Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SITOTOKSIK EKSTRAK METANOL DAUN SENGKUBAK (Pycnarrhena cauliflora Diels)
Sengkubak (P. cauliflora Diels) merupakan tanaman hayati Kalimantan Barat yang dimanfaatkan sebagai pengempuk daging dan penyedap rasa. Tanaman ini berpotensi digunakan sebagai obat anti kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, kandungan total fenol dan aktivitas sitotoksik ekstrak metanol daun sengkubak. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan: (i) penyediaan ekstrak metanol kental melalui maserasi sampel menggunakan pelarut metanol yang diikuti dengan uji fitokimia dan uji kandungan total fenol menggunakan reagen Folin-Ciocalteu memiliki nilai 18,1 µg TAE/mg, (ii) uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil) memiliki nilai IC50 sebesar 608,81 ppm, (iii) uji aktivitas sitotoksik ekstrak metanol kental terhadap larva Artemia Salina L dengan metode Brine Shrimp Lethality test (BSLT) memiliki nilai LC50 sebesar 248,75 ppm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol daun sengkubak bersifat toksik terhadap larva Artemia Salina L dengan nilai LC50 < 1000 ppm sehingga berpotensi sebagai antikanker Kata kunci: Antioksidan, Sitotoksik, Daun Sengkubak (P. cauliflora Diels)
EKSTRAKSI DAN UJI STABILITAS ZAT WARNA ALAMI DARI BUAH LAKUM (Cayratia trifolia (L.) Domin)
Lakum (Cayratia trifolia (L.) Domin) memiliki buah yang bewarna ungu kehitam-hitaman yang diduga berasal dari antosianin. Penelitian ini dilakukan untuk mengekstraksi, menentukan golongan pigmen dan menguji stabilitas zat warna alami dari buah lakum. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut air yang divariasikan suhu dan etanol yang divariasikan konsentrasi. Ekstrak optimum diuji flavonoid dan uji antosianin serta diuji stabilitasnya terhadap pengaruh suhu, cahaya, pH dan oksidator dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil ekstraksi optimum pelarut air pada 70oC dan pelarut etanol 60%. Golongan pigmen buah lakum adalah antosianin. Uji stabilitas menunjukkan penyimpanan pada suhu 30 oC dan 15 oC selama 2 hari menurunkan absorbansi ekstrak air sebesar 19,21 % dan 18,29 % dan ekstrak etanol sebesar 13,69 % dan 5,48 %. Penyinaran matahari selama 6 jam menurunkan absorbansi ekstrak air dan etanol sebesar 10,96 % dan 10,35 %. Penyinaran lampu 25 watt selama 48 jam menurunkan absorbansi ekstrak air dan etanol sebesar 5,18 % dan 5,64 %. Penambahan pH 1-2 meningkatkan absorbansi dan menurun pada pH 3-6. Penambahan oksidator H2O2 0,1 % selama 6 jam menurunkan absorbansi ekstrak air dan etanol sebesar 21,69 % dan 57,65 %. Antosianin buah lakum stabil pada suhu rendah, kondisi asam dan tanpa cahaya. Kata kunci : Lakum (Cayratia trifolia (L.) Domin), antosianin, ekstraksi
EFEKTIVITAS CAMPURAN ENZIM SELULASE DARI Aspergillus niger DAN Trichoderma reesei DALAM MENGHIDROLISIS SUBSTRAT SABUT KELAPA
Sabut kelapa merupakan limbah perkebunan yang mengandung selulosa dan belum dimanfaatkan secara optimal. Selulosa yang terdapat pada sabut kelapa dapat dimanfaatkan untuk memproduksi glukosa dengan proses hidrolisis. Hidrolisis dilakukan menggunakan ekstrak enzim kasar dari Aspergillus niger dan Trichoderma reesei dengan perbandingan campuran 0:1, 1:2, 1:1, 2:1, 1:0 berdasarkan jumlah U/mL aktivitas enzim pada variasi pH 4, 5, dan 6 dengan waktu hidrolisis selama 2, 4, 6, dan 8 jam. Aktivitas enzim selulase dari A.niger dan T.reesei diukur dengan metode fenol-asam sulfat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hidrolisis selulosa dari sabut kelapa menggunakan campuran enzim selulase dari A.niger dan T.reesei 1:2 pada pH 5 dengan waktu hidrolisis 6 jam menghasilkan konsentrasi glukosa paling tinggi, yaitu sebesar 22,3 mg/L
OPTIMASI KONSENTRASI KALIUM HIDROKSIDA PADA EKSTRAKSI KARAGINAN DARI ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) ASAL PULAU LEMUKUTAN
Karaginan merupakan polisakarida pembentuk gel yang dapat diperoleh melalui proses ekstraksi dari beberapa jenis rumput laut merah (Rhodophyceae), salah satunya jenis Kappaphycus alvarezii. Karaginan diekstraksi selama 2 jam pada suhu 85?C dengan menggunakan variasi konsentrasi kalium hidroksida 0.2 M; 0.4 M; 0.6 M; 0.8 M; dan 1.0 M. Hasil isolasi karaginan menunjukkan pada konsentrasi kalium hidroksida 0.4 M menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 47.75 %, dengan nilai kadar sulfat sebesar 14,75%, kadar logam Pb sebesar 15.975 ?g/g, kadar Cu sebesar 9.65 ?g/g, dan kadar Zn sebesar 502,55 ?g/g. Identifikasi uji kelarutan menunjukkan bahwa kelarutan dari karaginan hasil isolasi pada spektrum 1257,59 cm-1 menunjukkan adanya gugus fungsi ester sulfat, spektrum 925,83 cm-1 adanya gugus fungsi 3,6 andhirogalaktosa, spektrum 848,68 cm-1 menunjukkan adanya gugus fungsi galaktosa 4-sulfat. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan spektrum karaginan hasil isolasi telah memenuhi spesifikasi dengan karaginan komersial karena gugus-gugus fungsi yang terdapat pada spektrum karaginan yang dihasilkan identik dengan spektrum standar karaginan. Kata Kunci : Ekstraksi, Karaginan, Kappaphycus alvarezii, dan Kalium Hidroksid
ALIBRASI DAN ADISI STANDAR PADA PENGUKURAN MERKURI DALAM AIR DENGAN KANDUNGAN SENYAWA ORGANIK TINGGI MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM
Air Sungai Kapuas mengandung senyawa organik yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan sekitar seperti lahan gambut yang ada di kota Pontianak. Selain itu diduga air Sungai Kapuas dicemari senyawa merkuri akibat kegiatan PETI. Keberadaan senyawa organik (matrik) yang terdapat dalam air Sungai Kapuas dapat mengikat kuat senyawa merkuri sehingga dapat mempengaruhi pengukuran kadar merkuri dalam air dengan metoda kalibrasi standar. Metoda adisi standar merupakan salah satu solusi yang diusulkan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan metoda adisi standar dengan metoda kalibrasi standar dalam pengukuran merkuri dalam air yang memiliki kandungan senyawa organik tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metoda tersebut dalam penentuan kadar merkuri, dimana metoda adisi standar dapat dikatakan lebih baik daripada metoda kalibrasi standar. Menurut persamaan Horwitz presisi dari kedua metoda tersebut dapat dikatakan baik karena memberikan %KV sebesar 13,81% pada metoda adisi standar dan 6,53% pada kalibrasi standar. Nilai LOD pada kalibrasi standar sebesar 0,01098 ppb dan nilai LOQ sebesar 0,03268 ppb. Kata kunci : merkuri, metoda kalibrasi standar, metoda adisi standar
ANALISA PROKSIMAT, UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BUAH TAMPOI (Baccaurea macrocarpa)
Buah-buahan adalah penghasil antioksidan yang sangat baik dalam proses penangkalan radikal bebas penyebab oksidasi dalam tubuh. Buah tampoi (Baccaurea macrocarpa) merupakan buah-buahan yang tumbuh di Kalimantan Barat. Pengujian aktivitas antioksidan dari buah tampoi (B. macrocarpa) dengan metode DPPH. Penelitian ini melakukan pengujian analisa proksimat, uji fitokimia dan aktifitas antioksidan terhadap buah tampoi (B. macrocarpa). Hasil penelitian analisis makronutrien menunjukkan kandungan air 61,9%, abu 0,9%, lemak 1,1%, serat 2,2%, protein 1,5% dan karbohidrat 34,6%. Analisis fitokimia hasil penelitian buah tampoi mengandung senyawa alkaloid, saponin dan flavonoid. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai EC50 33,11 ?g/ml
KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID HASIL ISOLAT DARI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN MATOA (Pometia pinnata J. R. Forst & G. Forst)
Isolasi senyawa flavonoid yang terkandung di dalam daun matoa (Pometia pinnata J.R.Frost & G.Forst) telah dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Hasil ekstrak kental metanol sebanyak 319,3 gram dipisahkan sebanyak 100 gram kemudian dilakukan pemurnian dengan fraksinasi dan kromatografi menggunakan pelarut dari yang non polar hingga ke pelarut yang relatif polar. Pada tahap fraksinasi pelarut yang digunakan berupa n-heksana, metilena klorida, dan etil asetat. Berdasarkan hasil fraksinasi dari daun matoa diperoleh fraksi n-heksana sebanyak 23,6360 g dan fraksi metilen klorida sebanyak 22,9560 g dengan hasil uji fitokimia menunjukkan negatif terhadap senyawa golongan flavonoid. Sedangkan pada fraksi etil asetat dari daun matoa sebanyak 25,0009 g positif mengandung flavonoid. Fraksi etil asetat selanjutnya dimurnikan dengan kromatografi kolom vakum cair dan kromatografi kolom tekan menggunakan fasa diam silika gel dengan perbandingan fasa gerak n-heksana:etil asetat (9:1) dan (8:2) yang dipilih sesuai dengan pergerakan dari kromatografi lapis tipis. Senyawa yang diperoleh kemudian dimurnikan dengan menggunakan KLT preparatif dua dimensi perbandingan eluen n-heksana : etil asetat (8:2) menghasilkan kristal berwarna kuning sebanyak 14,10 mg dengan waktu retensi I (Rf I) = 0,20 dan waktu retensi II (Rf II) = 0,24. Selanjutnya ekstrak yang relatif murni dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis dan spektrofotometer Inframerah (IR). Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi maka dapat diidentifikasi bahwa senyawa hasil isolat yang diperoleh dari daun matoa merupakan senyawa golongan flavonoid. Kata kunci : Flavonoid, Etil Asetat, Matoa (Pometia pinnata J.R.Forst & G.Forst
IDENTIFIKASI HASIL REAKSI ADISI NUKLEOFILIK SIANIDA PADA GUGUS KARBONIL SITRONELAL MENGGUNAKAN PEREAKSI KALIUM SIANIDA
Telah dilakukan identifikasi hasil reaksi adisi nukleofilik sianida terhadap gugus karbonil suatu aldehid pada sitronelal. Reaksi ini dilakukan dengan mereaksikan sitronelal (C10H18O), kalium sianida (KCN) dan natrium bisulfit (NaHSO3) dalam pelarut air pada temperatur 0oC. Spektrum infrared (IR) produk hasil sintesis menunjukkan adanya serapan untuk uluran C?N pada 2368,59-2337,72 cm-1, uluran OH pada 3464,15 cm-1, uluran CH2 dan CH3 yang masing-masing berada pada bilangan gelombang 2985,81 cm-1 dan 2939,52 cm-1, serta uluran C=C pada 1049,28 cm-1. Spektrum NMR-1H menunjukkan adanya sinyal pada pergeseran kimia (?) = 0,87 ppm, 1,32 ppm, dan 1,67 ppm (3H, -CH3), ? = 1,27 ppm, 1,69 ppm, 1,96 ppm, 4,71 ppm, dan 5,06 ppm (1H,-CH), dan pada ? = 2,13 ppm (1H, gugus hidroksi (OH)). Spektrum NMR-13C menunjukkan adanya sinyal pada pergeseran kimia (?) = 120,5 ppm (R-C?N), ? = 63,1 ppm (R-OH), ? = 25,2 ppm, 29,6 ppm, dan 36,7 ppm (R-CH), ? = 124,2 ppm dan 131,5 ppm (HC=CH), dan ? = 17,5 ppm, 18,1 ppm, dan 29,6 ppm (R-CH3). Berdasarkan identifikasi senyawa hasil reaksi adisi nukleofilik sianida pada gugus karbonil dapat disimpulkan bahwa senyawa tersebut adalah sitronelil sianohidrin
KARBON AKTIF DARI LIMBAH CANGKANG SAWIT SEBAGAI ADSORBEN GAS DALAM BIOGAS HASIL FERMENTASI ANAEROBIK SAMPAH ORGANIK
Karbon aktif yang berasal dari limbah cangkang sawit dapat digunakan untuk penyerapan gas CO2 dan pemurnian biogas. Karbon aktif yang berasal dari cangkang sawit berukuran mikropori agar dapat menyerap gas dengan baik. Hasil karakterisasi menggunakan Gas Sorption Analyzer (GSA) menunjukkan nilai volume total pori, luas permukaan dan rerata jejari pori. Hasil analisis karbon aktivasi kimia memiliki volume pori 0,1304 cc/g, luas permukaaan 208,091 m2/g dan rerata jejari pori 12,531 dan hasil analisis karbon aktif komersial memiliki luas permukaan 666,534 m2/g dengan volume total pori 0,3571 cc/g dan rerata jari pori 10,713 ?. Pada pengukuran gas, karbon aktif cangkang sawit aktivasi kimia memiliki daya serap CO2 sebesar 6,1% dan kadar CH4 yang terukur sebesar 65,5% sedangkan pada karbon aktif komersial daya serap CO2 sebesar 12,97% dan kadar CH4 yang terukur sebesar 70,5%. Perbedaan pengukuran gas CH4 dengan menggunakan adsorben karbon aktif komersial dan karbon aktif cangkang sawit tidak terlalu jauh berbeda. Berdasarkan hasil analisis dengan GSA dan pengukuran gas, maka dapat disimpulkan karbon aktif yang berasal dari cangkang sawit memiliki potensi sebagai adsorben gas dilihat dari meningkatnya kadar CH4 sebelum menggunakan adsorben dan setelah menggunakan adsorben
SINTESIS POLIMER KONDUKTIF KOMPOSIT POLIPIROL-SELULOSA DALAM LARUTAN FeCl3.6H2O
Sintesis polimer konduktif polipirol-selulosa dilakukan melalui polimerisasi pirol dalam matrik selulosa dengan variasi massa pirol 0,5 ; 1 ; 1,5 ; dan 2 gram dalam larutan FeCl3.6H2O. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara isolasi selulosa dari tanah gambut, mensintesis, mengkarakterisasi komposit polipirol-selulosa dan mengetahui nilai konduktifitas tertinggi dari proses swelling dan tanpa swelling. Hasil analisis FT-IR menunjukan pita serapan selulosa pada daerah panjang gelombang 3425,58 cm-1(-OH), 2924,09 cm-1 (C-H), 1033,85 cm-1 (C-O-C), 1373,32 cm-1 (C-OH). Sedangkan pita serapan polipirol berada pada daerah panjang gelombang 3425,58 cm-1 (N-H), 1543,05 cm-1 (C=C), 1272,72 cm-1 (C-C), 1442,75 cm-1 (C-N). Analisis XRD menunjukan adanya pergeseran nilai 2? pada komposit polipirol-selulosa dengan proses swelling dan tanpa proses swelling yaitu dari 22,64-22,71o dan 26,62-26,64o. Komposit polipirol-selulosa bersifat semikristalin dan semikonduktor. Hasil analisis EIS menunjukan nilai konduktifitas yang paling tinggi sebesar 7,14 Scm-1 yaitu komposit dengan proses swelling pada variasi 0,5 gram pirol. Kata kunci: swelling, matrik selulosa, komposit polipirol-selulos