Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
KARAKTERISASI SENYAWA STEROID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA BATANG TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL HeLa
ABSTRAKTanaman andong (Cordyline fruticosa) merupakan tanaman obat yang banyak digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik senyawa steroid dari fraksi diklorometana batang tanaman andong dan aktivitas sitotoksiknya terhadap sel HeLa. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol sehingga diperoleh ekstrak kental metanol. Ekstrak kental metanol kemudian difraksinasi dengan menggunakan beberapa pelarut sehingga diperoleh fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan fraksi metanol. Semua ekstrak dan fraksi diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel HeLa menggunakan metode MTT(3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2,5-difeniltetrazolium bromide). Nilai aktivitas sitotoksik (IC50) yang diperoleh untuk ekstrak metanol, fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan fraksi metanol berturut-turut adalah sebesar 282; 280; 256; 161 dan 177 µg/mL. Fraksi diklorometana selanjutnya dilakukan pemisahan dan pemurnian sehingga diperoleh isolat B1. Isolat menunjukkan nilai aktivitas sitotoksik IC50 sebesar 280 µg/mL. Hasil analisis spektrum ultraviolet-visible (UV-Vis) diperoleh absorbansi maksimum pada panjang gelombang 339,5 dan 220,5 nm yang menunjukkan adanya transisi elektronik π→π* dan n→π*. Spektrum infra red (IR) menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 2954-2854; 1739; 1461 dan 1203-1172 cm-1 yang menunjukkan gugus C-H; C=O; C=C aromatik, dan C-O-C eter. Serapan pada bilangan gelombang 1272 cm-1 merupakan serapan yang khas untuk senyawa steroid (-CH-OH). Berdasarkan hasil spektrum UV-Vis dan IR menunjukkan adanya senyawa steroid dan pada isolat B1. Kata Kunci: Andong (Cordyline fruticosa), steroid, sitotoksik, sel HeL
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI FRAKSI ETIL ASETAT BUAH ASAM KANDIS (Garcinia dioica Blume) TERENKAPSULASI PATI-Carboxymethylcellulose (CMC)
Buah asam kandis (Garcinia dioica Blume) merupakan sumber antioksidan dan antibakteri, namun pemanfaatannya dalam wujud ekstrak memiliki waktu penyimpanan yang relatif pendek dan rentan mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungan. Enkapsulasi merupakan salah satu solusi untuk melindungi dan mengontrol pelepasan bahan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antibakteri buah asam kandis sebelum dan sesudah proses enkapsulasi dengan bahan penyalut pati-CMC (Carboxymethylcellulose). Adapun prosedur enkapsulasi dilakukan pada 20% (b/b) fraksi etil asetat dan pati-CMC dengan perbandingan 1:3 menggunakan metode freeze drying. Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picryl hydrazil), sedangkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumur. Hasilnya diperoleh aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 fraksi dan enkapsulat masing-masing adalah 37,883 dan 359,225 ppm. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri diperoleh hasil bahwa fraksi aktif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus dan Pseudomonas aeruginosa pada rentang konsentrasi 1-6 mg/sumur, sendangkan enkapsulat hanya aktif menghambat bakteri P.aeruginosa pada rentang konsentrasi 0,3-1,0 mg/sumur. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan pati-CMC dengan perbandingan 1:3 belum optimal melindungi bahan aktif saat diaplikasikan sebagai sumber antioksidan, namun optimal dalam meningkatkan sifat antibakteri fraksi etil asetat buah asam kandis.Kata Kunci: G. dioica Blume, antioksidan, antibakteri, enkapsulasi, freeze dryin
KARAKTERISASI SABUN MINYAK BIJI KETAPANG (Terminalia catappa L.) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KESUMBA (Bixa orellana L.) SEBAGAI PEWARNA ALAMI
Sabun merupakan campuran asam lemak dengan senyawa natrium atau kalium yang digunakan sebagai pembersih. Pembuatan sabun menggunakan minyak biji ketapang (Terminalia catappa L.) sebagai bahan baku merupakan alternatif yang dapat digunakan karena keberadaan yang melimpah. Penambahan ekstrak kesumba (Bixa orellana L.) sebagai pewarna alami untuk membuat penampilan sabun lebih menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas sabun minyak biji ketapang (sabun a) sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan untuk mengetahui pengaruh pewarna alami dari ekstrak selaput biji kesumba dalam sabun minyak biji ketapang (sabun b). Sabun a dan b yang dihasilkan memiliki kadar air masing-masing sebesar 12,06% dan 14,29%, jumlah asam lemak 83,75% dan 75,21%, kadar asam lemak 0,818% dan 0,614% serta negatif mengandung alkali bebas dan minyak mineral sehingga sesuai dengan SNI. Pada uji iritasi pada kulit sabun dinyatakan negatif kulit dan untuk uji antioksidan sabun tanpa penambahan pewarna kesumba memiliki nilai Inhibition Concetration (IC50) sebesar 68 ppm dan sabun yang telah ditambahkan dengan pewarna kesumba memiliki nilai Inhibition Concetration IC50 sebesar 296,67 ppm. Kata kunci: Antioksidan, kesumba, minyak biji ketapang, sabu
PEMANFAATAN PASIR DARI KAOLIN CAPKALA TERLAPIS MANGAN DIOKSIDA UNTUK MENURUNKAN KADAR ION FOSFAT DALAM LARUTAN
Kaolin Capkala merupakan jenis lempung yang mengandung mineral kaolinit dan pasir kuarsa. Pasir kuarsa merupakan bagian dari kaolin Capkala yang pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Penelitian mengenai pemanfaatan pasir dari kaolin Capkala terlapis mangan dioksida untuk menentukan kadar ion fosfat dalam larutan telah dilakukan. Pasir terlapis mangan dioksida disintesis menggunakan KMnO4 0,2 M dan HCl 37%. Parameter yang dipelajari adalah waktu kontak adsorben dengan adsorbat dan pengaruh konsentrasi adsorbat. Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa pasir kuarsa terlapis mangan dioksida mengandung mineral MnO 0,289%, SiO2 94,424%, Al2O3 1,3% dan hasil analisis XRD menunjukkan sudut 2θ = 37,05° ; 45,09° ; 69,11° khas untuk mangan dioksida. Pasir kuarsa yang dilapisi dengan mangan dioksida (MnO2) dapat meningkatkan stabilitas dan kemampuan mangan dioksida dalam menurunkan polutan fosfat (PO43-) yang dapat merusak keseimbangan lingkungan perairan. Hasil penelitian diperoleh waktu kontak optimum adalah 3 jam dengan efektivitas adsorpsi 25,41% dan kapasitas adsorpsi pada penelitian ini mengikuti model adsorpsi Langmuir dengan nilai kapasitas sebesar 2,364 mg/g. Kata Kunci: Fosfat, kaolin capkala, mangan dioksida, pasi
PENENTUAN KARAKTERISTIK AIR GAMBUT DI KOTA PONTIANAK DAN KABUPATEN KUBURAYA
Air gambut merupakan salah satu jenis air permukaan dan air tanah di daerah Kalimantan dan Sumatera. Karakteristik air gambut meliputi kadar zat organik, kadar kesadahan, pH, kekeruhan dan daya hantar listrik (DHL). Berdasarkan kondisi alami air gambut ini, maka dilakukan penelitian untuk menentukan karakteristik air gambut di beberapa wilayah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat karakteristik air gambut dari wilayah yang berbeda-beda. Air gambut yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 7 sampel yang berasal dari 6 lokasi berbeda. Pengujian meliputi parameter fisika dan kimia. Parameter fisika meliputi organoleptik, pH, konduktivitas, turbidimeter sedangkan kimia meliputi zat organik, kesadahan dan Fe. Hasil yang diperoleh dari beberapa metode uji ini yaitu air gambut memiliki pH sekitar 4 sampai 5,7, konduktivitas sekitar 1,31 μS/cm sampai 82,2 μS/cm, kekeruhan 1,31 μS/cm sampai 82,2 μS/cm, dan semua air gambut berwarna coklat. Parameter pengukuran kandungan zat organik ditentukan dengan metode titrimetri sekitar 11 mg/L sampai 16 mg/L, dan kesadahan total sekitar 590 mg/L sampai 1302 mg/L untuk kadar Fe ditentukan dengan spektrofotometer serapan atom sekitar 2 mg/L sampai 5 mg/L. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa karakter air gambut adalah berbeda, meskipun pengambilan antar lokasi sampling ≤ 3,5 km. Kata kunci : air gambut, pH, konduktivitas, kekeruhan, zat organik, dan kesadaha
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN FRAKSI ETIL ASETAT KULIT KAYU BATANG NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lam.) YANG TERSALUT KITOSAN-TRIPOLIPOSPAT
Kulit kayu batang nangka berpotensi sebagai sumber antibakteri dan antioksidan, namun senyawa yang berperan dalam memberikan aktivitas farmakologi memiliki kelemahan dalam bentuk ekstrak yaitu waktu simpan yang pendek, rentan terhadap kerusakan sehingga diperlukan enkapsulasi untuk mencegah kerusakan dan memperpanjang masa simpan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi optimum proses enkapsulasi dengan metode gelasi ionik serta aktivitas antibakteri dan antioksidan ekstrak kulit kayu batang nangka sebelum dan sesudah tersalut kitosan-TPP. prosedur enkapsulasi dilakukan pada fraksi etil asetat dan kitosan-tripolipospat dengan perbandingan menggunakan metode freeze drying. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi sumur, sedangkan uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picryl hydrazil). Hasil uji aktivitas antibakteri diperoleh bahwa fraksi etil asetat dapat menghambat aktivitas bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella thyphimurium pada rentang konsentrasi 0,078-10 mg/sumur sedangkan enkapsulat A, B dan C hanya mampu menghambat aktivitas bakteri P. aeruginosa dengan rentang konsentrasi 25-100 mg/sumur. Nilai IC50 aktivitas antioksidan fraksi kulit kayu batang nangka dan enkapsulat B masing-masing sebesar 194,820 ppm (tergolong sedang) dan 490 ppm (tergolong lemah), sedangkan nilai IC50 enkapsulat A dan C masing-masing sebesar 691,202 ppm dan 605,794 ppm (tergolong tidak aktif).Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan kitosan-tripolipospat belum optimal melindungi bahan aktif saat diaplikasikan sebagai sumber antioksidan, namun optimal dalam meningkatkan sifat antibakteri fraksi etil asetat kulit kayu batang nangka. Kata Kunci: Artocarpus heterophyllus Lam., kitosan-TPP, enkapsulasi, antibakteri, antioksida
STUDI WAKTU PENGUAPAN PADA PEMBUATAN BLEND MEMBRAN POLISULFON/SELULOSA ASETAT DARI NATA de COCO
Membran merupakan suatu lembaran tipis yang bertindak sebagai pemisah selektif antara dua fase karena bersifat semipermeabel. Pada penelitian ini membran dibuat dari selulosa asetat dan polisulfon yang di blending dengan polietilenglikol (PEG 400) menggunakan metode inversi fasa pada berbagai variasi waktu penguapan 0, 30, 60, 90, dan 120 detik. Hasil asetilasi pada selulosa telah berhasil dilakukan dengan munculnya gugus khas dari selulosa asetat. Karakterisasi selulosa asetat menggunakan FTIR menunjukkan adanya gugus OH pada 3573,36 cm-1, C=O pada 1742,18 cm-1, dan C-O asetil pada 1223,35 cm-1. Analisis morfologi membran selulosa asetat dengan SEM menunjukkan terbentuknya pori membran asimetris. Hasil penelitian diperoleh nilai fluks tertinggi untuk membran sintesis dan komersil berturut-turut sebesar 106,316 L/jam.m2 dan 42,776 L/jam.m2 pada waktu penguapan 0 detik. Nilai rejeksi tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 49,179 % untuk membran dengan waktu penguapan 30 detik. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa membran polisulfon/ polietilenglikol/ selulosa asetat yang dihasilkan merupakan membran berpori yang baik digunakan dalam teknik pemisahan. Kata Kunci: membran, selulosa asetat, waktu penguapa
PENURUNAN ION Ca(II) DAN Mg(II) PENYEBAB KESADAHAN OLEH KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT PELET DAN BEADS
Pada penelitian ini telah dibuat komposit kitosan-zeolit pelet (p) glutaraldehid (G) (KZ-pG) dan tanpa glutaraldehid (KZ-p) serta komposit kitosan-zeolit beads (b) glutaraldehid (G) (KZ-bG) dan tanpa glutaraldehid (KZ-b). Komposit diaplikasikan untuk menurunkan konsentrasi ion Ca(II) dan Mg(II) penyebab kesadahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gugus fungsi komposit serta mengetahui kestabilan komposit. Tujuan lainnya adalah menentukan kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) oleh komposit. Tahapan penelitian meliputi: pembuatan komposit, uji stabilitas komposit dalam larutan dengan variasi pH 2-8, dan penentuan kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) oleh komposit. Komposit KZ-p dibuat dari kitosan:zeolit:PVA 1:1:3. Komposit KZ-b dibuat dengan melarutkan kitosan dalam asam asetat dan ditambahkan zeolit (1:1). Komposit KZ-pG dan KZ-bG dibuat dengan melarutkan KZ-p dan KZ-b dalam glutaraldehid. Spektrum FT-IR menunjukkan karakteristik serapan gugus –C=N dari ikatan kitosan-gluteraldehid pada komposit KZ-pG dan KZ-bG. Komposit KZ-pG dan KZ-bG lebih stabil daripada komposit KZ-p dan KZ-b. Kapasitas adsorpsi maksimum diperoleh dari pengaplikasian massa komposit 10 mg. Kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) oleh komposit KZ-pG berturut-turut sebesar 57,2 g/g dan 34,8 g/g. Kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II) komposit KZ-bG berturut-turut sebesar 55,6 g/g dan 33,9 g/g. Penurunan massa komposit KZ-pG dan KZ-bG berpengaruh signifikan terhadap kenaikan kapasitas adsorpsi ion Ca(II) dan Mg(II). Kata kunci: kesadahan, kitosan-zeolit, Ca(II), Mg(II), komposi
SENYAWA SITOTOKSIK DARI FRAKSI DIKLOROMETANA DAUN DARUJU (Acanthus ilicifolius Linn.) TERHADAP SEL HeLa
Uji aktivitas sitotoksik dan karakterisasi senyawa dari fraksi diklorometana telah dilakukan pada daun daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) terhadap sel HeLa. Proses isolasi dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi, partisi dan kromatografi. Isolat murni yang diperoleh sebanyak 7,2 mg berbentuk amorf berwarna kehijauan dengan hasil uji fitokimia positif senyawa terpenoid. Berdasarkan uji sitotoksik diketahui bahwa fraksi diklorometana memiliki nilai IC50 140,94µg/mL yang tergolong dalam sitotoksik moderat dan isolat memiliki nilai IC50 88,89 µg/mL yang tergolong dalam sitotoksik potensial. Data 1H-NMR (DMSO, 400 MHz) menunjukkan geseran kimia δ (ppm): 0,60 ; 0,72 (d, J= 4 Hz), 0,90 (s), 0,91 (d, J= 6 Hz), 0,97 (s), dan 1,82 (bs) untuk proton metil; δH 3,37 (s) untuk proton metin hidroksi; δH 6,55 (d, J= 8 Hz) untuk proton olefin. Berdasarkan analisis data 1H-NMR dan dibandingkan dengan data 1H-NMR yang telah dilaporkan dalam literatur, senyawa tersebut dapat diusulkan sebagai asam 23-hidroksimangiferon. Kata Kunci: Acanthus ilicifolius, sitotoksik, HeLa, terpenoi
PEMBUATAN POLYBLEND DARI LIMBAH STYROFOAM DAN α-SELULOSA SERAT DAUN NANAS SEBAGAI BAHAN DASAR PLASTIK RAMAH LINGKUNGAN
Pembuatan polyblend sebagai bahan dasar plastik ramah lingkungan telah dilakukan dari limbah styrofoam dan serat daun nanas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik dari polyblend antara limbah styrofoam dan α-selulosa serta mengetahui kemampuan terdegradasi oleh mikroorganisme dengan metode pencampuran. Campuran styrofoam-diklorometana divariasikan dengan campuran dimetil sulfoksida-α-selulosa dengan formulasi (90:10); (80:20); (70:30); (60:40). Penambahan gliserol pada setiap formulasi dilakukan untuk meningkatkan sifat mekanik dan biodegrabilitas dalam tanah. Formulasi terbaik polyblend antara limbah styrofoam dan α-selulosa yaitu 90:10. Nilai kuat tarik yang dihasilkan adalah 10,492 MPa, elongasi 10%, persentase daya serap air 14,81% serta kemampuan terdegradasi 25,225% di dalam tanah. Hasil analisis karakteristik gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared (FT-IR) menunjukkan adanya puncak baru pada styrofoam-α-selulosa pada panjang gelombang 2345,16 cm-1 yang menunjukkan gugus alkil. Puncak tersebut menandakan adanya interaksi kimiawi antara gugus fungsi dari styrofoam dan α-selulosa dari serat nanas. Kata kunci: α-selulosa, daun nanas, plastik, lingkungan, styrofoa