Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
324 research outputs found
Sort by
PENGARUH SL-PHT TERHADAP KINERJA USAHATANI KOPI RAKYAT (Study Kasus di Kabupaten Malang dan Jombang, Jawa Timur)
In facing the globalization era, Indonesia as a coffee producer country took effort to increase the performance of coffee farm through the program of Integrated Pest Management-Farmer Field School (IPM-FFS). This study was conducted for five months from July throughout November 2004 in Tirtoyudo, Malang District and Wonosalam, Jombang District, East Java. The objectives of research were to evaluate the impact of IPM-Farmer Field School for coffee farms performance in aspects: of (a) the adoption of 1PM technology by farmers, (b) the farms economic visibility and (c) the farms technical efficiency. This research used the survey method and the data were analyzed by using before and after project. Primary data where collected from 80 farmers consisting of 40 IPM-Farmer Field School (alumni) and 40 non-alumni while secondary data were collected from the Office of Estate Crops, the Office of IPM Project, the Central Agency of Statistics and the Research Institutions. The results showed that after IPM-FFS, the percentage of farmers adopting IPM technology has increased as shown by the alumni (78%) and non-alumni (23%). Regular practiced field observations were able to distinguish the predators and did those who did not harm them. Most farmers applied a preventive method in controlling pest while the an-organic pesticide applied when the pests' attack reached the economic threshold. The productivity of alumni increased by 46% (1.128 to 1.641) kg/ha/year compared to that of non-alumni increased by 25% (872 to 1.087) kg/ha/year. The net income of alumni increased by 41% i.e. Rp.3.700.000,- to Rp5.200.000,- /hectare/year. Through the application of IPM technology, the farms technical efficiencies of alumni increased by 29% (0.63 to 0.81) and that of non-alumni increased by 5% (0.63 to 0.66). The program of IPM-FFS increased the performance of coffee farm, both in adoption of IPM technology, economical visibility and technical efficiency. The success of IPM-FFS program should be disseminated to other locations with some adjustments according to condition of new area. Key words: IPM-FFS, farmer, performance, coffee. Dalam menyongsong pasar bebas, Indonesia sebagai negara produsen kopi berusaha meningkatkan kinerja usahatani kopi agar mampu bersaing dengan kopi negara lain, yaitu melalui program sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT). Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan mulai bulan Juli sampai dengan Nopember 2004 di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang dan Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pengaruh program SL-PHT terhadap kinerja usahatani kopi dalam aspek: (a) penerapan teknologi PHT oleh petani, (b) kelayakan ekonomi usahatani dan (c) efisiensi teknis usahatani Penelitian menggunakan metoda survei, data dianalisis secara deskriptif (sebelum dan sesudah projek). Data primer dikumpulkan dari 80 petani terdiri atas 40 petani alumni SL-PHT dan 40 petani non-alumni, sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Perkebunan, Kantor Projek PHT, Badan Pusat Statistik, dan Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah SL-PHT, persentase petani yang mengadopsi teknologi PHT meningkat, petani alumni (78%) dan non-alumni (23%) sudah menerapkan pengamatan agro-ekosistem kebun secara berkala, memahami keberadaan musuh alami dan melestarikannya. Dalam mengendalikan hama, sebagian besar petani menerapkan cara pencegahan (preventive controls), Pestisida an-organik akan diaplikasikan apabila gangguan hama sudah mencapai tingkat ambang ekonomi. Produktivitas kopi petani alumni meningkat 46% (1.128 menjadi 1.641) dan non-alumni meningkat 25% (872 menjadi 1.087) kg/ha/tahun. Pendapatan bersih petani alumni meningkat 41% (Rp.3,7 menjadi Rp.5,2) juta/ha/tahun. Efisiensi teknis usahatani petani alumni meningkat 29% (0,63 menjadi 0,81) dan non-alumni meningkat 5% (0,63 menjadi 0,66). Program SL-PHT dapat meningkatkan kinerja usahatani kopi, baik aspek penerapan teknologi PHT, kelayakan usahatani maupun efisiensi teknis. Keberhasilan program SL-PHT dapat didesiminasikan ke lokasi-lokasi lain dengan penyesuaian berdasarkan kondisi lokasi baru.Kata kunci: SL-PHT, petani, kinerja, kopi
KAJIAN ADAPTASI UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN SISTEM MINA PADI JAJAR LEGOWO DI LAHAN SAWAH IRIGASI
In order to increase farmers’ incomes optimizing use of lowland was carried by applying rice-fishintegrated practice using row planting system of rice with freshwater shrimp and common carp. This assessmentwas aimed at determining optimal number of planting rows in lowland rice-fish integrated practice which wascarried out using a participatory approach on farmers’ low land. The lowland consisted of 12 units with total areaof 1.70 hectares. Densities of freshwater shrimp and common carp were each of 2 and 0.5 ind/m2 . Farm practiceswere carried for 14 weeks with treatments of planting rows of 2:2, 4:2, and 5:2, and the control was commonfarmers’ practice. Results showed that the highest weights of freshwater shrimp and common carp were each of19.53 grams and 195.69 grams, respectively, in treatment of planting row of 2:2 (A). Highest survival rates werefound in treatment 4:2 (B), namely 38.33 and 51.70 percent for freshwater shrimp and common carp, respectively.The costs and return analysis revealed that treatment B got highest profit of Rp 2,229,000 with R/C ratio of 1.3.On the other hand, treatment C (planting-row of 5:2) and treatment D (common farmers’ practice) obtainednegative profits. Productivity of lowland planted with rice only was 5.2 tons/hectare, but it increased to 13.25tons/ha if integrated with freshwater shrimp and common carp.Key words: adaptive research, rice-fish integrated farm, irrigated lowlandOptimalisasi pemanfaatan lahan sawah dilaksanakan dengan menerapkan sistem mina padi jajar legowodengan menggunakan komoditas udang galah dan ikan mas, agar pendapatan petani meningkat. Kajian inibertujuan untuk memperoleh jumlah baris tanam dengan sistem minapadi jajar legowo yang optimal di dalambudidaya udang galah dan ikan mas pada lahan sawah irigasi. Kajian adaptasi udang galah dan ikan mas dilakukansecara partisipatif di lahan petani, pada 12 unit petakan sawah dengan total luas lahan 1,70 hektar. Padatpenebaran untuk udang galah dan ikan mas, yaitu masing-masing adalah 2 ekor/m2 dan 0,5 ekor/m2 . Pemeliharaandilakukan selama 14 minggu, dengan perlakuan yang dicobakan adalah baris tanam jajar legowo 2:2, 4:2, dan 5:2,sedangkan sebagai kontrol adalah cara petani (tanam biasa). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa berat rataratatertinggi diperoleh pada perlakuan jajar legowo 2:2 (A), yaitu udang galah 19,53 gram dan ikan mas 195,69gram. Sedangkan sintasan tertinggi diperoleh pada perlakuan jajar legowo 4:2 (B), yaitu udang galah 38,33 persendan ikan mas 51,7 persen. Hasil analisis usahatani diperoleh keuntungan tertinggi pada perlakuan (B) sebesar Rp.2.229.000,- dengan RC ratio 1,3 sedangkan pada perlakuan C (jajar legowo 5:2) dan perlakuan D (tanam biasa)mengalami kerugian. Tingkat produktivitas lahan jika padi saja diperoleh sebesar 5,2 ton/ha (B), namun jikaditambah udang galah dan ikan mas, produktivitas lahan meningkat menjadi 13,25 ton/ha.Kata kunci : studi adaptasi, sistem mina padi, lahan sawah irigas
THE CONTRIBUTION OF RICE FARMING ON NITROGEN ENRICHMENT IN YEH SUNGI WATERSHED, TABANAN BALI
Pelaksanaan program intensifikasi pertanian melalui konsep revolusi hijau membuat meningkatnyaproduksi padi secara dramatis sehingga pada tahun 1984 Indonesia mencapai swa-sembada beras. Uniknya, sebelumtahun 1984 Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor beras yang terbesar di dunia. Akan tetapi, disampingprestasi yang spektakular dalam produksi padi, dalam beberapa hal revolusi hijau juga memberi kontribusi dampakyang tidak menguntungkan terhadap ekosistem.Perkembangan pertanian di Bali, khususnya sawah sangat terkaitdengan sistem subak. Subak adalah pengaturan air irigasi tradisional di Bali yang telah dilaksanakan sejak berabadabadyang lalu. Sehubungan dengan masalah di atas, penelitian ini telah dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai(DAS) Yeh Sungi di Kabupaten Tabanan, daerah di bagian barat Bali. Daerah penelitian meliputi delapan subakyaitu: Subak Apit Yeh and Subak Uma Poh di daerah hulu tempat tangkapan air; Subak Padangakitan, Jaka, Sungi I,Bena, dan Subak Tangkub di daerah tengah; dan Subak Gde Gadon I di daerah hilir. Penelitian ini dilakukan selama12 bulan, mulai dari bulan April 2001 hingga Maret 2002. Tujuan penelitian adalah: (1) meneliti tingkat pengayaanhara nitrogen di air irigasi yang berkaitan dengan aplikasi intensif pupuk anorganik di berbagai sistem pertaniandalam sistem subak di Bali; (2) meneliti kualitas lingkungan air, berkaitan dengan tingkat pengayaan hara nitrogendi dalam air irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengayaan hara pada air irigasi berkaitan dengan sistempertanian pada sistem subak. Tingkat pengayaan hara di daerah hulu lebih tinggi daripada di daerah tengah dan hiliruntuk N-NO3-; untuk memelihara kelangsungan ekosistem Subak, maka aplikasi pupuk N harus mempertimbangkankandungan hara tersebut dalam air irigasinya. Pelaksanaan pertanian telah menyebabkan pengayaan hara nitrogenyang berlebihan di daerah irigasi, khususnya di daerah tengah maupun hilir yang masing-masing didominasi olehpola pertanian padi-padi-padi dan padi-padi-palawija. Untuk memelihara kelangsungan ekosistem subak, makaaplikasi pupuk nitrogen harus mempertimbangkan kandungan hara di air irigasi.Kata kunci: sistem pertanian padi, pengayaan air irigasi, ekosistem subak. The implementation of agricultural intensification program through the green revolution concept has madethe increasing rice production dramatically and in 1984 Indonesia achieved ice self-sufficiency. Uniquely, before1984 Indonesia was known as the biggest rice importing country in the world. However, beside of spectacularachievement in rice production, green revolution to some cases also contributes less favorable impact to theecosystem. The agricultural development in Bali, particularly rice field is closely related to the subak system. Subakis a traditional model of irrigation water treatment in Bali practiced since centuries ago. The related to abovementionedissues, this research has been conducted at Yeh Sungi watershed in Tabanan District, western part ofBali. The research site includes eight subaks: Subak Apit Yeh and Subak Uma Poh at upstream area of catchmentsarea; Subak Padangakitan, Jaka, Sungi I, Bena, and Subak Tangkub at the middle area; and Subak Gde Gadon I atdownstream area. This research was carried out for 12 months between April 2001 and March 2002. The objectionof this research were: (1) to investigate the water enrichment level of N nutrients in the irrigation water related to theintensive application of inorganic fertilizers at various farming systems in subak system in Bali; (2) to investigatethe water environment quality, related to the water enrichment level of N nutrient in the irrigation water. Research96Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 6, No. 2, Juli 2003 : 95-106results showed that nutrient enrichment on irrigation water related to farming system on subak ecosystem. The levelof nutrient enrichment at upstream (hulu) area is higher than the middle (tengah) and downstream (hilir) areas for N-NO3-.To maintain the sustainability of subak ecosystem, therefore the application of N fertilizer should considerthose nutrients content in irrigation water. The agricultural practice has caused excessive enrichment of N nutrientsin irrigated area, especially at the middle as well as downstream areas dominated by rice-rice-rice and rice-ricepalawija(second crop) cropping patterns.Key words: rice farming system, water enrichment, subak ecosystem
RESPON PETANI TERHADAP TEKNOLOGI TRICHOKOMPOS BERBAHAN DASAR JERAMI PADI DI PROVINSI JAMBI
Farmers’ Response on Trichocompost Technology with Based Material of Rice Straw in Jambi Province. The utilization of rice straw as organic fertilizer with bioactivator Trichoderma sp, well known as Trichocompost, has been introduced to farmers in Jambi Province since the year of 2004. However, till the end of 2009 only 3% of the farmers practiced the technology. Threfore, it was conducted a research aiming to identify problems facing the farmers in practicing the technology. The data was collected on June 2010 through a survey on five regencies which had been introduced by the technology in Jambi Province: Kerinci, Bungo, Sarolangun, Merangin and Tanjung Jabung Barat. The respondents of the survey consisted of 75 farmers who practiced Trichocompost technology and 61 farmers who had not yet practiced or no longer practiced the technology. The result of the research showed that the most difficult technology component practiced by the farmers was “to chop rice straw”. While, the most important difficulty facing the farmers who did not practice the technology was “not enough time and labour” and “lack of socialization on trichocompost technology”. To ensure a long-term application of Trichocompost technology it needs to introduce a more simple method in composting process which is without rice straw chopping, along with integrated and effective socialization activities. Key words: Farmers’ response, Trichocompost, rice straw Pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik dengan menggunakan bioaktivator Trichoderma sp. yang dikenal sebagai Trichokompos telah diintroduksikan kepada petani di Provinsi Jambi sejak tahun 2004. Namun, sampai dengan akhir tahun 2009, baru 3% petani padi yang menerapkan teknologi ini. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi petani dalam menerapakannya. Pengumpulan data dilakukan melalui survei pada bulan Juni 2010 di lima kabupaten yang telah diintroduksikan teknologi Trichokompos, yaitu Kabupaten Kerinci, Bungo, Sarolangun, Merangin dan Tanjung Jabung Barat. Responden penelitian ini terdiri atas 75 orang petani yang menerapkan dan 61 petani yang belum atau tidak lagi menerapkan teknologi Trichokompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen teknologi yang paling sulit diterapkan petani adalah “mencacah jerami”. Kendala utama yang dihadapi sehingga petani tidak menerapkan teknologi Trichokompos adalah “tidak memiliki cukup waktu dan tenaga kerja” serta “kurangnya sosialisasi penerapan teknologi Trichokompos”. Guna penyebarluasan teknologi Trichokompos selanjutnya, maka perlu diintroduksi metode pembuatan yang lebih sederhana yaitu tanpa pencacahan disertai pelaksanaan sosialisasi yang lebih terarah dan terintegrasi. Kata kunci : Respon petani, Trichokompos, jerami pad
KERAGAAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM TANAM LEGOWO-2 PADA PADI SAWAH DI KECAMATAN BANYURESMI, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT
Sustaining productivity growth because of low efficiency of rice production is crucial issue. The asymmetricwide-space (legowo-2) planting system is an alternative. Research results showed that legowo-2 spacing system usingborder effect significantly and consistently increased (12 - 26,9%) average grain yield compared to traditionalsymmetric planting system (tegel). Wider space among rows facilitates faster weeding and fertilizer application. Suchcondition reduces costs of labor for weeding and fertilization. Increase in yield, and time and labor savings makelegowo-2 planting system both economically and socially attractive. In general, cooperating and non-cooperatingfarmers’ responses to legowo-2 planting system and participation of extension workers and local offices in supportingimplementation of the introduced technology were very good. Survey results indicated that more than 95 percent offarmers deemed legowo-2 planting system as good or acceptable technology. Responses of the farmers applying thelegowo-2 planting system were indicated by high values of acceptability indices (50 and 30 in wet season of2000/2001, and 85 in dry season of 2001). Even though these values were only evaluation of technology acceptabilityof the farmers and not a measure of “acceptance” indicating adoption or impact, but a high value of acceptabilityindex was useful to predict a high rate of adoption. In 2003, legowo-2 planting system was promoted on a larger scaleof planted areas.Key words : planting system, asymmetric wide-space and symmetric, productivity, efficiency, dissemination.Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan selama beberapa tahun terakhirini menghadapi masalah terutama dengan rendahnya efisiensi usahatani. Untuk itu diperlukan suatu terobosanteknologi yang mampu meningkatkan efisiensi usahatani padi. Salah satu alternatif teknologi adalah melaluipenerapan sistem tanam legowo-2 yang telah dikaji dalam jangka waktu panjang (empat tahun). Hasil pengkajianmenunjukkan bahwa dengan tersedianya ruangan luas yang memanjang ke satu arah, maka legowo-2 dibandingkandengan sistem tegel, memberikan beberapa keuntungan diantaranya: peningkatan produksi secara nyata dan konsistendengan kisaran 12-26,9 dan memudahkan serta mengurangi biaya produksi yang disebabkan karena berkurangnyawaktu dan biaya tenaga kerja untuk penyiangan gulma dan pemupukan. Respons petani (95% dari petani) terhadapsistem tanam legowo dan dukungan penyuluh serta petugas lapang lainnya terhadap penerapannya di tingkat petanisangat positif. Dengan demikian teknologi ini layak baik secara teknis, ekonomi, maupun sosial untuk dikembangkansecara luas. Respons tersebut didukung oleh nilai indeks penerimaan yang tinggi, yaitu 50 dan 30 pada MH 2000/2001dan kemudian meningkat menjadi 85 pada musim berikutnya (MK 2001). Meskipun nilai-nilai tersebut bukanmerupakan suatu ukuran dari adopsi teknologi, tetapi nilai yang sangat tinggi dapat digunakan sebagai indikatorbahwa teknologi tersebut mempunyai peluang yang tinggi untuk diadopsi petani secara luas. Pada tahun 2003, dengandukungan aparat pemerintah daerah, sistem tanam legowo telah dikembangkan baik di wilayah pengkajian maupunkabupaten lainnya.Kata kunci : cara tanam: Legowo-2, tegel, produktivitas, efisiensi, diseminas
KAJIAN KELEMBAGAAN DAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR SULAWESI BARAT
Institutional and Integrated Pest Management Assessment of Cacao Farming System in Polewali Mandar District, West Sulawesi. Up to the present, experts of cacao are still looking for the solution to increase cacao products and cacao farmers' income, among them are the efforts of reinforcing cacao institutes and conducting suggested farming system. For example, the application Integrated Pest Management (IPM), especially to overcome the pest of cacao fruit (PBK), mouse and rotten disease of fruit. The components of IPM consist of (a) covering cacao fruit; (b) increasing harvest frequency; (c) sanitation; (d) fertilization; (e) clipping and (f) developing black ant. The study was executed at countryside in Kurma Village, District of Mapilli, Sub-Province of Polewali Mandar, West-Sulawesi in 2007. The areas used for this study covering a 20 hectares of land involving 25 cacao farmers that were attacked by cacao pest (PBK), mouse, and fruit rotten disease. The study includes three important aspects such as: (1) the institutes of cacao production farming, (2) the evaluation and verification of IPM at production scale, and (3) farmers' responSes. The research study indicated that institute of cacao production farming District of Mapilli, Sub-Province of Polewali Mandar was running towards the expected goal, because the production and maintenance of record data has been done. The production facilities and marketing of the institute needs guidance, because the price differences received by the farmers are still high ranging from 19% to 22%. The application of the IPM components package on farmers' land in technical and economical terms should be done considering that the income level of IPM farmers is higher compared to non-IPM farmers (i.e. Rp.13.376.180 and Rp.9.115.000 respectively). Key words: Institute, integrated pest management, cacao farming system Sampai saat ini, para pakar kakao masih mencari solusi untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani kakao. Upaya penguatan kelembagaan pada usahatani kakao dan menerapkan sistem budidaya yang dianjurkan. Penerapan paket Pengendalian Hama Terpadu (PHT), terutama untuk mengatasi hama Pengerek Buah Kakao (PBK), tikus dan penyakit busuk buah. Komponen PHT yang diterapkan adalah (a) penyarungan buah kakao; (b) panen sering; (c) sanitasi; (d) pemupukan; (e) pemangkasan dan (f) pengembangan semut hitam. Pengkajian dilaksanakan di Desa Kurma, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tahun 2007. Areal yang digunakan adalah pertanaman kakao yang terserang Hama PBK, tikus, dan penyakit busuk buah, dilakukan pada lahan petani dengan luas 20 ha, melibatkan 25 petani. Pengkajian mencakup tiga aspek utama yaitu: (1) Kelembagaan usahatani kakao, (2) Evaluasi dan verifikasi rakitan paket PHT pada skala produksi, dan (3) respon petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kelembagaan produksi usahatani kakao di Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar sudah berjalan sesuai harapan, karena sudah melakukan kegiatan produksi dan pencatatan data hasil produksi. Kelembagaan sarana produksi dan pemasaran masih pembinaan, karena perbedaan harga yang diterima petani masih berkisar 19-22%. Penerapan komponen Paket PHT kakao di Lahan petani layak untuk dilaksanakan, baik secara teknis maupun secara ekonomis, dengan tingkat pendapatn petani pelaksana paket PHT mencapai Rp.13.376.180 jauh lebih besar dibandingkan dengan petani non PHT yaitu Rp.9.115.000. Kata kunci: Kelembagaan, pengendalian hama terpadu, usahatani kaka
ANALISIS RESPON PENAWARAN PETANI KENTANG DI KECAMATAN KAYU ARO KABUPATEN KERINCI
Supply Response Analysis of Potato Farmers in the Kayu Aro Subdistrict, Kerinci Regency. In Otonomi Daerah (OTDA) era, Regional government efforts to look for regional potency in order to increaseRegional Income. Potato in Kerinci Regency has given a significant contribution in Kerinci’s PDRB. Supply response and input demand by potatoes’farmers in Kayu Aro District Kerinci Regency was estimated by using profit function. The objective of this study is to analyze supply response on potatoes’farmers. Research was conducted in Kayu Aro District Kerinci Regency from August to December 2007. About 65 potato farmers were collected by simple random sampling in three villages Kayu Aro District. The result showed that farmers do maximize their profit in short term and response to price changing efficiently. Potato’s supply elasticity with considering its price was closed to one (Sbi = 0,983)Pada masa Otonomi Daerah (OTDA), Pemerintah Daerah berupaya untuk mencari potensi daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kentang di Kabupaten Kerinci telah memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan PDRB daerah Kerinci. Respon penawaran dan permintaan input oleh petani yang mengusahakan kentang di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci diestimasi menggunakan analisis fungsi keuntungan. Tujuan studi ini untuk menganalisis respon penawaran petani kentang. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2007. Sebanyak 65 petani kentang diambil secara acak di tiga desa Kecamatan Kayu Aro. Hasil memperlihatkan bahwa petani benar-benar memaksimumkan keuntungannya dalam jangka pendek dan respon terhadap perubahan harga secara efisien. Elastisitas penawaran kentang dengan mempertimbangkan harganya sendiri mendekati satu (Sbi = 0,983)
AKTIVITAS HARIAN PETANI BERDIMENSI JENDER DAN ETNIS (Kasus Beberapa Desa di Sumatera Utara)
Daily activities of farmers can show time, working load of a person and their families. It is useful to analyzeand to compare daily activities of groups or ethnics. Dominant ethnics in Deli Serdang and Langkat are Javanese,Tapanuli/Toba, Mandailing, Malay, and Karo. Assessment pattern was not unique, but completed with other studies(PRA and observation), previous assessment, and secondary data. The study was conducted in the villages of HinaiKiri, Kebun Kelapa, and Sungai Ular (Secanggang) (1999), Sidomulio, Sambirejo, Sendangrejo (Binjai) (2000 -2001), Purwobinangun, Namuterasi Pasar 8 (Sei Bingei) (2000 - 2001) (Langkat Districts); Sumberejo, SukamandiHulu, Sukamandi Hilir (Pagar Merbau) (2000), Tanjung Rejo, Tanjung Selamat (Percut Sei Tuan) (2002) (DeliSerdang Districts). Results showed that settlement segregation were based on ethnics. Job segregation was correlatedwith historical aspect. Productive working women of Tapanuli, Karo and Mandailing ethnics as the main incomefamilies’ earners were found more in their original home villages. It was different with those in Langkat or DeliSerdang where ethnic heterogeneity tended to change their daily activities. Social and cultural factors, patriarchalreligious values, or structure and jender ideology tended to create unequal jender.Key words : daily activity, jender, ethnicAktivitas harian petani akan memperlihatkan waktu, beban kerja seorang dan keluarga, berguna untukanalisis dan perbandingan pola kegiatan rutin keluarga, kelompok atau etnis. Etnis-etnis dominan di Deli Serdang danLangkat adalah Jawa, Tapanuli/Toba, Mandailing, Melayu, dan Karo. Pola kajian tidak khusus, mendampingi kajianlain dengan data primer (PPSP dan pengamatan), hasil kajian sebelumnya dan data sekunder. Kajian dilakukan di desaHinai Kiri, Kebun Kelapa, Sungai Ular (Secang`gang) (1999), Sidomulio, Sambirejo, Sendangrejo (Binjai) (2000 -2001), Purwobinangun, Namuterasi Pasar 8 (Sei Bingei) (2000 - 2001) (Kabupaten Langkat); Sumberejo, SukamandiHulu, Sukamandi Hilir (Pagar Merbau) (2000), Tanjung Rejo, Tanjung Selamat (Percut Sei Tuan) (2002) (KabupatenDeli Serdang). Hasil kajian menunjukkan segregasi pemukiman ditemukan berdasarkan etnis. Adanya segregasipekerjaan tidak terlepas dari aspek historis. Kegiatan produktif perempuan pada etnis Tapanuli, Karo atau Mandailingdi daerah asalnya cukup besar (tulang punggung ekonomi keluarga). Hal ini berbeda dengan yang ada di Langkat atauDeli Serdang, heterogenitas etnis cenderung merubah pola aktivitas harian mereka. Faktor sosial budaya, nilai religiyang cenderung patriarkhi, atau struktur dan ideologi jender yang melekat, cenderung menciptakan ketidaksetaraanjender.Kata kunci : aktivitas harian, jender, etni
PRODUKSI DAN ANALISIS EKONOMI SAPI BALI YANG DIBERI PAKAN PELEPAH SAWIT DI MUSIM KEMARAU, SUMATERA BARAT
Production and Economic Analysis of Bali Cattle Using Feed of Palm Frond During Dry Season, West Sumatera. Problems of cattle feed during dry season could be solved by additional of palm frond without adversely affected the cattle production. The aim of this research was to determine body weight gain and to conduct the economic analysis of Bali cattle which was fed palm frond during dry season. The design of the experiment was Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications in each treatment. The total of 12 Bali cattle on the age of 1,5-2 year old and the average body weight 170kg were used in this study. The treatments were R0 (grass + concentrate), R1 (grass + 3kg palm frond + concentrate), R2 (grass + 4 kg palm frond + concentrate) and R3 (grass + 5 palm frond + concentrate). Grass was given ad-libitum, while concentrate was given 1,5kg/day consisting of 40% rice brand, 14% corn, 30% palm oil meal, 7% soybean meal, 5% fish meal, 3% mineral dan 1% salt. The parameters observed were average daily gain (ADG), return over cost ratio (R/C) and net income value. The results showed that the performance of Bali cattle had significantly different (P<0,05) on average daily gain compared to other Bali cattle that was not fed palm frond. Bali cattle by R2 had average daily gain of 0.54 kg/day higher than others by R0, which had average daily gain of 0.42 kg/day. The economic analysis showed that Bali cattle by R2 had R/C of 1.39 and net income value of 3.6 times higher than those by R0 which had R/C of 1.11. Thus, it can be concluded that palm frond for Bali cattle feed could substitute grass up to 30 percent, increase farmer income and also solve the problems to find grass during dry season. Key words: Bali cattle, dry season, palm oil frond, growth, economic analysis Masalah pakan sapi di musim kemarau yang sulit diperoleh diharapkan dapat diatasi dengan pemberian pelepah sawit tanpa menyebabkan dampak buruk terhadap produktivitas ternak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertambahan bobot badan dan analisa ekonomi sapi Bali yang diberi pakan pelepah sawit pada musim kemarau. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Sebanyak 12 ekor sapi Bali jantan umur 1,5-2 tahun dengan bobot badan rata-rata 170 kg digunakan dalam penelitian ini. Sapi tersebut dibagi menjadi empat kelompok dan diberikan perlakuan pakan R0 (rumput+konsentrat), R1 (rumput+3kg pelepah sawit+konsentrat), R2 (rumput+4kg pelepah sawit+konsentrat) dan R3 (rumput+5kg pelepah sawit+konsentrat). Rumput diberikan secara ad-libitum, sedangkan konsentrat sebanyak 1,5kg/hari yang merupakan campuran dari 40% dedak halus, 14% jagung halus, 30% bungkil sawit, 7% bungkil kedelai, 5% tepung ikan, 3% ultra mineral dan 1% garam. Parameter yang diukur meliputi pertambahan bobot badan harian (PBBH), return over cost ratio (R/C) dan nilai keuntungan bersih (NKB). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan pelepah sawit memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan sapi Bali. Pemberian pakan pelepah sawit R2 pada sapi Bali menghasilkan PBBH 0,54 kg/hari lebih tinggi dibanding sapi Bali yang diberikan pakan R0 tanpa pelepah sawit dengan PBBH 0,42 kg/hari. Analisis ekonomi sapi Bali yang diberi pakan pelepah sawit R2 memperlihatkan nilai R/C 1,39 dan nilai keuntungan bersih 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan pakan tanpa pelepah sawit R0 dengan nilai R/C 1,11. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian pelepah sawit terhadap sapi Bali mampu menggantikan rumput hingga 30% kebutuhan konsumsi bahan kering dan bisa mengatasi masalah kesulitan memperoleh rumput di musim kemarau. Kata kunci: Sapi Bali, musim kemarau, pelepah sawit, berat badan, analisis ekonom
KAJIAN TEKNOLOGI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH
Corn as a second food crop after rice was very important due to its utilization as feed and raw material forindustries. Central Kalimantan has potency for increasing national corn production with its 14.63 million hectares ofdryland. AIAT Palangkaraya conducted corn-based farming system assessment during rainy season of 1998/1999 indryland area of Batuah Village, Dusun Tengah District, Barito Selatan Regency. The assessment consisted of 2.5 haarea and 10 cooperating farmers. This study aimed to increase corn and seed yields, and farmers’ income. The studyconsisted of two activities, namely super-imposed study covering 0,45 hectare of dry land area and the second was theimplementation of technology package of Bisma variety. Split Plot Design was used for super imposed study with themain plot consisiting of five corn varieties, namely V1 = Bisma, V2 = Lagaligo, V3 = Semar 2, V4 = CP-1, and V5 =white corn. Treatments for each the main plot consisted of five levels of fertilizers application, namely P1 = 300 kgUrea/ha + 175 kg SP-36/ha + 125 kg KCl/ha, P2 = 275 kg Urea/ha + 150 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha, P3 = 250kg Urea/ha + 125 kg SP-36/ha + 75 kg KCl/ha, P4 = 225 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha dan P5 = 200kg Urea/ha + 75 kg SP-36/ha + 25 kg KCl/ha. The results showed that Bisma variety using fertilizer dosage P3 hadthe yield of 5.61 tons /ha and R/C ratio of 2.92 in the super imposed, and Bisma variety planted using fertilizerdosage P3 had the yield of 4.07 tons/ha and R/C ratio of 2.35 in the package technology. Corn farming in that regionwas profitable due to its R/C ratio of more than one. However, the government needs to guarantee supply of inputsand the farm gate price to sustain corn production in this region.Key words : zea mays, corn farming system, dry land, Central KalimantanJagung merupakan komoditas pangan yang penting kedua setelah padi, karena berfungsi sebagai makananpokok dan pakan ternak serta bahan baku industri. Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yangberpeluang besar dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional, karena masih memiliki lahan kering seluas14,63 juta hektar. Salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP Palangkaraya dalam peningkatan produksi jagungadalah melaksanakan Pengkajian Teknologi Usahatani Berbasis Jagung di Lahan Kering dengan tujuan dapatmeningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pengkajian dilaksanakan pada musim hujan dengan luashamparan 2,5 hektar yang melibatkan 10 petani kooperator. Pengkajian dilaksanakan di Desa Batuah, KecamatanDusun Tengah, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah pada MH 1998/1999. Pengkajian dilaksanakan terdiridari Pengkajian Utama dan Pengkajian Super Imposed yang merupakan inti pengkajian seluas 0,45 hektar. PengkajianUtama ditanam jagung varietas Bisma dengan menerapkan dosis pemupukan sesuai anjuran dari Dinas TanamanPangan. Pengkajian Super Imposed menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan Varietas sebagai petak utamadan dosis pupuk sebagai anak petak. Varietas terdiri dari lima level yaitu Bisma, Lagaligo, Semar-2, CP-1 dan jagungputih. Dosis pupuk terdiri dari lima level yaitu P1 = 300 kg Urea/ha + 175 kg SP-36/ha + 125 kg KCl/ha, P2 =275 kg Urea/ha + 150 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha, P3 = 250 kg Urea/ha + 125 kg SP-36/ha + 75 kg KCl/ha, P4 =225 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha dan P5 = 200 kg Urea/ha + 75 kg SP-36/ha + 25 kg KCl/ha. Hasilpengkajian Utama menunjukkan produktivitas jagung 4,07 ton/ha dan R/C-ratio sebesar 2,35. Pada Pengkajian SuperImposed menunjukkan bahwa dosis pupuk P3 dan varietas Bisma memberikan hasil tertinggi dengan produktivitas5,61 ton/ha dengan R/C rasio sebesar 2,92. Teknologi usahatani tersebut secara ekonomis menguntungkan petani40Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 39-54karena menunjukkan R/C rasio lebih besar dari satu. Hal ini dapat berkelanjutan apabila sarana produksi tersedia danada kestabilan harga serta jaminan pasar yang jelas dengan didukung oleh pemerintah, swasta atau KUD.Kata kunci : jagung,sistem usahatani, lahan kering, Kalimantan Tenga