Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
PENENTUAN PERMSELEKTIVITAS ION Cd(II) PADA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT
Ion kadmium Cd(II), merupakan pencemar lingkungan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan ekosistem. Penanganan ion kadmium Cd(II) dapat dilakukan dengan menerapkan metode pemisahan menggunakan membran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik fluks dan permselektivitas membran komposit kitosan-zeolit terhadap ion Cd(II). Tahapan metode yang digunakan adalah pembuatan membran komposit, penentuan nilai fluks pada membran dan penentuan permselektivitas pada membran komposit. Hasil karakterisasi membran komposit menggunakan FTIR menunjukkan adanya serapan pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1 dan 1635, 64 cm-1 dari gugus -OH yang khas dari zeolit. Serapan pada bilangan gelombang 1651,07 cm-1 merupakan serapan khas pada kitosan tidak terlihat pada spektra membran komposit. Hal ini diduga karena banyaknya penambahan zeolit pada membran sehingga gugus -NH tidak terlihat. Morfologi membran komposit 1:2 yang diamati dari difraktogram SEM yaitu memiliki permukaan rata dan memiliki pori-pori yang tertutup. Membran komposit kitosan-zeolit 1:2 menunjukkan nilai fluks yang lebih konstan dan stabil. Membran komposit kitosan-zeolit 1:2 dipilih untuk uji permselektivitas pada ion kadmium Cd(II). Permselektivitas ion kadmium Cd(II) yang paling besar ditunjukkan pada konsentrasi 8 ppm dengan nilai permselektivitas 33,84%. Kata kunci : membran komposit kitosan zeolit, ion logam Cd(II), koefisien rejeks
PENGARUH KONSENTRASI Na2EDTA TERHADAP DESORPSI Ce(IV) PADA ADSORBEN KITOSAN-KARBON
Pasir tailing PETI (puya) didentifikasi mengandung mineral ikutan logam tanah jarang (LTJ). Karakteristik puya melalui analisis XRF menunjukkan keberadaan LTJ jenis Ce, Nd, Y dan Yb. Ce(IV) pada puya diekstraksi menggunakan metode adsorpsi pada kitosan-karbon. Selanjutnya Ce(IV) dilepas kembali dengan metode desorpsi untuk mengetahui efisiensi Ce(IV) yang berhasil didesorpsi dari adsorben kitosan-karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimum Na2EDTA sebagai agen pendesorpsi Ce(IV) terikat pada adsorben kitosan-karbon beads. Ce(IV) diikat oleh adsorben melalui proses adsorpsi dan dilepaskan kembali menggunakan agen pendesorpsi Na2EDTA. Optimasi konsentrasi Na2EDTA pendesorpsi ditentukan pada variasi konsentrasi 0,01M, 0,025 M, 0,05M, 0,10 M dan 0,15 M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum Na2EDTA yang diperlukan untuk mendesorpsi Ce(IV) terikat pada adsorben kitosan-karbon beads adalah 0,10 M, dengan efisiensi sebesar 98,7%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa larutan Na2EDTA 0,10 M mampu mendesorpsi Ce dari konsentrat Ce yang terikat pada adsorben kitosan-karbon beads dengan efisiensi 92,42% Kata kunci: logam tanah jarang, desorpsi, adsorben, kitosan-karbon bead
PENGARUH PENGGUNAAN EDIBLE COATING BERBAHAN PATI TALAS DAN KITOSAN TERHADAP KUALITAS KERUPUK BASAH KHAS KAPUAS HULU SELAMA PENYIMPANAN
Kerupuk basah merupakan makanan yang terbuat dari ikan dan tepung sagu. Daya simpan makanan tersebut sangat terbatas. Salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan kerupuk basah yaitu menggunakan edible coating. Bahan edible coating yang digunakan pada penellitian ini yaitu pati dan kitosan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik pati dan menjelaskan pengaruh penggunaan edible coating pati-kitosan, kitosan dan pati. Pati diperoleh dari umbi talas (Colacasia Esculenta (L) Shott) dengan kadar air, kadar abu dan kadar pati berturut-turut yaitu 13,5648%; 14,0421% dan 88,146%. Pembuatan edible coating pati-kitosan dan kitosan dilakukan dengan variasi massa kitosan 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 gram dalam asam asetat 1% dan edible coating pati dengan variasi massa pati 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 gram. Variabel pengujian penelitian ini yaitu massa kitosan dan lama waktu penyimpanan. Parameter analisis yang ditentukan yaitu kadar protein dan uji mikrobiologi. Analisis statistik menunjukan bahwa variasi massa kitosan dan massa pati tidak berpengaruh nyata terhadap lamanya waktu penyimpanan. Hasil penelitian menunjukan bahwa edible coating kitosan dengan massa 5 gram lebih baik dalam mempertahankan kualitas kerupuk basah selama dua hari waktu penyimpanan daripada edible coating pati-kitosan dan edible coating pati terhadap kerupuk basah. Kata Kunci : coating, edible, kerupuk basah, kitosan, pat
UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI DAN TOKSISITAS INFUS KUNYIT (Curcuma domestica val.), ASAM JAWA (Tamarindus indica L.) DAN SIRIH (Piper betle L.)
Inflamasi dirancang untuk membersihkan tubuh dari penyebab cedera dan mempersiapkan jaringan tubuh untuk membentuk kembali jaringan yang mengalami cedera. Respons inflamasi yang berlebihan dapat menyebabkan pembengkakan kronis dan nyeri, bahkan dapat menyebabkan kerusakan progresif pada jaringan dan organ penting tubuh. Umumnya bahan alam yang digunakan untuk mengurangi respon inflamasi adalah kunyit asam jawa dan sirih. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian antiinflamasi dan uji toksisitas ekstrak infus kunyit asam jawa dan sirih. Ekstrak infus dibuat dengan konsentrasi 20%. Berdasarkan skrining yang dilakukan, ekstrak infus kunyit mengandung alkaloid, flavonoid dan tanin. Ekstrak asam jawa mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Ekstrak sirih mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Uji antiinflamasi dilakukan menggunakan metode HRBC (Human Red Blood Cell) dan uji toksisitas menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Uji HRBC menunjukkan nilai persen inhibisi aspirin 100 ppm yaitu sebesar 93,88 % sedangkan persen inhibisi kunyit yaitu sebesar 89,39 %, asam jawa 70,34 % dan sirih 76,33 % pada konsentrasi yang sama. Uji toksisitas dengan BSLT memberikan hasil nilai LC50 masing-masing ekstrak infus kunyit, asam jawa, dan sirih berturut-turut adalah 2327,780; 19301,433; dan 3758,375. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak ini dapat digunakan sebagai agen antiinflamasi dan tidak toksik. Kata Kunci: BSLT, HRBC, inflamasi, toksisita
PENENTUAN KAPASITAS ADSORPSI LOGAM Ce (IV) PADA ADSORBEN KITOSAN–KARBON BEADS TERIKAT SILANG GLUTARALDEHID
Cerium merupakan unsur golongan logam tanah jarang. Cerium memiliki nilai ekonomis yang tinggi di bidang industri berteknologi tinggi. Ekstraksi logam cerium dapat dilakukan melalui metode adsorpsi menggunakan komposit beads kitosan–karbon beads yang terikat silang glutaraldehid. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik adsorben komposit kitosan– karbon beads yang terikat silang glutaraldehid dan mengetahui kapasitas adsorben. Komposit kitosan–karbon dibuat dengan melakukan pencetakan dalam bentuk beads di dalam larutan Natrium Hidroksida (NaOH) dilanjutkan dengan ikat silang menggunakan glutaraldehid. Karakterisasi adsorben komposit dilakukan menggunakan metode spektrofotometri inframerah. Pengaruh konsentrasi adsorpsi logam Ce(IV) dipelajari dengan cara memvariasikan konsentrasi awal ion logam pada kisaran 50-250 ppm. Berdasarkan perhitungan komposit kitosan-karbon beads mengikuti dua model isoterm adsorpsi Freundlich (R2=0,903) dan Langmuir (R2=0,841).hasil adsorpsi menunjukkan bahwa adsorben mampu menyerap logam Ce(IV) sebesar 76,3% dan kapasitas adsorpsi maksimum komposit kitosan-karbon beads mengikuti dua model isoterm adsorpsi Freundlich (0,900) dan Langmuir (0,0398). Kata kunci : cerium(IV), adsopsi, komposit, kitosan –karbon beads terikat silang glutaraldehid
SAPONIFIKASI ASAM LEMAK DARI LUMPUR MINYAK KELAPA SAWIT (SLUDGE OIL) MENGGUNAKAN BASA ABU SABUT KELAPA
Sludge oil merupakan limbah hasil pemerasan minyak kelapa sawit yang mengandung kadar asam lemak bebas tinggi sehingga dapat disaponifikasi menjadi sabun. Saponifikasi yang dilakukan dengan menggunakan abu sabut kelapa sebagai sumber basa ini bertujuan untuk menentukan rasio sludge oil-filtrat abu dan waktu pengadukan optimum berdasarkan karakteristik sabun yang dihasilkan. Abu dipreparasi melalui pemanasan, penyaringan dan kalsinasi. Hasil analisis XRF dan uji alkalinitas menunjukkan bahwa komposisi utama dari abu sabut kelapa adalah kalium karbonat. Abu diekstraksi dalam akuades (7:10 w/v) dengan pengadukan selama 4 jam pada temperatur ruang. Filtrat yang diperoleh digunakan sebagai larutan basa pada reaksi saponifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa saponifikasi berlangsung optimum pada rasio 1:3 (w/v) dengan waktu pengadukan selama 60 menit dengan konversi saponifikasi sebesar 99,41%. Sabun yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sesuai dengan syarat mutu dan dapat digunakan sebagai sabun cuci. Kata kunci: abu sabut kelapa, sabun, saponifikasi, sludge oi
ADSORPSI KADMIUM(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN SELULOSA AMPAS TEBU TERAKTIVASI ASAM NITRAT
Penelitian mengenai penentuan kapasitas adsorpsi selulosa dari ampas tebu teraktivasi asam nitrat terhadap kadmium (II) telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik dari selulosa teraktivasi asam nitrat, mengetahui kondisi kerja adsorpsi Cd(II) serta mengetahui kapasitas adsorpsi dan persentase adsorpsi (II) dari selulosa ampas tebu teraktivasi asam nitrat. Selulosadiaktivasi menggunakan larutan asam nitrat dan dikarakterisasi gugus fungsinya menggunakan spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR). Penentuan nilai pH kerja adsorpsi dilakukan pada variasi pH 5, 6, dan 7 (waktu kontak 90 menit, konsentrasi Cd(II) awal 10 ppm). Penentuan waktu kontak kerja dilakukan dengan variasi waktu kontak 60, 90, dan 120 menit (kondisi pH optimum, konsentrasi awal 10 ppm). Adsorpsi dilakukan dengan sistem batch. Sampel kadmium (II) mula-mula dan filtrat dari hasil adsorpsi dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA). Spektrum FTIR yang diperoleh menunjukkan adanya gugus fungsi aromatik (3749,62 cm-1), gugus -OH (3410,15 cm-1), gugus C-H (2916,37 cm-1, 1427,32 cm-1, 1373,32 cm-1, 1319,31 cm-1), gugus C-O (1157,29 cm-1) dan gugus -CH2 (894,97 cm-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kerja adsorpsi kadmium (II) oleh selulosa teraktivasi asam nitrat terjadi pada pH 7 dan waktu kontak 120 menit. Kapasitas adsorpsi maksimum selulosa teraktivasi asam nitrat untuk kadmium (II) adalah sebesar 2,215 mg/g. Dapat disimpulkan bahwa adsorben selulosa ampas tebu teraktivasi asam nitrat dapat mengadsorpsi kadmium(II) dengan baik. Kata kunci : delignifikasi,kadmium, kapasitas adsorpsi, pH, waktu konta
SINTESIS DAN KARAKTERISASI ZEOLIT ANALSIM MENGGUNAKAN PREKURSOR SILIKA DARI LIMBAH KACA
Dalam penelitian ini, limbah kaca yang mengandung SiO2 dimanfaatkan sebagai prekursor dalam sintesis zeolit. Zeolit analsim tergolong zeolit sintetik dengan rasio Si/Al yang tinggi, sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai katalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karaktersitik zeolit analsim yang disintesis dengan prekursor silika dari limbah kaca dan mengetahui kinerja zeolit analsim sebagai katalis dalam perengkahan minyak jelantah. Zeolit analsim disintesis dengan rasio molar Si/Al =100, H2O/Si = 11,69, NaOH/Si = 0,14 dan TPA-Br/Si = 0,086. Sintesis dilakukan menggunakan autoclave hidrotermal pada suhu 150oC dan 190oC selama 4 hari. Difraktogram XRD menunjukkan zeolit analsim yang disintesis pada suhu 150oC memiliki posisi 2θ yang lebih mendekati zeolit analsim standar yaitu pada 2θ: 15,74o; 25,89o; 30,48o dan berbentuk struktur kristal berupa cubic. Analisis dengan FTIR menunjukkan penyerapan pada bilangan gelombang 661,95 cm-1 (vibrasi tetrahedral T-O, T=Si/Al), 999,25 cm-1 (vibrasi asimetris T-O) dan 3440,61 cm-1 (O-H streaching). Berdasarkan hasil yang diperoleh, zeolit analsim dapat disintesis dengan prekursor silika dari limbah kaca. Kata kunci: limbah kaca, silika, zeolit analsi
PENGARUH pH TERHADAP ADSORPSI CERIUM (IV) DARI TAILING PETI MENGGUNAKAN KOMPOSIT KITOSAN-KARBON BEADS TERIKAT SILANG GLUTARALDEHID
Telah dilakukan adsorpsi logam Cerium dari tailing PETI menggunakan komposit kitosan-karbon beads terikat silang glutaraldehid. Tailing PETI didestruksi menggunakan asam sulfat dimana hasil analisis XRF menunjukkan terdapat logam tanah jarang (LTJ) Cerium (Ce) sebesar 14,298 %. Adsorpsi logam Cerium dilakukan menggunakan komposit kitosan-karbon beads terikat silang glutaraldehid. Karakterisasi komposit tersebut didasarkan pada analisis FTIR dimana pembentukan komposit kitosan-karbon terikat silang glutaraldehid ditunjukkan dengan munculnya pita serapan gugus C=N pada bilangan gelombang 1639,19 cm-1. Analisis SEM dan SAA menunjukkan bahwa komposit memiliki morfologi aglomerat dengan celah-celah pori pada permukaan komposit tersebut dan memiliki luas permukaan sebesar 582,506 m2/g. Optimasi pH larutan umpan cerium melalui proses adsorpsi metode batch dilakukan dengan variasi pH yaitu 0, 1, 2, 3, 5 dan 8. Adsorpsi optimum Cerium terjadi pada pH = 1. Berdasarkan hasil optimasi tersebut logam Cerium yang terdapat dalam konsentrat LTJ berhasil diadsorpsi oleh komposit kitosan-karbon beads terikat silang glutaraldehid dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,333 mg/g. Kata Kunci : tailing PETI, cerium, kitosan-karbon, destruksi, adsorps
SINTESIS DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT ZEOLIT-SELULOSA DARI SERAT DAUN NANAS (ANANAS COMOSUS MERR) SEBAGAI BAHAN PENGISI CAT TEMBOK EMULSI AKRILIK
Penelitian sintesis komposit zeolit-selulosa dari serat daun nanas (Ananas Comosus Merr) sebagai bahan pengisi cat tembok emulsi akrilik telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karateristik komposit zeolit-selulosa yang diaplikasikan sebagai bahan pengisi dalam cat tembok emulsi akrilik. Karakterisasi dilakukan dengan instrument FTIR, XRD dan DSC serta uji cat tembok emulsi berdasarkan SNI 3564:2009. Hasil analisis FTIR selulosa menujukkan adanya gugus fungsi OH, H-C-H, H-O-C dan C-O-C. Difraktogram XRD selulosa menunjukkan intensitas tertinggi pada 2θ sebesar 22,4453° yang bersesuaian dengan selulosa komersial mikrokristalin. Hasil karakterisasi FTIR komposit zeolit-selulosa menunjukan adanya gugus fungsi OH dan Si yang menyatakan adanya zeolit dan selulosa dalam komposit. Analisis termal DSC pada komposit menunjukkan nilai transisi gelas 157,259 dengan entalpi -53,949 J/g dan Tm pada 219,6ºC. Analisis cat tembok emulsi menunjukan nilai padatan total cat tembok emulsi pada penelitian ini sebesar 45,75 %, waktu mengering sentuh 3 menit, waktu mengering keras 5 menit, pH 7, daya tutup 4 m2/L dan kehalusan 55 mikron. Kata kunci : selulosa daun nanas, zeolit alam, komposit zeolit-selulos