Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    USAHATANI PADI BERBASIS AGRIBISNIS DI SENTRA PRODUKSI KABUPATEN BANGGAI, SULAWESI TENGAH

    Get PDF
    Banggai District is one of rice producing centers in Central Sulawesi pointed toward the agribusiness baserice producing center in the Batui Integrated Economic Development Zone (Kapet). Share of agriculture sector inGRDP of Banggai district was 52.03 percent or higher than that in South Sulawesi GRDP (43.37%). However,agricultural resources in Banggai district have not been exploited optimally. Rice agribusiness system is expected toutilize resources integrally from input provision to marketing. The study is aimed at : (1) to get data and informationof rice farming agribusiness-oriented rice farming, (2) to understand roles of each sub system in agribusiness system,and (3) to assess effectiveness of rice policy on rice farmers’ income in Banggai district. PRA and survey methodswere implemented to collect primary data from farmers and traders, while secondary data were collected from relatedgovernment institutes. Data were analyzed using descriptive method and input-output analysis of farming system. Thestudy showed that (1) rice farming had both comparative and competitive advantages and was possible to become apotential commodity in Batui Kapet, (2) each subsystem of agribusiness system played important role, and (3) ricepolicy was effective as shown by strong price correlation between those of farm gate and traders or the farmers hadstrong bargaining position. To support agribusiness-base rice farming, it needs to enhance total agriculturalmachineries, such as tractors, threshers, and rice milling units (RMUs), managed by private sector through soft credit.Key words : rice, rice farming, agribusiness Kabupaten Banggai adalah salah satu wilayah penghasil padi di Sulawesi Tengah yang diarahkan menjadipusat produksi padi berbasis agribisnis dalam suatu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batui.Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB kabupaten Banggai (52,03 %) lebih besar dibanding provinsi SulawesiTengah (43,37 %). Namun, potensi sumberdaya pertanian di Kabupaten Banggai belum dimanfaatkan secara optimal.Sistem agribisnis padi diharapkan dapat mengubah pemanfaatan sumberdaya secara parsial menjadi terpadu mulai daripenyiapan sarana produksi sampai dengan pemasaran hasil. Tujuan pengkajian ini adalah untuk: (1) mendapatkandata dan informasi usahatani padi berbasis agribisnis, (2) mengetahui peran setiap subsistem dalam sistem agribisnis,(3) mengetahui efektivitas kebijakan perberasan terhadap pendapatan petani di Kabupaten Banggai. PRA dan Survaidilakukan selama empat tahun untuk mengumpulkan data primer dari petani dan pedagang responden, sedangkan datasekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data menggunakan cara deskriptif dan analisis input-outputusahatani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (1) usahatani padi memiliki keunggulan komparatif dan kompetitifsehingga dapat menjadi komoditas unggulan di KAPET Batui, (2) peran setiap subsistem dalam sistem agribisniscukup baik, dan (3) kebijakan perberasan cukup efektif untuk meningkatkan pendapatan petani karena korelasi hargadi tingkat petani dengan harga di tingkat pengecer/konsumen dan posisi tawar petani cukup kuat. Implikasi kebijakanyang diperlukan di masa datang pada lokasi ini untuk mendukung usahatani padi berbasis agribisnis adalahmeningkatkan jumlah peralatan dan mesin pertanian untuk usahatani padi seperti traktor, alat perontok (thresher), danpenggilingan gabah atau rice milling unit (RMU) yang dikelola oleh swasta yang mendapat pinjaman atau kreditlunak.Kata kunci: padi, usahatani padi, agribisni

    UJI APLIKASI ALAT BANTU DAN PENGERING SEDERHANA DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN EMPING MELINJO SKALA RUMAH TANGGA

    Get PDF
    Emping melinjo agroindustry is one of the agribusiness activity which can gives big job opportunity for thewomen. Nevertheless, during doing their work, the women don’t care about their body position, so that there is noworking pleasure and they feel quick tired. Increasing their working pleasure can be done by using right supportingtools that can results the right body position. The main problem faced by the female labour in emping melinjoagroindustry during rainy season is lack of sunlight, consequently quality of the produce will drop sharply. The aimsof this assessment were 1) to determine supporting tools which can increase working pleasure of the female labour,and 2) to test the use of simple drier for increasing drying process efficiency in emping melinjo agroindustry duringrainy season. This assessment had been done in Tanggung and Siraman village, Blitar, from January 2001 toDecember 2001. In this assessment, the modified (introduction) supporting tools were tested by the female labour formaking emping melinjo, then the produces were compared to those using old supporting tools. Introductionsupporting tools which tested were wooden and stone hitting layer, suitable wooden chair, stone-hammer and ironhammer.Drier which tested was simple drier using kerosene as fuel source with low electrical energy. The parameterswhich observed were labour productivity, working pleasure and product quality. The result showed, that the rightsupporting tools which recommended to get working pleasure for female labour in emping melinjo agroindustry werestone hitting layer as high as 30 cm, wooden chair as high as 30 cm and wooden hammer with cylindrical iron at theirtip. These supporting tools resulted same productivity and working pleasure with those old supporting tools, althoughthese introduction tools were new for the female labour. The use of simple drier can saved time and place needed fordrying process of emping melinjo compared to those using sunlight. The use of this simple drier was recommended inrainy season because it can assured the continuity of production and increasing the absorption of working labour andincreasing the labour income.Key words : gnetum geremons, agroindustry, female labour, drier, BlttarAgroindustri emping melinjo merupakan salah satu kegiatan agribisnis yang memberi kesempatan kerja yangluas bagi wanita. Namun demikian, dalam melaksanakan pekerjaannya wanita cenderung tidak mempedulikan posisiatau caranya bekerja, sehingga tidak terasa adanya kenyamanan bekerja. Peningkatan kenyamanan bekerja tenagawanita dapat dilakukan dengan penggunaan alat bantu yang tepat sehingga posisi tubuh benar. Masalah utama yangdihadapi perajin emping melinjo pada waktu musim penghujan adalah kurangnya sinar matahari, sehinggapengeringan tidak dapat dilakukan secara optimal. Pengkajian ini dilakukan dengan tujuan 1) menentukan alat bantuyang dapat meningkatkan kenyamanan bekerja tenaga wanita, dan 2) menguji penggunaan alat pengering sederhanauntuk meningkatkan efisiensi proses pengeringan dalam pengolahan emping melinjo selama musim penghujan.Pengkajian dilakukan di Desa Tanggung dan Siraman, Blitar dari bulan Januari 2001 sampai dengan Desember 2001.Dalam pengkajian ini alat bantu yang telah dimodifikasi (alat bantu introduksi) diuji oleh tenaga kerja wanita untukmengolah emping melinjo, kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil dari penggunaan alat bantu semula. Alatbantu introduksi yang akan dicoba adalah alat bantu alas pemipih emping melinjo dari kayu dan batu, alas duduk darikayu serta pemipih emping melinjo dari batu dan palu besi. Alat pengering yang diuji adalah alat pengering sederhanaberbahan bakar minyak tanah dan berdaya listrik rendah. Parameter yang diamati meliputi produktivitas tenaga kerjawanita, kenyamanan bekerja tenaga wanita serta mutu hasil olah. Hasil pengkajian menunjukkan, bahwa alat bantu138Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 137-149yang tepat dan dapat dianjurkan untuk mendapatkan kenyamanan bekerja bagi tenaga wanita dalam pengolahanemping melinjo adalah alat bantu berupa alas duduk setinggi 30 cm, pemipih melinjo dari palu kayu berujung besisilinder dan alas pemipih dari batu setinggi 30 cm. Alat pengering sederhana yang digunakan dapat menghemat waktudan tempat dalam pengolahan emping melinjo dibandingkan dengan penggunaan sinar matahari. Penggunaan alatpengering sederhana dianjurkan untuk musim penghujan karena dapat menjamin kontinuitas produksi danmeningkatkan penyerapan tenaga kerja serta keuntungan perajin.Kata kunci: emping melinjo, agroindustri, tenaga kerja wanita, alat pengering, Blita

    PERTUMBUHAN TERNAK DOMBA JANTAN YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG KULIT UBI SINGKONG DIFERMENTASI

    No full text
    Growth Performance of Rams Fed Diet Containing Fermented Cassava Tuber Peel. There is a largeamount of cassava (Manihot esculenta) tuber peel (CTP) that has not been used intensively for feedstuff inIndonesia yet. It was considered that the present of cyanide prohibits the use of CTP for feed. An experiment wasperformed to evaluate the prospect of fermented CTP inclusion in the diet for growing ram. The study employed18 heads of growing Javanese Thin Tailed male rams of 4 months old having 12.5 + 1.5 kg initial body weight. Theexperimental animals were housed in an elevated barn, penned individually, and randomly allocated into either oneof three experimental diets namely traditional diet containing elephant grass + 300 g air dried CTP/daily ration/head(DCTP), formulated diets contained 200g fermented CTP/daily ration/head (FCTP1), and contained 300g fermentedCTP/daily ration/head (FCTP2).Results showed that, there were significant distinctions (P<0.01) between feedintake of rams fed DCTP (677g/d),FCTP1(697g/h) andFTP2(739g/h) diets. It was determined that weight gainof sheep consumingFCTP1diet (56g/h) higher (P<0.05) than the sheep fed DCTP (47g/h) as wellFCTP2(43g/h)diets. Consistently, feed conversion ratio ofFCTP2diet (12.5) was also better (P<0.05) than that of DCTP (14.4) orFCTP2 (17.2). In conclusion, HCN concentration in the diet seems to influent growth rate of sheep. It was confirmedthat the fermented cassava tuber peel is useful to overcome limited feedstuff for sheep particularly during the dryseason. Among the experimental diets inclusion of 200g fermented CTP in the diet of growing ram was superior.Key words: Cassava tuber peel, diet, ram, growth rateKulit ubi singkong (Manihot esculenta) yang kuantitasnya banyak belum dimanfaatkan secara intensifuntuk bahan pakan ternak. Hambatan pemanfaatan bahan ini adalah terdapatnya substansi sianida yang dapatmembahayakan kesehatan ternak. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi prospek introduksi kulitubi singkong yang difermentasi ke dalam pakan ternak domba sedang tumbuh. Penelitian menggunakan 18 ekorDomba Jawa Ekor Tipis jantan berumur 4 bulan dengan bobot badan 12,5 + 1,5 kg. Ternak percobaan dikandangkandalam ruangan bersekat individual kemudian masing-masing secara acak diberi salah satu di antara tiga macampakan percobaan: Formula pakan tradisional petani (FPTP) yang mengandung 300g kulit ubi singkong kering, pakanmengandung 200g atau 300g kulit ubi singkong difermentasi (KSF1 atau KSF2).Hasil penelitian menunjukkan bahwakonsumsi bahan kering pakan FPTP (677g/h), KSF1 (697g/h) dan KSF2 (739g/h) berbeda nyata (P<0,01). Ditemukanbahwa pertambahan bobot badan ternak domba yang mengkonsumsi pakanKSF1(56g/h) lebih tinggi (P<0,05) daripada yang diberi pakan FPTP (47g/h) maupunKSF2(43g/h). Secara konsisten, nilai konversi pakanKSF2(12,5)juga lebih baik (P<0,05) dari konversi pakan FPTP (14,4) maupunKSF2(17,2). Kesimpulannya adalah bahwakonsentrasi HCN dalam pakan menentukan penampilan pertumbuhan ternak domba. Dari sisi implementasinya dapat dikonfirmasikan bahwa kulit ubi singkong yang difermentasi dapat digunakan sebagai salah satu solusi untukmembantu mengatasi masalah paceklik pakan ternak domba pada musim kemarau. Dalam penelitian ini porsi terbaikuntuk introduksi kulit ubi singkong yang difermentasi dalam campuran pakan ternak domba adalah 200g/ekor/hari.Kata kunci: Kulit ubi singkong, pakan, domba jantan, pertumbuha

    EFISIENSI USAHATANI PADI SAWAH MELALUI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI KABUPATEN SERANG PROVINSI BANTEN

    Get PDF
    The research was aimed at analyzing the technical efficiency, allocative and economic factors and the factorsthat influence the level of technical efficiency in lowland rice farming in Carenang district, Serang Regency, Bantenprovince. The analysis tool used was the method of Maximum Likelihood Estimation (MLE) due to the capabilityto explain the technical efficiency obtained by farmers as well as the factors affecting inefficiency. Allocativeefficiency and economic efficiency gained from the reduction of production cost of dual function. The number ofrespondent used consists of 120 farmes, 60 farmers of ICM program and 60 farmers are not from the ICM program.The results showed that the farmers of ICM program were more technically efficient (87%) than the farmers fromoutside of ICM program (71%). The technical efficiency of farmers in ICM program was affected by age,education, and planting systems, while the technical efficiency of farmers from non ICM program were influencedby education, the ratio of employment and unemployment persons, the participation in farmers’ groups and plantingsystems. The results of the analysis also showed that the allocative and economic farmers of ICM program weremore efficient than the farmers are non ICM program with 70.2 percent and 61 percent, respectively, for allocativeefficiency and economic efficiency and farmers are non ICM program, with 64.8% and 56.2%, respectively.Key words : ICM ,stochastic frontier,efficiency.Penelitian bertujuan menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis serta faktor faktor yangmempengaruhi tingkat efisiensi teknis pada usahatani padi sawah di Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang,Provinsi Banten tahun 2008. Alat analisis yang digunakan adalah metode Maximum Likelihood Estimation(MLE). Jumlah responden 120 orang, terdiri dari 60 petani program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan 60 petani non program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani program PTT lebih efisien secara teknisdibandingkan dengan petani non program dengan rata-rata tingkat efisiensi 87%, sedangkan petani non programhanya 71%. Efisiensi teknis petani program PTT dipengaruhi oleh umur, pendidikan dan sistem tanam sedangkanpetani non program efisiensi teknisnya dipengaruhi oleh pendidikan, ratio yang tidak bekerja dengan yangbekerja, partisipasi dalam kelompok tani dan sistem tanam. Hasil analisis juga menunjukan bahwa secara alokatifdan ekonomi petani program PTT lebih efisien dibandingkan dengan petani non program yaitu masing-masing70,2% dan 61% untuk petani program PTT, sedangkan petani non program masing-masing 64,8% dan 56,2%.Kata kunci : PTT, efisiensi teknis, efisiensi ekonomi

    PERSPEKTIF PENGEMBANGAN AGRIBISNIS MARKISA DI KABUPATEN SOLOK, SUMATRA BARAT

    Get PDF
    Sweet passion fruit (Passiflora liguralis) plants grow well in Solok district highland. Productive area of theplantation is 3,825 ha with total production of 49,577 tons or equal to Rp 81,802 billions. Passion fruit agribusinessdevelopment in the future considers four aspects of (1) production technology, (2) post harvest, (3) financialfeasibility, and (4) land potential for development. First, two high-yielding varieties of Gumanti and Super Solindahave better characteristics of higher yields, size and quality of fruits, shelf life, and higher selling prices compared tothe variety of ordinary violet flower commonly planted by the farmers. Second, the fruits not qualified for fresh fruitsat household scale could be processed into juice and syrup. Both varieties with certain harvested maturity level andpackaging have longer shelf life for long distance transportation. Third, the farm business was financially feasible asshown by NPV of Rp 26,977,900, B/C ratio of 3.46, and IRR of 40 percent with economic plantation period of 10years. Fourth, there are 10,218 ha of land available for expansion of the plantation in the two main producing subdistricts. In addition, the farmers have planted passion fruit plants in some sub districts in the other highland areas. Allof those aspects are promising, but the policy makers have to pay attention to the aspects of competitive advantageand land conservation. Integrating farm practice improvement, product processing, market enhancement, and landexpansion becomes very strategic in passion fruit agribusiness development as part of regional development.Key words: passion fruit, agribusiness development Markisa manis berkembang baik di wilayah dataran tinggi Kabupaten Solok. Secara ekonomis dari luasareal produktif 3.825 ha dengan produksi 49.577 ton, setara Rp 81.802 milyar/tahun. Perspektif peluangpengembangan agribisnis markisa ke depan, dapat ditinjau dari empat aspek, yaitu: (1) teknologi produksi (2) pascapanen, (3) kelayakan finansial, dan (4) potensi lahan untuk pengembangan. Pertama, dua varietas unggul Gumantidan Super Solinda mempunyai keunggulan berupa daya hasil, ukuran dan mutu buah, daya simpan, serta harga juallebih tinggi dibanding varietas bunga ungu biasa yang banyak diusahakan petani. Selain varietas, teknik pembibitan,dan perbaikan budidaya telah dilakukan. Kedua, untuk buah yang tidak memenuhi syarat sebagai buah meja, dalamskala rumah tangga dapat diolah menjadi jus dan sirup, sedangkan untuk transportasi jarak jauh pada tingkatkematangan panen dan kemasan tertentu daya tahan bisa lebih lama. Ketiga, dari aspek usahatani, budidaya yangdilakukan petani layak secara finansial dengan kriteria NVP=Rp 26.977.900; B/C=3,46; dan IRR>40% dengan umurekonomis 10 tahun. Keempat, pada dua kecamatan sentra produksi utama, terdapat potensi lahan untuk pengembanganseluas 10.218 ha. Selain itu, markisa juga telah dikembangkan oleh masyarakat pada beberapa kecamatan wilayahdataran tinggi lainnya. Semua aspek tersebut sangat mendukung, namun demikian tingkat keunggulan kompetitif sertaaspek konservasi lahan untuk pengembangan perlu mendapat perhatian. Keterpaduan dalam perbaikan budidaya,pengolahan produk, perluasan pasar dan areal menjadi sangat strategis untuk pengembangan agribisnis markisasebagai bagian dari pengembangan wilayah.Kata kunci : markisa, pengembangan, agribisni

    DAMPAK PRIMA TANI TERHADAP PEMANFAATAN DAN PRODUKTIVITAS SUMBERDAYA LAHAN DAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI

    Get PDF
    Impact of Prima Tani on Land Resources Utilization and Productivity and Farmer Household Income. In efforts to accelerate technology adoption and innovation at farmer level, Department of Agriculture through IAARD since 2005 has developed Prima Tani Program that spread over in 25 provinces and at 33 villages. In 2008, it covered 201 villages and 200 districts in all provinces of Indonesia. The aim of this study at assessing the impact of Prima Tani focused on land resources utilization and farmer household income. Study was conducted in West Java (Karawang and Garut districts), as one of province for Prima Tani development. The study results indicate that the Prima Tani had a positive impact on the utilization of land resources. This was evident in the increasing use of land resources for farming activities (13.72%) and cropping intensity index (50-100%). Furthermore, it was also able to significantly improve the land resources productivity (>40%) and enhance the role and contribution of agriculture to farmer household income (33% to 38%). Thus, Prima Tani Program has shown good performance and it it was be in line with government's program in reduction of poverty and unemployment problems in rural areas. Therefore,  the success of this program in the future will be determined by the support of various parties and related agencies in encouraging the acceleration of its adoption in broader areas. Dalam upaya mempercepat adopsi dan teknologi inovasi di tingkat petani, Departemen Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sejak 2005 mengembangan Program Prima Tani yang tersebar di 25 provinsi dan 33 desa. Pada 2008, program ini telah tersebar di 201 desa dan 200 kabupaten di seluruh provinsi di Indonesia. Tujuan studi ini adalah mengkaji dampak Prima Tani yang difokuskan pada pemanfaatan sumberdaya lahan dan pendapatan rumah tangga petani. Kajian telah dilakukan di Jawa Barat (Kabupaten Karawang dan Garut), sebagai salah satu provinsi pengembangan Prima Tani. Hasil kajian menunjukkan bahwa Prima Tani mempunyai dampak positif terhadap pemanfaatan sumberdaya lahan. Hal ini dibuktikan semakin meningkatnya penggunaan sumberdaya lahan untuk kegiatan usahatani (13,72%) dan intensitas pertanaman (50-100%). Lebih lanjut, program ini juga secara nyata mampu memperbaiki produktivitas sumberdaya lahan (>40%) dan meningkatkan peranan serta kontribusi usaha pertanian terhadap pendapatan keluarga petani (33% menjadi 38%). Dengan demikian, program yang berawal dari desa ini telah menunjukkan kinerja secara baik dan sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan. Oleh karena itu, kesuksesan program ini ke depan sangat ditentukan adanya dukungan berbagai pihak dan instansi terkait dalam mendorong percepatan adopsinya dalam skala yang lebih luas

    ANALISIS ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN BERBASIS PADI DI SUMATERA SELATAN DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI

    Get PDF
    Analysis of Adoption of Agricultural Technology Innovation Rice-based Farming in Sumatra inthe perspective of communications. Assessment Institute of Agricultural Technology (AIAT) South Sumatrahas produced innovative rice-based farming technology in various agroecosystem. However, adoption ratesare still relatively low. Evaluation of four assessments aimed to identify the factors that predominantly affectthe adoption of technological innovation based local-specific farming rice and to know the level of adoption.This activity is carried out in OKI, East OKU and Banyuasin regencies with 67 respondents interviewedin July-September 2007. The results of this assessment showed that the factors that influence the adoption oftechnological innovations such as the level of selective exposure of technology innovation, cosmopolite,triability, complexity of technology and agricultural extension intensity. The average adoption index for thepacket of rice cultivation technology was 50.32%. As many as 93.02% of respondents have positive perceptionsof the researcher-extension AIAT South Sumatra as the communicator in delivering information technology.Most respondents (80%) expressed a desire to obtain agricultural information generated AIAT South Sumatra.Key words: Adoption, innovation, rice, communication Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sudah menghasilkan inovasi teknologipertanian berbasis padi di berbagai agroekosistem. Namun tingkat adopsinya masih relatif rendah. Evaluasi terhadapempat pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dominan mempengaruhi proses adopsiinovasi teknologi pertanian spesifik lokasi berbasis padi dan mengetahui tingkat adopsinya. Kegiatan ini dilakukan diKabupaten OKI, OKU Timur dan Banyuasin dengan mewawancarai 67 orang responden pada bulan Juli – September2007. Berdasarkan hasil analisis deskriptif kualitatif diketahui bahwa (1) adopsi inovasi teknologi budidaya tanamanpadi di Sumatera Selatan dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan petani terhadap inovasi teknologi, sifat kekosmopolitanpetani, triabilitas dan kompleksitas teknologi dan intensitas pembinaan, (2) indeks adopsi inovasi petani terhadappaket teknologi budidaya padi kondisinya beragam tergantung pada jenis kegiatan, (3) petani di Sumatera Selatanumumnya memberikan apresiasi positif terhadap peneliti-penyuluh BPTP Sumatera Selatan, terlihat dari tingginyaminat petani untuk mendapatkan berbagai media informasi pertanian BPTP Sumatera Selatan, dan (4) temuankajian ini mengindikasikan faktor komunikasi memegang peran utama yang dapat mempengaruhi adopsi teknologi.Kata kunci : Adopsi, inovasi, padi, komunikas

    KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS MESIN PENYIANG (POWER WEEDER) PADI DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN

    Get PDF
    Technical and Economic Study of Power Weeder Machine for Rice in Rainfed Field. Rice farming in rainfed field needed much labour, especially in terms of planting and weeding. Dependence of rainfall will cause labour for planting and weeding has become more limited because it must compete with other commodities. On the other hand, the increased availability of agricultural labour in rural areas is limited because it’s started to shift out of agriculture. Therefore, it’s needed a weeder machine to increase labour productivity and to benefit economically. Review of power weeder, held in Nagari Muaro Bodi, IV Nagari Sub district Sijunjung District which is location of Primatani of West Sumatra AIAT, whereas includes work capacity, slip percentage, efficiency, rotation’s speed, depth of equipment and tools of economic analysis. Power weeder cultivator obtained effective work capacity of 0.0377 ha/hour, theoretical work capacity of 0.0427 ha/hour, lost time during the weeding 15.72%, field efficiency of 88.37%, energy requirement of 0.223 HP, about 0.65% not weeded, and 0.37% of crop damage. Basic cost of weeding by power weeder amounted IDR 246,220,-/ha while the break event point is 10.1 ha/year. This cultivator can be developed in rainfed lowland, technically and economically.Dalam usahatani padi di lahan sawah tadah hujan cukup banyak membutuhkan tenaga kerja, terutama dalam hal penanaman dan penyiangan. Ketergantungan akan curah hujan menyebabkan tenaga kerja untuk tanam dan penyiangan padi semakin terbatas karena harus bersaing dengan komoditas lain. Di sisi lain, ketersedian tenaga kerja pertanian di pedesaan mulai terbatas karena bergeser ke luar sektor pertanian. Oleh karena itu, diperlukan alat penyiang padi sawah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan efisiensi biaya. Kajian teknis dan ekonomis dimaksudkan untuk menilai kinerja alat dan mesin tersebut dan kemampuan secara ekonomi untuk meperoleh keuntungan. Kajian dari mesin penyiang (power weeder), dilaksanakan di Nagari Muaro Bodi Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung yang merupakan lokasi Prima Tani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, yang meliputi kapasitas kerja, persentase slip, efisiensi, kecepatan putaran, kedalaman alat dan analisis ekonomi alat. Kinerja dari mesin penyiang power weeder diperoleh kapasitas kerja efektif sebesar 0,0377 ha/jam, kapasitas kerja teoritis 0,0427 ha/jam, kehilangan waktu selama penyiangan 15,72%, efisiensi lapang 88,37%, tenaga yang dibutuhkan 0,223 HP, persentase gulma yang tidak tersiang 0,65% dan persentase kerusakan tanaman 0,37 %. Biaya pokok penyiangan dengan menggunakan mesin penyiang power weeder adalah sebesar Rp.246.220/ha. Sedangkan titik impas (break event point) untuk mesin penyiang power weeder adalah 10,1 ha/th. Secara teknis dan ekonomis mesin penyiang ini dapat dikembangkan pada lahan sawah tadah hujan

    ANALISIS TITIK IMPAS DAN SENSITIVITAS TERHADAP KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI PADI SAWAH

    No full text
    The research had been conducted in Langgomea Village, Konawe District, from June to December 2005. This research used a survey method and aimed to know the technology performance, expense structures and farming system income of upland rice farming system. The data, technology application, productivity, and farming system income were collected from filled questionnaires from 35 respondents. The results showed that the variety of technology application had been close to recommended technology as shown by a production of 4.68 ton/ha. On the basis of yield price Rp.1.350,-/kg, the farmers income can reached Rp.3.519.000,- with RCR 2.28 which means that the farming system was financially feasible. However, rice farming system is not sensitive to the change of production input price and decreasing price of paddy up to 15% though the farmers' profitability obtained by farmers declines. Key words: upland rice, break event point, sensitivity, irrigation land   Penelitian bertujuan untuk melihat keragaan teknologi, struktur biaya dan penerimaan usahatani padi sawah di lahan irigasi telah dilakukan di Desa Langgomea, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, dari bulan Juni sampai Desember 2005 dengan menggunakan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan panduan kuisioner terhadap 35 responden yang meliputi penerapan teknologi, produktivitas dan pendapatan usahatani. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan penerapan teknologi di tingkat petani sudah mendekati teknologi yang dianjurkan sehingga produksi diperoleh sebanyak 4,68 ton/ha. Proporsi biaya tertinggi pada tenaga kerja luar keluarga yang mencapai 54,10% dari total biaya. Dengan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp.1.350/kg maka pendapatan yang diterima petani sebesar Rp.3.519.000 dengan RCR 2,28 sehingga usahatani layak secara finansial. Usahatani padi sawah tidak peka terhadap perubahan kenaikan harga sarana produksi dan penurunan harga gabah hingga 15%, namun tingkat keuntungan yang diperoleh semakin menurun.Kata kunci: padi sawah, titik impas, sensitivitas, lahan irigas

    SKALA USAHATANI PADI DI BEBERAPA LOKASI LUMBUNG PANGAN DI SUMATRA SELATAN

    Get PDF
    The study aimed to determine break even points and minimum scales of economy of rice farming in severalrice producing centers in South Sumatra. Survey was conducted from August to October 2002 through interviewingfarmers’ households in Sido Makmur village, Belitang Subdistrict, Ogan Komering Ulu (OKU) District; Sirah PulauPadang Village, Sirah Pulau Padang Subdistrict, Ogan Komering Ilir (OKI) District; and Telang Jaya Village,Pembantu Muara Telang Subdistrict, Musi Banyuasin (MUBA) District. Respondents sampling was carried out usinga stratified random method on rice barn and non rice barn groups. Each group of each village consisted of 20 farmers.Thus, total respondents were 120 farmers. Results of the study revealed that break even points were 635 kg, 804 kg,and 724 kg of rice production in OKU, OKI, and MUBA Districts, respectively. Minimum scales of economy of ricefarming in OKU, OKI, and MUBA districts were 0.25 ha, 0.37 ha, and 0.33 ha, respectively. The farmers did notinterest with existence of food barns by delaying rice sale due to insignificant price difference between storage andsale.Key words: rice farming, minimum scale of economy, rice barn Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan impas dan skala minimum usahatani padi di beberapalokasi yang ada lumbung pangan di Sumatra Selatan. Survei dilakukan pada Bulan Agustus-Oktober 2002 denganmewawancarai rumah tangga petani di Desa Sido Makmur, Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu(OKU); Desa Sirah Pulau Padang, Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan DesaTelang Jaya, Kecamatan Pembantu Muara Telang, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA). Pengambilan sampeldilakukan secara acak berlapis yaitu pada kelompok lumbung pangan dan bukan lumbung pangan masing-masingsebanyak 20 petani sehingga secara keseluruhan dibutuhkan sampel sebanyak 120 petani. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Secara agregat titik impas tercapai pada produksi beras sebesar 635 kg di Kabupaten OKU, dan804 kg di Kabupaten OKI serta 724 kg di Kabupaten MUBA. Skala minimum usahatani padi di Kabupaten OKUseluas 0,25 ha, di Kabupaten OKI seluas 0,37 dan di Kabupaten MUBA seluas 0,33 ha. Pada keberadaan lumbungpangan, harga belum merupakan suatu hal yang menarik bagi petani untuk melakukan kegiatan tunda jual karena tidakada perbedaan harga yang menyolok pada saat menyimpan dengan saat menjual.Kata kunci : usahatani padi, skala minimum, lumbung panga

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇