Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    KAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAWANG MERAH DENGAN BIOPESTISIDA DI SULAWESI TENGGARA

    Full text link
    The Study of Shallot Wilt Disease with Biopesticide in South Sulawesi. The study aimed to obtain an effective biopesticide to controlshallot wilt disease which was conducted in March to July 2017 in Andowengga Village, Poli-Polia Sub-district, East Kolaka District, Southeast Sulawesi. The study used randomized block design (RBD) with 4 (four) treatments namely (1) biopesticide Trichoderma spp 15 kg/10 m2+organic fertilizer 100 kg/10 m2, (2) Gliocladium spp 100 g/10 m2+ organic fertilizer 100 kg/10 m2, (3) Bacillus sp1 litre/100 liter/10 m2+ organic fertilizer 100 kg/10 m2 and (4) control (organic fertilizer) 100 kg/10 m2 with 5 (five) replications. The variable observed were potential of biopesticide suppression of wilt disease, the intensity of the wilt disease as well as vegetative growth and shallot production. The results of the study showed the Trichoderma, Gliocladium and Bacillus biopesticides can control wilt in shallot plants. The treatmentof Bacillus biopesticides was able to control wilt with a level of suppression (efficacy) of 50,70% in the vegetative growth phase, 24% in the tuber formation phase andto provide higher productivity compared to the other two treatments which was 125 kg/10 m2 or equivalent to 1.25 t/ha in local specific condition in Southeast Sulawesi.Keywords: shallot, wilt diseases, biopesticides, productivity  ABSTRAKKajian bertujuan mendapatkan biopestisida yang efektif mengendalikan penyakit layu pada bawang merah yang telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2017 di Desa Andowengga, Kecamatan Poli-Polia, Kabuapten Kolaka Timur. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 (empat) perlakuan yaitu (1) Biopestisida Trichoderma spp 15 kg/10 m2 + pupuk organik 100 kg/10 m2 (2) Gliocladium spp 100 g/10 m2 + pupuk organik 100 kg/10m2, (3) Bacillus sp 1 l/100 l/10 m2 + pupuk organik, 100 kg/10 m2, dan (4) Kontrol (pupuk organik) 100 kg/10 m2 sebanyak 5 (lima) ulangan. Peubah yang diamati mencakup potensi penekanan biopestisida terhadap penyakit layu, intensitas serangan penyakit layu, pertumbuhan vegetatif, dan produksi bawang merah. Hasil kajian menunjukkan biopestisida Trichoderma, Gliocladium, dan Bacillus dapat mengendalikan penyakit layu pada tanaman bawang merah. Perlakuan biopestisida Bacillus mampu mengendalikan penyakit layu dengan tingkat penekanan (efikasi) sebesar 50,70% pada fase pertumbuhan vegetatif, 24% pada fase pembentukan umbi, dan memberikan produktivitas bawang merah yang lebih tinggi dibandingkan dua perlakuan lainnya yakni sebesar 125 kg/10 m2 atau setara 1,25 t/ha pada kondisi spesifik lokasi Sulawesi Tenggara.Kata kunci: bawang merah, penyakit layu, biopestisida, produktivita

    INTARAKSI BEBERAPA ISOLAT RIZOBAKTERIA DAN CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA (CMA) TERHADAP HASIL TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.)

    No full text
    The Effect of Rhizobacteria Types and Arbuscular Mycorrhiza Fungi to Potato Yield (Solanum tuberosum L.). Production and productivity of potatoes (Solanum tuberosum L.) in Indonesia is still relatively low compared to other countries. The research aimed to study the effect of interaction between rhizobacteria types and arbuscular mycorrhiza fungi to potato yield. The research was conducted in Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture, Andalas University and Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat from October 2017 to March 2018. Factorial design with 2 factors in block randomized design was used in the research. The first factor was rhizobacteria isolates (no rhizobacteria, RZ1.L2.4, RZ1.L2.1 and RZ2.L2.1). The second factor was Arbuscular mycorrhiza fungi (AMF) doses (5 g/plant, 10 g/plant and 15 g/plant). The results showed that the interaction between rhizobacteria and AMF did not affect the yield components of potato. The best rhizobacteria isolate was RZ2.L2.1 and 15 g/plant was the best AMF dose for fresh weight of tuber per plant, per plot and per hectare.Keywords: potato, Arbuscular mycorrhiza fungi, rhizobacteria, Solanum tuberosum LABSTRAKProduksi dan produktivitas kentang (Solanum tuberosum L.) di Indonesia secara nasional masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi antara jenis rizobakteria dan cendawan mikoriza arbuskula terhadap komponen hasil kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat dari bulan Oktober 2017 sampai Maret 2018. Rancangan faktorial dengan 2 (dua) faktor dalam Rancangan Acak Kelompok digunakan dalam penelitian. Faktor pertama adalah isolat rizobakteria (Tanpa rizobakteria, RZ1.L2.4, RZ1.L2.1 dan RZ2.L2.1). Faktor kedua adalah dosis cendawan mikoriza arbuskula (CMA) (5 g/tanaman, 10 g/tanaman dan 15 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis rhizobakteria dan dosis CMA tidak berpengaruh terhadap komponen hasil kentang. Isolat rhizobakteria terbaik adalah RZ2.L2.1 dan dosis 15 g/tanaman merupakan dosis CMA terbaik untuk bobot segar umbi per tanaman, per petak dan per hektar.Kata kunci: kentang, cendawan mikoriza arbuskula, rhizobakteria, Solanum tuberosum

    PENGKAJIAN PAKET TEKNOLOGI PEMUPUKAN BAWANG MERAH DENGAN BENIH UMBI MINI DI KABUPATEN CIREBON

    Full text link
    ABSTRACT                 Assessment of Fertilization Technology Package Shallot Using Mini Bulb in Cirebon District. One of the main problems on the increasing shallot production is the limitation of high-quality plant materials. The use of mini bulbs on their cultivation is expected as one of the solutions.  The cultivation using these materials is almost the same as conventional ones.  Some benefits would be obtained when using mini bulbs as seeds, it is more efficient because it does not require a lot of its volume and the resulting production can be higher.  Generally, shallot cultivation at many farmer levels is less profitable caused by the use of excessive chemical fertilizers, so it is necessary to have proper fertilization studies. The purpose of this assessment was to compare the application of technology packages based on Balitsa fertilization recommendation with the farmer’s one using mini bulbs as plant materials on Bima Brebes shallot cultivation. The research was carried out in Cukang Akar Village, Pabedilan Sub District, Cirebon District from August 2014 to January 2015. Parameters observed were plant height, number of tillers, weight, diameter, and length of bulbs, total bulbs per plant and production as well as production costs, profits and B/C. Plant growth data were analyzed descriptively and further tested using the t-test at the 5% confidence level. The results of the assessment showed that there was no significant difference between both treatments, the technology packages and the farmers were one on all parameters, but the application of technology packages was more profitable 114.240 IDR per hectare, with B/C value was 1.13.  Keywords: shallot, fertilizer, mini bulb ABSTRAK Salah satu kendala utama yang dihadapi dalam usaha peningkatan produksi bawang merah adalah terbatasnya ketersediaan benih bermutu. Penggunaan benih umbi mini diharapkan menjadi salah satu solusinya. Budidaya bawang merah dengan menggunakan benih asal umbi mini hampir sama dengan umbi konvensional. Penggunaan umbi mini mempunyai kelebihan yaitu lebih efisien karena tidak memerlukan volume benih yang banyak dan produksi yang dihasilkan dapat lebih tinggi. Secara umum, budidaya bawang merah di tingkat petani banyak yang kurang menguntungkan, salah satunya disebabkan penggunaan pupuk kimia berlebihan, sehingga perlu pengkajian pemupukan yang tepat. Tujuan pengkajian adalah membandingkan penggunaan paket teknologi berdasarkan teknologi rekomendasi pemupukan Balitsa dengan cara petani pada budidaya bawang merah dengan menggunakan benih umbi mini. Pengkajian dilaksanakan di Desa Cukang Akar, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon  pada bulan Agustus 2014–Januari 2015. Varietas bawang merah yang digunakan adalah Bima Brebes. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, berat umbi, diameter umbi, panjang umbi, jumlah umbi per tanaman dan produksi serta biaya produksi, keuntungan dan B/C. Data pertumbuhan tanaman dianalisis secara deskriptif dan diuji lanjut t-test pada taraf kepercayaan 5%. Hasil pengkajian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan paket teknologi dan cara petani pada semua parameter, namun aplikasi paket teknologi lebih menguntungkan Rp. 114.240 per hektar, dengan nilai nisbah B/C 1,13. Implikasinya keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi.Kata kunci: bawang merah, pemupukan, umbi min

    PENGARUH BATUAN INDUK DAN KIMIA TANAH TERHADAP POTENSI KESUBURAN TANAH DI KABUPATEN KEPULAUAN SULA, PROVINSI MALUKU UTARA

    Full text link
    ABSTRACT Effect of Source Rocks and Soil Chemical Towards Land Fertility Potential in Sula Kepulauan District, North Maluku Province. The study aimed to determine the condition of soil fertility potential. Parameters used as the basis of assessment of potential fertility of the soil were the type of main rock, weathering processes and mineral content of the native rock while chemically research was emphased on organic matter content, soil pH, CEC, base saturity and essential nutrients (N, P, K). General lithology in the study area were grouped into rocks and rock volkan sediman. Aluvio-marine sedimentary rocks and aluvio-collovium were deposition materials from a variety of rocks in the study contained a number of nutrients and organic matter. Meanhile volkan rocks included basalt and andesite-granidiorit neutral to alkaline. Contained elements that produced fertile lands both physically and chemically. Based on the analysis, the average soil was classified as slightly acid (pH 5.6). The lower layers of soil reaction on average relatively was acidic (pH 5.1). Soil organic matter in the form of organic-C showed the top layer of a low average (1.58%), whilst the layer below average was very low (0.83%). CEC soil layers above and below the average were moderate (20.66 me/100 g) and (19.6 me/100 g). Base saturations (KB) to these two layers of soil on top and below the average were classified as moderate (55%) and (51%). Levels of nitrogen (N-total) topsoil with layers below average are low valued (0.18%) and (0.11%). Classified as very low, phosporus level in both layers were above the average which were 5.40 ppm and 3.10 ppm respectively. Potassiums were very low in the second layer of 5.13 mg/100 g and 3.81 mg/100 g. The parameters used to assess soil fertility status were CEC, KB, P2O5 which were extracted with HCl 25%, and K2O was extracted with HCl 25% and C-organic soil. Potential assessment of soil fertility status based on lithology and soil chemistry acquired the status of soil fertility was low.Keywords: potential soil fertility, maint rock, chemical  ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesuburan tanah potensial. Parameter yang dijadikan dasar penilaian potensi kesuburan tanah adalah jenis, proses pelapukan, dan kandungan mineral batuan induk sedangkan secara kimia penelitian ditekankan pada kandungan bahan organik, pH tanah, KTK, KB, dan unsur hara esensial (N, P, K). Secara umum litologi di wilayah studi dikelompokan ke dalam batuan sediman dan batuan volkan. Batuan sedimen aluvio-marine dan aluvio-koluvium merupakan bahan-bahan endapan dari berbagai batuan di wilayah studi yang banyak mengandung unsur hara dan bahan organik. Batuan volkan meliputi andesit-basal dan granidiorit bersifat netral sampai basa, mengandung unsur-unsur yang menghasilkan tanah-tanah subur baik secara fisik maupun kimia. Berdasarkan hasil analisis tanah pH rata-rata tergolong agak masam (pH 5,6). Lapisan bawah reaksi tanah rata-rata tergolong masam (pH 5,1). Bahan organik tanah dalam bentuk C-organik menunjukkan pada lapisan atas rata-rata rendah (1,58%), sementara lapisan bawah rata-rata sangat rendah (0,83%). KTK tanah lapisan atas maupun bawah rata-rata tergolong sedang (20,7 me/100 gram) dan (19,6 me/100 gram). Kejenuhan basa (KB) tanah pada keduan lapisan atas dan bawah rata-rata tergolong sedang yaitu (55%) dan (51%). Kadar nitrogen (N-total) tanah lapisan atas sama dengan lapisan bawah rata-rata tergolong rendah (0,18%) dan (0,11%). Kadar fosor (P2O5) tergolong sangat rendah, di kedua lapisan atas rata-rata sebesar 5,40 dan 3,10 me/100g. Unsur hara kalium (K2O) sangat rendah pada kedua lapisan 5,13 mg/100 gram dan 3,81 mg/100 gram. Parameter yang digunakan untuk menilai status kesuburan tanah yaitu KTK, KB, P2O5 yang diesktrak dengan HCl 25%, sedangkan K2O diekstrak dengan HCl 25% dan C-organik tanah. Penilaian potensi status kesuburan tanah berdasarkan litologi dan kimia tanah diperoleh status kesuburan tanah tergolong rendah.Kata kunci: kesuburan tanah potensial, batuan induk, kimi

    PENGARUH PAKAN LOKAL TERHADAP PENAMPILAN PERTUMBUHAN DAN KELAYAKAN USAHA AYAM RAS PEDAGING DI MALUKU UTARA

    No full text
    Responses of Growth Performance and Feasibility of Broiler Chicken Farming Againts to the North Maluku Local Feed. This research aimed to assess the effect of North Maluku’s (NMs) local-based diets in broiler farming. The number of 450 unsexed birds (Cobb, Day Old Chickens) were divided into 3 treatment groups and 3 replications (n = 50 per replicate). A completely randomized design (CRD) was employed. The diets were NMs local-based diets for starter period (RL1), NMs local-based diets finisher period (RL2), and commercial diets (CP-511) (RK). The treatments were 1) broiler was fed RL1 at 1-2 weeks of age and RL2 at 3-4 weeks of age (P1); 2) broiler was fed RK at 1-2 weeks of age and RL2 at 3-4 weeks of age (P2); 3) broiler was fed RK at 1-4 weeks of age (P3). The collected data were average daily body weight gain (ADG), feed consumption, feed conversion ratio (FCR) and mortality. The results showed P1 had the lowest ADG, the lowest feed conversion (highest FCR), and the highest mortality compared to all treatments at all ages (P <0.05). In addition, the lowest consumption at 1-2 weeks was P1 (P <0.05). The growth performance of broilers P2 was not different from P3 at 3-4 weeks of age. P1 had loss by 35,4%. Net benefit ratio (NBR) P1 against P3 showed P1 loss was 2,58 times compared to the benefit of P3. On the other hand, P2 yielded profit by 17,2% and increased profit 1,4 times more than P3. NMs local-based diets (RL2) can substitute commercial diets for broiler at 3-4 weeks of age with optimal growth performance, reduce feed costs and increase the profitability of broilers farming.Keywords: broilers, North Maluku, local-based diets, feasibility ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian pakan berbasis bahan pakan lokal dari Maluku Utara (MU) terhadap produksi ayam ras pedaging. Sejumlah 450 ekor unsexed DOC (day old chickens) ayam ras pedaging (Cobb) dibagi menjadi 3 grup perlakuan dengan 3 ulangan (n=50 ekor per ulangan). Penempatan perlakuan menggunakan rancangan acak lengkap (completely randomized design) (RAL). Jenis pakan yang digunakan yaitu pakan berbasis bahan pakan lokal dari MU periode starter (RL1), pakan berbasis bahan pakan lokal dari MU periode finisher (RL2), dan pakan komersial (RK). Perlakuan dalam penelitian ini adalah (1) Perlakuan 1 (P1), pemberian RL1 pada umur 1-2 minggu dan RL2 pada umur 3-4 minggu; (2) Perlakuan 2 (P2), pemberian RK pada umur 1-2 minggu dan RL2 pada umur 3-4 minggu; (3) Perlakuan 3 (P3), pemberian RK pada umur 1-4 minggu. Parameter yang diamati adalah pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan (feed conversion ratio/ FCR) dan mortalitas. P1 memiliki PBBH terendah, efisiensi pakan terendah (FCR tinggi), dan mortalitas tertinggi (P<0,05) dibandingkan semua perlakuan pada semua umur. Konsumsi terendah (P<0,05) pada umur 1-2 minggu dimiliki oleh P1 dibandingkan semua perlakuan. P2 memiliki penampilan pertumbuhan serupa dengan P3. P1 menyebabkan kerugian sebesar 35,4%. Analisis nisbah peningkatan keuntungan bersih (NKB) menunjukkan P1 mengalami kerugian 2,58 kali dibandingkan nilai keuntungan P3. P2 menghasilkan keuntungan sebesar 17,2% dan keuntungan tersebut meningkat 1,4 kali dari keuntungan P3. Pakan berbasis bahan pakan lokal dari Maluku Utara (RL2) mampu menggantikan pakan komersial untuk ayam ras pedaging pada umur 3-4 minggu dengan performa pertumbuhan optimal, menurunkan biaya pakan, dan meningkatkan keuntungan usahatani ayam ras pedaging.Kata kunci: ayam ras pedaging, Maluku Utara, pakan lokal, kelayakan usaha

    TANGKAPAN SERANGGA HAMA PADI PADA LAMPU PERANGKAP DI LAHAN SAWAH IRIGASI DATARAN RENDAH

    Full text link
    Light Trap as Insects Monitoring Tools in Lowland Irrigated Rice Agroecosystem. Development of insect population in the rice field can be monitored by light traps. Insects that caught in light trap as indicator of their population in the field. The research purpose was to determine the insects flight that caught in light trap at lowland irrigated rice field. Three units of light trap with 160 watts were used in the rice field, the distance between light trap was 300-500m. Observation of traped insects were conducted during six planting seasons [2013/2014 wet season (WS), 2014/2015WS, 2015/2016WS, 2014 dry season (DS), 2015 DS and 2016 DS]. The result showed that the number of insects trapped in light traps were different each years and seasons. The insects’ species trapped in light trap were yellow stemborrer (Scirpophaga incertulas), pink stemborrer (Sesamia inferens), leaf folder (Cnaphalocrosis medinalis), black bug (Scotinophara sp), brown planthopper macropterous (Nilaparvata lugens) and mole cricket (Gryllotalpa sp.). These insects had different population pattern each wet or dry season in every years. Rice black bug (Scotinophara sp) were the highest insect trapped each seasons. Light trap could be a useful tool for insects monitoring and population reducing in the rice field.Keywords: dry season, insect pest, light trap, wet season  ABSTRAK Perkembangan populasi serangga di pertanaman padi dapat diketahui dengan bantuan lampu perangkap. Serangga yang tertangkap pada lampu perangkap merupakan indikator keberadaan serangga tersebut di pertanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui tangkapan serangga hama padi pada lampu perangkap di lahan sawah irigasi dataran rendah. Tiga unit lampu perangkap dengan daya sebesar 160 watt di gunakan pada hamparan tanaman padi, dengan jarak antar lampu perangkap 300-500 m. Pengamatan dilakukan masing-masing pada 3 musim tanam penghujan (MH) dan musim tanam kemarau (MK) yaitu pada MH 2013/2014, MH 2014/2015, MH 2015/2016, MK 2014, MK 2015 dan MK 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tangkapan serangga hama berbeda-beda pada setiap tahun maupun antar musim hujan dengan musim kemarau. Serangga hama yang tertangkap antara lain penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens), pelipat daun (Cnaphalocrosis medinalis), kepinding tanah (Scotinophara coarctata), wereng cokelat (Nilaparvata lugens), dan anjing tanah (Gryllotalpa sp.). Setiap serangga mempunyai pola tangkapan yang berbeda pada setiap musim dan setiap tahunnya. Di antara serangga hama yang tertangkap, kepinding tanah merupakan serangga yang paling banyak tertangkap di setiap musim. Lampu perangkap dapat dijadikan alat monitoring perkembangan sekaligus mengurangi populasi serangga hama di pertanaman.Kata kunci: musim kemarau, serangga hama, lampu perangkap, musim huja

    ANALISIS KELAYAKAN DAN PERSPEKTIF PENGEMBANGAN PENGOLAHAN SAGU DI SULAWESI TENGGARA

    Full text link
    Feasibility and Perspective Analysis of Sagu Processing Development in South Sulawesi. Sago starch has an important role both as a staple food and a material for making various other processed food products. Sago processing can produce both wet sago and dried sago starch. The study was conducted to determine the feasibility of the sago processing business and its development perspective in Southeast Sulawesi. The study was conducted in South Konawe District in March - December 2017. Data were collected through field observations of the Biosagu Sejahtera Farmer Group in Matalamokula Village, North Moramo Sub District which has wet and dry sago production units. The data collected were the production capacity of wet sago and dry sago, the price of sago trees, the price of wet sago and dry sago, the production costs include labor costs, fuel costs, packaging costs as well as the costs of depreciation of tools and machinery. Data were analyzed using a profit equation. The results showed that the production of wet sago starch on a processing scale of 12 sago trees (1 production cycle) was feasible because it provided a profit of 7,314,000 IDR with Production-Break Even Point (PBEP) of 2,359 kg and Price BEP of 1,493 IDR and RCR value was 1.93. Likewise, dry sago production business was feasible with an RCR of 2.18; BEP from the production and price were 460 kg and 7,571 IDR respectively and provided profit of around 6,435,000 IDR. Thus the production of wet sago and dry sago can be alternative non-farm employment in rural areas. Perspective of sago processing in Southeast Sulawesi in the future is quite good due to the several supports such as availability of sago plantation area, the availability of human resources, the technology available as well as policies and regulations from the government. The demand for sago in the future will be influenced by the demand to substitute commodities that are still imported such as wheat and sugar as well as products that have a large domestic use, namely bioethanol. The development of sago in the future needs to respond to changes in demand by changing the management model with conventional management to modern technology. Tepung sagu memiliki peran penting baik sebagai bahan pangan pokok maupun sebagai bahan pembuatan berbagai produk olahan pangan lainnya. Pengolahan sagu dapat menghasilkan tepung sagu basah dan tepung sagu kering. Kajian dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha pengolahan sagu serta perspektif pengembangannya di Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan di Kabupaten Konawe Selatan bulan Maret – Desember tahun 2017. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan terhadap Kelompok Tani Biosagu Sejahtera Desa Matalamokula, Kecamatan Moramo Utara yang memiliki unit produksi sagu basah dan unit produksi sagu kering. Data yang dikumpulkan  adalah kapasitas produksi sagu basah dan sagu kering, harga pohon sagu, harga sagu basah dan sagu kering, biaya produksi meliputi biaya tenaga kerja, biaya bahan bakar, biaya kemasan serta biaya penyusutan alat dan mesin, analisis data dilakukan menggunakan persamaan keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha produksi tepung sagu basah pada skala pengolahan 12 pohon sagu (1 siklus produksi) layak diusahakan karena memberikan keuntungan sebesar Rp 7.314.000, dengan nilai Titik Impas Produksi (TIP) dan Titik Impas Harga (TIH) masing-masing 2.359 kg dan Rp 1.493 serta nilai RCR sebesar 1,93. Usaha produksi sagu kering layak dilakukan dengan nilai RCR sebesar 2,18; nilai TIP dan TIH masing-masing 460 kg dan Rp 7.571 serta memberikan keuntungan sebesar Rp 6.435.000. Usaha produksi sagu basah maupun sagu kering dapat menjadi alternatif lapangan kerja non farm di pedesaan. Perspektif pengolahan sagu di Sulawesi Tenggara ke depan cukup baik karena ditunjang ketersediaan areal pertanaman sagu cukup luas, ketersediaan sumberdaya manusia, teknologi hingga dukungan kebijakan dan regulasi. Permintaan sagu ke depan akan dihela oleh permintaan untuk mensubstitusi komoditas-komoditas yang selama ini masih diimpor seperti gandum dan gula maupun produk yang pemanfaatannya dalam negeri cukup besar yaitu bioetanol. Pengembangan sagu juga perlu merespon perubahan-perubahan permintaan tersebut dengan mengubah model pengelolaan dengan teknologi konvensional menjadi teknologi modern

    PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BOUKSIT

    Full text link
    Penambangan merupakan salah satu sumber daya alam potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan daerah. Berbagai jenis tambang yaitu emas, timbel, besi, mangan, seng, bauksit yang tersebar di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat. Untuk penambangan bauksit tersebar di Pontianak, Bengkayang, Sanggau, Landak, Ketapang, Sekadau, Kubu Raya dan Kayong Utara. Potensi penambangan bauksit di Kalimantan Barat mencapai 4.376.384,034 ton. Secara umum kegiatan penambangan adalah pembukaan hutan, erosi lapisan tanah, pengerukan dan penimbunan. Keberadaan penambangan bauksit berkontribusi besar terhadap laju degradasi lahan. Lahan bekas tambang dibiarkan sendiri dan menjadi lahan kritis dan kritis dalam bentuk lahan bekas tambang yang tidak dapat berfungsi dengan baik dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dilakukan pada lahan reklamasi tambang bauksit dengan menggunakan pupuk hayati dan pupuk organik yang ramah lingkungan. Perlakuan diuji: 1), pupuk hayati : (M0 tanpa pupuk hayati, M1 (pupuk hayati), 2), bahan organik (B) terdiri dari B1 : 5 ton / ha pupuk kandang, B2 : 10 ton pupuk kandang) dan 3 ), bio urine (U) yaitu : tanpa bio urine (U0) dan U1: bio urine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuburan tanah di lokasi penelitian memiliki pH tanah dengan kandungan C-org, N, P, K, Ca dan Mg yang sangat rendah hingga sedang. Sedangkan kandungan logam berat (Pb, Cu, Cd, Hg, Karena, Mn, Fe dan Co) rendah kecuali Zn. Pupuk hayati, pupuk kandang dan bio urine secara signifikan meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung. Pupuk organik menghasilkan 3,16 ton / ha jagung dan pupuk hayati (2,92 / ton / ha)

    ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA TANI KELAPA KELAPA SAWIT DI LAHAN GAMBUT: STUDI KASUS DI KAMPAR, RIAU

    No full text
    Sustainability Analysis of Oil Palm Farming Business in Several Management and Types of Business Land in Kampar, Riau. Oil palm is one of the mainstay of export commodities and farmers' income, including cultivated on peat land. The use of peat land for agriculture is feared to threaten the sustainability of farming, mainly due to a decrease in environmental quality. Sustainability analysis of oil palm had objectives to assess the  sustainability index of oil palm farming system from some of the plasma management of  oil palm farmers and to to determine sensitive factors or leverage points as suggestions to improve the sustainability of  oil palm farming system especially on peatlands. Through multidimensional scalling (MDS) analysis based on five dimensions such as economic, ecological, social, technological, and legal and institutional. MDS analysis was carried out on six management models of oil palm farming.  The results of the analysis showed that the plasma  management of oil palm farmers assisted by private companies (PT. Agro Lestari) on peatlands was the highest level of sustainability, which index sustainability was 60.2 or in a fairly sustainable category. Sensitive factors that can used as a determinant point of the sustainability of farming system, including market access , cultivated land area of farmers, and reasonable prices (economic dimension); maturity of peat land, and the existence of cover crops as ground cover plants (ecological dimension); negative  oil palm issues, the role of farmer groups and availability of labor at the local level (social dimension); availability of road facilities (technology dimension); companion effectiveness, ease of licensing, and integration and contribution of existing institutions in the regions related to  oil palm farming system (legal and institutional dimensions). Those sensitive factors were  leverage points that need to be considered and encouraged in  their implementation so that the sustainability of oil palm farming system continues to increase.  Keywords: oil palm, sustainability index, MDS analysis, peatland ABSTRAKKelapa sawit merupakan salah satu komoditas andalan ekspor dan pendapatan petani, diantaranya diusahakan di lahan gambut. Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian dikhawatirkan akan mengancam keberlanjutan usahatani terutama akibat penurunan kualitas lingkungan. Analisis keberlanjutan usaha tani kelapa sawit ini mempunyai tujuan untuk menilai indeks keberlanjutan usaha tani kelapa sawit dari beberapa manajemen pengelolaan kelapa sawit petani plasma, dan menentukan faktor peka atau titik ungkit sebagai saran dalam meningkatkan keberlanjutan usaha tani kelapa sawit khususnya di lahan gambut, dengan menggunakan analisis Multi-Dimensional Scaling (MDS) berdasarkan  lima dimensi yaitu ekonomi, ekologi, sosial, teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Analisis MDS dilakukan terhadap enam model manajemen pengelolaan usaha tani kelapa sawit. Hasil analisis menunjukkan manajemen pengelolaan kelapa sawit petani plasma binaan perusahaan swasta (PT. Agro Lestari) di lahan gambut merupakan model manajemen pengelolaan usaha tani kelapa sawit yang paling tinggi tingkat keberlanjutannya, dengan indeks keberlanjutan 60,2 atau masuk katagori cukup berkelanjutan. Faktor peka yang dapat menjadi titik ungkit dalam dimensi ekonomi meliputi akses pasar, luas lahan garapan petani, dan harga TBS yang layak, faktor peka dalam dimensi ekologi adalah kematangan lahan gambut, dan keberadaan tanaman cover crops sebagai tanaman penutup tanah. Faktor peka pada dimensi sosial di antaranya isu negatif kelapa sawit, peran kelompok tani dan ketersediaan tenaga kerja di tingkat lokal, faktor peka dalam dimensi teknologi adalah ketersediaan fasilitas jalan, sedangkan faktor peka pada dimensi hukum dan kelembagaan adalah efektivitas pendamping, kemudahan perijinan, serta keterpaduan dan kontribusi lembaga yang ada di daerah terkait usaha tani kelapa sawit. Faktor-faktor peka tersebut, merupakan titik ungkit yang perlu diperhatikan dan didorong dalam implementasinya agar keberlanjutan usaha tani kelapa sawit terus meningkat.Kata kunci: kelapa sawit, indeks keberlanjutan, analisis MDS, lahan gambu

    ELASTISITAS HARGA TERHADAP PENAWARAN OUTPUT DAN PERMINTAAN INPUT USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH

    Full text link
    Permintaan jagung cenderung meningkat, namun harganya juga relatif berfluktuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan harga output dan harga input terhadap penawaran jagung dan permintaan input produksi. Kegiatan dilaksanakan pada bulan September – Nopember 2016 dengan metode survey terhadap 30 petani jagung di Desa Boloh, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.  Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik rumah tangga, jumlah dan harga input, jumlah dan harga jagung. Data dianalisis dalam bentuk pangsa biaya menggunakan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penawaran output terhadap harga sendiri bersifat elastis dengan tanda positif, sedangkan terhadap harga input bertanda negatif dan bersifat inelastis, kecuali terhadap permintaan pupuk Urea.  Elastisitas permintaan input terhadap harga sendiri bertanda negatif dan inelastis kecuali terhadap permintaan pupuk Urea dan tenaga kerja bersifat elastis, sedangkan terhadap harga input lainnya besaran dan tandanya bervariasi.  Luas areal tanam bersifat inelastis terhadap permintaan input produksi. Demikian pula dengan pendidikan dan pengalaman usahatani bersifat inelastis kecuali terhadap permintaan tenaga kerja bersifat elastis. Oleh karena itu untuk meningkatkan produksi jagung dapat dilakukan dengan meningkatkan harga jagung, memperluas areal tanam dan meningkatkan kapabilitas sumberdaya petani

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇