Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
SINTESIS DAN KARAKTERISASI TiO2/Ti NANOTUBE MENGGUNAKAN METODE ANODISASI
Semikonduktor TiO2 telah disintesis dengan metode anodisasi menggunakan foil Ti sebagai prekursor dan sekaligus sebagai matriks dengan menggunakan tegangan potensial sebesar 40 volt dan diikuti proses kalsinasi dengan suhu 450ºC selama 3 jam. Berdasarkan hasil karakterisasi FT-IR menunjukkan adanya serapan bilangan gelombang 457,149 cm-1 dan 796,64 cm-1 yang merupakan vibrasi dari Ti-O. Analisis permukaan dengan metode SEM memperlihatkan TiO2/Ti yang didapatkan memiliki morfologi nanotube dengan diameter berkisar 10-45 nm. Pengukuran difraktogram dengan metode XRD menunjukkan TiO2/Ti nanotube memiliki fasa anatase dengan nilai band gap sebesar 3,26 eV. Kata kunci : anodisasi, nanotube, TiO
ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI DAUN PALA SEGAR DAN KERING (Myristica fragrans Houtt.) DARI PULAU LEMUKUTAN TERHADAP Staphylococcus aureus dan Escherichia coli
Daun pala (Myristica fragrans Houtt.) merupakan salah satu bagian tanaman yang menghasilkan minyak atsiri dan dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri. Penelitian dilakukan untuk menentukan rendemen daun segar dan daun yang telah dikering-anginkan, mengetahui senyawa mayor dan mengetahui aktivitas antibakteri minyak atsiri daun pala asal Pulau Lemukutan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Minyak atsiri daun pala diekstraksi menggunakan metode destilasi uap-air. Rendemen minyak atsiri daun segar yang diperoleh sebesar 0,516% sedangkan yang telah dikering-anginkan sebesar 0,456% dengan warna kuning pucat, berbau khas dan berat jenis sebesar 0,906 g/mL. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difuai sumuran. Berdasarkan uji aktivitas, diketahui bahwa minyak atsiri daun pala memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Minyak atsiri daun pala dapat membentuk KHM terhadap Staphylococcus aureus adalah 62,5 μg/sumur dan Escherichia coli adalah 125 μg/sumur. Kata Kunci: pala (Myristica fragrans Houtt.), minyak atsiri, antibakter
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI METANOL KULIT KAYU BATANG SUKUN (Artocarpus altilis Park) YANG TERSALUT KITOSAN-TRIPOLIPOSPAT
Sukun (A. altilis Park.) adalah salah satu tumbuhan nangka-nangkaan (Artocarpus) dari suku Moraceae yang dikenal baik di Indonesia. Kulit kayu batang sukun mempunyai potensi sebagai sumber antibakteri dan antioksidan. Pada penelitian ini dilakukan proses enkapsulasi dikarenakan senyawa yang berperan memiliki kelemahan dalam waktu simpan sehingga rentan terhadap kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan antioksidan ekstrak kulit batang sukun sebelum dan sesudah tersalut kitosan-TPP dengan variasi kompoisi ekstrak:kitosan dan fraksi:kitosan (b/b) yaitu variasi 2:1 enkapsulat A dan variasi 1:2 enkapsulat B, serta mengetahui komposisi optimumnya. Formulasi enkapsulat yang digunakan ialah enkapsulat A ekstrak kasar metanol:kitosan-TPP (2:1) dan enkapsulat B fraksi metanol:kitosan-TPP (1:2). Uji aktivitas antibakteri diperoleh bahwa ekstrak metanol dapat menghambat aktivitas bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella thyphimurium pada rentang konsentrasi 0,156-10 mg/sumur sedangkan enkapsulat B mampu menghambat bakteri P. aeruginosa dengan rentang konsentrasi 25-100 mg/sumur dan enkapsulat A tidak mempunyai aktivitas antibakteri. Nilai IC50 aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi metanol masing-masing sebesar 184,251 ppm (tergolong sedang) dan 201,333 ppm sedangkan nilai IC50 enkapsulat A sebesar 587,692 ppm (tergolong tidak aktif) dan enkapsulat B sebesar 440,870 ppm (tergolong lemah). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan ekstrak kulit batang sukun mempunyai kemampuan lebih baik dalam aktivitas antibakteri dan antioksidan daripada enkapsulat A dan B. Kata Kunci: Artocarpus altilis Park., kitosan-TPP, enkapsulasi, antibakteri, antioksidan, IC5
PENURUNAN KADAR ION SULFAT DALAM AIR MENGGUNAKAN KOMPOSIT KITOSAN/ZEOLIT/PVA
Ion sulfat (SO42-) merupakan anion penyebab kesadahan air. Penurunan kadar ion sulfat dalam air menggunakan komposit kitosan/zeolit/PVA pelet terikat silang gluteraldehid telah dilakukan pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakterisasi gugus fungsi dan stabilitas komposit pelet pada variasi pH. Adsoeben komposit digunakan dalam menurunkan konsentrasi ion sulfat dalam air. Tahapan metode yang dilakukan meliputi pembuatan komposit, karakterisasi kandungan gugus fungsi komposit menggunakan FTIR, uji stabilitas komposit, penentuan kadar ion sulfat teradsorpsi menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk menentukan kapasitas adsorpsi ion sulfat. Hasi spektrofotometri FTIR menunjukan munculnya serapan gugus –OH (3364,55 cm-1) dan –NH (3346,31 cm-1) dari kitosan; gugus amida dari kitosan (1633,92 cm-1); gugus C=N (1637,67cm-1) yang menunjukan pembentukan ikatan imina antara kitosan dan glutaraldehid; gugus C-H (2162,37 cm-1 dan 2283,85); gugus C-O-C dari kitosan (1020,51 cm-1 dan 1028,27 cm-1); gugus C-N dari kitosan (1380,72 cm-1); gugus Al-O dari zeolit (788,33 cm-1 dan 782,34 cm-1). Komposit pelet terikat silang gluteraldehid lebih stabil dalam asam dan basa dibandingkan komposit pelet tanpa terikat silang dengan gluteraldehid. Massa komposit pelet 0,1 gram menghasilkan kapasitas adsorpsi ion sulfat paling besar, yaitu 55,39 mg/g. Semakin besar massa komposit pelet yang digunakan, maka kapasitas adsorpsinya semakin menurun. Kata kunci: kesadahan, kitosan, zeolit, komposit, glutaraldehi
KARAKTERISASI FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITASNYA
Tanaman andong (Cordyline fruticosa) merupakantanaman hias yang biasa digunakan sebagai obat tradisional seperti obat luka, obat wasir dan perut kembung.Tanaman ini juga telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antihelmintik, antiinflamasi dan antifeedant. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik flavonoid dari fraksi etil asetat daun tanaman andong (Cordyline fruticosa) dan menentukan aktivitasnya terhadap Plasmodium falciparum. Ekstraksi dan fraksinasi dilakukan untuk memperoleh fraksi dari daun tanaman andong. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa daun tanaman andong mengandung senyawa terpenoid, steroid, flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin. Pemisahan fraksi etil asetat dilakukan dengan kromatografi kolom dan diidentifikasi menggunakan spektroskopi UV-Vis dan IR untuk mendapatkan profil spektrumnya. Aktivitas antimalaria (IC50) ekstrak dan fraksi diuji terhadap Plasmodium falciparum. Karakteristik spektrum UV-Vis dari isolat menunjukkan adanya serapan pada λmaks 308 nm (pita Ι), 254 dan 240 nm (pita ΙΙ). Berdasarkan data uji fitokimia dan spektrum IR dari isolat FE menunjukkan bahwa senyawa yang terdapat dalam isolat adalah senyawa golongan flavonoid yang memiliki gugus lakton dengan νmaks (KBr) cm-1 :3251-3132 (O-H), 2941 (C-H alifatik), 1712 (C=O), 1604 (C=O), 1510-1450 (C=C aromatik) dan 1033 (C-O-C). Isolat FE memiliki nilai aktivitas antimalaria terhadap Plasmodium falciparum sebesar 1,23 μg/mL sehingga bersifat sangat potensialuntuk dikembangkan sebagai obat antimalaria. Kata Kunci : Cordyline fruticosa, Plasmodium falciparum, flavonoi
EKSTRAKSI GELATIN DARI KULIT IKAN BELIDA (Chitala lopis) PADA PROSES PERLAKUAN ASAM ASETAT
Pemanfaatan daging ikan belida digunakan untuk produksi kerupuk dan bakso ikan. Kulit dan tulang hanya dijadikan sebagai limbah industri rumah tangga. Limbah kulit ikan belida menjadi salah satu sumber alternatif bahan baku pembuatan gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapakah konsentrasi CH3COOH terbaik dari ekstraksi gelatin kulit ikan belida. Kulit ikan direndam dalam variasi konsentrasi CH3COOH 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% selama 24 jam hingga kulit ikan mengalami pengembangan (swelling). Kemudian diekstraksi pada suhu 60 selama 3 jam kemudian filtrat dikeringkan. Konsentrasi CH3COOH terbaik yaitu 1% dengan rendemen gelatin 3,296%. Hasil Karakteristik FTIR menunjukkan adanya kemiripan gugus fungsi dan bilangan gelombang gelatin kulit ikan belida dengan gelatin komersial yang menyatakan bahwa produk penelitian ini merupakan gelatin. Pengujian proksimat menunjukkan nilai kadar air 11.98 %, kadar abu 0,71 %, kadar lemak 2,26%, dan kadar protein 81,93 %. Pengujian fisiko -kimia menunjukkan nilai kekuatan gel 50,25 gram bloom, viskositas 2,5 cPs, pH 5,60, titik gel 5,5 dan titik leleh 24,5 . Berdasarkan SNI 063735.1995 dan gelatin USA disimpulkan bahwa gelatin dari kulit ikan belida dengan gelatin komersial memenuhi standar mutu gelatin. Kata kunci : ekstraksi, gelatin, kulit ikan belida, asam aseta
PENGARUH KOMPOSISI BERAT KITOSAN-ZEOLIT TERHADAP STABILITAS FISIKO-KIMIA KOMPOSIT YANG DIHASILKAN
Kitosan merupakan adsorben yang mempunyai kemampuan tinggi namun stabilitasnya rendah terutama dalam media asam. Zeolit merupakan adsorben yang berpori dan memiliki kekuatan mekanik yang baik. Pada penelitian ini dibuat komposit kitosan-zeolit untuk meningkatkan stabilitas adsorben terhadap asam dan terhadap temperatur. Komposit dibuat dalam bentuk beads dan pelet dengan variasi massa kitosan : zeolit 0,5:0,3; 0,5:0,5; 0,5:0,7 dan 0,5:1,0 kemudian diikat silang menggunakan glutraldehid. Uji stabilitas komposit dalam media asam dilakukan dengan melarutkan komposit ke dalam larutan asam asetat dengan variasi konsentrasi 1%, 2,5% dan 5%. Uji stabilitas termal dilakukan dengan menggunakan analisis DTA/TGA pada suhu 30-500 oC. Spektra FT-IR menunjukkan bahwa komposit dengan variasi massa 0,5:1,0 (bentuk beads) dan variasi massa 0,5:0,3 (bentuk pelet) mempunyai stabilitas paling tinggi dalam media asam. Spektrum FT-IR menunjukkan terbentuknya ikatan antara kitosan dan zeolit muncul pada bilangan gelombang 1024,16 cm-1 (Si-O dan Al-O). Uji stabilitas termal komposit bentuk pelet dan pelet terikat silang menunjukkan kehilangan massa komposit sebesar 0,65 mg dan 0,78 mg sedangkan dalam bentuk beads dan beads terikat silang kehilangan massa sebesar 3,66 mg dan 5,54 mg. Hasil ini menunjukkan bahwa komposit dalam bentuk pelet dan pelet terikat silang memiliki stabilitas termal yang lebih baik dibandingkan bentuk beads dan beads terikat silang. Kata Kunci : beads, komposit kitosan-zeolit, pelet, stabilita
ISOLASI SENYAWA TERPENOID DARI AKAR DURIAN MERAH (Durio Dulcis Beec)
Penelitian tentang kandungan senyawa kimia akar durian merah yang berasal dari Kalimantan Barat bertujuan untuk mengisolasi dan menentukan golongan senyawa terpenoid dari akar durian merah (D. dulcis Becc). Ekstraksi komponen senyawa menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Pemisahan fraksinya menggunakan metode partisi (n-heksana dan etil asetat) dan beberapa tahap kromatografi, yaitu kromatografi vakum cair (KVC), kromatografi kolom gravitasi (KKG) dan kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP). Uji fitokimia golongan terpenoid ditentukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dengan menggunakan reagen semprot H2SO4 10 %. Penelitian ini menghasilkan satu isolat murni golongan terpenoid sebanyak 1,1 mg. Kata Kunci: Durian, D. dulcis Becc, terpenoi
PELAPISAN MANGAN DIOKSIDA PADA PASIR SILIKA DARI KAOLIN CAPKALA DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN BESI (III) DALAM LARUTAN
Salah satu sumber air di Kota Pontianak adalah air tanah dengan karakteristik air yang berwarna kuning atau kuning kecoklatan yang diduga karena adanya kandungan besi yang cukup tinggi. Adsorpsi merupakan salah satu metode yang yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar Fe(III) dalam larutan. Dalam penelitian ini, adsorben yang digunakan untuk menurunkan Fe(III) dalam larutan adalah pasir silika terlapis mangan dioksida (MnO2). Pasir silika yang digunakan diperoleh dari hasil pemisahan kaolin Capkala. Sintesis pasir terlapis MnO2 dilakukan menggunakan KMnO4 0,2 M dan HCl pekat (37% w/w). Parameter yang dipelajari adalah pengaruh waktu kontak adsorben dengan adsorbat, pengaruh massa adsorben dan pengaruh konsentrasi adsorbat. Terlapisnya MnO2 pada pasir silika ditunjukkan dengan karakterisasi menggunakan XRD pada puncak 2 = 19,08o; 59,72o dan 65,64o,puncak silika ditunjukkan pada 2 = 26,64o; 20,84o dan 50,11o yang merupakan mineral kuarsa. Data XRF juga menunjukkan adanya kandungan MnO sebesar 0,136%. Hasil penelitian menunjukkan waktu kontak terbaik adalah 30 menit dengan persentase Fe(III) yang teradsorpsi 52%. Sedangkan massa adsorben terbaik adalah 2,5 gram dengan persentase Fe(III) yang teradsorpsi 25,8%. Adsorpsi Fe(III) oleh pasir silika terlapis MnO2 mengikuti kinetika adsorpsi pseudo-orde dua dengan konstanta laju 0,012 g/mg.min. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adsorben pasir silika terlapis MnO2 mampu menurunkan kadar Fe(III) sebesar 25,8% sampai 52% untuk masing-masing parameter. Kata Kunci: Fe(III), pasir terlapis MnO2, kaolin Capkal
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI FRAKSI ETIL ASETAT BUAH ASAM KANDIS (Garcinia dioica Blume) TERENKAPSULASI GELATIN
Buah asam kandis (Garcinia dioica Blume) merupakan tumbuhan dengan kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan dan antibakteri. Pemanfaatan buah asam kandis dalam wujud ekstrak memiliki kekurangan yaitu waktu simpan yang pendek dan mudah mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh reaksi kimia maupun enzimatis. Enkapsulasi merupakan salah satu cara yang tepat digunakan untuk melindunginya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan dan antibakteri fraksi etil asetat buah asam kandis sebelum dan sesudah dienkapsulasi dengan bahan penyalut gelatin. Prosedur enkapsulasi dilakukan dengan metode freeze drying. Proses enkapsulasi dilakukan dengan penambahan fraksi etil asetat dan gelatin masing-masing sebesar 10% (w/w) dan 30% (w/v). Pengujian bioaktivitas dilakukan dengan menggunakan metode DPPH dan metode difusi sumur. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan enkapsulat fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 37,833 dan 972,614 ppm. Aktivitas antibakteri fraksi etil asetat aktif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa pada rentang konsentrasi 1-6 mg/sumur, sedangkan enkapsulat fraksi etil asetat aktif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada rentang konsentrasi 1,5-4,5 mg/sumur. Berdasarkan hasil pengujian bioaktivitas dapat disimpulkan bahwa fraksi dan enkapsulat etil asetat buah asam kandis memiliki aktivitas antioksidan dan aktivitas antibakteri. Kata Kunci : asam kandis (G.dioica Blume), enkapsulasi, freeze drying, antioksidan, antibakter