SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    859 research outputs found

    pelaksanaan nilai gotong royong pada kegiatan himpunan mahasiswa jurusan hukum dan kewarganegaraan tahun 2017

    No full text
    ABSTRAKPutri, Galuh Sekar. 2019. Pelaksanaan Nilai Gotong Royong pada Kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Tahun 2017. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Suparman A.W, S.H., M.Hum (II) Drs. Margono, M.Pd., M.Si. Kata kunci: Gotong royong, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Hukum dan Kewarganegaraan.Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, artinya pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan manusia lain. Manusia dituntut untuk bisa berkomunikasi dan bertingkah laku dengan baik apabila ingin hidup ditengah-tengah manusia lainya. Dengan adanya ketergantungan dengan yang maka akan menciptakan suatu persatuan yang saling membantu. Budaya gotong rotong merupakan suatu kegiatan sosial yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dari zaman dahulu kala hingga saat ini. Dengan adanya gotong oroyong yang sudah dilaksanakan maka pekerjaan yang sulit akan menjadi mudah. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan seberapa kompaknya anggota HMJ HKn dalam menyukseskan sebuah acara dengan bergotong royong.Motode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif Deskriptif. Subyek dalam penelitian ini yaitu ketua umum dan beberapa anggota dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan tahun 2017. Data yang diperoleh berupa wawancara dan dokumentasi. Data diolah dengan teknik analisis data kualitatif.Hasil dari penelitian yang sudah dilakukan maka ditemukan ada delapan program kerja yang dilakukan, selama satu tahun dan dibagi menjadi dua kuartal masing masing enam bulan. Nilai gotong  royong yang terkandung dalam program kerja ada lima nilai yaitu kebersamaan, persatuan, tolong menolong, rela berkorban, dan sosialisasi. Pelaksanaannya nilai tersebut sudah tercermin dalam kegiatan dilakukan dan dalam tahap perencanaan kegiatan yang akan dilakukan. Kendala yang dialami dalam pelaksanaan nilai gotong royong oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan yaitu, dari faktor internal yaitu yang disebabkan oleh anggotanya sendiri dan juga faktor eksternal yang disebabkan oleh pihak luar. Solusi dalam penanganan kendala tersebut yaitu adanya evaluasi panitia, teguran, dan juga pembuatan panitia lapangan. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh hasil yang baik, budaya gotong royong sudah dilakukan meskipun ada beberapa anggota yang kurang peka dan bertanggung jawab atas tugas yang dimiliki. Pelaksanaan gotong royong tersebut sudah jelas terlihat dari suksesnya program kerja yang dilaksanakan. Dari penelitian tersebut disarankan untuk program kerja HKn Berbakti ataupun bakti sosial bisa menanyakan kepada LP2M untuk daerah-daerah terpencil ataupun desa yang membutuhkan bantuan  dan binaan dari orang luar. Karena setiap tahunnya pasti mengadakan KKN untuk mahasiswa di UM, jadi pihak LP2M pasti mempunyai rekapan ataupun pandangan untuk daerah yang cocok digunakan untuk Bakti Sosial agar lebih tepat sasaran dan tidak membuang waktu yang cukup lama dan memberikan evaluasi pada masing masing anggota

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO STORYLINE DALAM PENGAMALAN PANCASILA PADA MATERI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PRAKTIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA BAGI SISWA KELAS X SMKN 1 KEDIRI

    No full text
    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO STORYLINE DALAM PENGAMALAN PANCASILA PADA MATERI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PRAKTIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA BAGI SISWA KELAS X SMKN 1 KEDIRI Oleh: Ahmad Ekha Yustira Nur Wahyu Rochmadi Suparman Adi Winoto Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang [email protected]   Tugas pokok Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu dalam rangka character building. Diperlukan metode penyampaian materi saat kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan pembangunan karakter sebagai good citizenship dan penerapan nilai-nilai Pancasila yang lebih inovatif, salah satunya adalah melalui video. Melalui video dapat memberikan suasana pembelajaran PPKn yang menarik bagi peserta didik. Selanjutnya video dikemas dalam bentuk media pembelajaran yang menampilkan materi nilai-nilai Pancasila dengan video pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian pengembangan denan menggunakan prosedur yang mengadopsi dari Sugiyono (2016:298) yang meliputi (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk dan (7) revisi produk. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian pengembangan ini menggunakan instrumen pengumpulan data berupa angket atau kuisioner. Lalu untuk mengukur pendapat orang, peneliti menggunakan skala Likert. Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui hasil validasi dan hasil uji coba yaitu dengan membandingkan skor yang diperoleh dari responden dengan skor maksimal. Hasil pengembangan produk yang melalui langkah validasi media, validasi materi dan validasi praktisi pendidikan memperoleh temuan yaitu hasil validasi media sangat layak/valid (94,78%), hasil validasi materi sangat layak/valid (90%), dan hasil validasi praktisi pendidikan sangat layak/valid (96%). Sementara itu dalam penerapan media pembelajaran setelah melalui serangkaian uji coba kelompok kecil dan kelompok besar memperoleh kesimpulan akhir yaitu hasil uji coba kelompok kecil mendapatkan predikat sangat layak/valid (83,14%) dan hasil uji coba kelompok besar mendapatkan predikat sangat layak (84,91%). Berdasarkan hasil secara keseluruhan maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran video storyline materi nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran di kelas.   Kata Kunci : Media Pembelajaran, PPKn, Video Storyline    PENDAHULUAN Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam konteks pembangunan mental dan pembentukan identitas nasional. Melalui PPKn maka pembangunan nasional akan memiliki semangat yang berkarater dalam membangun peradaban melalui warga negara. Menurut Rahayu (2007:2) bahwa terdapat landasan filosofis dalam kandungan Pendidikan Kewarganegaraan yaitu membangun semangat kebangsaan warga negara dalam menghargai nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan sosial, cinta tanah air, kesadaran hukum dan kemampuan bela negara. Melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan karakter warga negara akan tumbuh menjadi warga negara yang mengerti makna pembangunan yang bermuara pada perilaku good citizenship. Tugas pokok Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu dalam rangka character building. Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran sangat penting bagi peserta didik untuk belajar membangun karakter yang menjiwai Pancasila melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Seperti yang dikemukakan oleh Toyib dan Nuryadi (2016:18) bahwa PPKn memiliki visi da misi untuk mengembangkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air pembinaan karakter seperti perilaku jujur, santu, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri. .Namun kegiatan pembelajaran PPKn seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan jarang pendidik membawa peserta didik pada pengalaman sebagai perwujudan warga negara yang baik. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nurdafillah dkk (2014:127) masih sering ditemukan sat penyampaian materi pada mata pelajaran PPKn guru masih menggunakna metode ceramah, bahkan dalam evaluasi guru masih sering menenkankan hafalan kepada peserta didik. Demikian maka penyampaian materi yang berkaitan dengan pembanguan karakter sebagai good citizenship dan penerapan nilai-nilai Pancasila akan lebih konkret dan mudah dipahami oleh peserta didik melalui kegiatan yang melibatkan pengalaman empirik. Maka dari itu agar tercipta kondisi dan suasana pembelajaran yang mampu membawa peserta didik memiliki semangat terhadap mata pelajaran PPKn, guru harus memaksimalkan sumber-sumber belajar yang tersedia seperti di sekolah, di lingkungan rumah tinggal, di lingkungan desa, dan berbagai tempat lainnya (Dzamarah, 2002:56). Sementara itu keberadaan ruang digital menjadi primadona terutama bagi pelajar. Wujud dari ruang digital yang lebih luas lagi adalah munculnya ruang sosial berbentuk digital yang baru yang disebut sebagai media sosial yang semakin meningkat setiap tahunnya. Berdasarakan laporan Tetra Pak Index tahun 2017, dari 132 juta pengguna internet sebanyak 40% penngguna media sosial dan ini meningkat dari tahun 2016 yang berkisar 51% dari 45 juta pengguna (Yudhianto, detik.com edisi 27 September 2017). Beberapa fitur media sosial mampu menarik minat remaja untuk menggunakannya seperti fitur video dan foto yang mampu menunjukkan eksistensi pengguna.  Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa saat ini sedang terjadi fenomena bahwa remaja khususnya akan lebih tertarik untuk melakukan interaksi melalui ruang digital. Media pembelajaran dalam bentu video telah ada sejak dahulu yang biasanya dikemas dalam bentuk film atau cerita pendek. Selanjutnya video yang akan dikembangkan akan dikemas dalam bentuk media yang menampilkan perpaduan antara materi nilai-nilai Pancasila dengan contoh video yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Adanya video dalam substansi materi diharapkan dapat membantu peserta didik untuk memahami materi secara kontekstual. Terdapat hasil penelitian terdahulu terkait media pembelajaran video oleh Widayati (2013:110) dengan judul “Pengembangan Media Pembelajaran Video Pembalajaran Geografi pada Materi Pelestarian Lingkungan Hidup Kelas XI IPS di SMAN 2 Gresik”. Dalam penelitian tersebut ditemukan masalah bahwa geografi memiliki materi yang kompleks sehingga guru dituntut untuk kreatif dalam pembelajaran serta nilai siswa yang cederung turun ketika pembelajaran hanya bersifat visual saja. Hasil yang diperoleh setelah media pembelajaran video diterapkan menunjukkan respon siswa terhadap media ini dalam kategori kuat yaitu sebesar 78,14 % serta hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan. Maka dengan ini media pembelajaran video yang telah dikembangkan mendapat mendapat nilai kelayakan sebesar 83,33 %. Terinspirasi oleh fitur video atau tayangan yang konstekstual dalam pembelajaran serta hasil analisis penelitian terdahulu tentang media pembelajaran video maka tercetuslah rancangan media pembelajaran Video Story Line. Namun media pembelajaran Video Story Line yang akan dikembangkan nantinya tidak meninggalkan materi yang bersifat tekstual. Media pembelajaran Video Story Line dirancang dengan kombinasi praktik pengamalan nilai-nilai pancasila. Sehingga media pembelajarn Video Story Line akan memenuhi aspek tekstual dan kontekstual. Sehingga ini menjadi kelebihan daripada media pembelajaran yang akna dikembangkan. Berdasarkan hasil paparan di atas, maka peneliti akan mengembangkan media pembelajaran audio visual berupa media pembelajaran Video Story Line. Jenis penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah penelitian dan pengembangan dengan judul “ Pengembangan Media Pembelajaran Video Story Line dalam Pengamalan Pancasila pada Materi Nilai Nilai Pancasila dalam Praktik Penyelenggaraan Pemerintahan Negara bagi Siswa Kelas X SMKN 1 Kediri”   METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan merupakan suatu langkah untuk mengembangkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada sebelumnya (Sukmadinata, 2013:164).  Penelitian dan pengembangan ini secara procedural terdiri dari beberapa tahap mulai dari (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk. Keterbatasan waktu yang menyebabkan pengambilan langkah penelitian dan pengembangan hanya menggunakan tujuh langkah. Mengenai prosedur penelitian dan pengembangan ini dapat diuraikan dalam langkah-langkah berikut ini. Gambar 3.1 Langkah-langkah Model Penelitian dan Pengembangan Langkah-langkah tersebut mengadaptasi dari Sugiyono (2016:298) bahwa terdapat 10 langkah, yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain (6) ujicoba produk, (7) revisi produk (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi massal.   3.2.1 POTENSI DAN MASALAH Langkah awal yang dilakukan peneliti dalam tahapan penelitian dan pengembangan yaitu dengan menganalisis potensi dan masalah dalam pembelajaran PPKn siswa kelas X SMKN 1 Kediri. Menurut Sugiyono (2016: 298-299) bahwa potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah, sedangkan masalah adalah penyimpangan antara harapan dengan kenyataan yang sebenarnya. Penelitian dan pengembangan ini terdapat proses yang dijalankan dengan melakukan identifikasi terhadap potensi dan masalah pada subjek penelitian. Dalam kaitannya pada proses pembelajaran, identifikasi potensi merupakan identifikasi tentang kelebihan dalam proses pembelajaran. Identifikasi masalah merupakan identifikasi masalah-masalah yang terjadi atau timbul dalam proses pembelajaran sehingga dapat diketahui cara dalam mengatasi masalah tersebut. Perkembangan pembelajaran di tingkat Sekolah Menengah Atas dapat dibilang pesat dengan ditandai berkembangnya Information and Communication Technology (ICT) di tiap sekolah. Keberadaan ICT di sekolah juga didukung dengan adanya ruang berupa laboratorium computer. Selain itu juga saat ini peserta didik banyak yang memiliki dan /atau membawa laptop untuk menunjang belajar mereka di sekolah. Apalagi saat ini dengan berkembangnya ICT, setiap sekolah telah dilengkapi fasilitas wifi atau hotspot area. Pendayagunaan ICT di Sekolah Menengah Atas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Asumsi penting terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sering dibilang membosankan dan kurang menarik bagi sebagian peserta diidk tentu dapat teratasi dengan memanfaatkan instrument ICT supaya pembelajaran lebih inovatif dan kontekstual karena dapat memberikan pemahaman konkret kepada peserta didik. Saat ini memanfaatkan ICT dengan berbagai kelebihannya sudha harus dimaksimalkan oleh setiap pendidik terutama sebagai media pembelajaran. melalui media pembelajaran yang inovatif tetntu dapat membantu pendidik untuk memberikan gambaran yang lebih realistis dan kontekstual terhadap materi-materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SMKN 1 Kediri serta asumsi bahwa peneliti adalah alumni SMKN 1 Kediri yang sudah barang tentu mengenal lingkungan pembelajaran di SMKN 1 Kediri bahwa sekolah tersebut memiliki potensi fasilitas computer, laptop, dan jaringan internet yang memadahi. Selain itu juga belum banyak guru mata pelajaran PPKn yang memanfaatkan fasilitas yang tersedia dengan maksimal guna menunjang kegiatan pembelajaran. Pada pembelajaran seringkali guru menggunakan media pembelajaran verbal sehingga membuat peserta didik kesultan memahami dan cenderung cepat bosan. Pada materi yang bersinggungan dengan aktualisasi nilai-nilai Pancasila seringkali hanya disampaikan secara verbal tanpa ditunjukkan secara konkret seperti apa penerapan nilai-nilai Pancasila yang dimaksud. Sehingga pemahaman peserta didik hanya sebatas pada aspek kognitif saja belum sampai pada tindakan aktualisasi nilai-nilai tersebut. Maka dari itu pembelajan nilai-nilai Pancasila harus ditampilkan secara kontekstual dan konkret agar peserta didik dapat memahami dan  melanjutkan pemahamannya dengan tindakan nyata. Terdapat cara supaya peserta didik dapat memahami dan selanjutnya menerapkan nilai-nilai Pancasila yaitu dengan menampilkan model pembelajaran yang kontekstual melalui media pembelajaran dalam bentuk video dengan desain tampilan yang menarik, dalam hal ini media pembelajaran Video Storyline.   3.2.2 PENGUMPULAN DATA Tahap kedua yang dilakukan dalam pengembangan media pembelajaran Video Story Line yaitu mengumpulkan data atau informasi. Tahap ini bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi yang diperlukan tentunya yang berkaitan dengan pengembangan materi dan media. Upaya untuk mencari solusi terhadap potensi dan masalah yang muncul maka dilakukan pengumpulan data yang digunakan untuk memberikan solusi dengan mengembangkan suatu produk yang dibuat. Tahap pengumpulan data ini, peneliti mencari informasi untuk pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan wawancara pada kelas X SMKN 1 Kediri tentang proses pembelajaran, sumber belajar dan masalah pada saat pembelajaran, selanjutnya melakukan wawancara dengan guru PPKn kelas X SMKN 1 Kediri untuk mendapatkan informasi dan mengkonfirmasi pendapat siswa terhadap masalah pada saat proses pembelajaran, sehingga mendapatkan solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi pada saat pembelajaran. Hasil wawancara guru dan siswa dijadikan pedoman awal dalam memilih dan menentukan materi dan media yang akan dibuat. Berdasarkan pegumpulan data yang diperoleh maka peneliti mendapatkan data/informasi mengenai pengembangan materi dan pengembangan media yang dijelaskan sebagai berikut:   a. Data untuk Pengembangan Materi Kompetensi Inti Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleransi, damai), santun, responsive dan pro aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, keangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.   Kompetensi Dasar 1.1 Mensyukuri nilai-nilai Pancasila dalam praktik oenyelenggaraan pemerintahan negara sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Tuhan yang Maha Esa 2.1 Menujukkan sikap gotong royong sebagai bentuk penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3.1 Menganalisis analisis nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara 4.1 Menyaji hasil analisis nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara   Indikator 1.1.1 Menunjukkan sikap beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa terhadap praktik penyelenggaraan pemerintah negara sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa 2.1.1 Menunjukkan sikap peduli terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3.1.5 Menjelaskan nilai-nilai Pancasila   Tujuan Pembelajaran 1.1.1.1 Menunjukkan sikap beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa terhadap praktik penyelenggaraan pemerintah negara sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa 2.1.1.1 Menunjukkan sikap peduli terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara 3.1.5.2 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa 3.1.5.3 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 3.1.5.4 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Persatuan Indonesia 3.1.5.5 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan 3.1.5.6 Menjelaskan nilai-nilai dari sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia   Materi Pokok Adapun materi pokok yang diambil untuk pengembangan media pembelajaran ini adalah aktualisasi nilai-nilai Pancasila. b. Data untuk Pengembangan Media Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada siswa kelas X SMKN 1 Kediri serta guru mata pelajaran PPKn diperoleh informasi bahwa selama ini guru hanya menggunakan metode pembelajaran secara verbal sehingga siswa seringkali merasa bosan, mudah mengantuk dan tidak bersemangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. hasil wawancara kepada siswa diperoleh informasi bahwa siswa cenderung lebih senang terhadap metode pembelajaran yang dirancang guna menarik perhatian siswa, seperti halnya dengan menampilkan tayangan video, dll. Berdasarkan data dan informasi tersebut diatas peneliti mengembangkan media pembelajaran Video Storyline dengan memanfaatkan bantuan software yang sudah ada yaitu Articulate Storyline 3. Software ini dipilih karena pengoperasian yang tegolong mudah. Dalam proses pembuatan media pembelajaran ini peneliti juga mengunjungi laman web Articulate Storyline 3 (https://articulate.com/p/storyline-3) guna mendapatkan informasi tambahan untuk penggunaan software ini.   3.2.3 DESAIN PRODUK Produk media pembelajaran Video Story Line berupa tampilan materi berbentuk slide yang didalamnya terdapat video pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan format (.swf). Video pengamalan nilai0nilai Pancasila terdapat dalam salah satu menu yang menjadi sajian inti dari media pembelajaran video storyline. Peralatan yang dibutuhkan dalam menunjang media tersebut antara lain komputer/laptop/tablet PC. Langkah yang dilakukan untuk membuat desain media pembelajaran video Storyline yaitu (a) membuat desain konsep media Video Story Line, tertera pada gambar 3.2 , (b) membuat storyboard media, tertera pada lampiran 13, (c) membuat secara utuh media pembelajaran Video Story Line menggunakan Articulate Story Line 3. Gambar 3.2 Desain Konsep Media Pembelajaran Video Story Line Gambar 3.2 diatas merupakan desain konsep tampilan yang akan menjadi gambaran media pembelajan Video Story Line. Pada gambar 3.2 tersebut tergambar bahwa tampilan media terdiri dari beberapa menu. Halaman utama merupakan tampilan pembuka pada media, kemudian terdapat halaman apersepsi yang berisi video yang bertujuan untuk mengarahkan peserta didik pada materi yang akan disampaikan. Terdapat beberapa menu, yaitu (a) KI, KD, Indikator dan Tujuan, (b) Nilai-nilai Pancasila, (c) Video Story Line, (d) Latihan soal dan tantangan, dan (e) Referensi. Selanjutnya desain konsep navigasi digunakan sebagai acuan untuk pembuatan storyboard, yaitu rancangan desain dan tata letak beserta konten media pembelajran yang akan dimuat. Desain storyboard ini nantinya menjadi acuan dalam pembuatan media pembelajaran Video Story Line secara utuh. Desain Storyboard ditampilkan pada lampiran 13.   3.2.4 VALIDASI DESAIN Pada tahap ini, peneliti selanjutnya melakukan uji coba validasi desain kepada ahli materi PPKn, ahli media pembelajaran, dan ahli praktisi pendidikan. Terlebih dahulu peneliti membuat instrumen penilaian kelayakan media pembelajaran Video Story Line. Instrumen yang digunakan adalah angket atau kuisioner. Terdapat dua angket yang digunakan yaitu angket validasi materi dan angket validasi media. Angket validasi yang akan dibuat berdasarkan acauan referensi yang relevan. Pada tahap ini bertujuan untuk mengukur kelayakan produk Video Story Line dan mengetahui kekurangan dari produk yang akan dikembangkan. Validasi desain akan dilakukan dengan melibatkan dosen Teknologi Pendidikan (TEP) Fakultas Ilmu Pendidikan dan validasi materi oleh dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta melibatkan guru PPKn kelas X SMKN 1 Kediri. Instrument yang digunakan adalah angket (kuisioner). Terdapat dua instrument angket yang digunakna yaitu angket validasi media dan angket validasi materi. Instrument angket validasi dibuat dengan memperhatikan berbagai bahan referensi yang akurat dan relevan terhadap perkembangan pembelajaran. pada angket validasi media terhadap empat aspek kriteria penilaian yang dijabarkan kedalam dua pulu tiga indicator. Aspek tersebut antara lain kelayakan isi media, desain layar dan tampilan, efektifitas dan kebermanfaatan, dan kegrafisan dan elemen-elemen desain (selengkapnya pada Lampiran 2 dan 3). Kemudian angket validasi materi terdapat empat aspek kriteria penilaian yang dijabarakan kedalam dua puluh indicator. Aspek tersebut antara lain kesesuaian kurikulum dan materi, konten/isi materi, komponen kebahasaan, dan relevansi dan keakuratan.   3.2.5 REVISI DESAIN Tahap revisi desain dilakukan dengan cara memperbaiki desain media pembelajaran Video Story Line berdasarkan saran dari hasil validasi ahli media, ahli materi dan praktisi pemdidikan. Diharapkan hasil dari revisi desain dapat menjadikan media pembelajaran Video Story Line lebih menarik dan siap untuk diujicobakan. Revisi diambil berdasarkan kritik dan saran yang diperoleh dari ahli media, ahli materi dan praktisi pendidikan. Hasil a

    MENGATASI LEMAHNYA BIROKRASI PENGGAJIAN DI INDONESIA

    No full text
    MENGATASI LEMAHNYA BIROKRASI PENGGAJIAN DI INDONESIA Kholisatul Mar’ah UniversitasNegeri Malang Jalan Semarang Nomor 5 Surel: [email protected]   Abstrak Pada artikel ini disajikan informasi mengenai solusi mengatasi birokrasi penggajian di indonesia. Solusi tersebut meliputi upaya upaya penanganan birokrasi penggajian di kalangan pegawai negeri dan pemerintahan. Solusi ini yang dapat merubah pelaksanaan birokrasi penggajian di indonesia. Hasil akhir dari artikel ini agar sedikitnya mengurangi permasalahan penggajian yang tidak setabil di indonesia, yaitu menghindari adanya praktik korupsi atau penyelewengan dana atau gaji para pegawai negri dan pegawai di tingkat pemerintahan. Birokrasi ini sangatlah membantu untuk berlangsungnya penggajian di indonesia. Pemerintah modern biasanya menggunakan birokrasi penggajian untuk sistem administrasi. ‘’birokrasi adalah suatu tipe organisasi yang dipergunakan pemerintah modern untuk melaksanakan tugas-tugasnya yang bersifat spesialis, dilaksanakan dalam sistem administrasi dan khususnya oleh aparatur pemerintah’’ ( Marx,op cit:12). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Max weber ada satu karakteristik birokrasi ‘’Drajat spesialisasi tinggi yaitu setiap anggota birokrasi harus memiliki profesionalisme dan kecakapan teknik yang tinggi dalam menjalankan tugasnya’’. Kartasapoetra (1989:2) beranggapan bahwa ‘’Birokrasi adalah pelaksanaan perintah pemerintah secara organisatoris yang harus dilaksanakan sedemikian rupa dan secara sepenuhnya pada pelaksanaan pemerintah melalui instansi-instansi atau kantor-kantor’’. Maka dari itu birokrasi harus berlangsung secara maksimal agar tercipta negara yang makmur. Di Indonesia aspek budayanya kurang kompetensi yang dimiliki anggota instansi pemerintah. Salah satu penyebabnya juga pada peraturan yang berubah-ubah membuat ketidak efektifan hukum pemerintah sendiri dalam pelaksanaannya kurang tegas dalam penegakan aturan dan prosedur-prosedur hukum. Dampak yang ditimbulkan pada birokrasi yang tidak dilakukan secara maksimal juga dapat berpengaruh pada kinerja pemerintah akibat tidak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, banyaknya terjadi praktik korupsi dikalangan pemerintah membuat ketidak percayaan semakin meningkat, dan dapat menjadi faktor penghambat efektifitas dan efesiensi bagi pelaksanaan kebijakan pemerintah dilapangan. Banyak contoh kasus birokrsi penggajian yang menyimpang terutama dikalangan pejabat, dari pelanggaran kecil sampai pelanggaran berat. Seperti contohnya penggajian  pegawai negri tidak sesuai dengan porsinya. Adanya suap menyuap antar calon pegawai dengan pihak birokrasi yang mengakibatkan penerimaan pegawai tidak berdasarkan prestasi. Dari berbagai kasus pemerintah seharusnya membangun birokrasi penggajian berdasarkan ketentuan hukum dengan struktur penggajian yang menghargai para pegawai negri atas kejujurannya dalam bekerja. Rekruitmen pegawai sebaiknya berdasarkan prestasinya dan melakukan sistem promosi sehingga dapat mencegah terjdinya interverensi politik. Untuk penerimaan pegawai sebaiknya dikurangi, pemerintah sebaiknya memperkuat monitoring dan mekanisme hukuman bagi koruptor.   BAHASAN Pada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai , (1) konsep dasar, (2) lengkap implementasi, (3) kelebihan dan kekurangan birokrasi.   Konsep Dasar Birokrasi Penggajian Menurut (Marx,op:cit:12) Birokrasi merupakan suatu tipe organisasi yang dipergunakan pemerintah modern untuk melaksanakan tugas-tugasnya yang bersifat spesialis, dilaksakan dalam sistem administrasi dan khususnya oleh aparat pemerintah. Birokrasi sangatlah penting bagi berlangsungnya suatu negara, dan berlagsungsungnya suatu organisasi di negara yang menganut pemerintah modern. Birokrasi ini di terapkan di suatu kalangan pejabat pemerintahan, adanya birokrasi ini agar keungan negara tertata rapi dan sistem pemerintahannya tertata dengan rapi. Sehingga adanya birokrasi ini dapat mencetak pejabat pemerintahan yang dapat mengatur administrasi negara dengan baik. Birokrasi penggajian memiliki beberapa ciri, yaitu pegawai negri menerima gaji tetap sesuai dengan dengan pangkat atau kedudukan. Pemilihan pegawainya ditentukan melalui kualifikasi teknik yang ditunjukkan dengan ijazah atau ujian.   Langkah-langkah Tahap implementasi birokrasi penggajian pada tahap implementasi ini dijabarkan mengenai (1) tahap pelaksanaan birokrasi penggajian , (2) tahap implementasi birokrasi penggajian, (3) tahap evaluasi birokrasi penggajian. Pada tahap pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan yaitu dengan mengontrol birokrasi penggajian dan keuangan negara. Pengontrolan dapat dilakukan dengan memeriksa data yang akurat agar tidak terjadi penyelewengan. Tahap implementasi terdiri dari dua langkah, yaitu perlu dilakukan untuk menerapkan birokrasi penggajian dan mengontrol birokrasi penggajian. Hal ini agar terciptanya kesetabilan birokrasi penggajian. Tahap evaluasi dapat dilakukan dengan cara menyebarkan angket tentang birokrasi penggajian yang disebar pada seluruh kalangan pejabat pemerintah. Agar pemerintah mengetahui bahwa pentingnya birokrasi penggajian di suatu negara.   Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan dari adanya birokrasi penggajian adalah, dapat mensejahterakan pegawai negeri agar tidak korupsi. Dapat meningkatkan kinerja para pegawai dalam melaksanakan tugas, dan dapat meningkatkan propesionalisme kinerja pegawai. Kekurangan dari adanya birokrasi penggajian adalah sulitnya pelaksanaan birokrasi penggajian yang mengakibatkan terhambatnya birokrasi. Hal ini sangat berpengaruh dalam pelaksanaan birokrasi.   SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Birokrasi sangatlah penting untuk kelangsungan suatu negara agar tidak terjadi kekacauan administrasi. Oleh karena itu perlu diadakan pengontrolan birokrasi penggajian dikalangan pejabat pejabat agar tidak terjadi kekacauan administrasi. Birokrasi penggajian dapat diterapkan pada pejabat negara dan pegawai negri sipil. Tahap yang dilaksanakan pada birokrasi penggajian dibagi menjadi tiga, thap pelaksanaan, tahap implementasi, tahap evaluasi. Tahap pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan, yaitu mengontrol keuangan, dan merencanakan birokrasi penggajian. Selanjutnya adalah tahap implementasi terdiri dari dua langkah yang perlu dilakukan adalah penerapan birokrasi penggajian, mengontrol birokrasi penggajian. Tahap trakir adalah tahap evaluasi yang dilakukan dengan cara penyebaran angket birokrasi penggajian. Birokrasi penggajian memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan adalah dapat mensejahterakan pegawai negri agar tidak korupsi, dapat meningkatkan kinerja pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Dan selanjutnya dapat meningkatkan propesionalisme kinerja  pegawai. Edangkan kekurangannya adalah sulitnya pelaksanaan birokrasi penggajian secara maksimal.   Saran Birokrasi penggajian merupakan langkah yang efektif untuk mengatasi lemahnya administrasi di indonesia. Olehkarena itu pemerintah harus menerapkan birokrasi penggajian dikalangan aparat pemerintah dan pegawai-pegawenya, agar tidak terjadi banyak penyelewengan dikalangan pemerintah. Birokrasi ini sangat bermanfaat bagi berlangsungnya administrasi di indonesia. Maka dari itu sebaiknya pemerintah menerapkan birokrasi ini secara maksimal. Agar terciptanya birokrasi penggajian yang diinginkan oleh suatu negara.   DAFTAR RUJUKAN Santoso, Panji. 2008. Administrasi Publik. Bandung: PT. Rafika Aditama Albrow, Martin. Cet.3, 2004. Birokrasi. Yogyakarta: PT.Tiara Wacan

    MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK PAIR AND SHARE) DALAM MATA PELAJARAN PPKN SISWA KELAS X-TKJ SMK PGRI 2 KOTA MALANG

    No full text
    MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK PAIR AND SHARE) DALAM MATA PELAJARAN PPKN SISWA KELAS X-TKJ SMK PGRI 2 KOTA MALANG Nike Dwi Puspita Putri Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang Jl Semarang No. 5 Malang email : [email protected]   Abstrak : Pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas memang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Namun pada kenyataanya, guru belum optimal dalam meningkatkan prestasi belajar siswa X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang. Tingkat ketuntasan belajar siswa X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang masih dibawah standar ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh sekolah untuk mata pelajaran PPKn dikarenakan siswa tidak fokus pada materi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, kebanyaakan siswa asik mengobrol sendiri dan celometan ketika guru menerangkan materi pembelajaran. Sebagai upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran maka peneliti menggunakan model pembelajaran Think Pair and Share. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menjelaskan penerapan model pembelajaran TPS dalam mata pelajaran PPKn, (2) untuk menggambarkan aktivitas guru dan siswa dalam penerapan model pembelajaran TPS terhadap siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang, (3) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang dengan menggunakan model pembelajaran TPS dalam mata pelajaran PPKn. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian ini menggunakan metodelogi dengan pendekatan kualitatif. Analisis dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi pada siswa dan guru. Analisis data yang akan digunakan dalam  penelitian ini ada tiga fase yaitu, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dalam matapelajaran PPKn pada penelitian ini sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran tersebut. Aktivitas guru mengalami peningkatan dari kriteria baik menjadi sangat baik. Sedangkan aktivitas siswa menjawab benar dan lengkap dari (31%) 9 siswa mengalami peningkatan menjadi (55%) 16 siswa. Hasil prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dan menunjukkan prestasi belajar siswa dari pretes sampai tes akhir tiap siklus sudah mencapai ketuntasan belajar klasikal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 80% siswa dikelas yang tuntas diatas KKM. Maka model pembelajaran Think Pair and Share dapat meningkatakan prestasi belajar siswa pada matapelajaran PPKn pada kelas X TKJ di SMK PGRI 2 Kota Malang. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, hendaknya guru mampu memberikan waktu yang cukup untuk penelitian demi peningkatan mutu pembelajaran. Selain itu siswa diharapkan mampu mengikuti setiap tahap dalam model pembelajarab Think Pair and Share untuk meningkatkan keaktifan siswa. Bagi peneliti yang akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model pembelajaran Think Pair and Share, hendaknya mempersiapkan segala sesuatu dengan baik dan komunikasi dengan guru pamong yang akan membantu dalam proses penelitian.   Kata Kunci : Model Pembelajaran, Think Paid and Share, Prestasi Belajar   LATAR BELAKANG Berdasarkan hasi observasi selama KPL pada tanggal 18 Oktober 2018 di SMK PGRI 2 Kota Malang terdapat permasalahan dalam proses belajar mengajar. Rata- rata siswa kelas X di SMK PGRI 2 Kota Malang, khususnya siswa kelas X TKJ yang menjadi subjek penelitian memiliki kemampuan yang masih kurang optimal yaitu tingkat ketuntasan belajar masih dibawah standar ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh sekolah untuk mata pelajaran PPKn dikarenakan siswa tidak fokus pada materi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, kebanyaakan siswa asik mengobrol sendiri dan celometan ketika guru  menerangkan materi pembelajaran. Jika dibiarkan terus-menerus maka hal tersebut akan menjadi kebiasaan buruk siswa sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PPKn menjadi tidak optimal. Hal ini dilihat dari nilai ulangan harian kelas X TKJ dari kompetensi dasar sebelumnya didapatkan bahwa dari 29 siswa, 14 anak mendapatkan nilai dibawah 70. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMK PGRI 2 Malang memiliki Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 70 yang sudah di tetapkan oleh sekolah. Siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar klasikal apabila 80% dari siswa di kelas sudah mencapai nilai diatas 70. Penyebab hal tersebut adalah gaya mengajar guru dalam proses pembelajaran. Guru masih menggunakan metode ceramah saat mengajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang. Dengan menggunakan metode ceramah dan penugasan yang selama ini diterapkan oleh guru, ternyata belum bisa membentu siswa dalam pemahaman materi mata pelajaran PPKn. Guru juga belum bisa menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan, sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran menjadi kurang aktif dan menciptakan suasana kelas yang membosankan. Kondisi belajar yang demikian membuat kualitas proses pembelajaran belum tercapai dan hasil prestasi belajar siswa belum mencapai ketuntasan belajar klasikal yang ditetapkan oleh sekolah. Sebagai upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran maka peneliti menggunakan model pembelajaran yang sifatnya melibatkan kelompok kecil yang saling bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Di mana dalam pembelajaran ini siswa lebih aktif belajar bersama untuk saling membantu dalam memecahkan masalah dan mengeluarkan pendapat terhadap teman sekelompoknya. Model pembelajaran yang akan diterapkan kepada siswa kelas X TKJ di SMK PGRI 2 Kota Malang adalah model pembelajaran TPS (Think Pair and Share). Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. (Trianto, 2010:81). Penerapan model pembelajaran TPS (Think Pair and Share) di SMK PGRI 2 Kota Malang khususnya mata pelajaran PPKn kelas X TKJ diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.   RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka secara terperinci masalah yang akan diteliti adalah meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang melalui penerapan model pembelajaran TPS dalam mata pelajaran PPKn. Dari masalah di atas maka dapat diperoleh rumusan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana penerapan model pembelajaran TPS dalam mata pelajaran PPKn ? 2. Bagamana aktivitas guru dan siswa dalam penerapan model pembelajaran TPS pada mata pelajaran PPKn siswa kelas X TKJ di SMK PGRI 2 Kota Malang? 3. Bagaimanakah prestasi belajar siswa kelas X TKJ di SMK PGRI 2 Kota Malang dalam model pembelajaran TPS ?   TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian yang dilakukan pada siswa SMK PGRI 2 Kota Malang kelas X TKJ dengan menggunakan model pembelajatan TPS adalah sebagai berikut : 1. Untuk menjelaskan penerapan model pembelajaran TPS dalam mata pelajaran PPKn 2. Untuk menggambarkan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran TPS terhadap prestasi belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang 3. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang dengan menggunakan model pembelajaran TPS dalam mata pelajaran PPKn.   METODE PENELITIAN Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu kegiatan penelitian yang berkonteks kelas yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru dalam pembelajaran demi peningkatan mutu dan  hasil pembelajaran (Widayati, 2008). Dalam penelitian ini digunakan metodelogi dengan pendekatan kualitatif. Kehadiran peneliti pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai perencana, pemberi tindakan, pengumpul data, penganalisis data dan sekaligus sebagai pembuat laporan hasil penelitian. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMK PGRI 2 Kota Malang. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2019. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TKJ di SMK PGRI 2 Kota Malang. Data yang akan didapatkan berasal dari aktifitas belajar siswa, aktifitas guru dan hasil prestasi belajar siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Data diperoleh melalui observasi dan catatan lapangan dari pelaksanaan pembelajaran menggunakan RPP yang dirancang dengan model pembelajaran PTK dan prestasi belajar siswa diperoleh melalui tes pada akhir siklus I dan II. Sumber data penelitian ini ialah guru mata pelajaran PPKn yaitu Bapak Suhaimi yang akan memberikan data mengenai pelaksanaan pembelajaran PPKn, Siswa kelas X TKJ yang akan memberikan data mengenai pelaksanaan penerapan model pembelajaran TPS (Think Pair and Share) dan dokumen meliputi data profil sekolah, foto saat proses pembelajaran berlangsung, RPP, dan hasil nilai prestasi belajar siswa. Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model alir (flow model) yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2009) yaitu ada tiga fase dalam mengalisis data (1) Reduksi data, (2) Penyajian data, (3) Penarikan Kesimpulan.   HASIL PENELITIAN 1. Temuan Siklus I Temuan-temuan penelitian pada pelaksanaan tindakan di siklus I dapat diuraikan sebagai berikut a. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair and Share 1) Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share di siklus I sesuai dengan RPP yang telah dibuat. 2) Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dilakukan secara berkelompok kepada siswa dalam matapelajaran PPKn dan hasil diskusi dibacakan perwakilan perkelompok. 3) Penerapan model pembelajran Think Pair and Share, pada siklus I saat diskusi masih banyak siswa yang ramai atau asik mengobrol dengan temannya. b. Aktivitas Guru dan Siswa 1) Aktivitas guru Aktivitas guru dalam model pembelajaran Think Pair and Share pada siklus I yaitu guru melakukan aktivitas sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat untuk matapelajaran PPKn. Aktivitas guru pada siklus I terdapat masih banyak kegiatan yang cukup terlaksana belum telaksana dengan baik. Pada siklus I aktivitas guru dikatakan dalam kriteria baik. 2) Aktivitas siswa Aktivitas siswa pada siklus I yaitu menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share. Siswa menjawab dan menyampaikan hasil diskusi yang telah diberikan oleh guru. Hasil aktivitas siswa diketahui (31%) 9 siswa menjawab benar dan lengkap. c. Hasil Prestasi Belajar Hasil tes akhir tindakan yang diperoleh dari siklus I mengalami peningkatan yang baik dari hasil pre tes yaitu (31%) 9 siswa yang tuntas diatas KKM. Dari jumlah kesuluruhan siswa memperoleh nilai rata-rata 68. Hasil tes akhir siklus I yaitu (52%) 15 siswa yang tuntas diatas KKM. Dari jumlah nilai keseluruhan siswa memperoleh nilai rata-rata 73.   2. Temuan Siklus II Beberapa temuan penelitian selama pelaksanaan tindakan siklus II adalah sebagai berikut. a. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair and Share 1) Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang disusun dalam RPP dan mengalami peningkatan proses pembelajaran disiklus II. 2) Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dilakukan secara berkelompok kepada siswa dalam matapelajaran PPKn dan hasil diskusi dibacakan satu-persatu tiap anggota kelompok. 3) Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share secara berkelompok berjalan dengan tertib dan tenang, dimana siswa sudah terbiasa dalam berdiskusi dan menyampaikan pendapat. b. Aktivitas Guru dan Siswa 1) Aktivitas guru Aktivitas guru dalam model pembelajaran Think Pair and Share pada siklus I yaitu guru melakukan aktivitas sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat untuk matapelajaran PPKn. Pada siklus II kegiatan aktivitas guru mengalami peningkatan, dari kegiatan yang cukup terlaksana pada siklus I menjadi terlaksana dengan baik pada siklus II. Maka hasil dari aktivitas guru pada siklus II termasuk kriteria sangat baik. 2) Aktivitas siswa Aktivitas siswa pada siklus I yaitu menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share. Siswa menjawab dan menyampaikan hasil diskusi yang telah diberikan oleh guru. Aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus II yaitu pada siklus I terdapat (31%) 9 siswa menjawab benar dan lengkap, sedangkan pada siklus II terdapat (55%) 16 siswa menjawab benar dan lengkap. c. Hasil Prestasi Belajar Hasil tes akhir tindakan yang diperoleh dari siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan penguasaan siswa mengenai materi pada kompetensi dasar Intregrasi Nasional dalam Bingkau Bhineka Tunggal Ika telah meningkat. Pada pre tes yaitu (31%) 9 siswa yang tuntas diatas KKM. Dari jumlah nilai keseluruhan siswa mendapatkan nilai rata-rata 68. Pada tes akhir siklus I yaitu (52%) 15 siswa yang tuntas diatas KKM. Dari jumlah nilai keseluruhan siswa mendapatkan nilai rata-rata 73. Sedangkan pada tes akhir siklus II yaitu (83%) 24 siswa yang tuntas diatas KKM. Dari jumlah nilai keseluruhan siswa mendapatkan nilai rata-rata 80. Berarti prestasi belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus ini. PEMBAHASAN a. Penerapan Model Pembelajaran TPS (Think Pair and Share) dalam Matapelajaran PPKn Think Pair and Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas (Komalasari, 2011: 64). Penelitian menerapkan model pembelajaran Think Pair Share pada matapelajaran PPKn untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman sehingga dapat meningkatkan pemahaman serta prestasi belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang. Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dilakukan sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran Think Pair and Share. Hasil pemikiran secara individu pada tahap think, kemudian didiskusikan lagi dengan pasangannya pada tahap pairing dan menyampaikan jawaban kepada seluruh kelas pada tahap sharing dapat membuat siswa memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berpikir, merespon dan saling membantu sehingga siswa dapat belajar lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung kepada guru.Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dalam matapelajaran PPKn yang sudah diterapkan oleh peneliti diperoleh kelebihan dari model pembelajaran yaitu (1) meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran, (2) interaksi antar pasangan saat berkelompok menjadikan siswa lebih aktif saat proses pembelajaran, (3) menimbulkan kepercayaan diri siswa dalam mempresentasikan jawaban, (4) siswa terlibat langsung saat proses pembelajaran berlangsung, (5) siswa akan terlatih dalam memecahkan masalah karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan kelompoknya. Model pembelajaran Think Pair and Share pada penelitian ini terbagi menjadi dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dilakukan sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan model pembelajaran, peneliti mendapati siswa yang masih tidak memperhatikan dan bercanda sendiri dengan teman lainnya pada saat penerapan model pembelajaran Think Pair and Share di siklus I. Maka untuk mengatasi masalah tersebut model pembelajatan Think Pair and Share pada siklus I saat penyampaian hasil diskusi dibacakan perwakilan perkelompok namun pada saat siklus II penyampaian hasil diskusi dilakukan satu-persatu setiap anggota. Setelah  penerapan model pembelajaran Think Pair and Share di siklus II diterapkan, terlihat ada perkembangan yaitu siswa yang kurang aktif dan tidak memperhatikan menjadi lebih aktif dan mulai memperhatikan saat model pembelajaran Think Pair and Share diterapkan. Maka penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dalam matapelajaran PPKn tiap siklus mengalami peningkatan.   b. Aktivitas Guru dan Siswa dalam Model Pembelajaran TPS 1. Aktivitas Guru Guru pada kegiatan pembelajaran ini telah menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share kepada siswa dengan kompetensi dasar menganalisis faktor-faktor pembentuk integrasi nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini berkaitan dengan tujuan dari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu agar siswa memiliki kemampuan berfikir secara kritis, nasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan (Depdiknas, 2006). Peran guru sangatlah penting di dalam proses pembelajaran. Guru memfungsikan dirinya sebagai mediator, innovator, dan fasilitator. Aktivitas yang dilakukan guru yaitu mengecek kesiapan siswa, membimbing siswa menyelesaikan tugas, mengajukan pertanyaan untuk mengecek pemahaman siswa, memberikan kesempatan siswa untuk bertanya, presentasi, dan mengemukakan pendapatnya melalui model pembelajaran Think Pair and Share. Dalam hal ini peneliti berperan langsung sebagai guru pengajar untuk menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share. Guru melakukan aktivitas sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat untuk matapelajaran PPKn. Tahap awal yaitu guru melakukan aktifitas rutin diawal tatap muka (memberi salam,berdoa dan presensi), memotivasi siswa, menyempaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tujuan diungkapkan dengan bahasa yang mudah dipahami, meriview materi sebelumnya dan memberikan pre tes kepada siswa sebelum diterapkannya model pembelajaran Think Pair and Share untuk mengetahui hasil prestasi belajar sebelum diterapkannya model tersebut. Tahap inti yaitu guru menjelaskan materi yang akan dipelajari, memberikan kesempatan siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami, menjawab pertanyaan siswa mengenai materi yang belum dipahami, menjelaskan tata cara dengan menggunakan model pembelajaran  Think Pair and Share, menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share, mengamati dan membimbing siswa, memberikan tes akhir kepada siswa. Tahap akhir menyimpulkan materi pembelajaran yang diajarkan dan mengakhiri pertemuan dengan berdoa, memberi salam. Hasil observasi yang telah dilakukan observer yaitu bapak R. Suhaimi saat peneliti berperan sebagai guru yang melangsungkan proses belajar mengajar di kelas X TKJ SMK PGRI 2 Malang. Aktivitas guru dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair and Share yang telah dilaksanakan mengalami peningkatan. Kegiatan aktivitas guru yang cukup terlaksana pada siklus I menjadi terlaksana dengan baik pada siklus II. Aktivitas guru mengalami peningkatan dari kriteria baik menjadi sangat baik. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Taj, dkk (2016) yang menunjukkan bahwa pada umumnya aktivitas guru menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. 2. Aktivitas Siswa Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai sikap, dan keterampilan pada siswa sebagai latihan yang dilaksanakan secara sengaja. Keaktifan siswa merupakan salah satu prinsip utama dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dalam pembelajaran dapat diwujudkan melalui penggunaan berbagai macam variasi model pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang akan diterapkan kepada siswa yaitu model pembelajaran Think Pair and Share. Peran siswa dalam pembelajaran ini adalah menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share sesuai dengan langkah-langkah yang sudah dijelaskan oleh guru. Hasil aktivitas siswa dalam penerapan model pembelajaran Think Pair and Share dalam menyampaikan dan menjawab hasil diskusi yang telah diberikan oleh guru diketahui pada siklus I terdapat 31% 9 siswa menjawab benar dan lengkap, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu (55%) 16 siswa menjawab benar dan lengkap. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Taj, dkk (2016) yang menunjukkan bahwa pada umumnya aktivitas siswa menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan aktivitas siswa terutama pada kegiatan kerja sama dan diskusi antar siswa, baik dalam satu kelompok maupun dengan kelompok yang lain dan juga sebagian besar siswa  sudah mulai aktif bertanya maupun dalam mengemukakan pendapatnya. Hal ini membantu para siswa dalam memahami maksud dari soal tersebut.   c. Prestasi Belajar Siswa X TKJ SMK PGRI 2 Kota Malang Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah (Ahmadi, 2005:52). Untuk mengetahui tingkat pencapaian prestasi belajar siswa, guru menggunakan tes prestasi belajar guna meningkatkan hasil prestasi belajar siswa dari yang kurang aktif menjadi lebih aktif serta meningkatkan nilai prestasi belajar siswa yang di bawah kriteria ketuntasan minimal menjadi lebih baik. Meningkatkan prestasi belajar siswa, perlu adanya kesiapan belajar baik dari guru maupun siswa. Guru mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan membantu penyampaian materi akan memperoleh hasil yang baik dalam proses belajar mengajar. Begitu pula dengan siswa yang telah siap untuk belajar di kelas akan memperoleh prestasi belajar yang baik dibandingkan dengan siswa yang tidak siap mengikuti pembelajaran. Dengan demikian, kesiapan, keaktifan dan suasana belajar yang menyenagkan pada siswa sangat penting dalam meningkatkan hasil presetasi belajar siswa. Pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair and Share pada penelitian ini terbagi menjadi dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pada siklus I, sebelum dilakukan model pembelajaran Think Paid and Share diadakan pre tes untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas X TKJ SMK PGRI 2 Malang sebelum diterapkannya model pembelajaran Think Pair and Share dan setelah diterapkannya model pembelajaran Think Pair and Share dilakukan tes akhir prestasi belajar siklus I sebagai patokan nilai hasil prestasi belajar siswa untuk kegiatan pembelajaran berkutnya. Sedangkan pada siklus II dilakukan tes akhir prestasi belajar siklus II untuk mengetahui peningkataka

    UPAYA DINAS KESEHATAN PEMERINTAH KOTA MALANG DALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS

    No full text
    AbstrakKata Kunci: Dinas Kesehatan, HIV/AIDS, Penanggulangan.Perubahan sosial dalam masyarakat dapat berpotensi positif maupun negatif. Bentuk perubahan sosial yang berpotensi negatif seperti seks bebas baik itu heteroseksual maupun homoseksual serta penggunaan narkoba suntik. Isu-isu terkait perilaku tersebut di Kota Malang ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat sebagai perilaku yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS. Jumlah temuan ODHA di Kota Malang mencapai 4.328 orang. Dampak dari virus tersebut bagi penderitanya sangat signifikan yaitu dari segi fisik berupa kualitas kesehatan yang menurun dan yang tidak kalah berpengaruhnya yaitu dampak dari segi psikis dan sosial berupa kecaman stigma dan diskriminasi. Isu persebaran virus HIV/AIDS juga berdampak pada masyarakat yaitu masyarakat menjadi resah terhadap resiko penularan HIV/AIDS. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Pemerintah menyelesaikan permasalahan dilingkungan masyarakat dengan merumuskan serta menetapkan suatu kebijakan publik. Kebijakan tidak serta-merta berupa peraturan perundang-undangan, namun dapat juga berupa program atau agenda kebijakan. Berdasarkan pemaparan terkait HIV/AIDS beserta urgensi upaya penanggulangannya, maka peneliti ingin mengetahui upaya Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Malang dalam penanggulangan HIV/AIDS.          Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) program Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Malang dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS, (2) kendala yang dihadapi dalam implementasi program, dan (3) solusi untuk menghadapi kendala dalam implementasi program.Penelitian ini secara spesifik tergolong dalam penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis pekerjaan dan aktivtas. Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Dinas Kesehatan Kota Malang yang terletak di Jalan Simpang Laksda Adi Sucipto, No.45 Pandanwangi, Blimbing, Kota Malang. Informan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) dr. Bayu Tjahjawibawa, (2) Ibu Ivo Rahmada, (3) Ibu Sri Laksmi, (4) Mbak Rika, (5) Mbak Auliya, dan (6) Bapak Imam. Model analisis data dalam penelitian ini yaitu model analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Peneliti menggunakan metode triangulasi sumber dan triangulasi teknik untuk uji keabsahan data.Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Dinas Kesehatan Kota Malang sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan mengambil tindakan penanggulangan HIV/AIDS. Dinas Kesehatan Kota Malang dalam menentukan program kebijakan berpedoman pada Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Nomor 188.47/ 18/ 35.73.302/ 2018 tentang Indikator Kinerja Individu pada Dinas Kesehatan Kota Malang dan Surat Perjanjian Kinerja Tahun 2018. Adapun program Dinas Kesehatan Kota Malang dalam penanggulangan HIV/AIDS terdiri dari 7 (tujuh) program, diantaranya yaitu: (1) pengadaan untuk periksa, (2) kegiatan pertemuan monitoring dan evaluasi pelayanan, (3) pertemuan dengan LSM dan lintas sektor, (4) validasi data, (5) rakerda KPA, (6) peringatan hari AIDS sedunia, dan (7) pelatihan konseling dan testing HIV. Kendala yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Kota Malang dalam menanggulangi HIV/AIDS yaitu: (1) sasaran program dalam hal ini berupa aspek keikutsertaan dan ketepatan waktu serta persepsi masyarakat yang keliru yaitu adanya stigma dan diskriminasi, (2) pendanaan kegiatan, (3) kurangnya staf P2P, dan (4) pemenuhan standar teknologi. Solusi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Malang untuk menghadapi kendala dalam penanggulangan HIV/AIDS yaitu: (1) pengadaan sosialisasi, (2) bersinergi dengan KPA, (3) pengadaan mobile VCT, (4) keterlibatan staf Dinas Kesehatan Kota Malang lainnya, (5) menginput kembali data pada SIHA, (6) negosiasi, (7) melakukan peminjaman dana pada staf bidang P2P maupun pada Dinas Kesehatan Kota Malang, (8) mengajukan penambahan staf, dan (9) membangun relasi yang baik dengan kelompok-kelomppok peduli AIDS.  Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan untuk kedepannya ada keterlibatan dari masyarakat yang dianggap berpengaruh, baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan pendidikan

    Penerapan Model Pembelajaran Self Control Learning Sebagai Pembentukan Perilaku Peserta Didik di SMA

    No full text
    Penerapan Model Pembelajaran Self Control Learning Sebagai Pembentukan Perilaku Peserta Didik di SMAPenulis : Andreas Kurniawan (150711600424) Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang AbstrakDalam artikel kali ini akan disajikan informasi mengenai Model Pembelajaran Self Control Sebagai Pembentukan Perilaku Peserta Didik di SMA, dari berbagai banyak permasalahan yang timbul adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengandalikan diri pada lingkungannya, lingkungan memiliki peran besar terhadap perkembangan pola perilaku pada remaja. Perkembangan dari Self Control sendiri akan berkembang dengan sejalan dengan bertambahnya umur dari seseorang. Anak bertumbuh lebih dewasa maka diharapkan juga mempunyai self control lebih baik pula, dilihat dari berbagai banyaknya masalah remaja lebih cenderung tidak mampu melakukan pengendalian diri atau Self Control dan akan berdampak pada hal negative contohnya saja seks bebas, pornografi, penyalahgunaan obat, mencuri. Maka dari itu pentingnya penerapan Model Rumpun Pembalajaran Self Control Learning pada peserta didik di SMA, agar peserta didik bisa mengendalikan dirinya lebih kearah positif dari proses belajar mengendalikan diri, disis lain guru sebagai fasilator dalam penerapan model pembelajaran self control learning mengingat remaja adalah generasi muda yang diharapkan Negara Indonesia menjadi lebih baik, maka perlu juga penerapan model pembelajaran self learning dan pendidikan karakter agar peserta didik dapat diharapkan mengimplementasikan nilai-nilai yang positif kedepannya sebagai penerus bangsa.Kata Kunci : Penerapan Model Pembelajaran Self Control Learning Pada Peserta Didik di SMA. PENDAHULUANRumpun model pembelajaran self control learning dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip operant conditioning. Pengertian operant conditioning sendiri dapat diartikan sebagai metode pembelajaran yang terjadi melalu imbalan dan hukuman untuk perilaku. Melalui pengkondisian operan, asosiasi dibuat antara perilaku dan konsekuesti untuk perilaku itu, pada dasarnya perlu kita kritisi bahwa lingkungan lah yang berperan sangat besar dalam pembentukan perilaku seseorang, maka dari itu terjadinya perilaku negative dan positif sangan berhubungan atau berkaitan dengan kondisi lingkungan disekitarnya. Hurlock (1990) mengatakan bahwa pengendalian diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya.PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SELF CONTROL LEARNINGPada era modern sekarang banyak terjadi kasus remaja yang tidak mampu mengendalikan dirinya, remaja tidak mampu mengendalikan dirinya karena remaja masih memiliki sifat yang cenderung egois dan ingin mencoba pada hal yang baru sehingga remaja pada zaman sekarang lebih cendurung melakukan hal yang ke arah negative. Hal yang sangat mempengaruhi remaja melakukan kegiatan yang mengarah ke negative tersebut dikarenakan oleh factor lingkungan , karena faktor lingkungan lah yang sangat menentukan pola perilaku seseorang dan perlunya pengawasan dari kedua orangtua untuk membantu mengarahkan kearah yang lebih baik lagi. Dalam permasalahan ini guru menjadi fasilitator sekaligus sebagai pendidik untuk menerapkan kepada siswa medel pembelajaran perilaku self control learning karena didalam model pembelajaran self control learning terdapat prinsip-prinsip operant conditioning.Pendekatan model pembelajaran self control learning juga harus diterapkan guru kepada peserta didik di SMA, mengingat peserta didik di SMA memasuki masa-masa remaja dan mereka masih terus mencari jati diri mereka yang seungguhnya, dengan cara pendekatan self control digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menghindari peserta didik untuk melakukan perbuatan kearah yang negative, peserta didik yang lebih suka melakukan perbuatan ke arah yang negative dapat belajar secara lebih produktif lagi untuk mengetahui kondisi lingkungan tersebut agar tidak cenderung melakukan hal yang negative, jika peserta didik yang sudah memahami kondisi lingkungannya, peserta didik akan bias mengontrol diri dan secara perlahan akan menghilangkan kelakuan yang negative tersebut. Dalam Hal ini Guru harus member kemudahan kepada peserta didik untuk belajar bagaimana harus bertanggung jawab secara moral atas lingkungan personal dan social untuk memahami sifat peserta didik secara utuh, METODE PENULISANPenulis dalam melakukan penulisan artikel ini menggunakan metode analisis deskriptif, karena penulis berusaha memberikan gambaran mengenai penerapan model pembelajaran self control di sma, mode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang, peserta didik, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Dengan melihat teori yang ada lalu dibandingkan dengan fakta-fakta di masyarakat lalu ditarik kesimpulan untuk memberikan gambaran dan solusi sebagai jalan tengah terhadap permasalahan pendidikan yang terjadi. BahasanPada bagian ini akan dijelaskan bentuk bentuk model pembelajaran rumpun perilaku Self Control pada peserta didik di SMA.BENTUK MODEL PEMBELAJARAN PERILAKU SELF CONTROL DI SMAModel pembelajaran pada rumpun perilaku didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku. Model pembelajaran rumpun perilaku self control ini mementingkan control diri pada peserta didik di sma untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki. Dengan kata lain peserta didik di tuntut untuk berperilaku yang baik dalam proses belajar mengajar untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dalam belajar. Dibantu dengan guru sebagai fasilitator untuk membantu peserta didiknya menciptakan perilaku yang baik dan sesuai dengan harapan. Pembelajaran dengan model perilaku ini sangat tepat diterapkan pada peserta didik di SMA, mengingat siswa juga dituntut untuk berperilaku yang baik sesuai norma dan aturan yang berlaku. Peserta didik tidak melulu dituntut untuk mengerti tentang akademik saja, begitupun non akademiknya juga harus seimbang, serta perilaku moral dan agamanya. Jika semuanya dapat diseimbangkan maka penerapan model pembelajaran perilaku self control bisa dikatakan berhasil.self control, model pembelajaran ini mengandalkan pada bagaimana peserta didik harus berprilaku dan peserta didik belajar dari dampak perilaku yang pernah ia hadapi sebelumnya, dampak ini tidak selalu berupa dampak negative namun dampak positif juga dapat menjadi acuan dalam belajar perilaku untuk ke depannya, serta peserta didik mampu mengendalikan perilakuknya terhadap lingkungan agar tetap produktif sebagaimana peserta didik di SMA. KESIMPULANPenerapan model pembelajaran merupakan perilaku selfcontrol merupakan model pembelajaran yang diterapkan pada guru kepada peserta didik agar peserta didik dapat mengerti dan bisa memahami arti dari self control sendiri, dalam hal ini jika model pembelajaran selfcontrol diterapkan pada peserta didik tingkat SMA yang mulai beranjak remaja dan cenderung melakukan kegiatan yang negative, maka dalam pembelajaran self control ini peserta didik dituntut untuk bisa mengontrol dirinya kearah yang lebih positif, peserta didik harus pandai pandai berprilaku dan peserta didik harus belajar dari dampak perilaku yang pernah hadapi, peserta didik juga harus bisa bertanggung jawab atas perilakunya sendiri , tidak selalu perilaku yang positif tapi peserta didik harus memikirkan perilaku yang akan berdampak negative bagi dirinya sendiri. Perlu mengingat kembali peserta didik adalah aset penerus bangsa yang harus diperbaiki moralnya dan lebih bisa mengontrol dirinya kea rah yang positif. Untuk dari itu maka sangat perlu sekali penerapan model pembelajaran self control ini diterapkan khususnya di SMA, agar peserta didik bisa mengontrol dirinya dan bisa memiliki moral atau akhlak yang baik untuk bekal peserta didik sendiri kedepannya SARANUntuk dapat mewujudkan moral atau akhlak peserta didik untuk menjadi lebih baik, maka sangat diperlukan penerapan model pembelajaran self control di SMA, agar peserta didik bisa mengontrol dirinya kearah yang positif, tidak lupa juga kerja sama antara guru sebagai fasilator di sekolah dengan orangtua siswa, agar siswa dapat mengontrol dirinya tidak di sekolah saja tetapi di seluruh lingkungan bagaimana peserta didik harus berprilaku dan peserta didik belajar dari dampak perilaku yang pernah dia hadapi sebelumnya. DAFTAR PUSTAKARusman, 2012. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja GrafindoPortofolio. Yogyakarta : Ombak (Anggota IKAPI)Prof. Dr. H. Sunarto & Dra. Ny. B . Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT Rineka Cipt

    Kenakalan Remaja Dampak dari Perkembangan Iptek

    No full text
    Kenakalan Remaja Dampak dari Perkembangan Iptek-Septi Kurnia Putri A-Universitas Negeri [email protected] Remaja Dampak dari Perkembangan IptekA.PermasalahanIPTEK adalah singkatan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu suatu sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan ataupun wawasan seseorang dibidang teknologi. Dapat juga dikatakan, definisi IPTEK ialah merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi, baik itu penemuan yang terbaru yang bersangkutan dengan teknologi ataupun perkembangan dibidang teknologi itu sendiri. IPTEK memiliki dampak positif dan dampak negatif.Saat ini IPTEK telah berkembangang sangat pesat/cepat. Dapat dilihat dari semakin banyaknya bermunculan berbagai macam teknologi canggih yang dapat membantu aktifitas dalam kehidupan manusia. Bengan semakin berkembangannya IPTEK itu sendiri, sehingga menimbulkan efek positif dan negatif, seperti misalnya:Dan sisi positifnya seperti:Dapat meringankan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia.Dapat membuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat dan mudah.Dapat mengurangi pemakaian bahan-bahan alami yang semakin kesini semakin langka.IPTEK juga membawa manusia kearah lebih maju dan modernMemperoleh informasi dan ilmu pengetahuan dengan mudahSisi negatif seperti:Dapat menimbulkan polusi. Perkembangan IPTEK yang semakin pesat dan banyak dimanfaatkan. Akan tetapi disamping itu banyak sekali polusi pencemaran yang dihasilkan dari perkembangan IPTEK itu sendiri.Dapat membuat orang semakin malas, karena IPTEK memiliki tujuan untuk mempermudah & memanjakan manusia. Jadi manusia akan semakin malas sebab sudah ada teknologi yang dapat menggantikan dirinya bekerja.Dapat merusak moral, dimana Internet menjadi media IPTEK yang dapat mempengaruhi moral dari seseorang. Seperti misalnya konten yang berbau negatif dan yang lainnya.Pengguna IPTEK terbanyak adalah pada usia remaja karena kemajuan ilmu pegetahuan dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan dimana pada abad ke 20 mampu mendorong lebih cepat dalam industri informasi ,komnukasi dan transportasi.Namun banyak juga remaja yang menyalahgunakan IPTEK melalui internet. Karena kemudahan mereka untuk mengakses situs-situs negatif yang tidak seharusnya dilihat .Maka itu akan berdampak pada kenakalan remaja.Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan, atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa.Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.PENYEBAB KENAKALAN REMAJAKenakalan remaja itu terjadi karena beberapa faktor, bisa disebabkan dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).[3]Faktor InternalKrisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.Faktor EksternalKeluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.Teman sebaya yang kurang baikKomunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.Dampak dari penggunaan IPTEK media internet pada remaja adalah mengunjunggi situs-situs yang tidak layak untuk dilihat diusia mereka . Karena kontrol diri remaja yang masih lemah, lingkungan yang mendukung hal-hal tersebut, dan kurangnya peran orang tua maka remaja perlahan akan terjerumus ke kenakalan remaja .Ketika melihat situs yang tidak layak dilihat, mereka akan penasaran dan ingin mencoba melakukan hal-hal yang belum ia ketahui dampak kedepannya .Mereka akan melampiaskan keingintauan mereka pada teman-teman disekitarnya yang mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginakan dan sangat merugikan semua pihak.A.Data Kenakalan Remaja Akibat Perkembangan IPTEK1.ANGKA KENAKALAN REMAJA MENINGKAT 20 % LEBIHWONOSOBOZONE –Dibanding tahun sebelumnya, angka kenakalan remaja di tahun 2016 meningkat cukup pesat, yakni lebih dari 20%. Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA), Nurul Hidayati, mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, diantaranya pengaruh lingkungan dan Gadget.Akibat dari kenakalan tersebut, menurut Nurul seperti tingginya angka hamil diluar nikah, pernikahan dini, perceraian, bahkan sampai aborsi. “Sepengetahuan saya, bukannya menurun, tapi meningkat, sekitar 20 an persen, kenakalan meningkat, pernikahan dini juga meningkat, tingkat perceraian juga meningkat, dan itu ditandai dengan banyaknya remaja dibawah usia karna hamil duluan,” urai Nurul.Hal itu menjadikan pihak terkait melakukan terobosan sebagai tindakan pencegahan. Upaya tersebut terlihat ketika Dinas PPKBPPPA menggelar sosialisasi dan orientasi pengurus Pusat Informasi Konseling Remaja dan Mahasiswa atau PIK RM, pada Rabu, 22 Februari 2017. Dengan adanya sosialisasi tersebut, Nurul berharap angka kenakalan remaja dapat berkurang serta mampu memotivasi remaja untuk melakukan tindakan yang positif. (Ard)2.KOMNAS PA SEBUT 97% REMAJA INDONESIA PERNAH AKSES PORNOGRAFIJAKARTA - Kemutakhiran teknologi, khususnya internet, terkadang disalahgunakan dalam pemakaiannya. Survei membuktikan, sebanyak 97 persen pelajar SMP dan SMU di Indonesia mengakses dan menonton video di situs porno.Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 pelajar SMP dan SMA di 12 kota besar Indonesia menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan. Sebanyak 97 persen responden mengaku telah mengakses situs berkonten pornografi dan juga menonton video porno melalui internet.B.Program dalam Mengatasi Masalah Kenakalan Remaja ,khususnya Jejaring Internet yang MerugikanMembuat sebuah program penyuluhan yang ditujukan kepada remaja lewat peran orangtua . Peran orangtua sangat mendukung keberhasilan program ini karena perkembangan anak yang pertama dipengaruhi lingkungan keluarga . Program penyuluhan ini diadakan mulai dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas karena pada masa-masa ini banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak hingga remaja setara dengan tingkat pendidikan . Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin banyak permasalahan yang dihadapi. Dengan program ini bertujuan supaya anak dapat terbuka diri kepada orangtua dan menjelaskan semua masalah yang dihadapi dan mencari jalan keluar terbaik dengan orangtua.    Melakukan pengamatan pada alat komunikasi anak dengan melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan anak di dunia maya. Mengusahakan supaya alat komunikasi anak tidak terkunci dengan pasword,apabila dikunci maka cari tahu passwordnya dengan bantuan teman terdekatnya. Lihat history  riwayat penggunaan internet baik melalui aplikasi komunikasi maupun situs-situs yang telah dikunjungi ketika si anak tertidur. Jika anak melakukan kesalahan, nasehati dengan baik.Jangan memarahi dengan kekerasan karena dalam psikologi anak yang pernah mengalami kekerasan akan mudah membangkang dan pemarah.Program Pendidikan KewarganegaraanMelakukan penyuluhan kepada orangtua setiap awal semester untuk mengawasi perilaku anaknya dan berusaha supaya anak bersikap terbukaMemberi penyuluhan bahwa peran orangtua sangat penting untuk mencegah kenakalan remajaBeri tahu orangtua cara untuk melihat history riwayat yang sudah dilakukan anak baik melalui aplikasi komunikasi seperti whatsapp,instagram,facebook,line,dan lain-lain maupun situs-situs yang pernah dikunjungi seperti google,chrome dan lain-lain.Beri tahu waktu yang tepat untuk mengamati apa saja yang sudah dilakukan anak didunia maya,yaitu di malam hari ketika anak tertidur.Beri nasehat apabila mengetahui kesalahan anak , jangan pernah memarahi anak dengan kekerasan karena anak akan membangkang.Pemahaman Nilai-Nilai yang terkandung dalam PancasilaPenerapan Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila perlu ditegakkan ,khususnya sila ke 1 ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ untuk menghindarkan anak dari perbuatan tercela .C.Daftar Pustakahttps://id.wikipedia.org/wiki/Kenakalan_remajaWonosobo Zone,2017, ANGKA KENAKALAN REMAJA MENINGKAT 20 % LEBIH,https://www.wonosobozone.com/angka-kenakalan-remaja-meningkat-20/. Diakses 14 Maret 2019Sora N,2015,Pengertian IPTEK Atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lengkap, http://www.pengertianku.net/2015/01/pengertian-iptek-atau-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-lengkap.html. Diakses 14 Maret 2019Ramadhan Aditya,2013,Survei: 97% Remaja Indonesia Mengakses Situs Porno,http://mediaindonesia.com/read/detail/71598-komnas-pa-sebut-97-remaja-indonesia-pernah-akses-pornografi. Diakses 15 Maret 201

    PENGUATAN NILAI-NILAI KARAKTER PADA KEGIATAN UKM TEATER HAMPA INDONESIA UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAKChristy, Ayu Rahmadhani Eka. 2019. Penguatan Nilai-Nilai Karakter Pada Kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Nur Wahyu Rohmadi, M.Pd., M.Si. (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum.Kata Kunci: nilai karakter, teater, UKM Teater Hampa IndonesiaIndonesia sebagai bangsa yang berkebudayaan merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, akhlak yang mulia, serta budi pekerti yang baik. Dalam rangka mewujudkan karakter bangsa yang unggul maka harus diimbangi dengan adanya pendidikan karakter, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, pendidikan, dan lingkungan masyarakat. Penguatan nilai-nilai karakter pada dasarnya juga dapat diperoleh melalui interaksi dengan keluarga, sekolah, teman, maupun lingkungan sekitar individu, selain itu nilai-nilai karakter juga diperoleh dari pembelajaran secara langsung atau pengamatan terhadap orang lain. Dalam hal ini, salah satu cara untuk menanamkan dan menguatkan nilai-nilai karakter pada seseorang dapat diberikan juga melalui kegiatan bermain peran (teater) agar proses penguatan karakter dapat berjalan menyenangkan.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan 4 hal, yaitu: menjelaskan nilai-nilai karakter yang terdapat pada kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia Universitas Negeri Malang; menjelaskan bentuk penerapan penguatan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam pelaksanaan kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia Universitas Negeri Malang; menjelaskan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan yang terkandung penguatan nilai-nilai karakter pada kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia Universitas Negeri Malang; menjelaskan upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala pelaksanaan kegiatan yang mengandung penguatan nilai-nilai karakter pada kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia Universitas Negeri Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian adalah pendamping, ketua umum, dan anggota UKM Teater Hampa Indonesia Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data sampai kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik meningkatkan ketekunan dan triangulasi sumber.Hasil analisis dalam penelitian ini menghasilkan empat simpulan, pertama Nilai-nilai karakter yang terdapat pada kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia yaitu nilai religius, nilai cinta tanah air, nilai solidaritas, nilai peduli sosial, nilai percaya diri, nilai tanggung jawab, nilai kerja sama, nilai rasa ingin tahu, nilai kreatif, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kejujuran; kedua penguatan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam pelaksanaan kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia termuat secara implisit ke dalam kegiatan Raker, Larut, Diklat, produksi, dan Perang. Bentuk penguatan nilai-nilai karakter pada anggota dilakukan dengan cara pembiasaan secara intens dan berkelanjutan pada setiap kegiatan melalui komentar, gerak tubuh, pendekatan antaranggota, dan pemberian hukuman sehingga harapannya anggota terbiasa dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; ketiga kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan yang terkandung penguatan nilai-nilai karakter pada kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia yaitu anggota kurang konsisten dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di UKM Teater Hampa Indonesia, adanya anggota yang memiliki tugas ganda, anggota merasa jenuh dan bosan dengan sistem latihan yang lama; keempat upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala pelaksanaan kegiatan yang mengandung penguatan nilai-nilai karakter pada kegiatan UKM Teater Hampa Indonesia yaitu menyamakan komitmen para anggota terhadap organisasi, adanya pembagian tugas yang jelas pada anggota, dan bersikap profesional.Saran dari penulis  pertama bagi pihak Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, hasil penelitian ini sebaiknya dapat dijadikan sebagai bahan pustaka bagi pengembangan pengetahuan nilai-nilai karakter dalam Pendidikan moral dan karakter; kedua bagi pihak UKM Teater Hampa Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan kebijakan untuk mengembangkan UKM Teater Hampa Indonesia yang lebih baik dan dapat dijadikan sebagai salah satu sarana evaluasi dalam seluruh kegiatan sehingga kelangsungan kegiatan tersebut mampu membuat seluruh anggota berkarakter dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; ketiga bagi peneliti dengan hasil penelitian ini diharapkan peneliti dapat lebih cermat dan berinovasi dalam pembuatan karya atau penelitian berikutnya sehingga penelitian selanjutnya dapat lebih bervariasi dari sudut teori maupun dalam penyusunannya; keempat bagi mahasiswa lain, hendaknya perlu diadakan penelitian lanjutan mengenai penguatan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam kegiatan berteater sehingga penanaman dan penguatan karakter dapat dilakukan dengan cara yang lebih bervariasi lagi

    PENGEMBANGAN LAPANGAN PRESTASI DI DESA KAULON KECAMATAN SUTOJAYAN KABUPATEN BLITAR

    No full text
    Abstraktujuan dari program ini adalah (1)Untuk mengembangkan sarana dan prasarana dari fasilitas yang ada pada Lapangan Prestasi Desa Kaulon Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. (2) Untuk menarik kembali minat warga untuk melaksanakan kegiatan di Lapangan Prestasi Desa Kaulon Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar.Kata kunci : Lapangan, Taman, Kaulon, Blitar

    NILAI KEARIFAN LOKAL UPACARA ADAT URI-URI RUWAT SUMBER PERTIRTAAN CANDI JOLOTUNDO DESA SELOLIMAN KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO

    No full text
    ABSTRAKMagfiroh, Aini. 2019. Nilai Kearifan Lokal Upacara Adat Uri-Uri Ruwat Sumber Petirtaan Candi Jolotundo Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Suparman A W, SH, M.Hum 2) Dr. Sri Untari, M.SiKata kunci: Pelaksanaan, Upacara, Nilai, Pelestarian, KebudayaanBangsa Indonesia dikenal sebagai Negara yang multikultural. Hal ini, dikarenakan  Negara Indonesia terdiri dari 34 provinsi dengan beribu-ribu pulau dari sabang sampai merauke. Sebagai Negara multikultural Indonesia kaya akan  keanekaragaman ras, budaya, agama dan antargolongan. Dengan demikian, keanekaragaman kebudayaan di Indonesia tentunya sudah melekat dalam kehidupan masyarakat bahkan sudah tersebar luas pada setiap daerah-daerahnya. Dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta globalisasi yang sedikit banyak telah menimbulkan efek negatif bagi perkembangan budaya nasional sebagai identitas. Untuk itu diperlukan pelestarian suatu kebudayaan atau kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dibutuhkan kerjasama dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya Upacara Adat Uri-Uri Ruwat Sumber Pertirtaan Candi Jolotundo yang terletak di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto yang terus dijalankan dari dulu hingga sekarang.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Asal mula upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo (2) Pelaksanaan upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo (3) Nilai-nilai kearifan lokal apa saja yang terkandung dalam upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo (4) Upaya melestarikan upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dari penelitian ini yaitu manusia, fenomena dan dokumen serta pengumpulan datanya dengan cara melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan merujuk pada model Miles and Huberman, dimana aktivitas dalam analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan cara Triangulasi.Temuan penelitian ini antara lain (1) Asal mula upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo meliputi pengetahuan, sikap, pola prilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota masyarakat. Tujuan dari upacara tersebut agar kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya terhindar dari segala rintangan, penyakit dan balak termasuk agar terhindar dari sumber-sumber mampet ataupun kekeringan (2) Pelaksanaan upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo  meliputi 3 tahapan yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penutupan (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo meliputi nilai luhur pelestarian adat dan budaya, nilai keagamaan atau religius, nilai pelestarian alam, nilai kebersamaan, nilai  gotong royong, nilai sosial, nilai tanggung jawab (4) Upacara adat uri-uri pertirtaan Candi Jolotundo dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah desa saja dimana upaya tersebut meliputi pelestarian dari Dusun Biting Desa Seloliman, pelestarian dari pengelola pertirtaan Candi Jolotundo, dan pelestarian dari pemerintah Desa Seloliman serta menjadikan Jolotundo sebagai wisata religi.Saran yang diberikan oleh penulis yaitu (1) Bagi pemerintah daerah sebaiknya lebih berperan dalam upaya pelestarian upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo dengan memberikan sumbangsih berupa publikasi lewat media cetak atau elektronik untuk meningkatkan eksistensi upacara tersebut guna menjaga kelestarian kebudayaan masyarakat setempat yakni upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo. Selain itu diharapkan pemerintah bisa memberikan sumbangsih berupa dana guna melancarkan kegiatan upacara tersebut, (2) Bagi pemerintah desa tetap mendukung dalam menyemarakkan upacara adat uri-uri ruwat sumber untuk mempertahankan warisan budaya daerah dengan memberi akses kepada pemerintah daerah, sebaiknya pemerintah desa tetap membantu dalam pengembangan budaya lokal upacara adat uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo melalui website dan media sosial yang berisi pelaksanaan upacara tersebut,  (3) Bagi masyarakat hendaknya menjadikan penelitian ini sebagai salah satu bahan kajian untuk memberikan pemahaman,masyarakat juga memiliki peranan yang sangat penting dalam melestarikan, sebaiknya masyarakat tetap mempertahankan upacara adat uri-uri ruwat sumber dengan memperkenalkan upacara tersebut dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan luar daerah agar budaya lokal yang dimiliki agar tetap terpelihara, sebaiknya generasi muda dapat melestarikan upacara adat uri-uri ruwat sumber agar nilai-nilai budaya lokal yang ada dalam upacara tersebut tidak luntur bahkan menghilang, sebaiknya masyarakat tetap mempertahankan rasa toleransi dan solidaritas yang tinggi tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun ras sehingga dapat saling membantu dan bergotong royong dalam pelaksanaan upacara tersebut sehingga  tercipta kerukunan dan kenyamanan

    0

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇