Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    PENGKAJIAN PEMANFAATAN MESIN PERONTOK GABAH (THRESHER) DAN MESIN PENGERING GABAH (DRYER) PADI SAWAH DI JAWA BARAT

    Get PDF
    Assessment on Utilization of Grain Threshers and Dryer Machine for Lowland Rice in WestJava. The main problem in rice production is high loss (more than 20%) due to limited implementation ofpost harvest technology, especially during rice trashing. The objectives of study are to evaluate the existingperformance and feasibility of thresher and dryer utilization in lowland rice farming system Assessment onthresher and dryer utilization in lowland rice in West Java. The study was conducted from January to December,2008 in the districts of Karawang, Indramayu, Bandung, Cianjur, Ciamis and Garut. The study was conductedthrough two approaches, namely: Participatery Rural Appraisal and survey. Results of the study showedthat: (1) Rental business of thresher and dryer were relatively profitable as indicated by the value of R/Cof greater than one (1.52 for thresher and 1.9 for dryer), pay back period of 2.42 years for thresher and 5,84years for dryer (less than its economic value of 5 years and 7 years, respectively), and break event point of122,2t/year for thresher and 261,52 t/years (less than its capacity of 50 and 300 t/year, respectively); (2) Thekind of thresher which suitable to be developed in West Java was characterized by not heavy so its very easyto operate under various lowland rice conditions, easily maintenance as well as produced by local industry.Key words: Thresher, dryer, performance, feasibility Salah satu masalah penting dalam produksi padi adalah tingkat kehilangan hasil panen yang masih tinggi, sekitar20%, yang salah satunya disebabkan oleh masih terbatasnya penerapan teknologi pada pascapanen, terutama padaperontokan padi. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa penggunaan pedal thresher dan power thresherdapat menekan kehilangan hasil dan dapat memperbaiki kualitas gabah. Tujuan pengkajian adalah mengevaluasikeragaan dan kelayakan penggunaan thresher dan dryer pada padi sawah di Jawa Barat. Pengkajian dilaksanakanpada Januari sampai Desember 2008 di enam kabupaten, yaitu: Karawang, Indramayu, Bandung, Cianjur, Ciamis,dan Garut, dilaksanakan dengan dua pendekatan, yaitu Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif dan wawancara.Data dianalisis secara deskriptif dan analisa finansial berupa Net Revenue Cost ratio (Net R/C), Titik Impas, dan PayBack Period (PBP). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa usaha jasa power thresher dan dryer layak diusahakankarena masing-masing memberikan nilai Revenue-Cost Rasio (R/C) 1,52 dan 1,88; nilai Pay Back Period (PBP)2,42 tahun dan 5,84 tahun (lebih rendah dari nilai ekonomisnya yaitu 5 tahun dan 7 tahun), dan Titik Impas 122,2dan 261,5 t/th (lebih rendah dari kapasitasnya yaitu 50 t/th dan 300 t/th). Jenis thresher yang sesuai dikembangkandi Jawa Barat adalah dengan karakteristik yang relatif ringan sehingga mudah melintasi berbagai medan sepertipematang sawah dan petakan kecil, perbaikan dan perawatan mudah, serta mudah diproduksi oleh pengrajin.Kata kunci: Thresher, dryer, keragaan, kelayakan usah

    MASALAH DAN ALTERNATIF PENGENDALIAN PENYAKIT JERUK KEPROK SOE DI NUSA TENGGARA TIMUR

    Get PDF
    Keprok Soe citrus is one of the potential agricultural commodities of East Nusa Tenggara Province.Production and yield of Keprok Soe currently are still relatively low due to disease attack. This study was carried outin 2000 in North Central Timor and South Central Timor Districts aimed at assessing types of diseases and diseasescontrol practiced by farmers. Locations of study consisted of three villages randomly selected. Data were collectedusing RRA approach, questionnaires, and direct field observation. The results showed that: (1) Phytophthora sp.,Diplodia sp, and sporosis virus were the most important diseases of the Keprok Soe citrus plantation and thosediseases affected 13.3 percent of the citrus trees; (2) farmers’ incomes gained from Keprok Soe citrus farms variedfrom Rp 613,000 to Rp 875,000 per year with average ownership of 98 trees per household and productive trees of33.8 percent; (3) spread of citrus diseases was probably due to low inputs application and inappropriate farmers’practice, namely without application of fertilizer and pesticide, and no irrigation. Some important measures to take tocontrol the diseases are: (1) improving citrus farming technology using simple introduced farming technology,applying low production inputs, and utilizing existing local inputs; (2) conducting extension through dissemination ofleaflets, brochures, and posters; (3) enhancing citrus plantation in non-endemic areas with agro ecosystems similar tothe citrus producing areas; and (4) using Cleropatra, Taiwanica, and Citromello clones as the rootstocks tolerant toPhytophthora sp and Diplodia sp diseases.Key words: Keprok Soe citrus, disease, control alternative, East Nusa Tenggara Jeruk keprok Soe merupakan komoditas unggulan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Produksi danproduktivitas jeruk keprok Soe saat ini masih rendah yang disebabkan serangan penyakit. Penelitian dilaksanakanpada tahun 2000 di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan yang bertujuan untuk mengetahuijenis-jenis penyakit dan teknologi pengendalian penyakit oleh petani. Lokasi penelitian terdiri dari tiga desa yangpemilihannya dilakukan secara acak. Pengumpulan data dilakukan melalui RRA, kuisioner dan pengamatan langsungdi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Phytophthora sp, Diplodia sp dan virus sporosis merupakanpenyakit terpenting pada tanaman jeruk keprok Soe dan kematian tanaman akibat penyakit mencapai 13,3 persen, (2)pendapatan petani dari usahatani jeruk keprok Soe berkisar antara Rp. 613.000 sampai 875.000 per tahun, sementarakepemilikan pohon jeruk 98 pohon per KK dan jumlah pohon produktif hanya 33,8 persen, (3) perkembanganpenyakit jeruk kemungkinan dipicu oleh penggunaan input teknologi yang rendah dan teknologi budidaya jeruk yangdilakukan petani sangat sederhana, yakni ditandai dengan tanpa pemupukan, tanpa pestisida dan tanpa pengairan.Beberapa upaya penting dalam pengendalian penyakit jeruk adalah: (1) melakukan perbaikan teknologi budidayajeruk dengan introduksi teknologi budidaya yang sederhana, menggunakan input produksi yang rendah danmenggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapat, (2) melakukan penyuluhan yang didukung bahan-bahanpenyuluhan seperti liflet, brosur atau poster, (3) melakukan pengembangan jeruk pada daerah nonendemik denganagroekosistemnya mirip dengan daerah sentra produksi jeruk, serta (4) menggunakan batang bawah yang toleranterhadap penyakit Phytophthora sp dan Diplodia sp seperti Cleopatra, Taiwanica dan Citromello 4475..Kata kunci: jeruk Keprok Soe, penyakit, alternatif pengendalian, Nusa Tenggara Timu

    PENGARUH FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI LADA DI SULAWESI TENGGARA (Kasus Integrasi Lada - Ternak di Kecamatan Landono, Kabupaten Kendari)

    Get PDF
    The assessment was conducted on June – July 2002 in Southeast Sulawesi. Objective of the study was toassess influence of some production factors on pepper yield. Methodology of the study was survey and participatoryappraisal. Structural interviews involved 31 farmers, i.e., 14 farmers implemented integration farming of pepper andgoat, and 17 farmers conducted pepper monoculture farming. Data were analyzed using ordinary least squareregression. Results of the study indicated that pepper yields between integrated farming and monoculture practice forthe first year of production were significantly different. Expanding planted area was the main way of increasing yieldon integrated farming. On the other hand, pepper yield of farmers’ practice could be improved through manureapplication. Labor increase will also expand pepper yield.Key words: production factors, pepper farming system, pepper-livestock integrationPengkajian faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas pada usahatani lada di Sulawesi Tenggaradilakukan pada bulan Juni – Juli 2002. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa faktorproduksi terhadap produksi lada. Pengkajian menggunakan metode survei dengan pendekatan partisipatif. Wawancaradilakukan secara terstruktur terhadap 31 petani responden yang terdiri dari 14 petani yang mengintegrasikan tanamanlada dengan ternak kambing selama satu tahun dalam usahataninya, dan 17 responden lainnya mengusahakan ladasecara monokultur. Data dianalisa menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square(OLS). Untuk membedakan teknologi produksi digunakan dummy variable pada analisa gabungan teknologi,selanjutnya semua teknologi dianalisa secara terpisah. Hasil analisis regresi fungsi produksi memperlihatkan bahwatidak ada perbedaan yang nyata antara teknologi lada secara monokultur dengan teknologi lada yang diintegrasikandengan ternak kambing pada tahun pertama percobaan. Upaya untuk meningkatkan produksi pada teknologi integrasiadalah dengan memperluas areal pertanaman, sedangkan pada teknologi petani dengan menggunakan atau menambahpupuk kandang. Di samping itu penambahan tenaga kerja masih perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.Kata kunci : faktor produksi, usahatani lada, integrasi lada-terna

    PENGKAJIAN POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN PALAWIJA DI PAPUA

    No full text
    In general the assessment aims to investigate the development potency, threat and opportunity of secondary crops especially of corn, soybeans and groundnut in Papua. In particular, the research is to study to what extent the existing technology can be applied by farmers and its probability to the future development. The assessment was conducted in 2006, covering two regions of secondary crops namely Jayapura and Keerom's regency. Data collection was conducted through a survey by involving 190 farmers of corn, soybeans and groundnut which were chosen by simple random design method. Qualitative and quantitative approach were used for data analyses and the results were: (1) The performance of farming systems of corn, soybeans and groundnut in Papua is relatively low due to the low technology adoption, (2) The potency for secondary crops development in Papua still growing up, based on economic, natural resource and conducive agro-climate. The use of such relatively small potency lead to a wide open of opportunity to increase productivity performance of secondary crops i.e. corn, soybeans and groundnut in Papua, (3) the constraint in developing secondary crops is not only caused by economic aspect of farmers but also by low ability and skill of farmers as well as insufficient number of agricultural manpower. To increase productivity and secondary crop products in Papua we need to establish steps to increase the land optimalisation, the introduction of cultivation technology, the improvement of agricultural extension worker and the initiation of micro financial institution growth to accommodate farmers' need i.e. Agricultural Micro Financial Institute Key words: Secondary crops, potency, opportunity, threats, Papua   Pengkajian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui potensi, kendala dan peluang pengembangan palawija di Papua. Secara khusus, mempelajari sejauhmana teknologi yang telah diterapkan petani saat ini dan kemungkinan pengembangannya ke depan. Pengkajian dilakukan pada bulan Juni-September 2006 di dua kabupaten sentra palawija yaitu Kabupaten Jayapura dan Keerom Provinsi Papua. Pengumpulan data dilakukan melalui survai terhadap 190 petani jagung, kedelai dan kacang tanah yang terpilih secara acak sederhana sebagai responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil kajian menunjukkan: (1) Kinerja usahatani palawija khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah di Papua masih relatif rendah, karena penerapan teknologinya rendah. Kendalanya bermuara pada kemampuan modal petani yang lemah, (2) Potensi pengembangan palawija di Papua masih besar, baik ditinjau dan aspek ekonomi maupun ketersediaan sumberdaya alam dan dukungan agroklimat yang kondusif. Pemanfaatan potensi tersebut masih relatif kecil, sehingga terdapat peluang yang besar untuk meningkatkan kinerja produksi pertanian di wilayah ini khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah, (3) Kendala pengembangan palawija selain faktor ekonomi, juga rendahnya tingkat pengetahuan petani dan kekurangan tenaga kerja pada saat diperlukan. Untuk lebih meningkatkan produktivitas dan produksi palawija di Papua diperlukan langkah peningkatan optimalisasi pemanfaatan lahan potensial dan introduksi inovasi teknologi budidaya, peningkatan kinerja penyuluh pertanian dan inisiasi tumbuhnya kelembagaan jasa keuangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan petani, yaitu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pertanian. Kata kunci: Palawija, potensi, peluang, kendala, Papu

    KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN BAWANG MERAH ASAL BIJI DI KABUPATEN SIDRAP, SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Study of Organic Fertilizer Usage in Onion Plant From Seed at Sidrap Distric, South Sulawesi. Theproductivity of shallots in South Sulawesi is still low due to lack of knowledge about the most appropriate typeand amounts of fertilizer usage. The objective of this study was to determine the effectiveness of organic fertilizersin combination with inorganic fertilizers on the growth and yield of shallots grown from seed. Assessment wasconducted at farmers’ field, Ponragae village, Pitu Riawa subdistrict, Sidrap district, from July to December2007. The assessment used a randomized block design consisting of ten treatments with three replicates andused the Tuk-Tuk variety. Result showed that applications of an organic fertilizer combined with inorganicfertilizers gave a good effect on growth and yield of shallot. The highest yield was obtained at treatment ofzeo-organic fertilizer at 5 t/ha + 200 kg urea + 50 kg SP-36 and 200 kg KCl/ha i.e 233.70 g of dry bulb perten plants or equal to 5.58 t/ha of dry bulb. On that treatment, plant height and bulb diameter were 50,80 cmand 3,66 cm respectively. Application of organic fertilizer decreased the usage of inorganic fertilizer on shallot.Key words: Fertilizer, organic, shallot, seedTingkat produktivitas bawang merah di Sulawesi Selatan masih rendah disebabkan antara lain kurangnyainformasi tentang jenis dan dosis pupuk yang tepat. Kajian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pupuk organikyang dikombinasikan dengan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah asal biji. Kajiandilaksanakan di lahan petani di Desa Ponragae, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidrap, pada bulan Juli sampaiDesember 2007. Kajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, yang terdiri dari sepuluh perlakuan dan tigaulangan. Varietas yang digunakan adalah varietas Tuk-tuk. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan pupukorganik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhandan hasil bawang merah. Hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk zeo-organik 5 t/ha + 200 kg urea +50 kg SP-36 dan 200 kg KCl/ha yaitu 233,70 g umbi kering per 0 tanaman atau setara dengan 5,58 t/haumbi kering. Pada perlakuan tersebut, tinggi tanaman dan diameter umbi masing-masing mencapai 50,80 cm dan3,66 cm. Pemanfaatan pupuk organik mengurangi penggunaan pupuk anorganik pada tanaman bawang merah.Kata kunci: Pupuk, organik, bawang merah, bij

    INTRODUKSI MODEL PTT DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI SULAWESI TENGAH

    Get PDF
    It is still possible to improve potential yield of rice in Central Sulawesi. One of efforts to increase yield isthrough Integrated Rice Crop Management (PTT), namely managing crop, soil, water, and soil nutritional elements toimprove crop growth, and higher, sustainable yield. Results of PTT were promising. Rice yield increased from 3.5tons/ha (Non PTT) to 6 tons/ha (PTT) with farm income of Rp 4,617,500/year and B/C ratio of 1.56. Total productioncost of Non-PTT farmers and PTT farmers were each of Rp 4.1 million/ha and Rp 3.2 million/ha.Key words : rice, integrated farming system, production, income, Central Sulawesi Pencapaian produksi rata-rata padi sawah di Sulawesi Tengah relatif masih jauh dari potensi genetik yangdimiliki oleh tanaman padi (yield gap), sehingga masih terdapat cukup besar peluang untuk meningkatkan produksipadi. Upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan model Pengelolaan Tanaman Padi secaraTerpadu (PTT) yakni mengelola tanaman, tanah, air dan unsur hara secara terintegrasi untuk mendapatkanpertumbuhan tanaman yang lebih baik, serta hasil yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Hasil yang dicapai dariintroduksi model PTT ini sangat menggembirakan dan membuka harapan yang besar bagi peningkatan produktivitasdan pendapatan usahatani padi. Peningkatan hasil gabah yang diperoleh sangat signifikan yakni dari rata-rata produksigabah non-PTT sekitar 3,5 t/ha meningkat hingga 6 t/ha dengan pendapatan sebesar Rp 4.617.500/tahun dan nilai B/Csekitar 1,56. Sementara total biaya produksi dari sistem usahatani menggunakan model PTT tidak terlalu jauhberbeda dibandingkan cara petani non-PTT, yaitu Rp. 4,1 juta/ha dibanding Rp. 3,2 juta/ha pada non-PTT.Kata kunci : Oryza sativa, usahatani terpadu, produksi, pendapatan, Sulawesi Tenga

    ANALISIS KEBIJAKAN STRATEGIS DALAM MENDUKUNG SISTEM USAHATANI BERKELANJUTAN DI LAHAN PASANG SURUT SEBAKUNG KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Despite some existing problems, swampy areas in East Kalimantan are potential agricultural land. Oneof the problems is conflicting interest between the food crops farmers in the upstream and the brackish water fishgrowers in the downstream. The fish growers suspect that the water flows from upstream is contaminated withpesticides and sulfidic acid and it will be toxic to their ponds. Thus, they closed the primary canal flowing intothe ponds in the downstream. The results are destructive to both parties, namely flooding in the food crops fieldsin the upstream during the wet season and excessive inflow of salty water from the sea into the fish ponds in thedownstream. This assessment is aimed at investigating whether the food crops farming has negative impacts onthe brackish water fish growing. The results showed that closing of the drainage canal (Primer II) did not affectthe water acidity in the downstream. The negative impacts of the closing were bad drainage of the food cropsfields in the upstream and high salinity of the downstream fish ponds. Technically, if the Primer II canal wasopened it would function normally as a drainage canal and the supply of fresh water to the ponds. However,opening of the Primer II canal would raise protest of the fish growers because they kept assuming that water flowfrom the canal would be risky to the fish in the pond. The best option to take is widening and deepening bothbuilt alternative canals.Key words: policy analysis, sustainable agriculture, swampy areaMeskipun mempunyai banyak permasalahan, lahan pasang surut di Kalimantan Timur dapat dipandangsebagai sumberdaya pertanian yang potensial. Salah satu permasalahan yang memerlukan pemecahan segeraadalah konflik kepentingan antara petani tanaman pangan dengan petani tambak. Petani tambak menduga bahwalimpahan air dari usahatani pangan membawa racun pestisida dan pirit sehingga air bereaksi masam dan akanmeracuni ikan dalam tambak. Dugaan ini menyebabkan petani tambak menutup saluran primer (sungaiMaruwat) yang menuju ke areal tambak. Akibatnya, pada musim hujan terjadi banjir pada areal tanaman pangan,dan pada musim kemarau terjadi pemasukan air laut yang berlebihan di lahan tambak. Kondisi ini merugikankedua belah pihak, baik petani pangan maupun petani tambak. Pengkajian ini dilakukan untuk mengidentifikasiapakah benar usahatani tanaman pangan mempunyai dampak yang negatif terhadap budidaya ikan tambak. Hasilkajian menunjukkan bahwa penutupan saluran Primer-II tidak berpengaruh terhadap kemasaman air di bagianhilir. Dampak negatif dari penutupan saluran tersebut adalah buruknya sistem drainase pada lahan pangan dibagian hulu dan tingginya salinitas air tambak di bagian hilir. Secara teknis, saluran Primer-II akan berfungsisecara normal sebagai saluran drainase dan pemasok air tawar untuk tambak, apabila saluran tersebut dibukakembali. Namun langkah ini dapat menimbulkan gejolak di kalangan petani tambak, karena mereka masihberpendapat bahwa aliran air dari saluran Primer-II membahayakan ikan di tambak. Oleh karena itu, langkahyang paling strategis adalah memperlebar dan memperdalam dua saluran alternatif yang sudah dibangun.Kata kunci : analisis kebijakan, usahatani berkelanjutan, lahan pasang suru

    KAJIAN STRUKTUR BIAYA DAN ALOKASI CURAHAN TENAGA KERJA PADA SISTEM USAHATANI PADI SAWAH (Studi Kasus di Kabupaten Konawe)

    No full text
    The purpose of this research was to know the cost structure and labor distribution on rice farming system between farmer's technology and repaired technology, and was carried out in Langgomea Village, Uepai Sub District, Konawe District, South east Sulawesi from January to July 2006. The repaired technology included the use of fertilizers, qualified seed, and planting time at once. The results showed that farmer's technology produced 4.650 kg/ha yield which equivalent to an income of Rp.3.684.500,- while the repaired technology produced 5.500 kg/ha yield with an income of Rp.4.479.300.- The extra cost needed on repaired technology was Rp.395.200,- which in turn gives the farmer an extra income of Rp.794.800 with MBCR 2.01. The result regression analysis of labor distribution on both technologies was significant on 99%. Labor distribution on repaired technology was greater 15.51 manpower than farmer's technology. The farmer will of course need extra labors if they widen the area use more seeds fertilizers and pesticides. Key words: rice farming system, cost structure, labor distribution   Pengkajian struktur biaya dan alokasi curahan tenaga kerja pada sistem usahatani padi sawah dilakukan dengan memperbaiki teknologi petani yang mencakup teknologi pemupukan dan penggunaan benih bermutu telah dilaksanakan di lahan petani di Desa Langgomea, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe dari bulan Januari — Juli 2006 (MH 2006). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui struktur pembiayaan dan alokasi curahan tenaga kerja pada usahatani padi sawah antara pola teknologi petani dengan pola perbaikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi pola petani memberikan produksi gabah kering panen (GKP) sebanyak 4.650 kg/ha dengan pendapatan Rp.3.684.500 dan produksi pada pola perbaikan sebanyak 5.500 kg/ha dengan pendapatan Rp.4.479.300. Perubahan teknologi dari teknologi petani ke teknologi perbaikan memerlukan tambahan biaya sebesar Rp.395.200, namun dengan tambahan biaya tersebut petani memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp.794.800 sehingga nilai MBCR yang diperoleh 2,01 artinya setiap penambahan biaya sebesar Rp.1.000 petani akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp.2.010. Hasil analisis regresi curahan tenaga pada kedua teknologi berbeda sangat nyata pada tingkat kepercayaan 99% dimana alokasi curahan tenaga kerja pola perbaikan lebih banyak 15,51 HKP daripada teknologi petani. Petani akan memerlukan tambahan tenaga kerja apabila memperluas lahan garapan, meningkatkan jumlah benih, pupuk dan pestisida. Kata kunci: usahatani padi sawah, struktur biaya, curahan tenaga kerj

    KERAGAAN KESESUAIAN LAHAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PLASMA BERKELANJUTAN

    No full text
    Land Suitability Performance and Sustainable Management Strategic of Public Oil Palm Plantation. The great quantities of stakeholders involved and their different conflict of interests in the oil palm management is unfavorable, as characterized by the decrease of land productivity and the high-polluted environment. This condition led to create a holistic solution in order to achieve sustainable oil palm management. For this reason, researches on land suitability and public oil palm plantation strategy have been done from January to December 2007. The experimental site was public oil palm plantation of PTP Nusantara V Sei Pagar, Perhentian Raja Sub District Kampar Districts, Riau Province. Land suitability method was developed by Djaenudin et all. (2003) in which the public oil palm plantation strategy is analyzed by using Prospective Analysis. The research showed that land suitability in the majority of land experiment (75%) can be grouped into S2-f that is moderately suitable with nutrients retention as main limiting factor due to the lower pH of the soil. The land suitability in the remaining areas (about 25%) can be classified into S2-f,n that is moderately suitable with nutrients retention and nutrients supply as limiting factors due to the lower of pH and caption exchange capacity (CEC) values. Productivity level of the land by average was 23.04 tons fruit bunches/ha/year or equal to 91% of potential yield. There were 7 key factors that should be considered in order to achieve the sustainable management of public oil palm plantation, namely land occupation status, land suitability, land size, human resources, working capital, institution and government policies. Based on the probability of occurrence, a medium setting management becomes as a promotion strategy to achieve sustainable condition of public oil palm management. The condition of this situation was land occupation status should be guaranteed (certificated), land suitability and land size remain the same as the current condition, the availability of working capital provided by government, qualified human resources in managing oil palm (educational level and skill improved), linkage institution was actively seeking solution and government policies should be supportive in implementing the selected state. Key words: Public oilp palm plantation, sustainability, suitability, strategic managemen Banyaknya pihak yang terlibat dan terjadinya benturan kepentingan menyebabkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma kurang tepat yang dicirikan oleh semakin menurunnya produktivitas lahan dan pencemaran terhadap lingkungan. Untuk itu, telah dilakukan penelitian tingkat kesesuaian lahan dan strategi pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma berkelanjutan dari bulan Januari sampai Desember 2007. Lokasi penelitian di perkebunan kelapa sawit plasma PT. Perkebunan Nusantara V Sei Pagar, Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Tingkat kesesuaian lahan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Djaenudin et al., strategi pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma dianalisis dengan menggunakan Analisis Prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian lahan di lokasi penelitian sebagian besar (75%) termasuk S2-f yaitu cukup sesuai dengan faktor pembatas retensi unsur hara berkaitan dengan pH tanah. Sekitar 25% tingkat kesesuaiannya termasuk S2-f,n yaitu kelas cukup sesuai dengan faktor pembatasketersediaan hara rendah dan retensi hara tinggi berkaitan dengan KTK tanah masam dan pH tanah rendah. Rata-rata produktivitas kelapa sawit pada lahan ini 23,04 t TBS/ha/tahun atau setinggi 91% dari produktivitas potensialnya. Terdapat tujuh faktor kunci yang hams dipertimbangkan untuk mencapai kondisi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yaitu status penguasaan lahan, kesesuaian lahan, luas lahan, sumberdaya manusia, modal, kelembagaan dan kebijakan pemerintah. Berdasarkan urutan peluang kejadiannya, skenario pengelolaan medium merupakan strategi yang paling memungkinkan untuk mencapai kondisi pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma berkelanjutan. Salah satu kondisi yang mewakili skenario ini adalah luas lahan tetap, status penguasaan lahan terjamin (bersertifikat), kesesuaian lahan tetapi (karena teknologi), modal kerja cukup tersedia, kualitas SDM cukup memadai (pendidikan dan keterampilan petani membaik), instansi terkait cukup aktif (kelembagaan agak kuat) dan kebijakan pemerintah agak mendukung. Kata kunci Kelapa sawit plasma, berkelanjutan, kesesuaian lahan, analisis prospektif, skenario strategi

    PROSPEK USAHATANI TANAMAN SAYURAN DI KABUPATEN BREBES

    Get PDF
    Prospek Usahatani Tanaman Sayuran di Kabupaten Brebes. District of Brebes is more known as the centre of onion productions.  Beside that this area is also potential to vegetables farming development, whereas the vegetables farming already bunch with local society especially high land farmers.  Although it just resemble at small scale, but this farming activity attach a significant contribution in farmer income.  Vegetables that common are potato, carrot, cabbage.  The aim of this study is to see how much the contribution of vegetables cultivation to the farmer incomes.  This study was doing on early 2005 in sub district of Sirampog, district of Brebes.  Collection data do by RRA (Rapid Rural Appraisal) method through field observation and interview with key informant.  Observation of primary data including cost production, price product, and market system.  Secondary data was obtained from related institution.  Data analyzed by financial and descriptive methods.  The result shows that if cost pay cash, benefit of farming reach from Rp.8.610,- to Rp.1.747.517,- per season.  With vary asset and comprehensive land scale, the high benefit of farming was scallion, follows with potato, carrot, cabbage, and mustard green with each R/C were 1,70; 1,54; 1,25; 1,19; and 1,01. Kabupaten Brebes selama ini lebih dikenal sebagai sentra bawang merah.  Namun sebenarnya di daerah tersebut juga memiliki potensi untuk pengembangan berbagai jenis usahatani tanaman sayuran lainnya, mengingat usahatani tanaman sayuran telah menyatu dengan masyarakat setempat khususnya petani dataran tinggi.  Meski diusahakan dalam skala yang relatif kecil, namun kegiatan usahatani tersebut memberikan andil yang cukup berarti bagi pendapatan rumah tangga tani.  Tanaman sayuran yang umum diusahakan adalah kentang, wortel, kubis, bawang daun, dan sawi.  Untuk melihat seberapa besar kontribusi usahatani tanaman sayuran tersebut terhadap pendapatan petani, maka dilakukan kegiatan kajian di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes pada tahun 2005.  Pengumpulan data dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal) melalui observasi lapang dan wawancara dengan informan kunci.  Data primer yang diamati antara lain meliputi biaya input produksi, harga output, dan sistem pemasaran.  Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait.  Data dianalisis secara finansial dan deskriptif.  Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan asumsi semua biaya dikeluarkan secara tunai, keuntungan usaha yang diperoleh berkisar antara Rp.8.610 sampai dengan Rp.2.783.400,- per musim.  Dengan jumlah modal dan luas lahan garapan yang berbeda, keuntungan per musim tertinggi diperoleh dari usahatani bawang daun, kemudian diikuti oleh kentang, wortel, kubis, dan sawi dengan perbandingan output input masing-masing sebesar 1,70 ; 1,54 ; 1,25; 1,19 ; dan 1,01

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇