Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT B.E2 DAUN TANAMAN SUKUN (Artocarpus altilis) TERHADAP S. typhimurium DAN S. aureus
Sukun (Artocarpus altilis) merupakan salah satu tanaman penghasil senyawa antibakteri yang dapat dihasilkan bakteri endofit dan banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat indonesia. Daun sukun mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin yang bersifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri isolat bakteri endofit B.E2 dari daun sukun terhadap kedua bakteri patogen S.typhimurium dan S.aureus serta mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung. Penelitian dimulai dengan produksi metabolit sekunder bakteri endofit B.E2, pengukuran laju pertumbuhan bakteri, uji aktifitas antibakteri menggunakan metode difusi cup-plate technique dan skrining fitokimia. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa isolat B.E2 memiliki aktivitas antibakteri yang termasuk dalam katagori sedang hingga lemah terhadap bakteri patogen S. typhimurium dan bakteri S. aureus dengan menghasilkan zona hambat tertinggi berturut-turut sebesar 7.64 mm pada waktu fermentasi ke-48 jam dan 4.18 mm pada waktu fermentasi ke-30 jam. Hasil uji fitokimia supernatan hasil fermentasi isolat B.E2 menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid dan saponin. Kata kunci: Artocarpus altilis, bakteri endofit, antibakter
KANDUNGAN GIZI DAN ORGANOLEPTIK COOKIES TERSUBSTITUSI TEPUNG KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca Linn)
Kulit pisang mengandung mineral, metabolit sekunder, dan serat yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menambah informasi pemanfaatan kulit pisang kepok sebagai substituen dalam pembuatan cookies dan mengetahui kandungan gizi serta organoleptik cookies tersubstitusi tepung kulit pisang kepok. Pengujian organoleptik menggunakan metode kesukaan (hedonik). Formulasi yang digunakan adalah formulasi 100% tepung terigu (A1) dan formulasi 90% tepung kulit pisang kepok : 10% tepung terigu (A2). Kandungan gizi cookies tersubstitusi tepung kulit pisang kepok diperoleh kadar air cookies A1 dan A2 adalah 4,383 dan 3,184%. Kadar lemak cookies A1 dan A2 adalah 21,195 dan 22,853%. Sedangkan untuk nilai energi cookies A1 dan A2 sebesar 481,148 dan 490,582 Kkal/g. Kandungan gizi tersebut telah memenuhi standar mutu biskuit (SNI 01-2973-1992). Hasil organoleptik menunjukkan cookies A1 lebih disukai dari pada A2. Namun kandungan serat pada cookies A2 jauh lebih tinggi dari A1 yakni 3,979% (A2) dan 1,497% (A1). Oleh karena itu, substitusi tepung kulit pisang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis kulit pisang dan berpotensi sebagai cookies fungsional untuk kesehatan. Kata Kunci : cookies, kulit pisang, kandungan gizi, organolepti
SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA BUAH MANGGA GOLEK (Mangifera spp.) SEBAGAI PENGOMPLEKS Fe2+
Logam besi biasa ditemukan dialam berupa padatan atau ion terlarut seperti Fe3+ atau Fe2+. Ion besi (Fe2+) dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif hingga kanker apabila berlebih di dalam tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi pengompleks dari senyawa flavonoid yang terdapat pada fraksi diklorometana buah Mangga Golek (Mangifera spp.) terhadap ion besi (Fe2+) dan melakukan karakterisasi terhadap senyawa tersebut. Adapun tahapan yang dilakukan untuk memperoleh senyawa tersebut adalah preparasi sampel, ekstraksi, fraksinasi, pemisahan dan pemurnian senyawa hingga diperoleh isolat S1 yang dikarakterisasi menggunakan spektrometer IR dan 1H-NMR serta analisis potensi pengompleks terhadap Fe2+ menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil karakterisasi senyawa dengan IR, isolat S1 memiliki gugus fungsi seperti -OH ulur (3430 cm-1), C-H alfiatik ulur (2927 cm-1), C=O (1641 cm-1), cincin aromatik (1515-1449 cm-1), C-O-C ulur (1176 cm-1) dan C-O-C (1112 cm-1). Hasil karakterisasi senyawa dengan 1H-NMR, isolat S1 menunjukkan δH pada δH 7,99 (d, J=8,8 Hz, H-2’dan H-6’); δH 7,29 (d, J=8,8 Hz, H-3’dan H-5’); δH 6,94 (s, H-3); δH 6,52 (s, J=2 Hz, H-8) dan δH 6,43 (s, J=1,6 Hz, H-6), yang diperkirakan senyawa tersebut ialah 5,4’-dihidroksi-7-metoksiflavon merupakan senyawa golongan flavonoid. Hasil analisa potensi pengompleks Fe2+ oleh isolat S1 yang dilakukan, menunjukkan pergeseran λ maks sebesar 2 nm setelah senyawa ditambahkan Fe2+ yaitu dari 296 nm ke 298 nm. Kata Kunci: besi (Fe2+), diklorometana, flavonoid, Mangifera spp., pengkhelata
UJI DAYA HAMBAT FRAKSI SISA DARI DESTILASI FRAKSIONASI MINYAK ATSIRI DAUN UJUNG ATAP (Baeckea frutescens L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans
Baeckea frutescens L. atau ujung atap adalah tanaman tropis yang sering dijadikan sebagai tanaman hias dan dapat digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Di Indonesia tanaman ini dapat dijumpai di pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Pemisahan komponen minyak atsiri Baeckea frutecens L. telah dilakukan dengan metode destilasi fraksionasi. Hasil pemisahan diperoleh fraksi D (sisa proses fraksionasi) berwarna kuning kecoklatan dengan % rendemen sebesar 31,51% (v/v) dan densitas 0,901 g/mL. Komponen kimia fraksi D minyak atsiri Baeckea frutescens L. dianalisis menggunakan GC-MS menunjukkan ada 3 macam komponen utama fraksi D yaitu terdiri dari 1,8-Sineol (21,04%), p-Simena (14,55%), dan α-Humulena (8,64%). Hasil uji daya hambat fraksi D (sisa) terhadap bakteri Streptococcus mutans diperoleh konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 0,625% (v/v) dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 1,77 mm bersifat bakteriostatik. Kata Kunci: Baeckea frutescens L., destilasi fraksionasi, Streptococcus mutan
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ACTINOMYCETES BERASOSIASI DENGAN SPONS
Penggunaan antibiotika yang kurang tepat pada manusia dapat menjadi penyebab terjadinya resistensi antibiotika dalam bidang kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan eksplorasi sumber senyawa antibakteri baru. Eksplorasi tersebut dilakukan pada perairan Pulau Baru, Bengkayang, Kalimantan Barat. Bakteri yang berasosiasi dengan spons memiliki potensi sebagai penghasil senyawa antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh bakteri Actinomycetes yang berasosiasi dengan spons yang memiliki aktivitas antibakteri dan mengetahui genus dari isolat. Isolat Actinomycetes dilakukan skrining awal menggunakan perpendicular streak method. Isolat yang didapat lalu dibuat ekstrak untuk di uji aktivitas antibakterinya. Ekstrak Actinomycetes PS81 menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli, Pseudomonas aeruginasa, Salmonella typhi, Staphylococus aureus dan Vibrio cholerae serta diidentifikasi sebagai Nocardia sp. PS81 Kata Kunci: spons, Actinomycetes, Nocardia, aktivitas antibakter
ISOLASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI DAUN GUGUR Eucalyptus staigeriana
Tanaman Eucalyptus dimanfaatkan bagian batang sebagai bahan baku kertas dan industri, namun pada bagian daun terdapat sebagai limbah. Daun Eucalyptus memiliki aroma yang khas sehingga berpotensi sebagai minyak atsiri. Isolasi minyak atsiri menggunakan metode destilasi uap bertujuan untuk mengetahui profil senyawa minyak atsiri daun gugur E. staigeriana. Aktivitas antibakteri minyak atsiri daun gugur E. staigeriana dilakukan dengan menggunakan bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Senyawa utama minyak atsiri E. staigeriana α-pinen (33,06%), β-pinen (8,28%), dan limonen (22,44%). Aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa minyak atsiri daun gugur E. staigeriana memiliki aktivitas lemah menghambat bakteri E. coli dengan zona hambat sebesar 5,621 mm dan 5,377 mm pada 500 g/sumur dan 1000 g/sumur, dan tidak aktif menghambat bakteri S. aureus dan sebagai bakteriostatik. Kata kunci : antibakteri, Eucalyptus staigeriana, minyak atsir
EFEK PELARUT TERHADAP SPEKTRA ABSORPSI UV-VIS KURKUMINOID
Kurkuminoid termasuk salah satu pigmen yang terkandung di dalam rimpang kunyit (Curcuma longa) yang dapat menyerap cahaya pada daerah Ultra Violet-Visible (UV-Vis). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek pelarut terhadap spektra absorpsi UV-Vis kurkuminoid menggunakan sembilan jenis pelarut yaitu dimetil sulfoksida, asetonitril, metanol, etanol, aseton, diklorometana, etil asetat, kloroform, dan n-heksana. Penelitian ini diawali dengan ekstraksi dan isolasi kurkuminoid dari kunyit, kemudian dikarakterisasi menggunakan instrumen Liquid Chromatography Mass Spectrometer (LCMS) dan spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya dilakukan scanning λmaks pigmen kurkuminoid yang dilarutkan dalam pelarut berbeda kemudian dilakukan pengukuran absorbansi pigmen kurkuminoid dengan variasi konsentrasi kurkuminoid. Rendemen kurkuminoid yang dihasilkan dari ekstraksi sampel kering kunyit adalah 1,25% (b/b) dengan komponen kurkumin sebagai komponen mayor dari isolat. Hasil analisis menggunakan hukum Lambert-Beer menunjukkan bahwa dalam pelarut asetonitril kurkuminoid memiliki koefisien absorpsi tertinggi yaitu 132,4 Lg-1cm-1. Pelarut n-heksana memiliki panjang gelombang maksimum (λmaks) terkecil (405 nm) sehingga terjadi pergeseran hipsokromik pada spektra absorbsi UV-Vis kurkuminoid. Sedangkan pelarut dimetil sulfoksida memiliki λmaks terbesar (433 nm) sehingga terjadi pergeseran batokromik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengaruh penggunaan pelarut dapat diamati berdasarkan spektra absorpsi UV-Vis kurkuminoid. Kata Kunci : koefisien absorpsi, kurkuminoid, spektra UV-Vi
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT BATANG TUMBUHAN SENGGANI (Melastoma malabathricum L.)
Tumbuhan senggani (Melastoma malabathricum L.) merupakan tumbuhan yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Tumbuhan senggani memiliki bunga majemuk dan buah berwarna merah. Tumbuhan senggani mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, flavonoid dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa flavonoid. Proses isolasi senyawa dilakukan dengan metode ekstraksi, fraksinasi, dan kromatografi. Penelitian ini telah berhasil mengisolasi senyawa metabolit sekunder dari fraksi etil asetat batang tumbuhan senggani. Isolat pada fraksi 4 diperoleh sebanyak 1,6 mg. Hasil analisis spektrum 1H-NMR terlihat ada dua kelompok pergeseran kimia pada area 1-4 ppm dan 6-8 ppm yang merupakan kumpulan aromatik dari aglikon flavonoid. Berdasarkan spektrum dan uji fitokimia, fraksi 4 diprediksi merupakan senyawa flavonoid. Kata Kunci: flavonoid, isolasi, karakterisasi, Melastoma malabathricum L
KARAKTERISASI SENYAWA TRITERPENOID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA KULIT BATANG DURIAN MERAH (Durio dulcis Becc.)
Durian merah (D. dulcis Becc.) merupakan salah satu tumbuhan endemik kalimantan barat. Senyawa triterpenoid telah diisolasi dari fraksi diklorometana kulit batang durian merah sebanyak 6 mg dan berbentuk amorf. Tahapan isolasi senyawa triterpenoid adalah ekstraksi, fraksinasi, kromatografi vakum cair (KVC) dan kromatografi lapis tips (KLT). Uji fitokimia senyawa triterpenoid ditentukan dengan menggunakan pereaksi Liebermann-Bucard yang menunjukkan warna merah kecoklatan. Struktur senyawa ditentukan menggunakan proton nuclear magnetic resonance (1H-NMR) (CDCl3, 500 MHz). Pergeseran kimia senyawa triterpenoid (δH ppm): 0,69 (3H, s); 0,86 (3H, d); 0,88 (3H, d); 0,92 (3H, d); 1,02 (3H, d); 1,06 (3H, d); 1,41 (3H, d); 1,84 (3H, d); 1,97 (3H, m); 2,01 (3H, m); 2,30 (4H, m); 3,53 (2H, m); 3,67 (1H, J = 12,2 Hz, d); 3,52 (1H, s); 3,97 (1H, s) dan 5,35 (1H, J=4,95, d). Berdasarkan uji fitokimia dan data 1H-NMR, maka isolat F9M16 yang dihasilkan merupakan senyawa triterpenoid. Kata Kunci : durian, Durio dulcis Becc., triterpenoi
KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT KULIT BUAH MANGGA (Mangifera spp.) DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI PENGOMPLEKS LOGAM Pb(II)
Keberadaan logam timbal memiliki dampak negatif terhadap lingkungan mahkluk hidup khususnya kesehatan manusia. Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui aktivitas pengompleks isolat F.III dari fraksi etil asetat kulit buah mangga dengan logam Pb(II). Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap yaitu maserasi, partisi, kromatografi, karakterisasi, dan uji pengompleks. Uji fitokimia terhadap isolat F.III (19,5 mg) positif fenolik sedangkan sifat fisik isolat berbentuk kristal amorf berwarna kuning dengan titik leleh 135-139oC. Spektra Uv-Vis (H2O) menunjukkan adanya serapan maksimum pada 297 nm. Spektra IR (KBr) Vmaks cm-1 menunjukkan adanya serapan pada bilangan gelombang 3435 (OH), 2923-2855 (CH alifatik), 1631 (C=O karbonil), 1500 (aromatik),1113 (C-O-C). Spektrum 1H-NMR (CD3OD, 400 MHz) menunjukkan kemunculan sinyal pada geseran (δ ppm): 5,16 (1H,d, J=7,6 Hz), 5,34 (1H,d,J=12Hz), 5,72 (1H,d, J=11,6 Hz), 5,76 (1H,d, J=11,6 Hz), 6,3 (1H, d, J=2,8 Hz), 6,5 (2H, d, J=6,4Hz), 6,6(2H,d, J=6,4), 7,11 (2H, d, J=8,4), 7,2 (1H, dd, J=4,8). Berdasarkan analisis uji fitokimia dan spektroskopi serta dibandingkan dengan literatur maka diprediksi bahwa isolat F.III adalah senyawa morelloflavon (biflavonoid). Uji pengompleks menggunakan isolat F.III 100 ppm dengan logam Pb(II) 50 ppm yang berasal dari Pb(NO3)2 menunjukkan adanya ikatan antara ligan dan atom pusat berupa penurunan absorbansi dan tidak mengalami pergeseran panjang gelombang. Kata kunci : Mangifera spp., morelloflavon, pengomplek