Jurnal Kimia Khatulistiwa
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
KARAKTERISASI SENYAWA TRITERPENOID DARI DAUN JABON (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq)
Penelitian terhadap daun Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq) bertujuan untuk menegtahui karate senyawa triterpenoid dari daun Jabon. Penelitian ini dilakukan dengan cara maserasi, uji fitokimia, dan kromatografi. Isolate yang diperoleh seberat 3 mg berbentuk padatan amorf putih. Isolate tersebut dianalisis dengan menggunakan spektrum 1H-NMR. Hasil dari spektrum 1H-NMR (CDCl3, 500 MHz) menunujukkan adanya 7 sinyal metil singlet yang terletak pada pergeseran kimia (ppm) 0,75; 0,77; 0,90; 0,91; 0,98; dan 1,13. Pada pergeseran kimia menunjukkan adanya proton yang terikat pada gugus hidroksi serta pada pergeseran kimia menunjukkan adanya proton olefin. Berdasarkan analisis data 1H-NMR dan perbandingan dengan data 1H-NMR yang telah dilaporkan sesuai literature maka senyawa tersebut dapat diusulkan sebagai asam oleanolat (asam 3-hidoksiolean-12-en-28-oat). Kata kunci: Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq, asam oleanolat, triterpenoid, kromatograf
KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT BUNGA NUSA INDAH (Mussaenda erythrophylla) DAN AKTIVITAS SITOTOKSIK TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA T47D
Mussaenda erythrophylla merupakan tanaman yang tumbuh di daerah tropis termasuk Indonesia. Mussaenda erythrophylla mengandung senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, alkaloid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi senyawa flavonoid dari Mussaenda erythrophylla dan mengetahui aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara T47D. Hasil uji sitotoksik dari ekstrak dan semua fraksi sampel Mussaenda erythrophylla menunjukkan bahwa aktivitasnya tidak berbeda signifikan. Kemudian fraksi etil asetat dilanjutkan pada tahap pemisahan dan pemurnian. Isolat relatif murni diperoleh sebanyak 17,8 mg berbentuk amorf. Kemurnian isolat diuji menggunakan kromatografi lapis tipis 1 dan 2 dimensi yang menunjukkan adanya noda tunggal dan uji metabolit sekunder yang menunjukkan positif flavonoid. Berdasarkan spektrum Ultraviolet Visible (metanol) diketahui adannya serapan maksimum pada λ 253 nm yang menunjukkan transisi elektronik π→π*. Spektrum Infrared (IR) menunjukkan adanya bilangan gelombang (cm-1) : 3433-3100 (OH), 2943 (C-H alifatik ulur), 1450 (cincin aromatik), 1114 (C-O-C ulur) dan 1022 (C-O). Hasil uji sitotoksik isolat diperoleh nilai IC50 sebesar 278,3 μg/mL. Berdasarkan analisis tersebut, isolat diindikasi merupakan senyawa flavonoid jenis katekin yang memiliki kemampuan sitotoksik kategori sedang terhadap sel kanker payudara T47D. Kata Kunci : Mussaenda erythrophylla, sel kanker payudara T47D dan flavonoi
DEGRADASI BAHAN ORGANIK PADA AIR GAMBUT DENGAN FOTOKATALIS TiO2 LAPIS TIPIS
Zat organik pada air gambut didominasi oleh senyawa humat menyebabkan warna, bau dan rasa pada air gambut. Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan air gambut. Penelitian ini menggunakan metode fotokatalisis menggunakan titanium oksida (TiO2) lapis tipis dalam pengolahan air gambut dengan variasi waktu (0, 2, 4, 6 dan 8 jam) serta pH (3, 5 dan 7). Karakterisasi TiO2 lapis tipis dilakukan dengan menggunakan analisis X-Ray Diffraction (XRD). Berdasarkan pola XRD, puncak difraksi yang kuat terjadi pada 25,3o dan 48,1o yang menandakan TiO2 berstruktur anatase. Penentuan kondisi optimum ditinjau dari penurunan absorbansi bahan organik pada panjang gelombang 343 nm menggunakan sperktrofotometri UV-VIS dan penurunan permanganat bahan organik menggunakan metode permanganometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik pada air gambut dapat didegradasi oleh katalis TiO2 lapis tipis dengan waktu optimum 4 jam dengan pesentase penurunan absorbansi sebesar 69,63% dan penurunan permanganat sebesar 24,62%. Pada pH 5 degradasi bahan organik pada air gambut mencapai pesentase penurunan absorbansi sebesar 36,11% dan penurunan permanganat sebesar 16,34%. Dengan demikian, TiO2 lapis tipis yang telah dipreparasi mampu mendegradasi bahan organik pada air gambut melalui proses fotokatalisis dengan persentase penurunan bahan organik mencapai hampir 70%. Kata Kunci: fotokatalisis, katalis TiO2 lapis tipis, anatas
PEMANFAATAN KOMPOSIT AMPAS SAGU-KAOLIN UNTUK ADSORPSI Fe(II)
Ampas sagu merupakan salah satu serat pangan yang memiliki banyak gugus fungsi sehingga dapat digunakan sebagai adsorben. Gugus fungsi pada serat pangan umumnya bersifat tidak stabil secara termal dan mekanik, oleh karena itu diperlukan material pengemban seperti kaolin untuk menstabilkannya. Penelitian ini menggunakan komposit ampas sagu-kaolin teraktivasi untuk mengadsorpsi Fe(II). Karakterisasi ampas sagu teraktivasi H3PO4 30% dan kaolin teraktivasi H2SO4 3 M dilakukan menggunakan spektroskopi IR. Spektrum IR ampas sagu teraktivasi memperlihatkan terdapat gugus fungsi –OH (hidroksil) pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1. Spektrum IR kaolin teraktivasi memperlihatkan bahwa gugus fungsional khas kaolin masih tetap dipertahankan yaitu pada bilangan gelombang 1103,28 cm-1 (vibrasi regangan Si-O), 1026,13 cm-1 (vibrasi regangan Al-O), 918,12 cm-1 (vibrasi tekuk Al-O-H), 694,37 cm-1 (vibrasi tekuk Si-O-Si), dan 540,07 cm-1 (vibrasi regangan Si-O-Al). Hasil penelitian menunjukkan komposit ampas sagu-kaolin mengikuti model kinetika adsorpsi pseudo-orde dua dengan koefisien korelasi yaitu 0,987 dan konstanta laju 0,502 mg g-1 menit-1, jenis isoterm adsorpsinya mengikuti model isoterm Langmuir dengan koefisien korelasi 0,986 dan kapasitas adsorpsi maksimum 1,689 mg/g dan pH maksimum adsorpsi Fe(II) terjadi pada pH 4. Kata Kunci : adsorpsi, komposit ampas sagu-kaolin, Fe(II
SENYAWA FLAVONOID DARI FRAKSI ETIL ASETAT BATANG TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS SITOTOKSIKNYA TERHADAP SEL HeLa
Tanaman andong (Cordyline fruticosa) telah digunakan sebagai obat tradisional. Tanaman ini telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamsi dan antifeedant. Penelitian ini akan difokuskan untuk menjelaskan struktur senyawa flavonoid yang terdapat pada fraksi etil asetat batang tanaman andong (Cordyline fruticosa) dan menjelaskan aktivitas sitotoksik senyawa flavonoid tersebut terhadap sel kanker HeLa. Ekstraksi dan fraksinasi dilakukan untuk memperoleh fraksi dari batang andong. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa batang tanaman andong mengandung senyawa terpenoid, steroid, flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin yang memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker HeLa. Pemisahan fraksi etil asetat dilakukan dengan kromatografi kolom. Isolat dikarakterisasi dengan UV-Vis dan spektra IR untuk mendapatkan profil spektranya. Selanjutnya diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker HeLa yang dilakukan terhadap ekstrak kental metanol, fraksi maupun isolat dari fraksi etil asetat batang andong. Spektrum IR isolat FE1.1* menunjukkan serapan 3425,58 (OH), 2864,65-2924,09 (CH), 1730 (C=O), 1396,46-1499 (C=C), 1087 (C-O-C). Berdasarkan analisis spektroskopi, dapat disimpulkan bahwa senyawa pada isolat FE1.1* adalah senyawa flavonoid dengan prediksi struktur yaitu senyawa. Isolat FE1.1* memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker HeLa sebesar 232,770 μg/mL pada konsentrasi 700 μg/mL. Kata kunci : Cordyline fruticosa, inframerah, UV-Vis, Sel HeLa, flavonoi
PENGARUH WAKTU KONTAK DAN FREKUENSI EKSTRAKSI PADA ISOLASI ASAM HUMAT DARI KOMPOS KOTORAN SAPI
Asam humat merupakan hasil dekomposisi bahan organik. Asam humat dapat terkandung pada tanah gambut, kompos atau humus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu kontak ekstraksi (1 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam, dan 12 jam) dan pengaruh frekuensi ekstraksi (1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali) terhadap perolehan asam humat dari kompos kotoran sapi. Asam humat diekstraksi dengan pelarut basa (KOH), dan diendapkan dengan penambahan asam (HCl) kemudian dimurnikan dengan KOH. Selanjutnya dilakukan penentuan nilai keasaman asam humat dengan metode titrasi dan dianalisis gugus fungsinya dengan spektrofotometer FTIR. Persentase asam humat hasil ekstraksi pada waktu kontak 1 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 12 jam secara berturut-turut sebesar 1,2711%, 3,0948%, 2,9606%, 2,6057%, dan 2,4178%. Persentase asam humat paling banyak diperoleh pada waktu kontak 2 jam. Nilai total keasaman, gugus karboksil dan gugus fenolik asam humat dari frekuensi ekstraksi yang masuk dalam rentang Schnitzer diperoleh pada frekuensi ekstraksi dua kali secara berturut-turut adalah 625 cmol kg-1, 300 cmol kg-1 dan 325 cmol kg-1. Dengan demikian, melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persentase asam humat terbaik pada waktu kontak 2 jam dan frekuensi ekstraksi dua kali. Kata Kunci : kompos, asam humat, total keasaman, fenoli
SENYAWA TERPENOID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA DAUN TANAMAN ANDONG (Cordyline fruticosa) DAN AKTIVITAS ANTIMALARIANYA TERHADAP Plasmodium falciparum
Daun andong (Cordyline fruticosa) banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk batuk darah dan pendarahan pada kehamilan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik terpenoid dari fraksi diklorometana dan aktivitas antimalarianya terhadap Plasmodium falciparum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi, fraksinasi, pemisahan dan uji kemurnian. Hasil ekstraksi daun andong dengan metanol diperoleh sebanyak 144,01 g ekstrak kental. Ekstrak metanol mengandung senyawa flavonoid, terpenoid, steroid, alkaloid, saponin, dan tanin. Ekstrak metanol menunjukkan nilai aktivitas antimalaria IC50 sebesar 10,44 g/mL yang memberikan aktivitas antimalaria cukup baik. Ekstrak ini selanjutnya difraksinasi sehingga diperoleh fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan metanol. Aktivitas antimalaria (IC50) dari fraksi diklorometana, n-heksana, etil asetat, dan metanol berturut-turut adalah 1,03 g/mL, 11,01 g/mL, 7,67 g/mL, dan 29,54 g/mL. Fraksi diklorometana memberikan aktivitas antimalaria paling baik. Pemisahan dan pemurnian fraksi diklorometana menghasilkan isolat FD3.5. Isolat menunjukkan nilai aktivitas antimalaria IC50 sebesar 1,79 g/mL. Analisis spektrum UV-Vis diperoleh absorbansi maksimum pada panjang gelombang ( ) 253 nm dan 296 nm yang menunjukkan adanya transisi elektronik n *. Spektrum IR menunjukkan gugus C-H alkena pada bilangan gelombang 3020,30 cm-1 dan 1215,06 cm-1 menunjukkan gugus C-O-C. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan adanya terpenoid dan ditandai dengan warna merah setelah disemprot menggunakan pereaksi Liebermann-Buchard. Kata Kunci: Cordyline fruticosa, daun andong, terpenoid, antimalaria, Plasmodium falciparu
KARAKTERISASI SENYAWA KLOROFIL PADA DAUN LANGSAT (Lansium domesticum Corr)
Telah dilakukan karakterisasi klorofil pada daun langsat (L. domesticum Corr) pada fraksi etil asetat. Proses isolasi senyawa ini dilakukan dengan metode maserasi dan beberapa teknik kromatografi. Isolat berbentuk pastadengan berat 2 mg dan berwarna hijau. Isolat tersebut dianalisis dengan menggunakan 1H-NMR dan MS. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa pada daun langsat berupa klorofil. Spektrum 1H-NMR dalam CDCl3 menunjukkan adanya sinyal-sinyal proton yang karakteristik dengan senyawa klorofil a yaitu δ 3,49 (3H, multiplet, CH3-1), 6,17 (2H,doublet,CH2-2b), 3,59 (2H, singlet, CH2-4a), 2,33 (2H, multiplet, CH2-7a), 7,71 (1H, broad singlet,CH-2a), 9,53 (1H, singlet,CH-alpha), 9,75 (1H, singlet,CH-beta), 8,71 (1H, singlet,CH-delta) dan 3,91 (3H,doublet,OCH3-10b) . Data MS memprlihatkan adanya puncak-puncak utama khas dari klorofil yaitu [M+H] 601 dan 861. Kata Kunci : kromatografi, Lansium domesticum Corr, klorofil a, NM
KARAKTERISASI SENYAWA STEROID DARI FRAKSI DIKLOROMETANA RANTING DURIAN KLAWING (Durio graveolens Becc.)
Durian klawing (Durio graveolens Becc.) merupakan tumbuhan durian yang menghasilkan daging buah berwarna merah dan tiap ruasnya memiliki satu buah biji. Durian klawing merupakan salah satu dari 7 jenis durian yang dapat dikonsumsi. Penelitian ini telah berhasil mengisolasi senyawa metabolit skunder dari fraksi diklorometana ranting durian klawing (D. graveolens Becc.). Isolat fraksi C4 diperoleh sebanyak 2,2 mg. Data spektrum 1H-NMR dari fraksi C4 menunjukkan adanya geseran kimia δH (ppm) 1,57 (9H, s), δH 1,66 (3H, m), δH 2,33 (3H, t), δH 4,27 (2H, m) 8,09 (1H, s). Berdasarkan uji fitokimia fraksi C4 dan data spektrum 1HNMR tersebut diprediksi mengandung senyawa steroid. Kata Kunci: Isolasi, karakterisasi, D. graveolens Becc., steroid
STUDI SELEKTIVITAS MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN TERCETAK ION/KARBON TERHADAP ION Fe(III) DAN Cr(III) DALAM SISTEM CAMPURAN ION LOGAM
Sintesis membran komposit Kitosan Tercetak Ion Pada Permukaan Karbon (KTI-C) dilakukan untuk adsorspsi selektif ion logam Fe(III) dan Cr(III). Membran KTI-C dibuat dengan melakukan pencetakan ion logam ke dalam hidrogel kitosan karbon dilanjutkan dengan ikat silang menggunakan epiklorohidrin. Ion logam dielusi dengan larutan Na2EDTA untuk menyediakan templat spesifik untuk karakteristik ion logam Fe(III) dan Cr(III). Regenerasi membran dilakukan menggunakan larutan NaOH. Karakterisasi membran KTI-C dilakukan menggunakan metode spektrofotometri FTIR (Fourier Transfrom Infra Red) dan SEM EDX (Scanning (Electron Microscopy Electron with Energy Dispersive). Hasil penelitian menunjukkan dalam sistem larutan yang mengandung dua jenis ion logam membran KTI-Cr(III)-C (Kitosan Tercetak Ion Cr Karbon) relatif selektif terhadap ion logam Cr(III) dibandingkan ion logam Fe(III) dengan nilai koefisien selektivitas masing-masing sebesar 1,897 dan 0,527. Membran KTI-Fe(III)-C (Kitosan Tercetak Ion Fe Karbon) relatif kurang selektif terhadap ion logam Fe(III) dengan nilai koefisien selektivitas terhadap ion logam Fe(III) sebesar 0,417 dan terhadap ion Cr(III) sebesar 2,397. Pada sistem larutan yang mengandung tiga jenis ion logam membran KTI-Fe(III)-C relatif selektif terhadap ion logam Fe(III) dengan nilai Q (jumlah ion teradsorpsi) dan nilai D (rasio distribusi) 4,716 mmol/g dan 3,809 L/g, dan membran KTI-Cr(III)-C relatif selektif terhadap ion logam Cr(III) dengan nilai Q dan nilai D 6,736 mmol/g dan 4,233 L/g. Kata Kunci : kitosan, komposit, membran KTI-C, selektivitas, Fe(III), Cr(III