Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    PEMETAAN DAN PENGELOLAAN STATUS KESUBURAN TANAH DI DATARAN WAI APU, PULAU BURU

    Get PDF
    Research was aim to make map of soil fertility status and its management on farmland in Plain of Wai Apu,Buru Island have been conducted at 25.400 ha area, in year 2000. Evaluate of soil fertility status conducted in eachsoil-mapping unit and delineated with landscape mapping approach. Result of research that soil fertility status in Plainof Wai Apu is very low, low, middle and high, with wide respectively 17.145, 5.182, 1.549 and 1.542 ha. Limitingfactor to soil fertility is lowering of cation exchange capacities (CEC), C-Organic, K2O, P2O5 and base saturation.Alternative of land management suggested is improving C-organic and CEC which at the same time also can improvesoil nutrient content by giving organic materials like manure, straw compost (rich of K), chicken waste and guano(rich of P), accompanied with giving of inorganic manure like N, P, and K pursuant to soil chemical analysis. At areawith landform undulating to hilly needed conservation act, while mangrove forest, river border forest and sago whichis damage to be rehabilitated, while which still natural to be defended.Key words : mapping, soil fertility, Buru islandPemetaan status tanah dapat digunakan untuk mengetahui faktor pembatas kesuburan tanah pada suatu areasehingga dapat dilakukan pengelolaan tanah berdasarkan faktor pembatas yang ditemukan. Penelitian ini bertujuanuntuk memetakan status kesuburan tanah dan alternatif pengelolaannya pada tanah-tanah pertanian di Dataran WaiApu, Pulau Buru telah dilakukan pada areal seluas 25.400 ha. Evaluasi status kesuburan tanah dilakukan pada tahun2000, terhadap setiap satuan unit tanah yang didelineasi berdasarkan pendekatan landscape mapping. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa status kesuburan tanah di Dataran Wai Apu adalah sangat rendah, rendah, sedang dan tinggidengan luasan berturut-turut 17.145, 5.182, 1.549 dan 1.542 ha. Faktor pembatas kesuburan tanah yang ditemukanadalah rendahnya nilai kapasitas tukar kation (KTK), C-organik, K2O, P2O5 dan kejenuhan basa. Alternatifpengelolaan tanah yang disarankan adalah meningkatkan C-organik dan KTK yang sekaligus juga dapat meningkatkankandungan hara dalam tanah, dengan cara memberikan bahan organik seperti pupuk kandang, kompos jerami(kaya K), kotoran ayam dan guano (kaya P), yang disertai dengan pemberian pupuk anorganik N, P, dan Kberdasarkan analisis kimia tanah. Pada areal dengan bentuk wilayah berombak sampai berbukit diperlukan tindakanpengawetan tanah dengan menanggulangi erosi, sedangkan daerah hutan mangrove, sagu dan hutan sempadan sungaiyang rusak dianjurkan untuk direhabilitasi sedangkan yang masih utuh untuk dipertahankan.Kata kunci : pemetaan, kesuburan tanah, Pulau Bur

    ANTISIPASI DAN STRATEGI PEMENUHAN KEBUTUHAN TEKNOLOGI DALAM MENDUKUNG PENGKAJIAN DI BPTP

    Get PDF
    Ready-to-use technologies generated by the Research Agencies are required to support visions andmissions carried out by Assessment Institutes of Agricultural Technology (AIATs). This paper aims to analyzetechnologies required by AIATs and means to meet them. The analyses consist of: (1) assessment planning, (2)basic decision on technologies required, (3) sources of technologies and their availability, (4) procedures andmechanism of technologies provision, and (5) performance and effectiveness of technologies use. The studyshows that: (1) decision on specific location technologies requirement remains persistent problem for AIAT’s.Limited skilled human resources lead to unrevealed problems in many regions into the assessment planning, (2)In the AIAT’s planning programs, decision on technologies used in the assessment does not rely on availabletechnologies at the Research Agencies. This is due to limited abilities of researchers at the AIATs to access theResearch Agencies’ research results, and (3) To attain the Research Agencies’ technologies the researchers at theAIATs perform it through personal contacts or publications.Key words: strategy, requirement, technologiesDi dalam mendukung dan memantapkan pelaksanaan visi dan misi Lingkup Balai PengkajianTeknologi Pertanian (BPTP) dibutuhkan kesinambungan ketersediaan komponen teknologi matang dari BalaiPenelitian (Balit) untuk mendukung penelitian dan pengkajian yang dilakukan BPTP. Tulisan ini bertujuan untukmenganalisis kebutuhan teknologi di BPTP dan upaya pemenuhannya. Cakupan dalam analisis meliputi: (1)perencanaan kegiatan pengkajian, (2) dasar penentuan kebutuhan teknologi, (3) sumber perolehan teknologi danketersediaannya, (4) prosedur dan mekanisme pengadaan teknologi, dan (5) kinerja dan efektivitas pemanfaatanteknologi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa: (1) penentuan kebutuhan teknologi spesifik lokasi masihmerupakan satu permasalahan tersendiri bagi BPTP. Terbatasnya ketersediaan sumberdaya manusia menurutberbagai bidang keahlian, menyebabkan tidak semua masalah di daerah teraktualisasi dalam perencanaankegiatan pengkajian, (2) dalam perencanaan kegiatan di BPTP, dasar penentuan teknologi yang digunakan dalampengkajian belum sepenuhnya mengacu kepada ketersediaan teknologi di Balit. Hal ini lebih banyak disebabkanoleh keterbatasan kemampuan peneliti BPTP mengakses hasil penelitian di Balit dan (3) Dalam upaya untukmendapatkan teknologi dari Balit, peneliti BPTP lebih banyak melalui kontak pribadi atau melalui mediaperantara (publikasi).Kata kunci : kebutuhan teknologi, kebijakan strategis, penelitian dan pengkajian

    THE DYNAMICS OF WET RICE FIELD FARMING- SYSTEM ORIENTATION IN BLITAR AND TULUNGAGUNG DISTRICTS, EAST JAVA

    Get PDF
    Pertanian yang dilakukan di lahan sawah tidaklah statis, tetapi terus berubah dan beradaptasi dalamlingkungn yang ada. Penentuan jenis komoditas yang dipilih oleh petani termasuk mengkombinasikan tanamandan ternak dalam usahataninya terus dilakukan. Dinamika usahatani dalam upaya pemenuhan kebutuhanrumahtangga petani terus mengalami perkembangan. Pengkajian yang dilakukan di beberapa lokasi daerah sawahdi dua kabupaten yaitu Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur pada musim tanam 2000/2001 memperlihatkanbeberapa hal menarik. Sektor peternakan serta perikanan telah menjadi pilihan utama bagi petani di lokasi studidan mulai menggeser komoditas dominan seperti tanaman pangan dan hortikultura. Hal tersebut dapat dilihat darikepemilikan asset, alokasi curahan waktu kerja dan struktur sumber pendapatan rumahtangga yang menunjukkanperan subsektor peternakan cukup dominan. Perubahan orientasi dan dinamika usahatani yang terjadimemperlihatkan adanya keinginan kuat dari petani untuk terus menjaga keseimbangan dan keberlanjutan usahatanimereka. Untuk kasus di Blitar dan Tulungagung perubahan tersebut dengan lebih mengandalkan subsektorpeternakan di masa yang akan datang.Kata kunci : lahan sawah, orientasi usahatani, struktur pendapatan Lowland agriculture practice is dynamic and changes overtime in accordance with environmentalsettings. The farmers determine optimal combination of crops and livestock and it is carried out to achievemaximal households’ income. The study was implemented in lowland areas of Blitar and Tulungagung districts,East Java province on planting season of 2000/2001. The farmers preferred livestock and fishery sub sectors ratherthan previous dominant commodities, such as food crops and horticulture. Assets ownership, labor allocation, andstructure of households’ income sources showed that the role of livestock sub sector was relatively dominant.Orientation changes and dynamics of farming system revealed that the farmers kept sustaining their farm business.Especially in Blitar and Tulungagung districts, changes in farming system orientation rely on livestock sub sectorin the future.Key words: lowland field, farming system orientation, income structur

    ANALISIS FINANSIAL BUDIDAYA TOMAT DI DATARAN RENDAH SULAWESI TENGAH

    Get PDF
    The main problem at tomato farm level is low yield compared to potential production. Objective of theresearch was to find out the appropriate packaged technology of tomatoes farming on low elevation. The research wasconducted at Labuan Toposo village, Sub district of Tawaeli, district of Donggala, from December 2003 to April2004. Randomized Complete Block Design was used with five replications. There are three packaged technology wereused : (A) introduce packaged-1 technology, (B) introduce packaged-2 technology, and (C) farmers packagedtechnology as usual. Results of the research showed that the introduce packaged-2 technology was highest in yield andthen followed by introduce packaged-1 technology, while the farmer packaged technology as the lowest. The cost ofthe production for introduce packaged-2 technology is Rp. 16.022.000,-/ha, with the highest of labour cost (Rp.8.000.000,- or 49,9% from total cost), followed by ather cost such as bambooes for stick, fertilizer, pestiside, landrent and the seed is the lowest cost. On the production level of 55,13 t/ha and range of yield price from Rp. 500 – Rp.1.250/kg will get the net income of tomato farm with packaged-2 technology as Rp. 37.069.250, with packaged-1technology were Rp. 20.292.150 and at farmers level is only Rp. 8.089.750. Furthermore, R/C ratio for packaged-2technology were 3,31; packaged-1 technology were 2,30, and farmers level of 1,54. Efficiency level of packkaged-2technology was high than others.Key words : Lycopersicon esculentum, financial analysis, cultivation systems, Central SulawesiPotensi lahan di Sulawesi Tengah masih cukup luas untuk pengembangan tanaman tomat. Permasalahanusahatani tomat di tingkat petani adalah produksi masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi produksi yangada. Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi budidaya yang sesuai dan secara ekonomis paling layakdigunakan pada usahatani tomat di dataran rendah. Kajian ini dilaksanakan di Desa Labuan Toposo, KecamatanTawaeli, Kabupaten Donggala, pada bulan Desember 2003 sampai April 2004. Kajian ini menggunakan rancanganacak kelompok dengan lima ulangan. Ada tiga paket teknologi budidaya yang dikaji, yaitu : (A) paket introduksi-1,(B) paket introduksi-2, dan (C) paket teknologi menurut kebiasaan petani (sebagai pembanding). Hasil kajianmenunjukkan bahwa dari tiga paket teknologi budidaya yang dikaji, paket introduksi-2 menghasilkan produksi buahyang paling besar, kemudian diikuti oleh paket introduksi-1, dan yang paling rendah adalah paket petani. Biayaproduksi usahatani tomat dengan menggunakan paket introduksi-2 adalah Rp. 16.022.000,- per hektare, dengan biayaterbesar pada tenaga kerja Rp.8.000.000,- (49,9 %), kemudian diikuti berturut-turut oleh biaya tiang penyangga,pupuk, pestisida, sewa lahan dan biaya paling sedikit adalah biaya bibit. Pada tingkat produksi 55,13 t/ha dan hargaantara Rp.500 – Rp. 1.250,-/kg, pendapatan bersih usahatani tomat dengan menggunakan paket introduksi-2 adalahRp.37.069.250,-, paket introduksi-1 Rp. 20.292.150,- dan paket petani Rp. 8.089.750,-. Pada tingkat produksi danharga tomat tersebut di atas, hasil perhitungan R/C ratio untuk paket introduksi-2 adalah 3,31, paket introduksi-1adalah 2,30 dan paket petani 1,54. Meskipun ketiga paket teknologi budidaya tersebut masih memberikan keuntungan,namun tingkat efisiensi tertinggi dicapai pada paket introduksi-2.Kata kunci : Lycopersicon esculentum, analisis finansial, sistem budidaya, Sulawesi Tenga

    ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGEMBANGAN INDUSTRI KELAPA TERPADU SKALA PEDESAAN DI SULAWESI UTARA

    No full text
    Feasibility Analisis on The Developmet of Rural Scale Integrated Coconut Industry in North Sulawesi. Based on the coconut potencial at the rural of coconut central in North Sulawesi indicates that there can be built coconut industry exertion integratedly so that the economical coconut value of the farmers will be shifted to the processed product. The aim of this research is to know the worthiness of developing the integrated coconut industry. The rusult showed that some central villages of coconut have the opportunity to be built integrated coconut industries with the products of more than 200 ton/rural/year. The economical value of famers' coconut depends on the primary product, such as coconut shells or copra with the price or 400-500 rupiahs/granule, or 2000-2500 rupiahs/kg of copra. The analysis result of financial indicated that the products of VCO, nata de coco, vinegar acid, charcaol and fiber husk are profitable things, for commercial exertion with the value of B/C is greater than 1, NPV is positive, and IRR value is greater than the rate of return. By applying this integrated industrial exertion, its production value is more than 1 milliard rupiahs or NPV is more than 600 million rupiahs/rural/year. Comparing with the primary products it only has production value of 225 million rupiahs or its NPV only 112.5 million rupuiahs. Beside of that from this exertion it can absorb labourers at least 12-15 workers with the value of 180-225 million rupiahs/year. By the existence of the integrated coconut industry at the rural of coconut central, the economical value of coconut can achieve to 5-7 times from the primary product. Key words: Feasibility exertion, coconut industry, processed, rural Berdasarkan potensi kelapa di Sulawesi Utara, pada desa-desa sentra kelapa sangat berpeluang untuk dibangun usaha industri kelapa secara terpadu sehingga nilai ekonomi kelapanya di tingkat petani akan beralih pada beberapa produk olahan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan usaha pengembangan industri kelapa secara terpadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di desa-desa sentra kelapa berpeluang untuk dibangun industri kelapa secara terpadu dimana pada lokasi ini mempunyai potensi produksi kelapa setara kopra lebih dari 200 t/desa/tahun. Nilai ekonomi kelapa yang dinikmati petani masih sangat tergantung dari produk primer, berupa butiran atau kopra dengan harga masing-masing Rp.400 — Rp.500/butir atau Rp.2.000— Rp.2500/kg. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha industri berupa produk VCO, nata de coco, asam cuka, arang tempurung, dan serat sabut adalah layak atau menguntungkan untuk usaha komersial dengan nilai B/Clebih besar 1, NPV bernilai positif, serta nilai IRR lebih besar dari rate of return. Melalui penerapan usaha industri ini secara terpadu diperoleh nilai produksi lebih dari Rp.1 milyar atau nilai kini bersih lebih dari Rp.600 juta/desa/tahun. Dibandingkan dengan produk primer saja hanya diperoleh nilai produksi Rp. 225 juta atau nilai pendapatan bersih hanya Rp.112.5 juta/tahun.. Selain itu, dari usaha ini dapat menyerap tenaga kerja sepanjang tahun sekitar 12-15 orang dengan nilai Rp.180 juta—Rp.225 juta/tahun. Dengan adanya usaha industri kelapa secara terpadu pada desa-desa sentra kelapa, nilai ekonomi kelapa meningkat sekitar 5-7 kali dari produk primer.Kata kunci: Kelayakan usaha, industri kelapa, olahan , pedesaa

    PENGARUH KONSENTRASI TEPUNG BERAS KETAN TERHADAP MUTU DODOL PALA

    Get PDF
    Effect of Glutinuous Rice Concentrate to The Quality of Nutmeg Taffy. The development of nutmeg(Myristica fragran Hout) is aimed to diversify processed product to create food for human consumption. Nutmegtaffy is a diversified product from nutmeg so that it is could be utilized rather than wasted. Nutmeg taffy is a newproduct compared to sweetened jam, candy and syrup nutmegs. The objective of this study was to find out theconcentration of glutinous rice to produce good quality of nutmeg taffy. This experiment was conducted at postharvest laboratory in BPTP Maluku and Agricultural Product Technology Laboratory, Faculty of Agriculture andChemical Laboratory, University of Patimura conducted from June to August 2007. There were five treatments ofglutinous rice concentrations were used, 0%, 0%, 20%, 30% and 40%, with three replication for each treatment.Data was analyzed using Complete Randomized Design, and the mean values were further analyzed using 5%BNJ different test. The result showed that 30% glutinous rice concentration was the best compared to orderconcentration, because this level has considered as good quality according to Indonesian Industrial Standard.Key word : Nutmeg, soft rice, taffy Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt), dalam pengembangannya bertujuan untuk mewujudkan tujuandiversifikasi olahan pangan menjadi produk makanan yang dapat dikonsumsi manusia. Dodol pala merupakandiversifikasi daging buah pala, sehingga daging buah pala yang banyak terbuang dapat dimanfaakan. Dodolpala merupakan produk yang baru, bila dibandingkan dengan manisan pala, selei pala, permen pala dan siruppala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi tepung beras ketan yang cocok menghasilkandodol pala dengan mutu yang baik. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen BPTP Malukudan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian-Universitas Patimura, dan LaboratoriumKimia-Universitas Pattimura. yang berlangsung pada bulan Juni sampai bulan Agustus 2007. Kombinasiperlakuan terdiri dari 5 (lima) perlakuan dengan 3 (tiga) ulangan yaitu konsentrasi tepung beras ketan 0%,0%, 20%, 30% dan 40%. Data dianalisa statistik dengan rancangan RAL faktorian yang dilanjutkan denganuji beda BNJ 5 %. Berdasarkan hasil Penelitian , konsentrasi tepung beras ketan 30% menghasilkan mutudodol pala yang baik, karena dapat memenuhi syarat mutu dodol pala menurut Standar Industri Indonsia (SII)Kata kunci :Pala, beras lembut, dodo

    ANALISIS PENDAPATAN DAN PEMASARAN PADI ORGANIK METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) (Kasus di Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya)

    No full text
    Income and Marketing Analyze for Organic Rice with System of Rice Intensification (SRI) Methode (a Case Study at Sukagalih Village, Sukaratu Sub-district, Tasikmalaya Regency. This research was aimed to analyze income and marketing of rice farming organic in Sukagalih Village, Sukaratu Sub Distric, Tasikmalaya. Qualitative and quantitative analyses were used as analytical methods. Qualitative analysis was done to discuss the structure and marketing chanel. Quantitative analyses were consists of farming profitability and R/C. Results of this research indicated that R/C to total costs of farming using System of Rice Intensification (SRI) method were higer than that of conventional rice farming, and R/C of farming operated by land owners were higer than that of tennant farmers. Result of marketing channels and market structure analyses showed that the marketing channel 4 (farmer, PPTD, PBLD, retailer and consumer) was the one that were more practiced compare to the other channels. Key words: Income analysis, marketing chanel, rice farming organic, SRI method.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani dan pemasaran padi organik di Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui struktur pasar dan saluran pemasaran padi organik metode System of Rice Intensification (SRI). Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani dan analisis R/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis R/C atas biaya total pada usahatani padi organik memiliki rasio lebih besar dibandingkan dengan R/C pada usahatani konvensional, dan R/C usahatani padi yang dilaksanakan petani pemilik penggarap lebih besar dibandingkan dengan rasio tersebut bagi petani penyakap. Berdasarkan analisis saluran dan struktur pasar, dapat disimpulkan bahwa saluran IV (Petani, Pedagang Pengumpul Tingkat Daerah, Pedagang Besar Luar Daerah, Pedagang Pengecer dan konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling banyak dilakukan dibandingkan saluran pemasaran yang lainnya. Kata kunci: Analisis pendapatan, saluran pemasaran, usahatani padi organik, metoda SRI

    PENGELOLAAN LIMBAH CAIR USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH MELALUI PENERAPAN KONSEP PRODUKSI BERSIH

    Get PDF
    Development activities should take into account the environment capacity and quality. Dairy farm businesswith scale more than 20 cattle’s and located in same place tends to pollute environment, but better waste managementapplied will give an aditional benefit to the environment. Dairy farm system applying cleaner production was analternative in minimizing cattle waste. This study aimed to evaluate the benefit of dairy farm system life cycleapplying cleaner production and how much the pollutant concentration in liquid waste could be minimized. Datacollected were life cycle process of dairy farm system, waste management system and characteristics of liquid wasteof dairy farm. Water samples collected three times from liquid waste tanks were analyzed in Chemistry LaboratoryFaculty of Mathematics and Life Sciences, University of Sebelas Maret, Solo. The results were compared to thequality standard of liquid waste. The result showed that integrated farming system applying cleaner production asable to increase additional benefit for the farming system (B/C Ratio > 1) and reduced the liquid waste discharged tothe environment. The result, of water quality were (pH = 7.25; Total Dissolved Suspension (TDS) = 804 mg/L; TotalSolid Suspension (TSS) =356 mg/L; Chemistry Oxigen Demand (COD) = 48 mg/L; Biology Oxigen Demand (BOD)= 240 mg/L; Nitrite = 0.06 mg/L; Nitrate = 0.09 mg/L; NH3-N = 0.39 mg/L; H2S = 0.54 mg/L). These concentrationswere still below the maximum quality standard allowed.Key words : dairy cattle, wastes, cleaner production, Solo Kegiatan pembangunan peternakan perlu memperhatikan daya dukung dan kualitas lingkungan. Usahapeternakan sapi perah dengan skala usaha lebih dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi akan menimbulkan pencemaranterhadap lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh pengelolaan limbah yang belum dilakukan dengan baik, tetapikalau dikelola dengan baik, limbah tersebut memberikan nilai tambah bagi usaha peternakan dan lingkungan disekitarnya. Sistem usaha peternakan dengan penerapan produksi bersih merupakan salah satu upaya yang dapatdilakukan dalam meminimisasi limbah ternak. Penelitian tentang Pengelolaan Limbah Cair Sapi Perah MelaluiPenerapan Produksi Bersih ini telah dilakukan di CV. Lembah Hijau Multifarm (LHM) Solo, Jawa Tengah. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan limbah padat dan cair sapi perah melalui penerapan produksibersih dan berapa besar kadar polutan dalam limbah cair ternak dapat diminimisasi. Data yang dikumpulkan meliputiproses daur hidup sistem usaha peternakan, sistem pengelolaan limbahnya dan karateristik limbah cair sapi perah.Contoh air diambil sebanyak tiga kali dan dianalisis di Lab. Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Sebelas Maret, Solo dan dibandingkan dengan baku mutu limbah cair. Hasil penelitian menunjukkan daurhidup sistem usahatani yang dilakukan mampu meningkatkan keuntungan bagi sistem tersebut (B/C Ratio >1) danmengurangi limbah yang terbuang ke lingkungan. Hasil analisis kualitas air adalah Derajat Keasaman (pH) = 7,25;Total Dissolved Suspention (TDS) = 804 mg/L; Total Solid Suspention (TSS) = 356 mg/L; Chemistry Oxigen Demand(COD) = 483 mg/L; Biology Oxigen Demand (BOD) = 240 mg/L; Nitrit = 0,003 mg/L; Nitrat = 0,09 mg/L; NH3-N =0,39 mg/L; H2S = 0,54 mg/L. Kadar polutan dalam limbah cair tersebut semuanya masih berada di bawah baku mutulimbah cair maksimum yang diperbolehkan.Kata kunci : usaha peternakan sapi perah, limbah, produksi bersih, Sol

    TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA Plutella xylostella DENGAN INSEKTISIDA DAN AGENSIA HAYATI PADA KUBIS DI KABUPATEN KARO

    Get PDF
    Plutella xylostella is the main pest of cabbage crops and it could cause harvest loss around 50 to 100 percentif no pesticides application. Most farmers in Karo District control the pest using various pesticides with highconcentration rates and short control interval that leads to high pesticide residual in cabbage crops and lowering exportcompetitiveness. The study was conducted in Karo District in 2001. P. xylostella was controlled using biologicalagents, namely Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana, farmers’ practice (using pesticides), control (no treatment).The assessment was carried out using demonstration plots. There were 18 participating farmers divided into 3 groups.Each group comprised 4,000 m2 of land including border plants and each group functioned as replication. Areas oftreatment plots were 650 m2 each, but those of control were 250 m2 each. Distance among treatment plots was 1.5meters, and distance between border and treatment plants was 1.5 meters. The results showed that B. thuringiensis, B.bassiana, and farmers’ practice could contain P. xylostella’s attack. Before treatments were carried out the populationof P. xylostella were 0.6, 0.8, and 0.6 larva per plant, and after treatments the population became 0 larva/plant.Population at control plots after treatment was 21.7 larva/plant. Leaves damage on 64 days after treatments was 0percent, while that of control was 74.35 percent. Yield of B. thuringiensis treatment was the highest (67,250 kg/ha),while those of B. bassiana and control were 66,000 kg/ha and 6,000 kg/ha, respectively. B. thuringiensis treatmentgained highest income of Rp 33,052,200 with B/C ratio of 2.36, followed by B. bassiana treatment (Rp 32.,128,800,and B/C ratio of 2.28), insecticides treatment (Rp 24,095.700, and B/C ratio of 1.39), and control (Rp 5,964,000, andB/C ratio of -0.59).Key words: cabbage, Plutella xylostella, Bacillis thuringiensis, Beauveria bassiana Dalam usahatani kubis masalah utama yang dihadapi petani adalah serangan hama. Salah satu hama utamakubis adalah Plutella xylostella. Serangan hama ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil 50–100 persen apabila tidakdikendalikan. Pada umumnya petani Kabupaten Karo mengendalikan hama tersebut dengan menggunakan pestisidayang beraneka ragam dengan konsentrasi tinggi dan interval penyemprotan yang terlalu dekat, sehingga dapatmenimbulkan efek residu serta mengurangi harga saing ekspor. Untuk mengurangi adanya efek residu insektisida,maka BPTP Sumatra Utara telah melakukan pengkajian di Kabupaten Karo pada tahun 2001, mengenai pengendalianhama P. xylostella dengan agensia hayati menggunakan bakteri Bacillis thuringiensis, Beauveria bassiana, perlakuanpetani (insektisida ) dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengkajian dilakukan dengan sistem demplot di lahan petani yangdiikuti 18 koperator, yang dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok seluas 4.000 m2 termasuk tanamanpinggiran, tiap kelompok sebagai ulangan. Luas petak tiap perlakuan 650 m2 , kecuali kontrol 250 m2 , jarak antarperlakuan 1,5 m, jarak tanaman pinggiran dengan perlakuan 1,5 m. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlakuanB. thuringiensis, B. bassiana dan perlakuan petani dapat menekan P. xylostella, sebelum aplikasi populasi larvamasing-masing mencapai 0,6 ; 0,8 ; dan 0,6 . Tetapi setelah aplikasi perlakuan yang ke 4 populasi larva P .xylostellamenjadi 0 larva/tanaman, perlakuan kontrol masih mencapai 21,7 larva/tanaman. Intensitas kerusakan daun saat 64hari setelah tanam (hst) masing–masing perlakuan 0 persen, kecuali perlakuan kontrol mencapai 74,35 persen.Produksi tertinggi terdapat pada perlakuan B. thuringiensis (67.250 kg/ha), B.bassiana (66.000 kg/ha), sedangkanperlakuan kontrol hanya mencapai 6.000 kg/ha. Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa pendapatan tertinggiadalah B.thuringiensis Rp 33.052.200 dengan B/C ratio 2,36 diikuti oleh B.bassiana Rp 32.128.800 dengan B/C ratio2,28; Insektisida Rp 24.095.70 dengan B/C 1,39 dan kontrol (tanpa perlakuan) Rp 5.964.000 dengan B/C ratio –0,59.Kata kunci : kubis, Plutella xylotella, Bacillus thuringiensis, Beauveria bassian

    PENGKAJIAN INTENSIFIKASI PADI SAWAH BERDASAR PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU DI KABUPATEN PINRANG, SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Assessment of lowland rice intensification based on integrated crop and resources management was aimed atidentifying the components required to achieve high yield and income. The study site was purposively chosen on thelowland-rice producing center in Pinrang Regency conducted for two seasons, namely dry season and wet seasons.The observations consisted of cooperating and non-cooperating farmers. Lowland area cultivated by the cooperatingfarmers was 3.0 hectares for each season. The dry and wet seasons lasted from July 17 to November 22, 2001 andFebruary 10 to June 15, 2002. Ciliwung rice variety was transplanted when the seedlings were15 days old. Cropspractice included one seedling per hill, planting space of 25 x 25 cm2 , organic fertilizer made of decomposed straw (2tons/ha), Urea based on leaf color chart (155 kg/ha), SP-36 and KCl based on soil analysis each of 75 kgs/ha,intermitted irrigation, and integrated pests management. On the dry season, cooperating farmers’ income and yieldwere Rp 1,066,504/ha (20.72%) and 1,451 kg/ha (22.25%), respectively, greater than those of non-cooperatingfarmers. On the wet season, the cooperating farmers achieved Rp 1,904,692/ha (51.62%) higher than that of noncooperatingfarmers with yield difference of yields by 2,175 kg/ha (45.35%).Key words : intensification, integrated crop management, Oryza sativa Intensifikasi padi sawah dengan metode pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu ini memperhitungkanketerkaitan dan keterpaduan antara tanaman dan sumberdaya yang ada. Teknik-teknik produksi yang diterapkanmempertimbangkan sinergisme yang ada antara teknik tersebut agar mampu memberikan hasil yang tinggi. Tujuanpengkajian adalah untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang diperlukan bagi metode pengelolaan tanamansecara terpadu agar dapat memberikan hasil dan pendapatan yang tinggi dalam intensifikasi padi. Lokasi pengkajianditentukan secara sengaja (Purposive Sampling) pada daerah sawah beririgasi di sentra produksi padi yang merupakandaerah primer dalam pengembangan usahatani padi yaitu, Kabupaten Pinrang yang dilaksanakan pada dua musimtanam yaitu MK dan MH, dengan luas 3,0 ha pada setiap musim. Pengkajian ini melibatkan petani sebagaipelaksana (petani koperator), dan petani nonkoperator yang jumlahnya sama dengan petani koperator. Pengambilansampel ditentukan secara acak sederhana (simple random sampling). Petani nonkoperator ini memiliki lahan sawahyang berada di sekitar pengkajian. Pada musim kering tanam tanggal 17 Juli dan panen tanggal 22 November 2001,sedangkan pada musim hujan tanam tanggal 10 Februari dan panen tanggal 15 Juni 2002. Varietas yang digunakanadalah Ciliwung yang ditanam dengan umur bibit 15 hari, satu batang/rumpun dengan jarak tanam 25 x 25 cm.Pemupukan dengan menggunakan kompos jerami sebanyak 2 t/ha, urea sebanyak 155 kg/ha (berdasar LCC/BWD),SP-36 dan KCl masing-masing 75 kg/ha (berdasar analisis tanah). Pengelolaan air dilakukan secara Intermitten danpengendalian hama dengan metode PHT. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pendapatanyang diperoleh petani koperator dibanding nonkoperator sebesar Rp 1.066.504/ha (20,72 %), dengan selisihpeningkatan produktivitas sebesar 1.451 kg/ha GKP (22,25 %) pada MK dan pada MH peningkatan pendapatansebesar Rp. 1.904.692/ha (51,62 %), dengan selisih peningkatan produktivitas sebesar 2.175 kg/ha GKP (45,35 %).Kata kunci: intensifikasi, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), Oriza sativ

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇