Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
KAJIAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA
Study of Income Distribution of Corn Farmers in Bolaang Mongondow District, North Sulawesi. The objectives of the study were: 1). To study the income distribution pattern in Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolayan and Lolak Districts of Bolaang Mongondow regency, and 2). To obtain the Gini ratio database of household incomes in those five districts. The study was conducted at five districts of Bolaang Mongondow Rregency, Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolak and Lolayan District. The study used Gini Ratio analysis (Gini Coefficient) and Lorenz curve to measure the equality income (income distribution) among farmers and villages in district. It also used the financial analysis of maize farming to gain the net income and eligibility of the effort. The education level of respondent was 49% passing elementary school, influencing their farming to support the prosperity of farmer’s household. This correlated with income level and its distribution among farmers in the district. By the Gini Ratio Analysis it showed that Evenness lower income levels had occurred in three districts namely East Bolaang, Lolayan and Lolak with the value of the Gini Ratio between 0.4 – 0.5 (> 0.3). While in two other districts (Poigar and Bolaang) indicated the level of evenness was high enough, which income 0.252 and 0.266 (<0.3), respectively. Based on the financial analysis, it was found that net profit was Rp.1,692,554/ year with R/C was 1.23 (considerably feasible).Key words : Gini ratio, income distribution, financial analysis, maize farmingTujuan pengkajian ini adalah untuk: 1) Mengetahui pola distribusi pendapatan di Kecamatan Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolayan dan Lolak Kab. Bolaang Mongondow, dan 2). Memperoleh basis data Indeks Gini pendapatan rumah tangga tani pada lima kecamatan tersebut. Pengkajian ini mengambil lokasi pada lima kecamatan di Kab. Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara, yaitu Kecamatan Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolak dan Lolayan. Untuk mengukur tingkat pemerataan pendapatan (distribusi pendapatan) antar individu dan antar desa per kecamatan, menggunakan analisis Gini Ratio (koefisien Gini) dan Kurva Lorenz. Selain itu dilakukan pula analisis finansial usahatani jagung untuk mengetahui pendapatan usahatani jagung serta kelayakan usahataninya. Tingkat pendidikan responden yang sebagian besar hanya lulus SD (49%) mempengaruhi pemilihan alternatif usaha untuk menunjang tingkat kesejahteraan rumah tangga tani. Hal ini berhubungan erat dengan tingkat pendapatan dan distribusi pendapatan antar individu per kecamatan. Dari hasil perhitungan Gini Ratio diperoleh tingkat kemerataan pendapatan yang rendah terjadi di tiga kecamatan yaitu Bolaang Timur, Lolayan dan Lolak dengan nilai Gini Ratio antara 0,4–0,5 (> 0,3). Sedangkan pada dua kecamatan lainnya (Poigar dan Bolaang) diindikasikan tingkat kemerataan pendapatan yang cukup tinggi yaitu masing-masing 0,252 dan 0,266 (< 0,3). Dari hasil analisis finansial usahatani jagung diperoleh pendapatan bersih (net profit) per tahunnya sebesar Rp.1.692.554 dengan nilai R/C sebesar 1,23 (dikategorikan layak)
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI LADA
The objective of this experiment was determined the effect of three analysis and introduction on growth andpepper production. A randomized block design consist of three treatment with five replication. The experimentconducted on January 2000 to Desember 2002 at Sinar Tebudak, Sub district Sanggau Ledo, district Bengkayang,West Kalimantan. The treatments were three dosage fertilizers namely : farmer (215 kg urea + 322.5 kg SP-36 + 322.5kg KCl), 2). Soil analysis (355.56 kg urea + 380 kg SP-36 + 388.96 kg KCl) dan 3). Introduction (800 kg urea + 400kg SP-36 + 400 kg KCl). The result showed that the treatment of fertilizer soil analysis had a significant effect ongrowth and pepper production (0.29 ton/ha). Increasing fertilizers were not increase pepper production. The treatmentssoil analysis efficiency using fertilizers with introduction are 55.56 percent urea, 5 percent P and 2.76 percent K.Key words : fertilizer, soil analysis, growth, production, pipper nigrumPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan introduksi, pola petani dan analisis tanahterhadap pertumbuhan dan produksi tanaman lada. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2000 sampaiDesember 2002 yang berlokasi di Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Penelitianadaptif menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima kali ulangan. Adapun perlakuan yang akanditeliti adalah : 1). Pemupukan menurut petani (215 kg urea + 322,5 kg SP-36 + 322,5 kg KCl), 2). Pemupukananalisis tanah (355,56 kg urea + 380 kg SP-36 + 388,96 kg KCl) dan 3). Pemupukan introduksi (800 kg urea + 400 kgSP-36 + 400 kg KCl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berdasarkan hasil analisis tanah nyatameningkatkan pertumbuhan dan produksi hasil dibanding dengan pemupukan introduksi dan cara petani.Peningkatan pupuk tidak dapat meningkatkan produksi yang lebih tinggi. Pemupukan hasil analisis tanah mampumeningkatkan hasil lada sebesar 0,29 ton/hektar, disisi lain pemupukan analisis tanah menghemat pemakaian pupuksebesar 55,56 persen urea, 5 persen pupuk P dan 2,76 persen pupuk K dibanding dengan introduksiKata kunci : pemupukan, analisis tanah, pertumbuhan, produksi, pipper nigru
KAJIAN PEMUPUKAN N, P, DAN K TERHADAP JAGUNG (Zea mays Linn) PADA LAHAN KERING TANAH TYPIC USTROPEPTS
Kajian Pemupukan N, P, Dan K Terhadap Jagung (Zea mays Linn) Pada Lahan Kering Tanah Typic Ustropepts. Assessment of N, P, and K fertilizer to upland maize on Typic Ustropepts. Assessment was conducted in Jeneponto South Sulawesi, started on October 2004 until March 2005. The objective was to know respon of maize (hybrid and non hybrid variety) to N, P, K fertilizer on upland and to compare farmer’s practice and complete NPK application. A split plot design with five replications was used. Maize variety was used as main plot, and omission plot (fertilizer application) as sub plot. Result showed as follows : 1) Maize respond to N, P, K fertilizer: 2) Un complete fertilizers application caused growth and field quality of maize become lower (10-30%). Complete fertilizers application (N,P,K:200:35:100) indicated much more higher yield (5,5 t/ha) than farmer’s practice (<150 N) with yield of 3,8 t/ha. Hybrid variety of BISI-2 give higher yield (5,67 t/ha) than non hybrid variety of Lamuru (3,3 t/ha). On dry land of typic Ustropepts, under dry climate, nutrient deficiency of N, P, K (low nutrient status), in Jeneponto, N, P, K fertilizer application suggested were 200:35:100 kg/ha or equally to 440 kg Urea, 223 kg SP-36, 191 kg KCl/ha, plus 500 kg organic metter/ha, with dibbling application, plant spacing of 75 x 20 cm2, one plant/hill. Kajian dilaksanakan di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2004 sampai Maret 2005. Tujuan kajian mengetahui tanggap tanaman jagung hibrida dan non hibrida terhadap pupuk N, P, dan K pada tanah Typic Ustropepts di lahan kering dan membandingkan aplikasi pemupukan cara petani dan lengkap NPK. Kajian dilakukan melalui pendekatan petak omisi dengan Rancangan Percobaan Petak Terpisah dengan lima ulangan, dimana varietas merupakan petak utama, sementara petak omisi (pemupukan) sebagai anak petak. Hasil kajian menunjukkan sebagai berikut: 1) Tanaman jagung tanggap terhadap pupuk N, P, dan K: 2) Pemberian pupuk yang tidak lengkap menyebabkan pertumbuhan dan hasil berkurang (10-30%). Aplikasi pupuk lengkap N, P, dan K (200:35:100) menunjukkan hasil lebih tinggi (5,5 t/ha) dibanding cara petani (<150 N) yang hanya mencapai 3,8 t/ha. Jagung hibrida BISI-2 hasilnya lebih tinggi dari pada jagung non hibrida varietas Lamuru (3,34 t/ha). Pada lahan kering Typic Ustropepts, iklim kering, kekurangan hara N, P, dan K (status hara rendah) di Jeneponto, anjuran aplikasi pupuk untuk jagung adalah 200:35:100 kg/ha atau setara dengan 440 kg Urea, 223 kg SP-36, 191 kg KCl/ha, disertai dengan 500 kg pupuk organik/ha. Aplikasi pupuk disarankan secara tugal, jarak tanam 75x20 cm2, satu tanaman/lubang.
STABILITAS HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI DI LAHAN SAWAH
Yield Stability of Rice on Wetland. The experiment is purposed to evalluate stability of hybrid and new varieties of rice were conducted at five locations as Nganjuk, Bojonegoro, Jember, Blitar dan Ngawi in dry season 2007. Ten varieties of rice consist of six hybrids as Bernas Super, PP-1, Bernas Prima, Hibrindo R-1, Intani 2, SL-8H and four new varieties as Mekongga, Pepe, Cibogo, Ciherang were tested in Randomized Block Design with three replications. Plot size was 5 m x 6 m and plant spacing 20 cm x 20 cm. Yield data were analyzed for stability using a regression technique following Eberhant and Rusell (1966). The results of these experiment indicated that effect of varieties location and varieties x location interaction were significant. Yield stability analysis indicated that there were three varieties which produce stable yield and had average yield higher than checks, namely PP1, Bernas Prima and Mekongga with yield of 7.4, 7.7, and 7.7 respectively. Key words : Hybrid variety rice, new varieties rice, yield stability Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas varietas unggul hibrida dan unggul baru dilaksanakan di lima lokasi yaitu Nganjuk, Bojonegoro, Jember, Blitar dan Ngawi pada Musim Kemarau tahun 2007. Sepuluh varietas yang diuji terdiri dari enam varietas unggul hibrida yaitu Bernas Super, PP-1, Bernas Prima, Hibrindo R-1, Intani 2, SL-8H dan empat varietas unggul baru yaitu Mekongga, Pepe, Cibogo, Ciherang. Rancangan yang digunakaan di masing - masing lokasi adalah Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Ukuran setiap petak adalah 5 m x 6 m dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Stabilitas hasil sepuluh varietas unggul hibrida dan varietas unggul baru dievaluasi dengan model stabilitas menurut Eberhant and Rusell (1966), dengan kriteria varietas yang stabil yaitu yang koefisien regresi bi = 1 dan simpangan ragam regresi terhadap ragam gabungan (S2di = 0). Hasil percobaan menujukkan bahwa varietas unggul hibrida Bernas Super, PP-1, Bernas Prima, Hibrindo R-1, Intani 2, dan SL-8H serta varietas unggul baru Mekongga, Pepe, Cibogo, Ciherang dengan hasil gabah kering diatas rata – rata umumnya dan merupakan varietas yang mempunyai stabilitas hasil masing – masing 7,39; 7,09 dan 7,08 t/ha. Varietas - varietas tersebut dianjurkan untuk dapat diuji lagi dalam skala yang agak luas dan bila sudah mantap dapat diusulkan untuk dilepas menggantikan varietas yang sudah lama digunakan. Kata kunci : Varietas unggul padi hibrida, varietas unggul padi baru, stabilitas hasi
APLIKASI QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DI INDUSTRI TEH HITAM ORTHODOX INDONESIA
Indonesian tea market share decreased from 10.3 percents of world tea export in 1993 to 6.4% in 2003 due tothe quality of Indonesian tea. The purposes of this study were understanding the quality position of Indonesianorthodox black tea, as well as, identifying the main efforts to increase the satisfaction level of Indonesian tea buyers.Quality Function Deployment (QFD) and Eickenrode weighting method were applied to analyze the evidents. Theresults show that quality position of Indonesian tea is less than the quality of Sri Lanka tea. However, two actionsshould be improved to increase the tea quality (beginning from first priority) namely (1) improvement of quality teashoot; and (2) improvement of rolling process.Key words : tea industry, quality, marketing techniques, processing, Indonesia Pangsa pasar teh Indonesia menurun dari 10,3 persen pada tahun 1993 menjadi hanya 6,4 persen dari totalekspor teh dunia pada tahun 2003 karena masalah mutu. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui posisi mutu teh hitamorthodox Indonesia dan mendapatkan strategi operasional untuk meningkatkan tingkat kepuasan para pembeli tehIndonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah Quality Function Deployment (QFD) dan PembobotanEickenrode. Hasil kajian menunjukkan bahwa posisi kualitas teh Indonesia ternyata masih lebih rendah dibandingkandengan kualitas teh Sri Lanka. Dua upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas teh Indonesia mulai dariprioritas utama adalah (1) peningkatkan kualitas pucuk daun teh, dan (2) perbaikan proses penggilingan.Kata kunci : industri teh, kualitas, teknik pemasaran, pengolahan, Indonesi
KAJIAN ADOPSI DAN DAMPAK TEKNOLOGI SISTEM USAHA PERTANIAN PADI-UDANG WINDU DI LAHAN SAWAH TAMBAK KABUPATEN LAMONGAN
During 2000 – 2001, AIAT East Java conducted assessment on integrated farming system of rice-tiger prawnin Lamongan regency. This activity was evaluated in July – September 2003. The aim of the evaluation was to obtaindata on (1) adoption level and diffusion of recommended technology, and (2) impact at recommended technology onproductivity and farmer income. Within the evaluation, some information such as farmer characteristics, application ofrecommended technology, productivity and farmer income were collected by survey method. Results indicated that31% of farmers adopted the recommended technology. Subsequently, the recommended technology were diffused tonon-participated farmers. The level of diffusion reached 14%. In addition, the productivity at rice and tiger prawnincreased by 8% and 67% respectively. Finally, farmer income from this farming system increased by 41%. Tocontinue adoption at farming system of rice-tiger prawn, the following requirements are needed: (1) supply ofproduction input on the right time, (2) continue supervision to the farmer, (3) presence of stable and feasible priceassurance and (4) support of local government to increase productivity of integrated farming system of rice-tigerprawn.Key words : farming system, flood plain pond, technical adoption, tigar prawnKajian adopsi dan dampak teknologi ini merupakan evaluasi dari kegiatan sistem usaha pertanian padi-udangwindu yang telah dilakukan BPTP Jawa Timur di Kabupaten Lamongan tahun 2000 dan 2001. Pengumpulan datamenggunakan metode survei yang dilakukan pada bulan Juli-September 2003. Data yang dikumpulkan meliputikarakteristik petani, penerapan teknologi, serta produktivitas dan pendapatan usahatani padi-udang windu. Kajian inibertujuan untuk memperoleh informasi (1) tingkat adopsi dan difusi teknologi anjuran, dan (2) dampak teknologianjuran terhadap produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologianjuran yang diadopsi oleh petani peserta mencapai 31 persen. Sedangkan teknologi anjuran yang terdifusi oleh petaninonpeserta mencapai 14 persen. Produktivitas padi dan udang windu meningkat 8 dan 67 persen serta pendapatanusahatani meningkat 41 persen. Agar adopsi teknologi usahatani padi-udang windu dapat berlanjut, maka diperlukan;(1) penyediaan sarana produksi yang tepat waktu, (2) bimbingan oleh petugas secara terus menerus, (3) jaminan hargayang layak dan stabil, dan (4) dukungan pemerintah daerah dalam program peningkatan produktivitas usahatani padiudangwindu.Kata kunci : sistem usahatani, sawah tambak, adopsi teknologi, udang wind
PENGKAJIAN PENGEMBANGAN MODEL AGRIBISNIS JAGUNG PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN CIAMIS
Study on the Development of Maize Agribusiness Model in Up Land in Ciamis Regency. This study was conducted at Margaharja Village, Sub-district, Ciamis Regency from January to December, 2007. The objectives of the study were: (1) to design the formulation and development of agribusiness model system for village industry by implementing various technological and institutional innovations, and (2) to obtain feedback for the improvement of the model system and agribusiness activities as materials for program perfection. The activities were conducted by using "Before" and "After" approaches, and "Without" and "With" the introduction of technological and institutional innovations. The data observed comprise farm enterprise profile, the local technology performance compared with the technological innovations developed, business efficiency, the adoption of technological innovations, and institutional performance. Among the results of the study were: (1) The improvement of extension intensity and farmer group/ farmer group union dynamism showed by: (a) managing consolidation under the management of k farmer group/ farmer group union; (b) regular farmer group/ farmer group union meetings; (c) Problems in the provision of agricultural product infrastructure and marketing the harvested corn can be solved by the collaboration of farmer group union CV Karya Mulya and PT Petro Kimia, Gresik; (d) the availability of agribusiness clinics with various latest dissemination facilities for agricultural technology innovations and adequate meeting room; and (e) the availability if dissemination materials such as leaflets, technical guidelines, posters, scientific publications, and visual aids; and (2) From the technological exhibition it was obvious that supreme maize varieties , especially Sukmaraga, was demanded by most of farmers, hence they will be implemented widely in the 2007/2008 wet season. However, the planting of Sukmaraga variety cannot be realized by farmers as the seeds were not available when required. Key words: Agribusiness, village industry, technological innovations, and institutional innovations Pengkajian pengembangan model agribisnis jagung di lahan kering telah dilaksanakan di Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis pada bulan Januari hingga Desember, 2007. Tujuan dari pengkajian ini adalah: (1) Merancang pembentukan dan pengembangan percontohan/model sistem agribisnis berbasis industri pedesaan melalui penerapan berbagai inovasi teknologi dan kelembagaan, dan (2) Mendapatkan umpan balik perbaikan model percontohan sistem dan usaha agribisnis sebagai bahan penyempurnaan program. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan "Sebelum" dan "Sesudah", serta "Tanpa" dan "Dengan" introduksi inovasi teknologi dan kelembagaan. Data yang diamati meliputi profil usahatani, kinerja teknologi setempat dibandingkan dengan inovasi teknologi yang dikembangkan, efisiensi usaha, adopsi inovasi teknologi, dan kinerja kelembagaan. Basil pengkajian, antara lain: (1) Peningkatan intensitas penyuluhan dan dinamika kelompoktani/gapoktan yang ditunjukkan, antara lain: (a) konsolidasi pengelolaan di bawah manajemen kelompoktani/gapoktan; (b) pertemuan kelompoktani/ gapoktan secara berkala; (c) Permasalahan dalam penyediaan sarana produksi pertanian dan pemasaran hasil panen jagung dapat teratasi melalui kemitraan gapoktan dengan CV Karya Mulya dan PT Petro Kimia, Gresik; (d) ketersediaan klinik agribisnis dengan Pengkajian Pengembangan Model Agribisnis Jagung pada Lahan Kering di Kabupaten Ciamis (Saeful Bachrein)berbagai fasilitas diseminasi inovasi teknologi pertanian terkini dan ruang pertemuan yang memadai; dan (e) ketersediaan materi diseminasi seperti leaflet, petunjuk teknis, poster, publikasi ilmiah, dan bahan peraga; dan (2) Dari basil gelar teknologi ternyata varietas unggul jagung, khususnya varietas Sukmaraga, sangat diminati sebagian besar petani sehingga akan diimplementasikan secara luas pada MH 2007/2008. Namun demikian, penanaman secara luas jagung varietas Sukmaraga tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh petani karena benih tidak tersedia pada saat diperlukan. Kata kunci: Agribisnis, industri pedesaan, Inovasi teknologi, dan inovasi kelembagaa
PENGKAJIAN BUDIDAYA ULAT SAGU SEBAGAI SUMBER PROTEIN PAKAN TERNAK
Assessment on Sago Larva Cultivation as a Protein Source of Feed. The area of sago crops in Moluccas is 31.360 ha with the number of sago tree ready to be harvested amounted 86 trees per ha. One of the wastes from harvesting sago crop is the tree sprouts which are not utilized and become places for coconut red beetles (Rhynchophorus ferrugenesis) to lay eggs. Larva from these beetles is known as sago larva, usually consumed by Moluccas and Papua societies. When the sago larvas become adults, they will transform into coconut beetles, which are pests for coconut crops. Research on potencies and cultivation techniques was conducted in 2006 with purposes to obtain: 1) natural and artificial cultivation techniques, 2) spawning time and season, and 3) nutrient value and potencies of sago larva. The estimation on potency was obtained from surveys at sago processing centers in South East Moluccas Regency, Central Moluccas Regency, and Western Seram. Cultivation techniques were differentiated between natural and artificial. Laboratory analysis was conducted to obtain the nutrient value and essential amino acid content. Statistical test was conducted on the data resulting from treatment comparisons. The result of the study shows that larva sago potency in Moluccas is estimated to be equal to 935 tons based on sago crop area, with a productivity of 2.52 kg/ m'. Spawning season is all year long with harvesting time of 39-45 days post tree cutting. Natural cultivation is more successful compared to the artificial one. Sago larva contains 13.80% protein, 18.04% fat and essential amino acids. Sago larva is expected to be used as source of proteins to substitute fish meal. Key word: Cultivation, sago larva, Moluccas. Luas areal tanaman sagu di Maluku 31.360 ha dengan jumlah pohon sagu siap panen sebanyak 86 pohon per ha. Salah satu limbah dari hasil panen sagu adalah batang bagian pucuk pohon yang tidak dimanfaatkan, dan tempat bertelurnya kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugenesis). Larva dari kumbang ini dikenal dengan ulat sagu, yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat Maluku dan Papua. Apabila ulat sagu menjadi dewasa akan berubah menjadi kumbang kelapa, yang merupakan hama pada tanaman kelapa. Pengkajian besarnya potensi dan teknik budidaya telah dilakukan pada tahun 2006 dengan tujuan: 1) mendapatkan teknik budidaya secara alami dan buatan (artifisial), 2) musim dan waktu pemijahan, 3) besarnya potensi dan nilai gizi ulat sagu. Perkiraan besarnya potensi didapat dari survei di sentra-sentra pengolahan sagu di Maluku pada Kab Maluku Tenggara, Kab Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Sedangkan teknik budidaya dibedakan secara alami dan buatan (artifisial). Pengujian laboratorium dilakukan untuk mendapatkan nilai gizi dan kandungan asam amino esensial. Uji statistik dilakukan pada data hasil perbandingan perlakuan. Hasilpengkajian menunjukan berdasarkan ketersediaan luas areal tanaman sagu di Maluku, potensi ulat sagu diperkirakan sebesar 935 t, dengan produktivitas 2,52 kg/m'. Musim pemijahan sepanjang tahun dengan waktu panen 39-45 hari dari pasca tebang pohon. Budidaya secara alami lebih berhasil dibandingkan dengan cara buatan (artifisial). Ulat sagu memiliki kandungan protein 13,80%, lemak 18,04% dan asam amino esensial. Ulat sagu diharapkan dapat dipakai sebagai sumber protein pada pembuatan pakan sebagai pengganti tepung ikan. Kata kunci: Budidaya, ulat sagu, Maluk
PENGGUNAAN LIMBAH KAKAO TERFERMENTASI UNTUK PAKAN AYAM BURAS PETELUR
Native chicken plays important role in egg and meat production in Bali. Sharp price of feed since themonetary crisis encourages the farmers to get alternative cheap feed. Assessment on fermented cacao wastes toreplace rice bran in layer native chicken ransom was conducted in Tukad Aya Village, Jembrana Regency, Bali lastingfrom July to December 2002. The experiment was using a completely randomized design with three treatments andeach of 60 chicken. The treatments were P0, i.e., feed ransom as practiced by the farmers (with out cacao wastes), P1(feed ransom with11 percent of cacao waste), and P2 (feed ransom with 22 percent of cacao waste). The resultsshowed that P2 improved significantly egg production from 31.33 percent (P0) to 35.53 percent (P2). Cacao waste didincrease egg weight significantly and tended to reduce Feed Conversion Ratio from 5.68 (P0) to 4.49 (P2). Cacaowaste treatments also did not reduce physical quality and nutritional contents of the eggs. The treatment was able toincrease the farmers’ income from Rp 221,142/100 chicken/month to Rp 376,677/100 chicken/month or an increaseR/C ratio from 1.65 to 2.34.Key words: native chicken, cacao waste fermented egg productionAyam Buras mempunyai peranan penting sebagai penghasil telur maupun daging di Bali. Melonjaknya hargapakan, semenjak krisis moneter menyebabkan banyak peternak ayam buras yang menerapkan pola intensifmenghentikan usahanya. Karena itu perlu upaya mencari bahan pakan alternatif yang murah. Penelitian tentangpemanfaatan limbah kakao terfermentasi sebagai pengganti dedak dalam ransum ayam buras petelur telah dilakukandi Desa Tukad Aya – Kabupaten Jembrana Bali selama enam bulan (Juli s/d Desember 2002). Penelitian disusundalam Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan ransum, dengan 60 ekor ayam per perlakuan. Ke-3 perlakuantersebut yaitu (P0) mendapat ransum sesuai dengan cara petani (tanpa limbah kakao). (P1) dengan ransum yangmengandung 11 persen limbah kakao. Kelompok III (P2) dengan ransum yang mengandung 22 persen limbah kakao.Hasil penelitian menunjukkan penggunaan limbah kakao 22 persen dalam ransum menyebabkan meningkatnyaproduksi telur dari rata-rata 31,33 persen (PO) menjadi 36,53 persen (P2) dan secara statistik berbeda nyata (P<005).Pemberian limbah kakao sebagai pengganti dedak juga menyebabkan meningkatnya berat telur, sebaliknya konsumsipakan cenderung menurun dari 72,1 gram/ekor/hari menjadi 69,79 gram/ekor/hari, walaupun secara statistik tidaknyata. Sebagai akibatnya, Feed Convertion Ratio (FCR) menurun secara nyata (P<0,05) dari 5,68 (PO) menjadi 4,49(P2). Penggunaan limbah kakao sebagai pengganti dedak juga tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas fisikmaupun nilai gizi telur. Dengan menurunnya FCR, maka secara ekonomis penggunaan limbah kakao sebagaipengganti dedak secara keseluruhan (22 persen) mampu meningkatkan kuntungan petani dari Rp. 221.142 /100 ekorper bulan menjadi Rp.376.677 /100 ekor/bulan sehingga RC ratio meningkat dari 1,65 menjadi 2,34. Dari hasilpenelitian ini ternyata penggunaan limbah kakao sebagai komponen ransum ayam Buras petelur cukup prospektifuntuk dikembangkan.Kata kunci : ayam buras, limbah, kakao, fermentasi produksi telu
KAJIAN USAHATANI PEMBENIHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI DESA SUKASIRNA KECAMATAN SUKALUYU, KABUPATEN CIANJUR
An assessment on common carp breeding farm was conducted in Sukasirna and it involved 8 farmers inwhich 2 farmers used Wildan and local strains and the other 6 farmers applied local strain only. The aspectsassessed were spawning, fry rearing, and costs and return analysis. Spawning of Wildan strain used 6 female (30kgs) and 60 male (30 kgs) brood stocks, while that of local used females (10-91 kgs) and males (9-91 kgs) each of3-29 and 15-148 ind, respectively. Spawning was conducted in concrete-cemented ponds and the total eggapparatus was 40 to 420 units. Fry rearing was carried out in soil ponds with areas between 1,000 to 6,000 m2 and800 to 2,200 m2 for local and Wildan strains, respectively. Production of fry rearing ranged from 5 to 190 liters percycle for local strain and 14 to 63 liters for Wildan strain. Net profits of fry rearing for 18 days of local and Wildanstrains were each of Rp 16,000 to Rp 3,150,000 and from Rp 233,000 to Rp 1,057,000, respectively.Key words: common carp, breeding, local strain, Wildan strain. Pengkajian usahatani pembenihan ikan mas dilakukan di Desa Sukasirna pada 8 orang petani, dimana 2orang menggunakan ikan mas strain Wildan dan lokal sedangkan 6 orang menggunakan strain lokal. Aspek kajianmeliputi pemijahan, pemeliharaan kebul dan analisa usaha. Pemijahan ikan mas strain Wildan menggunakaninduk betina sebanyak 6 ekor (30 kg) dan jantan 60 ekor (30 kg), sedangkan strain lokal menggunakan indukbetina antara 3-29 ekor (10-91 kg) dan jantan 15-148 ekor (9-91 kg). Pemijahan dilakukan pada bak semen dansebagai tempat penempelan telur digunakan kakaban sebanyak 40-420 unit. Selanjutnya pemeliharaan kebuldilakukan pada kolam tanah dengan kisaran luas 1.000-6.000 m2 (strain lokal ) dan 800-2200 m2 (strain Wildan).Produksi kebul strain lokal berkisar antara 5-190 liter/siklus, sedangkan strain Wildan 14-63 liter/siklus.Keuntungan bersih usaha pemeliharaan kebul umur 18 hari berkisar Rp.16.000 - 3.150.000/siklus (strain lokal)dan Rp.233.000 - 1.057.000/siklus (strain Wildan).Kata kunci: ikan mas, pembenihan, strain lokal dan Strain Wildan