Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
PENENTUAN KAPASITAS ADSORPSI KITOSAN TERIMOBILISASI DITIZON TERHADAP Cd(II)
Telah dilakukan penelitian mengenai penentuan kapasitas adsorpsi kitosan terimobilisasi ditizon terhadap Cd(II). Penelitian ini menggunakan adsorben kitosan terimobilisasi ditizon sebagai pengisi kolom adsorpsi. Kitosan bead diimobilisasi dengan ditizon untuk meningkatkan selektivitas adsorben dalam menyerap Cd(II). Adsorben yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer inframerah (IR). Spektrum IR menunjukkan adanya ikatan pada kitosan terimobilisasi ditizon yang terlihat pada bilangan gelombang 1419,61 cm-1 (N-H) dan bilangan gelombang 1080,14 cm-1 (S=C). Parameter adsorpsi yang diteliti meliputi penentuan pH adsorpsi dengan variasi pH 4, 5, 6, dan 7 dan konsentrasi ion logam yaitu 4,796; 8,824; 12,704 dan 16,707 ppm. Adsorpsi dilakukan dengan mengalirkan 20 mL Cd(II) 3 ppm pada kolom adsorpsi yang telah terisi adsorben kitosan terimobilisasi ditizon, eluat hasil kolom adsorpsi dianalisis menggunakan spektrofotomer serapan atom. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa adsorpsi Cd(II) optimum pada pH 6 dengan penurunan konsentrasi sebesar 98,55% sedangkan kapasitas adsorpsi maksimum kitosan terimobilisasi ditizon menurut isoterm Langmuir untuk Cd(II) sebesar 0,315 mg/g. Kata kunci: kapasitas adsorpsi, kitosan terimobilisasi ditizon, Cd(II
AKTIVITAS MINYAK ATSIRI DAUN LADA (Piper nigrum L.) TERHADAP RAYAP Coptotermes sp.
Tanaman lada (P. nigrum L.) merupakan tanaman dari famili Piperaceae yang mengandung metabolit sekunder berupa minyak atsiri. Minyak atsiri lada memiliki manfaat sebagai obat, dan insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen penyusun minyak atsiri daun lada (P. nigrum L.) dan aktivitasnya terhadap rayap Coptotermes sp.. Minyak atsiri daun lada diperoleh menggunakan metode destilasi uap pada suhu 98 selama 4 jam dari daun lada segar sebanyak 11,3 kg. Minyak atsiri yang diperoleh memiliki warna biru kehijauan dengan rendemen 0,073% (w/w). Hasil analisis GC-MS menunjukkan minyak atsiri daun lada mengandung 6 senyawa utama yaitu δ-Elemen 19,39%, Spatulenol 11,77%, γ-Elemen 10,59%, β-Selinen 6,82%, β-Elemen 5,05%, dan Kariofilen 4,27%. Uji aktivitas antirayap minyak atsiri daun lada dilakukan selama 7 hari dengan variasi konsentrasi 0% (kontrol negatif), 0,5%, 0,75%, 1%, 1,25%, dan 1,5% (v/v), serta fipronil 0,25% (v/v) (kontrol positif). Minyak atsiri memiliki aktivitas yang sangat kuat untuk menyebabkan kematian pada rayap pada konsentrasi 1,25% dan 1,5%. Hasil uji LSD menunjukkan 1,25% merupakan konsentrasi optimum yang menyebabkan mortalitas sebesar 96%. Minyak atsiri daun lada memiliki aktivitas antifeedant yang paling tinggi pada konsentrasi 1,5% dengan pengurangan berat kertas uji sebesar 1,4%. Berdasarkan hasil penelitian, minyak atsiri daun lada dapat digunakan sebagai antirayap terhadap Coptotermes sp.. Kata Kunci: Piper nigrum L., minyak atsiri, destilasi uap, Coptotermes sp
PENINGKATAN RENDEMEN MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) DENGAN METODE DELIGNIFIKASI DAN FERMENTASI
Minyak atsiri daun cengkeh (S. aromaticum) dari suku Myrtaceae telah diekstrak dengan metode destilasi uap dengan perlakuan awal delignifikasi, fermentasi, dan gabungan delignifikasi dan fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rendemen minyak atsiri daun cengkeh dengan perlakuan awal delignifikasi, fermentasi, dan gabungan delignifikasi dan fermentasi. Delignifikasi daun cengkeh menggunakan larutan NaOH 0,25% pada temperatur 55 – 60 oC, fermentasi daun cengkeh menggunakan kapang Trichoderma harzianum yang dilakukan selama 8 hari (5 hari secara aerobik dan 3 hari secara anaerobik). Gabungan proses delignifikasi dan fermentasi diawali dengan proses delignifikasi menggunakan larutan NaOH 0,25% pada temperatur 55 – 60 oC dan dilanjutkan dengan proses fermentasi menggunakan kapang T. harzianum selama 8 hari (5 hari secara aerobik dan 3 hari secara anaerobik). Rendemen minyak atsiri hasil destilasi daun cengkeh dari proses delignifikasi, fermentasi, dan gabungan delignifikasi dan fermentasi berturut-turut sebesar 2,3566%; 2,6567%; dan 1,3581%. Berdasarkan hasil tersebut proses fermentasi memberikan hasil terbaik dengan kenaikan rendemen sebesar 57,7%; delignifikasi 39,9%, dan penurunan rendemen dari gabungan delignifikasi dan fermentasi sebesar 19,4%. Identifikasi menggunakan GC-MS menunjukkan kadar eugenol dan (trans)-β-karyofilen minyak atsiri daun cengkeh juga sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Kata Kunci: Cengkeh (Syzygium aromaticum), Delignifikasi, Fermentasi, GC-MS, Myrtaceae, Trichoderma, Rendeme
ADSORPSI FENOL OLEH KOMBINASI ADSORBEN ZEOLIT ALAM DAN KARBON AKTIF DENGAN METODE KOLOM
Pencemaran air oleh fenol dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan lingkungan dan makhluk hidup. Adsorpsi fenol telah dilakukan untuk menurunkan kadar fenol menggunakan kombinasi dua adsorben dengan metode kolom. Adsorben yang digunakan adalah zeolit alam pada kolom I dan karbon aktif dari tandan kelapa sawit (TKS) pada kolom II. Adsorpsi dilakukan dengan variasi ukuran partikel untuk zeolit alam 16 dan 20 mesh serta karbon aktif 80 dan 100 mesh dengan variasi waktu masing-masing 2, 4 dan 6 jam. Hasil adsorpsi dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 510 nm. Total penurunan kadar fenol yang terbaik diperoleh pada kombinasi kolom zeolit alam 20 mesh-karbon aktif 100 mesh pada waktu kontak 6 jam yaitu sebesar 97,55%. Kata kunci: tandan kelapa sawit, fenol, zeolit alam, karbon aktif, adsorpsi, kolo
AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN SOMA (Ploiarium alternifolium Melch) TERHADAP JAMUR Malassezia furfur dan BAKTERI Staphylococcus aureu
Soma (Ploiarium alternifolium Melch) merupakan tanaman yang secara empiris dimanfaatkan sebagai shampo. Penelitian ini bertujuan menentukan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antimikroba ekstrak serta fraksi daun soma terhadap Malassezia furfur dan Staphylococcus aureus. Serbuk daun soma diekstraksi dengan metode maserasi dan dilanjutkan dengan partisi, kemudian dilakukan skrining fitokimia serta uji aktivitas terhadap M. furfur dan S. aureus menggunakan metode difusi sumur. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak metanol mengandung alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, steroid dan triterpenoid. Fraksi metanol mengandung alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin dan triterpenoid. Fraksi etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, dan steroid. Serta pada fraksi n-heksan mengandung polifenol, flavonoid, dan steroid. Hasil penelitian menunjukkan fraksi etil asetat memiliki aktivitas dalam menghambat M. furfur pada konsentrasi 1 g/mL sebesar 3,975 mm. Sedangkan pada S. aureus daun soma memiliki aktivitas penghambatan pada konsentrasi 0,1; 0,05; 0,025; 0,0125 g/mL berturut-turut yaitu ekstrak metanol sebesar 10,038; 7,063; 5,463 dan 2,738 mm. Fraksi metanol sebesar 11.288; 8,350; 5,388 dan 4,300 mm dan pada konsentrasi 0.1 dan 0,05 g/ml fraksi etil asetat sebesar 6,775 dan 4.263 mm. Serta fraksi n-heksan sebesar 5,550 dan 4,138 mm. Hal ini menunjukkan bahwa daun soma memiliki aktivitas yang lebih baik dalam menghambat S. aureus daripada M. furfur. Kata kunci: Ploiarium alternifolium M., Malassezia furfur, Staphylococcus aureus, fitokimia, aktivitas antimikrob
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES 9ISP1 DARI SPONS ASAL PERAIRAN PULAU RANDAYAN
Actinomycetes merupakan mikroorganisme penghasil metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologi sebagai antimikroba. Actinomycetes dapat ditemukan di tanah dan di dasar laut. Namun, belum banyak penelitian mengenai kemampuan Actinomycetes yang berasal dari laut sebagai agen antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan Actinomycetes 9ISP1 yang bersimbiosis dengan spons asal perairan Pulau Randayan sebagai aktimikroba dengan menggunakan metode difusi agar. Isolat bakteri Actinomycetes yang bersimbiosis dengan spons diuji aktivitas antimikroba awalnya dengan media ISP1. Hasil uji menunjukkan bahwa isolat tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus cereus dan Aeromonas hydrophilla dengan zona hambat sebesar 14,4 dan 12,5 mm. Selanjutnya, isolat Actinomycetes 9ISP1 diproduksi dalam media cair ISP1 kemudian diuji aktivitas antimikrobanya dengan metode difusi agar (sumur). Hasil uji menunjukkan isolat Actinomycetes mampu menghambat bakteri uji Gram positif dan negatif yaitu Bacillus cereus, Pseudomonas aerogenosa, Staphylococcus aureus, Aeromonas hydrophylla, Vibrio cholera, Escherichia coli, Bacillus subtilis dan Salmonella dengan dosis sebesar 10µL/sumur dan kemampuan menghambat paling baik terhadap bakteri Escherichia coli dengan diameter zona hambat sebesar 29,1 mm sehingga isolat bakteri Actinomycetes yang bersimbiosis dengan spons berpotensi sebagai antibakteri. Kata kunci : Actinomycetes, spons, antibakteri, simbiosis bakteri dengan spon
ANALISIS SIFAT FISIK DAN KIMIA GEL EKSTRAK ETANOL DAUN TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott)
Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif obat luka serta telah diketahui memiliki kandungan senyawa aktif yang berperan sebagai antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan topikal gel bagi obat luka dengan basis Na-CMC dan menentukaan sifat fisik dan kimia gel tersebut. Daun talas diekstrak dengan menggunakan pelarut etanol. Terhadap ekstrak etanol daun talas dilakukan skrining fitokimia terlebih dahulu kemudian dibuat ke dalam bentuk sediaan gel, selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap sediaan gel tersebut. Berasarkan hasil skrining fitokimia, ekstrak etanol daun talas memiliki kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan saponin. Sediaan gel yang dibuat memiliki sifat fisik yang homogen, memiliki kekentalan yang cukup tinggi, bertekstur lembut dan memiliki aroma khas ekstrak. Gel ekstrak dengan kandungan ekstrak etanol daun talas 5%, 10% dan 15% memiliki daya sebar berturut-turut 2.18 cm; 2.23 cm; 2.40 cm, dan memiliki daya lekat berturut-turut 18.3 menit; 23.15 menit; 44.33 menit. Hasil pengujian terhadap sifat kimia gel berupa nilai pH menunjukkan ketiga variasi gel ekatraak etanol daun talas memiliki nilai pH pada kisaran 5. Gel dengan kandungan ekstrak 15% memiliki kondisi fisik dan kimia yang lebih baik dibandingkan gel dengan kandungan ekstrak 5% dan 10%. Kata kunci : Colocasi esculenta (L.) Schoot, gel, Na-CM
PENGARUH KEASAMAN TERHADAP STABILITAS PIGMEN CENGKODOK (Melastoma malabathricum), KAYU SECANG (Caesalpinia sappan Linn.) SERTA CAMPURAN KEDUANYA
Secang (Caesalpinia sappan L.) dan buah cengkodok (Melastoma malabathricum L.) masing-masing berpotensi sebagai pewarna makanan alami. Kedua jenis bahan tersebut memiliki kandungan yang termasuk golongan senyawa flavonoid sehingga memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH (3,4,5) terhadap kestabilan secang, cengkodok, dan campuran. Hasil penelitan diperoleh rendemen kayu secang sebesar 8,071% dan buah cengkodok 62,455%. Kestabilan pigmen cengkodok dan secang diukur menggunakan spektrofotmeter UV-VIS. Persen perubahan absorbansi secang pada pH 3,4 dan 5 berturut-turut adalah 97,3%, 96,91%, 97,69%; absorbansi cengkodok pada pH 3,4 dan 5 berturut-turut 96,54%, 98,91%, 97,63%; Absorbansi S1:C1 pada pH 3,4 dan 5 berturut-turut adalah 98,47%, 98,15%, 98,03%; Absorbansi S1:C2 pada pH 3,4 dan 5 berturut-turut adalah 97,88%; 97,97%; 95,16%; Absorbansi S2:C1 pada pH 3,4 dan 5 berturut-turut adalah 97,96%; 98,53%; 98,57%. Secang stabil pada pH 3,4 dan 5 sedangkan cengkodok stabil pada pH 3, campuran S1:C2 stabil di pH 5, campuran S2:C1 stabil di pH 3. Kata Kunci: Caesalpinia sappan, Melastoma malabathricum, Stabilitas p
AKTIVITAS ANTIBAKTERI ASAP CAIR TANDAN KOSONG SAWIT GRADE 2 YANG SEBELUMNYA DIADSORPSI ZEOLIT TERAKTIVASI
Asap cair tandan kosong sawit (TKS) mengandung senyawa asam, fenol dan karbonil yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Sifat antibakteri asap cair tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti pengawet yang berbahaya bagi pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan komponen asap cair TKS yang telah diproses hingga menjadi asap cair TKS grade 2 dan untuk menentukan aktivitas antibabakteri asap cair TKS grade 2 terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dilihat dari nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Asap cair didapat dari proses pirolisis terhadap TKS. Asap cair yang dihasilkan selanjutnya masuk tahap destilasi untuk menjadikan asap cair grade 3. Asap cair grade 3 difiltrasi dengan menggunakan zeolit teraktivasi H2SO4 kemudian destilasi kembali, sehingga diperoleh asap cair grade 2. Asap cair grade 3 dan grade 2 dianalisis dengan GC-MS. Asap cair grade 2 selanjutnya di uji sifat antibakteri dengan bakteri E.coli dan S.aureus dengan melihat nilai KHM dan KBM dengan metode dilusi cair dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil analisis GC-MS asap cair grade 2 terdapat 11 senyawa dari golongan fenol, karbonil dan asam yang terkandung dalam asap cair TKS grade 2 yaitu senyawa fenol, 2-metilfenol, 4-metilfenol, 2-metoksifenol, 3,5-dimetilfenol, 3-etilfenol, 2-metoksi-4-metilfenol, 2,6-dimetoksifenol, 2-metil-2-siklopenten-1-on, 2,3-dimetil-2-siklopenten-1-on dan asam asetat. Hasil uji sifat antibakteri asap cair grade 2 memiliki sifat bakteriostatik dilihat dari nilai KHM untuk kedua bakteri uji sebesar 6%
TOKSISITAS Lygodium microphyllum, Premna serratifolia L. DAN Vitex pinnata ASAL DESA KUALA MANDOR B
Buas-buas (Premna serratifolia L.), leban (Vitex pinnata) dan ribu-ribu (Lygodium microphyllum) merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam sampel tersebut dan potensi ekstrak air daun buas-buas, leban dan ribu-ribu yang memiliki aktivitas toksisitas. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahapan yaitu ekstraksi dengan metode infusa, skrining fitokimia, uji toksisitas.Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak air daun buas-buas dan leban mengandung golongan senyawa alkaloid, polifenol/ tanin, flavonoid dan saponin. Sedangkan daun ribu-ribu mengandung golongan senyawa alkaloid, polifenol/ tannin dan flavonoid.Pada uji toksisitas diperoleh nilai LC50 ekstrak air daun buas-buas, leban dan ribu-ribu berturut-turut adalah 1114,352 ppm; 829,430 ppm; 2082,394 ppm. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ekstrak yang bersifat toksik adalah ekstrak air daun leban. Kata Kunci: Buas-buas (Premna serratifolia L.), leban (Vitex pinnata), ribu-ribu (Lygodium microphyllum), infusa, toksisita