Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    EVALUASI POLA PEMANFAATAN SUMBERDAYA LAHAN DI ANTARA KELAPA DENGAN TANAMAN SELA BERDASARKAN KAJIAN ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN KONSERVASI LAHAN

    Get PDF
    Intercropping between coconut trees with other crops has been implemented for a long time. These croppingpatterns do not produce maximal yields due to sosio-economic and land conservation aspects. Evaluating thoseaspects will lead to specific patterns and sustainable farm practices. The study aimed (1) to evaluate intercroppingpatterns between cooconut and other crops based on social-economic and land conservation aspect; (2) to get thespecific intercropping patterns which result in maximal income and minimal environmental degradation. The studywas carried out in Minahasa Regency, North Sulawesi Province, using a survey method with a purposive sampling of120 respondents from two districts, namely Tombatu and Wori. Based on social economic and land conservationaspects analysis, coconut + vanili in Tombatu is the best pattern with Compatible Comparative Value (NKK) of 92.10percent, and the best intercropping pattern in Wori District was coconut + banana with NKK of 92.90 percent. Thosetwo intercropping patterns (vanili and banana) had no limited factors because of god social response, more benefits,and less ecological destruction. The other intercropping patterns with NKK of more than 60 percent had limitedfactors in terms of social economic and land conservation aspects.Key words : land resource conservation, coconut, economic social, North SulawesiProgram pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela di Sulawesi Utara sudahberlangsung lama, namun hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Faktor yang diduga menjadi hambatan adalah aspeksosial ekonomi dan konservasi lahan. Dengan evaluasi kedua aspek ini diharapkan ditemukan pola pemanfaatansumberdaya lahan di antara kelapa dengan tanaman sela yang spesifik lokasi dan berkelanjutan. Tujuan penelitianadalah (1) Mengevaluasi pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela berdasarkan kajianaspek sosial ekonomi dan konservasi lahan, (2) Mendapatkan pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapadengan tanaman sela yang memberikan nilai tambah pendapatan yang maksimal dengan kerugian ekologis yangminimal. Penelitian dilakukan di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan metode survai.Pengambilan sampel dilakukan secara tertuju (purposive sampling) sebanyak 120 sampel di dua kecamatan yaituKecamatan Tombatu dan Kecamatan Wori, masing-masing 60 petani disesuaikan dengan banyaknya polapemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela yang diusahakan petani. Data primer yangdikumpulkan adalah data sosial ekonomi petani dan konservasi lahan berupa pengukuran tingkat erosi sertapengambilan sampel tanah untuk mengetahui ketersediaan hara dari masing –masing pola usahatani tanaman seladiantara kelapa. Berdasarkan kajian aspek sosial ekonomi dan konservasi lahan diperoleh bahwa pola kelapa + vanilidi Kecamatan Tombatu merupakan pola yang yang terbaik untuk diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif(NKK) sebesar 92,10 persen. Untuk Kecamatan Wori, pola kelapa + pisang adalah pola yang terbaik untukdiusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif sebesar 92,90 persen. Kedua jenis tanaman sela ini adalah tanamansela yang hampir tidak mempunyai faktor pembatas karena secara sosial mendapat respon yang tinggi, secara ekonomilebih menguntungkan dengan kerugian ekologis terkecil. Pola kelapa + cengkeh, kelapa + tomat, kelapa + jagung, dankelapa + padi ladang, walaupun layak diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif lebih besar dari 60 persennamun masih mempunyai faktor pembatas baik dari aspek sosial ekonomi maupun konservasi lahan.Kata kunci : konservasi sumberdaya lahan, kelapa, sosial ekonomi, Sulawesi Utar

    PENGGUNAAN BIOPESTISIDA PERSADA DAN PESTISIDA NABATI DALAM UJI ADAPTASI PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU PISANG DI PROVINSI BALI

    Get PDF
    The purpose of this adaptive research was to study the effect of combination treatments of “persada”biopesticide and botanical pesticide (plants extract) to the increase attack of wilt disease and its effect on bananasgrowth and yield. The research was conducted at Delod Berawah and Penyaringan village, Mendoyo sub-district,Jembrana district, Bali on Januari 2000 to December 2001. Randomized block design was applied with fivereplications during research at 2000 and four replications at 2001. Banana “kepok”seed age 2-3 months was plantedwith its planting holed size and distance 50 cm x 50 cm x 50 cm and 2 m x 2 m respectively. In 2000, dosages offertilizer per plant per year were 1,2 kg NPK and 2 kg of casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatment of 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percent (w/v) concentration was givenat one and two months after initial planting. In 2001, dosages of fertilizer per plant per year were 1,2 kg ZA, 0,45 kgTSP, 0,50 kg KCl and 2 kg casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatmentof 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percen (w/v) concentration was given at the age of 0 month, 2 months, 4months, 6 months and 8 months after initial planting respectively. The result showed that application of 0,50 kg/plantof “persada”biopesticide with or without botanical pesticide was able to control bananas wilt disease developmentabout 26-50 percent. It is suggested that when farmers planted susceptible bananas like “kepok”variety at endemicwilt disease area, they should apply biopesticide such as “persada”biopesticide and botanical pesticide followed byother treatments, i.e. application of good fertilizer, sanitation and good watering. Average net return received byfarmers from “kepok”banana planting at endemic wilt disease area through application of “persada”biopesticide andbotanical pesticide within 0,05 ha was Rp. 1.249.600. The farmer will loss about Rp. 501.280 when planted banana“kepok”at endemic wilt disease area without “persada”biopesticide and botanical pesticide treatment.Key words : plant diseases, “persada” biopesticide, botanical pesticidePenelitian adaptasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan biopestisida persada danpestisida nabati terhadap perkembangan intensitas serangan penyakit layu serta pengaruhnya terhadap pertumbuhandan hasil tanaman pisang. Penelitian dilaksanakan di Desa Delod Berawah dan Desa Penyaringan, kecamatanMendoyo, kabupaten Jembrana Propinsi Bali dari bulan Januari sampai Desember pada tahun 2000 dan 2001.Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima kali ulangan pada pengujian 2000 danempat kali ulangan pada pengujian tahun 2001. Bibit pisang “kepok”berumur 2-3 bulan ditanam dalam lubang tanamberukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Pada pengujian 2000, pemupukan dengan dosis 1,2kg NPK dan 2 kg kascing/pohon/ tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun.Perlakuan pestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 1 bulan setelah tanam (BST) dan 2BST. Pada pengujian tahun 2001 pemupukan dengan dosis 1,2 kg ZA, 0,45 TSP, 0,50 KCL dan 2 kgkascing/pohon/tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun. Perlakuanpestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 0 BST, 2 BST, 4 BST, 6 BST, dan 8 BST.Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida persada sebanyak 0,50 kg/pohon/tahun dengan atautanpa perlakuan pestisida nabati cukup efektif mengendalikan penyakit layu pisang dengan penekanan penurunanpenyakit hingga 26-50 persen. Bila harus menanam pisang peka seperti kepok di daerah endemis penyakit layu,406Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 405-416penggunaan biopestisida persada dan pestisida nabati dalam usahatani pisang sebaiknya diikuti dengan perlakuanlainnya yaitu budidaya tanaman sehat seperti pemupukan, pengendalian gulma dan pengairan yang baik. Keuntunganbersih yang diperoleh petani dari usahatani pisang kepok di daerah endemis penyakit layu dengan perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati dalam areal seluas 5 are sebesar Rp 1.249.600,-. Petani akan mengalamikerugian sekitar Rp 501.280,- bila mengusahakan pisang kepok di daerah endemis penyakit layu tanpa perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati.Kata kunci : penyakit tanaman, biopestisida persada, pestisida nabat

    PENGKAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK KERING BUAH PALA (Stigmina myristicae (Stein.) Mand.-Sum. et Rifai) DI TIDORE KEPULAUAN

    No full text
    Assessment on the Control of Dry Blight Nutmeg Fruit (Stigmina myristicae (Stein.) Mand.-Sum. et Rifai) in Tidore Island. North Maluku is one of the nutmeg central areas with its productivity of 0.25 t per hektar. Low productivity is due to the high invation of dry blight desease on nutmeg fruit of appoximately 50 percent. The assesment was aimed to optain the production technology to control effectively dry blight desease, increase production, and enhance farmer's income. The assessment was conducted at Jaya village, Tidore Kepulauan city, North Maluku Province from March to November 2006 by applying before and after application approach. The number of cooperator farmers were twelve people, each farmer have ten nutmeg tree which were productive and more than 15 years old trees. Introduction technology package were mechanism technis + cultural + chemical and were comparised to farmer's technology. The observation parameter is fresh fruits number, infected fruits number, desease intencity, nutmeg fruit production and farmer's response to technology. Technically and financially technology properness were measured using R/C, B/C and MBCR indicators. The result of the assessment was the introduction technology package to control effective dry blight desease of until 28.7 percent, increased nutmeg fruit production 76.1 percent and increased income 76.1 percent. Introduction technology package is proper at R/C = 7.75 and B/C = 6.75, and acceptanced and recommended proper at MBCR = 5.29 Farmer's response was positive and it gave a satisfying value on the introduction of technology package. Key words: Nutmeg fruit, control, dry blight Maluku Utara adalah salah satu daerah sentra tanaman pala dengan tingkat produktifitas 0,25 t/ha. Rendahnya produktifitas salah satunya disebabkan tingginya tingkat serangan penyakit busuk kering pada buah pala yaitu hingga 50%. Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan teknologi produksi yang efektif mengendalikan penyakit busuk kering, meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Kajian dilakukan di Kelurahan Jaya, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, dari bulan Maret sampai November 2006 dengan menggunakan pendekatan sebelum dan sesudah perlakuan. Jumlah petani kooperator 12 orang dan masing-masing memiliki 10 pohon pala yang produktif dan berumur diatas 15 tahun. Paket teknologi introduksi yaitu teknik mekanis + kultural + kimia dan sebagai pembanding yaitu teknologi petani. Parameter pengamatan adalah jumlah buah sehat, buah terserang penyakit, intensitas serangan penyakit, produksi buah pala dan respon petani terhadap teknologi. Kelayakan teknologi secara teknis dan finansial diukur dengan indikator R/C, B/C dan MBCR. Hasil pengkajian diperoleh paket teknologi introduksi yang efektif mengendalikan penyakit busuk kering buah pala hingga 28,7%, meningkatkan produksi buah pala sehat sebesar 76,1% dan menambah pendapatan petani sekitar 76,1%. Nilai R/C : 7,75 dan B/C : 6,75 menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi layak untuk dilakukan sedangkan MBCR = 5,29 menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi dapat diterima oleh petani dan layak direkomendasikan. Respon petani positif dan memberikan nilai yang memuaskan terhadap introduksi paket teknologi.Kata kunci : Pala, pengendalian, busuk kerin

    STRATEGI PENGELOLAAN DAN ANALISIS STATUS KEBERLANJUTAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN HALMAHERA TENGAH

    No full text
    The aim of the research is to construct the planning of the desirable dietary based on potential area in sustainability food security development frame. This research was done on a survey research basis. The types of data consist of primary and secondary data. The Rapfish method was used for continuing analysis, whereas the Analysis Hierarchy Process (AHP) method was used to decide the strategy for sustainability food security management. The results of this research are: I) the sustainability index or scales value of ecology dimension falls into "good" category, the cultural-society dimension is in -fine" category and the economy dimension is included in "less" category. And (2) Management strategy in an attempt to achieve the sustainability of food security in Central Halmahera is 'low food price' as the first priority, this is then followed by the increases of food production, farming incentive, friendl environmental in agriculture, eradication of poor society, and the improvement of human resource quality Key words: management strategy, food security, sustainability, Central Halmahera.   Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan pangan harapan berbasis potensi wilayah dalam kerangk pembangunan ketahanan pangan berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian survey. Jenis data yank digunakan adalah data primer dan data sekunder. Untuk analisis keberlanjutan digunakan metode rapfish selanjutnya untuk menentukan strategi pengelolaan ketahanan pangan digunakan metode Analysis Hierarchy Proces (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi termasuk kategori baik dimensi sosial-budaya termasuk kategori cukup dan dimensi ekonomi termasuk kategori kurang berkelanjutan pa skala sustainabilitas, 2) Strategi pengelolaan dalam upaya pencapaian ketahanan pangan berkelanjutan di Kabupaten Halmahera Tengah adalah harp pangan murah sebagai prioritas pertama, diikuti peningkatan produksi pangan insentif usahatani, pertanian ramah lingkune,an, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas SDM. Key words: strategi manajemen, ketahanan pangan, keberlanjutan, Halmahera Tenga

    UJI TEKNOLOGI PEMBUATAN SIRUP MARKISA SKALA RUMAH TANGGA

    Get PDF
    This study aimed at assessing quality of passion fruit juice and profitability level through application ofintroduced processing technology compared to existing farmers’ technology. The study was conducted in Cikorovillage, Gowa district, since April to December 2000. There were 24 sample farmers divided into two groups. Thefirst group applied introduced technology, while the other group practiced existing technology. Each group had threereplications of experiments and each group treated 6,000 pieces of passion fruits. Passion fruit juice of each group wasexamined chemically and using organoleptic test. Results comparison of the two groups was carried out using t-test.The results showed that (1) passion fruit juice processed using introduced technology had better quality, namelystronger flavor, higher contents of acid and vitamin C, and no coagulation during one-month storage; (2) applicationof introduced processing technology resulted in higher profit than that of existing technology, namely Rp,464,520(B/C ratio of 1.38 and R/C ratio of 2.38) compared to Rp 1,762,670 (B/C ratio of 1.08 and R/C ratio of 2.08).Key words: juice, Passiflora edulis, household, processing technology Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui mutu sari buah dan keuntungan yang diperoleh dengan penerapanteknologi yang diperbaiki dan teknologi petani dalam pembuatan sirup markisa skala rumah tangga. Pengkajiandilaksanakan di Kelurahan Cikoro, Kabupaten Gowa pada bulan April hingga Desember 2000, melibatkan 24 petaniyang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama membuat sari buah markisa melalui penggunaan teknologiintroduksi, sedangkan kelompok lainnya menggunakan teknologi petani. Kegiatan pembuatan sirup markisa darimasing-masing teknologi tersebut diulang tiga kali. Sirup markisa dari kedua kelompok tersebut diuji secara kimiadan organoleptik serta dibandingkan dengan menggunakan uji t. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa : (1) mutu saribuah yang dihasilkan dengan teknologi introduksi memiliki beberapa keunggulan, yaitu aroma yang lebih kuat,kandungan asam dan vitamin C lebih tinggi, dan tidak terjadi pengendapan selama sebulan dalam penyimpanan; (2)penggunaan teknologi introduksi memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi petani,yaitu masing-masing sebanyak Rp. 2.464.520 (B/C ratio 1,38 dan R/C ratio 2,38) dan Rp. 1.762.670,- (B/C ratio 1,08dan R/C ratio 2,08) dari pengolahan 6000 buah markisa.Kata kunci : juice, Passiflora edulis, rumah tangga, teknologi pengolaha

    KAJIAN KETAHANAN VARIETAS KENTANG TERHADAP SERANGAN PENYAKIT Phytophthora infestans DI KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA

    Get PDF
    The Study of Potato Variety Assessment Resistence for Phytophthora infestans Disease in District Karo, North Sumatra. Potate is a main potential commodity in  North Sumatra where the poduction was marketed to fulfill local and regional needs. This research was done in Cinta Rakyat Village, Simpang Empat Subdistrict, Karo Regency, North Sumatra which was located at 1,250 m above the sea level.  In this research four vatrieties were used; Granola, Atlantik, Kikondo, Margahayu and 0981-1085 Strains which were arranged by random Block Design and each treatment repeated 5 times. The distance between these plants was 30 cm x 80 cm, the plot measurement was 3m x 4 m (50 plants). The distance between each treatment was 50 cm, the distance between each repetition was 100 cm. To protect this plant from diseases several materials were used; 20 t/ha manure, 200 kg/ha urea, 400 kg/ha SP- 36, 200 kg/ha ZA, 150 kg/ha KCl.  Where as pest control was adjusted with the local condition. The research results after 70 days of plantation showed that the lowest intensity of Phytophthora  infestans disease was found  in Strains 0981-1085 (64.45%) treatment, where as the highest intensity was found in Granola variety (79.75%). The highest production was found in Strains 0981-1085 (31.89 t/ha) treatment, whereas Granola variety only reach 12,95 t/ha.  The R/C value was Granola (1), Margahayu (1.6), Atlantik (1.8), Kikondo (2.2) and 0981-1085 (2.5).Tanaman kentang merupakan salah satu komoditas unggulan dan menjadi sentra di Sumatera Utara, produknya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional.  Kajian ini dilaksanakan di Desa Cinta Rakyat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ketinggian 1250 m dpl.  Varietas kentang yang digunakan, yaitu: varietas Granola, Atlantik, Kikondo Margahayu dan Galur 0981-1085.  Menggunakan Rancangan Acak Kelompok, setiap perlakuan diulang 5 kali.  Jarak tanam kentang 30 cm x 80 cm, jarak antar perlakuan 50 cm.  Pupuk yang digunakan: pupuk kandang ayam 20 t/ha, Urea 200 kg/ha, SP-36 400 kg /ha, ZA 200 kg/ha, KCl 150 kg /ha.  Pengendalian hama disesuaikan dengan kebutuhan.  Hasil kajian menunjukkan bahwa tanaman pada umur 70 hari setelah tanam (hst), intensitas serangan Phytophthora infestans terendah terdapat pada perlakuan 0981-1085 (64,45%) sedangkan intensitas serangan tertinggi terdapat pada perlakuan Varietas Granola (79,53%).  Produksi tertinggi terdapat pada perlakuan Galur 0981-1085 (31,89 t/ha), sedang Varietas Granola hanya mencapai 12,95 t/ha.  Hasil perhitungan antara penerimaan dan pengeluaran (R/C) memberikan nilai secara berturut-turut Granola (1), Margahayu (1,6), Atlantik (1,8), Kikondo (2,2) dan Galur 0981-1085 (2,5).  Dengan demikian, tanaman kentang Galur 0981-1085 dan Kikondo layak untuk ditanam

    PENGARUH SUMBER BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KENTANG DI KABUPATEN KERINCI, JAMBI

    Get PDF
    Quality seed supply is the main problem in potato farming. The assessment was aimed at analyzing sourcesof potato seeds’effect on yields and farmers’income. The study was conducted in Baru Pulau Sangkar Village,Batang Merangin District, Kerinci Regency on May to December 2003. Sources of seeds were (i) improved seeds ofBBU Pangalengan, West Java, and (ii) farmers’local seed of Kayu Aro, Kerinci Regency. The treatment was fertilizerrates, namely of Urea (150 kg/ha), SP-36 (450 kg/ha), KCl (300 kg/ha), ZA (150 kg/ha), and organic fertilizer (6,000kg/ha). Highest yield was achieved through application of improved seeds, namely 15,850 kg/ha with income of Rp29,030,000/ha, production cost of Rp 13,291,000/ha, and profit of Rp 15,739,000 or B/C ratio of 1.18. The localseeds’yield was 13,750 kg/ha with income of Rp 17,287,500, total cost of Rp 13,291,00, and profit of Rp3,996,500/ha or B/C ratio of 0.30. yield break event point of both seeds was 8,935.13 kg/ha and price break evenpoints of improved and local seeds were Rp 838.55/kg and Rp 966.62/kg, respectively.Key words: Solanum hybrid seed, indegenous seed, farm analysisPermasalahan dalam melakukan budidaya kentang selalu dihadapkan pada ketersediaan bibit bermutu, sehinggausaha pengembangan kentang sering tidak optimal. Permasalahan ini tidak saja berlaku untuk Provinsi Jambi, akantetapi secara umum dirasakan oleh petani kentang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruhsumber bibit terhadap pertumbuhan dan hasil usahatani kentang; dan mendapatkan informasi tentang kelayakanusahatani tanaman kentang dalam rangka meningkatkan produksi serta penerimaan petani. Penelitian dilaksanakan diDesa Baru Pulau Sangkar, Kecamatan Batang Merangin Kabupaten Kerinci pada ketinggian 800 m dari permukaanlaut dengan jenis tanah Andisol pada bulan Mei sampai Desember 2003. Sumber bibit yang diuji berasal dari (1) bibitunggul BBU Pengalengan Jawa Barat; dan (2) bibit lokal petani Kayu Aro Kabupaten Kerinci. Pemupukanmenggunakan dosis anjuran BPTP Jambi yaitu urea 150 kg, SP-36 450 kg, KCl 300 kg, ZA 150 kg dan pupuk organik6.000 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan produksi tertinggi diperoleh pada sumber bibit unggul 15.850 kg/ha,jumlah penerimaan Rp. 29.030.000,- dengan biaya produksi Rp. 13.291.000,- dan keuntungan bersih Rp. 15.739.000,-serta B/C ratio 1.18, sedangkan untuk sumber bibit lokal hasil 13.750 kg/ha, jumlah penerimaan Rp. 17.287.500,-biaya produksi Rp. 13.291.000,- dan keuntungan bersih Rp. 3.996.500,- serta B/C ratio 0,30. Titik Impas Produksiuntuk kedua sumber bibit tercapai pada hasil 8935,13 kg/ha, sedangkan Titik Impas Harga untuk bibit unggul telahtercapai pada harga Rp. 838,55/kg dan untuk sumber bibit lokal Rp. 966,62/kg.Kata kunci : bibit kentang unggul, bibit kentang lokal, analisis usahatan

    PREDIKSI EROSI TANAH PODSOLIK MERAH KUNING BERDASARKAN METODE USLE DI BERBAGAI SISTEM USAHATANI: Studi Kasus di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas

    No full text
    The USLE (Universal Soil Loss Equation) method is generally used to predict the soil erosion. The aim of this study is to apply this method to predict the erosion rate of soil in RYP (Red Yellow Podzolic or Ultisol) on different of farming systems (FS), i.e., rice up-land cassava, rice-corn-peanut, oil palm, and rubber with low capital. The soil samples used are taken from different precipitation location, i.e., North Barito Regency and Gunung Mas Regency in Central Kalimantan Province. The results indicated that the soil loss in RYP in Barito Utara is higher than that in Gunung Mas. The land use on FS of food crops without soil conservation can decrease the sustainability time of soil from 250 years to 38 years on rice up-land — cassava in North Barito. This indicates that the land use FS of crop estate is in line with the sustainability program. The improvement of soil conservation by building up the bench terrace can support the sustainability of soil in RYP on different FS of food crops. Key words: erosion, USLE, Red Yellow Podzolic Soil, farming system.   Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) umum digunakan untuk memprediksi erosi tanah. Tujuan penelitian ini menggunakan persamaan tersebut untuk memprediksi erosi di tanah PMK (Podsolik Merah Kuning atau Ultisol) pada SUT (Sistim Usaha Tani) berbeda yaitu: padi ladang-ubi kayu, padi-jagung-kacang tanah, kelapa sawit, dan karet dengan modal rendah. Contoh tanah diambil di lokasi berbeda kondisi curah hujan, yaitu dari Kabupaten. Barito Utara dan Kabupaten Gunung Mas, Propinsi Kalimantan Tengah. Hasil pendugaan erosi menunjukkan kehilangan tanah di PMK Barito Utara lebih tinggi daripada di Gunung Mas. Pengelolaan SUT tanaman pangan tanpa perbaikan tindakan konservasi menurunkan kelestarian tanah dari 250 tahun menjadi 38 tahun di SUT padi ladang-ubi kayu di Barito Utara. Pengelolaan SUT perkebunan sejalan dengan kelestarian tanah. Perbaikan teknik konservasi tanah dengan membangun teras bangku mampu mendukung kelestarian tanah PMK pada SUT tanaman pangan.Kata kunci: erosi, USLE, Podsolik Merah Kuning, sistim usaha tani

    PENGARUH PANJANG STEK AKAR DAN KONSENTRASI NATRIUM- NITROFENOL TERHADAP PERTUMBUHAN STEK AKAR SUKUN (Artocarpus communis F.)

    Get PDF
    The purpose of this study was to determine the effect of cutting length and natrium-nitrofenolconcentration as well as its interaction on growth of the bread fruit cutting. The experiment was conducted fromMay to September 1997 at field garden of Local Assessment Institute for Agricultural Technology Samarinda(LPTP Samarinda). The study was used Randomized Block Design by factorial analysis, with three replications.The first factor was cutting length (P) with consisted of four levels, i.e.: 10 cm (P1), 15 cm (P2), 20 cm (P3) and 25cm cutting length (P4). The second factor was natrium-nitrofenol concentrations (A) with consisted of four levels,i.e.: 0 ml natrium-nitrofenol /l water (A0), 1 ml natrium-nitrofenol / l water (A1), 2 ml natrium-nitrofenol /l water(A2) and 3 ml natrium-nitrofenol /l water (A3). The result of this study showed that the interaction cutting lengthand natrium-nitrofenol concentration was significant on the plant height, and root length at 16 weeks. Cuttinglength (P) was significant on the bud growth, and plant height at 16 weeks. On the other hand, natrium-nitrofenolconcentration treatments (P) were highly significance on the bud growth, plant height at 16 weeks, bud number,root number and root length. Its technique expected can be used to multiplication or supplying of high qualitycutting length of breadfruit.Key words: bread fruit, cutting length, natrium-nitrofenol Untuk mengetahui pengaruh panjang akar sukun dan konsentrasi natrium-nitrofenol dan interaksinya,telah dilakukan penelitian dari bulan Mei sampai September 1997 di kebun percobaan Loka Pengkajian TeknologiPertanian Samarinda (LPTP Samarinda). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan AcakKelompok (RAK) dengan analisis faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah panjang stek (P) yangterdiri dari empat taraf yaitu: panjang stek 10 cm (P1), 15 cm (P2), 20 cm (P3) dan 25 cm (P4). Sebagai faktorkedua adalah konsentrasi natrium-nitrofenol (A) terdiri atas empat taraf yaitu natrium-nitrofenol 0% atau air(A0), natrium-nitrofenol 0,1 persen atau 1 ml natrium-nitrofenol/liter air (A1), natrium-nitrofenol 0,2 persen atau2 ml natrium-nitrofenol/1iter air (A2) dan 0,3% atau 3 ml natrium-nitrofenol/liter air (A3). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa interaksi perlakuan panjang stek dan konsentrasi natrium-nitrofenol berpengaruh terhadaptinggi tanaman umur 16 minggu. Panjang stek (P) berpengaruh terhadap rata-rata saat muncul tunas, jumlah tunasdan jumlah akar dan berpengaruh sangat nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman 16 minggu, panjang akar.Perlakuan konsentrasi natrium-nitrofenol (A) berpengaruh sangat nyata terhadap rata-rata saat muncul tunas,tinggi tanaman pada umur 16 minggu, jumlah tunas, jumlah akar dan panjang akar. Teknik pembibitan inidiharapkan dapat berperan dalam perbanyakan atau pengadakan bibit sukun yang bermutu.Kata kunci: sukun, panjang stek , natrium-nitrofeno

    KAJIAN SISTEM USAHATANI BUAH KESEMEK (Diosphyros kaki L.f) DAN PERMASALAHANNYA DI KABUPATEN GARUT – JAWA BARAT

    Get PDF
    The research was conducted at Barusuda and Giriawas Villages (Cikajang District), and Cisurupan Village(Cisurupan District), Garut Regency, West Java Province from September to October 2002. Data collection wascarried through a survey using semi-structure questionnaires from 50 respondents (producing-farmer, persimmonhome industry owners, intermediate sellers, local community, and agricultural officers). The research aimed toidentify the persimmon agribusiness system. Persimmon farming was carried out in a simple manner characteristizedby: (1) minimum maintenance (without fertilizer and plant protection effort), (2) manual harvest, and (3) diversifiedplants spacing, cultivars and ages of the tress. Yileds of persimmon varied from 25 –200 kg/tree, and yeild of Kapascultivar was higher than that of Reundeu. Average farmer’s tree ownership was 101 trees/farmer. Post-harvestactivities were carried by local intermediate sellers. Benefits of the producing-farmers were 1/43 of thoseagroindustries’owners (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 98,942,500.00/year), and 1/34 times benefit of the localintermediatae-sellers (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 77,931,00.00/year). The producing-farmers were lack of extensionin plants practice. The intermediate sellers and owners of persimmon home industry were lack of knowledges onharvest and post-harvest processes, and processed-fruit products diversification.Key word : Diospyros kaki, farming system, post-harvest, home industry, GarutPenelitian ini di laksanakan di Desa Barusuda dan Desa Giriawas (Kecamatan Cikajang), serta DesaCisurupan (Kecamatan Cisurupan), Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Bulan September sampai dengan Oktober 2002,dengan metode survai menggunakan kuesioner semi terstruktur pada 50 responden : (petani-produsen; pengrajinindustri pengolahan kesemek; pedagang-pengumpul; tokoh masyarakat; dan petugas pertanian) untuk dua kecamatan.Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara; pengamatan langsung, dan pengukuran. Tujuanmengidentifikasi sistem budidaya pada tingkat petani dan sistem pemasarannya, serta permasalahan dan upayapenanggulangannya. Hasil penelitian menunjukan, bahwa budidaya kesemek di tingkat petani masih dilakukan secarasederhana, dengan karakteristik : (1) pemeliharaan minimum (tanpa pupuk dan upaya proteksi tanaman); (2)pemanenan dengan cara manual (dipetik), serta (3) jarak tanam, kultivar dan umur tanaman beragam. Hasil kesemek25-200 kg/ph, kultivar Kapas lebih tinggi dibandingkan kultivar Reundeu. Pemilikan pohon petani rata-rata 101,3ph/org, Penanganan fungsi pascapanen sudah ada, namun dilakukan oleh pedagang-pegumpul (Bandar Lokal) danpengrajin industri pengolahan bukan oleh petani-produsen. Keuntungan petani-produsen setara dengan 1/43keuntungan pengrajin industri pengolahan sale (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio 3,40 vs Rp 98.942.500,00/th-B/C rasio2,14), dan 1/34 dari keuntungan pedagang-pengumpul desa/kecamatan (Bandar Lokal) (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio3,40 vs Rp 77.931.000,00/th-B/C rasio 0,94). Permasalahan pada petani-produsen adalah kurangnya upaya pembinaanpetugas dalam teknik budidaya, terutama dalam rangka peningkatan kuantitas hasil panen dan produksi. Sedangkanpada pedagang-pengumpul dan pengrajin industri pengolahan umumnya mengharapkan bimbingan dan introduksiteknologi alat dan proses pada aspek panen dan pascapanen, serta diversifikasi produk olahan kesemek. Upayapelatihan tentang berbagai aspek dari sistem produksi kesemek juga diperlukan bagi petugas lingkup pertaniansetempat.Kata kunci : kesemek, usahatani, pascapanen, industri pengolahan, Garu

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇