Informatika Pertanian
Not a member yet
    93 research outputs found

    ANALISIS LINEARITAS PROPORSI TEPUNG JEWAWUT TERHADAP KARAKTERISIK FISIK DAN KIMIA BROWNIES BAKAR

    Full text link
    Pemanfaatan tepung lokal, khususnya jewawut, merupakan salah satu upaya peningkatan ketahanan pangan. Didukung oleh kandungan nutrisi yang lengkap dan memiliki nilai fungsional, tepung jewawut dapat diaplikasikan dalam berbagai produk pangan olahan seperti brownies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung jewawut dan terigu terhadap karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik brownies bakar. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan proporsi tepung jewawut : terigu yang terdiri atas 0:100 (T1); 20:80 (T2), 30:70 (T3), 40:60 (T4), dan 50:50 (T5). Parameter yang diamati meliputi sifat fisik dan kimia (pengembangan volume, kadar air, serat pangan, kadar abu, protein) dan organoleptik (warna, aroma, tekstur, rasa, dan kesukaan). Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi proporsi tepung jewawut semakin meningkat kandungan serat pangan pada brownies. Tepung jewawut dengan proporsi 50% memiliki kandungan serat pangan 5,41%, kadar air 24,49%, volume pengembangan 30,67%, kadar abu 1,5%, dan kadar protein 3,46%. Penggunaan 100% terigu menghasilkan brownies dengan kandungan serat pangan terendah 4,06%, kadar air 13,79%, pengembangan volume tertinggi 65,26%, kadar abu 1,66%, dan kadar protein 3,21%

    RESPON GENOTIPE JAGUNG HIBRIDA SILANG TIGA JALUR TERHADAP CEKAMAN INTENSITAS CAHAYA RENDAH

    Full text link
    Pengembangan jagung sebagai tanaman sela dibawah tanaman tegakan merupakan salah satu alternative untuk mengatasi berkurangnya lahan jagung. Maslah yang dihadapi jagung sebagai tanaman sela adalah berkurangnya intensitas cahaya akibat naungan, sehingga perlu untuk merakita jagung toleran naungan. Perhitungan kriteria toleran sangat berguna untuk menyeleksi suatu genotipe yang toleran pada kondisi cekaman naungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respon genotipe jagung terhadap naungan berdasarkan tujuh indikator cekaman yaitu produktivitas rata-rata (MP), produktivitas rata-rata geometrik (GMP), toleransi (Tol), indeks kepekaan cekaman (SSI), indeks toleransi cekaman (STI), indeks stabilitas hasil (ISH) dan indeks harmonik (IH). Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dua lingkungan dengan tiga ulangan. Lingkungan pertama sebagai kontrol yaitu tanpa ada perlakuan naungan (N0), sedangkan lingkungan kedua diberi perlakuan naungan menggunakan paranet 35% (N1). Hasil penelitian menunjukkan adanya dua genotipe jagung hibrida silang tiga jalur yang toleran naungan 35% dan produksi tinggi yaitu STJ02 dan STJ07. Karakter Yo dan Ys berkorelasi positif dan signifikan dengan MP, GMP dan STI, sehingga ketiga indeks ini dijadikan sebagai indeks toleransi terbaik untuk mengukur tingkat toleransi genotip jagung terhadap cekaman naungan paranet 35%. Analisis komponen utaman mengklasifikasikan genotip menjadi dua komponen utama, dengan eigen value >1 dan berkontribusi terhadap variabilitas antar genotip sebesar 99.77%. PC1 berkontribusi sebesar 61.73% dari karakter indeks TOL, SSI dan KH. Analisis klaster berdasarkan indeks toleransi membagi genotipe menjadi dua kelompok, menunjukkan variabilitas genetik yang cukup stabil sehingga bisa dijadikan dasar untuk memilih dan mengembangkan genotip jagung silang tiga jalur toleran cekaman naungan

    Pengembangan Aplikasi Mobile Deteksi Dini Penyakit dan Hama Pada Tanaman Palawija

    No full text
    Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia berdampak pada kebutuhan pangan, salah satu sumber pangan selain padi adalah tanaman palawija. Tanaman palawija memiliki peranan dalam mewujudkan impian Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045. Namun, penyakit dan serangan hama dapat menurunkan kwalitas dan kwantitas hasil produk tanaman palawija. Maka, diperlukannya identifikasi dan penanganan terhadap penyakit hama pada tanaman palawija agar mutu dan kwalitas produk tetap terjaga dan hasil produk melimpah. Penelitian ini mengusulkan pengembangan sebuah aplikasi mobile mengenai deteksi penyakit dan hama palawija berdasarkan gejala yang timbul. Pengujian telah dilakukan baik pengujian fungsionalitas sistem maupun usability testing terhadap aplikasi yang diberi nama Online at Sawat (OAS). Hasil pengujian menunjukkan bahwa OAS telah memenuhi requirement yang dibutuhkan dan mempunyai hasil usability test yang baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu petani palawija khususnya jagung dan kedelai agar hasil panennya terjaga dan pemerintah secara tidak langsung untuk mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia

    PENGGUNAAN ATMOSFIR TERMODIFIKASI DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA BUAH MANGGA GEDONG

    Full text link
    Pengembangan  buah di Indonesia termasuk yang di prioritaskan, namun kesegaran buah tidak dapat bertahan lama. Untuk pengendalian penyakit perlu diberi perlakuan dengan konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam kemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi gas O2 dan CO2 dengan suhu penyimpanan yang tepat dalam pengemasan buah mangga Gedong agar dapat mengendalikan penyakit, mempertahankan mutu dan memperpanjang daya simpan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan tiga faktor percobaan meliputi (1) kombinasi konsentrasi gas O2 dan CO2 sebanyak 5 taraf, yaitu (a) 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2, (b) 2,5% O2 + 5,0-5,8% CO2, (c) 1,0% O2 + 5,0-5,8% CO2, (d) udara normal (21,0% O2 + 0,03% CO2), (e) udara terbuka/sebagai control; (2) suhu penyimpanan 2 taraf, yaitu suhu penyimpanan 15oC dan suhu ruang 27-30oC; serta (3) inokulasi patogen Colletotrichum gloeosporioides PENZ, yaitu inokulasi Colletotrichum gloeosporioides PENZ dan tanpa inokulasi Colletotrichum gloeosporioides PENZ. Analisis yang dilakukan adalah tingkat kerusakan, kadar air, pH, vitamin C, total padatan terlarut, dan produksi CO2. Penerapan teknik hasil penelitian ini dapat menguntungkan pengguna karena waktu untuk distribusi dapat diperpanjang. Perlakuan kontrol atmosfer dengan modifikasi kadar oksigen 1,0% dan kadar karbondioksida 5,0-5,8% dapat menekan total padatan terlarut dan kadar air serta tingkat kerusakan yang disebabkan oleh antraknosa sehingga buah mangga gedong dapat disimpan hingga 21-28 hari (3-4 minggu

    ALGORITMA C4.5 UNTUK MEMPREDIKSI PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI DI KARAWANG

    Full text link
    Karawang merupakan salah satu daerah penghasil padi terbesar di provinsi Jawa Barat, maka tak salah Karawang dijuluki sebagai kota lumbung padi. Tetapi semakin kesini Karawang lebih dikenal dengan daerah industri. Ini berefek kepada hasil pertanian yang ada di Karawang. Data dari tahun 2010-2015 didapat hasil bahwa sebesar 67% produktivitas padi di Karawang berada dalam kategori rendah sisanya berada dalam kategori sedang dan tinggi, terlihat bahwa banyak lahan pertanian diKarawang yang sudah beralih fungsi yang dari awalnya persawahan menjadi penggunaan lahan lain. Hal ini harusnya dapat pendorong pemerintah Kabupaten Karawang untuk lebih perhatian terhadap masalah ini. Prediksi yang dilakukan dengan menggunakan teknik data mining dengan algoritma C4.5 telah dilakukan dengan akurasi sebesar 67,8%. Penelitian ini terlihat bahwa selain nilai produksi dan luas tanam untuk menentukan nilai produktivitas tanaman padi, ternyata produktivitas tanaman padi juga dipengaruhi oleh angka pengairan yang ada

    UJI KOMPARASI MODEL KORELASI DALAM MENGANALISIS EFEKTIVITAS PENDAMPINGAN PETANI

    Full text link
    In Order to apply the agriculture technology or innovation, the farmers requires assistance by researches or extension agent to provide the expected results. The application of agricultural technology or innovation in farmers requires assistance by researchers or extension workers to provide the expected results. This study has an objective to determine the effectiveness among three correlation models, namely: Pearson, Kendall’s tau-b, and Spearman for analyzing the performance of assisting activities. The assessment was done based on the assisting data which collected in North of Bolaang Mongondow District, North Sulawesi Province. As the respondents, the primary data were obtained by questionnaires to 22 of the rice farmers who were randomly selected by PRA. The assisting data focused on the rice production aspect for both of pre-assisting and post-assisting cases. The effectiveness indicator among those correlation models has defined using the number of real analysis variables and the correlation coefficients. According to three models, they produced almost similar coefficient correlation for both of pre-assisting and post-assisting cases. Based on three models, a significant correlation variable which found was a correlation between the age and the experiences. For those significant variable, the differences among those models only appears in the degree of correlation. As a conclusion, the Pearson, Kendall’s tau b, and Spearman correlation models can be used as an alternative methods for analyzing the performance of assisting activities

    EVALUASI KANDUNGAN BRIX PADA BATANG TANAMAN PLASMA NUTFAH SORGUM (Sorghum bicolor L. (Moench)) Brix Content Evaluation of Sorghum Stem Germplasm (Sorghum bicolor L. (Moench))

    Full text link
    Biji sorgum dimanfaatkan sebagai sumber pangan, pakan dan bahan industri. Batang tanaman sorgum umumnya mengandung senyawa gula, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai minuman sirup dan bahan baku bioethanol. Untuk mengetahui kandungan senyawa gula pada batang tanaman sorgum dapat dilakukan dengan mengukur kadar brix dengan alat refraktometer. Untuk menghasilkan varietas sorgum yang dapat menghasilkan brix tinggi diperlukan sumber genetik untuk pemuliaan tanaman sorgum. Penelitian telah dilaksanakan terhadap 219 aksesi plasma nutfah sorgum koleksi Bank Gen Balitbangtan di BB Biogen. Bahan batang tanaman diperoleh dari pertanaman sorgum yang ditanam pada tahun 2017. Sampel batang tanaman sorgum dipotong menjadi 3 bagian yang sama panjangnya dan diukur kandungan brix dengan refraktometer. Hasil penelitian menunjukkan aksesi plasma nutfah sorgum dari batang bagian bawah, tengah dan atas memiliki kandungan brix bervariasi yaitu berkisar antara 0.2 – 15.1 %. Aksesi sorgum introduksi ICSV 93051, ICSV 93032, ICSV 93047, ICSR 91026, ICSV 8906, dan ICSV 93007 memiliki kandungan brix lebih dari 14% yang dapat dipergunakan sebagai bahan pemuliaan sorgum manis. Genotipe yang memiliki sifat ganda yang mampu menghasilkan hasil biji dan kandungan brix baik pada tanaman induk maupun ratun perlu mendapat perhatian.  Abstract        Sorghum seeds are used as a source for food, feed, and industrial materials. Stems of sorghum plants generally contain sugar compounds, so it can be used as a beverage of syrup and raw materials of bioethanol. The content of sugar compounds on the stem of the sorghum plant could be done by measuring brix by using refractometer. Genetic resources are needed to develop sorghum varieties that can produce high brix content in its plant breeding program. A study has been conducted on 219 germplasm accessions of IAARD Gene Bank collection at BB BIOGEN. The plant stem material is derived from the planting of sorghum grown in 2017. The stem of the sorghum plant is cut into 3 equal lengths and brix content measured by refractometer. The results showed that the accession of the sorghum germplasm from the lower, middle, and upper stems reveal that brix content varied from 0.2 to 15.1%. Introduction accession of sorghum i.e. ICSV 93051, ICSV 93032, ICSV 93047, ICSR 91026, ICSV 8906, and ICSV 93007 had a brix content of more than 14% and can be used as parent materials for sweet sorghum breeding. Multiple traits of genotipe which are capable producing seed yield and brix content in both primary plants and ratoon need further attention.

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP ADOPSI VARIETAS UNGGUL JAGUNG PUTIH DI KABUPATEN GROBOGAN-JAWA TENGAH

    Full text link
    Maize is the second basic food need after rice that is potential and has high economic value in increasing income of farmers and food diversification program. White maize, in particular, is an alternative staple food in Grobogan Regency. The superior variety is a component of technology that plays a prominent role to increase productivity, disease resistant, and environmentally suitable (specific location). The aim of the study was to determine the influential factors in the adoption of superior variety of white maize in order to achieve transfer of technology. The study was carried out in three villages of Grobogan Regency, Central Java: namely Sumber Jatipohon, Godan, and Karangasem. The locations were determined with purposive sampling and the number of respondents interviewed was 120 farmers (40 farmers in each village) between September-December 2015. Analyses of the data were descriptively and quantitatively using percentages, charts and tables with logistic regression. The results of this study showed that the interest of farmers to adopt new superior variety of white maize was quite good around 66.7 percent. Farmers’ interest toward superior variety may be considered high. While factors significantly influencing the adoption included income, knowledge or information on technology, agriculture extension support, pest, and availability of seeds. On the other hand, factors which were not significantly affecting the adoption included age, formal education, farmers’ experience, and land size

    ANALISIS DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK NPK LODRIN TERHADAP PRODUKSI DAN EFISIENSI USAHATANI KAKAO

    Full text link
    Cocoa has been developed in various regions in Indonesia. In developing cocoa farming, farmers still face the problem of low productivity, efficiency and quality of seeds. This is partly due to not using the right fertilizer. This study aims to analyze the effect of NPK Lodrin fertilizer use on the efficiency and income of cocoa farming in Gorontalo. The study was conducted in several Gorontalo cocoa production centers, namely in Gorontalo District and Pohuwato District in 2016. Data collection was conducted by survey method with questionnaires or structured questionnaires for 59 cocoa farmers. Respondents were farmers who used Lodrin NPK fertilizer and farmers who did not use Lodrin NPK fertilizer. The selection of respondents was carried out by stratified random sampling technique. The farming efficiency analysis method uses the Cobb-Douglas stochastic frontier production function model. Financial farming analysis was carried out to determine the level of cocoa farming income with the use of Lodrin NPK fertilizer. The results showed that the use of Lodrin NPK fertilizer significantly affected the increase in production, efficiency and income of cocoa farming in Gorontalo. The average level of farm efficiency both technical, allocative and economic efficiency of cocoa farmers using Lodrin NPK fertilizer is higher when compared to farmers who do not use Lodrin NPK fertilizer. The factors that influence the inefficiency of cocoa farming are farmer education and institutional factors, namely the frequency of counseling, participation in farmer groups, access to credit and technology assistance. The use of Lodrin NPK fertilizer increases the income of cocoa farming, as evidenced by the value of the R / C ratio and the value of return for higher production factors of farmers who use Lodrin NPK fertilizer

    ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN PUPUK NITROGEN PADA PADI SAWAH DI TANAH INCEPTISOLS

    Full text link
    Nutrient management strategies effectively and efficientlyis an additional effort to improvethe results obtaained by farmers and related to environmental sustainability. The use of N fertilizer, which is an essential nutrient for rice plants, needs to know the optimum dosage according to plant needs and soil fertility. The research objective is to determine the optimum N dose to get the maximum rice yield in irrigated paddy fields. The study was conducted in Matoangin, Bantimurung District, Maros, South Sulawesi, for two planting seasons, from January to August 2014. The first planting season lasted from January to April 2014 (rainy season), and the second planting season from May to August 2014 ( dry season). The experiment were used in a randomized block design with three replications. The dosage of N fertilizer consists of six levels, namely (N0) without fertilizer; (N1) 33.75 kg N / ha equivalent to 75 kg Urea / ha; (N2) 67.50 kg N / ha equivalent to 150 kg Urea / ha; (N3) 101, 25 kg N / ha equivalent to 225 kg Urea / ha; (N4) 135 kg N / ha equivalent to 300 kg Urea / ha, and farmer dose (N5) 168.75 kg N / ha equivalent to 375 kg Urea / ha. The results showed plant height, panicle length, number of filled grain and yields of Inpari-4 rice at the study site were influenced by N fertilization. Research in the rainy and dry season showed fertilization N increased growth and yield of rice by following a quadratic pattern, and dosage the optimum N fertilizer is different in each season. The optimum N fertilizer requirements to obtain the maximum results in the rainy season (6.78 t / ha) is 129 kg N / ha equivalent of 282 kg of urea / ha, while in the dry season takes 131.57 kg N / ha equivalent of 286 kg urea / ha to get maximum yield (7.15 t / ha). The dosage of fertilizer is more efficient compared to that applied by farmers, namely> 300 kg urea / ha (equivalent to 135 kg N / ha)

    84

    full texts

    93

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Informatika Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇