Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU PADI SAWAH IRIGASI DI KABUPATEN SUMEDANG
management by using straw or other organic matter as well as thresher machine, and 4) the development of strategy or the socialization of ICRM is done by conducting plot demonstration units in the field by extension workers in collaboration with local government Key words: Integrated crop management, The implementation of Integrated Crop and Resource Management (ICM) on Paddy in Sumedang District. Synergizes some technology components in ICM can increase yield and production input efficiency as well as to control environmental conservation. The assessment of ICM application on paddy was conducted at 2 places i.e. Cibeureum Wetan and Cibeureum Kulon villages, Cimalaka Sub District, Sumedang District during dry season 2007. In each village there were 20 farmers covering 7.5 ha areas of land. The ICM components consists of: 1) the use of modem and high yielding varieties, 2) the use of certified seeds, 3) the use of balanced nutrient on specific site, 4) the use of organic fertilization, 5) the arrangement of Legowo or Tegel planting system, 6) the planting of young seed (10-17 das) with 1-3 seedlings per hill, 7) the water management, 8) the integrated pest management, and 9) the use of thresher machine. The objectives of this assessment were to study the performance of ICM components, the improvement chance in the field level, the adoption level of users, and the development of strategy. The results showed that: 1) some farmers have not fully implemented the ICM components due to the uncertainty of new ICM technology components, especially the legowo planting system, 2) the implementation of ICM was able to increase yield to15% and production input efficiency by 3545% (using of seedling) and by 30-66% (using of fertilizer), 3) the implementation chance of ICM at farmer level can be increased through the improvement of water adoption, efficiency Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah merupakan strategi pengelolaan tanaman padi yang mensinergiskan berbagai komponen teknologi yang dapat meningkatkan hasil dan efisiensi masukan produksi serta menjaga kelestarian lingkungan. Pengkajian penerapan model PTT padi sawah telah dilaksanakan di tiga kelompoktani masing-masing di Desa Cibeureum Wetan dan Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang, pada MK I dan MK II tahun 2007 dengan jumlah petani peserta masingmasing 20 orang dengan luas areal penanaman 7,5 ha. Komponen PTT yang dikaji mencakup: 1) penggunaan varietas unggul barn berdaya hasil tinggi, 2) penggunaan benih bersertifikat, 3) penggunaan pupuk berimbang spesifik lokasi, 4) penggunaan bahan organik, 5) pengaturan tanam legowo atau tegel, 6) penanaman bibit muda (10-17 hss) dengan 1-3 bibit per lubang, 7) pengaturan pengairan, 8) pengendalian OPT secara terpadu, dan 9) penggunaan alat perontok gabah mekanis (mesin). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui kinerja komponen teknologi, peluang perbaikan penerapan ditingkat lapangan, tingkat adopsi oleh pengguna serta strategi pengembangannya. Hasil yang dicapai adalah: 1) sebagian petani belum sepenuhnya melaksanakan PTT sesuai dengan anjuran yang disebabkan petani masih ragu untuk menerima teknologi barn, terutama dalam cara tanam legowo, 2) penerapan PTT yang dilakukan sesuai anjuran dapat meningkatkan hasil panen (GKP) 15 % dan efisiensi masukan produksi terutama dalam penggunaan benih dan pupuk masing-masing 35-40% dan 3066% bila dibandingkan dengan teknologi petani, 3) peluang penerapan ditingkat pengguna dapat ditingkatkan melalui perbaikan aspek teknologi pengaturan air, penggunaan jerami padi atau bahan organik lain dan penggunaan alat perontok gabah, dan 4) strategi pengembangan atau pemasyarakatan model PTT tersebut adalah dengan melaksanakan unit-unit percontohan di wilayah kerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Kata kunci: Pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu, adopsi, dan efisiens
KAJIAN SISTEM USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KALIMANTAN TENGAH
Pengkajian Sistem Usaha Ternak Sapi Potong dilaksanakan di Desa Sumber Rejo, Kabupaten Barito Selatan,Kalimantan Tengah pada tahun anggaran 2002. Pengkajian ini bertujuan untuk mengintroduksikan teknologipeningkatan produktivitas sapi potong dan sapi bibit melalui perbaikan pakan dan penanggulangan penyakit ternakserta pengembangan hijauan makanan ternak (HMT). Pengkajian dilaksanakan secara on farm research di lahanpetani dengan melibatkan sebanyak 32 petani yang terdiri dari 16 petani yang menerapkan teknologi introduksi dan 16orang yang menerapkan teknologi yang biasa dilakukan petani (existing technology). Pada pengkajian usahapenggemukan dan pembibitan digunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua perlakuan, yaitu teknologiintroduksi dan teknologi petani sebagai kontrol. Teknologi yang diintroduksikan terdiri dari beberapa komponen yaitupemberian pakan hijauan; pakan konsentrat dan pakan aditif. Selain perbaikan pakan, juga dilakukan penanggulanganpenyakit parasit cacing dengan pemberian obat cacing nematoda (Monil ®) dan cacing trematoda (Dovenix ®),antibiotika Terramycine® LA dan multivitamin-mineral, disertai dengan perbaikan sanitasi kandang dan ternak.Sedangkan untuk teknologi petani, sapi hanya diberi pakan rumput lokal, tanpa penanggulangan penyakit dan sanitasi.Variabel yang diamati pada usaha penggemukan dan pembibitan selama 5 bulan adalah rata-rata pertambahan bobotbadan harian (PBBH) dan penggunaan input serta perolehan output. Sapi yang digemukkan dengan teknologiintroduksi mengalami peningkatan PBBH secara sangat nyata. Rata-rata PBBH sapi Bali meningkat dari 296 menjadi528 gr/ekor/hari dan sapi PO meningkat dari 381 menjadi 697 gr/ekor/hari. Pada sapi induk bunting 3-4 bulanmenjelang melahirkan yang dikelola dengan teknologi introduksi mengalami peningkatan PBBH secara sangat nyata.Rata-rata PBBH pada sapi Bali meningkat dari 398 menjadi 625 gr/ekor/hari dan sapi PO meningkat dari 525 menjadi801 gr/ekor/hari. Rata-rata berat lahir pedet yang dihasilkan dari induk dengan teknologi introduksi lebih tinggi daripada pedet dari induk kontrol.Kata kunci : penggemukan, pembibitan, sapi Bali, sapi PO, bioplus, lahan kering.The assessment was conducted in Sumber Rejo village, South Barito district, Central Kalimantan in 2002.This assessment was aimed to develop a package of improved technology of beef fattening and cows breeding byimprovement of feed and diseases control. The assessment was conducted collaboratively with farmers, involving 32cooperators and consisting of 16 farmers with introduced technology and the other 16 farmers with existingtechnology. Components of introduced technology were fed with green forage, concentrate and feed supplement. Foranimal diseases control, anthelminthic drugs for nematode worm (Monil ®) and trematode worm (Dovenix ®),antibiotic drug and multivitamin-mineral, and improved the sanitation of housing and cattle. While the farmers’technology was fed with native grass only, without animal diseases control. Parameters observed for 5 months wereaverage daily gain (ADG) of cattle and farmer’s income. Steers with introduced technology was significantly highercompared to that of control. ADG of Bali steers improved from 296 to 528 gr/head/day and PO steers from 381 to 697gr/head/day. ADG of pregnant cows 3-4 months before calves with introduced technology was significantly highercompared to farmers’ technology. ADG of Bali cows improved from 398 to 625 gr/head/day and PO cows from 525to 801 gr/head/day. The average natal body weight of calves with introduced technology was higher than those offarmers’ technology.Key words : fattening, breeding, Bali cattle, Ongole-cross cattle, bioplus, dry land
DINAMIKA DAN STRUKTUR PENDAPATAN USAHATANI PADI D! SULAWESI TENGGARA
The research was aimed at knowing the rice dynamic in Kendari and Kolaka Regency, Southeast Sulawesi, including the increase trend of areas, production and productivity, yield and rice price, and the structure of rice farming system before and after the increase of fuel's price. The research used the secondary data collected from 1995 to 2004 and primary data collected by a survey method involving 40 farmers in each- regency started from February till March 2006. The results showed that the rice production increased by 1.37% per year although the harvest area decreased to 0.06% per year. Kolaka's rice production contributes 30% and Kendari contribution is 50.39% of the total province rice production. The development of post harvest rice price (from 2000-2004) showed an average increase of 8.39% per year while the rice price paid by consumers increased 7.06% per year. Therefore, the rice price on the farmer's level was around 41.07% per year. From the financial analysis point of view, this indicated that the farmers' income in Kendari increased by 20.87% and the farmers' income in Kolaka increased by 22.73% as compared to before and after the increase of fuel's price. The increase of price was due to the increase of rice price from Rp.1.100,- /kg to Rp.1.350,- /kg of yields (dried rice) or an increase of 22.75%. Key words: dynamics, income, rice farming system. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dinamika padi di Sulawesi Tenggara yang menyangkut trend luas area, produksi dan produktivitas, perkembangan harga gabah dan beras, serta struktur pendapatan usahatani padi antara sebelum dan sesudah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Penelitian menggunakan data sekunder dari tahun 1995 — 2004 dan data primer. Untuk mengetahui struktur pendapatan usahatani padi dilakukan survey pada bulan Pebruari — Maret 2006 di sentra produksi padi Sulawesi Tenggara, yaitu Kabupaten Kendari (Desa Langgomea dan Duriaasi) dan Kabupaten Kolaka (Desa Mowewe dan Tahoa) terhadap 40 petani di setiap kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan produksi padi meningkat 1,37% per tahun walau luas panen menurun 0,66% per tahun. Kontribusi produksi dari Kabupaten Kendari dan Kolaka sebesar 50,39% dan 30% dari total produksi provinsi. Perkembangan harga gabah (periode 2000 — 2004) meningkat rata-rata 8,39% per tahun sedangkan harga beras yang dibayar konsumen meningkat 7,06% per tahun, dengan demikian harga gabah di tingkat petani sekitar 41,07% dari harga beras. Analisis finansial usahatani padi selama dua musim tanam (MT 1 dan MT 11) yaitu periode sebelum dan sesudah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Oktober 2005 menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani di Kabupaten Kendari meningkat 20,87% dan pendapatan petani di Kabupaten Kolaka meningkat 22,73%. Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh harga gabah di tingkat petani meningkat 22,75% dari Rp.1.100/kg gabah kering panen (GKP) menjadi Rp.1.350/kg GKP.Kata kunci: dinamika, pendapatan, usahatani padi Kata kunci: dinamika, pendapatan, usahatani pad
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK TEH HIJAU RAKYAT DI KECAMATAN CIKALONG WETAN-KABUPATEN BANDUNG
Increasing the Added Value of Green Tea Product at Cikalong Wetan Sub Distric, Bandung. Green tea has great function such as antioxidant, cholesterol reducer, antivirus, tumor and cancer prevent, stimulant and deodorant. Tea as one of priority commodity in west java is public plantation domain. Tea public plantation still faced several restricted. The alternative of solution increased the added value of public green tea. To Increase the added value of green tea with recovered processing unit, grading and packaging. The assessment held in August 2005 — December 2006 in East Cikalong sub district, Bandung district with involved farmer group such as Tunas Maju, Mekar Harapan, Bale Pulang Cipicung, Merpati and Bintara. The methodology was descriptive method through green tea recovering and shelf life technology. Based on the assessment, farmer income raise with R/C 2,34 or B/C 1,34. Key words: Increasing, added value, green tea Teh hijau memiliki banyak nilai fungsional diantaranya sebagai antioksidan, menurunkan kolesterol, antivirus, menghambat pertumbuhan tumor dan kanker, stimulant serta penghilang bau (deodorant). Teh merupakan salah satu komoditas unggulan Jawa Barat dengan sebagian besar merupakan perkebunan teh rakyat. Dalam pengusahaannya, teh rakyat masih mengalami beberapa kendala. Salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, dengan jalan meningkatkan nilai tambah teh hijau rakyat. Untuk lebih meningkatkan nilai tambah teh hijau diantaranya yaitu dengan melakukan perbaikan proses pengolahan, kegiatan sortasi dan perbaikan pengemasan teh hijau. Pengkajian dimulai dari bulan Agustus 2005 - Desember 2006 di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung dengan melibatkan gabungan kelompok tani yang terdiri dari kelompok tani Tunas Maju, Mekar Harapan, Bale Pulang Cipicung, Merpati dan Bintara. Metodologi pendekatan yang dilakukan yaitu dengan metode diskriptif melalui kegiatan perbaikan mutu teh hijau dan teknologi penyimpanan teh hijau. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengkajian tersebut, diperoleh peningkatan pendapatan petani teh rakyat dengan nilai R/C sebesar 2,34 atau WC sebesar 1,34. Kata kunci: Peningkatan, nilai tambah, teh hija
KAPITAL SOSIAL DAN PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KOMUNITAS BANJAR: SUATU ANALISIS KO-PRODUKSI TRIPARTIT PEMERINTAH, SWASTA, DAN MASYARAKAT
Social Capital and Income Increase of Banjar Farmers Community: A Co-Production Analysis of Three Parties of Government, Private and Public. This paper aims to explain the role of capital social and co-production of public, private and community in influencing of income. The study used mix methods , namely the use of quantitative methods as the main approach supported a qualitative approach. Research sites established on the location of the implementation of Prima Tani in Bali, exactly in Sanggalangit, Gerokgak-Buleleng District. The main findings of this study are: First, the regression results followed a path analysis conducted reveals that social capital is the dominant factor for increasing people's income. Second, the institutional environment of regulations and formal policies, or new elements dynamically drive into the framework of economic action in regulating the actor or group of agribusiness, based on banjar. Linkage between environmental policies with the informal relationships that bind the actions of actors in pursuit of its interests is an institutional framework. In that framework, the role of government-private-local communities, play an important function for increased social capital, which leads to increase community income. The high social capital's role in increasing income must be supported in terms of policy interventions in funding strategy of development program that can stimulate the growth and development of social networks. Agribusiness policy, especially the implementation of technological innovations must be tranformative for cultural change and social structure of society. On the other hand, the social space of development investment needs to be improved, because the investment in this relatively lagged behind investment in the economic field. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan peran kapital sosial dan ko-produksi pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mempengaruhi pendapatan. Studi ini menerapkan metode mix, yakni menggunakan metoda kuantitatif sebagai pendekatan utama yang didukung pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian ditetapkan pada lokasi implementasi Prima Tani yakni program percepatan akselerasi pemasyarakatan inovasi teknologi pertanian di Bali, tepatnya di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak-Buleleng. Temuan utama penelitian ini adalah: Pertama, hasil regresi dilanjutkan analisis jalur yang dilakukan menunjukkan bahwa kapital sosial merupakan faktor yang dominan pengaruhnya bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Kedua, lingkungan institusional berupa peraturan dan kebijakan-kebijakan formal, ataupun unsur-unsur baru secara dinamis berjalan menjadi kerangka dalam mengatur tindakan ekonomi aktor atau kelompok pelaku agribisnis, berbasis banjar. Tindakan ekonomi aktor, berbasis pada relasi informal yang dilandasi aturan-aturan in-formal banjar dalam mewadahi aktivitas anggotanya. Pertalian dan pertautan antara lingkungan kebijakan (policy environment) dengan relasi informal yang mengikat tindakan aktor dalam mengejar kepentingan-kepentingannya merupakan sebuah kerangka, yakni kerangka institusional. Pada kerangka itu, peran pemerintah-swasta-komunitas lokal, memainkan fungsi penting bagi peningkatan penguasaan kapital sosial, yang bermuara pada peningkatan pendapatan komunitas agribisnis berbasis banjar. Tingginya peran kapital sosial dalam peningkatan pendapatan mesti didukung intervensi kebijakan dalam hal penganggaran program pembangunan yang dapat merangsang semakin tumbuh dan berkembangnya jaringan sosial. Kebijakan agribisnis terutama implementasi inovasi teknologi mesti bersifat tranformatif bagi perubahan budaya dan struktur sosial masyarakat. Pada sisi lain, investasi pembangunan ruang sosial perlu ditingkatkan, karena investasi bidang ini relatif tertinggal dibandingkan investasi dalam bidang ekonomi
TOLERANSI TEMBAKAU TRANSGENIK YANG MENGEKSPRESIKAN GEN P5CS TERHADAP STRES KEKERINGAN
Tolerance of Transgenic Tobacco Expressing P5CS Gene Against Drought Stress. Drought is majorosmotic stress that dramatically limit plant growth and productivity. Proline accumulation has been correlatedwith tolerance to drought stress in plants. Therefore, overproduction of proline in plants may lead to increasedtolerance against these abiotic stresses. The objectives of this experiment were to determine the effects of droughtstress at the period of 15 – 90 days after planting (DAP) on growth of T1 plants derived from transgenic GStobacco, to evaluate their tolerance against drought stress, and to determine their leaf proline content. One groupof the tobacco plants were grown in plastic pots and subjected to stress condition during the period of 15 – 90DAP. The other group was grown optimally in plastic pot up to harvest period. All tobacco plants were harvestedat 91 DAP. Leaf proline content was determined at 63 DAP (after six periods of stress). The results indicatedreduced plant height, shoot diameter, leaf number, leaf dry weight and leaf area of all tobacco plants. Stresssensitivity index calculated using leaf dry weight character grouped T1 plants derived from P5CS transgenicGS tobacco into tolerance, medium tolerance and sensitive against drought stress while that of non-transgenicGS tobacco were only medium tolerance and sensitive against drought stress. Higher leaf proline content underdrought stress was observed in all T1 plants derived from P5CS transgenic tobacco than that of non-transgenicGS tobacco. These data demonstrated that proline accumulation as an osmoprotectant and that over-expressionP5CS gene results in the increased tolerance to osmotic stress in T1 plants derived from P5CS transgenic tobacco.Key words: Proline biosynthesis, proline accumulation, sensitivity index, biomass yield Stres kekeringan merupakan masalah utama stres osmotik yang dapat menjadi faktor pembataspertumbuhan dan produktivitas tanaman. Akumulasi prolina berkorelasi dengan tingkat toleransi tanamanterhadap stres kekeringan. Oleh karena itu over-produksi prolina diduga dapat meningkatkan toleransi tanamanterhadap stres kekeringan. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengevaluasi pengaruh stres kekeringanmelalui pengurangan air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman TI zuriat dari tembakau GS transgenik P5CSgenerasi TO, (2) menganalisis akumulasi prolina daun tanaman TI zurlat dari tembakau GS transgenik P5CSgenerasi TO kondisi stres dan non-stres, serta (3) menganalisis hubungan antara akumulasi prolina daun padakondisi stres kekeringan dengan pertumbuhan dan hasil tanaman. Percobaan dua faktor (tembakau transgenikstres kekeringan) disusun dengan rancangan acak kelompok. Sebagian tanaman yang diuji disiram setiap hari hingga mencapai kondisi kapasitas lapang dari awal tanam sampai dengan 90 HST dan digunakan sebagaiperlakuan non-stres. Sedangkan kelompok tanaman yang lain dipelihara dalam kondisi kapasitas lapanghingga 14 HST dan diberi perlakuan stres kekeringan dari umur 15 HST hingga panen (90 HST). Kandunganprolina diukur pada umur 63 HST (setelah 6x periode stres). Hasil penelitian menunjukkan semua tanamantembakau yang diuji mempunyai tinggi tanaman, diameter batang, jumlah, berat kering dan luas daun yanglebih rendah akibat perlakuan stres kekeringan yang diberikan dibandingkan dengan kondisi non-stres.Berdasarkan hasil perhitungan indeks sensitivitas terhadap stres kekeringan menggunakan peubah bobotdaun kering per tanaman maka tanaman TI zurlat dari tembakau GS transgenik P5CS generasi TO yang diujibersegregasi untuk kategori toleran, medium toleran dan peka, sedangkan tembakau GS non-transgenikdikategorikan sebagai medium toleran dan peka terhadap stres kekeringan. Tanaman TI zurlat dari tembakau GStransgenik P5CS generasi TO menunjukkan kandungan prolina yang lebih tinggi dalam kondisi stres kekeringandibandingkan dengan tembakau GS non-transgenik. Peningkatan akumulasi prolina yang cukup tinggi akibatover-ekspresi dari gen P5CS diduga berkorelasi dengan peningkatan toleransi tanaman terhadap stres kekeringan.Kata kunci : Biosintesis prolina, akumulasi prolina, indeks sensitivitas terhadap stres, produksi biomas
KAJIAN PEMBERIAN PUPUK NPK PADA BEBERAPA VARIETAS UNGGUL PADI SAWAH DI SERAM UTARA
The assessment was conducted to 4 newly pre-eminent varieties of rice that aimed at knowing t performance of growth and potential yields on lowland rice irrigation at North Seram. The treatment w conducted on a 4—ha of farmer's land by involving 8 cooperator farmers and 7 non cooperator farmers as comparison. The dosage of fertilizer used by cooperator farmers consists of 300 kg NPK Pelangi and 11 kg Urea/ha. The research was done from June 2006 until October 2006. The results indicate that the fo varieties of pre-eminent that were assessed, they are Fatmawati, Way Apo Buru, Gilirang and Ciherang I using NPK Pelangi, gives a higher average results of the growth and yields. The average yield of grains obtained was 6.44 ton — 8.20 ton GKP / ha which was higher 21 - 54% compared to the average yield grain obtained from farmers outside the assessment (non cooperator farmers) which was 5.30 ton GKP/ h The NPK Pelangi Fertilizer can be used to replace the single fertilizer in case the scarcity of fertiliz occurs since it provides high enough yields. From the four varieties assessed, for further development rice in North Seram it is recommended to employ Ciherang and Way Apo Buru varieties. Key words: NPK Fertilizer, pre-eminent variety newly, lowland rice, North Seram Telah dilakukan kajian terhadap 4 varietas unggul baru padi sawah yang bertujuan untuk mengetahui keragaz pertumbuhan dan potensi hasilnya pada lahan sawah irigasi di Seram Utara. Kajian dilakukan pada lahan milik petal seluas 4 ha dengan melibatkan 8 petani kooperator, dan sebagai pembanding adalah 7 petani non kooperator. Takan pupuk yang digunakan petani kooperator adalah 300 kg NPK Pelangi dan 100 kg urea/ha. Kajian berlangsung da bulan Juni sampai Oktober 2006. Hasil kajian menunjukkan bahwa keempat varietas unggul yang dikaji, yail Fatmawati, Way Apo Buru, Gilirang dan Ciherang dengan menggunakan pupuk NPK Pelangi, rata-rata memberik pertumbuhan dan hasil yang cukup tinggi. Rata-rata hasil ubinan yang diperoleh 6,44 ton — 8,20 ton GKP/ha, leb tinggi sekitar 21 — 54% dibandingkan dengan hasil gabah yang diperoleh petani di luar kajian (petani non kooperator yaitu 5,30 ton GKP/ha. Pupuk NPK Pelangi dapat digunakan sebagai pengganti pupuk tunggal jika terjadi kelangkaz pupuk karena dapat memberikan hasil yang cukup tinggi. Dari keempat varietas yang dikaji, untuk pengembangz lebih lanjut di wilayah Seram Utara disarankan menggunakan Ciherang dan Way Apo Buru. Kata kunci: pupuk NPK, varietas unggul baru, padi sawah, Seram Utar
ANALISIS TITIK IMPAS DAN LABA USAHATANI MELALUI PENDEKATAN PENGELOLAAN PADI TERPADU DI KABUPATEN LEBAK- BANTEN
Break Even Point Analysis and Profitability of Paddy Farming System through Integrated Paddy Management in Lebak District — Banten. In the last decade, national rice production tend to stagnant in line with deterioted and declining soil fertility due to high intensity. An effort to solve the problem can be done trough integrated crop (paddy) management (ICM), wick as sinergistic amoung component of technologies in paddy farming sytem included fertilizyng efficiency. The assesment aims to analyze profitability of ICM and break even point. The assesment conducted in sawah agroecosystem, Lebak district in wet season 2004/2005 and wet season 2005/2006. The result of the study indicated that implementation of ICM can increase rice production, and net profitability, respectively 38%, and 70%. As an implication of integrated crop (paddy) management is quite feasible to be implemented with considering spesific agroecosystem. Key words : ICM, break even point, paddy, ex post, ex ante, non adopteDalam dekade terakhir, produksi beras nasional cenderung mengalami pelandaian seiring dengan terjadinya deteriosasi dan penurunan kesuburan tanah akibat intensifikasi yang berkelanjutan. Salah satu upaya mengatasi kondisi tersebut dapat ditempuh melalui pendekatan pengelolaan tanaman (padi) terpadu (PTT), yang merupakan bentuk sinergisme antar komponen intensifikasi budidaya padi termasuk efisiensi pemupukan. Kajian ini dimaksudkan untuk menganalisis perolehan Laba Usahatani dan Titik Impas dari penerapan pengelolaan padi terpadu. Kajian dilakukan di wilayah agroekosistem sawah Kabupaten Lebak MH 2004/2005 dan MH 2005/2006. Hasil analisis mengindikasikan bahwa penerapan pengelolaan padi terpadu mampu meningkatkan produksi, dan keuntungan bersih masing-masing 38%, dan 70%. Sebagai implikasinya pengelolaan padi terpadu dinilai sangat layak untuk dimplementasikan secara masif dengan mempertimbangkan kesesuain agroekosistem. Kata kunci : PTT, titik inipas, padi, ex post, ex ante, non adopte
KOMPOSISI DAN PENYEBARAN PATOTIPE Xanthomonas oryzae pv. oryzae, PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI PADI DI JAWA TIMUR
The pathotype composition and distribution of Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) in central of rice production in East Java. An experiment to study the pathotype composition and distribution of Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) in central of rice production in East Java was conducted at the planting season of 2010. Three steps trial was conducted such as removed of leaves infected by bacterial leaf blight (BLB, isolation of Xoo in a laboratory, and tested pathotype in screen house. Rice leaves showing typical bacterial leaf blight symptom were collected from various farmers rice field. The samples were detached and put into the paper envelope, and then it taken in the laboratory for isolation process of Xoo. Isolation of Xoo was done in the Laboratory of Pythopathology, Indonesian Centre for Rice Research, Sukamandi. Pathotype identifications were done by inoculating the isolates of Xoo on differential varieties in the screen field ICRR in Sukamandi at wet season (WS) 2010. Resistance reaction was identified using the criteria of the disease severity. Disease severity ≥ 11% was considered resistant (R) and it >12% was considered susceptible (S). The result showed that leaves infected by BLB were obtained among 131 and it were collected 126 isolates of Xoo. Identification of pathotype indicated that in East Java, it were obtained 30 isolates (23.8% pathotype III), 43 isolates (34.1% ) pathotype IV, and 53 isolates (42.1%) pathotype VIII. Penelitian untuk mengetahui komposisi dan sebaran kelompok patotipe bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) penyebab penyakit hawar daun bakteri (HDB) di beberapa daerah produksi padi di Jawa Timur telah dilaksanakan pada musim tanam 2010. Penelitian meliputi tiga tahap kegiatan, yaitu pengambilan sampel daun sakit HDB dilaksanakan dengan metode survei, isolasi bakteri Xoo di laboratorium, dan pengujian patotipe bakteri Xoo di rumah kaca. Daun padi bergejala HDB yang dikoleksi dari lapangan dimasukkan ke dalam amplop kertas kemudian dibawa ke laboratorium untuk keperluan isolasi bakteri Xoo. Isolasi bakteri Xoo dilakukan di laboratorium dan inokulasi bakteri Xoo pada tanaman padi diferensial dilakukan di screen field BB Padi. Isolasi bakteri Xoo menggunakan metode pencucian. Pengujian patotipe dilaksanakan dengan menginokulasikan isolat Xoo pada 5 varietas diferensial di rumah kaca dengan metode gunting. Reaksi ketahanan varietas diferensial dikelompokkan berdasarkan keparahan penyakit. Varietas tergolong tahan (T) bila keparahan penyakit kurang atau sama dengan 11%, tergolong rentan (R) bila keparahan lebih dari 12%. Pengelompokan patotipe berdasar pada nilai interaksi antara varietas diferensial dengan virulensi bakteri Xoo. Hasil pengumpulan daun sakit HDB diperoleh sebanyak 131 sampel. Hasil isolasi bakteri Xoo dari sampel tersebut diperoleh sebanyak 126 isolat bakteri Xoo. Hasil pengujian patotipe terhadap varietas diferensial dari isolat bakteri Xoo yang diperoleh menunjukkan sebanyak 30 isolat (23,8%) tergolong patotipe III, 43 isolat (34,1%) patotipe IV, dan 53 isolat (42,1%) patotipe VIII
PENINGKATAN NILAI TAMBAH AGRIBISNIS MELALUI PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI USAHATANI PADI : STUDI KASUS KEGIATAN PRIMA TANI KABUPATEN MUSI RAWAS, SUMATERA SELATAN
Increasing of Agribusiness Value Added through Aplication of Rice Farming System TechnolgyInnovation: A Case Study of Prima Tani Activity In Musi Rawas District, South Sumatera. The application oftechnology innovation was conducted to overcome productivity disparity, to increase farmer income and to improvefarmer prosperity. Technology innovation on rice farming has been applied at “Prima Tani” activities on intensiveirrigation land since 2005 in South Sumatera Province. The aim of this study was to compare the application oftechnology innovation, cost production and rice farming income between participant and non participant farmers. Dataof rice farming activity during wet season in 2006/2007 was collected in Mei until September 2007 by interviewingparticipant farmer of Prima Tani in Kertosari Village and compared the result to the non participant in PurwakaryaVillage, Purwodadi Sub-district, Musi Rawas Regency. Samples was taken by Disproportionate Stratified RandomSampling. Result showed that the scores of technology application from participant and non participant farmerswere 6.38 and 4.37 respectively. However, there was no statistically difference between two farmers groups andincluded as medium category of technology application. The productivity of harvested dried rice of participantfarmers was 7. 8 kg/ha and 7.2 5 kg/ha for non participant farmers. Total cost of rice farming for participant andnon participant farmers were Rp.5,786,035/ha and Rp.6,663,875/ha respectively. Rice farming income of participantfarmer (Rp.8,228,9 5/ha) was significantly different from those in non-participant farmer (Rp.7,235,435/ha).Key words: Paddy, farming system, innovation, income. Penerapan teknologi inovasi dilakukan untuk mengatasi masalah senjang produktivitas, meningkatkanpendapatan usahatani dan kesejahteraan petani. Inovasi teknologi pada usahatani padi dilakukan melaluikegiatan Prima Tani lahan irigasi intensif Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2005. Kegiatan ini bertujuanuntuk membandingkan penerapan teknologi usahatani padi, biaya yang dikeluarkan dan pendapatan usahatanipadi yang diperoleh oleh petani peserta dan bukan peserta Prima Tani. Pengumpulan data untuk meliput aktivitasusahatani dari musim hujan 2006/2007 dilakukan melalui wawancara pada bulan Mei-September 2007 padapetani peserta Prima Tani di Desa Kertosari dibandingkan dengan petani bukan peserta di Desa Purwakarya padakecamatan yang sama yaitu Kecamatan Purwodadi. Pengambilan sampel petani pemilik-penggarap secara AcakBerlapis Tak Berimbang. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa skor penerapan teknologi pada petani pesertadan bukan peserta masing-masing 6,38 dan 4,37, tetapi secara statistik tidak berbeda nyata dan termasukdalam kategori penerapan teknologi pada tingkat sedang. Produksi gabah kering panen yang diperoleh petanipeserta dan bukan peserta sebanyak 7. 8 kg/ha dan 7.2 5 kg/ha. Biaya total yang dikeluarkan oleh petani pesertaPeningkatan Nilai Tambah Agribisnis melalui Penerapan Inovasi Teknologi Usahatani Padi :Studi Kasus Kegiatan Prima TaniKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan (Yanter Hutapea, Pandu AP Hutabarat dan Tumarlan Thamrin)53sebesar Rp.5.786.035/ha, sedangkan petani bukan peserta sebesar Rp.6.663.875/ha. Pendapatan usahatani padiyang diperoleh petani peserta (Rp.8.228.9 5/ha) secara nyata dibanding petani bukan peserta (Rp.7.235.435/ha).Kata kunci: Padi,usahatani, inovasi, pendapatan