Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
    249 research outputs found

    Aktivitas Antirayap Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lam.) Terhadap Rayap Tanah Coptotermes sp.

    Get PDF
    Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis Lam./ Thymelaeaceae) umumnya digunakan dalam bidang pengobatan dan kosmetik. Namun belum diketahui bioaktivitas gaharu sebagai antirayap, terutama bagian daun yang tidak banyak dimanfaatkan. Pada penelitian ini, ekstrak daun gaharu digunakan sebagai antirayap terhadap rayap tanah Coptotermes sp.. Penelitian ini dibagi atas tiga tahapan, yaitu ekstraksi dan fraksinasi, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antirayap dengan ‘metode umpan paksa’. Uji dilakukan selama 7 hari dengan variasi konsentrasi 0% (kontrol negatif), 2%, 4%, 6%, 8%, 10% (b/v), serta fipronil 0,25% (v/v) (kontrol positif). Ekstrak kasar metanol yang diperoleh dari 730 g daun gaharu kering sebesar 136,8 g (18,74%), terdiri dari 7,23% fraksi n-heksana, 11,10% fraksi etil asetat, dan 81,67% fraksi metanol. Skrining fitokimia yang dilakukan pada ekstrak daun gaharu menggunakan tabung reaksi dan plat kromatografi lapis tipis (KLT) menunjukkan ekstrak daun gaharu mengandung senyawa golongan flavonoid, polifenol/tanin, steroid, triterpenoid, dan saponin. Analisis GC-MS fraksi n-heksana menunjukkan adanya senyawa skualen yang tergolong ke dalam triterpenoid serta beberapa senyawa steroid. Uji aktivitas antirayap dengan ‘metode umpan paksa’ dilakukan selama 7 hari dengan variasi konsentrasi 0% (kontrol negatif), 2%, 4%, 6%, 8%, 10% (b/v), serta fipronil 0,25% (v/v) (kontrol positif). Hasil penelitian menunjukkan fraksi yang paling aktif terhadap uji antirayap adalah fraksi etil asetat (LC50 1,192%) dan fraksi n-heksana (LC50 1,414%). Senyawa golongan steroid yang terdapat dalam kedua fraksi tersebut diduga berperan aktif sebagai antirayap. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak daun gaharu memiliki potensi sebagai antirayap terhadap rayap tanah Coptotermes sp.. Kata kunci: Coptotermes sp., Aquilaria malaccensis Lam., antirayap, skrining fitokimia, steroi

    MODIFIKASI KITOSAN DENGAN KAOLIN DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN TIMBAL (II)

    Get PDF
    Telah dilakukan modifikasi kitosan dengan kaolin sebagai adsorben dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan adsorpsinya. Kitosan termodifikasi kaolin dibuat dengan membentuk larutan gel kitosan-kaolin dengan variasi massa 1:0,25; 1:0,5; 1:1; 1:2 dan 1:4 (kitosan:kaolin) menjadi bentuk hidrogel pada larutan NaOH yang mengandung metanol. Hidrogel kitosan-kaolin hasil sintesis dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infra Red Spectrometer (FT-IR) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil menunjukkan bahwa modifikasi kitosan dengan kaolin melibatkan interaksi elektrostatik antara gugus fungsional pada kedua adsorben. Spektrum FT-IR menunjukkan terbentuknya ikatan antara kitosan dan kaolin muncul pada bilangan gelombang 3425,58 cm-1 (O–H) dan pada bilangan gelombang 1033,85 cm-1 (Si–O dan Al–O). Struktur morfologi permukaan SEM kitosan-kaolin lebih padat dan kompak dibandingkan kitosan. Adsorben diaplikasikan sebagai pengisi fasa diam pada kolom dengan variasi pH 4, 5, 6, dan 7 dalam proses adsorpsi terhadap Pb(II). Penentuan penurunan konsentrasi Pb(II) dianalisis dengan menggunakan spektrofotomer serapan atom. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa adsorpsi Pb(II) pada kitosan-kaolin terjadi pada pH optimum 5 dengan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 76,46% oleh kitosan-kaolin 1:0,25. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modifikasi kitosan-kaolin telah berhasil dilakukan dan dapat digunakan sebagai adsorben Pb(II).   Kata kunci : Hidrogel, Kitosan-kaolin, Timbal (II

    PENGARUH DESTILASI BERULANG DAN PEMURNIAN MENGGUNAKAN ZEOLIT TERAKTIVASI H2SO4 TERHADAP KOMPOSISI ASAP CAIR TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS)

    Get PDF
    Limbah padat TKKS telah diolah dengan teknik pirolisis menjadi produk berupa arang dan asap cair. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan komponen asap cair dari pirolisis sederhana berbahan baku TKKS yang di destilasi secara berulang dan pengaruh pemurnian asap cair TKKS dengan menggunakan zeolit teraktivasi H2SO4 1,2 M. Untuk mengetahui kandungan senyawa asap cair, pengujian dilakukan dengan menggunakan GC-MS. Hasil identifikasi adalah pada asap cair TKKS hasil destilasi pertama terdiri dari senyawa asam 45,32% yang didominasi oleh asam asetat 44,70%, senyawa fenol 30,68%  serta senyawa karbonil 9,61% yang didominasi oleh 2-furankarboksildehid 3,85% dan senyawa 2-propanon 3,60%. Pada asap cair TKKS hasil destilasi berulang terdiri dari senyawa asam asetat 46,71%, senyawa fenol 42,08%, dan senyawa karbonil 0,28%. Pengaruh pemurnian menggunakan zeolit teraktivasi H2SO4 pada destilasi berulang adalah hilangnya kandungan senyawayang berbahaya bagi pangan yaitu 2-propanon, 2-butanon, 3,5-dimetilfenol, dan piridin yang terdapat pada destilasi pertama.   Kata Kunci : asap cair, TKKS, pirolisis, GCMS, zeolit teraktivas

    ZEOLIT SINTESIS DARI SEKAM PADI DAN APLIKASINYA DALAM MENURUNKAN KADAR ION Fe (II) PADA AIR GAMBUT

    Get PDF
    Abu sekam padi mempunyai komposisi silika hampir 88,92% yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk sintesis zeolit. Zeolit sintesis dibuat melalui tahapan yaitu pembuatan natrium silikat dan natrium aluminat. Natrium silikat dihasilkan dari reaksi antara abu sekam padi dengan larutan NaOH melalui proses pelarutan yang kemudian dikalsinasi pada suhu 500˚C. Padatan natrium silikat kemudian dilarutkan dalam akuades hingga terbentuk larutan natrium silikat sedangkan Natrium aluminat dihasilkan dari reaksi antara NaOH dengan Al2O3. Natrium silikat dan natrium aluminat direaksikan untukmenghasilkan kristal zeolit dari abu sekam padi. Hasil karakterisasi dengan XRD menunjukkan bahwa zeolit abu sekam padi yang dihasilkan dominan memiliki karakteristik fase modernit dimana intesitas tertinggi pada 2θ=28,0304 serta hasil XRF menunjukkan kandungan Al sebesar 65% dan Si sebesar 24,8% maka zeolit sintesis tersebut dikategorikan zeolit dengan kadar Si rendah. Zeolit sintesis dari abu sekam padi diaplikasikan pada air gambut untuk menurunkan kadar ion Fe (II) diperoleh massa optimum 1,75 gram pada waktu kontak 60 menit sebesar 91,01%. Kata kunci : abu sekam padi, adsorpsi, besi, zeolit sintesi

    UJI KUALITATIF KANDUNGAN FORMALDEHID ALAMI PADA IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN MENGGUNAKAN TEST KIT ANTILIN

    Get PDF
    Ikan Patin jambal (Pangasius djambal) merupakan spesies ikan air tawar dari jenis Pangasidae yang memiliki ciri-ciri umum tidak bersisik, tidak memiliki banyak duri, dan kecepatan tumbuhnya relatif cepat. Ikan dapat memproduksi senyawa formaldehid secara alami selama proses deteriorasi berlangsung. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan formaldehid yang terbentuk secara alami dari ikan patin jambal akibat proses deteriorasi. Ikan patin jambal dalam keadaan hidup dimatikan menggunakan es curai, kemudian disimpan di dalam coolbox dan diamati setiap 2 hari selama 15 hari. Uji kualitatif adanya kandungan formaldehid dilakukan menggunakan test kit antilin yang ditandai dengan terbentuknya warna merah keunguan. Hasil pengamatan yang diperoleh semua sampel sejak hari pertama analisis hingga hari terakhir penyimpanan pada suhu dingin positif terdeteksi mengandung formaldehid yang ditandai terbentuknya warna merah keunguan.   Kata kunci: ikan patin jambal, formaldehid, uji kualitatif, test kit antili

    OPTIMASI PRODUKSI PROTEIN SEL TUNGGAL (PST) DARI BAKTERI YANG TERDAPAT PADA GASTROINTESTINAL (GI) IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DAN IKAN KEMBUNG (Scomber canagorta)

    Get PDF
    Ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan kembung (Scomber canagorta) merupakan jenis ikan yang dikonsumsi hanya bagian daging sedangkan bagian gastrointestinal (GI) dibuang sebagai limbah terhadap lingkungan. Bagian GI ikan-ikan ini mengandung banyak jenis dari bakteri yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bakteri penghasil protein sel tunggal (PST) dengan proses fermentasi. Aplikasi pemanfaatan protein yang bersumber dari bakteri lebih sering digunakan dibandingkan sumber dari hewan dan fungi, hal ini dikarenakan proses pertumbuhan dan regenerasinya yang sangat cepat. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh kondisi optimum dalam produksi protein dan penentuan kadar protein yang didapat dari GI ikan nila (O. niloticus) dan ikan kembung (S. canagorta) menggunakan metode Bradford dengan alat spektrofotometer UV-Vis. Isolat-isolat terpilih dari sumber ikan nila (O. niloticus)  adalah N1, N2, dan N3 sedangkan sumber ikan kembung (S. canagorta) adalah K1, K2, dan K3. Tahapan dalam penentuan kondisi optimum produksi PST adalah penentuan waktu fermentasi, temperatur dan pH. Isolat terpilih dari sumber ikan nila (O. niloticus) dan ikan kembung (S. canagorta) N3 dan K3 berdasarkan kondisi optimum produksi PST. Waktu fermentasi optimum dari isolat N3 dan K3 adalah 36 jam, temperatur optimum dari isolat N3 dan K3 yaitu 40oC dan derajat keasaman optimum dari isolat N3 dan K3 adalah pH 7. Hasil penelitian terhadap kondisi optimum produksi PST pada isolat N3 dan K3 memiliki kondisi optimum yang sama yaitu waktu fermentasi 36 jam, temperatur 40oC dan pH 7 dengan kadar PST masing-masing untuk isolat terpilih N3 dan K3 yaitu 1,123 dan 1,039 mg/ml. Kata kunci : Protein sel tunggal, Oreochromis niloticus, Scomber canagorta, pH, temperatur, fermentasi

    PENGARUH EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L. Merr) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKO KIMIA DAN CITA RASA KOPI (Coffea sp)

    Get PDF
    Minuman kopi sangat digemari oleh masyarakat luas, namun memiliki efek samping untuk kesehatan jika diminum secara berlebihan. Salah satu upaya untuk menghasilkan kopi dengan mutu dan cita rasa yang lebih baik adalah dengan fermentasi kopi dalam perut hewan luwak, namun metode ini membutuhkan biaya yang tinggi sehingga dibutuhkan metode lain yaitu dengan fermentasi kopi secara in vitro menggunakan ekstrak kulit nanas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati pengaruh ekstrak kulit nanas terhadap karakteristik fisiko kimia dan cita rasa kopi. Penelitian ini menggunakan 2 faktor, yaitu konsentrasi ekstrak kulit nanas dengan variasi 30, 50 dan 80% (v/b) dan waktu fermentasi kopi dengan variasi 24, 30 dan 36 jam. Bubuk kopi yang dihasilkan dianalisa kadar protein, kafein, lemak, air, abu, pH dan nilai organoleptiknya kemudian dibandingkan dengan data kopi tanpa fermentasi sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopi dengan karakteristik fisiko kimia dan cita rasa yang terbaik adalah kopi dengan konsentrasi ekstrak kulit nanas 80% dan waktu fermentasi 36 jam, dengan nilai kadar protein 10,09%, kadar lemak 10,92%, kafein 0,79%, air 6,83%, abu 4,008%, dan pH 6,46 serta nilai organoleptik 7,48 dengan kategori sangat baik. Fermentasi in vitro ekstrak kulit nanas mampu meningkatkan karakteristik fisiko kimia dan cita rasa pada kopi. Kata kunci: kopi (Coffea sp), nanas (Ananas comosus  L. Merr), fisiko kimia, organoleptik, fermentas

    SKRINING FITOKIMIA DAN UJI TOKSISITAS EKSTRAK AKAR MENTAWA (Artocarpus anisophyllus) TERHADAP LARVA Artemia salina

    Get PDF
    Daun dan batang mentawa sebagai tanaman obat diketahui mengandung flavonoid yang berpotensi dilihat dari aktivitas antimikroba, antikanker dan antioksidannya yang tinggi, namun belum ditemukan informasi tentang bioaktivitas pada bagian akarnya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi akar mentawa sebagai zat yang mempunyai efek sitotoksik terhadap larva Artemia salina dan kandungan metabolit sekundernya. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak kasar metanol akar mentawa mengandung alkaloid, flavonoid, steroid/terpenoid dan tannin/polifenol. Fraksi metanol mengandung alkaloid dan tannin/polifenol. Fraksi etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid, dan steroid/terpenoid. Fraksi kloroform mengandung alkaloid dan flavonoid. Fraksi n-heksana mengandung alkaloid dan steroid/terpenoid. Uji toksisitas dilakukan dengan metode BSLT. Hasil uji toksisitas menunjukkan nilai LC50 ekstrak kasar metanol, fraksi metanol, fraksi etil asetat, fraksi kloroform, dan fraksi n-heksana berturut-turut adalah  583 ppm, 2167 ppm, 328 ppm,  1318 ppm, 2167 ppm. Berdasarkan nilai LC50 tersebut dapat disimpulkan ekstrak kasar metanol dan fraksi etil asetat bersifat  toksik terhadap larva Artemia.   Kata kunci: mentawa, toksisitas, Artemia salina, skrining fitokimi

    AKTIVITAS BIOINSEKTISIDA EKSTRAK DAUN SIRSAK (Anonna muricata Linn.) PADA KECOAK (Periplaneta americana Linn.)

    Get PDF
    Kecoak (P. americana) merupakan serangga yang tergolong sebagai hama dan vektor beberapa macam penyakit sehingga populasinya perlu dikurangi. Sirsak (A. muricata) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai bioinsektisida terutama pada daunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak kasar metanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi metanol daun sirsak sebagai bioinsektisida terhadap kecoak dengan aktivitas bioinsektisida terbaik terdapat pada fraksi etil asetat. Pengujian dilakukan menggunakan metode semprot pada 10 ekor kecoak dengan pengulangan sebanyak 2 kali. Fraksi etil asetat menunjukan toksisitas terbaik terhadap kecoak dengan nilai LC50 sebesar 0,1 g/ml dan nilai LT50 1 g/ml 30,072 jam. Penapisan fitokimia fraksi etil asetat terindikasi mengandung alkaloid dan saponin. Kata kunci : bioinsektisida, daun sirsak (A. Muricata), fitokimia, P.american

    SINTESIS, KARAKTERISASI DAN APLIKASI KITOSAN DARI CANGKANG UDANG WANGKANG (Penaeus orientalis) SEBAGAI KOAGULAN DALAM MENURUNKAN KADAR BAHAN ORGANIK PADA AIR GAMBUT

    Get PDF
    Udang Wangkang (Penaeus orientalis) merupakan salah satu komoditas udang unggulan di Kalimantan Barat. Umumnya, cangkang udang hanya dibuang sebagai limbah, padahal di dalam cangkang udang mengandung senyawa kitin yang dapat meningkat nilai guna dari cangkang udang. Penelitian ini bertujuan mensintesis kitosan dari kitin cangkang udang wangkang serta diaplikasikan sebagai koagulan untuk menurunkan kadar bahan organik pada air gambut, mengingat daerah Kalimantan Barat yang didominasi oleh perairan gambut. Cangkang udang wangkang mengandung kitin 23,151%, mineral 51,129% dan protein 21,039% yang diperoleh melalui proses demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi. Kitosan dari cangkang udang wangkang memiliki derajat deasetilasi 72,85%, kadar abu 0,55% dan kadar air 9,08%. Hasil karakterisasi kitosan dengan menggunakan spektrofotometri FTIR menunjukkan adanya gugus –OH str dan N–H str yang saling tumpang-tindih pada bilangan gelombang 3410,15 cm-1, 2877,79 cm-1 (gugus C–H alifatik str), 1597,06 cm-1 (gugus N–H bend), dan 1419,61 cm-1 (gugus  C–H bend), 1257,59 cm-1 (gugus C–N str) dan 1080,14 cm-1 (gugus C–O str). Proses koagulasi bahan organik oleh kitosan dipengaruhi oleh massa dan pH. Kondisi optimum koagulasi dicapai pada massa 7 gram dan pH 3, dengan total penurunan bahan organik sebesar 2959,29 mg/L dan persen penurunan bahan organik sebesar 67,82%. Kata kunci: cangkang udang wangkang, kitosan, koagulasi, bahan organik, air gambu

    242

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kimia Khatulistiwa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇