Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAYURAN KENTANG

    Get PDF
    Assessment on Utilization of Organic and An-organic Fertilizer to Support Growth and Yield of Potatoes. In addition to reduce the dependence on anorganic fertilizers, utilization of organic fertilizers effectively will also contribute to improve the balance of ecosystems and support environmental-friendly farming system. This assessment aimed to find out effects of utilizing cacao skin waste, rice straw, and organic household garbage as organic fertilizer and to determine the effective application on growth and yield of potato. The study was conducted from May to December 2009 (dry season) in the central of potato development area in uplands in Malino, Bulu Ballea, Pattapang Village, Tinggimoncong District, Gowa Region, South Sulawesi. The experiment was arranged by a Randomized Completed Block Design (RCBD) consisted of five treatment combinations between organic and anorganic fertilizers using participatory three farmers as replications. The treatments were as follows: (A) 6 t/ha cacao skin waste + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (B) 6 t/ha rice straw waste + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (C) 6 t/ha household garbage waste + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (D) 6 t/ha organic mixed + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (E) Anorganic fertilizer dosage 1.000 kg/ha NPK (15:15:15).  The results showed that application of organic fertilizers from cacao waste caused different responses to plant height growth. While the organic fertilizer from rice straw waste had the highest production component of wight tuber per plant, number of tuber per plant and yield. The net income and cost obtained by advantage measurement was between Rp17.844.567 to Rp32.774.883 per hectare. There was none treatment combination of organic fertilizer that could be developed because the ratio of increasing net income and cost or Value Cost Ratio (VCR) < 1. However, seen from social aspects point of view, it might reduce the impact of environmental pollution as well as support sustainable agriculture. Key words: potato, organic waste, organic fertilizer, growth Pemanfaatan pupuk organik yang efektif selain dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik juga berdampak positif terhadap perbaikan keseimbangan ekosistem dan mendukung pertanian ramah lingkungan. Percobaan ini bertujuan mengkaji pemanfaatan limbah kulit kakao, sampah rumah tangga dan jerami padi dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Pengkajian dilaksanakan di daerah sentra pengembangan kentang di dataran tinggi Malino, Dusun Bulu Ballea, Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kajian berlangsung dari bulan Mei sampai Desember 2009 (musim kemarau). Kajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 5 kombinasi perlakuan antara pupuk organik dan pupuk NPK yang melibatkan 3 orang petani sebagai ulangan.  Perlakuan yang dikaji ialah sebagai berikut: (A)  6 t/ha limbah kulit kakao + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (B) 6 t/ha limbah jerami padi + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (C) 6 t/ha limbah organik sampah rumah tangga + 500 kg/ha NPK (15:15:15),  (D) 6 t/ha Campuran + 500 kg/ha NPK (15:15:15), (E) pupuk anorganik dosis 1.000 kg/ha) NPK (15:15:15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dari limbah kulit kakao memberikan pengaruh terhadap komponen pertumbuhan tinggi tanaman yang berbeda nyata. Sedangkan  perlakuan pupuk organik dari limbah jerami menghasilkan bobot umbi/tanaman yang tertinggi, jumlah umbi/tanaman dan hasil. Penggunaan pupuk organik dan anorganik tersebut menghasilkan keuntungan antara Rp17.844.567- Rp32.774.883/ha. Meskipun tidak satupun kombinasi perlakuan pupuk organik layak untuk dikembangkan karena rasio kenaikan penerimaan dan biaya (Value Cost Ratio=VCR) < 1, tetapi dari aspek sosial aplikasi pupuk organik dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan. Kata kunci :  kentang, limbah organik, pupuk organik, pertumbuha

    KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN PADI SAWAH DI PINRANG SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Study on Utilization of Organic Fertilizer in Paddy Rice Field Plant in Pinrang South Sulawesi. Study concerned in exploiting of organic fertilizer at rice crop to know organic fertilizer affectivity and efficiency at lowland rice in Marannu Village, Mattirobulu District, Pinrang South Sulawesi. Study started in May to September 2005 had executed at irrigation rice field farm property of farmer with treatment formation: (1) Manure, (2) Straw compost and (3) Treatment of farmer. The study showed that the highest grain yield was obtained at higher straw compost treatment of 800 kg/ha (11.11%) compared with the pattern of the farmers, and 640 kg/ha (8.69%) compared with manure treatment. Level of benefits obtained in the treatment of hay is higher IDR 580,600,- (7.42%) compared with the treatment of farmers and IDR 1,582,480,- (23.19%) compared with manure treatment.Telah dilakukan kajian tentang pemanfaatan kompos pupuk organik pada tanaman padi sawah dengan tujuan untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas pupuk organik pada tanaman padi sawah di Desa Marannu, Kecamatan Mattirobulu, Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan dimulai pada bulan Mei sampai dengan September 2005. Kajian dilaksanakan pada lahan sawah irigasi milik petani dengan susunan perlakuan: (1) pupuk kandang, (2) kompos jerami, dan (3) pola petani. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil gabah tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos jerami lebih tinggi 800 kg/ha (11,11%) dibanding dengan pola petani dan 640 kg/ha (8,69%) bila dibanding dengan perlakuan pupuk kandang. Tingkat keuntungan yang diperoleh pada perlakuan jerami lebih tinggi Rp.580.600 (7,42%) dibanding dengan perlakuan petani dan Rp.1.582.480 (23,19%) dibanding dengan perlakuan pupuk kandang

    KERAGAAN DAN ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN PERIKANAN UMUM BERDASARKAN ZONA AGROEKOLOGI DI KABUPATEN BUOL, SULAWESI TENGAH

    Get PDF
    The purpose of this research is giving data of information potency, biophysic condition, and social economy.To specify the pre-eminent commodity of fishery in Buol regency, Central Sulawesi based on agro ecology zone.Verification arrangement of agro ecology zone derived from expert system concept which is developed by Center ofResearch of Land and Agro Climate. The implementation of agro ecology zone is divided into four activities such as :preparation, data interpretation into expert system, overlay between administrating and land resource map, andverification on farm. The analysis result shows agro ecology zone for fishery development is zone VI (covers 25.083ha or 6,32%) from the total of Buol regency spread out in every subdistrict. The pre-eminent commodity of fishery isshrimp pond located in Momunu sub district.Key words : fisheries development, resource management, ponds, Central Sulawesi Tujuan penelitian ini untuk memberikan data dan informasi tentang potensi, kondisi biofisik dan sosialekonomi serta menetapkan komoditas unggulan perikanan Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkanzona agroekologi. Penyusunan keragaaan zona agroekologi mengacu pada konsep Sistem Pakar (Expert System), yangdikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pelaksanaan penyusunan peta zona agroekologi terbagiatas empat tahapan kegiatan yaitu : persiapan, interpretasi data ke dalam sistem pakar, tumpang tepat (overlay) antarpeta administrasi dan peta sumberdaya lahan serta verifikasi lapang. Dari hasil analisis terlihat bahwa zonasiagroekologi yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perikanan berada pada zona VI dengan luas wilayah25.083 ha (6,32%) dari total luas seluruh wilayah Kabupaten Buol yang tersebar di tiap kecamatan. Komoditasunggulan perikanan yaitu tambak udang, berada di wilayah Kecamatan Momunu.Kata kunci : pembangunan perikanan, manajemen sumberdaya, tambak, Sulawesi Tenga

    POPULASI DAN SERANGAN PENGGEREK DAUN (Phyllocnistis citrella Staint) PADA TANAMAN JERUK DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA

    Get PDF
    Observation on population and attack of meneerder (PDJ) and its natural enemies was conducted since Julyto September 2002 in Winowanga village, Lore Utara district, and Poso regency, Central Sulawesi, at 1,200 m abovesea level. This study aimed to evaluate population and attack of PDJ and its natural enemy to set an integrated pestmanagement (IPM) program on citrus. Observation was conducted at the four models of cropping patterns as thetreatments and three location as the replication using a randomized block design. Average population of the pest was2.75 rear/plant and rate of attack was of 19 percent. Natural enemies’ population of the large black ant in thecropping pattern of Arjuna corn variety with local tomato variety among citrus plants was 2.1 heads/plant and that ofspider was 2.0 heads/plant. In the Cropping patern of corn with kidney bean local variety among citrus plants theaverage population of this pest was 1.66 heads/plant and rate of attack was 20.83 percent on the leaves. Naturalenemies’ population of the large black ant was 1.50 heads/plant and that of spider was 1.70 heads/plant. In thecropping pattern of corn among citrus plants the average population of this pest was 1.33 heads/plant and rate ofattack was 9.16 percent. Natural enemyies’ population of the large black ant was 130 heads/plant and that of spiderwas 1.40 heads/plant. In the citrus monoculture cropping pattern the average population of this pest was 2.0 was/plantand rate attack was 18.66 percent. Natural enemies’ population of the large black ant was 1.60 heads/plant and that ofspider was 1.90 heads/plant. These cropping patterns could increase farmers’ income and could be classified as IPMcomponents as long as pests monitoring is carried out every five days.Key words : phylocnistis citrella, population, rate of attack, citrus Pengamatan populasi dan serangan penggerek daun jeruk (PDJ) telah dilaksanakan sejak bulan Juli sampaiSeptember 2002 di Desa Winowanga, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso Sulawesi tengah, pada ketinggian 1200m di atas permukaan laut. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui populasi PDJ dan musuh alami serta seranganhama tersebut pada tanaman jeruk, sebagai dasar untuk menyusun program pengendalian hama terpadu PDJ.Pengamatan dilakukan pada empat model pola tanam sebagai perlakuan dan tiga lokasi sebagai ulangan. Data-datadari hasil pengamatan tersebut kemudian dianalisis menggunakan rancangan kelompok. Hasil pengamatanmenunjukan bahwa populasi dan serangan PDJ beserta musuh alami pada empat pola tanam tersebut adalah sebagaiberikut : (1) Pola tanam jagung varietas Arjuna dengan tomat varietas lokal diantara tanaman jeruk varietas keprok.Rata-rata populasi hama tersebut adalah 2,75 ekor/tanaman dan serangan 19 persen. Musuh alami semut hitam danlaba-laba masing-masing sekitar 2 ekor/tanaman; (2) Pola tanam jagung dan kacang merah varietas lokal diantaratanaman jeruk varietas keprok. Rata-rata populasi hama PDJ adalah 1,6 ekor/tanaman dan serangan 20,0 persen.Musuh alami jenis Dolichoderus sp rata-rata 1,5 ekor/tanaman dan laba-laba 1,7 ekor/tanaman; (3) Pola tanam jagungvarietas arjuna diantara jeruk varietas keprok. Rata-rata populasi hama PDJ 1,3 ekor/tanaman dan serangan sekitar19,0 persen. Musuh alami Dolichoderus sp 1,30 ekor/tanaman dan laba-laba 1,4 ekor/tanaman; (4) Monokultur jeruk.Rata-rata populasi PDJ 2,0 ekor/tanaman dan serangan 18,0 persen. Musuh alami Dolichoderus sp 1,60 ekor/tanamandan laba-laba 1,9 ekor/tanaman. Model pola tanam tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani dan dapattergolong komponen-komponen PHT, dengan syarat monitoring hama harus dilakukan intensif setiap lima hari gunamembatasi serangan hama tersebut.Kata kunci : phyllocnistis citrella, populasi, serangan, jeruk kepro

    KAJIAN ADOPSI PAKET TEKNOLOGI SISTEM USAHA PERTANIAN KEDELAI DI JAWA TIMUR

    Get PDF
    This study was conducted on irrigated lowland in Bojonegoro district and on dryland in Pasuruandistrict in 1999/2000. Data collection was done through survey method and consisted of farmers’ characteristics,technology applied, productivity and farms’ incomes. The study aimed to get information on (1) adoption anddiffusion levels of the recommended technology, (2) impacts of recommended technology on productivity andfarms’ incomes. Adoption level of recommended technology was higher in lowland in Bojonegoro (67%) thanthat in dry land in Pasuruan (44%). Diffusion level of technology to the non participating farmers in Bojonegorowas higher (55%) than that to the non participating farmers in Pasuruan. Productivity and income of soybeanfarms in Bojonegoro increased by 21and 104 percents, respectively. In Pasuruan, productivity and farms incomesincreased by 11 and 89 percents, respectively. To sustain adoption of recommended technology on soybeanfarming system, it requires (1) on time inputs provision, (2) extension workers’ guidance since planting to postharvest, (3) feasible and stable floor price, (4) farmers’ participation and awareness, and (5) local governments’supports.Key words : farming system pattern, technology, lowland, adoption, diffusionKajian adopsi paket teknologi ini dilakukan di Kabupaten Bojonegoro untuk lahan sawah dan diKabupaten Pasuruan untuk lahan tegal, tahun 1999/2000. Pengumpulan data yang meliputi karakteristik petani,penerapan teknologi serta produktivitas dan pendapatan usahatani kedelai dilakukan dengan metode survai.Kajian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang (1) tingkat adopsi dan difusi paket teknologi anjurandan (2) dampak teknologi anjuran terhadap produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil kajian menunjukkanbahwa tingkat adopsi paket teknologi anjuran untuk lahan sawah di Bojonegoro (67%) lebih tinggidibandingkan paket teknologi anjuran lahan tegal di Pasuruan (44%). Demikian pula paket teknologi anjuranyang terdifusi oleh petani non-peserta di Bojonegoro lebih tinggi dibandingkan di Pasuruan (42%). Produktivitasdan pendapatan usahatani kedelai lahan sawah di Bojonegoro masing-masing meningkat sebesar 21 dan 104persen, sedangkan lahan tegal di Pasuruan meningkat sebesar 11 dan 89 persen. Agar adopsi teknologi budidayakedelai dapat berlanjut, maka diperlukan; (1) penyediaan sarana produksi tepat waktu, (2) bimbingan olehpetugas secara terus menerus, sejak tanam hingga pasca panen, (3) jaminan harga yang layak dan stabil, (4)kesadaran dan partisipasi petani dan (5) dorongan pemerintah daerah.Kata kunci : pola usahatani, teknologi, lahan sawah, adopsi dan difus

    PENGENDALIAN HAMA Spodoptera exigua Hbn. UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS BAWANG MERAH PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI JENEPONTO, SULAWESI SELATAN

    No full text
    Control of Spodoptera exigua Hbn. to Raise Shallot Productivity on Rain Fed in Jeneponto District. Spodoptera exigua is one of reason of low productivity of shallot in South Sulawesi. The use of insecticide to control the pest is high, on the other hand, the effective and safe control method of the pest has much been reported. The objective of the research was to find out control technology package of S. exigua that are effective, efficient, save and appropriate with local condition. The research was conducted from June to September 2006 in Bontotangnga Village, Tamalate District, Jeneponto Regency, South Sulawesi. The research was carried out in farmers' land with five cooperator farmers as replications. The study of technology to control S. exigua includes: (a) the use of biological agents Spodoptera exigua Nuclear Polyhedrosis Virus (SeNPV) ; (b) Physical method by using trap light; (c) Mechanical method by collecting eggs package and larvae and by spraying bio-insecticide when pest population was above the economic threshold; and (d) applying traditional farmers' method (using insecticide conventionally). The results of the research showed that using trap light control was effective to reduce the attack of S. exigua on shallot with average intensity was 9.65%, lower than control farmers' method, mechanical method, and SeNPV method with attack intensity were 43.73%; 41.82%; and 48.83% respectively. Based on the results it can be concluded that the control of S. exigua by using trap light method was effective and could reduce the use of insecticide up to 85,30%. The shallot was feasible and beneficial to be planted after rice harvest in rain fed areas with an R/C was 2.07. Key words: Shallot, S. exigua, light trap, SeNPV, mechanical method, productivity, rain fed. Spodoptera exigua merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas bawang merah di Sulsel. Penggunaan insektisida untuk pengendalian hama tersebut cukup tinggi, di lain pihak cara pengendalian yang efektif dan aman sudah banyak dilaporkan. Pengkajian ini bertujuan mendapatkan paket teknologi pengendalian S. exigua yang efektif, efisien dan ramah lingkungan serta sesuai dengan kondisi setempat. Pengkajian telah dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2006 di kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalate, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kajian dilaksanakan di lahan petani melibatkan lima petani kooperator sebagai ulangan. Teknologi yang dikaji adalah teknologi pengendalian hama S. exigua meliputi pengendalian: (a) menggunakan agens hayati Spodoptera exigua Nuclear Polyhedrosis Virus (SeNPV); (b) secara fisik (menggunakan lampu perangkap); (c) secara mekanik dengan mengumpulkan paket telur dan larva dan penyemprotan bioinsektisida apabila populasi hama melampaui ambang ekonomi; dan (d) cara petani (menggunakan insektisida secara konvensional). Hasil kajian menunjukkan bahwa pengendalian dengan menggunakan lampu perangkap efektif menekan serangan S. exigua pada tanaman bawang merah dengan rataan intensitas serangan 9,65%, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pengendalian cara petani, mekanik, dan penggunaan SeNPV dengan intensitas serangan masing-masing 43,73%; 41,82%; dan 48,83%. Dari hasil pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa pengendalian S. exigua dengan menggunakan lampu perangkap efektif dan dapat mereduksi penggunaan insektisida sebesar 85,3%. Bawang merah layak dan menguntungkan diusahakan setelah padi di sawah tadah hujan dengan R/C 2,07. Kata kunci: Bawang merah, Spodoptera exigua, SeNPV, cara mekanik, lampu perangkap, produktivita

    KAJIAN RAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG DAUN (Allium fistulosum L) PADA LAHAN DATARAN TINGGI DI BANDUNG, JAWA BARAT

    Get PDF
    Welsh onion is prosperous to grow intensively to its increasing demand for either domestic or exportmarkets. Productivity at farm level, however, is still low due to unavailable appropriate cultural practice. Thisstudy aimed to know the technical and finacila performances of application of improved cultural practice ofwelsh onion carried in Alamendah village, Rancabali subdistrict, Bandung district with elevation of 1,400 mabove sea level on 2001 dry season (April-June 2001). The method used was “On-Farm Client OrientedAdaptive Research” (OFCOAR). Experimental plots were divide into two treatments, i.e., improved culturalpractice of welsh onion (T1) and local cultural practice (T2) with replications of 8 farmers. The results showedthat improved cultural practice significantly affected crops’ height, total shoots, and yields. The yield increasedby 6.6 tons/ha or 78.6 percents, and net profits increased by Rp 3,865,525 or more than 129 percents withparticipating farmers’ B/C ratio of 1.34 and that of non participating farmers of 0.80. The value of IBCR of 2.73indicated that addition of one unit of input could increase wells onion farm business by 2.73 times.Key words : cultural practice, welsh onion, highland farmingBawang daun memiliki prospek yang cukup baik seiring dengan peningkatan kebutuhan permintaankonsumen domestik maupun untuk tujuan ekspor. Namun demikian, pada saat ini produktivitas rata-rata ditingkat petani masih relatif rendah akibat belum tersedianya rakitan budidaya yang optimal. Pengkajian inibertujuan mengetahui keragaan teknis dan finansial penerapan perbaikan rakitan teknologi budidaya bawangdaun yang dilaksanakan di desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, dengan tinggi tempat1.400 m dari permukaan laut (dpl) pada MK 2001 (April-Juni 2001). Pendekatan dilakukan berdasarkan “On-Farm Client Oriented Adaptive Research” (OFCOAR). Rancangan percobaan petak dibagi menjadi duaperlakuan, yaitu (T1) perbaikan rakitan teknologi budidaya bawang daun dan (T2) teknologi petani setempatyang diulang pada 8 orang petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan perbaikan teknologibudidaya memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata pada tinggi tanaman, jumlah tunas, dan hasil bawangdaun. Hasil panen meningkat 6,6 ton/ha atau 78,6 persen dan pendapatan bersih meningkat sebesar Rp.3.865.525,00 atau lebih dari 129 persen dengan BC ratio 1,34 pada petani kooperator dan 0,80 pada petani nonkooperator.Nilai IBCR 2,73 berarti bahwa penambahan satu satuan input dapat meningkatkan pendapatanusahatani bawang daun sebesar 2,73 kali.Kata kunci : teknologi budidaya, bawang daun, usahatani dataran tingg

    PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BATANG (Zeuzera coffeae Neitner) PADA TANAMAN KELENGKENG (Dimocarpus longan (Lour) Steud.)

    No full text
    Control of Stem Borer (Zeuzera coffeae Neitner) on Longan Plants (Dimocarpus longan (Lour) Steud.). Stem borer (Zezcera coffeae Neitner) is one of major pests having an economic importance on longan (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) in Temanggung Regency of Central Java Province. The larvae bore into the cambium then girdle the stem or branch of longan causing death to the plants starting from the girdled parts. The assessment was designed using Factorial Design with two replicates. The first factor was the severity levels of the attacked plants attacked by the pest, i.e.: a. light, b. medium, c. severe. The second factor was the controlling techniques, i.e.: a. applied with carbofuran G, b. applied with fipronil EC, c. applied with the combination of carbofuran G and fipronil EC, d. without insecticide application as the control. Each severity level consists of 5 plants. The objective of this assessment was to obtain the controlling technique for stem borers on longan. The assessment results show that carbofuran G was more effective in controlling the pest than fipronil EC. Plants attacked with light and medium severity levels which were treated with carbofuran G or carbofuran G + fipronil EC could completely recover and yielded normally. By the controlling method, the plants attacked severely could be 67% and 73% recovered. Key words: Stem borer, longan, carbofuran, fipronil Penggerek batang (Zeu:era coffeae Neitner) adalah salah satu hama utama yang mempunyai arti ekonomi penting pada tanaman kelengkeng (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Larva penggerek batang membuat lubang hingga mencapai kambium kemudian menggerek kayu batang atau dahan melingkar hingga dapat menyebabkan mati ujung tanaman mulai dari bagian yang digerek. Pengkajian ini disusun menggunakan rancangan Faktorial, dengan dua ulangan. Faktor pertama adalah tingkat keparahan tanaman yang diserang penggerek batang, yaitu: a. ringan, b. sedang, c. berat. Faktor kedua adalah teknik pengendalian, yaitu: a. diaplikasi dengan karbofuran G, b. diaplikasi dengan fipronil EC, c. diaplikasi dengan kombinasi karbofuran G dan Fipronil EC, d. tanpa aplikasi insektisida sebagai kontrol. Setiap tingkat keparahan terdiri atas 5 pohon. Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk mendapatkan teknik pengendalian penggerek batang pada tanaman kelengkeng. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa insektisida karbofuran G lebih efektif untuk pengendalian hama tersebut daripada fipronil EC. Tanaman yang terserang dengan tingkat keparahan ringan dan sedang yang diaplikasi karbofuran G atau karbofuran G + fipronil EC dapat pulih kembali dan berproduksi normal. Melalui cara pengendalian tersebut, tanaman yang terserang dengan tingkat keparahan berat dapat pulih kembali masing-masing sebanyak 67% dan 73%. Kata kunci: Penggerek batang, kelengkeng, karbofuran, fiproni

    USAHATANI KOPI ROBUSTA DENGAN PEMANFAATAN KOTORAN KAMBING SEBAGAI PUPUK ORGANIK DI BALI

    Get PDF
    Coffee farming system assessment using dung manure decomposed by worms, Rummino bacillus, andnormally decomposed was done in Buleleng, Bali in 2001-2002. The productive coffee plantation assessed inthis study was owned by farmers and planted in 1994. The assessment consisted of three farmers’ groups and 5farmers were selected from each group or total of 15 participating farmers treated as replication with 3 types oforganic fertilizers as technology introduced, namely (a) P0 = normally decomposed, (b) P1 = dung manure ofgoats decomposed by worms, and (c) P2 = dung manure of goats decomposed by Rummino bacillus. The resultsshowed that P2 produced the average highest yield of 948.80 kilograms per hectare of coffee beans with profitsof Rp 863,800 per year and return to cost (R/C) ratio of 1.35. P0 gave the lowest yield of 550.40 kilograms perhectare of coffee beans and its R/C ratio of 0.89.Key words : robusta coffee, farming systems, organic fertilizer Pengkajian usahatani kopi robusta dengan pupuk organik dari kotoran kambing yang dikomposkandengan cacing, Rummino bacillus dan cara pengomposan biasa telah dilakukan pada tahun 2001-2002 diBuleleng Bali. Tanaman kopi yang digunakan sebagai obyek pengkajian adalah jenis kopi robusta milik petanidan telah menghasilkan (TM) tahun tanam 1994. Pengkajian melibatkan 3 kelompok tani dan tiap kelompokdiambil 5 orang sehingga terdapat 15 petani kooperator sebagai plot pangkajian (ulangan) dengan 3 macampupuk organik digunakan sebagai introduksi teknologi yaitu (a) PO= Pengomposan dilakukan dengan cara biasa(b) P1= Pupuk dari kotoran kambing yang dikomposkan dengan cacing (kascing) dan (c) P2= Pupuk dari kotorankambing yang dikomposkan dengan menggunakan Rummino bacillus. Hasil pengkajian menunjukan bahwateknologi P2 menghasilkan jumlah produksi kopi tertinggi dengan rata-rata 948,80 kg kopi beras/ha dengankeuntungan Rp 863.800/tahun dengan tingkat R/C 1,35. PO menghasilkan produksi terendah, yaitu 550,40 kgkopi beras/ha dengan tingkat R/C 0,89.Kata kunci : kopi robusta, usahatani, pupuk organi

    CUBES AND PELLETS OF LEGUME TREE LEAVES FOR DRY SEASON FEED IN SEMI-ARID REGION OF INDONESIA

    Get PDF
    Cubes dan Pellet Daun Leguminosa Pohon untuk Pakan Ternak di Daerah Semi-Arid, Indonesia.Ternak, khususnya sapi merupakan komoditas penting sebagai sumber pendapatan bagi petani di NusaTenggara Timur (NTT), Indonesia. Namun demikian, produktivitas ternak sapi di daerah ini masih rendahdisebabkan karena kurangnya pengetahuan petani dalam usahatani ternak dan terbatasnya ketersediaan pakanterutama selama musim kemarau (8-9 bulan per tahun). Di lain pihak, ketersediaan pakan berlimpah di musimhujan. Beberapa leguminosa pohon sudah lama digunakan sebagai sumber pakan di daerah ini, namun karenapanjangnya musim kemarau menyebabkan terjadinya gugur daun pada tanaman ini. Karena itu penting untukmelakukan teknologi pengawetan pakan yang dapat diadopsi oleh petani. Suatu seri penelitian dan pengkajiantelah dilakukan di Timor pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP NTT) untuk meneliti dan mengkajitentang pembuatan cubes dan pellet dari daun leguminosa pohon, seperti Leucaena leucocephala, Glirisidiasepium, dan Sesbania grandiflora, menggunakan tepung ubi kayu sebagai perekat atau pengikat sekaligussebagai sumber energi. Pengkajian ini telah menemukan formulasi yang sesuai untuk pembuatan cubes danpellet, informasi nilai nutrisinya, peralatan pembuat cubes dan pellet, pertambahan berat badan ternak jikadiberikan cubes dan pellet sebagai pakan suplemen, dan pengalaman dalam melakukan kajian diseminasiteknologi pembuatan cubes dan pellet kepada petani di Timor. Kajian ini juga menguraikan lebih lanjut tentangbeberapa implikasi praktis yang dapat dilakukan untuk mendorong penggunaan cubes dan pellet di NTT.Kata kunci: Cubes, pellet, leguminosa pohon, tepung daun, pengawetan pakan Livestock (especially cattle) is an important income generating source for farmers in the semi-arid regionin East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Cattle production in the region, however is still low, lack of farmersknowledge in animal husbandry, and the lack of year round feed supply especially during dry periods (8-9 month dryseason in a year). Fodder availability, however, in fact is usually abundant during the wet season. Some tree legumeshave long been important sources of fodder in the region, however, owing to the long dry period considerable lossof leaf occurs. Thus there is an urgent need to encourage the application of feed preservation technologies adoptableby farmers. A series of experiments and assessments were conducted at the East Nusa Tenggara Assessment Institutefor Agriculture technology (BPTP NTT) to investigate the making of cubes from the leaves of legume trees suchas Leucaena leucocephala, Glirisidia sepium, and Sesbania grandiflora. Cassava meal was used as the bindingagent as well as the source energy. The experiments and assessments have obtained a proper formula for makingcubes, information on the nutritive values, equipments to produce cubes and pellets. Beside, information on thepreferences of cattle to the cubes and pellets, live weight gain when fed as supplement, and some experiencesin the dissemination of cubes and pellets making to the farmers was also obtained. The paper also elaboratedfurther into explaining some practical implications of ways to encourage cubes usages in East Nusa Tenggara.Key words: cubes, pellets, legume trees, leaf meals, feed preservation, semi-ari

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇