Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    PEMANFAATAN JANGGEL JAGUNG SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI DI KABUPATEN TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN

    No full text
    Utilization of Corncob as Feed for Beef Cattle in Tanah Laut District, South Kalimantan. Tanah Laut Regency is one of the corn central production and beef cattle farming in South Kalimantan. The corn waste can be used to overcome the feed cattle problem particularly in the dry season. Corncob was a by-product of corn obtained after removing the corn seeds and was not productive. The objective of this assessment was to see the prospect of corncob used as feed for beef cattle. This research was carried out in Sumber Mulia Village, Region of Pleihari District of Tanah Laut South Kalimantan during the period of 2003-2004. The aim of the first year study was to know the effect of fermented corncob on the beef cattle performance and in the second year was to know the effect of corncob as a complete feed on the beef cattle performance. The observed parameters were the growth of body, cost analysis, farmers' income and R/C. The first year study showed that by using 1 part of corncob and 4 parts of rice brain as feed could increase the body weight of cattle up to 0,345 kg/head/day with the R/C was 1.08 as compared with the control, which was only 0.219 kg/head/day. While the second year showed that beef cattle feed with complete corn cob content can increase body the weight up to 0,5 kg/head/day in comparison to the control which was only 0.14 kg/head/day. The farmer could get income for Rp.487.000/cow/three months with R/C 1,18. It can be concluded that corn waste can give profit to the farmers and can be used to overcome the feed problem for beef cattle especially in the dry season. . Key words: Corncob, feed, cattle Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu sentra pengembangan komoditas jagung dan ternak sapi potong di Kalimantan Selatan. Limbah jagung dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan kekurangan hijauan khususnya pada musim kemarau. Limbah lain yang dihasilkan komoditas jagung yaitu janggel yang diperoleh setelah jagung dipipil dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Tujuan pengkajian ini adalah untuk melihat peluang pemanfaatan janggel jagung sebagai pakan ternak sapi. Pengkajian dilakukan di Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2003 dan 2004. Pada tahun pertama, dilakukan untuk melihat pengarug fermentasi janggel jagung terhadap performans sapi potong dan pada tahun kedua, pengkajian dilakukan untuk melihat penggunaan janggel jagung terhadap performans sapi potongsebagai bahan pakan lengkap untuk ternak sapi. Parameter yang diamati yaitu pertambahan berat badan, analisis usaha berupa biaya dan pendapatan serta dan R/C. Hasil kajian pada tahunpertama menunjukkan bahwa pemberian janggel jagung 1 bagian dan dedak 4 bagian menghasilkan pertambahan berat badan 0,345 kg/ekor/hari dengan nilai R/C 1,08 dibandingkan kontrol yang hanya 0,219 kg/ekor/hari. Hasil kajian pada tahun kedua, pemberian pakan lengkap berbahan dasar janggel jagung menghasilkan pertambahan berat badan sebesar 0,5 kg/ekor/hari dibandingkan kontrol yang hanya 0,14 kg/ekor/hari dan pendapatan yang dihasilkan dari usahatani ternak sapi sebesar Rp.487.000/ekor per tiga bulan dengan nilai R/C sebesar 1,18. Dari pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa limbah jagung dapat digunakan untuk mengatasi masalah pakan sapi pada musim kemarau dan mampu memberikan keuntungan peternak. Kata kunci Janggel jagung, pakan, sap

    ANALISIS MUTU DAN NILAI TAMBAH TEPUNG KASAVA DARI BEBERAPA VARIETAS UBIKAYU

    No full text
    Quality Analysis and Value Added of Cassava Flour from Some Cassava Varieties. One of caused lowfarmer cassava income is minimum processing of its, which farmers sell fresh cassava. Cassava flour processingis one of manner increasing vale added. It can be done at small business. Cassava flour can use for noodles andcakes. The assessement were conducted at Bangunsari (Pesawaran Resident) from January to July 2008. The resultshowed that cassava flour made from Manado variety were higher quality than others, such as rendemen (31.08%),fibrous content (2.35%), protein content (2.53%), but it is low HCN (cianida acid) content (0.1122 mg/g). Higestvalue added of cassava flour is Manado variety were Rp.715/kg fresh cassava with 37.8% rendement, furthermorelowest value added of cassava flour is Garuda variety were Rp.483/kg fresh cassava with 31.08 rendement.Key words: Quality, added value, cassava flour, variety Rendahnya pendapatan petani ubikayu antara lain disebabkan oleh minimnya teknologi pengolahanyang dilakukan petani, karena petani selalu menjual ubikayu dalam bentuk umbi segar. Salah satu cara untukmemperoleh nilai tambah ubikayu adalah pembuatan tepung kasava yang dapat dilakukan untuk skala rumahtangga. Tepung kasava dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan seperti kue dan mie. Kajian inidilakukan di Desa Bangunsari, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran pada dari bulan Januari sampaiJuli 2008. Hasil kajian menunjukkan bahwa tepung kasava yang dibuat dari ubikayu varietas Manado mempunyaimutu yang paling baik dibandingkan dengan varietas dengan rendemen (31,08%), kadar serat kasar (2,35%),dan kadar protein yang tertinggi (2,53%), namun mempunyai kadar HCN (asam sianida) yang terendah (0,1122mg/r). Nilai tambah ubikayu menjadi tepung kasava tertinggi dihasilkan oleh varietas Manado yakni sebesarRp.715/kg ubikayu dengan rendemen 37,8%, sedangkan nilai tambah terendah dihasilkan oleh varietas Garudayakni Rp.483/kg ubikayu dengan rendemen 31,08%. Berdasarkan hasil penelitian ini direkomendasikan untukmenggunakan ubikayu varietas Manado sebagai bahan baku pembuatan tepung kasava.Kata kunci: Mutu, nilai tambah, tepung kasava, varieta

    USAHA PEMBENIHAN IKAN HIAS CUPANG (Betta splenders) DI KABUPATEN SERANG

    Get PDF
    The fighting fish (Betta splenders) is one of ornamental fish with high economic value. The price of malefish is about Rp 5,000 to Rp 1,000,000 per fish. Demand for the fish in Serang Regency is satisfied by the fish raisersfrom other regencies. Seedling technique for the fighting fish is available at the Fresh Water Fisheries ResearchInstitute and the hobbyists but the fighting fish raisers in Serang Regency still rely on natural stocks for live feedsupply. The assessment aimed at applying and disseminating seedling technique for the fighting fish, and improvingfish raisers in Serang Regency. Assessment was conducted on January to December 2002 with nine cooperatingfarmers classified into three groups. Nine pairs of the fighting fish parent stocks of Serit type were spawned in nineaquaria of 20 x 20 x 25 cm3 . There were three treatments with three replications, namely (A) male fish was separatedafter spawning, (B) male fish was separated after the larvae were three days old, and (C) male fish was separated afterthe larvae were seven days old. The larvae were fed with Moina sp until 14 days old, fed with Moina sp and Daphniasp for 14-30 days old, and fed with Daphnia sp and the mosquito larvae of Chironomus sp for 30-45 days old. Totalegg produced varied from 408-815 eggs per female parent. Fertilization rates were 80.5-94.5 percent and hatchingrates were 74.5-95.8 percent. Egg incubation periods were 25-31 hours. Survival rates of B treatment in 14 and 45days old were each of 87.5 and 87 percent, while those C treatment were each of 82.0and 81.5 percent, and those Atreatment were each of 81.5 and 80.0 percent. Profit earned from fighting fish breeding was Rp 3,390,000 perspawning period of 1.5 months.Keywords: Betta splenders, seedling, separation of male fish, survival rate, proitabilityIkan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu jenis ikan hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggidan banyak terdapat di pasaran. Harga ikan cupang jantan berkisar Rp. 5.000,- - Rp. 1.000.000,- per ekor. DiKabupaten Serang kebutuhan ikan cupang masih dipenuhi dari berbagai daerah di luar Serang, seperti Tangerang,Bogor, Sukabumi, dan Jakarta. Kabupaten Serang merupakan salah satu daerah potensial yang dapat dikembangkanuntuk usaha pembenihan ikan cupang. Teknologi pembenihan ikan cupang sudah tersedia di Balai Penelitian Ikan AirTawar maupun di pihak swasta, namun di Kabupaten Serang para petani ikan cupang untuk penyediaan jasad pakan(pakan hidup) masih tergantung dari alam. Dengan menerapkan sistem budidaya pakan hidup yang berkesinambunganpada usaha pembenihan ikan hias cupang di tingkat petani, maka akan mendukung keberhasilan produksi benih.Tujuan pengkajian adalah untuk menerapkan dan menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan cupang danmeningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Serang. Pengkajian dilakukan bulan Januari-Desember 2002 yangdilaksanakan secara partisipatif. Petani kooperator berjumlah sembilan orang yang dibentuk menjadi tiga kelompok.Induk cupang yang digunakan sembilan pasang adalah jenis “Serit” dan dipijahkan dalam sembilan akuariumberukuran 20x20x25 cm. Perlakuan yang diberikan adalah: A. Induk jantan diambil setelah pemijahan selesai. B.Induk jantan diambil setelah burayak berumur tiga hari. C. Induk jantan diambil setelah burayak berumur tujuh hari.Semua perlakuan diulang tiga kali. Pemeliharaan burayak sampai umur 14 hari diberi pakan Moina sp, umur 14-30hari di beri pakan Moina sp dan Daphnia sp, umur 30-45 hari diberi pakan Daphnia sp dan larva nyamuk Chironomussp. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa jumlah telur berkisar 408-815 butir per ekor induk. Derajat pembuahanberkisar 80,5-94,5 persen, dan penetasan 74,5-95,8 persen. Masa inkubasi telur ialah 25-31 jam. Kelangsungan hidup293Usaha Pembenihan Ikan Hias Cupang (Betta splenders) di Kabupaten Serang (Susanti Diani, Mustahal, dan PramuSunyoto)benih pada umur 14 dan 45 hari pada perlakuan B mencapai 87,5 dan 87,0 persen jauh lebih baik bila dibandingkandengan perlakuan C yaitu 82,0 dan 81,5 persen dan perlakuan A. 81,5 dan 80,0 persen. Secara ekonomis keuntunganyang diperoleh dari usaha pembenihan ikan cupang cukup tinggi yaitu Rp. 3.390.000/1,5 bulan/periode pemijahan.Kata kunci : Betta splenders, pembenihan, pemisahan induk jantan, kelangsungan hidup, tingkat keuntunga

    KINERJA USAHATANI KOMODITAS WORTEL (Daucus carrota L) (Studi kasus di Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat)

    No full text
    The Performance of Carrot (Daucus carrota L) Farming (a case study in Cianjur Regency, West Java Province). Approaching the era of globalization, the government is demanded to improve the performance of vegetable farming to be more competitive in both domestic and international markets. This study was conducted in 2005 in West Java. The objectives of the study were: (a) to identify the characteristics of carrot farmers, (b) to identify cultivation practices, (c) to analyze the economic feasibility of carrot farm, and (d) to describe the marketing channels, margin and price share received by farmers. The results show that the farmer's characteristics were sufficiently good in the aspects of age, education and participation in trainings, but some aspects were still weak such as small farm size (0.44 ha/farmer) and 22.2 % of farmers of hired status. Vegetable farm required a cost of Rp.28.8 million, a gross income of Rp.53.4 million and a net income of Rp.25.4 million/ha/year. It was suitable economically with B/C ratio of 1.89. The main problem in the production was selling price uncertainty, so that the farmers were unsure to implement the recommended technologies, especially the application of fertilizers. There were three channels in marketing carrots from farmers to consumers, i.e. (1) farmer, collector trader, whole trader, central market, traditional market, consumer; (2) farmer, collector trader, Sub terminal agribusiness (STA), central market, traditional market, consumer and (3) farmer, collector trader, supplier, super market, consumer. The farmers sold the carrot product through the first channel (76.6%), the second channel (13.3%) and the third channel (10.1%). The first and the second channels gave farmer's share of 49.3%, marketing cost of Rp.172 and a marketing profit of Rp.370/kg. While the third cannel gave farmer's share of 20.9%, marketing cost of Rp.300 and marketing profit of Rp.553/kg. The central market was the referee market, the price offered by the central market would be used as the standard to determine the purchasing price by the preceding market institutions until the farmers. Up till now, the selling prices of vegetables are very fluctuated and unpredictable causing the farmers to be doubtful to implement the technologies advised by the government to maintain the balance of supply and demand in the central market so the farmers can obtain selling price certainty. Key words: carrot, farm performance, West Java. Dalam menyongsong era globalisasi, pemerintah dituntut meningkatkan kinerja usahatani sayuran agar lebih kompetitif baik di tingkat pasar domestik maupun pasar intemasional. Penelitian ini dilaksanakan tahun 2005 di Propinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah; (a) mengidentifikasi karakteristik petani, (b) praktek budidaya, (c) menganalis kelayakan ekonomi usahatani dan (c) menggambarkan saluran pemasaran, margin dan bagian harga yang diterima petani. Hasil menunjukan bahwa karakteristik petani cukup baik dalam aspek umur, pendidikan dan keikutsertaan pelatihan tetapi beberapa aspek masih lemah yaitu rataan penguasaan lahan masih rendah (0,44 ha/petani) dan masih ditemukan petani berstatus sewa sebanyak 22,2%. Usahatani sayuran membutuhkan biaya Rp.28,8 juta, penerimaan kotor Rp.53,4 juta dan penerimaan bersih 25,4 juta /ha/tahun. Usahatani sayuran termasuk layak secara ekonomi dengan nilai B/C 1,89. Masalah utama dalam produksi adalah ketidakpastian harga jual sayuran sehingga petani masih ragu untuk menerapkan budidaya sesuai rekomendasi,terutama penggunaan pupuk. Ditemukan tiga saluran pemasaran wortel dari petani sampai ke konsumen, yaitu; (1) petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pasar induk, pasar tradisional, konsumen; (2) petani, pedagang pengumpul, Sub terminal agribisnis (STA), pasar induk, pasar tradisional, konsumen dan (3). Petani, pedagang pengumpul, suplayer, super market, konsumen. Petani menjual wortel melalui saluran pertama (76,6%), saluran kedua (13,3%) dan saluran ketiga (10,1%). Farmer's share saluran pertama dan kedua adalah 49,3%, biaya pemasaran Rp.172,- dan keuntungan pemasaran Rp.370,-/kg. Sedangkan farmer's share saluran ketiga adalah 20,9%, biaya pemasaran Rp.300,- dan keuntungan pemasaran Rp.553,-/kg. Pasar induk merupakan pasar acuan (referee market), harga beli wortel yang ditetapkan pasar tersebut dijadikan acuan untuk menetapkan harga bell oleh pelaku pasar sebelumnya sampai di tingkat petani. Selama ini, harga jual sayuran sangat fluktuatif dan sulit diperkirakan menyebabkan petani ragu-ragu untuk menerapkan teknologi sesuai anjuran Pemerintah harus mengatur keseimbangan suplai dan deman produk sayuran di pasar induk agar supaya petani memperoleh kepastian harga jual. Kata kunci: wortel, kinerja usahatani, Jawa Barat

    KAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI PRODUKSI PADA USAHATANI KOPI ROBUSTA DI LOKASI PRIMA TANI KABUPATEN PASURUAN

    Get PDF
    Assessment on Application of Technology in Farming Production of Robusta Coffee in PrimaTani Location in Pasuruan District. Coffee is main commodity in desa Tutur, Prima Tani location of kabupatenPasuruan, East Java. The low coffee productivity and high leaf rust severity are still coffee farming problems.Accordingly, on Prima Tani activity introduced a technology innovation formulated in an assessment. Theobjective of the assessment was to know the effect of recommended production technology towards leaf rustseverity and coffee productivity. Assessment was conducted since September 2007 till September 2008, usinga separate plot design with two treatments. The treatments assessed were recommended production technology(T1), and farmer’s practices (T2). Each treatment was applied on Five farmer’s Robusta coffee planting (2.5 haand 5-10 years age, 1,000 trees/ha) as a replicate, following 10 farmers participatory. Data of leaf rust severity,production and cost production were collected to be analyzed statistically and economically to identify thefarming profit. The result of the assessment showed that the recommended production technology decrease theleaf rust severity of 60%, increase the coffee productivity of 89,5%, and increase the farming profit of 120%.Key words: Production technology, coffee farming, leaf rust disease, productivityKopi adalah komoditas unggulan di lokasi Prima Tani Desa Tutur Kabupaten Pasuruan, Propinsi JawaTimur. Rendahnya produktivitas dan tingginya penyakit karat daun masih merupakan kendala pada budidaya kopi.Untuk itu pada kegiatan Prima Tani dilakukan introduksi inovasi teknologi dalam bentuk suatu pengkajian. Tujuanpengkajian adalah mengetahui kinerja teknologi produksi rekomendasi terhadap perkembangan penyakit karatdaun dan produktivitas tanaman kopi. Pengkajian dilaksanakan mulai September 2007 sampai dengan September2008, menggunakan rancangan petak terpisah, terdiri dari dua perlakuan yaitu: (1) penerapan teknologi produksisesuai rekomendasi (T1), dan (2) penerapan teknologi petani (T2). Masing-masing perlakuan diterapkan padalima kebun kopi Robusta (sebagai ulangan) seluas 2,5 ha, umur tanaman kopi 5-10 tahun, melibatkan 10 petanisecara partisipatif. Rata-rata populasi tanaman kopi 1.000 pohon/ha. Data yang dikumpulkan meliputi tingkatkerusakan tanaman oleh penyakit karat daun yang didasarkan pada skor kerusakan, produksi, dan biaya produksi.Data dianalisis secara statistik, dan ekonomis untuk mengetahui keuntungan usahatani. Hasil kajian menujukkanbahwa kinerja teknologi produksi rekomendasi menurunkan tingkat kerusakan tanaman oleh penyakit karatdaun rata-rata 60%, serta meningkatkan produktivitas 89,5%, dan meningkatkan pendapatan usahatani 120%.Kata kunci: Teknologi produksi, usahatani kopi, penyakit karat daun, produktivita

    KAJIAN KELAYAKAN USAHATANI DAN MARJIN TATANIAGA MANGGA (Mangifera indica) (Studi kasus di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat)

    No full text
    This study was conducted in 2005 and took place in Majalengka District, West Java. The objectives of study were (a) to identify the characteristics of farmers and mango cultivation, (b) to analyze the economical visibility of mango farm, (c) to describe the marketing channels and marketing margin. The study used a survey method. Primary data were collected from 25 mango farmers selected by random sampling and some traders selected by snowball method with the farmers as the entry point, consist of 6 collecting traders, 3 whole trader (agents), 2 central markets, 2 supplier and 4 retail traders spread in traditional markets, fruits shops and super markets. Secondary data were collected from the Agriculture Office, the Central Agency of Statistics and the Research Institutions. The results showed that mango farm was economically suitable with benefit of Rp.23.641.230,-/ha/year and R/C of 4.64. In marketing, mango fruits were classified into two groups, namely grade A/B as main grade that was marketed in four marketing channels and grade C (non grade) that was marketed in one marketing channel to local traditional market. In the marketing grade AB, the third channel gave a highest value of marketing margin because some marketing actors implemented post-harvest handling to increase the quality of mango according to supermarket's class. The agents reached a highest margin (Rp.2.500,-/kg) because they spent a highest cost of marketing and took a highest risk caused by price fluctuation. For developing mango production, a pattern of cooperative with agribusiness actors, especially exporter is needed. The farmers are helped in capital formation and guided in good farming practices while the exporter should get a mango fruits with higher quality, looking for a new marketing channel and building the unit of mango processing industry to bridge the problem in case the mango is in peak season. Keywords: mango, farms, marketing Penelitian ini dilaksanakan tahun 2005 di Kabupaten Majalengka, Propinsi Jawa Barat dengan tujuan; (a) mengidentifikasi karakteristik petani dan budidaya mangga, (b) menganalisis kelayakan usahatani, dan (c) mempelajari saluran pemasaran serta marjin pemasaran. Penelitian menggunakan metoda survey. Data primer dikumpulkan dari 25 petani yang diambil secara acak (random sampling) dan beberaa pedagang yang diambil dengan metode snowball, yaitu mengikuti aliran penjualan mangga dengan petani sebagai titik awal, terdiri atas 6 pedagang pengumpul, 3 pedagang pengepul (agen), 2 pedagang pasar induk, 2 suplayer dan 4 pedagang pengecer di pasar tradisional, toko/kios buah dan super market. Data sekunder dikumpulkan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa usahatani mangga termasuk layak secara ekonomi dengan nilai pendapatan bersih Rp.23.641.230,-/ha/tahun dan nilai R/C 4,64. Dalam pemasaran, buah mangga dikelompokan kedalam dua grade, yaitu grade AB merupakan grade utama, dipasarkan secara luas melalui empat saluran dan grade C (non grade) disalurkan ke pasar-pasar tradisional lokal melalui satu saluran pemasaran. Margin pemasaran paling besar terjadi pada saluran pemasaran yang pelaku-pelaku pasarnya melakukan penanganan hasil lebih intensif seperti suplayer dan supermarket dengan sasaran konsumen kelas ekonomi menengah ke atas. Pada seluruh saluran pemasaran grade AB, pedagang agen selalu mendapatkan marjin keuntungan paling besar, yaitu Rp.2.500,-/kg karena mereka merupakan pihak yang paling besar dalam pengeluaran biaya pemasaran dan juga resiko diakibatkan oleh fluktuasi harga jual mangga. Pengembangan produksi mangga masih perlu kerjasama dengan pelaku agribisnis, petani mendapatkan bantuan permodalan dan bimbingan praktek budidaya yang benai sementara pelaku agribisnis dapat memperoleh hasil mangga yang berkualitas, menciptakan peluang pasar baru dar mendirikan industri pengolah mangga segar untuk menjembatani kelebihan produksi pada waktu panen raya.Kata kunci: inangga, usahatani, pemasara

    KINERJA PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS NENAS DI KECAMATAN TAMBANG, KABUPATEN KAMPAR

    Get PDF
    The study was conducted in Tambang District, Kampar Regency, Riau Province in pineapple agribusinessdevelopment in 2001 and aimed at observing performance of field extension workers and the affecting factors .Primary data were collected using questionnaires from the respondents consisting of 60 farmers, 10 filed extensionworkers, and one Head of Agricultural Extension Service (BPP). The data were processed using both parametric andnon parametric statistics. Performance of the field extension workers in pineapple agribusiness development was notoptimal due to lack of motivation, limited capabilities of the extension workers, and lack of farmers’ participation.Key words: agricultural extension workers, agribusiness, pineapplePenelitian ini dilakukan di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada tahun 2001, dengantujuan untuk melihat kinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis nenas dan faktor-faktor apa sajayang mempengaruhinya. Data dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan data-data primer menggunakan kuesionerdengan mewawancarai responden yang terdiri dari 60 orang petani, 10 orang penyuluh pertanian, dan seorang KepalaBPP. Untuk memperoleh kesepadanan penilaian antara kelompok responden dilakukan uji Konkordasi Kendall.Metode analisis dilakukan dengan uji statistik parametrik dan nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwakinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis nenas belum optimal. Belum optimalnya kinerja penyuluhpertanian ini disebabkan oleh : motivasi penyuluh dalam melaksanakan tugas hanya sekedar untuk memenuhikewajibannya, kemampuan penyuluh masih terbatas, dan tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan kegiatanusahatani nenas juga sedang.Kata kunci : penyuluh pertanian, agribisnis, nena

    KAJIAN LABA DAN TITIK IMPAS USAHATANI PADI HIBRIDA DI SULAWESI TENGGARA

    Get PDF
    Income and Break Event Point Analysis of Hybrid Rice Farming at Southeast Sulawesi. Hybrid rice is a proceed technology to increase the domestic paddy productivity. This research was conducted to know the benefits and Break Event Point (BEP) of hybrid rice development in South East Sulawesi Province. It was conducted by using a survey method by involving 120 respondents that have planted the hybrid rice in Konawe, South Konawe and Kolaka Districts. The survey showed that the average of hybrid rice productivity around 4.2 t/ha. However this was still lower than the potential productivity of hybrid rice about 12 t/ha. Financial analysis showed that hybrid rice are feasible with the value of B/C 0.91 and give benefict about Rp.4,029,000/ha/. Break Event Point from production side (BEVP) and BEP from price side (BEVPc) are 2.2 t/ha and Rp.1,048/kg respectively. If hybrid rice productivity only 4.2 t/ha/, changing farming from inbryd rice to hybrid rice will cause losses. Hybrid rice will give benefict higher than inbryd rice if the productivity minimum 4.8 t/ha/. Sensitivity analysis showed that hybrid rice sensitive for increasing an input price. Increasing input price 5%, even still give a benefict, but farmer can not sustain and enjoy to adapt a hibryd rice, because the value of B/C < 1. Even thought output price increase 20%, farmer cannot adopt a hybrid rice if the input price increase more than 15%. Hybrid rice are potential to develop in Southeast Sulawesi, but government sould be prepare some regulation such us technical assistance for farmer, seed subsidies, fertilizer subsidies, land and social suitable mapping, and market insurance. Key words: benefit, break event point, hybrid rice Padi hibrida adalah salah satu terobosan teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui laba, dan titik impas plus usahatani padi hibrida di Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei terhadap 120 orang responden yang telah menanam padi hibrida di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Kolaka. Hasil survei menunjukkan bahwa produktivitas rata-rata padi hibrida adalah 4,2 t/ha. Produktivitas ini masih lebih rendah dari potensi padi hibrida yang bisa mencapai 12 t/ha. Secara finansial padi hibrida layak diusahakan dengan nilai B/C 0,91 dan laba usahatani sebesar Rp. 4.029.000/ha/. Titik Impas Produksi (TIP) dan Titik Impas Harga (TIH) padi hibrida adalah masing-masing sebesar 2,2 t/ha dan Rp.1.048/kg. Dengan produktivitas padi hibrida yang dicapai saat ini yaitu hanya sebesar 4,2 t/ha, maka dengan mengubah padi inbrida menjadi padi hibrida akan mendatangkan kerugian. Pengusahaan padi hibrida hanya akan menguntungkan dan menarik bagi petani jika produktivitas padi hibrida minimal 4,8 t/ha/mt. Pengusahaan padi hibrida sangat sensitif terhadap adanya perubahan harga input. Peningkatan harga input 5% saja, meskipun masih memberikan keuntungan akan tetapi kurang menarik bagi petani karena nilai B/C < 1. Dari sisi harga produksi, meskipun ada kenaikan sebesar 20%, petani kurang berminat untuk mengusahakan padi hibrida jika pada saat yang bersamaan terjadi kenaikan harga lebih sebesar 15%. Untuk mengembangkan padi hibrida di Sulawesi Tenggara, maka pemerintah perlu menyiapkan beberapa kebijakan diantaranya pendampingan teknologi, penyediaan benih dan pupuk bersubsidi, pemetaan kesesuaian lahan dan sosial masyarakat serta jaminan pasar. Dengan regulasi tersebut, maka produktivitas dapat ditingkatkan dan dapat menarik minat petani untuk menanam padi hibrida. Kata kunci : Laba, titik impas, padi hibrid

    AKUNTABILITAS DISEMINASI TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN DAN PENGKAJIAN OLEH BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN

    Get PDF
    Dissemination is an important step of agricultural technology distribution. This paper aimed to investigateaccountability of agricultural technology dissemination carried out by the Assessment Institutes for AgriculturalTechnology (AIAT) during three years (1998 –2000), based on case studies in 12 provinces of ParticipatoryAssessment of Agricultural Technology Project (PAATP). Data collection was conducted through direct interview andfield observation using questionnaires and the respondents were researchers and agricultural extension workers. Datawere analyzed using qualitative and quantitative approaches. The results showed: (a) technology dissemination carriedout by the AIATs was relatively limited and it depended on appreciation of AIATs’top management, (b) continuedand new technology disseminations were relatively the same with moderate value of 285,2 to 292,9, and (c) toimprove dissemination accountability the AIATs need to focus on indicators of inputs, outputs, benefits, outcomes andimpacts.Key words: Assessment Institutes for Agricultural Technology, dissemination accountability; specific location Diseminasi merupakan tahapan penting dalam upaya menyebarluaskan teknologi hasil penelitian danpengkajian pertanian Makalah ini bertujuan membahas akuntabilitas diseminasi teknologi hasil penelitian danpengkajian oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dalam kurun waktu tiga tahun (1998 –2000), kasus di12 provinsi PAATP. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapanganmenggunakan panduan pertanyaan. Informasi dikumpulkan dari peneliti dan penyuluh pertanian di tiap BPTP contoh.Melalui pembahasan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif diperoleh gambaran berikut: (a) Kegiatan diseminasioleh BPTP masih relatif rendah. Hal ini erat kaitannya dengan apresiasi pimpinan BPTP terhadap kegiatandiseminasi, (b). Keragaan diseminasi yang baru dan lanjutan relatif sama yaitu termasuk dalam kategori nilai cukupdengan kisaran nilai rata-rata 285,2 –292,9, (c) Untuk meningkatkan akuntabilitas diseminasi ini sebaiknyapembinaan difokuskan pada aspek-aspek yang ada dalam masing-masing indikatornya meliputi unsur masukan,keluaran, keuntungan, manfaat dan dampak.Kata kunci : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, akuntabilitas diseminasi, lokasi spesifi

    UJI MULTI LOKASI GALUR HARAPAN DAN VARIETAS PADI TERPILIH DI LAHAN PASANG SURUT

    Get PDF
    Multi location test of seven inbreds and variety have been conducted at tidal swampland area in Kapuasregency during wet season 1998 and 1999, such as in sulfit acid (unit Tatas and Basarang) and potential area (HandilGabin and Lamunti A-2). The purpose of this research are (1) to provide adaptive rice varieties, specifically at tidalswamp land and likely for farmers, (2) to provide seed rice that high quality and specific of location. Using RCBDwith seven treatment that are varieties and inbred, with three replication. The result of multilocation test that showntwo inbreds expectancies i.e KAL-9420 d-Bj-276-3 and KAL-9414 d-Bj-63-1 as adaptive in tidal swampland, withmean productivity 3,8 and 3,6 t/ha yield. Farmers very like this with this varieties because have characteristic whichare small shape of yield and clean of yield.Key words: pure lines, wetland, Oryza sativa, Central KalimantanUji multi lokasi tujuh galur harapan dan varietas padi telah dilaksanakan di lahan pasang surut KabupatenKapuas pada musim hujan 1998 dan musim hujan 1999. Kegiatan dilaksanakan di dua tipologi lahan yaitu lahan sulfatmasam (di unit Tatas dan Basarang), dan lahan potensial (di Handil Gabin dan Lamunti A-2). Tujuan dari kegiatan iniadalah: (1) mendapatkan galur dan varietas padi yang adaptif, spesifik lahan pasang surut dan disukai petani; (2)menyediakan benih padi yang bermutu dan spesifik lokasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalahrancangan petak terbagi dengan 7 (tujuh) perlakuan yaitu varietas dan galur padi dan tiga ulangan. Hasil pengujianmenunjukkan terdapat dua galur harapan yaitu KAL-9420 d-Bj-276-3 dan KAL-9414 d-Bj-63-1 yang diminati petanikarena sangat sesuai dengan selera petani yang umumnya Masyarakat Banjar dan Dayak, yaitu bentuk gabah ramping,rasa nasi pera, dan warnanya bersih serta adaptif di lahan pasang surut Kabupaten Kapuas, dengan rata-rata produksi3,8 t/ha dan 3,6 t/ha gabah kering giling.Kata kunci : galur harapan, lahan pasang surut, padi, Kalimantan Tenga

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇