Informatika Pertanian
Not a member yet
    93 research outputs found

    PENGGUNAAN MODEL HIDROLOGI DI SUB DAS CILIWUNG HULU

    Full text link
    A watershed has complex hydrological components and may be difficult to understand comprehensively. Modelling can be used to simplify and predict the processes which will happen. SWAT (Soil and Water Assessment Tool) is a model which can predict hydrology and simulate various processes in watershed.The objective of this research was: to analyse performance of SWAT model which predict discharge flow in upper Ciliwung watershed through calibration. Methods applied included analysis of the input data and calibration. The research was conducted in the period of June 2011 until June 2012. Based on the data of daily discharge flow in February and March 2008 and 2009, the calibration results showed values of R 0,80 and NSE 0,55. These results described that SWAT model can be used to predict hydrological processes in upper Ciliwung watershed.Prediction of hydrology could be used as the base to manage land agriculture towards sustainable agriculture

    DAMPAK PROGRAM DESA MANDIRI PANGAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN DAN KEMISKINAN

    Full text link
    Program Desa Mandiri Pangan (Desmapan) dilaksanakan sejak tahun 2006 dan desa yang sudah masuk tahap kemandirian sebanyak 825 desa. Salah satu tujuan program Demapan adalah mewujudkan ketahanan pangan dan mengurangi kemiskinan. Selama pelaksanaan terjadi penurunan kekurangan pangan pokok dari 39,77% menjadi 29,02%, menurunnya berat balita dibawah standar dari 2,35% menjadi 1,03%. Rumah tangga dengan kategori sangat miskin menurun sangat signifikan dari 15.54% menjadi 4,99% dan kategori miskin menurun dari 57.49% menjadi 42.24%. Dampak lainnya adalah peningkatan frekuensi makan, konsumsi pangan hewani, perbaikan akses ekonomi sandang, dan akses pelayanan kesehatan. Pemberdayaan rumah tangga miskin berdampak sangat positif terhadap kepercayaan diri, aspek gender dan kewirausahaan, yang selanjutnya berkontribusi positif terhadap pemanfaatan kapital dalam adopsi teknologi pengembangan usaha produktif keluarga. Pengentasan kemiskinan dalam kelompok afinitas dapat ditingkatkan lagi dengan cara penguatan kelembagaan kelompok, efektivitas pemberdayaan, dukungan sarana prasarana, komitmen pembinaan dan pendanaan lintas sektoral. Dukungan lintas sektoral harus dilibatkan dalam perspektif keberhasilan pengembangan kelompok afinitas dan pembangunan ekonomi desa dalam perspektif pertumbuhan inklusif untuk mempercepat pengentasan kemiskinanKata Kunci: Demapan, Pola Pikir, Ketahanan Pangan, Kemiskina

    ANALISIS GGE BIPLOT PADA HASIL KLON-KLON UBI KAYU MENGGUNAKAN METODE RESTRICTED MAXIMUM LIKELIHOOD

    Full text link
    The study was conducted in five locations i.e Kediri, Ponorogo, Probolinggo, Malang, and Mojokerto, from November 2010 until August 2011. The planting materials used were 15 cassava clones. The research objective was to compare analysis methods of the genotype × environment interaction, namely: a) GGE technique using REML without A matrix by assuming homogeneous residual error variance, b) GGE technique using REML with A matrix by assuming homogeneous residual error variance, c) GGE technique using REML without A matrix by assuming heterogeneous residual error variance, and d) GGE technique using REML with A matrix by assuming heterogeneous residual error variance. The results showed that GGE technique using REML without A matrix by assuming heterogeneous residual error variance was more appropriate. Clones CMM 03038-7 (G8) had a wide adaptability and high yield potential, and its clone was closest to the ideal criteria for genotype compared with other genotypes. Clones CMM 03094-4 (G10) had specific adaptability in the environments S2 (Malang) and S5 (Mojokerto), and it had higher yield potential than the control varieties UJ5, Malang 6, and Adira 4. Environment Kediri (S1) had the highest yield among other environments and Kediri was a suitable environment for the growth and selection of cassava.

    PENENTUAN KEBUTUHAN NITROGEN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) PADA BERBAGAI JARAK TANAM DALAM TUMPANGSARI DENGAN KACANG TANAH (Arachis hypogeae L.) DI LAHAN KERING MALUKU TENGAH

    No full text
    Most people in Maluku Islands have long used non-rice food consumption, especially tuber crops and maize. The development of diversification of non-rice food consumption certainly needs to be supported by the availability of adaptive crop cultivation technology to climate change. Cropping pattern is one of the appropriate steps for smallholder farmer to increase land productivity. An experiment of maize/peanut intercropping pattern had been conducted to determine optimum Nitrogen (N) rate for maize at different planting spacings in intercropping pattern with peanut in dryland of Makariki Village, Central Maluku. The experiments were arranged in a Split Plot Design with 3 (three) replicates. The main plot was maize spacing, namely: (i) J1 = 80 x 25 cm, 6 rows of maize, 2 rows of peanut, (ii) J2 = 160 x 25 cm, 3 rows of maize, 4 rows of peanut, and (iii) J3 = 240 x 25 cm, 2 rows of maize, 6 rows of peanut. The sub-plot was N rate (kg/ha), namely: (i) N0 = 0-0-0, (ii) N1 = 45-50-60, (iii) N2 = 90-50-60, (iv) N3 = 135-50-60, and (v) N4 = 180-50-60. The results showed that plant height, cob circle and yield of maize grown at different planting spacings in intercropping patterns in Makariki, Central Maluku affected by N fertilizer application. The application of N fertilizer increased growth and yield of maize by following a quadratic pattern. The use of maize spacing of J1 (80 x 25 cm) in intercropping with peanut requires the addition of the optimum N rate of 302 kg urea/ha, which gave the highest maize yield (t/ha) compared with other planting spacings

    KERAGAMAN MORFOLOGI DAN GENETIK LENGKENG DI JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR

    Full text link
     Tujuan penelitian keragaman lengkeng di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memperoleh informasi keragaman morfologi dan genetik lengkeng yang berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur beserta keunggulannya masing-masing. Keragaman diamati dari 35 aksesi hasil eksplorasi di dua daerah tersebut. Hasil analisa DNA menggunakan penanda RAPD menunjukkan ke 32 aksesi tersebut memiliki tingkat kesamaan antara 36-96% yang terbagi kedalam empat kelompok besar pada tingkat kemiripan 40%. Kelompok pertama dengan tingkat kemiripan berkisar antara 42%-73% terdiri atas 16 aksesi, kelompok kedua dengan tingkat kemiripan 52% terdiri atas dua aksesi, kelompok ketiga dengan tingkat kemiripan antara 64%-96% terdiri atas 9 aksesi dan kelompok ketiga dengan tingkat kemiripan 73%-91% yang terdiri atas 5 aksesi. Aksesi yang memiliki kekerabatan terdekat adalah Tawangmangu 1 dan Tawangmangu 2 dengan tingkat kemiripan 96%, sedangkan aksesi dengan tingkat kekerabatan terjauh adalah Bandungan 1 dengan Purworejo 3. Dari 35 aksesi tersebut, diperoleh empat aksesi yang memiliki kualitas buah yang unggul, yaitu Pingpong, Tanpa Nama, Lokal Batu dan Itoh. 

    Analisis Intervensi Teknologi Umur Bibit, Jajar Legowo, dan Pemupukan Urea Terhadap Produksi Padi

    Full text link
    Technology of ICM (Integrated Crop Management) has been introduced to farmers since 2002, but farmers have not applied it until now.The problem is the slow dissemination process, and farmers are still low in implementing some components of ICM. Technology intervention is needed to increase production and productivity. This study aimed to analyze the relationship between seed maturity, jajar legowo and urea fertilizers on rice production. The experiment was conducted in Banyuasin October-December 2012. The method used was observation and FGD (Focus Group Discussion) against ICM field school in Banyumas. The study population totaled 300 farmers spread over the District ICM field school location. The sample was 70 farmers taken by using Slovin formula. Data were analyzed using path analysis. The results showed that the jajar legowo affected rice production by 12.2%, and the use of urea fertilizer by 26.3%. while seed maturity did not have significant effect. Combined together, both technologies affected rice production by 38.5%. It was suggested to implement ICM technology as recommended

    FAKTOR SOSIAL EKONOMI PENENTU ADOPSI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI BANGKA BELITUNG

    Full text link
    Usahatani padi sawah di Bangka Belitung dikategorikan baru berkembang dan produktivitas padi sawah hanya mencapai 3,54 t/ha. Peningkatan produktivitas padi sawah dapat dilakukan melalui penerapan inovasi teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Percepatan arus informasi dan adopsi inovasi teknologi PTT padi sawah telah dilakukan melalui Pendampingan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu sejak tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1). tingkat adopsi petani terhadap komponen PTT padi sawah; (2). faktor sosial ekonomi penentu keputusan petani dalam mengimplementasikan PTT padi sawah. Penelitian dilaksanakan pada Maret - Desember 2011 dengan metode survei. Jumlah responden 54 orang peserta SL-PTT di Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Selatan. Tingkat adopsi petani terhadap komponen PTT dianalisis secara deskriptif, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya dianalisis dengan menggunakan model regresi logit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1). komponen PTT yang tingkat adopsinya tinggi yaitu varietas unggul, penanganan panen dan pascapanen, tanam bibit muda dan cara pengolahan lahan sesuai musim; (2). faktor-faktor sosial ekonomi yang menjadi penentu bagi petani dalam mengadopsi PTT padi sawah yaitu pendidikan, luas lahan, jarak pemukiman ke usahatani padi, jalan raya, pasar input, dan sumber teknologi

    PEMANFAATAN ANALISIS REGRESI DAN AMMI UNTUK EVALUASI STABILITAS HASIL GENOTIPE PADI DAN PENGARUH INTERAKSI GENETIK DAN LINGKUNGAN

    Full text link
    Some statistical analyses were employed to depict responses of genotype (G) on environment (E). Regression analysisreflects the average index of G x E to calculate the genotype responses to heterogenous environment. Regression deviationwas employed to count the stability of the result obtained through such a method, which, further be developed to testthe average effect of G x E through a combination of additive effects of multivariate analysis with multiplication effecton the primary component (AMMI model). Regression analysis showed that Ciherang, Hibrindo R1, IH806 hybrid wasmore superior than others in terms of stability andproduct adaptability, whereas IH805, IH808, and IH809, are specificfor locations Batang, Jember, Ngawi, and Madiun, respectively

    PENDUGAAN PARAMETER GENETIK PADA PERSILANGAN DIALEL BEBERAPA TETUA CABAI (Capsicum annuum L.)

    Full text link
    High genetic diversity in chili is the basis for a chili breeding program. One of the methods to increase diversity is through crossing. There are several crossing designs in order to produce new varieties, such as diallel crossing. Diallel analysis is a method for studying the inheritance of characteristics from various crossings. The aim of this research was to estimate the genetic parameters, the general combining ability (GCA) and specific combining ability (SCA) of six inbred lines of chili. The research was conducted in November 2008-May 2009 at the Experimental Farm Leuwikopo IPB. Genetic materials used were six inbred lines of chili (IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15 and IPB C20) and the F1s of the combination of six inbred lines. The experimental design was Randomized Complete Block Design with a single factor, namely genotype. The number of genotypes were 36 with three replications, so there were 108 units of experiment. The crossing design used was diallel crossing design. The results showed that there were no interaction between genes on the dichotomous height and fruit weight, significant additive effects, the control genes spread unevenly, and relatively high heritability values. Genotype which carried recessive genes the most was IPB C14 and genotype which carried the most dominant genes was IPB C10. IPB C10 showed the highest GCA for dichotomous height and IPB C2 showed the highest GCA on fruit weight. The crossing between IPB C2 x IPB C10 showed the highest SCA for dichotomous height. For fruit weight, crossing of IPB C2x IPB C14 had the highest SCA. Crossing combination of IPB C2 x IPB C14 was the best hybrid

    PENERAPAN METODE REGRESI LOGISTIK DALAM MENGANALISIS ADOPSI TEKNOLOGI PERTANIAN

    Full text link
    Regresi Logistik (Logit) merupakan suatu metode analisis statistika yang mendeskripsikan hubungan antara peubah respon (dependent variable) yang bersifat kualitatif memiliki dua kategori atau lebih dengan satu atau lebih peubah penjelas (independent variable) berskala kategori atau interval. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi penerapan Model Regresi Logistik dalam menganalisis adopsi teknologi pertanian, kasus adopsi VUB padi. Sumber data memanfaatkan hasil survey kepada 155 orang petani responden di lahan rawa lebak di Kabupaten HSU Kalimantan Selatan, tahun 2009. Model dirancang dengan memasukkan unsur adopsi sebagai peubah respon, dihubungkan dengan 13 unsur peubah penjelas. Dari aplikasi model dengan metoda penduga maximum likelihood menggunakan Minitab Versi 16, diperoleh gambaran: (1) Penerapan Regresi Logistik dengan nilai duga maksimum likelihood menggunakan Minitab dapat direkomendasikan untuk menganalisis adopsi teknologi pertanian pada kasus adopsi teknologi VUB padi. Hal itu didukung fakta hasil analisis yang ditunjukkan oleh signifikansi model yang tinggi, hasil uji parsial yang efektif, penafsiran hasil melalui Odd ratio, dan tampilan ukuran asosiasi antara peubah respon dengan peubah penjelas menunjukkan hubungan yang kuat dan sekaligus menunjukkan semakin baiknya daya prediksi model sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya nilai Concordant serta kecilnya nilai Discordant dan Ties; (2) Faktor kunci untuk mendapatkan hasil duga Regresi Logistik yang baik, adalah besaran jumlah responden yang representatif dengan keragaman relatif tinggi. Oleh karena itu validasi data menjadi faktor penentu dan krusial dilakukan sebelum analisis data.Regresi Logistik (Logit) merupakan suatu metode analisis statistika yang mendeskripsikan hubungan antara peubah respon (dependent variable) yang bersifat kualitatif memiliki dua kategori atau lebih dengan satu atau lebih peubah penjelas (independent variable) berskala kategori atau interval. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi penerapan Model Regresi Logistik dalam menganalisis adopsi teknologi pertanian, kasus adopsi VUB padi. Sumber data memanfaatkan hasil survey kepada 155 orang petani responden di lahan rawa lebak di Kabupaten HSU Kalimantan Selatan, tahun 2009. Model dirancang dengan memasukkan unsur adopsi sebagai peubah respon, dihubungkan dengan 13 unsur peubah penjelas. Dari aplikasi model dengan metoda penduga maximum likelihood menggunakan Minitab Versi 16, diperoleh gambaran: (1) Penerapan Regresi Logistik dengan nilai duga maksimum likelihood menggunakan Minitab dapat direkomendasikan untuk menganalisis adopsi teknologi pertanian pada kasus adopsi teknologi VUB padi. Hal itu didukung fakta hasil analisis yang ditunjukkan oleh signifikansi model yang tinggi, hasil uji parsial yang efektif, penafsiran hasil melalui Odd ratio, dan tampilan ukuran asosiasi antara peubah respon dengan peubah penjelas menunjukkan hubungan yang kuat dan sekaligus menunjukkan semakin baiknya daya prediksi model sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya nilai Concordant serta kecilnya nilai Discordant dan Ties; (2) Faktor kunci untuk mendapatkan hasil duga Regresi Logistik yang baik, adalah besaran jumlah responden yang representatif dengan keragaman relatif tinggi. Oleh karena itu validasi data menjadi faktor penentu dan krusial dilakukan sebelum analisis data

    84

    full texts

    93

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Informatika Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇