Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
POTENSI FRAKSI ETIL ASETAT DARI BUAH MANGGA (Mangifera spp.) SEBAGAI PENGOMPLEKS LOGAM Pb (II) DAN ISOLASI SENYAWA FLAVONOIDNYA
Flavonoid banyak ditemukan pada tanaman diantaranya buah-buahan dan sayuran. Mangga merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid memiliki sifat dapat membentuk senyawa kompleks dengan logam, salah satunya yaitu logam Pb(II). Potensi flavonoid sebagai pengompleks logam Pb(II) belum banyak diteliti, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik flavonoid dari buah mangga dan potensi fraksi etil asetatnya sebagai pengompleks logam Pb(II). Identifikasi senyawa flavonoid dari fraksi etil asetat dilakukan dengan analisis spektrofotometer IR dan 1H-NMR serta analisis potensi pengompleks dengan spektrofotometer UV-Vis. Isolat diperoleh sebanyak 4,85 mg berwarna kuning kecoklatan dengan titik leleh 145-147 oC. Identifikasi isolat dengan analisis IR (KBr) menunjukkan serapan gugus –OH, C=O, C-O-C dan C=C aromatik. Analisis 1H-NMR (DMSO, 400 MHz) menunjukkan H 6,78 ppm (1H, d, J= 8 Hz, H-6), H 7,04 ppm (1H, d, J= 8,4 Hz, H-8), H 7,37 ppm (1H, dd, J= 3; 9 Hz, H-6’), H 7,44 ppm (1H, d, J= 2,8 Hz, H-2’), H 7,55 ppm (1H, d, J= 8,8 Hz, H-5’), dan H 7,71 ppm (1H, t, J= 8 Hz, H-7). Berdasarkan hasil identifikasi tersebut diprediksi senyawa yang diperoleh adalah 5,3’,4’-trihidroksi flavonol. Analisis potensi pengompleks fraksi etil asetat menunjukkan terdapat pergeseran batokromik, sehingga dapat diperkirakan bahwa senyawa flavonoid berperan dalam mengompleks logam Pb(II). Kata kunci: flavonoid, Mangifera spp, pengompleks, timba
SINTESIS KALSIUM OKSIDA DARI CANGKANG KERANG ALE-ALE (Meretrix meretrix) PADA SUHU KALSINASI 700°C
Ale-ale adalah salah satu hewan air jenis mollusca yang berasal dari Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Ale-ale memiliki kandungan kalsium pada bagian cangkangnya, sehingga penelitian ini dilakukan untuk sintesis kalsium oksida dari cangkang kerang ale-ale (Meretrix meretrix) pada temperatur kalsinasi 700°C. Karakteristik kandungan yang terdapat pada cangkang kerang ale-ale dapat diketahui dengan menggunakan analisis X-Ray Fluorescence (XRF) dan X-Ray Difraction (XRD). Hasil yang ditunjukkan sebelum kalsinasi pada analisis XRF bahwa cangkang kerang memiliki kandungan kalsium terbesar dibandingkan kandungan lainnya yaitu 89,887 %. Hasil dari analisis XRD pada cangkang kerang yang telah dikalsinasi terbentuk mineral CaCO3 dan Ca(OH)2. Intensitas paling tinggi dimiliki oleh CaCO3 pada 2θ : 29,3699; 29,4602; 47,4712. Munculnya mineral Ca(OH)2 dikarenakan CaO mudah terhidrasi oleh udara dan proses pemanasan menyebabkan CaO terdispersi di dalam air membentuk slurry. Munculnya mineral CaCO3 setelah kalsinasi menunjukkan bahwa konversi CaCO3 menjadi CaO belum sempurna. Kata Kunci : Ale-ale, kalsinasi, kalsiu
ISOLASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI ACTINOMYCETES BERASOSIASI DENGAN KORAL
Penyakit infeksi adalah masalah penyakit diseluruh dunia yang disebabkan oleh mikroba patogen. penyakit infeksi umumnya dapat diobati dengan menggunakan antibiotik. Actinomyecetes yang berasosiasi dengan koral memiliki potensi untuk menghasilkan senyawa antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan Actinomycetes di koral yang memiliki aktivitas antibakteri dan mengidentifikasi genusnya. Isolasi dan produksi Actinomycetes menggunakan media ISP1, dan ekstraksi Actinomycetes menggunakan pelarut etil asetat. Aktivitas antibakteri dalam penelitian ini menggunakan metode difusi agar dan isolat diidentifikasi mengikuti pedoman buku Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Isolat Actinomycetes yang diisolasi dari koral memiliki genus Streptomyces sp. BD2. Ekstrak Streptomyces sp. BD2 menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhi, Pseudomonas aeruginosa, dan Vibrio cholerae. Kata kunci: koral, Actinomycetes, antibakter
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN FITOKIMIA DARI EKSTRAK KULIT BUAH PINANG SIRIH MUDA DAN TUA (Areca catechu L)
Tumbuhan pinang (Arecca cateccu L) umumnya sering digunakan untuk obat. Tumbuhan ini mulai dari daun, batang, serabut hingga bijinya dapat dimanfaatkan. Pinang memiliki kemampuan sebagai antioksidan, antimutagenik, astringent, antiseptik dan antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan aktivitas antioksidan dan kandungan fitokimia pada kulit pinang sirih muda dan tua (Areca cathecu L). Metode yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antioksidannya yaitu menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Hasil pengukuran aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 ekstrak kulit pinang muda sebesar 56,6 ppm, sedangkan ekstrak kulit pinang sirih tua sebesar 67,50 ppm. Ekstrak kulit pinang sirih muda dan tua tergolong ke dalam sifat antioksidan kuat. Kata Kunci : Antioksidan, Arecca Cateccu L, DPPH (1,1-diphenyl-2-picryhydrazyl
PENURUNAN KADAR BIKARBONAT DALAM AIR MENGGUNAKAN KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT BEADS
Ion bikarbonat (HCO3-) merupakan salah satu anion penyebab kesadahan dalam air. Upaya untuk menurunkan kadar bikarbonat dapat dilakukan dengan adsorpsi. Adsorben yang digunakan dalam penelitian ini ialah komposit kitosan-zeolit beads. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik gugus fungsi dan karakteristik kimia (stabilitas dalam asam) dari komposit kitosan-zeolit bentuk beads serta menjelaskan kemampuan komposit kitosan-zeolit beads dalam menurunkan kadar bikarbonat dalam air. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dengan pembuatan komposit kitosan-zeolit beads. Komposit dibuat dengan menambahkan glutaraldehid sebagai crosslinking agent. Komposit yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi gugus fungsinya dengan FT-IR. Pengujian stabilitas komposit terhadap variasi pH juga dilakukan. Komposit dengan variasi massa 0,01gram-0,16 gram diaplikasikan untuk menurunkan kadar bikarbonat dalam air. Analisis FT-IR menunjukkan puncak serapan 1640,85 cm-1 menunjukkan karakteristik vibrasi regang gugus C=N dari imina hasil pembentukan ikatan antara kitosan-glutaraldehid. Uji stabilitas menunjukkan tingkat kestabilan komposit kitosan-zeolit beads lebih stabil daripada komposit-zeolit beads tanpa glutaraldehid. Adsorpsi ion bikarbonat yang tertinggi diperoleh dengan adsorpsi menggunakan komposit kitosan zeolit beads terikat silang glutaraldehid dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,093g/g, lebih tinggi dibandingkan kapasitas pada kitosan beads sebesar 0,039mg/g, sehingga penurunan kadar ion bikarbonat oleh komposit kitosan zeolit beads terikat silang glutaraldehid lebih baik daripada kitosan beads terikat silang glutaraldehid. Kata kunci: adsorben, bikarbonat, komposit, kitosan, zeoli
KARAKTERISASI SENYAWA STEROID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA BUNGA NUSA INDAH (Mussaenda erythtopylla) DAN AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA MCF-7
Bunga Nusa Indah (Mussaenda erythrophylla) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di daerah tropis dan digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai diuretik, antipologis, antipiretik dan antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakter senyawa steroid dari fraksi diklorometana bunga nusa indah dan aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker payudara MCF-7. Penelitian ini meliputi beberapa metode yaitu ekstraksi dan fraksinasi hingga dilakukan pemisahan dan pemurnian senyawa steroid. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa bunga nusa indah (Mussaenda erythrophylla) mengandung senyawa terpenoid, steroid, flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin. Isolat FD1 yang diperoleh dilakukan analisis dengan menggunakan spektroskopi UV-Vis dan IR, serta di lakukan uji sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF-7 dengan menggunakan metode MTT essay. Hasil analisis UV-Vis menunjukan bahwa isolat FD1 memiliki nilai absorbansi maksimum pada panjang gelombang 276 nm, dan 224 nm. Spektrum IR isolat FD1 menunjukan serapan pada bilangan gelombang 3382; 2923-2850; dan 1461 cm- . Isolat FD1 memiliki aktivitas sitotoksik yang tergolong potensial karena memiliki nilai IC50 sebesar 74,63 g/mL. Kata kunci: Mussaenda erythrophylla, steroid, sel kanker payudara MCF-
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI JAMUR (FUNGI) TANAH GAMBUT PONTIANAK
Kasus resistansi bakteri patogen terhadap beberapa antibiotika yang ada di pasaran menunjukkan bahwa eksplorasi sumber senyawa antibiotika baru perlu dilakukan sebagai upaya untuk menghasilkan senyawa antibakteri baru. Salah satu organisme yang dapat dijadikan sebagai penghasil antibakteri adalah jamur. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh isolat jamur dari tanah gambut yang memiliki aktivitas antibakteri. Total sebanyak 8 isolat murni diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etil asetat untuk diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri uji Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil uji Aktivitas antibakteri 8 isolat jamur dengan metode difusi sumur menunjukkan bahwa hanya 1 isolat jamur HAI yang aktif dengan zona hambat 9,27 mm terhadap S. typhi. Isolat jamur HA1 diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis, diduga merupakan jamur Trichoderma sp. Kata Kunci: antibakteri, tanah gambut, jamur
EKSTRAKSI KALSIUM KARBONAT (CaCO3) DARI BAHAN DASAR CANGKANG KERANG ALE-ALE (Meretrix meretrix) PADA TEMPERATUR KALSINASI 500°C
Cangkang kerang mengandung kalsium yang berpotensi sebagai biokeramik yang dapat diperoleh salah satunya dari cangkang kerang ale-ale (Meretrix-meretrix). Ale-ale merupakan salah satu jenis kerang yang masuk dalam kelas bivalvia khas dari kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat yang biasanya dimanfaatkan masyarakat menjadi olahan makanan dan kerajinan, sedangkan cangkangnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengekstraksi kalsium karbonat (CaCO3) dari cangkang kerang ale-ale dengan proses kalsinasi selama 4 jam pada temperatur kalsinasi 500°C. Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa cangkang kerang ale-ale mengandung kalsium oksida (CaO) sebesar 87%. Hasil difraktogram XRD pada temperatur kalsinasi 500°C menunjukkan fase CaCO3 yang muncul pada 2θ: 29,38°, 29,47°, 47,48°, 48,48° dan 39,38°. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kalsium karbonat murni berhasil diekstraksi dari cangkang kerang ale-ale dengan temperatur kalsinasi 500°C. Kata Kunci : cangkang kerang ale-ale (Meretrix meretrix), ekstraksi, kalsium karbona
SINTESIS CaO DARI CANGKANG KERANG ALE-ALE (Meretrix meretrix) PADA SUHU KALSINASI 900oC
Ale-ale (Meretrix-meretrix) merupakan jenis kerang dari spesies vertebrata yang banyak terdapat di Kabupaten Ketapang. Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis kalsium oksida dari cangkang kerang ale-ale dengan proses kalsinasi pada suhu 900oC. Karakteristik kandungan yang terdapat pada cangkang kerang ale-ale dapat diketahui dengan menggunakan analisis X-Ray Fluorescence (XRF) dan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa cangkang kerang ale-ale mengandung kalsium oksida sebesar 87,138%. Hasil difraktogram XRD pada kalsinasi suhu 900°C menunjukkan adanya mineral CaO yang muncul pada 2θ: 32,22°, 37,36° dan 53,85° dan mineral Ca(OH)2 yang muncul pada 2θ: 17,95°, 28,67° dan 34,20°. Munculnya Ca(OH)2 dikarenakan CaO mudah terhidrasi oleh udara dan proses pemanasan menyebabkan CaO terdispersi di dalam air.Kata Kunci : ale-ale (Meretrix meretrix), kalsium oksida, dan kalsinas
BIOAKTIVITAS ANTIRAYAP EKSTRAK KAYU GAHARU BUAYA (Aetoxylon sympetalum) TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes sp)
Gaharu buaya (Aetoxylon sympetalum) merupakan salah satu tumbuhan endemik kalimantan yang belum dimanfaatkan dengan optimal. Oleh sebab itu, penelitian yang melaporkan tentang kayu gaharu buaya mengenai komposisi kandungan kimia dan bioaktivitasnya terhadap rayap tanah (Coptotermes sp.) belum banyak ditemukan, sehingga dilakukan penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian ini dibagi dalam tiga tahap yaitu ekstraksi dan fraksinasi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas anti rayap dengan pengujian dilakukan selama 7 hari dengan variasi konsentrasi 0% (kontrol negatif), 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,8%, 1% (b/v), serta fipronil 0,25% (v/v) (kontrol positif). Ekstrak kasar metanol diperoleh sebesar 342,5283 g (34,3%), terdiri dari ekstrak fraksi n-heksana sebesar 0,6%, ekstrak fraksi kloroform sebesar 54,5% dan ekstrak fraksi metanol sebesar 14,5%. Skrining fitokimia pada ekstrak kayu gaharu buaya menunjukan adanya senyawa golongan alkaloid, flavanoid, steroid, triterpenoid, dan fenolik. Hasil uji bioaktivitas anti rayap menunjukkan fraksi metanol merupakan fraksi memiliki aktivitas anti rayap paling tinggi karena memiliki LC50 paling kecil sebesar 0,025%. Hal ini diduga karena kandungan senyawa golongan flavonoid dan terpenoid yang berperan besar sebagai aktivitas anti rayap. Kata Kunci: anti rayap, bioaktivitas, Coptotermes sp, gaharu buaya, skrining fitokimi