Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Not a member yet
    324 research outputs found

    PENGARUH BAHAN KEMASAN TERHADAP KUALITAS BENIH BEBERAPA VARIETAS WIJEN (Sesamum Indicum.L)

    Full text link
    The Effect of Packaging Materials On The Quality of Sesame Seed Varieties (Sesamum Indicum .L) Sesame is a plant that has high nutritional value and has a good impact on those who consume it. The success of any program to develop a commodity needs to be supported by the existence of superior varieties and quality seeds because superior varieties have been recognized as applicable, cheap, safe, environmentally friendly technology, and have high compatibility when combined with other advanced technologies. The research objective was to determine the best interaction between varieties treatment and seed packaging techniques on the quality of sesame seeds. This study used a factorial completely randomized design (CRD) consisting of 2 (two) factors and was repeated 4 (four) times. The results of the analysis showed that the interactions occurred in the germination parameters (viability) and the percentage of disease parameters. The highest viability was found in the treatment of the Sumberejo 1 sesame variety with sack packaging, and the Sumberejo 4 sesame variety with the sack package, while the lowest viability was in the treatment of the Winas 1 sesame variety with cloth packaging. The parameters of seed disease attack with the highest value were 100% in the Sumbberejo 1 variety with plastic sack packaging, the Sumberejo 2 variety with plastic sack packaging, the Sumberejo 2 variety with cloth plastic packaging, the Sumberejo 3 variety with cloth packaging, Winas 1 variety with sack packaging, and the lowest with a percentage of 0.35% in the Sumberejo 4 variety with plastic cloth packaging. This study shows that the best treatment combination is the varieties of Sumberejo 1, Sumberejo 3, and Sumberejo 4 with sack packaging. The best combination of varieties and packaging against disease is the Sumberejo 4 variety with plastic cloth packaging.Keywords: packaging, sesame seed, storage, varietiesABSTRAK Wijen merupakan tanaman yang memiliki nilai gizi tinggi dan memiliki dampak baik bagi yang mengkonsumsi. Keberhasilan setiap program pengembangan suatu komoditas perlu ditunjang adanya varietas unggul dan benih bermutu, karena varietas unggul telah diakui sebagai teknologi yang aplikatif, murah, aman, ramah lingkungan dan memiliki kompatibilitas yang tinggi bila dipadukan dengan teknologi maju lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui interaksi terbaik perlakuan varietas dan teknik pengemasan benih terhadap kualitas benih tanaman wijen. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAL) yang terdiri dari 2 (dua) faktor dan diulang sebanyak 4 (empat) kali. Hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi terjadi pada paramater daya kecambah (viabilitas) dan paramater prosentase cendawan berpotensi patogen. Viabilitas tertinggi terdapat pada perlakuan varietas wijen Sumberejo 1 dengan kemasan karung, dan varietas wijen Sumberejo 4 dengan kemasan karung, sedangkan viabilitas terendah pada perlakuan varietas wijen Winas 1 dengan kemasan kain.  Parameter serangan penyakit benih dengan nilai tertinggi 100% pada varietas Sumbberejo 1 dengan kemasan plastik karung, varietas Sumberejo 2 dengan kemasan plastic karung, varietas Sumberejo 2 dengan kemasan plastic kain, varietas Sumberejo 3 dengan kemasan kain, varietas Winas 1 dengan kemasan karung, dan terendah dengan prosentase 0,35% pada varietas Sumberejo 4 dengan kemasan plastic kain.  Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik adalah varietas Sumberejo 1, Sumberejo 3, dan Sumberejo 4 dengan kemasan karung.  Kombinasi varietas dan kemasan terbaik terhadap serangan cendawan berpotensi sebagai patogen adalah varietas Sumberejo 4 dengan kemasan plastic kain. Kata Kunci: kemasan, penyimpanan, varietas, biji wije

    COVER DAN DAFTAR ISI

    No full text

    PENGARUH PENGGUNAAN DEDAK FERMENTASI DALAM PAKAN TERHADAP KUALITAS KARKAS DAN SIFAT FISIK DAGING AYAM KUB

    Full text link
    Carcass quality and physical characteristics of KUB chicken meat feed with fermented rice bran. Kampung Unggul Badan Litbang (KUB) chicken is a egg-type improved native chicken which has been benefited as meat producers achieving live weight of 900-1000 g/bird at 10 weeks of age. It had percentage of whole carcass of about 59%. KUB’s growth rate, carcass quality and physical characteristics of chicken meat would mostly be depend on feed among other factors. The aim of this study was to determine carcass quality and physical characteristics of KUB chicken meat fed with non fermented rice bran (NFRB) and fermented rice bran (FRB). This study used 20 KUB chickens at 9 weeks old. Feed treatments were given with FRB and NFRB for 3 weeks. Fermented rice bran using local microorganism mixed with rice and molases for 4 days duration. Observed variables were carcass quality and physical characteristics of KUB chicken meat. Collected data were analyzed by t-test independent sample testing. The result showed that carcass quality and physical characteristics of KUB chicken meat that fed with non fermented rice bran (NFRB) and fermented rice bran (FRB) were not significantly different (P> 0.05). pH of FRB and NFRB KUB chicken meat were 6.4 and 6.30, respectively. Their percentage of cooking loss were 24.29% and 17.49%, respectively for FRB and NFRB birds. Percentage of carcass weigth were 69.10% and 70.26%, repectively for FRB and NFRB birds. Percentage of abdominal fat were 0.94% and 0.82%, respectively for FRB and NFRB birds. Based on the results, it can be concluded that fermented rice bran using as feed ingredient for KUB chicken did not significantly improve carcass quality and physical characteristics of KUB chicken meat.Keywords: Carcass quality, physical characteristics, KUB chicken, fermented rice bran ABSTRAKAyam KUB merupakan ayam kampung tipe petelur unggul yang dimanfaatkan sebagai ayam lokal penghasil daging dengan bobot mencapai 900-1000 g/ekor pada umur 10 minggu dengan persentase karkas mencapai 59%. Laju pertumbuhan ayam KUB serta kualitas karkas dan sifat fisik daging sangat bergantung terhadap faktor pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas karkas dan sifat fisik daging ayam KUB dengan pemberian dedak padi fermentasi (PF) dan dedak padi non fermentasi (PNF). Penelitian menggunakan 20 ekor ayam KUB umur 9 minggu. Perlakuan yang diberikan ada dua yaitu yaitu  pakan dengan dedak padi fermentasi (PF) dan pakan dengan dedak padi tanpa fermentasi (PNF) yang dilakukan selama 3 minggu. Fermentasi menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) nasi dan molases, fermentasi dilakukan 4 hari.  Parameter yang diamati yaitu  kualitas karkas dan sifat fisik daging. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji independent sample t test (uji T). Kualitas karkas dan sifat fisik daging ayam KUB yang diberi PF dan yang diberi PNF tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0.05). Persentase karkas ayam PF 69,10% dan ayam PNF 70,26% serta persentase lemak abdominal ayam PF 0,94% dan ayam PNF 0,82%. Nilai pH daging ayam KUB perlakuan PF dengan perlakuan PNF menunjukkan 6,4 dan 6,30. Persentase susut masak ayam PF 24,29 dan ayam PNF 17,49%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan fermentasi dedak yang digunakan sebagai bahan pakan ayam KUB tidak meningkatkan kualitas karkas dan fisik daging ayam KUB.Kata kunci : kualitas karkas, sifat fisik, ayam KUB, dedak padi, fermentas

    PENGARUH DOSIS PUPUK DAN VARIETAS PADI PADA LAHAN SAWAH BUKAAN BARU DI PULAU BANGKA

    No full text
    The effect of fertilizer dosage and rice varieties on productivity of rice in the new open paddy fields in Bangka island. Agriculture is a main sector in economic development in supporting food security in the Province of Bangka Belitung Islands. Food production, especially rice in the Bangka Belitung Province, has only been able to meet 45% of the total demand for rice in this area and the rest still has to be supplied from other regions. Efforts to increase rice production, the government continues to open new paddy fields to increase rice production. In the last 5 years, the area of new open paddy fields is 16,993 ha, of which 9,416 ha (55.41%) are located in South Bangka Regency and the rest are scattered in other districts. This study aims to determine the effect of giving several doses of fertilizers and varieties on rice production in new open paddy fields. The study design used a randomized block design with 2 factors, namely: The first factor was a fertilizer dose with 3 levels of treatment: a) Dose of fertilizer based on Katam / PUTS; b) The dosage of fertilizer based on recommendations from research institutes / universities / R&D; and c) Fertilizer dosage based on laboratory soil analysis results. The second factor was rice varieties with 3 treatment levels: a) Inpari 30 (V1); b) Inpara 2 (V2); and c) Local varieties of Beams (V3). The results of the study showed that the fertilizer dose treatment based on the analysis of the chemical properties of the soil and the Inpara 2 variety showed the highest production yield (5.02 t/ha) compared to other treatments. The Inpara 2 variety which is more adaptive to newly opened paddy fields with fertilizer application based on the results of the chemical analysis is recommended to increase the production. Keywords: fertilizer dosage, variety, paddy, new open paddy fieldsABSTRAK  Pertanian menjadi sektor andalan pembangunan ekonomi dalam mendukung ketahanan pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Produksi pangan khususnya beras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga saat ini baru dapat mencukupi 45% dari total kebutuhan beras di daerah ini dan sisanya masih harus disuplay dari daerah lainnya. Salah satu upaya pemerintah untuk terus meningkatkan produksi beras adalah dengan melakukan pembukaan sawah baru. Pada kurun waktu 5 tahun terakhir luas sawah bukaan baru seluas 16.993 ha, dimana luas lahan tersebut 9.416 ha (55,41%) terdapat di Kabupaten Bangka Selatan dan sisanya tersebar di Kabupaten lainnya. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa dosis pupuk dan varietas  terhadap produksi padi pada lahan sawah bukaan baru di Pulau Bangka. Rancangan pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor yaitu: Faktor pertama berupa dosis pupuk dengan 3 taraf perlakuan: a) Dosis pupuk berdasarkan Katam/PUTS; b) Dosis pupuk berdasarkan rekomendasi dari lembaga penelitian/Universitas/Litbang; dan c) Dosis pupuk berdasarkan hasil analisis tanah laboratorium. Faktor kedua berupa varietas padi dengan 3 taraf perlakuan: a) Varietas Inpari 30 (V1); b) Varietas Inpara 2 (V2); dan c) Varietas lokal Balok (V3). Dari hasil pengkajian menunjukan bahwa perlakuan dosis pupuk berdasarkan hasil analisis sifat kimia tanah dan varietas Inpara 2 menunjukkan hasil produksi paling tinggi (5,02 t/ha) dibandingkan perlakuan lainnya.Varietas Inpara 2 yang lebih adaptif pada sawah bukaan baru dengan pemberian pupuk berdasarkan hasil analisis sifat kimia tanam direkomendasikan untuk peningkatan produksi. Kata kunci: dosis, varietas, padi, sawah bukaan baru

    PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TERHADAP PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.)

    Full text link
    The Effect of Altitude on Productivity and Quality of Bean Seeds (Phaseolus vulgaris L). The bean plant (Phaseolus vulgaris L.) is an annual horticultural crop with high economic value. In 2017, East Java experienced a decline in production of 3.80%. The tendency to decline was due to the quality of the seeds. This study was aimedto determine the productivity and quality of the bean seeds coded BU010 at different altitudes and to determine the relationship between height and productivity and quality. The research was conducted at three altitudes, namely Pucanganom Village (395 masl), Tlogosari Village (590 masl), and Sumberwringin Village (740 masl) in Bondowoso Regency. The study used a field experiment that was not randomized and the factors under study were altitude. Five sample points were taken in each location so that there were 15 data. The data obtained were analyzed using ANOVA and continued with correlation analysis with the independent variable in the form of altitude. The results showed that the difference in altitude gave a difference to productivity, namely the variable weight per m2. The height of the place gave a difference in the quality of the seeds, namely the variable weight of 100 seeds, vigor, and viability of the seeds produced. An altitude of 590 masl can be recommended for the development of the bean coded BU010 with the highest productivity which wasdescribed by the weight per m2, namely 7.91 ton ha-1. Seed quality at an altitude of 590 masl hadthe heaviest weight of 100 seeds, 96% viability, 98% seed viability. The relationship between altitude and productivity and seed quality factors was very low to moderate. The correlation value ranged from 0.12 to 0.44. Meanwhile, the relationship between altitude and total N content, rainfall, and temperature was very strong. Altitude had no significant effect on seed productivity and quality, and the weight of 100 seeds had a moderate positive correlation value of 0.4.The results of this study can be used as recommendations for farmers in the cultivation of bean coded BU010.The recommended altitude for the cultivation of beans code BU010 is 590 masl. Keywords: beans seeds, productivity, seed quality, altitude  ABSTRAK Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman hortikultura dengan nilai ekonomis yang tinggi. Pada 2017 di Jawa Timur terjadi penurunan produksi sebesar 3,80%. Kecenderungan penurunan disebabkan kualitas benih. Penelitian ini bertujuan mengetahui produktivitas dan kualitas benih buncis kode BU010 pada berbagai ketinggian tempat yang berbeda serta mengetahui hubungan antara ketinggian terhadap produktivitas dan kualitas. Penelitian dilakukan di tiga ketinggian tempat, yaitu Desa Pucanganom (395 mdpl), Desa Tlogosari (590 mdpl) dan Desa Sumberwringin (740 mdpl) di Kabupaten Bondowoso. Penelitian menggunakan percobaan lapang tanpa pengacakan dan faktor yang diteliti adalah ketinggian tempat. Sebanyak lima titik sampel diambil di masing-masing lokasi, sehingga diperoleh 15 data. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan analisis korelasi dengan variable bebas berupa ketinggian tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan ketinggian tempat memberikan perbedaan terhadap produktivitas yaitu pada variable bobot per m2. Ketinggian tempat memberikan perbedaan pada kualitas benih yaitu pada variabel bobot 100 benih, vigor dan viabilitas benih yang dihasilkan. Ketinggian 590 mdpl dapat direkomendasikan untuk pengembangan buncis kode BU010 dengan produktivitas tertinggi yang digambarkan oleh bobot per m2 yaitu 7,91 ton ha-1. Kualitas benih pada ketinggian 590 mdpl memiliki bobot 100 benih paling berat, vigor 96%, dan viabilitas benih 98%. Hubungan antara ketinggian tempat dengan faktor produktivitas dan kualitas benih sangat rendah hingga sedang. Nilai korelasi berkisar 0,12 - 0,44. Sementara hubungan antara variable ketinggian tempat terhadap kadar N-total, curah hujan, dan suhu adalah sangat kuat. Ketinggian tempat tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas dan kualitas benih, hanya saja bobot 100 benih memiliki nilai korelasi positif sedang yaitu 0,4. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi bagi petani dalam budidaya buncis kode BU010. Rekomendasi ketinggian tempat untuk budidaya buncis kode BU010 yaitu pada ketinggian 590 mdpl. Kata kunci: benih, buncis, produktivitas, kualitas, ketinggian tempa

    Cover dan Daftar Isi

    No full text

    PENGHIDUPAN PETANI KELAPA DI DESA APULEA KECAMATAN LOLODA UTARA KABUPATEN HALMAHERA UTARA

    Full text link
    Livelihood of Coconut Farmers in Apulea Village of North Loloda Sub-District North Halmahera District. The living conditions of the people of Apulea Village are isolated due to the limited physical capital with the main livelihoods of the people at this village come from coconut plantation farmers with copra production as a superior commodity whose processing is carried out traditionally, a strategy to survive by utilizing natural resources that supporting their needs. This study aims to describe coconut farmer household strategies in using assets to meet their household needs. This research was conducted in Apulea Village, of North Loloda Sub-District of North Halmahera District from September 2017 to November 2018. This research used qualitative method with a case study approach. The data were gathered through observation method, in-depth interview method and document study. The key informants involved in this study were selectively chosen based on their livelihood backgrounds and experiences relevant to the context of the study, which were consisted of four people. The results of this study indicated that in order to support the needs of coconut farmers in Apulea Village, four household livelihood strategies are carried out namely: “makiriwo” working group strategy of with the “leleani” philosophy, the intercropping farming strategy, the double income strategy and the patron-client strategy. Keywords: coconut farmer, livelihood strategy, livelihoods ABSTRAK Kondisi kehidupan masyarakat Desa Apulea terisolasi karena keterbatasan modal fisik, dengan komoditas unggulan yang pengerjaannya dilakukan secara tradisonal, strategi untuk bertahan hidup dengan pemanfaatan aset sumber daya alam yang mendukung untuk memenuhi kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi rumah tangga petani kelapa dalam pemanfaatan aset untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Penelitian ini dilakukan di Desa Apulea Kecamatan Loloda Utara Kabupaten Halmahera Utara pada bulan September 2017 sampai bulan November 2018. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data penelitian menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen.  Informan kunci yang dilibatkan dalam penelitian ini dipilih secara selektif berdasarkan latar belakang mata pencaharian dan pengalaman yang relevan dengan konteks penelitian yang terdiri dari empat orang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup petani kelapa Desa Apulea melakukan empat strategi nafkah rumah tangga, yaitu: strategi kelompok kerja makiriwo dengan filosofi leleani, strategi bercocok tanam tumpang sari, strategi nafkah ganda, dan strategi patron-klien.Kata kunci: petani kelapa, strategi penghidupan, mata pencaharia

    STATUS NUTRISI DAN KINERJA REPRODUKSI INDUKAN SAPI BALI PADA PETERNAKAN RAKYAT DENGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI

    Full text link
    Nutritional status and reproductive performance of Bali cows in smallholder farming integrated system of palm oil-cattle. This study aimed to determine the status of nutritional adequacy and reproductive performance of Bali cows on smallholder farms in an integrated system of oil palm-cattle. The cattle were raised under intensive, semi-intensive and extensive management. The research was conducted from August 2020 to January 2021 in Sungai Selan and Romadon Village, Sungai Selan District, Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province. The material used was 127 Bali cows which were reared under a full intensive management (34 heads), semi-intensive management (48 heads), and extensive management(45 heads). The parameters observed were the daily nutrients consumed, and the reproductiveability, which included by age, body condition score, age at puberty, age at first mating, service per conception, age at first birth, calf birth weight, age of weaning, postpartum lust, and calving interval. Research result showed that the protein consumption of cows reared in an integrated system of oil palm-cattle under semi-intensive and extensive managementdid not fulfill the requirements for pregnancy and lactation. In addition, the extensive management also found to be lacks of Calsium for pregnancy and lactation. Furthermore the intensive rearingmanagementscused delayed age at first mating, increased S/C, increased age at first birth, slightly increased calf birth weight, and reduced calf weaning age. Keywords: Nutritional status, Bali cow,reproductive performance, palm oil-cattle integration system ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kecukupan nutrisi dan kinerja reproduksi induk sapi Bali pada peternakan rakyat melalui sistem integrasi sawit-sapi yang dipelihara dengan pola intensif, semi intensif dan ekstensif.Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2020 sampai dengan Januari 2021 di Kelurahan Sungai Selan dan Desa Romadon Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bahan yang digunakan adalah induk sapi Bali sebanyak 127 ekor yang dipelihara dengan sistem integrasi sawit-sapi dengan pola intensif, semi intensif, dan ekstensif masing-masing sebanyak 34 ekor, 48 ekor, dan 45 ekor. Parameter yang diamati adalah nutrisi pakan harian yang dikonsumsi, dan reproduksi yang meliputi umur, body condition score (BCS), umur pubertas, umur pertama kawin, service per conception (S/C), umur beranak pertama, berat lahir pedet, umur sapih pedet, berahi setelah melahirkan, dan selang beranak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi protein induk sapi Bali yang dipelihara pada sistem integrasi sawit-sapi dengan pola pemeliharaan semi intensif dan ekstensif belum memenuhi kebutuhan untuk kebuntingan dan laktasi. Selain itu pada pola ekstensif menunjukkan kekurangan kalsium (Ca) untuk kebuntingan dan laktasi. Pola pemeliharaan intensif menundaumur pertama kawin, meningkatkan S/C, meningkatkan umur beranak pertama, meningkatkan berat lahir pedet, mempercepat umur sapih pedet. Kata kunci: Status nutrisi, sapi Bali, performan reproduksi, integrasi sawit-sap

    KUALITAS KOLOSTRUM KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) PADA BERBAGAI PERIODE LAKTASI DAN TIPE KELAHIRAN DI UPT PT DAN HMT SINGOSARI KABUPATEN MALANG

    Full text link
    Colostrum Quality of Etawah Crossbreed in Various Lactation Periods and Types of Birth at PT and HMT Singosari, Malang District. Etawah crossbreed is one of the Indonesia’s local genetic resources. This research aimed to evaluate the colostrum characteristics of Etawah Crossbred goats with various lactation periods and types of birth (litter size). Twenty Etawah Crossbred goats were selected for the experiment, based on lactation period 1, 2, 3, 4 and 5 (4 goats per lactation). Each lactation period had 2 doe-s with a single and multiple births. Colostrum was milked at 0; 24; 48; and 72 hours postpartum and analyzed using Lactoscan. Data were analyzed using Analysis of Variance followed by Duncan's Multiple Range Test of SAS statistical analysis. Lactation period significantly affected colostrum fat and protein (P<0.05) except for lactose and SnF (P>0.05). Type of birth also significantly affected colostrum fat, lactose, and protein (P<0.01) except for SnF (P<0.05). All parameters in the third lactation period showed the highest values and subsequently decreased. Etawah Crossbred goats with single births showed the highest value of all variables than multiple births did.Keywords: Etawah crossbred goat, colostrum, litter size, lactation periodABSTRAKKambing Peranakan Etawah (PE) merupakan salah satu sumber daya genetik lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik kolostrum kambing PE dengan berbagai periode laktasi, dan tipe kelahiran (litter size). Penelitian menggunakan 20 ekor kambing PE yang diseleksi dengan periode laktasi 1, 2, 3, 4, dan 5; masing-masing 4 ekor kambing per laktasi. Setiap periode laktasi masing-masing terdapat 2 induk kambing dengan kelahiran tunggal dan kelahiran kembar. Pemerahan kolostrum dilakukan pada 0; 24; 48; dan 72 jam pascapartus dan dianalisis menggunakan Lactoscan. Data dianalisis menggunaan Analysis of Variance dengan Duncan'S Multiple Range Test dari analisis statistik SAS. Periode laktasi berpengaruh nyata terhadap lemak dan protein kolostrum (P<0,05) kecuali laktosa dan SnF (P>0,05). Tipe kelahiran berpengaruh sangat nyata terhadap lemak, laktosa, dan protein kolostrum (P<0,01) kecuali SnF (P<0,05). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kadar lemak, laktosa, dan protein kolostrum kambing PE dengan periode laktasi 3 lebih tinggi dibandingkan periode laktasi 1, 2, 4, dan 5. Kadar lemak, laktosa, dan protein mengalami peningkatan pada periode laktasi 3 selanjutnya mengalami penurunan pada perioe laktasi 4. Kolostrum kambing PE dengan kelahiran tunggal menunjukkan bahwa kadar lemak, laktosa, protein, dan SnF lebih tinggi  dibandingkan kelahiran kembar.Kata kunci: kambing PE,  kolostrum, periode laktasi, ukuran liter

    DINAMIKA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN NON PERTANIAN PADA RUMAH TANGGA PETANI PADI DI KABUPATEN SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH

    Full text link
     Dynamics and Factors Affecting Non-Farming Income in Rice Farmer Household in Sigi District, Central Sulawesi Province. Agricultural business households that control relatively small rice fields (0.19 hectares) in Central Sulawesi Province amounted to 35,009 farmer households. Meanwhile, the increasing demands for living necessities encourage farmers to diversify their sources of income by working in the non-agricultural sector. This study aimed to analyze the dynamics and factors that influence farmers' household incomes from non-agricultural work. The study was conducted in 2016 carried out in Sigi District, Central Sulawesi Province. The study site was selected purposively using two time points data (2008 and 2015). Data were analyzed descriptively and quantitatively (regression with the Ordinary Least Square single equation model. The results of the study showed that diversification of livelihoods in non farming was done more by male household members than women. Nonfarm jobs tended to reduce the allocation of outpoured work in agriculture. The contribution of income from non farming was greater than men compared to women household time allocation on nonfarm jobs increases total household income of farmers. Factors affecting household income were the allocation of male and female workloads on non-agricultural work, labor costs on work in rice farming, male and female education in the household.Keywords: non farming income, rice farmers, labors  Abstrak Rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan sawah relatif sempit (0,19 hektar) di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 35.009 rumah tangga petani, sementara tuntutan kebutuhan hidup semakin meningkat mendorong rumah tangga petani untuk melakukan diversifikasi sumber pendapatan dengan bekerja di sektor non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani dari pekerjaan non pertanian. Penelitian dilakukan pada tahun 2016 yang dilaksanakan di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Penentuan lokasi penelitian secara sengaja (purposive), menggunakan data dua titik waktu (2008 dan 2015).  Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif (regresi dengan model persamaan tunggal Ordinary Least Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi mata pencarian di non pertanian lebih banyak dilakukan oleh anggota rumah tangga pria dibandingkan wanita. Pekerjaan non pertanian cenderung menurunkan alokasi curahan kerja di pertanian. Konstribusi pendapatan dari non pertanian lebih besar berasal dari pria dibandingkan wanita. Alokasi waktu rumah tangga pada pekerjaan non pertanian meningkatkan total pendapatan rumah tangga petani. Faktor-faktor mempengaruhi pendapatan rumah tangga yaitu alokasi curahan kerja pria dan wanita pada pekerjaan non pertanian, upah tenaga kerja pada pekerjaan di usahatani padi, pendidikan pria, dan wanita dalam rumah tangga. Kata kunci: pendapatan non pertanian, petani padi, tenaga kerj

    248

    full texts

    324

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇