggeduku Subdistrict Konawe Regency, using 15 ha low land rice area by comparing three kinds of technology such as: (i) exsisting direct planting model (farmer technology), (ii) direct seeding legowo 2:1 model, and (iii) transplanting legowo 2:1 model. Each model was applied in 5 ha low land rice area at the same location. The result of research showed that the rice yield of legowo model (transplanting system and direct seeding) was higher 20.9% and 20.3% respectively than the rice yield of existing direct seeding planting model. Direct seeding legowo 2:1 model gave highest benefict, around IDR. 8,107,250/ha/season with BCR value 1.75. Changing technology from the existing direct seeding planting model to direct seeding planting legowo 2:1 model gave addition benefict around IDR.1,975,050 with MBCR value 6.96 and from transplanting legowo 2:1 model to direct seeding planting legowo 2:1 model add benefict IDR.425,100 with MBCR value 1.16. Direct seeding planting legowo 2:1 model has been adopted by farmer in several villages and was implemented around 100 ha only 1 season after this model was introduced in first season 2011. In the future, due to increasing planting cost of rice, direct seeding legowo 2:1 model could be can alternative way to decrease planting cost and to increase rice yield.. Key words: Economic analysis, planting system, rice ABSTRAK Badan Litbang Pertanian telah mengintroduksikan berbagai teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi, antara lain sistem tanam benih langsung (Tabela) dan cara tanam legowo. Kajian sistem tanam padi dilakukan di Desa Bendewuta, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe pada luasan 15 ha dengan membandingkan tiga teknologi, yaitu (i) tabela biasa, (ii) tabela legowo 2:1 dan (iii) tapin legowo 2:1, yang masing-masing diaplikasikan pada 5 ha lahan sawah. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penanaman dengan sistem legowo baik dengan menggunakan tapin maupun tabela memberikan produktivitas lebih tinggi masing-masing 20,9% dan 20,3% dibandingkan dengan penggunaan tabela biasa. Sistem tabela legowo 2:1 memberikan keuntungan yang tertinggi yaitu Rp. 8.107.250/ ha dengan nilai BCR sebesar 1,75. Perubahan penerapan teknologi sistem tabela biasa menjadi sistem tabela legowo 2:1 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp.1.975.050 dengan nilai MBCR 6,96. Perubahan teknologi sistem tapin legowo 2:1 menjadi sistem tabela legowo 2:1 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp.425.100, dengan nilai MBCR 1,16. Penggunaan teknologi tabela legowo 2:1 telah direspon baik oleh petani di sekitar wilayah pengkajian, dimana pada MT II 2011 telah berkembang sekitar 100 ha yang menggunakan atabela model legowo 2:1. Ke depan, dengan makin meningkatnya biaya tanam, maka penanaman sistem tabela legowo 2:1 dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk mengurangi biaya tanam, dan meningkatkan produktivitas padi sawah. Kata kunci: Analisis ekonomi, cara tanam, padi sawa
KAJIAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU ADOPSI INOVASI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI MELALUI SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU
Assessment on Determinant Factors of Innovation Adoption for Integrated Crop Management on Rice through Integrated Crop Management-Farmer School. In order to increase national rice production, the government through the Ministry of Agriculture launched a policy of accelerated ICM in rice production centers. To support these policies, this study aims to find the determinants factors of ICM adoption by farmers, as well as the characteristics of the farmers. The data was collected through direct interviews to farmers implementing ICM in eight regions of AIAT executing of ICM-FS, with the number of respondents in each region were 10 rice farmers implementing ICM and 10 non-executing ICM farmers, hence the number of respondents were 80 rice farmers implementing ICM and 80 non-executing ICM farmers. The results of the analysis indicated that the acceleration of innovation adoption were determined ICM by farmers include age, education level of farmers, farm costs as well as the ratio of extension worker number to researcher number in AIAT. Its means that the opportunities of ICM adoption were higher when the farmers are relatively young and the level of educations were high. The ICM-FS method of could increased the productivity up to 17% or by 0,7 t/ha compared to the existing conditions.Key Words: rice, adoption, and productivity, ICM FSDalam rangka peningkatan produksi padi nasional, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mencanangkan kebijakan percepatan penerapan inovasi PTT padi terutama pada sentra produksi padi. Untuk mendukung kebijakan tersebut, kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penentu adopsi inovasi PTT padi, dan hubungannya dengan karakteristik petani adopter. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap petani peserta PTT padi di delapan wilayah BPTP peserta SL-PTT, dengan jumlah responden per wilayah adalah 10 petani peserta PTT padi dan 10 petani non peserta PTT padi, sehingga total responden 80 petani peserta PTT dan 80 petani non peserta PTT. Hasil analisis menunjukan bahwa ; faktor penentu percepatan adopsi inovasi PTT padi di antaranya adalah umur, tingkat pendidikan petani, biaya usahatani serta jumlah penyuluh dan peneliti di BPTP. Artinya peluang adopsi teknologi PTT makin tinggi apabila kelompok pelaksana SL adalah yang umurnya relatif muda dengan tingkat pendidikan relatif lebih tinggi dari rata-rata pendidikan anggota kelompok taninya. Metoda SL dapat meningkatkan produktivitas 17% atau 0,7 t/ha dari produktivitas yang dicapai petani selama ini.Kata Kunci : padi, adopsi, produktivitas, SL-PT
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAHAMAN MATERI PENYULUHAN HAMA PENYAKIT JERUK KEPROK SOE DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
Factors Influencing the Understanding of Extension Materials for Soe Citrus Pests and Diseasesin Timor Tengah Selatan Regency. The effectiveness of extension for pest and disease controls on subsistent/semi commercial farmers have not been conducted extensively. This extension used LAKU method (trainingand visitation) for Feto Mone farmer’s group in Bosen Village, Mollo Utara Sub-district, Timor TengahSelatan Regency from December 2007 to March 2008. The number of farmers involved was 16 people. Theanalysis method used was multiple linier regressions. The dependent variable was the final scores attainedby participants while the independent variables were the age, education, reading skill, reading frequency ofinformation media and ownership of Soe Citrus. The analysis output shows that the final scores have a strongcorrelation with the reading skill and ownership of Soe Citrus. Meanwhile, the independent variable fulfillingthe terms of Best Unbiased Estimator was the reading skill with the estimation model of Y = 6.54 + 17.9X. Thereading skill variable was able to explain the variability 51.6%, and the rest was explained by other variables.Key words: Keprok Soe citrus, pests and diseases, extensionABSTRAKEfektivitas penyuluhan pengendalian hama dan penyakit jeruk pada masyarakat subsisten/semi komersialbelum banyak diteliti. Penyuluhan menggunakan metode LAKU (latihan dan kunjungan) yang dilaksanakan padakelompok tani Feto Mone di desa Bosen, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan pada bulanDesember 2007 – Maret 2008. Jumlah petani yang terlibat sebanyak 16 orang. Metode analisis yang dipergunakanadalah regresi linier berganda. Sebagai dependent variabel adalah nilai akhir yang dicapai peserta, sementaraindependent variabel adalah umur, pendidikan, keterampilan membaca, tingkat keseringan membaca mediainformasi dan kepemilikan jeruk keprok Soe. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai akhir berkorelasi kuat denganketerampilan membaca dan kepemilikan jeruk. Sementara variabel independen yang memenuhi syarat Best UnbiasedEstimator adalah keterampilan membaca dengan model penduga adalah Y = 6,54 + 17,9X. Variabel keterampilanmembaca dapat menjelaskan variabilitas sebesar 51,6%, sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain.Kata kunci: Jeruk keprok, hama penyakit, penyuluhan
ANALISIS KEUNTUNGAN DAN SENSITIVITAS USAHA BENIH PADI DI PROVINSI BANTEN
Profitability and Sensitivity Analyses of Paddy Seed Farming in Banten Province. Paddy seed industries in Banten Province is still categorized as low, characterized by (i) most farmers produce and use their own seeds, (ii) the available seeds have not fulfilled the needs, (iii) farmers have various perceptions on the use of labeled seeds, and (iv) local seed breeders have not yet developed. The objectives of this assessment are to analyze the feasibility and sensitivity of paddy seed breeding against price and production changes. The study was conducted in Serang Regency, Banten Province from March to August 2007. The approaches used were tabularized descriptive analysis, feasibility analysis, break even point, and sensitivity analysis. The study results show that: (1) paddy seed breeding was profitable (B/C =1.71), (2) the minimum production and price that must be achieved in order to remain profitable were 1.587 kg/ha and Rp.1, 477/kg, respectively, and (3) seed breeding was relatively insensitive to price and production changes. Therefore, local seed breeders need to be developed in order to increase the availability of labeled seeds.Key words : Labeled seed, feasibility, sensitivity, local seed producerABSTRAKIndustri perbenihan padi di Provinsi Banten masih dikategorikan rendah yang dicirikan oleh (i) sebagian besar petani menggunakan dan memproduksi sendiri benih, (ii) benih yang tersedia belum memenuhi kebutuhan (iii) beragamnya persepsi petani terhadap penggunaan benih berlabel dan (iv) belum berkembangnya penangkar benih di daerah. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha dan sensitivitas usaha perbanyakan benih padi terhadap perubahan harga dan produksi. Kajian dilakukan di kabupaten Serang, Provinsi Banten sejak bulan Maret sampai Agustus 2007. Pendekatan yang digunakan adalah analisis deskriptif tabulatif, analisis kelayakan usaha, titik impas harga dan produksi serta analisis sensitivitas. Hasil kajian menunjukkan : (1) usaha perbanyakan benih padi menguntungkan dan layak untuk dikembangkan (B/C=1.71), (2) produksi dan harga minimun yang harus dicapai agar usaha perbanyakan benih tetap menguntungkan adalah 1.587 kg/ha dan Rp.1.477/kg; dan (3) usaha perbanyakan benih padi relatif tidak sensitif terhadap perubahan harga dan penurunan produksi. Untuk itu, penangkar benih lokal perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan ketersediaan benih padi berlabel.Kata kunci : Benih berlabel, kelayakan, sensitivitas, penangkar benih loka