Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS KULIT BIJI PINANG SIRIH (Areca catechu L.)
Tanaman pinang sirih (Areca catechu Linn) telah digunakan secara tradisional dalam bidang pengobatan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian potensi antioksidan dan toksisitas dari ekstrak kulit biji pinang sirih (Areca catechu L.). Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH dengan reagen 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil. Pengujian toksisitas dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Aktivitas antioksidan dinyatakan dengan nilai IC50. nilai IC50 ekstrak kental kulit biji pinang sirih sebesar 30,39 ppm, fraksi metanol 29,42 ppm, fraksi etil asetat 45,11 ppm, dan fraksi n-heksana 17,85 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak dan semua fraksi mempunyai sifat antioksidan yang kuat. Aktivitas yang paling kuat ditunjukkan pada fraksi n-heksana. Efek toksistas dinyatakan dengan nilai LC50. Nilai LC50 ekstrak kental metanol kulit biji pinang sirih sebesar 7,695 ppm, fraksi metanol 5,481 ppm, fraksi etil asetat 6,323 ppm, dan fraksi n-heksana 5,727 ppm. Fraksi metanol menunjukkan tingkat toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak kental metanol, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksana. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit biji pinang sirih (Areca catechu L.) mengandung senyawa yang memiliki potensi sebagai antioksidan dan sitotoksik. Kata Kunci: antiokisdan, Areca catechu Linn, BSLT, DPPH, toksisita
AKTIVITAS TOKSISITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIINFLAMASI SECARA IN VITRO DARI EKSTRAK METANOL DAUN MANGGA BACANG (Mangifera foetida L)
Daun Mangga Bacang (Mangifera foetida L) merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh di Kalimantan barat, yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder dan berpotensi memiliki aktivitas biologis seperti anti inflamasi, toksisitas dan antioksidan. Pada penelitian ini telah dilakukan uji aktivitas ekstrak metanol dari daun mangga bacang (Mangifera foetida L) yang mempunyai aktivitas anti inflamasi pada sel darah merah dan efek toksisitas terhadap larva Artemia salina serta mengetahui aktivitas antioksidan. Hasil dari skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa-senyawa aktif seperti golongan alkaloid, flavanoid, saponin, tanin dan terpenoid/steroid. Senyawa yang berperan aktif sebagai antikanker terdapat dalam ekstrak kasar daun mangga bacang dengan hasil dari LC50 pada toksisitas ekstrak sebesar 1,546 ppm. Ekstrak metanol berpotensi sebagai antiinflamasi dengan inhibisi Human Red Blood Cells sebesar 87,21 % dan Ekstrak metanol daun mangga bacang mempunyai sifat sebagai antioksidan yang cukup baik dengan hasil IC50 sebesar 9,653 ppm. Kata Kunci : Bacang (Mangifera foetida L), HRBC, toksisitas, antioksida
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MEMBRAN KITOSAN TERCETAK ION PADA PERMUKAAN KARBON (KTI-C) UNTUK PENINGKATAN PERMSELEKTIVITAS ION Fe(III)
Kitosan merupakan polimer alam yang dapat dibentuk menjadi film tipis dan memiliki kemampuan membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Pada penelitian ini, kitosan dimodifikasi menjadi membran komposit tercetak ion dengan ion pencetak Fe(III) serta material pendukung karbon. Pembuatan membran KTI-C dilakukan dengan melarutkan kitosan pada asam asetat, imprinting ion logam, penambahan karbon, pencetakan membran, proses elusi, dan regenerasi membran. Karakterisasi membran Kitosan Tercetak Ion (KTI) dan Kitosan Tercetak Ion Pada Permukaan Karbon (KTI-C) dilakukan dengan SEM-EdX (Scanning Electron Microscopy with Energy Dispersive X-Ray) dan dengan menentukan nilai fluks serta derajat swellingnya dalam akuades. Membran KTI dan KTI-C yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk menentukan permselektivitas membran terhadap larutan ion Fe(III). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ion imprinting telah berhasil dielusi menggunakan pengompleks Na2EDTA. Nilai fluks pada membran KTI dan KTI-C masing-masing sebesar 220,81 L/m2jam dan 254,77 L/m2jam, dengan derajat swelling masing-masing sebesar 202,38 % dan 48,07 %. Uji permselektivitas menunjukkan bahwa pemisahan optimum terjadi pada pH 4 dengan nilai koefisien rejeksi ion Fe(III) pada masing-masing KTI dan KTI-C sebesar 85,80% dan 80,90%. Kata Kunci : membran komposit, permselektivitas, Fe(III), kitosan, karbo
LAJU PEMISAHAN ION TIMBAL(II) PADA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT
Ion timbal (Pb)(II) merupakan pencemar lingkungan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan ekosistem lingkungan. Penanganan pencemaran ion Pb(II) dapat dilakukan dengan menerapkan metode pemisahan menggunakan membran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik membran komposit kitosan-zeolit dengan mempelajari pengaruh perbandingan massa kitosan-zeolit 2:1; 1,5:1,5; dan 1:2 menggunakan instrumen FTIR dan SEM serta menentukan laju adsorpsi ion Pb(II) pada membran komposit. Tahapan metode yang dilakukan adalah pembuatan membran komposit, penentuan koefisien rejeksi membran, dan penentuan laju adsorpsi ion Pb(II) pada membran komposit. Karakterisasi membran menggunakan FTIR menunjukkan puncak serapan –NH (1651,07 cm-1) yang khas untuk kitosan. Serapan Si-O-Si atau Al-O-Al pada 1056,99 cm-1 yang merupakan serapan khas zeolit pada lapisan tetrahedral tidak terlihat pada spektra membran komposit. Hal ini diduga akibat tertutupnya lapisan Si-O-Si atau Al-O-Al oleh kitosan. Morfologi membran komposit 2:1 yang diamati dari difraktogram SEM memiliki permukaan yang lebih halus dan memiliki pori-pori yang lebih terbuka. Membran komposit kitosan-zeolit 2:1 juga menunjukkan nilai koefisien rejeksi ion Pb(II) yang paling besar. Sehingga, membran komposit kitosan;zeolit 2:1 dipilih untuk adsorpsi ion Pb(II). Adsorpsi ion Pb(II) pada membran komposit kitosan-zeolit 2:1 mengikuti model laju reaksi pseudo orde dua, dengan nilai konstanta laju sebesar 9,4×10-3 L.mg-1.menit-1. Kata kunci: timbal, membran, komposit kitosan-zeolit, rejeksi, pseudo orde
SINTESIS DAN KARAKTERISASI PASIR BESI TERLAPIS MANGAN DIOKSIDA SERTA APLIKASINYA UNTUK PENURUNAN KADAR ION FOSFAT DALAM AIR
Pasir besi Sungai Boli Kiba merupakan salah satu mineral alam Kalimantan Barat yang pemanfaatanya belum maksimal dan bahkan hanya menjadi mineral yang tidak memiliki harga jual. Karakteristik fisik pasir besi tersebut adalah berwarna hitam abu-abu dan tertarik magnet dengan kuat. Berdasarkan analisis XRF, pasir ini mengandung mineral hematit dan analisis XRD menunjukan adanya kandungan Fe3O4. Pasir besi yang terdiri dari mineral besi oksida memiliki kemampuan membentuk kompleks dengan senyawa lain. Oleh karena itu, pasir besi digunakan sebagai material penyangga adsorben mangan dioksida (MnO2) yang memiliki partikel halus dan bersifat kurang stabil di dalam larutan. Hasil analisis XRF menunjukan bahwa pasir besi terlapis mangan dioksida mengandung mineral MnO 7,28%, Fe2O3 78,449%, SiO2 4,706%, Al2O3 3,079% dan hasil analisis XRD menunjukan sudut 2θ khas MnO2 (2θ = 37,270; 56,570; 38,950; 56,570; 65,670; 68,850; 27,780; 28,490; 41,100). Pasir besi yang telah terlapis MnO2 digunakan untuk mengadsorpsi ion fosfat. Efektivitas penurunan ion fosfat oleh pasir besi terlapis MnO2 yaitu sebesar 36,26% dengan konsentrasi awal ion fosfat sebesar 10,60 mg/L dan waktu kontak optimum 2,5 jam. Adsorpsi pasir besi terlapis mangan dioksida terhadap ion fosfat memiliki kapasitas adsorpsi Langmuir 9,7847 mg/g dan kapasitas adsorpsi Freundlich yaitu sebesar 0,1932 mg/g. Hasil uji stabilitas menunjukan bahwa mangan dioksida yang diimobilisasi pada pasir besi lebih stabil dibandingkan dengan mangan dioksida yang tidak diimobilisasi. Kadar mangan yang lepas dalam larutan fosfat menggunakan adsorben MnO2 (massa Mn 63,25%) yaitu 14,5 mg/L, sedangkan menggunakan adsorben pasir besi terlapis MnO2 (massa Mn 26,86%) kadar mangan yang lepas dalam larutan fosfat yaitu 0,015 mg/L. Kata Kunci: pasir besi terlapis MnO2, fosfat, kapasitas adsorpsi, stabilita
PENURUNAN KONSENTRASI BAHAN ORGANIK DAN BESI DALAM AIR GAMBUT DENGAN METODE UV-OZON
Air gambut berwarna merah kecoklatan yang disebabkan adanya kandungan bahan organik dan besi dalam jumlah yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menurunkan konsentrasi bahan organik dan besi dalam air gambut dengan metode UV-Ozon terhadap variasi waktu kontak serta mengetahui konsentrasi sisa ozon yang digunakan selama proses UV-Ozon. Hasil yang diperoleh untuk penurunan konsentrasi bahan organik air gambut sebagai bilangan permanganat sebesar 53,46% pada waktu kontak 3 jam, sedangkan penurunan konsentrasi besi terlarut (Fe2+) air gambut sebesar 67,01% pada waktu kontak 4 jam, serta konsentrasi sisa ozon sebesar 0,015 mg/L pada waktu kontak 5 jam. Dengan demikian dapat diketahui bahwa konsentrasi bahan organik dan besi air gambut dapat diturunkan secara advanced oxidation processes (AOPs) dengan metode UV-Ozon. Kata Kunci : air gambut, besi, bahan organik, ozo
SINTESIS SENYAWA ANTRAKUINON DARI EUGENOL DAN FTALAT ANHIDRIDA
Sintesis senyawa antrakuinon telah dilakukan dari eugenol dan ftalat anhidrida dengan menggunakan AlCl3 sebagai katalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses sintesis senyawa antrakuinon dari eugenol dan ftalat anhidrida serta mengidentifikasi senyawanya menggunakan spektrofotometer infra merah. Ftalat anhidrida dan AlCl3 dimasukkan ke dalam labu leher tiga, kemudian ditambahkan eugenol dan air. Campuran reaksi di aduk pada suhu 120°C selama 5 jam dan proses reaksi dimonitoring menggunakan KLT. Setelah reaksi sempurna, campuran diekstraksi dengan etil asetat dan air (2x20 mL). Hasil ekstraksi dikeringkan menggunakan evaporator untuk menghilangkan pelarut etil asetat. Produk dimurnikan menggunakan kromatografi vakum cair (KVC). Berdasarkan hasil analisis spektrofotometer infra merah, terdapat pita serapan dari gugus OH pada bilangan gelombang 3433,29 cm-1, C=O karbonil pada bilangan gelombang 1705,07 cm-1, C=C alkena pada bilangan gelombang 1666,5 cm-1 dan C-O-CH3 pada bilangan gelombang 1273,02 cm-1. Hasil monitoring dengan KLT dan disemprot dengan reagen KOH 10% yang menghasilkan warna kuning pada plat menunjukkan adanya senyawa antrakuinon. Kata Kunci : antrakuinon, eugenol, ftalat anhidrida, kromatografi, infra mera
SINTESIS SENYAWA TURUNAN ANTRAKUINON DARI VANILIN DAN FTALAT ANHIDRIDA MENGGUNAKAN KATALIS AlCl3
Penelitian tentang sintesis senyawa turunan antrakuinon telah dilakukan menggunakan vanilin dan ftalat anhidrida dengan katalis AlCl3 pada temperatur 110C selama 4 jam. Proses sintesis dimulai dengan cara refluks dan dilanjutkan dengan ekstraksi menggunakan etil asetat. Pemurnian dilakukan dengan teknik kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) dan dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer infrared (IR). Hasil penelitian menunjukkan isolat berupa padatan berwarna coklat dengan massa sebesar 0,0032 g dan rendemen yang diperoleh sebesar 1,13%. Hasil uji fitokimia dilakukan dengan menyemprotkan KOH 10% yang menghasilkan noda berwarna kuning pada plat KLT yang menunjukkan positif senyawa turunan antrakuinon. Spektrum IR menunjukkan pita serapan pada maks (cm-1): 3448,7 (OH), 2854,6 (C-H aldehida), 1666,5 (C=O), 1589,3 (C=C aromatik), 1496,7 (C-H), 1273,0 (C-O-CH3) dan 817,8 (C-H aromatik luar bidang). Berdasarkan data spektrum IR dan hasil uji fitokimia, diprediksi bahwa senyawa tersebut adalah senyawa 1-hidroksi-2-metoksi-4-formilantrakuinon. Kata Kunci: antrakuinon, ftalat anhidrida, vanilin, AlCl
KARAKTERISASI SENYAWA FITOSTEROL DARI EKSTRAK DAUN SOMA (Ploiarium alternifolium Melch) DENGAN METODE 1H-NMR
Soma (Ploiarium alternifolium Melch) merupakan tumbuhan semak belukar dan memiliki kandungan fitosterol yang digunakan untuk mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkarakterisasi senyawa fitosterol dari fraksi n-heksan daun soma. Isolasi yang dilakukan pada daun soma menggunakan ekstraksi sokhletasi, kromatografi lapis tipis, kromatografi vakum cair dan kromatografi kolom gravitasi. Hasil yang didapatkan berupa kristal steroid sebanyak 4 mg, selanjutnya dilakukan analisis 1H-NMR. Spektrum 1H-NMR dalam CDCl3 menunjukkan adanya sinyal-sinyal proton antara lain δ 4,05 dan 3,98 muncul gugus alkohol, δ 2,31 gugus metilen, δ 1,66 gugus alkena, δ 1,62 gugus metilen, δ 1,33 gugus metilen dan δ 0,88 gugus metil. Spektrum 1H-NMR menunjukkan senyawa yang diperoleh memiliki pergeseran proton senyawa steroid dan hasil uji fitokima yang menunjukkan karakter senyawa steroid. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa senyawa yang diperoleh memiliki pergeseran proton senyawa steroid. Kata kunci : fitosterol, karakterisasi, kromatografi, P. alternifolium Melch, 1H NM
KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK DARI FRAKSI ETIL ASETAT PADA KULIT BATANG TUMBUHAN CERIA (Baccaurea hookeri)
Tumbuhan ceria merupakan salah satu tumbuhan tropis yang tumbuh liar di alam dan memiliki buah yang bernilai ekonomis rendah. Banyaknya pembukaan lahan perkebunan menyebabkan tumbuhan ceria terancam punah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap tumbuhan ceria agar dapat memberikan informasi ilmiah, terutama mengenai isolasi dan karakterisasi senyawa fenolik. Penelitian ini adalah bertujuan untuk mengisolasi dan mengarakterisasi senyawa fenolik yang terkandung dalam kulit batang tumbuhan ceria. Salah satu senyawa fenolik dari fraksi etil asetat kulit batang tumbuhan ceria telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi. Isolat murni dengan kode Pre 2R* merupakan isolat berbentuk kristal jarum (berwarna bening) dengan massa 11,2 mg. Isolat Pre 2R* diisolasi menggunakan metode maserasi, fraksinasi, dan kromatografi, sedangkan untuk karakterisasi menggunakan uji fitokimia. Isolat Pre 2R* positif berbentuk senyawa fenolik, berdasarkan uji fitokimia dengan menggunakan larutan FeCl3 5%, yaitu dengan ditandai perubahan warna menjadi hitam kebiruan. Kata Kunci: fenolik, isolat Pre 2R*, kulit batang tumbuhan ceri