Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
    249 research outputs found

    PENENTUAN KONDISI OPTIMUM HIDROLISAT PROTEIN DARI LIMBAH IKAN EKOR KUNING (Caesio cuning) BERDASARKAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK

    Full text link
    Hidrolisat protein ikan merupakan produk yang dihasilkan dari penguraian protein ikan menjadi senyawa-senyawa berantai pendek karena adanya proses hidrolisis baik oleh enzim, asam maupun basa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan optimasi produksi hidrolisat protein dari limbah ikan ekor kuning secara enzimatis dan melakukan uji organoleptik. Produksi hidrolisat protein dari limbah ikan ekor kuning dilakukan dengan hidrolisis secara enzimatis menggunakan enzim papain kasar merek PAYA dengan variasi konsentrasi 0, 5, 10 dan 15% dan waktu inkubasi 3, 4, 5 dan 6 hari. Produk hidrolisat protein ikan terbaik dari pengujian organoleptik diperoleh pada konsentrasi enzim 5% dan waktu inkubasi 5 hari. Kata kunci: hidrolisat, Caesio cuning, enzim papain, organolepti

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANALISIS EKSTRAK n-HEKSANA RIMPANG CHENGKENAM (Alpinia mutica

    Full text link
    Chengkenam (Alpinia mutica Roxb.) tergolong dalam famili Zingiberaceae yang biasa dikenal sebagai tanaman hias. Rimpang tanaman ini biasanya digunakan sebagai obat sakit perut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aktivitas antibakteri ekstrak n-heksana rimpang chengkenam (A. mutica Roxb.) terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Ekstraksi metabolit sekunder dengan menggunakan metode maserasi. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan mengukur daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri. Hasil analisis GC-MS ekstrak n-heksana rimpang A. mutica menunjukkan adanya 17 komponen senyawa. Lima senyawa mayor yang memiliki luas area atau kelimpahan besar yaitu senyawa 4-tert-butil-2-(1-metil-2-nitro-etil)-sikloheksanon, pentadekana, sikloheksanon 3-(3,3-dimetil),1-oktin-3-ol-4-etil dan tetrakosana. Ekstrak n-heksana rimpang A. mutica mampu menghambat pertumbuhan S. aureus dan P. aeruginosa. Ekstrak n-heksana rimpang A. mutica dan antibiotik siprofloksasin sebagai kontrol postif lebih sensitiv terhadap bakteri Gram negatif P. aeruginosa dibandingkan terhadap bakteri Gram positif S. aureus. Kata kunci : Alpinia mutica Roxb., Rimpang, Antibakteri, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, GC-M

    PENENTUAN KONDISI OPTIMUM HIDROLISAT PROTEIN DARI LIMBAH IKAN EKOR KUNING (Caesio cuning) BERDASARKAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK

    Full text link
    Hidrolisat protein ikan merupakan produk yang dihasilkan dari penguraian protein ikan menjadi senyawa-senyawa berantai pendek karena adanya proses hidrolisis baik oleh enzim, asam maupun basa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan optimasi produksi hidrolisat protein dari limbah ikan ekor kuning secara enzimatis dan melakukan uji organoleptik. Produksi hidrolisat protein dari limbah ikan ekor kuning dilakukan dengan hidrolisis secara enzimatis menggunakan enzim papain kasar merek PAYA dengan variasi konsentrasi 0, 5, 10 dan 15% dan waktu inkubasi 3, 4, 5 dan 6 hari. Produk hidrolisat protein ikan terbaik dari pengujian organoleptik diperoleh pada konsentrasi enzim 5% dan waktu inkubasi 5 hari. Kata kunci: hidrolisat, Caesio cuning, enzim papain, organolepti

    ANALISIS ORGANOLEPTIK PRODUK BUBUK PENYEDAP RASA ALAMI DARI EKSTRAK DAUN SANSAKNG (Pycnarrhena cauliflora Diels)

    Full text link
    Daun sansakng (P. cauliflora Diels) merupakan daun yang dapat digunakan sebagai penyedap rasa alami, tetapi penggunaanya kurang praktis, oleh karena itu dilakukan pengolahan dengan cara daun sansakng diekstrak kemudian dijadikan bubuk. Produk bubuk dari ekstrak daun sansakng diperoleh dengan menggunakan 2 metode ekstraksi yaitu maserasi dan infundasi. Penilaian organoleptik untuk menentukan ekstrak terbaik dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi ekstrak yaitu: 1, 2 dan 3% (b/v). Ekstrak terbaik yang diperoleh selanjutnya dibuat dalam bentuk bubuk dan dilakukan uji organoleptik dengan variasi konsentrasi bubuk yaitu: 0,25, 0,50 dan 0,75% (b/v). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ekstrak terbaik untuk memperoleh produk bubuk penyedap rasa alami yang memiliki sifat sensori yang disukai berdasarkan rasa, aroma dan penampilan. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun sansakng terbaik dari uji organoleptik berdasarkan nilai prioritas diperoleh pada konsentrasi 1% dari metode infundasi (EI 1%), sedangkan nilai sensori bubuk dari ekstrak daun sansakng terbaik diperoleh pada konsentrasi 0,25% dengan nilai prioritas 0,482. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi produk bubuk 0,25% merupakan konsentrasi yang paling disukai panelis yang akan menjadi takaran penggunaan terhadap setiap masakan

    Karakterisasi Pori Adsorben Berbahan Baku Kaolin Capkala dan Zeolit Dealuminasi

    Full text link
    Karakterisasi pori adsorben hasil kombinasi antara kaolin capkala dan zeolit dealuminasi telah dilakukan. Adsorben dibuat dengan mencampurkan kaolin dan zeolit dealuminasi dengan perbandingan komposisi kaolin dan zeolit 3:1, 1:1, dan 1:3. Variasi komposisi dilakukan untuk mengetahui pengaruh komposisi kaolin dan zeolit dealuminasi terhadap karakteristik pori adsorben yang meliputi luas permukaan, rerata jejari pori dan volume total pori. Tahapan pembuatan adsorben meliputi preparasi kaolin dan zeolit serta dealuminasi zeolit. Karakterisasi material menggunakan Gas Sorption Analyzer untuk mengetahui karakter pori kaolin, zeolit dan adsorben hasil kombinasi dan X-Ray Diffraction untuk mengetahui tingkat kristalinitas zeolit. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa adsorben dengan perbandingan komposisi kaolin dan zeolit dealuminasi 1:3 memiliki luas permukaan dan volume total pori terbesar yaitu 120,57 m2/g dan 0,1369 cc/g serta rerata jejari pori terkecil yaitu 22,7 . Jika dibandingkan dengan material awalnya, luas permukaan adsorben 1:3 meningkat 149% dan volume total pori 59% dan diikuti penurunan rerata jejari pori sekitar 36%

    SINTESIS KOMPOSIT POLIANILINA-SELULOSA MENGGUNAKAN MATRIKS SELULOSA DARI TANDAN KOSONG SAWIT

    Full text link
    Sintesis komposit polianilina-selulosa menggunakan matriks selulosa yang berasal dari tandan kosong sawit telah dilakukan dalam penelitian ini. Jumlah polianilina yang terkomposit pada matriks selulosa dapat ditingkatkan dengan cara memasukkan polianilina ke dalam ruang antar struktur selulosa. Adanya ikatan hidrogen antar struktur selulosa menyebabkan polianilina sulit masuk. Proses swelling dilakukan untuk memperbesar ruang antar struktur selulosa sehingga molekul anilina dapat masuk. Sintesis komposit polianilina-selulosa dilakukan dengan variasi perlakuan awal swelling pada selulosa menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO) dan tanpa perlakuan awal swelling pada selulosa. Selain itu, sintesis komposit polianilina-selulosa juga dilakukan dengan variasi massa anilina yaitu 0,5 g, 1 g, dan 1,5 g. Konduktivitas komposit polianilina-selulosa ditentukan dengan menggunakan Electrochemical Impedance Spectroscopy. Berdasarkan hasil pengukuran konduktivitas, komposit polianilina-selulosa yang dihasilkan bersifat semikonduktor. Nilai konduktivitas tertinggi dimiliki oleh komposit dengan variasi jumlah anilina 1,5 g, yakni 1,35 x 10-2 1,54 x 10-2 S/cm untuk komposit yang disintesis tanpa perlakuan awal swelling dan 3,58 x 10-3 3,87 x 10-3 S/cm untuk komposit yang disintesis melalui perlakuan awal swelling. Hasil pengukuran konduktivitas menunjukkan bahwa komposit polianilina-selulosa yang disintesis melalui perlakuan awal swelling memiliki nilai konduktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang disintesis tanpa melalui perlakuan awal swelling. Kata kunci: komposit, polianilina, selulosa, swelling

    PENGARUH VARIASI WAKTU DAN UKURAN SAMPEL TERHADAP KOMPONEN MINYAK ATSIRI DARI DAUN JERUK PURUT(Citrus hystrix DC.)

    Full text link
    Daun jeruk purut berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri. Salah satu metode untuk mendapatkan minyak atsiri yaitu menggunakan destilasi uap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi waktu dan ukuran sampel terhadap komponen senyawa minyak atsiri terkandung dalam daun jeruk purut asal Terentang dengan menggunakan metode detilasi uap. Ukuran sampel daun jeruk purut segar dalam keadaan utuh dan rajang, kemudian didestilasi selama 4 dan 8 jam dengan menggunakan metode destilasi uap. Randemen minyak atsiri daun jeruk purut yang tertinggi yaitu pada daun utuh selama 4 jam sebesar 0,88095%. Hasil uji statistik dengan ANAVA satu jalan dengan tingkat signifikan 0,05 dan dilanjutkan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) diperoleh daun utuh 4 jam berbeda nyata terhadap daun utuh 8 jam, daun rajang 4 jam dan daun rajang 8 jam. Hasil dari analisis GC-MS menunjukkan kandungan senyawa pada daun utuh 4 jam yaitu sitronelal 39,65%, ?-sitronelol 3,72%, isopulegol 3,47% dan geranil asetat 3,38%. Kata kunci : Citrus hystrix, sitronelal, minyak atsiri, destilasi ua

    PERBANDINGAN METODA KURVA KALIBRASI DAN METODA ADISI STANDAR PADA PENGUKURAN MERKURI DALAM AIR YANG MEMILIKI KANDUNGAN SENYAWA ORGANIK TINGGI MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM

    Full text link
    Air Sungai Kapuas mengandung senyawa organik yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan sekitar seperti lahan gambut yang ada di kota Pontianak. Selain itu diduga air Sungai Kapuas dicemari senyawa merkuri akibat kegiatan PETI. Keberadaan senyawa organik (matrik) yang terdapat dalam air Sungai Kapuas dapat mengikat kuat senyawa merkuri sehingga dapat mempengaruhi pengukuran kadar merkuri dalam air dengan metoda kalibrasi standar. Metoda adisi standar merupakan salah satu solusi yang diusulkan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan metoda adisi standar dengan metoda kalibrasi standar dalam pengukuran merkuri dalam air yang memiliki kandungan senyawa organik tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metoda tersebut dalam penentuan kadar merkuri, dimana metoda adisi standar dapat dikatakan lebih baik daripada metoda kalibrasi standar. Menurut persamaan Horwitz presisi dari kedua metoda tersebut dapat dikatakan baik karena memberikan %KV sebesar 13,81% pada metoda adisi standar dan 6,53% pada kalibrasi standar. Nilai LOD pada kalibrasi standar sebesar 0,01098 ppb dan nilai LOQ sebesar 0,03268 ppb. Kata kunci : merkuri, metoda kalibrasi standar, metoda adisi standar

    STUDI AWAL PEMISAHAN AMILOSA DAN AMILOPEKTIN PATI UBI JALAR (Ipomoea batatas Lam) DENGAN VARIASI KONSENTRASI n-BUTANOL

    Full text link
    Penelitian tentang studi awal pemisahan amilosa dan amilopektin pati ubi jalar (Ipomoea batatas Lam) telah dilakukan dengan variasi konsentrasi n-butanol. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil analisis proksimat. Rendemen fraksi amilosa dan amilopektin pati ubi jalar yang difraksinasi dengan variasi konsentrasi 10%, 20%, 30% dan 40% n-butanol, serta mengkarakterisasi senyawa amilopektin dari pati ubi jalar dengan spektrofotometer IR. Hasil analisis proksimat pati ubi jalar menunjukkan kandungan air 61,51%, abu 1,7%, lemak 2,12%, protein 1,1%, dan karbohidrat 33,57%. Identifikasi amilosa dengan iodin menghasilkan warna biru keunguan, sedangkan amilopektin menghasilkan warna coklat kemerahan. Persentase rendemen fraksi amilosa tertinggi berada pada konsentrasi n-butanol 40% sebesar 46,69% dan fraksi amilopektin optimum berada pada konsentrasi 30% n-butanol sebesar 52,25%. Spektrum fraksi amilopektin menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 3425,34 (uluran O?H), 1647,10 (uluran C=O), 1022,20-1157,21 (uluran C?O), 522,67-609,46 (uluran C?C?O), 435,88 (uluran C?C?C). Adanya gugus karbonil (C=O) pada spektrum tersebut disebabkan proses oksidasi dari amilopektin. Kata kunci : Ipomoea batatas Lam, amilosa, amilopektin, fraksinas

    242

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kimia Khatulistiwa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇